Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penulis dan penyanyi Dewi Dee Lestari membagikan refleksinya tentang perjalanan hidup dan pengalaman yang membentuk cara seseorang melihat kehidupan.

Hal itu ia tuangkan dalam buku nonfiksi pertamanya, Midpoint, yang memadukan genre self-improvement dan memoir.

Dewi mengatakan, buku tersebut merupakan perjalanan retrospektif untuk melihat kembali pengalaman hidup yang telah dilaluinya.

Dalam buku tersebut, Dewi juga membahas konsep inteligensi kristal yang menurutnya terbentuk dari pengalaman hidup.

Pengalaman membuat seseorang mampu melihat pola dari berbagai peristiwa yang telah dilalui.

Menurut Dewi, pengalaman baik maupun buruk juga menjadi bekal untuk membentuk kemampuan analisis seseorang.

Dewi kemudian membagikan salah satu prinsip yang ia pelajari dari kebiasaan-kebiasaan kecil sejak usia muda, yakni stay low atau terbang rendah.

Menurutnya, seseorang tetap boleh memiliki mimpi dan aspirasi besar. Namun, kehidupan sehari-hari tidak harus dijalani dengan berlebihan.

Dewi pun mengajak untuk menghargai hal-hal sederhana yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.

Ia bahkan menilai kenyamanan sederhana yang sering dianggap biasa sebenarnya merupakan bentuk kemewahan.

Dewi menekankan pentingnya membangun kebiasaan hidup sederhana dan menabung sejak dini.

Menurutnya, manfaat kebiasaan tersebut bisa baru terasa dalam jangka panjang.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/wIPvkmOFm98



#dewilestari #bagusmuljadi #rosikompastv

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/687960/penulis-dewi-lestari-bocorkan-buku-terbarunya-midpoint-hingga-rahasia-menjalani-hidup-rosi
Transkrip
00:00Jadi teman-teman UMN, tadi saya ngobrol sama Prof Bagus, merasa bahwa kalau dulu jamannya kita gitu,
00:09ya kita hanya tinggal berebut atau kompetisinya sama anak yang lebih pintar, ya kan?
00:17Kalau sekarang, jangan-jangan yang lebih pintar pun, itu belum tentu langsung bisa dapat pekerjaan.
00:25Kalau Prof Bagus ini kan dengan IP 2,69 itu kan karena dianggap kurang oke gitu, gak bagus.
00:34Jadi, tapi yang teman-teman lain bisa diterima dengan cepat di perusahaan.
00:38Nah, situasi mereka ini, saya sih memang sangat memahami ya bagaimana ada kegelisahan dan kecemasan yang luar biasa buat teman
00:47-teman mahasiswa.
00:48Tapi saya ingin masuk di Lestari, karena menurut saya, bagus sekali poin yang ada di novel terbarunya yang akan rilis,
00:58kapan di?
00:59Sudah pre-order.
01:01Pre-order.
01:02Jadi, sepertinya awal September sudah bisa masuk ke beberapa toko buku.
01:07Jadi spoiler tadi ya?
01:08Gak apa-apa ya?
01:09Gak apa-apa dong.
01:10Karena ini keren banget.
01:11Itu poin yang aku ini kok, saya marketingkan sejak sekarang.
01:15Oh oke.
01:17It's okay.
01:18Ini keren banget, karena menurut aku bagus sekali untuk teman-teman mahasiswa baca ya.
01:23Tak semua yang penting dalam hidup datang dengan kepastian.
01:29Sebagian datang sebagai musim yang keliru.
01:34Wilayah tanpa peta atau rasa yang tak tahu harus bermuara kemana.
01:41Di tengah-tengah itu kita berenang bebas tanpa pengaman.
01:46Dalam samudera luas ketidakpastian.
01:50Wow.
01:51Wow.
01:51Lestari.
01:56Apa yang kira-kira dia bisa sambungkan dengan perasaan anak-anak mahasiswa atau generasi muda saat ini?
02:04Jadi buku saya, oh ya itu non-fiksi sebetulnya Ros.
02:08Jadi midpoint adalah buku non-fiksi utuh pertama saya yang ada di genre kurang lebih self-improvement slash memoir.
02:17Jadi ada beberapa pengalaman hidup langsung.
02:20Tapi intinya itu adalah perjalanan retrospective saya melihat ke belakang.
02:25Makanya relevan banget bisa ngobrol sama teman-teman hari ini.
02:29Karena tahun ini kan saya memasuki season 5 ya.
02:33Jadi gak jauh beda lah sama kakak kita tercinta.
02:37Nah ada yang disebut dengan inteligensi kristal.
02:41Inteligensi kristal ini biasanya muncul datang dari pengalaman hidup.
02:46Jadi kalau saya melihat, oh apakah saya masih harus bersaing dengan anak-anak umur 20-an, 30-an.
02:53Sebetulnya tidak.
02:54Karena jenis inteligensi yang kami hasilkan di usia kepala 5 ke atas itu sebetulnya inteligensi yang sedikit berbeda.
03:04Dan itu biasanya memiliki kemampuan prediksi yang lebih tepat.
03:10Akurasi analisis batin maupun logika yang lebih cepat.
03:14Karena kita sudah punya banyak bekal dari pengalaman-pengalaman kita yang lalu.
03:18Baik pengalaman baik maupun buruk gitu ya.
03:21Nah salah satu yang saya bagi di dalam midpoint adalah ternyata ketika saya lihat ke belakang.
03:27Banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya lakukan sejak muda dari umur belasan, 20-an.
03:35Yang ternyata bertahan awet dan punya dampak sangat besar ketika usia saya segini.
03:43Contoh, ini salah satu poin dalam midpoint.
03:47Stay low, terbang rendah lah.
03:50Stay low, terbang rendah lah.
03:52Saya tahu teman-teman mungkin punya banyak keinginan, pengen punya tas branded, pengen jadi orang kaya, pengen punya Lamborghini dan
04:02sebagainya.
04:02It's okay, kita semua bisa punya fantasi dan aspirasi masing-masing.
04:07Tapi jangan lupa bahwa terbang rendah itu punya banyak manfaat dan keuntungan.
04:16Misalnya, katakanlah kalau kita pakai analogi satu Boeing 747 gitu ya.
04:21Yang satunya lagi Cessna.
04:23Nah, jika ada kondisi darurat mendadak, siapa yang lebih gampang untuk mendarat secara darurat?
04:30Cessna.
04:31Pasti Cessna.
04:33Nah, dan apalagi keuntungannya kita di Cessna ini.
04:36Kita bisa melihat ke atas, tapi juga kita bisa melihat ke bawah dengan lebih mudah.
04:40Artinya, hiduplah biasa-biasa aja.
04:43Dan yang kita sebut biasa-biasa pun, ternyata ketika kita sudah bandingkan dengan populasi dunia, ternyata kita sangat beruntung.
04:52Kalau Anda sekarang tidur dengan tempat tidur yang empuk, kasur ya.
04:57Kalau Anda bisa makan pagi dari kulkas, buka kulkas.
05:02Kalau Anda bisa merasakan pendingin, itu Anda sudah lebih kaya dari 85 persen manusia di dunia.
05:12Minimal lebih beruntung.
05:14Lebih beruntung.
05:15Nah, artinya ada banyak hal-hal yang sebetulnya bisa kita lakukan sejak dini, menabung.
05:21Kalau kita kecil ada celengan ayam, saya nggak tahu Rosi masih mengalami atau nggak.
05:25Saya masih mengalami celengan ayam dari tanah liat.
05:31Kebiasaan menabung, kebiasaan hidup biasa-biasa aja.
05:34Gaya hidup yang tidak perlu harus ngikutin merasa punya idola selebriti.
05:41FOMO, kalau nggak pakai brand apa-brand apa gitu.
05:46Ternyata, trust me, lakukan itu 10-20 tahun, kalian akan mendapatkan manfaat yang luar biasa bertahun-tahun kemudian.
05:57So, there are so many simple habits yang bisa kita mulai dari sekarang, dari usia-usia kalian.
06:02Yang percayalah akan punya dampak yang sangat besar di usia kalian nanti.
06:07Jadi, di ingin mengatakan bahwa bergaya hidup sederhana lah.
06:11Ya.
06:12Apa, stay low.
06:14Tetapi, juga punya imajinasi yang fly high.
06:19Fly high in limitless.
06:20Limitless imagination.
06:22But stay low in how you live.
06:23Ya, menyambung tadi dari Kak Di sih sangat insightful banget.
06:28Dan menyambung dengan membuat karya pun, ya sama sih bahwa ketika kita bikin karya, kita nggak bisa hanya menganggap bahwa
06:35apa yang kita lihat itu udah sangat penting dan besar.
06:38Tapi kita juga harus bisa berbaur dan melihat sekitar kita juga gitu.
06:42Menyambung dengan bahwa itu, kita stay low.
06:44Dan tentunya yang menjadi highlight juga melakukan semua hal, membuat karya itu dengan hati gitu.
06:49Ketika kita melakukan sesuatu dengan hati, kita akan lebih grounded ketika kita menghasilkan karya tersebut sih.
06:59Dulu, Novi kan sempat pindah jurusan ya?
07:03Sebenarnya sih karena pas di WMN itu, di angkatanku adalah angkatan pertama adanya pembuatan jurusan film langsung.
07:10Jadi, aku angkatan pertama yang mengalami transisi di film.
07:14Jadi, kamu merasa bahwa apakah kamu termasuk orang yang, apa yang jadi kuliah kemana, kerja harusnya ke situ.
07:22Jadi benar-benar satu jalur, kamu percayakan itu?
07:25Sebenarnya nggak sih, tapi beruntungnya, untung jalannya memberikan jalan yang sesuai.
07:31Karena kalau di kan tadi HI, tapi langsung ini.
07:36Kalau kamu masih memang on track-nya?
07:38Saya tuh S1-nya teknik mesin, S3-nya fisika.
07:42Sorry, jadi S1 kan mesin, dua?
07:45Fisika.
07:46Dua fisika, tiga?
07:47Tiga fisika.
07:48Karir post-doctoral saya pertama itu di Perancis di Institut Mathematik de Toulouse.
07:54Terus saya karir post-doctoral kedua sebagai preset itu di Imperial College in London, Departemen Ilmu Bumi.
08:02Kemudian saya ngajar di Departemen Teknik Kimia sekarang.
08:05Saya nggak pernah jadi mahasiswa teknik kimia.
08:08Makanya bisa ngurusin hal-hal seperti gambut, bangunan yang mengambil inspirasi dari sarang rayap,
08:15seperti yang teman-teman sedang nikmati di sini.
08:17Itu semua ciri khas orang yang nggak berpikir bahwa satu-satunya lapangan kerja dia itu adalah apa yang tertulis di
08:24ijazah dia.
08:25Itu bukan dunia yang teman-teman hadapi masa depan.
08:30Wow, terima kasih Prof, bagus.
08:33Nah, aku mau tanya nih, ini agak intermeso.
08:35Kalau 2,69 aja sudah dianggap tidak pintar dan dianggap nggak bisa ngapa-ngapain,
08:41sekarang kamu bisa gini, apa kabar teman-teman kamu yang IP-nya tiga lebih ya?
08:45Jangan dicontoh ya, saya tidak mengglamorisasi IPK yang jelek, itu bukan untuk dicontoh.
08:52Kalau saya bisa ulang lagi waktu, saya akan bersungguh-sungguh betapa banyak waktu yang saya habiskan berfoya-foya,
08:59padahal nggak ada duit, berfoya-foya pakai duit orang lain.
09:03Jangan dicontoh, waktu itu sangat berharga.
09:07Setiap hari Anda malas-malasan, ada orang yang dirugikan karena hak orang lain itu tanggung jawab Anda.
Komentar

Dianjurkan