Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus virus Hanta di Indonesia selama periode 2024 hingga 2026. Virus ini sebelumnya terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia.

Membahas lebih dalam soal apa itu virus Hanta serta seberapa bahayanya bagi kesehatan manusia, kita sudah bersama pakar penyakit paru-paru dan pernapasan yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama.

#virushanta #pesiar #penyakitparuparu&pernapasan

Baca Juga Aksi Pengendara Motor Ugal-Ugalan Hingga Halangi Laju Ambulans | BERITA UTAMA di https://www.kompas.tv/regional/668508/aksi-pengendara-motor-ugal-ugalan-hingga-halangi-laju-ambulans-berita-utama



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/668509/full-pakar-penyakit-paru-paru-pernapasan-bahas-paparan-virus-hanta-bagaimana-penularannya
Transkrip
00:00Berikutnya setelah Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus virus hantar di Indonesia selama periode 2024 hingga 2026.
00:08Virus ini sebelumnya terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina dan menyebabkan 3 orang meninggal.
00:20Sebanyak 94 penumpang dari 140 penumpang kapal pesiar MV Hondius telah dievakuasi di Kepulauan Kanari Spanyol pada Senin lalu.
00:30Dari seluruh orang di MV Hondius yang dilanda wabah virus hantar, tiga di antaranya meninggal dunia.
00:37Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguna mengatakan,
00:42di Indonesia sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus dan 198 rumah sakit yang difungsikan untuk rujukan kasus penyakit virus
00:54hantar.
00:54Namun Andi bilang virus hantar di Indonesia berbeda tipe dengan yang tersebar di kapal MV Hondius.
01:02Hanta yang ada di Indonesia itu adalah tipenya HFRS sekali lagi berbeda dengan tipe yang terjadi di kapal pesiar Hondius.
01:17Dan untuk data ini kita lihat bahwa dari tahun 2024 sampai 2026 ada 23 kasus tersebar di tahun 2024, 1,
01:31kemudian 2025, 17, kemudian 2026, 5.
01:35Sementara itu Ketua DPR RI Puan Maharani meminta seluruh stakeholder untuk menyiapkan langkah pencegahan dan mitigasi terhadap potensi ancaman virus
01:45hantar.
01:47Semua stakeholder sebaiknya untuk melakukan antisipasi dan melakukan mitigasi jangan sampai kemudian nanti menganggap hal ini hal yang tidak perlu
01:59diantisipasi dan di mitigasi,
02:02kemudian menjadi luas dan melebar dan terjadi hal yang terjadi inginkan dan menjadi seperti yang terjadi di COVID-19.
02:14Kemenkes telah meminta pedoman penanganan dan deteksi dini dari WHO untuk mengantisipasi penyebaran virus hanta di Indonesia.
02:22Tim Liputan, Kompas TV
02:30Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadiki meragaskan virus hanta berbeda dengan virus COVID-19 dan bukan virus baru.
02:38Virus hanta juga diakini Budi sangat sulit tertular antar manusia.
02:43Ini virusnya beda dengan COVID-19 ini sudah lama ada.
02:46Sejak tahun 2000-an di Indonesia sudah teridentifikasi.
02:51Dan sekarang kita terjadi di luar negeri itu terjadinya variannya berbeda dengan yang ada varian di Indonesia.
03:01Sehingga disana menyebabkan kepatian tinggi kalau di kita tidak.
03:04Virus ini menularnya sangat susah.
03:07Sampai sekarang penularannya terbukti terjadi melalui tikus.
03:16Membahas lebih dalam soal apa itu virus hanta serta seberapa bahayanya bagi kesehatan manusia.
03:21Kita sudah bersama dengan pakar penyakit paru-paru dan pernafasan yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Yarsi, Chandra Yoga Adhitama.
03:30Selamat malam Prof Chandra.
03:33Selamat malam Ibrahim.
03:34Prof ini menjadi sorotan saat ada peparan di kapal pesiar.
03:37Kini ada informasi jika ada di Indonesia 23 temuan sejak 2024.
03:43Jadi apa sebetulnya Prof hanta virus ini?
03:46Ya karena ada beberapa angka tadi kita meluruskan ya.
03:50Yang pertama, virus hanta ini pertama-tama ditemukan pada 1970 di Korea.
03:55Itu poin pertama.
03:56Sesudah itu ada laporan di berbagai negara.
03:58Itu poin pertama.
03:59Yang kedua, dia paling sedikitnya ada 8 varian yang saat ini dilaporkan.
04:05Ada yang bilang lebih, tapi katakanlah 8 varian.
04:074 varian itu lebih banyak di Asia dan Eropa.
04:104 varian lain ada di Amerika.
04:13Itu yang kedua.
04:14Yang ketiga, memang betul bahwa varian-varian yang di Asia dan Eropa ini
04:18angka kematiannya jauh lebih rendah ketimbang varian di Amerika.
04:21Varian di Amerika ini yang sekarang terjadi di kapal pesiar itu.
04:26Nah dari 8 varian tadi, itu 7 diantaranya menular dari tikus ke manusia.
04:33Sementara varian yang satu lagi yang namanya varian Andes yang terakhir,
04:36varian ke-8 ini, memang menular dari manusia ke manusia.
04:39Bukan hanya itu sudah diketahui sejak beberapa waktu yang lalu.
04:42Lalu ini terbukti pada kasus-kasus yang di kapal ini.
04:45Saya kira laporan WHO 7 atau 8 atau 9 terbukti,
04:49Hantavirus ini adalah varian Andes, varian yang menular dari manusia ke manusia.
04:54Tapi yang jenis varian yang lain, yang 7 lain, itu tidak menular dari manusia ke manusia.
04:59Menularnya dari tikus ke manusia.
05:01Yang di Indonesia tidak menular dari manusia ke manusia sejauh ini?
05:05Sejauh ini tidak menular dari manusia ke manusia.
05:08Yang menular ke manusia ke manusia hanya satu yang Andes yang ada di Argentina, Chile itu.
05:12Ada juga yang ada di Amerika dan juga menimbulkan gangguan pada paru,
05:16tapi juga tidak menular dari manusia ke manusia.
05:18Data sampai sejauh ini ya, tentu saja kalau nanti ada perubahan, ada mutuasi, itu cerita lain.
05:23Tapi sejauh ini sebegitu.
05:24Kalau melihat dari yang terjadi varian Andes tadi, apa yang menjadi faktor bisa menular dari manusia ke manusia?
05:32Jadi memang sebagaimana juga kita ketahui, virus itu punya spesifikasi sendiri-sendiri.
05:37Virus yang hantai yang varian Andes ini memang punya kemampuan untuk menular dari manusia ke manusia.
05:43Karena ada perubahan dari virusnya sendiri.
05:46Itu hal yang terjadi pada berbagai jenis virus.
05:49Jadi kita perlu tahu itu dan memang varian Andes ini adalah yang menular dari manusia ke manusia.
05:53Dan sebenarnya juga penularnya tidak mudah ya.
05:55Tidak harus dengan kontak erat yang cukup lama, yang kemudian menular dari manusia ke manusia.
06:00Sekali lagi, yang tujuh lainnya tidak menular dari manusia ke manusia.
06:03Yang tadi yang varian Andes itu, jika dibandingkan dengan COVID, cara penelurannya itu sama, Prof?
06:09Kontak erat atau terpapar dengan bersihin seperti itu, Prof?
06:14Atau seperti apa?
06:16Sebelum sampai penularan, saya ingin tegaskan sekali lagi bahwa COVID itu terjadi karena ada
06:23varian yang baru.
06:24Jadi, Corona yang sebelumnya tidak ada, Corona penyebab COVID itu adalah varian yang baru.
06:29Itu nomor satu.
06:29Dan yang kedua, dia menyebabkan penularan dari manusia ke manusia sangat cepat.
06:33Karena itu terjadi pandemi.
06:35Yang sekarang ini sangat berbeda ya.
06:36Jadi saya ingin menyampaikan bahwa kita jelas perlu waspada.
06:40Ini tidak bisa dianggap kecil, kita perlu waspada.
06:42Tapi ini tidak berhubungan atau paling tidak saat ini sama sekali tidak ada hubungan
06:46atau belum berhubungan dengan kemungkinan terjadi pandemi.
06:49Bahwa kita masih waspada, iya.
06:51Kita masih waspada, iya.
06:52Kita tidak bisa menafikan ini karena ini sudah terjadi seperti ini.
06:55Dan ini sudah jadi perhatian internasional karena di dalam kapal itu ada lebih dari 20 negara.
07:00Sebagian sudah pulang ke negaranya.
07:02Ada yang tangga kita di Singapura, ada yang sudah pulang juga.
07:06Bahkan juga ada yang di Indonesia walaupun semua negatif.
07:09Jadi jelas ini masalah kesehatan internasional, iya.
07:11Ya, tapi situasi yang ada saat ini jangan dikomparasikan langsung dengan COVID-19 yang memang berbeda.
07:20Tapi untuk kelompok yang rentan nih Prof, siapa saja kelompok yang rentan yang ini harus waspada.
07:26Kemudian biasanya gejala ketika terpapar.
07:29Untuk yang di Indonesia, seperti apa Prof?
07:32Ya, jadi kalau kelompok rentan secara umum, ini kita belajar dari COVID-19 semua masyarakat.
07:37Secara umum, setelahnya kelompok yang rentan itu akan lebih mudah terserang penyakit apapun juga.
07:41Dalam hal ini, tentu saja orang dengan comorbid, usia tua, lansia, dan beberapa kasus disini kan memang terjadi pada lansia
07:49dan beberapa ada comorbid.
07:50Itu hal yang masyarakat umum sudah ketahui.
07:53Itu soal orang yang lebih rentan.
07:57Nah, kemudian soal gejala.
07:59Pada umumnya gejalanya pada saat awal memang sama.
08:03Artinya ada demam, ada gangguan di perut ya, gastrointestinal.
08:08Nah, kalau kelompok yang 4 yang menimbulkan, kan ada 2.
08:14Sekarang kita bagi 2, 4-4 ya.
08:164 yang di Asia dan Eropa ini, kalau dia berat menimbulkan apa yang disebut sebagai HFRS.
08:21Hemorrhagic Fever, Renal Syndrome.
08:23Jadi gangguan seperti demam berdarah dan gangguan gejala.
08:26Tidak semua orang.
08:26Nah, tapi itu yang 4 yang di atas.
08:284 kelompok yang di bawah termasuk si Andes ini menyebabkan gangguan utamanya di paru.
08:33Makanya namanya Hanta Pulmonari Sindrom.
08:36Atau kadang-kadang Hanta Pulmonari Kardiologi Sindrom.
08:39Kardiopulmonari Sindrom.
08:41Jadi 2 hal yang berbeda.
08:42Nah, kalau yang Hanta Pulmonari yang kemudian menimbulkan kematian di kapal peser yang kita lihat ini,
08:47memang tentu saja setelah keluhan demam, lemah, gangguan gastrointestinal,
08:52maka mulai dari keluhan batuk.
08:53Dan kemudian ada sesuatu nafas.
08:55Dan akhirnya terjadi yang disebut acute respiratory distress syndrome yang akhirnya pada kasus yang terjadi ini kemudian meninggal dunia.
09:03Baik.
09:03Prof, secara general singkat, jadi langkah preventif untuk mencegah penularan seperti apa?
09:07Dan bagaimana pengobatannya, Prof?
09:11Yang mudah, yang pengobatan dulu ya.
09:13Jadi tidak ada pengobatan spesifik antivirus terhadap ini.
09:15Jadi kalau tadi saya sudah cerita ada perburukan gangguan saluran nafas,
09:20orangnya harus segera masuk rumah sakit, bukan tidak mungkin harus dirawat di ICU, ditangani segera.
09:25Jadi penanganan segera kalau kasusnya gawat itulah harus dilakukan.
09:28Nah, kalau yang kemudian di kapal kan dia di kapal ya, dalam penerbang pelayaran.
09:32Jadi akhirnya tentu tidak bisa tertangani dengan baik.
09:35Itu soal pengobatan.
09:36Nah, soal pencegahan, kita bagi dua sebenarnya.
09:40Yang pertama memang soal tikus.
09:41Jadi penularan dari tikus itu jelas terjadi dan karena itu memang jangan ada kontak dengan tikus.
09:47Dan karena ada dua caranya lewat tikus ini.
09:49Satu lewat air kencingnya, fesisnya, bulu tikusnya.
09:54Jadi jangan pegang kalau ada mati dan sebagainya.
09:56Tetapi bukan tidak mungkin itu kemudian menjadi kotoran dari tikus itu ada di debu.
10:03Debunya kemudian terbangkan dan terhisap.
10:05Karena itu, jangan menyedol debu dalam keadaan berterbangan seperti itu.
10:12Karena bukan tidak mungkin bisa menimbulkan debu yang terhisap oleh wajah-wajah.
10:17Tapi jaga kebersihan, jelas itu hal yang penting.
10:20Prof, jadi artinya masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan namun tetap untuk waspada juga ya Prof ya?
10:26Itu tepat sekali.
10:27Artinya kita waspada jelas tidak perlu khawatir berlebihan.
10:30Tepat sekali.
10:30Baik, terima kasih pakar penyakit paru-paru dan penapasan juga Direktur Pasca Sarjana Universitas Yarsi, Prof Chandra Yoga Aritama.
10:40Terima kasih Prof.
Komentar

Dianjurkan