00:00Sampai jumpa di video selanjutnya.
00:30Purbaya bertemu dengan 18 investor besar untuk mengklarifikasi berbagai persepsi negatif terkait dengan APBN Republik Indonesia.
00:38Sejumlah investor besar dunia termasuk BlackRock, Goldman Sachs, dan Fidelity Investment ini melangsungkan pertemuan dengan Purbaya di New York, Amerika
00:46Serikat.
00:47Dalam pertemuan ini, Saudara, Menteri Keuangan Purbaya memaparkan secara komprehensif berbagai kebijakan ekonomi yang ditempuh termasuk dampaknya terhadap anggaran negara
00:56serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
00:59Menurut Purbaya, banyak investor besar yang tertarik kepada Indonesia.
01:04Purbaya juga memprediksi tak lama lagi para investor akan masuk ke Indonesia dan mendorong pemasalan modal Indonesia ke level yang
01:11lebih tinggi.
01:15Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengklaim mendapatkan respons positif setelah bertemu dengan 18 investor global, IMF, World Bank, dan juga
01:24lembaga pemeringkat S&P.
01:25Apa yang perlu dijaga agar respons ini tidak berbalik arah? Kita langsung bahas bersama ekonom, terima kasih sekuritas, Fahrul Fulfian.
01:34Mas Fahrul, selamat pagi.
01:37Ya, selamat pagi Mas. Apa kabarnya?
01:40Kabar baik, Alhamdulillah. Mas Fahrul, tadi kita sempat berbincang dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa yang menyebutkan pertemuannya dengan S
01:47&P.
01:48Pak Purbaya bilang sudah mendapatkan bocoran terkait dengan rilis nanti S&P yang akan dikeluarkan pada bulan Juni nanti.
01:55Kalau kita melihat sebelumnya ada Moody's dan juga Fitch yang menurunkan outlook kita, kemudian ini S&P yang dikhawatirkan kan.
02:03Nah, pada saat pertemuan itu Pak Purbaya percaya diri bahwa S&P akan tetap menjaga level Indonesia di tingkat stabil.
02:11Komentar Anda ataupun analisis Anda seperti apa dengan kondisi ekonomi yang saat ini?
02:16Ya, terkait ini sebenarnya kita harus lihat ya, kalau terkait stabil ini kita harus lihat apa yang diwarning S&P
02:24dari pernyataan ratingnya tahun lalu.
02:27Sebenarnya yang paling dikonsumkan oleh S&P itu adalah rasio dari belanja bunga pemerintah terhadap total pendapatan
02:36yang kalau menurut statement dari S&P tahun lalu, kalau di atas 15 persen, kemungkinan untuk rating downgrade itu jadi
02:43besar.
02:45Jadinya memang tahun ini ya, yang kita sangat tunggu sekali statementnya dari S&P yang mudah-mudahan di-adres oleh
02:51Pak Purbaya,
02:52ini terkait dengan bagaimana kita bisa mendanai APBN dan pembangunan.
02:59Dan kalau memang rasio, apa namanya, rasio belanja bunga dibandingkan dengan pendapatan negara ini bisa dicapai,
03:07ya sebenarnya bisa naik-naik saja.
03:09Dan memang ya mas, kalau kita pelajari dari statement yang mudis dan fit sebelumnya,
03:14masalah dari pemerintah kita ini adalah komunikasi.
03:17Sebenarnya, dari Januari, Februari, dan Maret, pendapatan negara itu naiknya sudah banyak, sudah 20 persen.
03:24Tapi karena ketiadaan komunikasi, market tidak bisa mengapresiasi ini.
03:29Mudah-mudahan ke telah Pak Purbaya menceritakan trajektorinya, market bisa mengapresiasi.
03:35Oke, berarti intinya ada di komunikasi.
03:38Langkah Pak Purbaya menemui lembaga pemerintah S&P, artinya perlu diapresiasi dong ya.
03:42Ini sebagai bentuk komunikasi. Apakah ini juga menurut Anda dapat cukup meyakinkan S&P agar tidak menurunkan outlook RI?
03:51Saya rasa semuanya kalau terkait lembaga rating, ini terkait dengan angka, Pak.
03:57Jadinya harus dibuktikan sampai tengah tahun ini, dan trajektorinya ke depan,
04:02belanja bunga Republik Indonesia tidak boleh naik, Pak.
04:05Tidak boleh naik, ilsun tidak boleh terlalu tinggi,
04:09dan harus ada trajektori untuk memperbaiki pembiayaan, itu kira-kira.
04:13Kalau tidak, bisa jadi kita masih stabil ini listatmennya S&P bulan Juni,
04:18tapi resiko downgrade itu masih bisa muncul di akhir tahun depan, akhir tahun ini, ataupun tahun depan.
04:25Nah, di sini memang dunia sedang bergoncang, ekonomi Indonesia sedang bertransformasi,
04:30transformasi ini tidak bisa diapresiasi oleh pasar kalau tidak jelas junturungan dan arahnya.
04:36Nah, ini yang Pak Purbaya harus ceritakan.
04:39Arangnya apa, targetnya apa, dan harus eksplisif.
04:42Misalnya, apa yang hendak dicapai dari segera program pemerintah,
04:47bagaimana itu terhasil itu pendapatan pajak, itu yang harus diceritakan.
04:51Saya rasa itu yang absen selama ini, dan mudah-mudahan ketika Pak Purbaya di Amerika,
04:56itu bisa dijelaskan beliau dengan baik.
04:58Oke, artinya komunikasi itu adalah pintunya,
05:00tapi ujung-ujungnya juga bagaimana menjelaskan soal angka-angka ekonomi Indonesia begitu ya.
05:04Bagaimana juga dengan...
05:05Benar, ada kasih nambungan antara komunikasinya terus angka yang muncul.
05:11Bakal ada deviasi, memang itu normal, tapi harus di arah yang bisa terbaca.
05:16Kira-kira seperti itu, Mas.
05:17Yang saya baca juga, Mas Fakru, ini soal adanya kekhawatiran dari SNP,
05:21soal pembayaran utang terhadap pendapatan atau juga pajak.
05:24Anda melihatnya apakah ini sudah bisa dikendalikan?
05:28Saya rasa ini menunjukkan urgensinya bahwa selama ini,
05:3315 tahun sampai 20 tahun terakhir, Indonesia itu kemahalan bayar bunga utang, Pak.
05:39Jadi skema yang lama kita bayar kemahalan bayar bunga utang ini,
05:43sudah harus berubah di jamannya Pak Purbaya.
05:45Nah, ini yang harus, aku lihat ini adalah urgensi yang harus dilakukan.
05:50Strateginya apa saja, Indonesia harus berpindah pinjaman 0 rupiahnya
05:55dari negara-negara yang bunganya itu sudah kandung tinggi.
05:59Seperti US dollar sama yen, bunganya sudah tinggi, itu harus ditinggalkan.
06:04Kita harus mencari pembiayaan internasional dari mata uang yang bunganya masih rendah
06:11seperti Renlimbi, kira-kira seperti itu.
06:14Ini sudah harus berubah.
06:15Urgensinya sudah sangat tinggi sekali.
06:17Kalau kita tidak bisa mengelola kemampuan bayar utang ini dengan funding mix yang tepat,
06:23misalnya rating kita turun, Mas. Ini yang harus kita hindari.
06:26Oke, berarti ada strategi soal bunga utang yang menurut tadi Mas Haru sudah mulai kemahalan,
06:33ini bunga tinggi harus ditinggalkan,
06:37ataupun pembiayaan yang berbunga tinggi ini harus mulai ditinggalkan.
06:40Kemudian kalau kita kembali lagi soal peringkat tadi,
06:43seberapa besar menurut Anda?
06:44Kan Pak Purbaya sudah ke Amerika menemui S&P.
06:49Apakah komunikasi Pak Purbaya dengan S&P ini mempengaruhi sikap dari S&P,
06:55ataukah justru S&P ini juga terpengaruh dengan release Moody's dan juga Fitch?
06:59Seberapa besar akan mempengaruhinya jika dikeluarkan nanti Juni?
07:04S&P pada dasarnya adalah lembaga rating dengan kredibilitas yang tinggi,
07:10dan mereka sangat number driven, Pak.
07:13Nah, harusnya tidak terpengaruh dari statement lembaga rating di sebelahnya,
07:18tapi memang dia akan sangat lihat angka.
07:21Oke.
07:21Nah, jadi Pak Purbaya harus bisa menceritakan rasio kita akan membaca di sini.
07:25Berarti antara satu lembaga pemberingkat dengan lembaga pemberingkat lainnya tidak saling terpengaruh begitu?
07:35Tidak, tidak Pak.
07:36Mereka masing-masing ada matrix tersebut diri.
07:39Mereka sangat number driven, Pak dasarnya.
07:42Sangat number driven, sangat ingin.
07:44Nah, karena itu pemerintah kita harus lebih dari sekedar narasi kepada lembaga rating,
07:49harus menunjukkan angka.
07:51Kira-kira seperti itu.
07:52Kalau kelihatan rasio kita mengguruk, bisa jadi rating buruk.
07:55Tapi kalau rasio kita bisa dibuktikan membaik,
07:58dengan mulai membaiknya pendapatan pajak,
08:01bisa kita jadinya lembaga ratingnya memberikan rating yang lebih baik.
08:05Kira-kira seperti itu.
08:06Oke, Mas Fahrul.
08:07Tadi juga kita sempat bahas di awal bahwa Pak Purbaya bilang
08:11Bank Dunia dan juga S&P ini puas dengan strategi fiskal dari Indonesia.
08:15Jika betul demikian,
08:17apa yang perlu dijaga, apa yang perlu dimaintain,
08:19agar rasa puas itu justru tidak berbalik arah begitu?
08:24Nah, yang perlu dimaintain,
08:26ini kritik saya juga ya kepada komunikasi Kementerian Keuangan selama ini,
08:30yang perlu dimaintain itu adalah gap antara ekspektasi dan kenyataan.
08:35Kita jangan pernah memberikan ekspektasi kepada market yang terlalu floris,
08:40terlalu bagus,
08:41karena semua orang di dunia ini lagi tahu,
08:43kita lagi dalam goncangan.
08:45Optimis harus,
08:47optimis harus,
08:48tapi realistis harus tetap terlihat dari setiap rilis,
08:52terlihat dari gesture bahwa kita tetap waspada.
08:56Kalau itu bisa tercapai,
08:57gap antara ekspektasi dan kenyataan itu bisa minimal,
09:01disitulah ruang kredibilitas terbangun,
09:04dan disitulah nanti ekspektasi pasar tercapai,
09:08dan optimisme pada perekonomian Indonesia juga muncul.
09:12Kira-kira seperti itu.
09:13Berarti gap antara ekspektasi dan juga kenyataan juga harus mulai diperhatikan,
09:19begitu optimis boleh,
09:21tapi juga harus realistis.
09:22harus realistis.
09:23Benar,
09:24itu kritik saya kepada Kementerian Keuangan,
09:26harus itu,
09:27apa namanya itu,
09:28jangan terlalu jauh Pak.
09:29Kita optimis harus,
09:31tapi antara realistis dan ekspektasi harus dijaga.
09:34Tapi ngomong-ngomong soal realistis juga ini,
09:35Mas Fahrol,
09:36Pak Purbaya kan juga di Amerika Serikat bertemu dengan investor global,
09:40sebanyak 18 investor global.
09:41Apakah investor ini akan serta-merta masuk ke Indonesia dengan sekali paparan?
09:47Tidak, pastinya.
09:48Yang pasti investor,
09:50kita di dunia investor adalah dunia yang full of skeptical.
09:55Mereka sangat skeptis,
09:57mereka akan cenderung seeing is believing.
10:00Kita sudah mengkomunikasikan,
10:02tapi mereka akan lihat kenyataannya.
10:03Kalau memang setelah ini,
10:05disiplin fiskalnya bisa tercapai dengan baik,
10:08ekspansi ekonomi dicapai dengan komunikasi yang tepat,
10:11kalau itu tercapai,
10:13maka seperti saya cerita tadi,
10:15gap antara realistis dan ekspektasinya menitis,
10:18kredibilitas muncul,
10:19investor akan kembali.
10:21Itu yang akan kita tunggu-tunggu, Mas.
10:24Mudah-mudahan,
10:25ini bisa dicapai,
10:26dan kita lihat ini,
10:28yang paling penting,
10:28di kondisi sekarang ini,
10:29semua orang tahu,
10:30kondisi buruk.
10:31dunia berat,
10:33ada, masih ada perang,
10:34masih ada berbagai,
10:36khas apa namanya,
10:37hurdle yang lain,
10:38orang akan mengapresiasi Indonesia,
10:41kalau Indonesia bisa clear,
10:42dan kejelangkan strategi.
10:44Itu yang lebih penting.
10:45Optimisme,
10:46dan kejelasan.
10:48Gila-gila-gila.
10:48Oke, yang tadi juga dijelaskan oleh Pak Purba,
10:50ya, ini Mas Fahru,
10:51bahwa,
10:52baik IMF, World Bank,
10:54dan juga para investor ini,
10:55itu kaget begitu dengan,
10:56ternyata kondisi ekonomi Indonesia itu,
10:57tidak seburuk itu,
10:58justru stabil begitu.
10:59Apakah menurut Anda,
11:02kalau ngomong-ngomong soal komunikasi tadi,
11:03Pak Purba ini harus,
11:04lebih sering begitu,
11:06melakukan komunikasi secara berkala,
11:08baik dengan investor,
11:10IMF,
11:10dan juga World Bank,
11:11termasuk lembaga pemeringkat?
11:14Harus setuju,
11:15harus lebih sering dilakukan,
11:17harus lebih sering,
11:19dan lebih tak ukur, Mas.
11:20Karena,
11:21sifat dari investor itu,
11:23begitu ada statement dari ofisial,
11:25itu otak kita,
11:27langsung jadi kalkulator, Mas.
11:28Misalnya,
11:29kita cerita,
11:31misalnya saat ini,
11:32terkait dengan,
11:32tidak ada perubahan,
11:34harga BBM.
11:34Itu langsung berhitung,
11:36kalkulator kita, Mas.
11:37Ini kira-kira,
11:38anggaran-anggaran apa ya,
11:39yang mau di switch.
11:40Ini kira-kira,
11:41defisitnya,
11:42kalau naik,
11:42bagaimana ya?
11:43Ini harus bisa diadres oleh,
11:46pemerintah,
11:46oleh Kementerian Keuangan,
11:47dan semua komunikasi itu,
11:49harus,
11:50intensional,
11:51dan terarah, Mas.
11:51Kira-kira seperti itu.
11:52Tidak boleh komunikasinya impulsif.
11:56Itu tidak boleh bagi Kementerian Keuangan,
11:57komunikasinya impulsif.
11:59Komunikasinya harus terarah,
12:01dengan komunikasi terarah itu,
12:03optimisme bisa kita capai.
12:04Kira-kira seperti itu.
12:05Harus sangat terarah,
12:07intensional,
12:08karena pasar keuangan,
12:09apapun yang muncul,
12:11satu angka saja yang muncul,
12:12akan berubah jadi kalkulator media.
12:14Kira-kira seperti itu.
12:15Baik,
12:15intinya tetap kita apresiasi,
12:17ya,
12:17Mas Lahrul,
12:18langkah dari Pak Purbaya,
12:19yang datang ke Amerika Serikat,
12:20untuk bertemu dengan sejumlah lembaga,
12:22namun memang,
12:23perlu juga,
12:24di-maintain,
12:25terkait dengan,
12:26secara berkala,
12:27begitu komunikasi dengan lembaga-lembaga tersebut,
12:29yang juga harus terarah.
12:30Terima kasih,
12:31ekonom,
12:32terima kasih sekuritas,
12:33Fahrul Pofian,
12:33atas waktunya bersama kami,
12:34di Kompas Bisnis.
12:35Mas, sehat selalu.
12:37Ya, terima kasih.
12:41Saudara,
12:41jangan kemana-mana,
12:42karena Sapa Indonesia Pagi akan kembali untuk Anda.
12:45Dengan informasi,
12:46Kejaksaan Agung,
12:47menetapkan Ketua Ombudsman Republik Indonesia,
12:49Heri Susanto sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola tambang nikel.
12:53Heri baru saja dilantik sebagai Ketua Ombudsman pada pekan lalu.
Komentar