- 4 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Isu percepatan pemilu memicu benturan argumen soal hubungan Prabowo dan Jokowi. David Pajung dan Andi Azwan menilai hubungan PrabowoJokowi tetap harmonis dan isu percepatan pemilu tidak bisa begitu saja ditafsirkan sebagai upaya mengganti kekuasaan.
Di sisi lain, Said Didu dan Ray Rangkuti mempertanyakan makna pernyataan Budi Arie serta kemungkinan adanya skenario politik di balik isu tersebut.
Baca Juga Debat Panas! Ray, Andi hingga Said Didu Soal Budi Arie Bicara Percepatan Pemilu 2029 | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/video/687961/debat-panas-ray-andi-hingga-said-didu-soal-budi-arie-bicara-percepatan-pemilu-2029-bola-liar
Dari perspektif intelijen dan hukum tata negara, Sri Radja Chandra dan Juanda memberikan sudut pandang berbeda mengenai konsekuensi pernyataan tersebut.
Perdebatan kemudian mengarah pada satu pertanyaan utama: apakah isu percepatan pemilu sekadar dinamika dan interpretasi politik, atau ada sinyal perubahan kekuasaan yang perlu dijelaskan secara terbuka?
Kurniawan dan Ahmad Irawan juga menyoroti pentingnya proses konstitusional serta stabilitas pemerintahan PrabowoGibran.
Produser: Prayogi Haro
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/687962/bentrok-argumen-said-didu-radja-hingga-ray-soal-prabowo-jokowi-di-tengah-isu-percepatan-pemilu
Di sisi lain, Said Didu dan Ray Rangkuti mempertanyakan makna pernyataan Budi Arie serta kemungkinan adanya skenario politik di balik isu tersebut.
Baca Juga Debat Panas! Ray, Andi hingga Said Didu Soal Budi Arie Bicara Percepatan Pemilu 2029 | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/video/687961/debat-panas-ray-andi-hingga-said-didu-soal-budi-arie-bicara-percepatan-pemilu-2029-bola-liar
Dari perspektif intelijen dan hukum tata negara, Sri Radja Chandra dan Juanda memberikan sudut pandang berbeda mengenai konsekuensi pernyataan tersebut.
Perdebatan kemudian mengarah pada satu pertanyaan utama: apakah isu percepatan pemilu sekadar dinamika dan interpretasi politik, atau ada sinyal perubahan kekuasaan yang perlu dijelaskan secara terbuka?
Kurniawan dan Ahmad Irawan juga menyoroti pentingnya proses konstitusional serta stabilitas pemerintahan PrabowoGibran.
Produser: Prayogi Haro
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/687962/bentrok-argumen-said-didu-radja-hingga-ray-soal-prabowo-jokowi-di-tengah-isu-percepatan-pemilu
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Nah ini Bang David kita lanjutkan lagi, tadi kata Pak Said belum tentu 2029 Pak Prabowo gandeng Mas Gibran lagi,
00:05ini ameng cari start lah.
00:07Ya itu kan interpretasi Pak Said Didu ya, itu boleh-boleh aja silahkan membangun opini, tetapi kenyataan sampai detik ini
00:14itu sangat harmonis hubungan baik antara Pak Presiden dengan Wakil Presiden.
00:19Juga simbol kemarin di 17 Agustus di setanakan betapa bestinya bertiga ini kan yang tadi juga ada di layar ini.
00:26Jadi saya mau katakan bahwa Pak Prabowo sangat menyadari ketenangan ya, harmoni kepemimpinan itu menjadi kata kunci dari keberhasilan astacita
00:38beliau.
00:38Ketika terjadi riak dinamika politik yang tidak berujung pangkal atau mencoba membangun gestur-gestur yang tidak membuat mereka rukun antara
00:4801-02 antara Presiden dan Wakil Presiden,
00:50itu akan merusak konsentrasi kepemimpinan Pak Prabowo sendiri. Sehingga Pak Prabowo sebenarnya gak pernah merespon apapun yang terjadi soal bagaimana
00:58opini untuk bagaimana memecah duet Prabowo Gibran ini.
01:03Bahwa kemudian apa yang dikonstantir oleh Pak Said Didu tadi bahwa ada orang yang kebelet, ada orang-orang yang sudah
01:10gak sabar,
01:11iya pasti karena bagaimana caranya memecah duet ini termasuk koalisi tiga figur ini Prabowo, Jokowi, Gibran.
01:22Satu-satunya cara dari calon-calon lain untuk bisa naik 2029 adalah pecah soliditas ini.
01:29Termasuk kalau saya kaitkan sedikit, kasus-kasus ijazah yang tidak berujung pangkal ini kan salah satu cara untuk mendegradasi pengaruh
01:38Pak Jokowi yang luar biasa itu.
01:39Nah tapi Pak David ini juga jadi pertanyaan kalau misalnya emang gak ada apa-apa, kalau relawan juga masih solid,
01:44Pak Jokowi Pak Prabowo solid,
01:45tapi kok pas ditanya Pak Budiari siap gak untuk senario terburuk pada jawab siap?
01:49Nah gini, makanya saya mau sampaikan, kami berdua ini saksi. Jadi ada 40 organisasi, 60-an orang yang hadir di
01:58situ, 3 jam pertemuan Pak.
02:00Pak Jokowi itu hanya terakhir, bicara 10 menit terakhir. Dari 60 orang itu semua digilir ketua-ketua relawan itu, bicara
02:06termasuk saya, Andi Aswan.
02:08Nah giliran si Bung Budiari ngomong, beliau mengatakan, teman-teman tadi kan di awal itu bicara soal apa segala macam.
02:16Gimana kalau pemerintahan ini gak sampai di ujung 2029? Apakah kita siap? Siap dalam arti sebagai pendukung Prabowo Gibran,
02:26apa kita siap dengan situasi itu? Sebenarnya itu kita mengklarifikasi juga.
02:30Oke sebentar. Dan juga Budiari sudah klarifikasi kan. Oke oke sebentar. Ini bagaimana Pak saya?
02:35Ini saya akan dibalik, saya akan-akan pihak lu yang kebelet. Padahal yang ngomong kebelet kan yang di dalam sana.
02:42Kok dibalik? Kan itu interpretasi Pak. Gak bukan, bukan interpretasi jelas.
02:45Interpretasi Pak Dido itu. Bukan yang kebelet bahwa kita harus siap, kan di dalam situ.
02:51Sebab Pak, di dalam itu siapa sih Pak saya? Sebut aja Pak.
02:54Karena Bapak mau.
02:54Nah, Budiari kami nyatakan.
02:56Bukan Budiari.
02:57Kami saksikan.
02:58Bentar Bu David ya.
02:59Jangan dibalik-balik fakta.
03:02Fakta menyatakan.
03:04Saya ulangi kalimatnya kalau saya salah.
03:07Ini sepertinya tidak sampai 2009 nih.
03:11Kalau dia, 2009.
03:12Insting Budiari kata Budiari.
03:14Ya, dengarkan dulu.
03:16Dengarkan dulu.
03:16Dan anda semua di dalam situ.
03:18Gak membantai itu.
03:19Oke?
03:19Karena pendapat pribadi.
03:20Bukan dalam dinamika.
03:23Kalau kita gak sepakat, kita ini organisasi harus juga.
03:26Kalau kita diam terhadap pendapat orang, berarti kita setuju dalam ruangan itu.
03:30Itu clear.
03:33Harus diingat.
03:34Bum, Pak saya didu.
03:37Harus diingat.
03:38Kalau, sebentar Bob.
03:39Saya mau menambahkan ini.
03:40Gak usah dulu.
03:41Oh, gak usah dulu.
03:42Sebentar, Buru.
03:44Kalau kita berorganisasi dalam forum, dan kita diam, artinya kita sependapat itu.
03:50Jangan setelah ribut, baru memoncukkan Budiari semua.
03:53Ya kan?
03:54Clear.
03:55Nah, kok kita dianggap provokasi?
03:57Kita dianggap kebelet.
03:59Padahal yang kebelet adalah 60 orang dalam itu.
04:02Itulah sebabnya.
04:04Itulah sebabnya saya tadi minta.
04:07Ini sebabnya saya tadi minta.
04:09Sebenarnya.
04:09Video yang lebih panjang dari itu.
04:12Terluangan.
04:12Yang dulu dong, saya mau ngomong nih.
04:14Saya mau ngomong nih.
04:16Bungan nih, sebentar, sebentar.
04:17Sebentar dong, saya diminta ngomong nih.
04:19Oke, Pak Raja, kalau dari yang Anda lihat sebenarnya, adakah ini sesuatu yang terorkestrasi jelang genap 2 tahun Pak Prabowo
04:25Gibran?
04:25Begini Bu, sebenarnya saya agak lucu ya melihat tema yang disampaikan oleh Bola Liar.
04:35Sebetulnya yang dibutuhkan oleh publik hari ini bukan percepatan pemilu atau pemilu tepat waktu.
04:41Karena semuanya melahirkan pemimpin monster.
04:43Yang membuat rakyat ini terpuruk.
04:46Itu hanya satu pertamanya.
04:47Tapi dalam konteks Budiari, saya akan katakan bahwa statement seorang politisi tidak sekedar berhenti menjadi rangkaian kalimat.
04:56Apalagi diucapkan saat negara sudah memasuki dalam fase kegelisahan.
05:03Kata-kata pernyataan politisi bisa menjadi sinyal atau menjadi instruksi ketika kata percepatan diarahkan kepada kader politik
05:15dalam rangka menghadapi kemungkinan perubahan kekuasaan negara di luar mekanisme konstitusi.
05:22Disinilah analisa linguistik korensik menjadi relevan.
05:28Saya katakan kenapa relevan.
05:29Untuk melihat apakah pernyataan Budiari ini sudah offset atau dikatakan sebagai sebuah tindakan makar,
05:37ini perlu dilakukan pendalaman.
05:40Karena begini ya, dalam penerapan hukum di sini memang tidak mengedepankan equality before the law ya.
05:47Contoh kasus Mayajian Purnawira Sunarko.
05:50Hanya mengatakan kepung istana, padahal dia tidak punya masa politik.
05:54Ditangkep, ditahan.
05:56Sampai hari ini tidak jelas hukumannya.
06:00Tapi dalam konteks intelijen strategis ya, dalam terminologi intelijen strategis, dalam konteks early warning ya kan,
06:10justru berkembang narasi bahwa ini ada agenda terserubung dalam rangka mengganti presiden atau kepemimpinan yang sah sebelum 2029 gitu ya.
06:20Nah, ini juga menjadi satu hal yang perlu diklarifikasi secara jelas gitu loh.
06:27Oleh yang bersangkutan dan oleh banyak pihak lah.
06:29Termasuk juga mungkin melalui proses hukum atau apa.
06:33Sehingga apa?
06:34Tidak terjadi kegamangan di kalangan masyarakat.
06:36Karena begini Bu, dampak daripada pernyataan ini Bu ya.
06:39Ini dapat menjadikan demonstrasi menjurus pada kekerasan.
06:42Munculnya narasi bahwa institusi pemerintah kehilangan legitimasi.
06:46Seperti itu menurut saya.
06:47Oke, sorry. Nah, tapi kalau misalnya ini ada dampaknya, ada konsekuensi yang lebih besar sebenarnya.
06:52Siapa yang diuntungkan dari kontroversi ini kalau gitu Pak?
06:55Ya, saya pikir kita tidak bicara untung rugi ya.
06:58Tapi yang jelas, publik ini membutuhkan kejelasan dari pernyataan Abu Diari.
07:06Entah dengan cara apa, yang penting ini bisa terklarifikasi secara jelas dan bisa diterima oleh publik.
07:12Nah, itu apa yang harus diklarifikasi Pak? Lebih jelasnya.
07:14Ya, pernyataannya.
07:15Sekarang kan, makanya saya bilang tadi bahwa kalau dalam konteks early warning, ya kan, ini berkembang.
07:22Ya kan, spekulasi bahwa ada agenda terselubung dalam mereka menggantikan pemerintahan yang sah sebelum 2029.
07:31Nah, ini perlu diklarifikasi Bu.
07:33Itu menurut saya.
07:35Oke, untuk agenda mengganti kekuasaan?
07:37Iya. Ini spekulasi yang berkembang ya. Seperti itu.
07:41Maka dari itu dampaknya Bu, ya kan, tidak untuk menggantikan demo-demo ini akan menjadi aksi kekerasan.
07:48Dan kemudian munculnya narasi bahwa institusi pemerintah tidak kehilangan legitimasi dan segala macam.
07:53Nah, ini perlu.
07:54Perlu kejelasan untuk mempertegas bahwa apa makna dibalik itu semua.
08:00Apakah ini hanya pernyataan pribadi? Kan nggak bisa dengan minta maaf begitu aja.
08:04Sunarko dulu pakai ditangkep, Bu.
08:05Oke.
08:06Kalau gitu, Bu Nandi, menanggapi sebenarnya apakah memang sejauh itu?
08:09Memang ada agenda sampai mau mengganti kekuasaan?
08:13Tidak pernah Pak Joky mengatakan mengganti kekuasaan itu.
08:16Karena beliau seorang demokrat.
08:18Seorang demokratik.
08:19Artinya beliau menjunjung tinggi betul yang namanya proses dari pemilihan Pilpres itu selama lima tahun.
08:27Dan beliau itu selalu, saya ke NTT, saya ke Lampung.
08:32Di NTT pun beliau mengatakan, bukan hanya di PSI.
08:38Dukung terus Prabowo Gibran.
08:44Semua astacita beliau, program-program beliau harus sampai ke masyarakat yang paling bawah.
08:51Bantu pemerintah kita.
08:53Terus menerus itu dikembangkan kepada kita.
08:55Kami dari Militan Gibran Nusantara itu, kita fokus untuk itu.
09:00Jadi bagaimana pemerintahan ini bisa berjalan.
09:03Dan pemerintah ini bisa memenuhi astacita yang memang tugasnya adalah menerima amanah ini.
09:12Dan mewujudkan amanah ini kepada masyarakat.
09:15Dan saya rasa juga, Bung Kurniawan, MCP, kita sama-sama di relawan juga.
09:22Sangat mendukung pemerintahan Pak Prabowo ini.
09:26Jadi, kalau ada dari yang lain, dari di luar itu, ingin mencoba menggoreng-goreng,
09:31ya tunggu saja 2029 nanti seperti apa.
09:35Jangan diputus bahwasannya pemerintahan ini yang dicoba di Oda Kobok dan sebagainya.
09:44Melalui case yang menurut saya, itu case-nya itu bukan masuk akal.
09:48Oke, sebentar.
09:49Sebentar, sebentar.
09:51Tadi yang saya katakan, berkembang spekulasi.
09:55Adanya agenderasinya.
09:56Tapi kalau menurut saya, Bu, ya, bahwa hubungan Prabowo dengan Jokowi, itu satu frekuensi, Bu.
10:04Sama-sama otoritarian personality dalam dirinya.
10:08Jadi, kalau saya bilang, Bu, ya, bahwa tidak akan pecah koalisi Prabowo-Jokowi.
10:15Tidak akan pecah.
10:16Kenapa?
10:16Karena, kalau saya lihat dalam terminologi monarki, Prabowo itu hanya pemangku kerajaan yang mengantar Putra Mahkota menjadi raja nanti 2009.
10:26Udah itu aja.
10:27Berarti mau ganti kekuasaan siapa, Pak Rajasa?
10:29Berarti siapa, Pak Rajasa, yang mau minta ganti kekuasaan itu agendanya siapa kalau misalnya mereka tidak terpisahkan?
10:36Gak jelas ya?
10:37Kalau misalnya Pak Jokowi dan Pak Prabowo sebenarnya memang tidak terpisahkan, berarti agenda mengganti kekuasaan itu inisiatifnya dari siapa?
10:45Ya, ya, ngatakan, Budi Ari.
10:48Ya, Budi Ari kan ngatakan.
10:49Oke.
10:50Oke, kalau gitu tadi, Bung Rai, apa tadi yang mau disampaikan?
10:53Supaya kita tidak dituduh, disudutkan oleh Andi dan David Pajung sebagai orang yang memprovokasi, mohon sangat kalau ada kelanjutan video
11:04itu disebarkan kepada publik, apakah memang video itu cuma beberapa detik itu?
11:12Depan pertanyaannya, kalau cuma beberapa detik itu, kok bisa hebat sekali orang itu pas momen itu dipideokan?
11:22Tapi kalau ada yang panjangnya, mohon sangat keluarkan sekarang kalau perlu, mana video yang lebih panjang dari itu?
11:32Supaya saya, Pak Said, dan lainnya itu enggak selalu berada di dalam posisi yang dipojokkan oleh kalian sebagai tukang provokasi.
11:41Oke.
11:42Tapi kalau kalian enggak keluarkan juga itu video, jangan kami disalahkan kalau kesimpulannya itu, ya itu.
11:50Oke.
11:51Kami seperti ijazah ini, kalau ijazahnya enggak keluar yang asli, ya jangan sampai orang disalahkan, enggak percaya mau ijazahnya.
11:59Oke.
11:59Enggak ada.
12:00Oke, sebenarnya.
12:01Kalau itu saya mau nanya, Pak Juwanda.
12:02Pak Juwanda, kalau Anda melihat dari kacamata hukum sebenarnya, apa yang disampaikan oleh Budi Ari masih wajar sebatas hanya diskusi
12:08atau sesuatu yang, apa ya, ada, apa ini sebenarnya lebih jauh bisa diagendakan atau dibaca sebagai agenda pengambilan kekuasaan?
12:15Ya, terima kasih. Saya kira tadi sampai pulang saya enggak ngomong.
12:21Silahkan, Pak Juwanda.
12:22Ya, kalau sekali tadi tidak saya akan protes. Tapi Alhamdulillah sadar.
12:28Ya, di sini enggak adil. Ya, maaflah ya. Jadi aturlah sebaik mungkin negara ini dan termasuk yang di panggung ini.
12:36Oke, kalau gitu gimana?
12:37Ya, pertama saya lihat ada dua aspek. Aspek politik dan aspek hukum tata negara.
12:45Kalau aspek politik, sebenarnya Budi Ari itu hebat.
12:50Kenapa?
12:51Gara-gara dia, kita ada di bola liat.
12:55Oke.
12:56Luar biasa. Dan itu hak dia sebenarnya. Tidak ada masalah. Mungkin dalam perspektif politik, dia lihat mungkin ya, ada sebuah
13:06kecenderungan bahwa pemilu akan dipercepat.
13:09Itu secara politik. Apakah salah? Tidak salah.
13:12Nah, tapi dari seaspek hukum tata negara, kemungkinan Budi Ari tidak paham konstitusi.
13:19Ya, kalau dia paham konstitusi, jelas.
13:22Ya, di dalam pasal 22E itu lima tahun.
13:26Yang kedua, di dalam Undang-Undang 10, 2016, pemilu kada, itu juga lima tahun.
13:32Nah, dalam konteks hukum tata negara, memang boleh dipercepat pemilu.
13:37Kalau ada argument-argumentasi, darurat misalnya.
13:40Terjadi kekusungan hukum.
13:42Presiden misalnya mengangkat.
13:44Wakil presiden juga berhenti atau ada kasus hukum.
13:47Baru prosesnya.
13:48Sepanjang memang waktunya masih di atas tiga tahun.
13:53Empat tahun misalnya.
13:55Kalau misalnya seperti ini sekarang, itu saya katakan kita paham hukum, paham konstitusi, tapi tidak konsisten dengan konstitusi.
14:04Nah, kalau ditarik sama konteks sekarang, menurut Anda ada relevansinya nggak?
14:07Masuk nggak ucapannya Pak Budi Ari?
14:09Nah, itu saya katakan secara politik itu hak dia.
14:12Tapi secara hukum tidak ada alasan hukum pun seperti apa yang disampaikan oleh dia.
14:18Mau apa dipercepat, baik dalam sistem presidensil maupun dalam sistem parlementer.
14:24Apalagi kita akan sekarang aman-aman saja Prabowo jalan, menjalankan roda pemerintahan dengan baik, bersama Gibran misalnya.
14:32Nah, jadi saya bingung.
14:33Kenapa ini Budi Ari bicara soal percepat pemilu, walaupun sekata-kata itu hak dia kan?
14:39Nah, tapi kalau kita berbicara hukum tata negara, hukum konstitusi, tidak ada argumentasi pun.
14:44Yang sekarang ini 2-3 bulan, 4 bulan, 1 tahun, tidak ada alasan untuk percepat pemilu.
14:50Berarti kalau misalnya dibilang ada dinamika politik, ada riu atau riak di masyarakat, itu sebenarnya tidak masuk untuk jadi indikator
14:56untuk sampai dibilang harus ada pergantian.
14:57Tidak ada.
14:59Apa terjadi?
14:59Riu itu biasa, politik itu dalam negara demokrasi, memang inilah hasil dari kontribusi kita tahun 98.
15:07Tidak ada masalah.
15:08Tapi, bicara itu yang berdasar hukum gitu.
15:12Yang kira-kira kita mengamati ini benar tidak ini, kemungkinan tidak ini dipercepat.
15:17Dalam konteks konstitusi tentu ya, misalnya tadi sudah saya sampai kekosongan pemerintahan.
15:24Boleh, ini kan tidak ada.
15:26Apakah mungkin Budi Ari melihat, oh ini akan terjadi kosong kan?
15:31Saya tidak tahu.
15:32Bisa saja mungkin ya.
15:33Tapi saya melihat tidak ada hal-hal yang bisa membuat pemerintahan kosong.
15:39Oke, dari Mas Kurniawan merasa itu juga adalah sebuah analisis yang berlebihan, insting yang berlebihan?
15:45Ini cek ombak, Mbak.
15:47Cek ombak?
15:47Ya, oleh Budi Ari.
15:49Cek ombak ini.
15:51Kalau masalah bagaimana cara melangsirkan Prabowo, ini sudah dimulai ketika Prabowo dilantik.
15:57Gangguan-gangguan ini sampai sekarang masif ini.
16:00Serangan-serangan masif ini.
16:04Jadi, memang sudah mengarah ke percepatan pergantian pemimpin, itu sudah terjadi.
16:10Dan ini by design, Mbak.
16:14Oleh kelompok orang yang kebelet tadi.
16:16Oleh orang-orang yang kebelet tadi.
16:17Itu dia.
16:17Oke.
16:18Bang David, katanya cek ombak doang sama enggak ngelak kos itu sih loh relawannya.
16:21Saya sepakat dengan Bung Iwan dan Pak Juanda tadi ya.
16:25Jadi gini, dalam adigium politik itu, sebuah atau proses perjalanan dinamika politik selalu ada yang namanya riding on the wave
16:33ya.
16:33Orang yang menunggangi ombak, menunggangi proses-proses dinamika yang terjadi.
16:38Termasuk demo-demo kemarin ya.
16:40Saya kasih contoh real ini.
16:42Kemarin ketika masyarakat pati demo jam 4 pulang, menuhi aturan konstitusi, rambu-rambu demonstrasi,
16:48tiba-tiba jam 5 mau maghrib, ada kelompok yang datang bakar-bakan rusuh kan.
16:52Nah ini selalu ada orang-orang yang mengail di air keruh.
16:57Jadi kalau kata Bung Iwan tadi, termasuk kata Pak Diru, Pak Juanda,
17:01enggak ada dasar untuk melengsarkan pemerintahan ini.
17:04Enggak ada dasar sama sekali.
17:05Kalau kata kawan-kawan yang kemarin-kemarin, Ferry Ansari dan kawan-kawannya itu meminta supaya terjadi pergantian,
17:12justru itu kami yang melawan kelompok Pak Jokowi bersama teman-teman dari kelompok Prabowo.
17:16Kami ini koalisi, kami sama-sama tim sukses kemarin dengan Bung Iwan ya.
17:20Dari relawan Pak Jokowi, bertemu dengan relawan Pak Prabowo.
17:24Kita guyup di lapangan sama beliau, jatuh bangun memenangkan.
17:28Jadi enggak ada sedikitpun kita mau mengkhianati proses keringat kami sendiri, termasuk Pak Jokowi.
17:33Pak Jokowi, ending statement kemarin ya, yang saya bilang hanya 10 menit, bicara dari 3 jam pertemuan,
17:38karena 60 orang itu bergilir bicara.
17:40Pak Jokowi hanya menitip satu.
17:42Kawan-kawan relawan, dua hal saya titip.
17:45Satu, usahakan dukung program pemerintahan Prabowo-Gebra minimal sampai 2029.
17:52Karena begitu cacat tengah jalan, jangan mimpi mau dua periode.
17:57Satu.
17:58Yang kedua, dengan realitas kontes pergumulan masyarakat hari ini,
18:02bencana NTT, bencana Kalimantan kebakaran hutan, Sumatera kebakaran hutan,
18:07bahkan kemarin, minggu kemarin kan Pak Jokowi mau ke Kalimantan Barat.
18:11Ditunda.
18:12Ditunda gara-gara, wah nanti kita diinterpretasi lagi, menggalang kekuatan padahal si Ratu Rami dengan masyarakat setempat.
18:20Nah, hal-hal ini yang saya katakan, statement ini sebenarnya biasa-biasa saja,
18:25bahkan Pak Jokowi itu diam tenang mendengar,
18:27dia menjadi luar biasa karena digoreng di luar, kan diinterpretasi oleh 10 orang menginterpretasi 10 opini.
18:32100 orang yang menginterpretasi apa yang disampaikan Budi Ari,
18:37maka 100 opini keluar.
18:39Begitulah yang namanya, reading on the web itu.
18:44Saya kalau dikatakan Bung David, pernyataan Budi Ari ini biasa-biasa saja,
18:49saya juga kurang semakat.
18:51Kenapa?
18:52Ya kebelet kan Budi Ari ini.
18:55Ketika Prabu Oleg, secara otomatis yang naikkan gila.
18:58Sebentar dulu, sebentar dulu.
18:59Kita tekaskan dulu, Bung.
19:00Ketika Tekaskan, kebelet ini Bung Ari, Pak.
19:03Pak, nanti.
19:05Ini bukan.
19:06Gini, gini, gini.
19:06Ketika kebelet ini Bung Ari.
19:08Kenapa?
19:09Peraturan kan di luar itu kan yang Anda maksud.
19:12Enggak seperti itu.
19:13Maksudnya begini.
19:15Budi Ari ini perpanjangan mulut.
19:18Oleh?
19:19Yang punya pesanan.
19:21Yaitu?
19:22Sopoiki.
19:22Ya kalau pun sampai terjadi percepatan,
19:26percepatan,
19:27pergantar pemimpin,
19:28otomatis yang menangkan siapa?
19:31Gibrana.
19:32Yang kerasnya naik.
19:33Yang kerasnya naik apa?
19:33Yang kibran.
19:34Nah, Anda sudah menjawab, Pak.
19:36Sementar, Pak.
19:37Terima kasih.
19:37Terima kasih.
19:38Bung David, tolong didengarkan penjelasan itu ya.
19:41Jangan itu jangan ditari-tari keluar.
19:43Itu kan opini.
19:44Ya, tolong dengarkan penjelasan.
19:46Ini orang dalam.
19:48Relawan yang sejak dari dulu menyebut dirinya
19:50Relawan Prabowo,
19:52tidak Relawan Jokowi.
19:53Dan mengatakan bahwa
19:55Hari ini.
19:58Apa?
19:58Budiari itu hanya meminjam
20:00Pernyataan orang yang memberi pesan, kan?
20:03Siapa yang memberi pesan itu
20:04Asumsinya orang yang dekat dengan Budiari.
20:07Oleh karena itu jangan kemana-mana lagi analisis.
20:09Oke, silahkan Pak Said.
20:12Bunda Fit, tolong jangan terus bahwa kita yang menggoreng.
20:14Penggorengannya ada di Solo kok.
20:16Yang ngaduk-ngaduk.
20:18Budiari.
20:19Kenapa kita yang betul penggoreng?
20:21Kan beginilah.
20:22Ini salah.
20:23Biasakan, Pak.
20:24Jangan penggorengannya ada di Solo.
20:26Disaksikan oleh bapak-bapak.
20:28Salah besar untuk betar itu.
20:30Salahnya di mana?
20:31Saya jelaskan, tak.
20:32Bukan, gak usah dijelaskan.
20:33Yang dikenalkan bahwa ada percepatan,
20:38pemilu, apa segala.
20:39Di sana.
20:40Justru Pak Jokowi mau supaya
20:42duet Prabowo Gibran ini utuh.
20:45Kenapa?
20:45Bukan.
20:45Kalau perlu dua priode, Pak.
20:46Terus gimana logikanya untuk...
20:48Bukan memenggal di tengah jalan.
20:49Kenapa?
20:50Bukan dikirusun penggoreng.
20:51Penggoreng yang di sana.
20:53Yang ini itu pejabat pemilu ada di Solo.
20:55Mas, Pak.
20:56Mas, Pak.
20:56Mas, Pak.
20:56Mas, Pak.
20:56Mas, Pak.
20:56Mas, Pak.
20:56Ini kecelakaan berpikir, Pak.
20:59Mas, Pak.
21:00Pemikiran itu malah.
21:02Selalu melempar.
21:03Karena ini akan dikeluarkan videonya.
21:07Kalau tidak ada videonya,
21:09kita hanya merujuk ke videonya yang ada.
21:11Pak Jokowi.
21:12Kalau tidak ada hijau seasrinya,
21:14kita merujuk ke hijau yang ada.
21:17Diterima kasih oleh para pelaku-pelaku politik.
21:19Oke, sebentar ya.
21:20Sebentar, sebentar.
21:21Saya juga mau nanya dulu ke Mas Irawan sebenarnya.
21:22Mas Irawan.
21:23Tapi ini adalah kriuhan yang juga dirasakan partai politik.
21:25Anda melihat itu nggak di dalam kabinet?
21:27Jadi sebagai orang partai dan di parlemen,
21:29jadi saya menilai politik di luar parlemen lebih menarik.
21:33Lebih menarik dan lebih halat.
21:35Jadi begini,
21:37kalau kami melihat Pak Prabowo dan Pak Gibran,
21:41ini adalah tahun kedua.
21:42Ini adalah tahun yang sebenarnya bagi satu pemerintahan
21:45adalah tahun yang sangat bagus untuk bekerja,
21:49yang terbaik untuk rakyat.
21:51Dan memang ada banyak persoalan yang saat ini sedang dihadapi.
21:55Kita menghadapi bencana dan seterusnya.
21:57Di situlah saat ini parlemen sedang mengiringi pemerintahan ini
22:00agar kemudian program-program penanganan bencana dan lain-lain sebagainya
22:04yang memang harus menjadi fokus kita hari ini,
22:06itu yang harus menjadi fokus presiden.
22:08Kalau kemudian ada seperti yang terjadi peristiwa politik,
22:12saya katakan ini sebagai satu peristiwa politik
22:14seperti yang disampaikan Pak Budiari.
22:16Saya justru tidak melihat karena Pak Budiarinya.
22:19Tapi melihat karena ada Pak Jokowi,
22:22itu menjadi sebuah bobot politik tersendiri dari pernyataan tersebut.
22:27Tapi kami di partai, di parlemen melihat
22:29itu tidak menjadi representasi dari Pak Jokowi sendiri.
22:35Karena ya bisa jadi, kita juga biasa.
22:39Kita duduk di sini, Pak Saididu, Pak Rai,
22:42bicara apa kan kita tidak tahu isi pikirannya apa.
22:44Tapi Mas Irawan, kan partai Anda juga sampai sekarang
22:47belum menentukan sikap.
22:48Dukung Prabowo-Gibraan dua periode apa tidak?
22:50Ya karena memang saat ini adalah waktu kami untuk bekerja.
22:53Pemilu masih lima tahun, tiga tahun lagi.
22:55Dan kalau kita bicara dari aspek ketatanegaraan,
22:59ini adalah memasuki tahun kedua.
23:01Dan kalau kita bicara pemilu,
23:03tahun depan itu kita baru masuk dalam tahapan persiapan rekrutmen penyelenggaraan
23:08untuk persiapan pemilu 2021.
23:10Berarti Tuhan belum tes Umas Gibran maju lagi bareng Pak Prabowo,
23:12kalau menurut Gokar?
23:13Kami sama sekali belum memikirkan hal tersebut.
23:15Karena ini adalah timing yang tepat, waktu yang tepat
23:17bagi Pak Prabowo dan Pak Gibran.
23:19Itu untuk bekerja.
23:20Satu itu.
23:21Yang kedua,
23:22kalaupun kita bicara terkait dengan aspek,
23:26aspek proses impeachment dan lain-lain sebagainya,
23:29atau narasi penggantian presiden, wakil presiden,
23:33sebenarnya sentrumnya itu mestinya adanya di parlemen,
23:36tapi ini justru rame-nya di luar.
23:38Makanya tadi saya menyimak,
23:40kok lebih asik di politik itu lebih asik di luar parlemen?
23:44Karena banyak interpretasi yang tadi itu.
23:46Ya karena parlemennya apa kata pemerintah ya, repot.
23:49Ya tetap, enggak juga.
23:51Banyak hal juga dari yang dilakukan oleh pemerintah,
23:54itu kami kritik juga gitu.
23:56Dan ya itulah, tapi sekali lagi bahwa kita kembali aja pada satu pegangan kita bersama
24:04bahwa ada proses konstitusional di dalam setiap hubungan kelembagaan negara kita dan seterusnya.
24:11Itu aja yang kita hormati, bahwa orang punya pikiran ini, itu, ini, itu,
24:16ya silahkan saja itu hak masing-masing.
24:18Tetapi sebagai anggota DPR, sebagai bagian dari lembaga yang menjalankan fungsi pemerintahan,
24:25kami meminta pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat yang memang bisa mendidik rakyat,
24:31karena jangan sampai itu disalahinterpretasikan pendapat-pendapat tokoh-tokoh masyarakat ini.
24:37Jangan sampai itu bisa menjadi trigger terjadinya konflik horizontal di tengah-tengah masyarakat.
24:43Tapi berharapnya seperti itu di DPR itu.
24:45Oke, kalau gitu tapi saya menanya Pak Rajasa.
24:47Pak Rajasa, kalau Anda melihat sebenarnya dari apa yang terjadi di sekitar dan saat-saat ini sebenarnya,
24:52Anda melihat, Pak Budiari kan bilang dia melihat ada patahan sejarah,
24:57Anda melihat ada indikator yang memang mengarah ke sana?
25:00Iya, sejarah kita memang patah, Pak.
25:03Berarti kalau dikaitkan dengan konteks sekarang?
25:05Jadi begini, sebenarnya saya kurang tertarik ya dengan bicara soal pemilu dipercepat atau tepat waktu ya.
25:11Yang paling penting buat saya adalah produk dari pemilu itu sendiri.
25:16Kita lihat dalam berapa masa reformasi ini.
25:19Apa sudah menampilkan pemimpin yang amanah?
25:22Apakah pemilu dijalankan secara konstitusional?
25:25Itu aja paling saya.
25:26Saya nggak pernah tertarik nih Pak.
25:28Mau cepat, mau lambat.
25:29Ketika dia melahirkan pemimpin yang amanah, oke.
25:32Tapi ketika melahirkan pemimpin monster, kita lawan.
25:36Itu aja, Mbak.
25:37Oke.
25:38Kalau Bung Rai, bagaimana Anda melihatnya?
25:40Membaca semua yang terjadi saat ini, kontroversinya akan mengarahnya ke mana sih ujung-ujungnya?
25:44Ya, perebutan kekuasaan.
25:46Karena Prabowo dengan Pak Jokowi dipertahankan oleh kepentingan kekuasaan.
25:50Dan dengan melihat amunisi masing-masing, siapa yang lebih kuat saat ini?
25:53Ya, kalau dilihat survei, Pak Prabowo yang jelas nurun kan?
25:58Yang naik ala KDM.
25:59Boleh jadi, itu yang saya sebut tadi tuh.
26:02Ada semacam rasa percaya diri yang tumbuh di keluarga Pak Jokowi.
26:07Yang memungkinkan mereka untuk menyatakan, oh oke.
26:11Kalaupun kita berpisah, kita udah siap kok.
26:13Makanya saya mengatakan ini semacam deklarasi.
26:15Deklarasi kepada siapa?
26:16Kepada Pak Prabowo.
26:18Karena saya udah menyebutkan sebelum ini,
26:20ada 10 tanda yang memperlihatkan bahwa Pak Prabowo dengan Pak Jokowi itu
26:24seperti retak istilah saya tuh.
26:26Dan peristiwa yang kemarin tuh menambah 10 jadi 11.
26:30Jadi 11 itu bukan 8 tambah 3 loh ya.
26:33Bukan ya.
26:34Bukan.
26:34Jadi 11 aja.
26:35Nggak usah 8 tambah 3.
26:36Nggak usah gitu-gitu gitu ya.
26:38Oke.
26:38Nah jadi, yang saya mau katakan oleh karena itulah kemudian
26:42dalam kerangka yang 10 ini,
26:44lalu Pak Jokowi mengatakan,
26:46oh kita siap.
26:47Karena ada elektabilitas dan popularitas dan tingkat kepuasan yang menurun
26:51dan kelihatan terus menurun.
26:53Dan itu tentu saja boleh jadi bukan hanya Pak Jokowi,
26:57boleh jadi partai-partai yang lain juga udah memuat skenario baru.
27:00Apakah akan tetap bersama dengan Pak Prabowo atau tidak?
27:03Itu satu hal.
27:04Nah yang kedua,
27:06kalau tidak ada kepastian itu,
27:08kita lebih baik langkah sekarang.
27:10Langkah sekarangnya apa?
27:11Ya memang menyiapkan skenario B.
27:12Skenario B tidak bersama dengan Pak Prabowo.
27:14Mungkin karena itulah sekarang Pak Jokowi rajin turun ke daerah.
27:18Dan memang efek dari rajin turun ke daerah itu,
27:21menaikkan elektabilitas PSI,
27:23kan kelihatan tuh.
27:24Menaikkan elektabilitas Gibran setidaknya 1%.
27:27Nah pada saat yang bersamaan muncul namanya KDM.
27:31KDM kalau dalam survei terakhir memperlihatkan jaraknya dengan Pak Prabowo
27:34sudah hantur 25% lebih.
27:37Apa artinya gitu?
27:38Boleh jadi KDM dilirik oleh Pak Jokowi.
27:42Oleh karena itu 2029,
27:44kalau tidak 2029,
27:46boleh jadi itu dipasangkan.
27:48Dan memang,
27:49ini memang ya,
27:50pakai survei ini,
27:52kalau pemilunya dilakukan sekarang,
27:54kira-kira begitu.
27:55Di patahan ini seperti yang disebutkan oleh Budi Ari,
27:59punya potensi,
28:01kalau KDM dipasangkan dengan Gibran,
28:03akan menang satu putaran.
28:05KDM itu kan orangnya Pak Prabowo,
28:07orang Gerindra,
28:09kepala daerahnya Gerindra.
28:11Jadi kalau misalnya istilah Bung Rai ini,
28:15itu sebenarnya sangat tidak masuk logika politik.
28:18Karena yang bisa memanfaatkan sumber daya KDM itu,
28:21justru dari Gerindra atau dalam halnya Pak Prabowo.
28:23Anda seperti tidak,
28:24tidak lihat kulit.
28:26Pak Jokowi itu dulu orang PDI Perjuangan.
28:30Jadi kalau itu yang berpikirkan oleh PDI Perjuangan.
28:33Dasar itu,
28:33mulai dari Solo, KDM,
28:35KDM,
28:36Presiden,
28:372 POD.
28:38Tapi last minute,
28:40apa yang dilakukan oleh Pak Jokowi,
28:42meninggalkan PDI Perjuangan.
28:44Dan yang terakhir,
28:46kalau bagi PDI Perjuangan,
28:48ini sudah kelihatan.
28:49Akhirnya terbuka juga.
28:50Bahwa yang penting bagi Pak Jokowi itu adalah kekuasaan.
28:54Kalau Pak Jokowi keliling Indonesia itu,
28:57bukan Pak Jokowi yang datang menemui mereka.
29:00Undangan yang datang ke beliau,
29:03dan masyarakat yang datang langsung ke beliau ke Solo.
29:06Bukan undangan dari PSI itu.
29:08Gini, saya bicarain dulu.
29:09Undangan itu,
29:11kemudian masyarakat meminta beliau.
29:13Baru dua,
29:15Lampung dan NTT.
29:17Nah,
29:17di dalam hal itu,
29:18memang ada,
29:19dilakukan juga rakorda.
29:21Untuk PSI.
29:22Bukan dibuat rakorda PSI untuk berkunjung itu.
29:26Bukan.
29:27Karena diundang oleh tokoh-tokoh masyarakat.
29:30Sebagai contoh,
29:32kemarin mustinya ke mana?
29:34Mustinya ke Poncianak.
29:35Menghadiri undangan dari
29:38Panglima Jilah,
29:4050 ribu masyarakat Dayak
29:42ingin bertemu dengan beliau.
29:44Dengan adanya
29:45gempa yang di NTT,
29:48maka itu ditunda.
29:50Ditunda ya.
29:51Jadi,
29:52apa yang dikatakan selama ini?
29:55Menyiapkan
29:55Gibran
29:56untuk nanti
29:58sebagai presiden.
29:59Mohon saya katakan sekali lagi,
30:03Pak Jokowi mengatakan,
30:062034
30:06Gibran bisa.
30:08Tapi 2029,
30:11no.
30:11Berarti 2029
30:12bukan mau curi start duluan
30:14atau jangan-jangan
30:15Pak Jokowi
30:16mau melepaskan dari Pak Prabangga ya?
30:19Oke,
30:19sebentar lagi,
30:19Bung Andi.
30:20Jangan dijawab dulu.
30:21Nanti kita lanjut lagi.
30:21Sejidat tetap bersama kami di Bola Liar.
30:33Video ketua umum Projo Budi Ari Setiadi
30:36bicara kemungkinan percepatan pemilu
30:38di samping Jokowi
30:39mematuhi.
Komentar