Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 37 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menemui lembaga pemeringkat dan investor global di Amerika Serikat mendapat apresiasi.

Namun, ekonom menilai upaya tersebut harus diikuti dengan pembuktian kinerja fiskal yang konkret.

Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menegaskan bahwa lembaga pemeringkat seperti S&P Global Ratings tidak hanya melihat narasi kebijakan, melainkan sangat bergantung pada indikator angka.

"Lembaga rating itu sangat number driven. Semua harus dibuktikan dengan angka, bukan sekadar narasi," ujarnya.

Menurutnya, salah satu indikator utama yang menjadi perhatian adalah rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara. Jika rasio tersebut terlalu tinggi, risiko penurunan peringkat kredit akan meningkat.

"Kalau rasio belanja bunga terhadap pendapatan di atas 15 persen, kemungkinan untuk downgrade akan semakin besar," jelasnya.

Fakhrul menilai, hingga pertengahan tahun ini pemerintah perlu memastikan tren pembiayaan tetap terkendali, terutama agar beban bunga utang tidak terus meningkat.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa langkah komunikasi yang dilakukan Purbaya dengan International Monetary Fund, World Bank, serta investor global merupakan langkah yang tepat.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Joshua

Baca Juga BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek 18-19 April 2026, Hujan Lebat Berpotensi Terjadi di https://www.kompas.tv/info-publik/663521/bmkg-keluarkan-peringatan-dini-cuaca-jabodetabek-18-19-april-2026-hujan-lebat-berpotensi-terjadi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/663532/saran-ekonom-ke-menkeu-purbaya-jaga-angka-bukan-sekadar-narasi
Transkrip
00:00Sampai jumpa di video selanjutnya.
00:30Purbaya bertemu dengan 18 investor besar untuk mengklarifikasi berbagai persepsi negatif terkait dengan APBN Republik Indonesia.
00:38Sejumlah investor besar dunia termasuk BlackRock, Goldman Sachs, dan Fidelity Investment ini melangsungkan pertemuan dengan Purbaya di New York, Amerika
00:46Serikat.
00:47Dalam pertemuan ini, Saudara, Menteri Keuangan Purbaya memaparkan secara komprehensif berbagai kebijakan ekonomi yang ditempuh termasuk dampaknya terhadap anggaran negara
00:56serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
00:59Menurut Purbaya, banyak investor besar yang tertarik kepada Indonesia.
01:04Purbaya juga memprediksi tak lama lagi para investor akan masuk ke Indonesia dan mendorong pemasalan modal Indonesia ke level yang
01:11lebih tinggi.
01:15Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa mengklaim mendapatkan respons positif setelah bertemu dengan 18 investor global, IMF, World Bank, dan juga
01:24lembaga pemeringkat S&P.
01:25Apa yang perlu dijaga agar respons ini tidak berbalik arah? Kita langsung bahas bersama ekonom, terima kasih sekuritas, Fahrul Fulfian.
01:34Mas Fahrul, selamat pagi.
01:37Ya, selamat pagi Mas. Apa kabarnya?
01:40Kabar baik, Alhamdulillah. Mas Fahrul, tadi kita sempat berbincang dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa yang menyebutkan pertemuannya dengan S
01:47&P.
01:48Pak Purbaya bilang sudah mendapatkan bocoran terkait dengan rilis nanti S&P yang akan dikeluarkan pada bulan Juni nanti.
01:55Kalau kita melihat sebelumnya ada Moody's dan juga Fitch yang menurunkan outlook kita, kemudian ini S&P yang dikhawatirkan kan.
02:03Nah, pada saat pertemuan itu Pak Purbaya percaya diri bahwa S&P akan tetap menjaga level Indonesia di tingkat stabil.
02:11Komentar Anda ataupun analisis Anda seperti apa dengan kondisi ekonomi yang saat ini?
02:16Ya, terkait ini sebenarnya kita harus lihat ya, kalau terkait stabil ini kita harus lihat apa yang diwarning S&P
02:24dari pernyataan ratingnya tahun lalu.
02:27Sebenarnya yang paling dikonsumkan oleh S&P itu adalah rasio dari belanja bunga pemerintah terhadap total pendapatan
02:36yang kalau menurut statement dari S&P tahun lalu, kalau di atas 15 persen, kemungkinan untuk rating downgrade itu jadi
02:43besar.
02:45Jadinya memang tahun ini ya, yang kita sangat tunggu sekali statementnya dari S&P yang mudah-mudahan di-adres oleh
02:51Pak Purbaya,
02:52ini terkait dengan bagaimana kita bisa mendanai APBN dan pembangunan.
02:59Dan kalau memang rasio, apa namanya, rasio belanja bunga dibandingkan dengan pendapatan negara ini bisa dicapai,
03:07ya sebenarnya bisa naik-naik saja.
03:09Dan memang ya mas, kalau kita pelajari dari statement yang mudis dan fit sebelumnya,
03:14masalah dari pemerintah kita ini adalah komunikasi.
03:17Sebenarnya, dari Januari, Februari, dan Maret, pendapatan negara itu naiknya sudah banyak, sudah 20 persen.
03:24Tapi karena ketiadaan komunikasi, market tidak bisa mengapresiasi ini.
03:29Mudah-mudahan ke telah Pak Purbaya menceritakan trajektorinya, market bisa mengapresiasi.
03:35Oke, berarti intinya ada di komunikasi.
03:38Langkah Pak Purbaya menemui lembaga pemerintah S&P, artinya perlu diapresiasi dong ya.
03:42Ini sebagai bentuk komunikasi. Apakah ini juga menurut Anda dapat cukup meyakinkan S&P agar tidak menurunkan outlook RI?
03:51Saya rasa semuanya kalau terkait lembaga rating, ini terkait dengan angka, Pak.
03:57Jadinya harus dibuktikan sampai tengah tahun ini, dan trajektorinya ke depan,
04:02belanja bunga Republik Indonesia tidak boleh naik, Pak.
04:05Tidak boleh naik, ilsun tidak boleh terlalu tinggi,
04:09dan harus ada trajektori untuk memperbaiki pembiayaan, itu kira-kira.
04:13Kalau tidak, bisa jadi kita masih stabil ini listatmennya S&P bulan Juni,
04:18tapi resiko downgrade itu masih bisa muncul di akhir tahun depan, akhir tahun ini, ataupun tahun depan.
04:25Nah, di sini memang dunia sedang bergoncang, ekonomi Indonesia sedang bertransformasi,
04:30transformasi ini tidak bisa diapresiasi oleh pasar kalau tidak jelas junturungan dan arahnya.
04:36Nah, ini yang Pak Purbaya harus ceritakan.
04:39Arangnya apa, targetnya apa, dan harus eksplisif.
04:42Misalnya, apa yang hendak dicapai dari segera program pemerintah,
04:47bagaimana itu terhasil itu pendapatan pajak, itu yang harus diceritakan.
04:51Saya rasa itu yang absen selama ini, dan mudah-mudahan ketika Pak Purbaya di Amerika,
04:56itu bisa dijelaskan beliau dengan baik.
04:58Oke, artinya komunikasi itu adalah pintunya,
05:00tapi ujung-ujungnya juga bagaimana menjelaskan soal angka-angka ekonomi Indonesia begitu ya.
05:04Bagaimana juga dengan...
05:05Benar, ada kasih nambungan antara komunikasinya terus angka yang muncul.
05:11Bakal ada deviasi, memang itu normal, tapi harus di arah yang bisa terbaca.
05:16Kira-kira seperti itu, Mas.
05:17Yang saya baca juga, Mas Fakru, ini soal adanya kekhawatiran dari SNP,
05:21soal pembayaran utang terhadap pendapatan atau juga pajak.
05:24Anda melihatnya apakah ini sudah bisa dikendalikan?
05:28Saya rasa ini menunjukkan urgensinya bahwa selama ini,
05:3315 tahun sampai 20 tahun terakhir, Indonesia itu kemahalan bayar bunga utang, Pak.
05:39Jadi skema yang lama kita bayar kemahalan bayar bunga utang ini,
05:43sudah harus berubah di jamannya Pak Purbaya.
05:45Nah, ini yang harus, aku lihat ini adalah urgensi yang harus dilakukan.
05:50Strateginya apa saja, Indonesia harus berpindah pinjaman 0 rupiahnya
05:55dari negara-negara yang bunganya itu sudah kandung tinggi.
05:59Seperti US dollar sama yen, bunganya sudah tinggi, itu harus ditinggalkan.
06:04Kita harus mencari pembiayaan internasional dari mata uang yang bunganya masih rendah
06:11seperti Renlimbi, kira-kira seperti itu.
06:14Ini sudah harus berubah.
06:15Urgensinya sudah sangat tinggi sekali.
06:17Kalau kita tidak bisa mengelola kemampuan bayar utang ini dengan funding mix yang tepat,
06:23misalnya rating kita turun, Mas. Ini yang harus kita hindari.
06:26Oke, berarti ada strategi soal bunga utang yang menurut tadi Mas Haru sudah mulai kemahalan,
06:33ini bunga tinggi harus ditinggalkan,
06:37ataupun pembiayaan yang berbunga tinggi ini harus mulai ditinggalkan.
06:40Kemudian kalau kita kembali lagi soal peringkat tadi,
06:43seberapa besar menurut Anda?
06:44Kan Pak Purbaya sudah ke Amerika menemui S&P.
06:49Apakah komunikasi Pak Purbaya dengan S&P ini mempengaruhi sikap dari S&P,
06:55ataukah justru S&P ini juga terpengaruh dengan release Moody's dan juga Fitch?
06:59Seberapa besar akan mempengaruhinya jika dikeluarkan nanti Juni?
07:04S&P pada dasarnya adalah lembaga rating dengan kredibilitas yang tinggi,
07:10dan mereka sangat number driven, Pak.
07:13Nah, harusnya tidak terpengaruh dari statement lembaga rating di sebelahnya,
07:18tapi memang dia akan sangat lihat angka.
07:21Oke.
07:21Nah, jadi Pak Purbaya harus bisa menceritakan rasio kita akan membaca di sini.
07:25Berarti antara satu lembaga pemberingkat dengan lembaga pemberingkat lainnya tidak saling terpengaruh begitu?
07:35Tidak, tidak Pak.
07:36Mereka masing-masing ada matrix tersebut diri.
07:39Mereka sangat number driven, Pak dasarnya.
07:42Sangat number driven, sangat ingin.
07:44Nah, karena itu pemerintah kita harus lebih dari sekedar narasi kepada lembaga rating,
07:49harus menunjukkan angka.
07:51Kira-kira seperti itu.
07:52Kalau kelihatan rasio kita mengguruk, bisa jadi rating buruk.
07:55Tapi kalau rasio kita bisa dibuktikan membaik,
07:58dengan mulai membaiknya pendapatan pajak,
08:01bisa kita jadinya lembaga ratingnya memberikan rating yang lebih baik.
08:05Kira-kira seperti itu.
08:06Oke, Mas Fahrul.
08:07Tadi juga kita sempat bahas di awal bahwa Pak Purbaya bilang
08:11Bank Dunia dan juga S&P ini puas dengan strategi fiskal dari Indonesia.
08:15Jika betul demikian,
08:17apa yang perlu dijaga, apa yang perlu dimaintain,
08:19agar rasa puas itu justru tidak berbalik arah begitu?
08:24Nah, yang perlu dimaintain,
08:26ini kritik saya juga ya kepada komunikasi Kementerian Keuangan selama ini,
08:30yang perlu dimaintain itu adalah gap antara ekspektasi dan kenyataan.
08:35Kita jangan pernah memberikan ekspektasi kepada market yang terlalu floris,
08:40terlalu bagus,
08:41karena semua orang di dunia ini lagi tahu,
08:43kita lagi dalam goncangan.
08:45Optimis harus,
08:47optimis harus,
08:48tapi realistis harus tetap terlihat dari setiap rilis,
08:52terlihat dari gesture bahwa kita tetap waspada.
08:56Kalau itu bisa tercapai,
08:57gap antara ekspektasi dan kenyataan itu bisa minimal,
09:01disitulah ruang kredibilitas terbangun,
09:04dan disitulah nanti ekspektasi pasar tercapai,
09:08dan optimisme pada perekonomian Indonesia juga muncul.
09:12Kira-kira seperti itu.
09:13Berarti gap antara ekspektasi dan juga kenyataan juga harus mulai diperhatikan,
09:19begitu optimis boleh,
09:21tapi juga harus realistis.
09:22harus realistis.
09:23Benar,
09:24itu kritik saya kepada Kementerian Keuangan,
09:26harus itu,
09:27apa namanya itu,
09:28jangan terlalu jauh Pak.
09:29Kita optimis harus,
09:31tapi antara realistis dan ekspektasi harus dijaga.
09:34Tapi ngomong-ngomong soal realistis juga ini,
09:35Mas Fahrol,
09:36Pak Purbaya kan juga di Amerika Serikat bertemu dengan investor global,
09:40sebanyak 18 investor global.
09:41Apakah investor ini akan serta-merta masuk ke Indonesia dengan sekali paparan?
09:47Tidak, pastinya.
09:48Yang pasti investor,
09:50kita di dunia investor adalah dunia yang full of skeptical.
09:55Mereka sangat skeptis,
09:57mereka akan cenderung seeing is believing.
10:00Kita sudah mengkomunikasikan,
10:02tapi mereka akan lihat kenyataannya.
10:03Kalau memang setelah ini,
10:05disiplin fiskalnya bisa tercapai dengan baik,
10:08ekspansi ekonomi dicapai dengan komunikasi yang tepat,
10:11kalau itu tercapai,
10:13maka seperti saya cerita tadi,
10:15gap antara realistis dan ekspektasinya menitis,
10:18kredibilitas muncul,
10:19investor akan kembali.
10:21Itu yang akan kita tunggu-tunggu, Mas.
10:24Mudah-mudahan,
10:25ini bisa dicapai,
10:26dan kita lihat ini,
10:28yang paling penting,
10:28di kondisi sekarang ini,
10:29semua orang tahu,
10:30kondisi buruk.
10:31dunia berat,
10:33ada, masih ada perang,
10:34masih ada berbagai,
10:36khas apa namanya,
10:37hurdle yang lain,
10:38orang akan mengapresiasi Indonesia,
10:41kalau Indonesia bisa clear,
10:42dan kejelangkan strategi.
10:44Itu yang lebih penting.
10:45Optimisme,
10:46dan kejelasan.
10:48Gila-gila-gila.
10:48Oke, yang tadi juga dijelaskan oleh Pak Purba,
10:50ya, ini Mas Fahru,
10:51bahwa,
10:52baik IMF, World Bank,
10:54dan juga para investor ini,
10:55itu kaget begitu dengan,
10:56ternyata kondisi ekonomi Indonesia itu,
10:57tidak seburuk itu,
10:58justru stabil begitu.
10:59Apakah menurut Anda,
11:02kalau ngomong-ngomong soal komunikasi tadi,
11:03Pak Purba ini harus,
11:04lebih sering begitu,
11:06melakukan komunikasi secara berkala,
11:08baik dengan investor,
11:10IMF,
11:10dan juga World Bank,
11:11termasuk lembaga pemeringkat?
11:14Harus setuju,
11:15harus lebih sering dilakukan,
11:17harus lebih sering,
11:19dan lebih tak ukur, Mas.
11:20Karena,
11:21sifat dari investor itu,
11:23begitu ada statement dari ofisial,
11:25itu otak kita,
11:27langsung jadi kalkulator, Mas.
11:28Misalnya,
11:29kita cerita,
11:31misalnya saat ini,
11:32terkait dengan,
11:32tidak ada perubahan,
11:34harga BBM.
11:34Itu langsung berhitung,
11:36kalkulator kita, Mas.
11:37Ini kira-kira,
11:38anggaran-anggaran apa ya,
11:39yang mau di switch.
11:40Ini kira-kira,
11:41defisitnya,
11:42kalau naik,
11:42bagaimana ya?
11:43Ini harus bisa diadres oleh,
11:46pemerintah,
11:46oleh Kementerian Keuangan,
11:47dan semua komunikasi itu,
11:49harus,
11:50intensional,
11:51dan terarah, Mas.
11:51Kira-kira seperti itu.
11:52Tidak boleh komunikasinya impulsif.
11:56Itu tidak boleh bagi Kementerian Keuangan,
11:57komunikasinya impulsif.
11:59Komunikasinya harus terarah,
12:01dengan komunikasi terarah itu,
12:03optimisme bisa kita capai.
12:04Kira-kira seperti itu.
12:05Harus sangat terarah,
12:07intensional,
12:08karena pasar keuangan,
12:09apapun yang muncul,
12:11satu angka saja yang muncul,
12:12akan berubah jadi kalkulator media.
12:14Kira-kira seperti itu.
12:15Baik,
12:15intinya tetap kita apresiasi,
12:17ya,
12:17Mas Lahrul,
12:18langkah dari Pak Purbaya,
12:19yang datang ke Amerika Serikat,
12:20untuk bertemu dengan sejumlah lembaga,
12:22namun memang,
12:23perlu juga,
12:24di-maintain,
12:25terkait dengan,
12:26secara berkala,
12:27begitu komunikasi dengan lembaga-lembaga tersebut,
12:29yang juga harus terarah.
12:30Terima kasih,
12:31ekonom,
12:32terima kasih sekuritas,
12:33Fahrul Pofian,
12:33atas waktunya bersama kami,
12:34di Kompas Bisnis.
12:35Mas, sehat selalu.
12:37Ya, terima kasih.
12:41Saudara,
12:41jangan kemana-mana,
12:42karena Sapa Indonesia Pagi akan kembali untuk Anda.
12:45Dengan informasi,
12:46Kejaksaan Agung,
12:47menetapkan Ketua Ombudsman Republik Indonesia,
12:49Heri Susanto sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola tambang nikel.
12:53Heri baru saja dilantik sebagai Ketua Ombudsman pada pekan lalu.
Komentar

Dianjurkan