00:00Naiknya harga kedelai impor pacar lebaran membuat perajin tahu di Jakarta mengambil langkah bertahan di tengah tekanan membengkaknya biaya produksi.
00:08Harga kedelai yang semula 10.000 rupiah per kilogram naik menjadi 10.600 rupiah.
00:15Hal ini membuat perajin tahu putar otak demi produksi harian.
00:19Berikut liputan lengkap jurnalis Kompas TV, Fedris Kaanana dan juga juru kamera Roy Ilman.
00:26Saudara siapa nih udah makan tahu nih hari ini? Ini sekarang nih makanan mahal ini karena beberapa waktu terakhir harga
00:32kedelai ini mengalami kenaikan.
00:34Dimana tadinya harga kedelai ini 10.000 per kilogram belakangan naik menjadi 10.600 per kilogram.
00:40Dimana ini kemudian menjadi kekhawatiran bagi para pedagang ataupun produsen tahu yang mana ini boncos nih ongkos produksinya.
00:48Kita akan mencoba langsung berbincang dengan salah seorang produsen tahu Bapak. Siapa Pak namanya Pak?
00:52Saya Narman. Pak Narman, ini kan harga kedelai ini kan naik Pak. Sehari berapa sih Pak untuk produksi tahunya ini
01:02berapa kilogram Pak?
01:04Rata-rata per hari sekitar 300 kilo sampai 400 kilo per hari.
01:10Oke itu per hari ya Pak. Nah Pak terkait dengan kenaikan harga kedelai belakangan ini Bapak mengalami kesulitan nggak Pak
01:16terkait dengan biaya produksi dan juga lain-lain?
01:18Pasti, pasti dengan kenaikan harga yang sebelumnya di bawah 10.000 sampai sekarang 10.600 itu otomatis istilahnya dari hasil
01:29keuntungan itu tambah menipis.
01:32Pemasukan menipis bagaimana Bapak mengakali?
01:34Sementara ini sifatnya bertahan. Bertahan dengan harga yang sama. Jadi harga belum saya naikin. Lihat situasi, kondisi selanjutnya bagaimana gitu.
01:44Kalau sudah istilahnya kita namanya usaha nggak ada keuntungan otomatis ya kita naikin.
01:50Sekarang masih bisa bertahan begitu ya Pak. Untuk kemasan gimana Pak?
01:54Nah kemasan di sini itu kan untuk ngelayanin yang orang beli ke tengan bukan ke pasar itu kan saya menyatakan
02:02plastik. Harga plastik pun juga harganya pindah harga bukan naik harga lagi. Pindah harga bisa 100% dari harga semula.
02:11Artinya dari semua pos-pos produksi tahu ini mulai dari harga kedelai kemudian harga minyak goreng kemudian juga harga plastik
02:19ini menjadi sumber pembekakan yang cukup besar.
02:22Nah bagaimana Bapak ini untuk mengantisipasi margin yang menipis ini Pak? Apakah kemudian tadi tidak mengunurunkan harga tapi apakah kemudian
02:29dari kualitas tahunya juga apakah mungkin diperkecil atau gimana Pak?
02:32Enggak. Dari harga emang nggak naik. Kualitas tetap segitu. Jadi istilahnya nggak dikecilin, nggak ditipisin nggak?
02:40Oh karena nggak mau pelanggan hilang?
02:42Betul. Pasti protes. Pasti protes. Kalau ditipisin pasti protes.
02:46Saat ini hanya bisa bertahan begitu Pak. Harapannya gimana Pak melihat kondisi saat ini?
02:51Harapannya istilahnya terutama ke pemerintah minta tolong istilahnya kayak model saya itu pengusaha ngerajin tahu ya istilahnya itu
03:00tolong diperhatikan masalah harga diantaranya tiga item tadi, kacang kedele, minyak goreng, dan plastik.
03:06Minimal tuh harga stabil kayak kedele di sekitaran 10 ribu gitu kan.
03:12Biar istilahnya bisa bertahan untuk produksi gitu.
03:17Terima kasih banyak Pak Narman atas waktunya.
03:19Nah itulah tadi tidak hanya harga kedele, tapi harga ataupun pos-pos pengeluaran lain untuk memproduksi tahu ini seperti minyak
03:27goreng,
03:27kemudian plastik untuk mengemasnya ini juga mengalami kenaikan, sehingga memang margin dari produsen tahu ini mengalami tipis
03:35antara pemasukan dan juga pengeluaran, sehingga memang masih diakal-akali begitu bagaimana kemudian ada juga yang bertahan,
03:41kemudian ada juga produsen tahu lainnya yang kemudian juga tetap mempertahankan kualitas, menjaga reputasi di pasaran,
03:49sehingga memang yang bisa dilakukan saat ini adalah kemudian bertahan.
03:52Salah seorang produsen tahu itu diberharap agar pemerintah kemudian dapat minimal menstabilkan harga di pasar,
03:58sehingga tidak boncos begitu untuk biaya produksi.
04:01Fedis Kananda, Railman, Kompasivi, Jakarta.
Komentar