- 3 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan setelah muncul ancaman serangan tak terbatas dari Iran terhadap kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.
Dalam dialog Sapa Indonesia Pagi, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS), Septianto Galan Prakoso, menilai ancaman tersebut tidak bisa dianggap sekadar gertakan.
Menurutnya, Iran memiliki alasan untuk merespons ancaman yang diterimanya, namun setiap langkah tetap harus mempertimbangkan hukum humaniter internasional agar tidak memperluas eskalasi konflik.
Baca Juga FULL! KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar, DPR & MTI Desak Evaluasi Transportasi Laut | KOMPAS PAGI di https://www.kompas.tv/video/683783/full-kmp-mutiara-sentosa-2-terbakar-dpr-mti-desak-evaluasi-transportasi-laut-kompas-pagi
Septianto juga menyoroti keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan besar ke Iran setelah berkomunikasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Ia menilai negara-negara Timur Tengah perlu mengambil sikap yang lebih tegas untuk mendorong penyelesaian damai, sementara konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan, pasokan energi global, dan hubungan geopolitik internasional.
Menurutnya, tanpa mediator yang kuat dan komitmen dari seluruh pihak, risiko meluasnya perang masih tetap terbuka.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/683787/full-konflik-as-vs-iran-makin-berbahaya-dosen-uns-bahas-ancam-serangan-balik-kompas-pagi
Dalam dialog Sapa Indonesia Pagi, Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret (UNS), Septianto Galan Prakoso, menilai ancaman tersebut tidak bisa dianggap sekadar gertakan.
Menurutnya, Iran memiliki alasan untuk merespons ancaman yang diterimanya, namun setiap langkah tetap harus mempertimbangkan hukum humaniter internasional agar tidak memperluas eskalasi konflik.
Baca Juga FULL! KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar, DPR & MTI Desak Evaluasi Transportasi Laut | KOMPAS PAGI di https://www.kompas.tv/video/683783/full-kmp-mutiara-sentosa-2-terbakar-dpr-mti-desak-evaluasi-transportasi-laut-kompas-pagi
Septianto juga menyoroti keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan besar ke Iran setelah berkomunikasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
Ia menilai negara-negara Timur Tengah perlu mengambil sikap yang lebih tegas untuk mendorong penyelesaian damai, sementara konflik berkepanjangan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan, pasokan energi global, dan hubungan geopolitik internasional.
Menurutnya, tanpa mediator yang kuat dan komitmen dari seluruh pihak, risiko meluasnya perang masih tetap terbuka.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/683787/full-konflik-as-vs-iran-makin-berbahaya-dosen-uns-bahas-ancam-serangan-balik-kompas-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:02Intro
00:05Bertemu kembali saudara dan kami ajak anda ke sorotan mancanegara
00:08Iran membentangkan spanduk berisi ancaman
00:11Usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda serangan besar-besaran ke Iran
00:19Sebuah spanduk bergambar Trump berisi ancaman
00:23Terpasang di depan rudal balistik Zolfagar dan Zolgader
00:27Iran di lapangan Azadi Teheran pada minggu waktu setempat
00:31Spanduk terpasang di tengah penundaan serangan oleh Amerika Serikat
00:50Saat Amerika Serikat melanjutkan blokade maritim ke Iran
00:53Komando Pusat Amerika Serikat merilis rekaman jet F-35C Corps Marine
00:58Melaju kencang di dek penerbangan sebelum melesat di atas laut Arab
01:04Pesawat tempur siluman lepas landas dari USS Abraham Lincoln
01:08Saat kapal Induk itu mendukung blokade Angkatan Laut Amerika Serikat
01:11Yang menargetkan kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan Iran
01:16Tanggal dan lokasi pasti dari rekaman tidak dapat diverifikasi secara independen saat publikasi
01:29Di sisi lain Iran membantah sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat
01:33Seperti klaim Presiden Donald Trump
01:36Iran menegaskan tim negosiasinya tetap berada di dalam negeri
01:40Seraya menambahkan Menteri Luar Negeri Abbas Arakshi
01:42Sedang melakukan perjalanan ke Irak
01:45Namun bukan untuk bernegosiasi
01:47Pernyataan Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Ismail Bagai
01:50Hanya beberapa jam
01:51Usai Presiden Donald Trump mengklaim telah membatalkan serangan besar-besaran
01:55Karena Teheran menginginkan kesepakatan
02:01investors secara insati
02:02jagakan membatalkan serangan
02:07take on American
02:27Dan ini berguna terima kasih telah menonton.
02:41Dan ini adalah perlaluan yang berhasilan dengan masyarakat dan perlaluan dikara dari Tenggai Hormuz.
02:53Sikap Iran tadi merespon pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim sekutu Washington di Timur Tengah bersama Iran
03:00mendesak pembatalan serangan terbesar sejak Perang Dunia Kedua terhadap Tehran.
03:06Penundaan serangan dilakukan jelang perundingan antara Amerika Serikat dengan Iran.
03:20Sekarang pada saat ini, ini akan menjadi atas masyarakat.
03:26Semuanya sudah berjalan, tapi ketika alai meminta untuk menyebarkan, mereka harus mengatakan,
03:33well, mari kita lihat.
03:34Dan sebab mereka meminta adalah, saya pikir ada perusahaan.
03:37Ada perusahaan dengan hormonan, dan kemudian akan ada perusahaan dengan nuklir, atau Anda mungkin menyebutkan denuklirisasi.
03:45Iran memperingatkan negara teluk tidak menjadi basis Amerika Serikat.
03:49Bahkan mengancam akan melancarkan serangan tak terbatas.
03:53Sementara itu, sebelumnya Amerika Serikat batal menyerang Iran,
03:56usai berkomunikasi dengan putra mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman.
04:00Saya akan bersyukur dengan Dosen Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas 11 Maret,
04:05Septianto Galan.
04:06Mas Galan, selamat pagi dengan Tival di sini, Mas.
04:09Selamat pagi, Mas Tival.
04:10Ini kan sudah lima bulan lebih perang antara AS dan Iran berjalan,
04:15tapi plotnya selalu maju-mundur, tarik ulur antara kedua belah pihak.
04:18Nah, yang terbaru ini pernyataan sikap dari anggota Parlemen Iran sekaligus anggota Komisi Keamanan Nasional,
04:24Ebrahim Reza, yang menyebut akan ada serangan tidak terbatas pada wilayah Teluk Persia,
04:31bahkan di luar kawasan Teluk Persia.
04:33Menurut Anda, ancaman dari pihak Iran ini sebatas gertakan saja,
04:39atau ini sinyal serius?
04:40Kalaupun serius, siapa yang mau disasar?
04:43Ya, ini memang menjadi satu hal yang cukup berbahaya ya,
04:48kalau kita amati perkembangannya dalam beberapa hari terakhir ini,
04:53karena eskalasi semakin runcing begitu,
04:56dan memang kalau Iran memberikan pernyataan sedemikian,
05:00ya kita bisa memilih dari dua sudut pandang.
05:02Yang pertama, memang justified, memang sudah sewajarnya,
05:05kalau ada pihak yang mengancam,
05:08ada pihak agresor yang kemudian mengancam keamanan negara,
05:11pastinya kita juga dapat memberikan pernyataan balik,
05:15sebagai aksi resiprokal.
05:17Jadi, istilahnya mohon maaf nih,
05:19lu jual gue beli ketika kita melihat sesuatu yang memang mengancam negara kita,
05:23dari diambil ini Iran.
05:24Namun kemudian juga,
05:26sebagian yang lain adalah,
05:28apa yang kemudian dilakukan Iran,
05:30ini juga, ini kita bicara secara fair saja ya,
05:32saya disclaimer dulu,
05:33kita bicara secara humanitas,
05:35humanitas internasional, secara kemanusiaan.
05:37Kalau kemudian yang di target itu adalah negara-negara,
05:40yang ada di Timur Tengah,
05:42dengan alasan, dengan basis reasoning adalah,
05:44karena mereka menjadi basis serangan dari Amerika Serikat,
05:48atau mungkin sekutu begitu ya,
05:49yang juga enabling atau bisa memfasilitasi serangan Amerika Serikat ke Iran,
05:53ini juga sebenarnya harus betul-betul hati-hati.
05:57Saya yakin Iran juga serius,
05:58meskipun juga ada yang banyak mengatakan negretakan,
06:00tapi kalau negara-negara di sini mereka bisa serang balik.
06:02Ininya seperti itu.
06:03Cuma kalau memang,
06:04ada version attack yang kemudian,
06:06atau version response yang kemudian,
06:08dilakukan itu justru ke negara-negara Tulu,
06:10dan negara-negara Timur Tengah pada umumnya,
06:14ini juga agak berbahaya dari segi hukum wanita.
06:16Karena seharusnya,
06:18seharusnya disadari bahwa harus ada pemisahan antara,
06:21kepentingan sipil dan militer di sini.
06:23Ketika ada asas distingsi,
06:25yang harus diterapkan dalam situasi konflik atau perang,
06:27maka negara yang berperang atau belajaran,
06:29itu tidak boleh kemudian menyerang pusat-pusat,
06:32atau istilahnya fasilitas,
06:35yang kemudian mencakup hajat hidup orang banyak,
06:37hajat hidup sipil.
06:38Kalau yang diserang militer,
06:39ya serangan balik ke aset militer juga.
06:41Tapi pernyataan Iran cukup keras,
06:43karena yang diserang justru ada
06:46fasilitas minyak, gas,
06:47kemudian desalinasi air,
06:49laut begitu, pambangan listrik untuk regional Timur Tengah,
06:53dan lain sebagainya.
06:54Dalam hal ini,
06:55saya kira kalau betul ini kemudian menjadi sesuatu yang dilakukan oleh Iran,
07:00ini bisa sangat riskan,
07:02dan bahkan mungkin bisa memperluas potensi eskalasi perang yang ada di Timur Tengah sana.
07:07Dan konteksnya,
07:08apakah ini sebatas untuk menyerang aspek sosial ekonomi saja,
07:12atau ada maksud lain kalau kemudian peringatan itu,
07:16ancaman itu benar-benar dilancarkan Iran?
07:19Kalau menyerang aspek sosial ekonomi,
07:22sebenarnya tidak usah dengan menyerang pun,
07:24kita sudah kena dampaknya ya,
07:26menyadankan juga terdampak.
07:27Tapi efek apa sebetulnya mau disasar Iran sampai akhirnya keluar penyataan itu menurut Anda?
07:32Ya, yang mau disasar Iran adalah mungkin ke ini,
07:34sesikap dan juga keberpihakan dari negara-negara Timur Tengah,
07:38yang sampai saat ini,
07:39belum ada ketegasan 100% untuk bisa menghentikan,
07:42atau mungkin memberikan etikat serius,
07:44untuk menyetop Amerika Serikat dan sekutunya,
07:47mungkin di dalam hal ini juga Israel begitu ya,
07:49yang terus-menerus juga sekarang sedang menyerang Gaza,
07:51jadi jangan sampai kita teralihkan bahartian juga.
07:53Saya kira Iran ingin memberikan satu stressing point,
07:56bahwa bagi negara-negara regional telur,
08:00atau negara-negara regional Timur Tengah pada umumnya,
08:03sudah seandainya mereka memberikan sikap.
08:04Selalu ini yang memberikan sikap,
08:06mungkin yang terlibat langsung adalah Oman,
08:08melalui Selat Hormuz dan diskusinya,
08:09yang meskipun itu masih melempom,
08:11belum final,
08:12Qatar yang kemarin juga membantu mediasi,
08:14karena Pakistan juga belum maksimal,
08:16tapi negara-negara lain seperti Bahrain,
08:19kemudian Uni Emirat,
08:20kemudian Arab Saudi bahkan,
08:22atau negara-negara lainnya,
08:24yang juga dalam hal ini terlibat secara tidak langsung,
08:28dalam serangan Amerika Serikat ke Iran,
08:30ini dinilai Iran ya,
08:32masih tidak memberikan stance yang cukup jelas,
08:34dalam artian mereka masih dilihat berada di pihak sekutu Amerika,
08:38sehingga melupakan kepentingan regional dan keamanan regionalnya sendiri.
08:41Oleh karena itu,
08:42saya kira respon Iran seperti ini,
08:44itu juga memang menjadi satu hal yang tadi,
08:45certified, wajar begitu,
08:47negara diancam pasti akan ngomong kalau akan nyerang balik,
08:50tapi di situ lain juga,
08:51untuk kemudian memberikan satu sinyalemen yang nyata bahwa,
08:54silakan negara Timur Tengah tetangga kita,
08:56tetangga sendiri,
08:57lalu kita ambil sikap,
08:59Anda mau bela siapa?
09:00Anda mau menjaga keamanan siapa?
09:02Anda mau mempertaruhkan keamanan regional?
09:04Silakan.
09:04Tapi kalau Anda ingin ini perang selesai,
09:07ingin perang damai,
09:07ya silakan desa Amerika untuk kemudian,
09:10menghentikan perang dan sebagainya,
09:12karena ya betul sangat tidak jelas,
09:14Trump pernyataannya A,
09:15kemudian dari Iran pernyataannya B,
09:18dan nggak ketemu di tengah,
09:19ini sesuatu yang memang,
09:21perlu ada sikap tegas,
09:23dari negara-negara teluk terutama,
09:25atau negara Timur Tengah pada umumnya,
09:27atau bahkan juga perlu ada yang mediator,
09:29yang lebih strong begitu,
09:30dalam menjembatani,
09:33pembicaraan damai antara dua belah pihak.
09:35Oke, sebelum kita mengarah siapa mediatornya itu,
09:37cuman yang menarik juga dicermati,
09:39selain masalah psikologisnya,
09:42opaya menyerang lewat sistem pertahanan masing-masing,
09:44juga masih tetap dilancarkan dari dua belah pihak,
09:46terutama Iran.
09:47Selama ini Iran juga kita lihat,
09:48serang, diserang terus,
09:50tapi tetap membalas,
09:51dengan sistem pertahanan yang masih tetap kuat.
09:53Ini,
09:54melihat kekuatannya akan sampai batas mana,
09:56kayaknya kita akan,
09:56sangsi bahwa ini akan sampai batas tertentu,
10:00dalam artian Iran punya kekuatan yang melebihi Amerika Serikat,
10:03atau Anda melihat punya cermatan lain di sini?
10:06Sebenarnya kalau melebihi itu sangat spekulasi,
10:09maksudnya kita tidak tahu kekuatan Iran,
10:10ya pastinya mereka tidak mungkin publis kan,
10:13kok semudian itu rahasia negara.
10:14Tapi yang menarik adalah,
10:15bagaimana kemudian Iran bisa sustain,
10:18bisa kemudian memanage keberlanjutan,
10:22pembelaan atau pertahanan negara mereka,
10:24dalam konflik ini,
10:25dengan berbagai macam cara yang,
10:27mungkin ada sebagian yang makeshift ya,
10:28makeshift, dalam artian,
10:30mungkin alutsistanya bukan yang paling mutakhir,
10:33seperti mungkin mobil jeep atau pick up,
10:34dipersenjatai di sepanjang pesisir,
10:37begitu, itu juga ada.
10:39Tapi drone, rudal, horam shark, dan lain-lain,
10:41juga masih sedia banyak,
10:42dan saya kira ini sudah wajar ya,
10:44mereka sudah dibully Amerika Serikat,
10:4547 tahun,
10:47begitu, terdolimi, gitu.
10:48Sehingga apa yang kemudian dilakukan Iran,
10:51apa yang kemudian dimiliki oleh aset Iran,
10:53ini mencerminkan suatu hal yang,
10:55memang,
10:56sebagai buah dari persiapan pertahanan diri yang nyata,
10:59begitu, bukan mungkin Amerika juga,
11:00seperti yang sudah pernah dibahas,
11:01di berbagai diskusi sebelum ini,
11:04Amerika cukup kaget,
11:05begitu, kan,
11:05dan saya kira menjadi satu hal yang patut,
11:09ini ya,
11:10patut digarisbawahi,
11:11bahwa dalam konteks pertahanan negara,
11:14dalam konteks mempertahankan wilayah,
11:17dan juga kemudian membalas ancaman,
11:20daripada agresor,
11:21begitu,
11:22Iran dalam hal ini terbukti sudah,
11:23sangat luar biasa dalam konteks itu.
11:27Oke,
11:28kita coba lihat di lain pihak,
11:29ini Amerika Serikat,
11:30yang juga menarik dicermati adalah,
11:32pernyataan AS yang,
11:34menyebut ada upaya,
11:37ada keinginan dari Iran,
11:38dan negara-negara Arab,
11:40untuk coba kita bahas perundingan lah,
11:41untuk bahas kesepakatan,
11:43bahkan,
11:44sikap AS yang batal menyerang Iran,
11:46karena kabarnya nih,
11:48setelah berkomunikasi dengan putra mahkota Arab Saudi,
11:50Muhammad bin Salman,
11:51ini muncul pertanyaan barunya gini sih mas,
11:54karena dalam lima bulan ini tarik ulur terus,
11:57efek psikologis ya dalam tanda kutip,
11:59yang butuh damai,
12:00yang butuh kesepakatan,
12:01sebetulnya siapa sih kalau begitu?
12:03Ya,
12:04kalau yang butuh damai,
12:06bisa kita lihat sebenarnya ya,
12:07Amerika sendiri juga sudah capek ya,
12:09kalau kita melihat,
12:10mereka nggak punya ex-strategis,
12:11mereka juga dari awal,
12:13motivasi menyerangnya juga berganti-ganti begitu,
12:15sekarang dari Selat Hormuz begitu kan,
12:18sebelumnya dulu ada yang nuklir,
12:19sebelumnya ada yang ingin mebebaskan rakyat Iran,
12:21nah,
12:22konteks Trump menelpon,
12:25pangeran Muhammad bin Salman,
12:26pangeran MBS dalam hal ini dari Saudi begitu ya,
12:29ini menunjukkan satu pola yang menarik,
12:31menunjukkan satu fakta baru,
12:33yang saya kira cukup harus dicatat begitu ya,
12:35bahwa,
12:36ujung-ujungnya,
12:37Trump juga harus mendengarkan suara dari,
12:39negara-negara Timur Tengah sendiri,
12:41karena selama ini kan Trump hanya mendengar suara Netanyahu begitu ya,
12:44suara Israel begitu,
12:45bagaimana kepentingan Amerika paling dijembatan oleh Israel disana,
12:48nah,
12:49dalam hal ini ketika ada pemain kawasan utama lain,
12:52dan pastinya Saudi Arabia juga punya akses ke Amerika,
12:54cuman mungkin dalam konteks penyerangan Iran,
12:56tidak banyak konsultasi yang dilakukan,
12:58karena,
12:58apa yang dilakukan Amerika sebenarnya,
13:01terlalu gegabah begitu ya,
13:03untuk melihat,
13:05hasilnya sampai sekarang dari Februari sampai Agustus,
13:07itu masih ajar itu kan,
13:08berarti kan membuktikan ada satu miskalkulasi yang cukup besar,
13:11sehingga mungkin sudah saatnya,
13:12Trump juga mendengarkan suara-suara yang lebih,
13:16lokal begitu,
13:17suara-suara yang lebih memang,
13:18mewakili kepentingan,
13:19dan juga merepresentasikan,
13:21apa yang sebenarnya diinginkan oleh,
13:23negara-negara di Timur Tengah termasuk,
13:25ada potensi lobby-lobby nggak sih kira-kira mas?
13:28Lobby dulu sudah pernah dilakukan,
13:29mereka sudah tercara pernah ada telpon perundingan,
13:32dengan tujuh pemimpinan,
13:33atau tujuh perwakilan negara,
13:35Timur Tengah sendiri,
13:36bahkan jadi UNE,
13:37Qatar, Bahrain,
13:38kemudian Saudi sendiri,
13:40kemudian bahkan ada Turki juga,
13:41di sana Mesir juga,
13:42tapi belum masuk ke Trump,
13:45waktu itu Trump makanya,
13:45cuman yes,
13:47oke,
13:47tapi dia nggak ada ini ya,
13:49nah sekarang mungkin dia belum dengerin ini kan,
13:51sekarang mungkin Trump,
13:53semakin melihat bahwa,
13:54ada satu ancaman yang nyata,
13:56ketika dia,
13:57memilih untuk memperpanjang,
13:59atau prolong the war gitu ya,
14:00nanti sebentar lagi November,
14:01pemilu,
14:02setelah kita sudah sering juga bicara itu,
14:04bagaimana di Amerika sendiri,
14:05konstituen Trump mulai,
14:06makin tidak percaya dengan apa yang dia lakukan,
14:10kemudian,
14:10harga minyak juga naik turun,
14:12kalau kemudian Amerika bilang,
14:13kita nggak ikut harga minyak brand gitu,
14:15kita punya WTI,
14:16West Texas Media sendiri,
14:18itu juga naik sama aja,
14:19jadi,
14:20sesuatu yang besar juga sedang terjadi,
14:22di Amerika Serikat sendiri,
14:24di mana mereka mulai memiliki,
14:25less and less trust gitu ya,
14:26mereka mulai memiliki,
14:28kekurangan,
14:29percayaan kepada pemerintahan Trump sendiri,
14:31mau dibawa kemana gitu ya,
14:32kalau boleh pinjam lagunya Armada itu,
14:34mau dibawa kemana,
14:35atau ini Amerika Serikat ini gitu kan,
14:37itu mungkin yang menjadi alasan Trump,
14:39dia,
14:41kalau klaimnya begitu ya,
14:42dia mendengarkan,
14:45masukan atau saran dari Muhammad bin Salman,
14:47setelah kepanggilan Saudi,
14:48konteksnya dalam serangan besar ke Iran ini,
14:50itu justru bisa jadi memperparah,
14:52karena,
14:52ya betul,
14:53Iran punya,
14:54apa namanya,
14:55Iran punya bagian yang posisi,
14:57sorry, bukan bagian yang posisi,
14:58Iran punya posisi yang lebih tinggi dalam hal ini,
15:00kalau mereka diserang,
15:01mereka akan membela diri,
15:02dan bagaimana kalau mereka membela diri,
15:04ya saya bisa nyerang sekutumu,
15:05saya bisa nyerang teman-temanmu,
15:06saya bisa nyerang kronen-kronenmu,
15:08noh,
15:08rasain gitu kan,
15:09ini menjadi satu yang,
15:10saya kira cukup mengancam juga.
15:11Dan itu polanya sudah terlihat juga,
15:13dalam lima bulan lebih,
15:14perjalanan perang antara dua belah pihak ini,
15:16tapi satu hal lagi,
15:17kalau melihat sikap AS yang batal menyerang Iran ini,
15:20sejauh mana Anda membaca sekutu AS,
15:22di kawasan Asia juga memberikan reaksi,
15:24memberikan respon mas?
15:26Untuk sekutu AS di kawasan Asia,
15:28ya mungkin dalam timur tengah,
15:29dan yang lebih luas sih,
15:30maksudnya Asia,
15:31Greater Asia,
15:32termasuk mungkin konteksnya India,
15:34atau negara-negara lain,
15:36was-wasnya adalah kemudian memang negara-negara
15:39yang masih memiliki istilahnya apa ya,
15:41ketergantungan besar terkait sumber daya dari Iran,
15:44satu,
15:45karena ketika Iran akan fokus perang,
15:47ketika Iran akan lebih fokus ke
15:49membalas serangan dari Amerika Serikat,
15:51maka ya,
15:52chain of supply dari energi,
15:54kemudian sumber daya-sumber daya,
15:56kemudian harus melalui Selatan Hormuz,
15:58itu akan semakin terpatahkan,
16:00akan semakin tersendat,
16:01begitu itu yang pertama,
16:02jadi negara-negara yang membutuhkan pasukan energi besar dari Iran,
16:04seperti India dan lain-lain,
16:05pasti tentunya juga melihat sebagai langkah Amerika ini,
16:08mungkin kurang pas begitu ya,
16:10kenapa sih kita nggak pilih damai aja,
16:12kalau malah tambah runyan,
16:13tambah ribet gitu kan,
16:14itu yang pertama,
16:15yang kedua,
16:16negara-negara seutu Amerika,
16:17atau negara yang pro,
16:18blok barat,
16:19atau pro NATO begitu ya,
16:20yang kemudian ada di Greater Asia,
16:21itu bisa,
16:22terutama mungkin Jepang,
16:23dan Korea Selatan dalam hal ini ya,
16:25itu mungkin juga,
16:26secara konteks,
16:27lebih,
16:27was-was jadinya,
16:28lebih kemudian menjadi,
16:30aware,
16:31terkait ketidakstabilan,
16:33saya tadi sudah energi,
16:34sudah dibahas,
16:35tapi ketidakstabilan relasi,
16:37ketidakstabilan posisi politik,
16:38antara negara-negara,
16:40yang pro blok,
16:41timur atau barat,
16:42ini kita nggak bicara,
16:43timur atau barat lagi,
16:44tapi kan sudah multipolar,
16:46cuma konteksnya adalah,
16:47negara-negara yang menjadi sekutu tradisional,
16:49Amerika,
16:49mulai semakin was-was,
16:50karena kelihatan sekali,
16:51Amerika,
16:52hanya pursuing,
16:54kepentingan nasional,
16:55secara eksklusif,
16:56kepentingan nasionalnya secara eksklusif,
16:58tidak lagi kemudian,
16:59yuk bagaimana kita bisa,
17:00membuat sebuah cejari kerjasama,
17:02antara negara-negara yang,
17:04pro US,
17:05dan sebagainya,
17:06dalam,
17:06pemberitahuan Trump kedua ini,
17:08tidak terlihat hal itu,
17:09dan pastinya,
17:09karena Trump sangat-sangat,
17:11maga kan,
17:11sangat-sangat make America great again,
17:13jadi,
17:13konteks dari,
17:15kerjasama,
17:16dan sekutu,
17:16mungkin makin nggak menguntungkan,
17:18kalau dekat dengan Amerika,
17:19saat ini seperti itu,
17:20sehingga mereka akan berpikir,
17:21dua kali,
17:22kalau kemudian,
17:22mereka akan ikut serta,
17:24dalam agenda Trump,
17:25terutama konteksnya,
17:26kaitannya dengan perang,
17:27di Iran saat ini.
17:29Oke,
17:29semua masih wait and see,
17:30kalau begitu.
17:31Mas Galan,
17:31terima kasih banyak,
17:32sudah berdiskusi bersama saya kali ini.
17:33Saya selalu ya,
17:34Mas, selamat pagi.
17:35Selamat pagi,
17:36terima kasih.
Komentar