Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Blokade Amerika Serikat terhadap kapal dagang Iran di Laut Oman, menuai reaksi serangan ke Bahrain dan Kuwait.

Kuwait, merilis rekaman CCTV serangan drone ke bandara internasionalnya.

Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait menunjukkan momen serangan dari beberapa sudut.

Dalam rekaman itu, tampak seperti drone berbentuk segitiga sayap delta menghantam langsung ke Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait.

Menanggapi serangan Iran ke sejumlah negara di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran terprovokasi usai militer Amerika mengambil tindakan tegas.

Trump meyakini tindakan Iran dilakukan karena AS telah memberi pukulan keras.

Sementara AS yang memprovokasi Iran, ditanggapi Jubir Kemlu Iran, Esmail Baghaei, yang menuduh balik AS melanggar gencatan senjata, setelah AS mengebom situs radar dan drone di Iran.

Serangan itu terjadi setelah Teheran menembak jatuh pesawat tak berawak Amerika selama akhir pekan.

Sementara itu, terhadap serangan drone ke Kuwait dibantah Juru Bicara IRGC, Brigjen Mohebi.

Ia menuding serangan ke Terminal 1 Bandara Kuwait disebabkan kesalahan sistem pertahanan udara milik Amerika, yang gagal dalam upaya penghalauan serangan.

Iran telah meluncurkan serangkaian serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah, termasuk Kuwait.

Apakah ketegangan di Timur Tengah akan kembali mencapai titik didih. Apakah serangan Iran ini menjadi sinyal, bahwa negara ini tak lagi berharap pada negosiasi damai yang tengah berjalan.

Kita bahas bersama, Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati, Pakar PPAU alumni US Air War College.

Baca Juga Negosiasi AS-Iran Berpotensi Gagal Imbas Israel Serang Lebanon, Apa Kata Pakar? | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/internasional/672802/negosiasi-as-iran-berpotensi-gagal-imbas-israel-serang-lebanon-apa-kata-pakar-sapa-pagi

#iran #amerika#kuwait

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/672871/full-analisis-pakar-ppau-soal-iran-serang-kuwait-dan-sekutu-as-di-timteng-negosiasi-damai-gagal
Transkrip
00:00Iran telah meluncurkan serangkaian serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah, termasuk Kuwait.
00:08Apakah ketegangan di Timur Tengah akan kembali mencapai titik didih?
00:13Apakah serangan Iran ini menjadi sinyal bahwa negara ini tak lagi berharap pada negosiasi damai yang tengah berjalan?
00:19Kita bahas bersama Marsma TNI Purnawirawan Agung Sasongkojati, pakar PPAU, alumni US Air World College.
00:27Selamat sore, Pak Agung. Kalau Anda bisa membaca dari serangan yang dilakukan Iran, yang disebutkan, diduga dilakukan Iran ke Kuwait,
00:37apa yang bisa Anda baca dari keberanian Iran yang menyerang tiga negara sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah?
00:43Jadi menurut saya ini bukan...
00:48Ya, silakan Pak Agung.
00:51Ya, jadi ini bukan keberanian saja. Ini memang adalah suatu upaya untuk saling membalas.
01:02Karena memang Amerika pada saat memberikan proposal kembali, membalikan proposal yang sudah setuju,
01:09artinya ditambah lagi dengan proposal baru dari terakhir, itu biasanya memberi tekanan berupa serangan.
01:15Dan serangan ini bukan sekedar membalas serangan terhadap kapal-kapal yang dihantam oleh Iran,
01:23tapi juga serangan terhadap pengendali daripada drone-drone yang memang digunakan untuk menyerang kapal disimpul.
01:30Namun, pada saat kebalasan Amerika menyerang ke pusat radar di Pulau Qasem,
01:36Iran tidak membalasnya ke kapal-kapal Amerika,
01:39tapi dia membalasnya justru malah menyerang Kuwait.
01:43Karena dia tahu bahwa Kuwait itu terdapat pangkalan udara Amerika dan pangkalan angkatan darat,
01:48di mana pangkalan angkatan darat inilah yang mengirim helikopter yang digunakan untuk menyerang pangkalan di Qasem.
01:55Kalau Qasem itu digunakan helikopter.
01:57Dan helikopter ini, betul dari Uni Amerika, tetapi pangkalannya disediakan juga.
02:01Serangan dari Iran itu memberikan pesan juga kepada Bahrain bahwa saya bisa hancurkan kalian,
02:08meskipun serangannya berupa rudal balistik yang bisa ditangkis,
02:13tetapi juga mengirim menggunakan drone ke airport atau bandara,
02:19untuk logistik daripada angkatan darat.
02:21Karena apa?
02:22Karena dia tahu bahwa Amerika akan mencoba menembakkan rudal dark eagle atau rudal lipersonik pertama kali dari Kuwait.
02:29Karena itulah, maka Iran memberikan pesan, jangan mencoba-coba mulai lagi mengganggu Iran.
02:35Tapi gini Pak Agung, ketika yang terbaru adalah Iran membantah bahwa serangan di bandara Kuwait itu adalah rudal Iran.
02:45Karena menurut Iran ini adalah Amerika Serikat yang gagal menghalangi rudal.
02:56Namun di sisi lain, Kuwait juga dikabarkan mengusir perwakilan Iran dari Kuwait.
03:02Apa yang bisa Anda lihat dari sini, Pak Agung?
03:05Ya betul, bahwa yang menimbulkan, yang diserangkan adalah kebakalan logistik daripada Amerika menggunakan drone ya.
03:12Tapi ada yang korban jatuh di dekat bandara, itu memang adalah dari rudal patriot yang mengalami gagal.
03:20Jadi tidak berhasil untuk menembak dan dia terjatuh di situ.
03:23Jadi betul yang dikatakan Iran bahwa unsus untuk yang korbannya, bukan korban daripada beberapa kontraksan Amerika,
03:29itu karena memang ada rudal patriot yang jatuh.
03:32Kalau soal pengusiran daripada kuasa atau perwakilan Iran di Kuwait, ya memang mungkin sudah seharusnya ya.
03:40Karena memang Iran menyerang Kuwait, meskipun yang diserang adalah pangkalan udara Amerika, pangkalan angkatan darat.
03:48Tetapi kadang-kadang orang dari Kambung Hitam, meskipun yang mendapat korban itu akibat dari rudal patriot yang gagal dan jatuh
03:55di dekat bandara.
03:56Tetapi tetap kan harus Kuwait memberikan suatu sikang yaitu dengan persona memperhatikan daripada perwakilan Iran di Kuwait.
04:04Ya, tapi Pak Agung sebenarnya untuk saat ini, ketika perang sudah berlanjut beberapa bulan,
04:10seberapa besar sih sebenarnya kekuatan rudal Iran hingga bisa disebutkan mampu meluncurkan serangan baru lagi?
04:18Rudal Iran itu dari New York Times saja mengatakan 70 persen masih sisa.
04:23Padahal kemarin perang yang hebat selama 40 hari itu, itu ternyata baru 30 persen.
04:28Dan selama pada fase, 30 persen.
04:32Dan selama fase itu juga sekarang tentu Iran menambah rudal dia lagi.
04:36Karena rudal itu kan kebanyakan sudah siap, tapi rudal dirakit kembali ya.
04:40Sedangkan yang sekarang sudah siap, yang kembali kembali ada drone.
04:44Karena memang Iran itu produsen drone untuk perang,
04:47dan selanjutnya dia menang suplai untuk ke Rusia.
04:51Dan dalam setahun mereka bisa memproduksi di atas 40 ribu.
04:54Jadi kalau dia kemarin menggunakan dronenya sekitar 10 ribu dengan cepat,
04:58dia bisa memproduksi di atas dan bisa memenuhi lagi kebutuhan untuk penggunaan drone
05:03seperti Syahid, tipe 136 dan 258.
05:06Artinya ini pure semua kekuatan milik Iran,
05:09atau memang ada kemungkinan dibantu negara lain seperti Rusia atau Tiongkok mungkin Pak Agung?
05:15Jelas, untuk pengendalian, untuk ketepatan daripada perkenaan,
05:21Iran itu menggunakan bantuan daripada GPS atau Glodal Position Satellite,
05:26seperti itu buatan China,
05:28serta untuk pengendali untuk ketepatan,
05:31untuk elektronik warfare, perang elektronika,
05:34atau jamming, dan itu dari Rusia.
05:36Tapi untuk banyak peralatan seperti mesin,
05:39autopilot, mikroelektronik,
05:42serta mesin-mesin jet dan mesin-mesin roket,
05:46itu jelas dari China bisa memproduksi dengan cepat.
05:48Dan Iran adalah ahli dalam mengintegrasikan semua itu
05:53untuk berudal-udal setelah glodron yang mereka ciptakan sendiri.
05:57Jadi itu yang akan terjadi.
05:59Mojtaba disebut Amerika Serikat masih hidup dan terlibat aktif meski melalui perantara.
06:05Apakah ini artinya perjanjian damai yang memang sedang berlangsung
06:09antara Amerika Serikat dan juga Iran tidak akan menemui titik terang, Pak Agung?
06:15Mojtaba itu adalah penguven bari ya.
06:18Mungkin banyak dari keputusan yang diambil itu adalah keputusan yang dibuat oleh
06:22darah revolusi karena beskotnya perhasilan.
06:25Namun mereka tetap membutuhkan Mojtaba sebagai
06:27pemimpin yang menyetujui atau tidak menyetujui.
06:30Mungkin Mojtaba hanya tidak menyetujui di bidang tertentu yang sempatnya strategis ya.
06:36Tetapi untuk mengenai pertempuran, mengenai tindakan-tindakan,
06:39itu kebanyakan keputusan diambil oleh pimpinan daripada RGC atau garda revolusi.
06:44Mojtaba sendiri, kaitannya tidak mengatakan tidak menyetujui.
06:48Tapi tentunya Mojtaba tidak akan menganggap dengan apa hasil dari proposal itu
06:54merugikan Iran atau membuat Iran menjadi pihak yang dirugikan
06:58atau tidak mendapat keuntungan.
07:00Karena memang Amerika itu kan sambil berubing, sambil menekan, sambil menghancam,
07:04sambil menekan, sambil menawarkan.
07:05Memang itu adalah cara.
07:07Tetapi waktu itu makin pendek bagi Trump
07:10dan dia suka tidak suka harus memenuhi sebagian besar permintaan dari Iran.
07:16Baik.
07:17Baik, terima kasih Pak Agung Sasongko Jati, pakar PPAU,
07:20alumni US Air World College sudah berbagi perspektif di Kompas Petang.
07:25Selamat sore, Pak Agung.
Komentar

Dianjurkan