Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Di tengah negosiasi alot AS dan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bakal berkunjung ke Tiongkok. Trump diperkirakan akan mendesak Tiongkok untuk menekan Iran.

Presiden AS Donald Trump akan bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan, Trump akan mendesak Tiongkok untuk menekan Iran di tengah upaya AS mengakhiri perang.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menyebut kedua negara akan membahas isu menyangkut hubungan Tiongkok-AS dan perdamaian dunia.

Pakar Hubungan Internasional Unpar, Yulius Purwadi menilai kunjungan Trump bertujuan agar Tiongkok bisa menekan Iran untuk membuka Selat Hormuz.

Sebelumnya, AS dan Iran saling mengajukan proposal damai.

Terakhir, proposal Iran yang meminta penghentian perang di semua front, pengakuan atas Selat Hormuz serta pencabutan sanksi dan pengembalian aset Iran membuat Trump berang.

Meski frustrasi negosiasi berujung kebuntuan, namun Trump mengaku masih membuka solusi diplomatik dengan Iran.

Usai Trump marah atas jawaban Iran terhadap proposal damai AS, bagaimana masa depan perang Iran dan Amerika Serikat? Kita bahas bersama Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI.

Baca Juga Guru Besar Keamanan & Pakar HI Soal Trump Sebut Gencata Senjata Dengan Iran "Kritis" di https://www.kompas.tv/internasional/668482/guru-besar-keamanan-pakar-hi-soal-trump-sebut-gencata-senjata-dengan-iran-kritis

#iran #amerika #trump

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/668494/trump-marah-usai-jawaban-iran-soal-proposal-damai-as-peluang-damai-makin-kecil-kompas-malam
Transkrip
00:00Usai terah marah atas jawaban Iran terhadap proposal damai AS, bagaimana masa depan perang Iran dan Amerika Serikat.
00:05Kita bahas bersama dengan Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI.
00:10Selamat malam Prof. Hik.
00:13Selamat malam Ibrahim.
00:15Prof, ini terah marah atas jawaban Iran pada proposal damai AS. Apakah ini tandanya jalan damai semakin terjal?
00:23Jadi begini, kalau saya melihat bahwa memang Iran itu punya dua step.
00:28Step pertama adalah berkaitan dengan tidak diserangnya oleh Amerika, selat hormus, lalu kemudian juga aset yang selama ini dibekukan.
00:37Itu diselesaikan dahulu, baru setelah itu step berikutnya adalah mengenai masalah senjata nuklir pengayaan uranium.
00:46Nah, sementara kalau dari Presiden Trump, dia tidak mau.
00:50Justru permasalahan utama yang harus bisa diselesaikan adalah berkaitan dengan senjata nuklir dan pengayaan uranium, bahkan juga terhadap cadangan atau
01:02stockpile yang ada di Iran yang harus ditaruh di negara ketiga.
01:07Nah, disini saya melihat memang tidak ada titik temu kalau seperti ini.
01:13Memang ini yang harus diupayakan oleh pihak Pakistan, kalau misalnya Pakistan masih menjadi mediator untuk apa ada kesepakatan di antara
01:23Amerika Serikat dengan Iran mengenai masalah proposal ini.
01:30Ini kan Trump kecewa, marah, dia bilang sampai 3-4 kali Iran berubah pikiran.
01:35Tapi mengapa Trump masih memberi celah untuk negosiasi, Prof, menurut Anda?
01:41Karena di dalam negeri, Trump itu tidak mendapat dukungan apabila dia melakukan serangan balik kepada Iran, muncul serangan lagi.
01:50Pertama, Kongres banyak yang tidak menyetujui, bahkan Partai Demokrat itu sangat kritis, yang seolah-olah dia menyuarakan kepentingan Iran terkait
02:01dengan perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
02:04Belum lagi, anggaran untuk perang itu kan harus di-approve lagi oleh Kongres, bahkan juga 60 hari yang kemarin sudah
02:13dipakai oleh Trump.
02:14Kalau mau menyerang kembali, itu harus dapat persenjuan dari Kongres Amerika Serikat.
02:19Dan sekarang Partai Demokrat Amerika Serikat itu sedang menyiapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan atau yang tidak memungkinkan Trump untuk
02:30melakukan perang kembali.
02:31Itu yang pertama.
02:33Belum lagi, masyarakat di Amerika Serikat itu sangat mengeluh dengan harga minyak yang melonjak sampai hampir 50%, bahkan lebih dari
02:4150%.
02:42Nah, itu yang membuat Trump, dia masih memberikan kemungkinan untuk berdiplomasi meskipun dia mengancam.
02:50Intinya adalah dia mengancam Iran untuk, kamu harus terima, kalau tidak saya akan serang.
02:55Tapi sebenarnya Iran juga tahu bahwa Trump itu dukungan di dalam negerinya tidak ada, sehingga dari pihak Iran dia bermain
03:04dengan waktu.
03:04Prof, artinya saat ini justru Amerika Serikat, Donald Trump sedang ada dalam tekanan termasuk dari dalam negerinya.
03:10Jadi, Bu, tak punya pilihan lain bagi Amerika Serikat selain negosiasi tadi ya?
03:16Betul, betul.
03:17Di dalam negerinya dia dapat tekanan.
03:19Lalu dari luar negeri kita tahu ada Inggris, Perancis yang mau membuat grup atau kelompok aliansi sendiri untuk pembebasan dari
03:32Slat Hormuz yang dia tidak mau dikaitkan dengan Amerika Serikat.
03:36Itu artinya tekanan.
03:38Bahkan juga kan dari Cina, Rusia kalau ada resolusi untuk membuka Slat Hormuz selalu di veto.
03:43Nah, jadi Trump ini mendapat tekanan di dalam negeri ya, dari luar negeri dia, tapi sementara dia ingin bahwa dia
03:51harus keluar sebagai pemenang perang.
03:53Ini yang orang bicara tentang exit strateginya seperti apa.
03:57Sementara Iran sangat tahu betul karena apa?
04:01Iran punya akses terhadap apa yang terjadi di Amerika Serikat karena terbuka melalui PS-nya dan lain sebagainya.
04:07Sehingga dia bisa menghitung apa yang harus dia lakukan dan apa yang tidak mungkin Trump lakukan.
04:13Oke, kalau ini soal akan bertemu dengan Tiongkok, dengan si Jinping nih, Donald Trump, apakah bisa nanti untuk menekan Iran
04:22untuk membuka Slat Hormuz?
04:24Karena kan Hormuz ini yang jadi objek vitalnya nih Prof.
04:29Ya, justru kalau saya melihat begini, memang nantinya ujungnya itu perang ini tidak akan ada kesepakatan.
04:38Karena proposal ini sangat jauh untuk bisa disepakati.
04:42Saya melihatnya seperti itu ya, satu.
04:43Yang kedua adalah perang ini akan diambangkan dengan adanya gencatan senjata.
04:49Yang penting bagi Iran adalah Amerika Serikat tidak lagi menyerang Iran karena dia defensif.
04:58Sementara kalau dari Amerika Serikat kan sudah mengatakan Epic Fury sudah berakhir dan kalaupun dia melakukan serangan itu kalau Iran
05:06duluan yang menyerang dia secara nyata.
05:09Nah, lalu kemudian yang isu terbesar itu berkaitan dengan Slat Hormuz.
05:14Bagaimana ini Slat Hormuz?
05:15Nah, sekarang ini dunia yang tadi saya katakan, Inggris beraliansi dengan Perancis dan mungkin banyak negara.
05:22Dia akan mengatakan pada Iran, ini bukan kaitannya dengan Amerika Serikat, tapi dunia sangat terpukul dengan penutupan dari Slat Hormuz
05:33ini.
05:33Jadi, kita akan selesaikan dengan Iran tapi tanpa melibatkan Amerika Serikat.
05:38Dan itu bagi Amerika Serikat itu sama saja, mohon maaf ya, menempeling mukanya Amerika Serikat karena dunia tidak lagi percaya
05:45sama Amerika Serikat.
05:46Kalau gitu, bergen daya tawar Amerika Serikat sendiri apa sih yang bisa digunakan untuk menekan Iran saat ini jika tadi
05:53bacaannya seperti itu?
05:54Banyak tekanan justru yang didapat.
05:55Ya, kalau menurut saya sih getakan-getakan dari Trump bahwa Iran, yang oleh Iran dikatakan bahwa mereka siap kapan saja
06:08kalau misalnya Amerika Serikat akan melakukan serangan.
06:12Dan bahkan menjanjikan bahwa serangan balasan dari Iran itu akan dari serangan yang kemarin ini.
06:21Oke, Prof, singkat Prof, terakhir apa kepentingan AS dan Tiongkok terhadap Iran untuk saat ini, Prof?
06:31Kepentingan Amerika Serikat terhadap Tiongkok adalah bagaimana bisa meminta Tiongkok untuk menyampaikan kepada Iran bahwa Slat Hormuz itu akan dibuka.
06:42Dan mungkin kompensasinya adalah Trump tidak akan mengenakan tarif dan lain sebagainya.
06:48Tetapi saya duga bahwa China tidak akan begitu saja mau menerima keinginan dari Trump karena kekhawatiran dari China adalah kalau
06:58Trump bisa menekuk Iran dan nantinya diperlakukan seperti Venezuela tidak membolehkan negara Venezuela itu menjual minyaknya ke China.
07:08Demikian juga kalau Iran nanti ditekuk padahal bagi China minyak itu sangat penting bagi mereka untuk pertumbuhan ekonomi.
07:15Terima kasih Prof. Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI telah menyampaikan pandangannya di program Kepas Malam Hari.
07:21Terima kasih Prof.
Komentar

Dianjurkan