00:00Berikutnya setelah Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus virus hantar di Indonesia selama periode 2024 hingga 2026.
00:08Virus ini sebelumnya terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina dan menyebabkan 3 orang meninggal.
00:20Sebanyak 94 penumpang dari 140 penumpang kapal pesiar MV Hondius telah dievakuasi di Kepulauan Kanari Spanyol pada Senin lalu.
00:30Dari seluruh orang di MV Hondius yang dilanda wabah virus hantar, tiga di antaranya meninggal dunia.
00:37Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguna mengatakan,
00:42di Indonesia sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus dan 198 rumah sakit yang difungsikan untuk rujukan kasus penyakit virus
00:54hantar.
00:54Namun Andi bilang virus hantar di Indonesia berbeda tipe dengan yang tersebar di kapal MV Hondius.
01:02Hanta yang ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS sekali lagi berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius.
01:17Dan untuk data ini kita lihat bahwa dari tahun 2024 sampai 2026 ada 23 kasus tersebar di tahun 2024, 1,
01:31kemudian 2025, 17, kemudian 2026, 5.
01:35Sementara itu Ketua DPR RI Puan Maharani meminta seluruh stakeholder untuk menyiapkan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap potensi ancaman virus
01:45hantar.
01:47Semua stakeholder sebaiknya untuk melakukan antisipasi dan melakukan mitigasi jangan sampai kemudian nanti menganggap hal ini hal yang tidak perlu
01:59diantisipasi dan di mitigasi,
02:02kemudian menjadi luas dan melebar dan terjadi hal yang terjadi inginkan dan menjadi seperti yang terjadi di COVID-19.
02:14Kemenkes telah meminta pedoman penanganan dan deteksi dini dari WHO untuk mengantisipasi penyebaran virus hanta di Indonesia.
02:22Tim Liputan, Kompas TV
02:30Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadiki meragaskan virus hanta berbeda dengan virus COVID-19 dan bukan virus baru.
02:38Virus hanta juga diakini Budi sangat sulit tertular antar manusia.
02:43Ini virusnya beda dengan COVID-19 ini sudah lama ada.
02:46Sejak tahun 2000-an di Indonesia sudah teridentifikasi.
02:51Dan sekarang kita terjadi di luar negeri itu terjadinya variannya berbeda dengan yang ada varian di Indonesia.
03:01Sehingga disana menyebabkan kepatian tinggi kalau di kita tidak.
03:04Virus ini menularnya sangat susah.
03:07Sampai sekarang penularannya terbukti terjadi melalui tikus.
03:16Membahas lebih dalam soal apa itu virus hanta serta seberapa bahayanya bagi kesehatan manusia.
03:21Kita sudah bersama dengan pakar penyakit paru-paru dan pernafasan yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Yarsi, Chandra Yoga Adhitama.
03:30Selamat malam Prof Chandra.
03:33Selamat malam Ibrahim.
03:34Prof ini menjadi sorotan saat ada peparan di kapal pesiar.
03:37Kini ada informasi jika ada di Indonesia 23 temuan sejak 2024.
03:43Jadi apa sebetulnya Prof hanta virus ini?
03:46Ya karena ada beberapa angka tadi kita meluruskan ya.
03:50Yang pertama, virus hanta ini pertama-tama ditemukan pada 1970 di Korea.
03:55Itu poin pertama.
03:56Sesudah itu ada laporan di berbagai negara.
03:58Itu poin pertama.
03:59Yang kedua, dia paling sedikitnya ada 8 varian yang saat ini dilaporkan.
04:05Ada yang bilang lebih, tapi katakanlah 8 varian.
04:074 varian itu lebih banyak di Asia dan Eropa.
04:104 varian lain ada di Amerika.
04:13Itu yang kedua.
04:14Yang ketiga, memang betul bahwa varian-varian yang di Asia dan Eropa ini
04:18angka kematiannya jauh lebih rendah ketimbang varian di Amerika.
04:21Varian di Amerika ini yang sekarang terjadi di kapal pesiar itu.
04:26Nah dari 8 varian tadi, itu 7 diantaranya menular dari tikus ke manusia.
04:33Sementara varian yang satu lagi yang namanya varian Andes yang terakhir,
04:36varian ke-8 ini, memang menular dari manusia ke manusia.
04:39Bukan hanya itu sudah diketahui sejak beberapa waktu yang lalu.
04:42Lalu ini terbukti pada kasus-kasus yang di kapal ini.
04:45Saya kira laporan WHO 7 atau 8 atau 9 terbukti,
04:49Hantavirus ini adalah varian Andes, varian yang menular dari manusia ke manusia.
04:54Tapi yang jenis varian yang lain, yang 7 lain, itu tidak menular dari manusia ke manusia.
04:59Menularnya dari tikus ke manusia.
05:01Yang di Indonesia tidak menular dari manusia ke manusia sejauh ini?
05:05Sejauh ini tidak menular dari manusia ke manusia.
05:08Yang menular ke manusia ke manusia hanya satu yang Andes yang ada di Argentina, Chile itu.
05:12Ada juga yang ada di Amerika dan juga menimbulkan gangguan pada paru,
05:16tapi juga tidak menular dari manusia ke manusia.
05:18Data sampai sejauh ini ya, tentu saja kalau nanti ada perubahan, ada mutuasi, itu cerita lain.
05:23Tapi sejauh ini sebegitu.
05:24Kalau melihat dari yang terjadi varian Andes tadi, apa yang menjadi faktor bisa menular dari manusia ke manusia?
05:32Jadi memang sebagaimana juga kita ketahui, virus itu punya spesifikasi sendiri-sendiri.
05:37Virus yang hantai yang varian Andes ini memang punya kemampuan untuk menular dari manusia ke manusia.
05:43Karena ada perubahan dari virusnya sendiri.
05:46Itu hal yang terjadi pada berbagai jenis virus.
05:49Jadi kita perlu tahu itu dan memang varian Andes ini adalah yang menular dari manusia ke manusia.
05:53Dan sebenarnya juga penularnya tidak mudah ya.
05:55Tidak harus dengan kontak erat yang cukup lama, yang kemudian menular dari manusia ke manusia.
06:00Sekali lagi, yang tujuh lainnya tidak menular dari manusia ke manusia.
06:03Yang tadi yang varian Andes itu, jika dibandingkan dengan COVID, cara penelurannya itu sama, Prof?
06:09Kontak erat atau terpapar dengan bersihin seperti itu, Prof?
06:14Atau seperti apa?
06:16Sebelum sampai penularan, saya ingin tegaskan sekali lagi bahwa COVID itu terjadi karena ada
06:23varian yang baru.
06:24Jadi, Corona yang sebelumnya tidak ada, Corona penyebab COVID itu adalah varian yang baru.
06:29Itu nomor satu.
06:29Dan yang kedua, dia menyebabkan penularan dari manusia ke manusia sangat cepat.
06:33Karena itu terjadi pandemi.
06:35Yang sekarang ini sangat berbeda ya.
06:36Jadi saya ingin menyampaikan bahwa kita jelas perlu waspada.
06:40Ini tidak bisa dianggap kecil, kita perlu waspada.
06:42Tapi ini tidak berhubungan atau paling tidak saat ini sama sekali tidak ada hubungan
06:46atau belum berhubungan dengan kemungkinan terjadi pandemi.
06:49Bahwa kita masih waspada, iya.
06:51Kita masih waspada, iya.
06:52Kita tidak bisa menafikan ini karena ini sudah terjadi seperti ini.
06:55Dan ini sudah jadi perhatian internasional karena di dalam kapal itu ada lebih dari 20 negara.
07:00Sebagian sudah pulang ke negaranya.
07:02Ada yang tangga kita di Singapura, ada yang sudah pulang juga.
07:06Bahkan juga ada yang di Indonesia walaupun semua negatif.
07:09Jadi jelas ini masalah kesehatan internasional, iya.
07:11Ya, tapi situasi yang ada saat ini jangan dikomparasikan langsung dengan COVID-19 yang memang berbeda.
07:20Tapi untuk kelompok yang rentan nih Prof, siapa saja kelompok yang rentan yang ini harus waspada.
07:26Kemudian biasanya gejala ketika terpapar.
07:29Untuk yang di Indonesia, seperti apa Prof?
07:32Ya, jadi kalau kelompok rentan secara umum, ini kita belajar dari COVID-19 semua masyarakat.
07:37Secara umum, setelahnya kelompok yang rentan itu akan lebih mudah terserang penyakit apapun juga.
07:41Dalam hal ini, tentu saja orang dengan comorbid, usia tua, lansia, dan beberapa kasus disini kan memang terjadi pada lansia
07:49dan beberapa ada comorbid.
07:50Itu hal yang masyarakat umum sudah ketahui.
07:53Itu soal orang yang lebih rentan.
07:57Nah, kemudian soal gejala.
07:59Pada umumnya gejalanya pada saat awal memang sama.
08:03Artinya ada demam, ada gangguan di perut ya, gastrointestinal.
08:08Nah, kalau kelompok yang 4 yang menimbulkan, kan ada 2.
08:14Sekarang kita bagi 2, 4-4 ya.
08:164 yang di Asia dan Eropa ini, kalau dia berat menimbulkan apa yang disebut sebagai HFRS.
08:21Hemorrhagic Fever, Renal Syndrome.
08:23Jadi gangguan seperti demam berdarah dan gangguan gejala.
08:26Tidak semua orang.
08:26Nah, tapi itu yang 4 yang di atas.
08:284 kelompok yang di bawah termasuk si Andes ini menyebabkan gangguan utamanya di paru.
08:33Makanya namanya Hanta Pulmonari Sindrom.
08:36Atau kadang-kadang Hanta Pulmonari Kardiologi Sindrom.
08:39Kardiopulmonari Sindrom.
08:41Jadi 2 hal yang berbeda.
08:42Nah, kalau yang Hanta Pulmonari yang kemudian menimbulkan kematian di kapal peser yang kita lihat ini,
08:47memang tentu saja setelah keluhan demam, lemah, gangguan gastrointestinal,
08:52maka mulai dari keluhan batuk.
08:53Dan kemudian ada sesuatu nafas.
08:55Dan akhirnya terjadi yang disebut acute respiratory distress syndrome yang akhirnya pada kasus yang terjadi ini kemudian meninggal dunia.
09:03Baik.
09:03Prof, secara general singkat, jadi langkah preventif untuk mencegah penularan seperti apa?
09:07Dan bagaimana pengobatannya, Prof?
09:11Yang mudah, yang pengobatan dulu ya.
09:13Jadi tidak ada pengobatan spesifik antivirus terhadap ini.
09:15Jadi kalau tadi saya sudah cerita ada perburukan gangguan saluran nafas,
09:20orangnya harus segera masuk rumah sakit, bukan tidak mungkin harus dirawat di ICU, ditangani segera.
09:25Jadi penanganan segera kalau kasusnya gawat itulah harus dilakukan.
09:28Nah, kalau yang kemudian di kapal kan dia di kapal ya, dalam penerbang pelayaran.
09:32Jadi akhirnya tentu tidak bisa tertangani dengan baik.
09:35Itu soal pengobatan.
09:36Nah, soal pencegahan, kita bagi dua sebenarnya.
09:40Yang pertama memang soal tikus.
09:41Jadi penularan dari tikus itu jelas terjadi dan karena itu memang jangan ada kontak dengan tikus.
09:47Dan karena ada dua caranya lewat tikus ini.
09:49Satu lewat air kencingnya, fesisnya, bulu tikusnya.
09:54Jadi jangan pegang kalau ada mati dan sebagainya.
09:56Tetapi bukan tidak mungkin itu kemudian menjadi kotoran dari tikus itu ada di debu.
10:03Debunya kemudian terbangkan dan terhisap.
10:05Karena itu, jangan menyedol debu dalam keadaan berterbangan seperti itu.
10:12Karena bukan tidak mungkin bisa menimbulkan debu yang terhisap oleh wajah-wajah.
10:17Tapi jaga kebersihan, jelas itu hal yang penting.
10:20Prof, jadi artinya masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan namun tetap untuk waspada juga ya Prof ya?
10:26Itu tepat sekali.
10:27Artinya kita waspada jelas tidak perlu khawatir berlebihan.
10:30Tepat sekali.
10:30Baik, terima kasih pakar penyakit paru-paru dan penapasan juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Yarsi, Prof Chandra Yoga Aritama.
10:40Terima kasih Prof.
Komentar