Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Anggaran negara yang memiliki perencanaan belanja yang ketat sebenarnya cukup fleksibel terhadap pencairan dana darurat, khususnya ketika menghadapi bencana seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karhutla yang sedang terjadi sejak awal tahun ini tercatat telah menghanguskan 677 ribu hektare hutan maupun lahan. Asap mengganggu kesehatan jutaan warga hingga ke negara tetangga.

Namun alih-alih digunakan untuk memadamkan api, dana darurat bencana justru memicu sangkaan korupsi.

Tonton juga RiauOnline “
(RiauOnline)

#Riauonline #Riauonlinecoid #daruratbencana #korupsi

Jangan lupa subscribe, tinggalkan komentar dan share.

Tonton konten lainnya juga di YouTube Channel:
- Sisi Lain https://youtu.be/_TYOe2wDBl8
- Wamoi dan Riau https://youtu.be/roXyLa8aFLU

Jangan lupa subscribe yaa..

Follow Juga akun Sosial Media kami

https://www.facebook.com/RiauOnlin

https://twitter.com/red_riauonline

https://www.instagram.com/riauonline.co.id/?hl=id

https://www.tiktok.com/@riauonline1

https://s.helo-app.com/al/xvYZYpjbvR

https://sck.io/u/j3hlxrGg

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Saat hutan terbakar dan masyarakat terdampak kabut asap,
00:04negara sebenarnya punya anggaran darurat yang bisa dicairkan dengan cepat.
00:08Tapi bagaimana jika dana yang seharusnya membantu korban bencana
00:11justru terseret dugaan korupsi?
00:15Kebakaran hutan dan lahan atau karhutlah sepanjang 2026
00:19dilaporkan telah menghanguskan sekitar 677 ribu hektar hutan dan lahan.
00:24Dampak asapnya bahkan mengganggu kesehatan jutaan warga
00:27hingga ke negara tetangga.
00:30Di tengah situasi ini, Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK
00:34melakukan operasi tangkap tangan
00:35terkait dugaan korupsi dana siap pakai kebencanaan BNPB.
00:40Perkara ini menyeret sejumlah tersangka,
00:42termasuk adik kepala BNPB saat itu.
00:44Suharyanto kemudian dicopot dari jabatannya pada 17 Oktober 2026.
00:50Dugaan korupsi tersebut berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa,
00:54termasuk dugaan konflik kepentingan dan suap
00:56yang disebut telah berlangsung sejak 2022.
01:00Padahal dalam situasi darurat,
01:02pemerintah bisa menggunakan dana siap pakai atau DSP
01:05untuk memenuhi kebutuhan penanganan bencana.
01:08BNPB bahkan mengajukan tambahan anggaran
01:10sebesar 5,67 triliun rupiah kepada Kementerian Keuangan.
01:15Lantas, di mana celah penyalahgunaannya?
01:18Ada empat titik rawan yang perlu diawasi.
01:21Pertama, penunjukan langsung penyedia yang berpotensi membuka konflik kepentingan.
01:27Kedua, penetapan harga yang tidak wajar.
01:30Ketiga, dokumen pengadaan yang tidak lengkap atau tidak konsisten.
01:34Keempat, pengawasan yang dilonggarkan karena alasan keadaan darurat.
01:39Risiko serupa pernah muncul dalam perkara pengadaan alat pelindung diri atau APD
01:43saat pandemi COVID-19.
01:45KPK mengungkap dugaan penyimpangan pengadaan
01:48yang menggunakan dana siap pakai BNPB
01:50dengan nilai yang dipersoalkan mencapai 319 miliar rupiah.
01:55Kasus ini menjadi pengingat bahwa kecepatan penanganan bencana
01:58tidak boleh menghilangkan akuntabilitas penggunaan uang negara.
02:01Penunjukan langsung bukan otomatis korupsi.
02:05Namun, alasan pemilihan penyedia,
02:08kewajaran harga,
02:09kelengkapan dokumen,
02:10dan hasil pengadaan tetap harus bisa dipertanggungjawabkan.
02:14Sebab, dana darurat seharusnya menyelamatkan masyarakat dari bencana,
02:19bukan menjadi celah untuk memperkaya pihak tertentu.

Dianjurkan