00:00Nah, seperti tahun 2026 ini kita sepakat inflasinya 2,5 plus minus 1.
00:07Waktu itu pertumbuhan ekonominya dalam APBN 5,4 persen.
00:12Berapa nilai tukar yang sesuai dengan tasean sampelnya pertumbuhan itu?
00:17Dulu kita sepakati raratanya Rp16.500 dengan kisaran Rp16.200 sampai Rp16.200.
00:31Apakah itu menjadi suatu kisaran baru?
00:34Kalau itu, makanya tadi jawaban yang singkat kepada Pak Dolphy tadi.
00:39Milipun, dan berapa? Average on the year Rp16.500.
00:42Kisaran bawahnya Rp16.200, kisaran atasnya Rp16.800.
00:45Rp16.800. Apakah BI akan masuk? Masuk.
00:49Karena sekarang Rp16.900.
00:52Nah, ya, ya, rata ya, year to date ya.
00:54Rp16.900, year to date.
00:56Dan pengalaman kami, kalau April, Mei, Juni memang lebih tinggi.
01:02Nanti kalau Juli, Agusus akan menguat.
01:05Sehingga the whole year kami masih meyakini nilai tukar akan di dalam kisaran Rp16.200.000.
01:12Begitu, Pak, yang tadi kami ingat.
01:13Tapi, maaf, nanti ini sebagai ikut baru ya untuk tahun 2027, bukan 2026 ya, Pak.
01:19Ini, Pak.
01:20Saya mempunyai asumsi begini, Pak.
01:21Antara makroekonomi fundamental dan nilai tukar.
01:25Kita ini ketemu kolam renang yang, ini makroekonominya, Pak, fundamentalnya.
01:30Kolam renang yang bersih, bening, warnanya biru, pokoknya layak lah.
01:36Tiba-tiba kita ketemu nilai tukar, Pak.
01:39Di aquario.
01:40Yang sumber airnya dari kolam tersebut.
01:43Atau kita ketemu lautan luas yang jernih dan sebagainya, itu fundamental ekonomi kita.
01:49Terus kita ketemu kolam renang yang sumbernya dari air laut itu.
01:52Terus kita ketemu, Pak.
01:54Kolam renangnya bagus,
01:56aquarimnya butet.
01:58Yang tidak mendasarkan
02:01kepada kolam renang yang bersih tersebut.
02:05Sementara yang jaga kolam renang kita salahkan,
02:09atau yang jaga aquarium yang kita salahkan.
02:13Ini yang terjadi, Pak.
02:16Kolam renangnya bersih, jernih, bagus.
02:19Aquariumnya yang bersumber dari kolam renang itu.
02:22Airnya keruh.
02:23Banyak lumutnya.
02:25Dan, lah ini yang terjadi.
02:29Ini kan kalau gitu, Pak.
02:31Jadi, tadi Bapak mengatakan bahwa ada negara yang menggunakan pendekatan ini, pendekatan itu.
02:37Kita mencarakan mau fundamental.
02:39Tadi Bapak bicarakan fundamental.
02:40Saya juga mencarakan fundamental.
02:41Tetapi, rupiah pernah dalam sebuah sejarah fundamental ekonomi kita sedang menghadapi tekanan dan kita sedang mengalami situasi krisis yang sangat
02:51dalam.
02:52Tahun 1999 sampai tahun 1998 sampai 1999 dalam waktu singkat.
02:58Rupiah pernah 6 ribu.
03:00Zaman ini, Pak Habibie.
03:03Kita semua orang menghadapi tekanan, Pak.
03:07Pada saat itu.
03:08Tekanan krisis.
03:09Di tengah krisis.
03:12Bahkan kita.
03:13Rupiah dari nilai yang tertinggi.
03:16The highest ever.
03:19Dan kemudian turun ke 6 ribu.
03:24Dalam keadaan krisis, Pak.
03:26Terus kita mempunyai BPPN.
03:28Kemudian terjadi situasi politik dan sebagainya dan sebagainya.
03:30Dan kemudian dari 6 ribu itulah equilibrium baru setelah kita menghadapi tekanan rupiah karena krisis monotor itu.
03:39Kita kemudian naik, naik, naik, naik.
03:42Kemudian ke 9 ribu dan sekarang sampai ke situ.
03:45Jadi ada situasi fundamental kita menghadapi tekanan bahkan di saat krisis.
03:51Dan kemudian kita ada situasi fundamental yang seperti ini.
03:55Korang bicarakan sentimen dan sebagainya.
03:57Tapi kita menghadapi ini.
03:58Artinya apa?
04:00Itu.
04:02Nah, artinya apa?
04:04Kita tidak pernah bisa menemukan rumusan yang bagus.
04:07Ketika tidak menemukan rumusan yang bagus.
04:10Terus siapa, Pak, yang bisa menemukan rumusan yang bagus sementara Bapak sendiri tidak bisa menemukan?
04:18Iya, Pak.
04:20Di dalam proses perumusan kebijakan yang diadopsi oleh Indonesia itu sudah ada prosesnya.
04:28Berapa sih nilai tukar quote-unquote fundamental?
04:33Tadi saya sampaikan sekali lagi.
04:34Menurut decision-making proses di Indonesia yang kita sebut nilai tukar fundamental oleh yang sejalan dengan forecast makroekonomi.
04:46Di dalam prosesnya itu dibahas di dalam banggar dan juga di komisi 11.
04:54Nilai tukar rata yang cocok dengan inflasi, dengan pertumbuhan, dengan mempertimbangkan neraca pembayaran maupun yang macam-macam itu.
05:05Kembali lagi ke sana, monggo kalau ini decision-making diubah ya monggo.
05:12Itu kan kesepakatan.
05:14Itu dibahas di banggar di sini dan kemudian sebagai dasar itu kami juga menggunakan itu untuk ratbi meskipun di ratbi
05:22kami update perkembangan terbaru.
05:25Itu kan salah juga, kan RAPBN kan dibahas di Mei, Juni, Juli itu ya.
05:31Sementara ratbinya di akhir tahun.
05:32Itu yang kemudian menjadi rata nilai tukar dalam satu tahun yang konsisten dengan inflasi, pertumbuhan ekonomi, kredit, dan segala macam
05:42lah.
05:43Seperti itu prosesnya adalah seperti itulah decision-making proses secara nasional yang sudah diakui.
05:51Dalam pembahasannya kami juga berkoordinasi dengan pemerintah kan, biasanya dengan Menteri Keuangan.
05:56Berapa sih pertumbuhannya? Berapa sih inflasinya? Berapa sih rata nilai tukar rupiahnya? Berapa sih YSBN-nya?
06:04Itu kan dikit-dibahas, itu adalah suatu kesepakatan nasional yang kemudian kami gunakan waktu kami mengajukan ratbi.
06:13Nah monggo Pak Ketua, kalau memang penyusunan secara nasional itu mau diubah ya monggo.
06:19Oh ini kan kesepakatan nasional, seperti itu.
Komentar