00:02Pak Juanda secara historis kita sudah punya presiden 3 presiden yang berhenti di tengah jalan atau mundur di tengah jalan.
00:08Kalau kita tarik lagi konteks ke sekarang, sebenarnya ada faktor objektif gak yang relevan dengan saat itu?
00:13Atau bisa dibandingkan dengan saat itu?
00:15Saya kira begini, ada iya, ada tidak.
00:19Soeharto turun persoalan naik politik dan ekonomi.
00:24Dan dipercepat oleh Habibie, pemilu waktu itu, tentu soal politik juga.
00:32Tapi kalau saya lihat sekarang, kalau politik ini bisa saja menjadi liar, bisa saja menjadi jinak dia.
00:40Artinya tertib.
00:42Mungkin itu yang disampaikan Budi Ari, dia melihat cek dewater mungkin, atau cek ombak segala macam, bisa jadi dalam politik.
00:52Tetapi, kalau saya lihat, ada dua hal yang bisa membuat pemilih itu dipercepat.
01:01Pertama, sebagaimana dalam konstitusi, pasal 7A, 7B itu, konstitusi kita, ada pelanggaran hukum yang dilakukan oleh presiden atau wakil presiden.
01:13Ada pengkhianatan negara di situ.
01:16Nah apa itu terjadi?
01:17Saya lihat, belum ada bau-baunya itu.
01:21Sinyalnya belum ada.
01:23Maka, pasal 7A, 7B itu, saya anggap tidak bisa kita pakai untuk membenarkan atau mendukung pikiran yang Budi Ari.
01:33Secara hukum tata negara, secara konstitusi.
01:37Namun persoalan politik.
01:38Politik ini mungkin, ya bisa saja terjadi, ya, sulit diprediksi.
01:44Tapi kalau terus begini ekonomi, misalnya kita bermasalah, korupsi tidak ditangani secara benar,
01:52orang-orang korup yang diduga korup tidak dijadi di proses secara hukum secara protektif dan adil.
01:58Kemudian rakyat melihat ini ekonominya masih murad-mahrid, ditumbangi politik, sehingga terus berakumulasi dengan ekonomi ini,
02:09maka kemungkinan yang disampaikan Budi Ari bisa saja terjadi.
02:14Di mana misalnya, kalau misalnya terjadi people power, seperti 98,
02:22Nah, ini yang akan kita tidak harapkan dalam Republik ini sekarang.
02:27Kita punya konstitusi, kita punya undang-undang, maka ikutlah aturan undang-undang dan konstitusi itu.
02:34Nah, memang banyak orang-orang politik praktis menginginkan mungkin menopang dari krisis ekonomi, politik, dan segala macam.
02:42Tapi ini kan seharusnya manajemen politik dan pemerintahan ada presiden dan wakil presiden.
02:47Ini yang kita harapkan kabinet ini benar-benar fokus dalam bagaimana membangun ekonomi kita,
02:53membangun konsep dan praktik negara hukum kita berkeadilan.
02:58Kalau ini diselesaikan, saya kira tidak ada perlu dikhawatirkan oleh presiden dan lain-lain, termasuk pendukung-pendukungnya.
03:06Saya kira itu yang penting.
03:08Oke, kalau dari Bung Adi, ada yang melihat sebenarnya ada yang aneh juga, Kak?
03:13Atau apa yang disebutkan oleh Budi Ari sebenarnya berdasar, Kak?
03:16Tidak berdasar, itu kan pendapat pribadi dia.
03:19Tapi dari lawan tuh kayaknya melokalisasiin juga ke Budi Ari doang?
03:22Enggak.
03:22Makanya saya katakan ini, kita ada 40 elemen pada saat itu diundang.
03:27Ada 60 yang hadir secara daftar hadir ya, kita lihat itu.
03:31Bukan hanya Pak Budi Ari yang berbicara itu.
03:35Karena dia duduk di depan, di samping Pak Jokowi, ya kita terus terang enggak setuju apa yang dia katakan itu.
03:44Karena itu berbahaya memang.
03:46Kita bisa melihat bahwa ini bisa digoreng-goreng itu nantinya.
03:49Dan itu kenyataan seperti itu.
03:51Tidak mewakili semua yang dikatakan adalah relawan Jokowi Prabowo Gibran.
03:58Tidak ada untuk itu.
03:59Tidak mewakili pas IT dikemenurutannya, tidak mewakili betul atau ya sebenarnya akan menunggu arahananya dari Pak Jokowi-nya misalnya?
04:04Saya itu membicarakan politik di depan panggung dan belakang panggung itu susah sekali.
04:11Ini kan ya siapa tahu sebenarnya karena ribut maka belakang panggung ditutupin.
04:18Kalau enggak ribut maka dibuka yang belakang panggung.
04:20Saya ingin menyatakan, tadi saya ulangi, bahwa 2004 pilpres selesai tapi perebutan kekuasaan dimulai.
04:32Itu selalu sikap saya.
04:33Sehingga saya tidak melihat gangguan kepada Prabowo terus berlanjut.
04:37Karena perebutan kekuasaan.
04:41Nah, coba kita contohlah.
04:43Coba bayangkan gorengan kepada Prabowo.
04:46Dan saya menyatakan, waktu saya ke Pak Prabowo, Pak Bapak Presiden terlalu berani menyentuh oligarki.
04:53Belum pernah ada Presiden menyentuh dia.
04:55Dan saya yakin Bapak masuk ke titik tukil or tubikil.
04:59Dan saya menyatakan saat itu, Bapak itu bagaikan mau mengambil madu, Bapak sudah punya obor dan tongkatnya.
05:09Tapi koreknya masih dipegang oleh Joko Widodo.
05:12Saya sampaikan itu.
05:13Nah, sehingga ini perebutan kekuasaan.
05:17Cobalah kita lihat.
05:18Pada saat sekarang, dia mengambil lahan 8 juta hektare dari oligarki.
05:26Apa yang dikatakan orang?
05:27Kok negara mengambil lahan digoreng negara tanpa hukum?
05:32Loh, pada saat oligarki itu merampok, kok enggak persoalkan hukum?
05:37Iya, kan?
05:40Nah, bukan.
05:42Lepaskan, itu langkah berikutnya.
05:44Ada juga ditangkap.
05:45Jadi beginilah.
05:47Pak Enik pada jasa.
05:48Nah, jadi Pak.
05:49Kapan, Pak?
05:50Loh, saya minta nih.
05:52Kalau sekian juta hektare dilampas berarti kan sudah dalam kondisi darurat.
05:55Pertanyaan saya, Pak.
05:57Ada enggak Presiden pernah melakukan itu?
06:00Mengambil lahan.
06:02Oke?
06:02Jangan tambahin lagi di agenda lain.
06:05Bukan.
06:06Presiden, 6 Presiden, pernah enggak ada yang melakukan itu?
06:09Pakai mic para jasa, sorry.
06:11Bukan, jadi Pak.
06:12Kita enggak bekerja presiden lalu, tapi main.
06:13Bukan.
06:13Pakai mic para jasa.
06:15Berarti Bapak masih butuh tambahan.
06:18Pakai mic para jasa.
06:19Jadi Pak, coba kasusnya DLC Taurus.
06:2420 tahun ingkrah, 42 hektare.
06:26Ada enggak Presiden pernah ngambil itu?
06:28Prabowo ngambil.
06:30Bukan, jadi Bapak, kita tuh bersyukur bahwa.
06:36Bukan, Bapak, bersyukur bisa mengambil 8 juta hektare.
06:40Apakah Pak Proro berani mengadili Jokowi?
06:42Loh, kita tutup.
06:43Apakah berani mengadili beti-beti beti itu?
06:45Loh, jadi jangan, Pak Raja sah.
06:49Jangan dibandingkan lho.
06:50Bukan, aku bandingkan.
06:52Saya bandingkan bahwa di awal negara-negara yang berani, kok enggak boleh membandingkan?
06:56Bukan.
06:57Kita umat tuh bersyukur, maka Allah akan menambahkan nikmat itu.
07:02Bersyukurlah ada Presiden yang berani mengambil lahan dari oligarki.
07:06Clear?
07:06Bisa ditambah dong, tangga.
07:07Loh, iya tambahin lagi, jangan-jangan dia enggak bersyukur gitu lho, Pak.
07:12Jadi, nah, jadi saya katakan begini.
07:15Saya, saya mendukung Prabowo karena tiga hal.
07:20Satu, bahwa dia mau memberantas korupsi.
07:23Oke?
07:24Pernah enggak ada membentuk resahlit?
07:27Oke?
07:28Ini kanan cipap.
07:29Bukan.
07:29Pernah enggak ada Presiden yang bisa menyentuh dia?
07:32Nah.
07:32Oke.
07:33Yang kedua, dia memenetipkan oligarki.
07:37Yang ketiga, dia mengambil aset negara.
07:39Itu yang saya dilihat.
07:41Oke.
07:41Oke.
07:41Jadi, nah.
07:43Terus ada menyatakan.
07:45Loh, karena saya melihat Presiden sebelumnya enggak ada yang berani melakukan itu.
07:48Oke.
07:49Oke, baik.
07:50Nanti kita akan lanjutkan lagi.
07:51Bapak-bapak semua di bola liar tetap bersama kami di Kompas TV.
07:54Terima kasih.
Komentar