00:00Usai terah marah atas jawaban Iran terhadap proposal damai AS, bagaimana masa depan perang Iran dan Amerika Serikat.
00:05Kita bahas bersama dengan Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI.
00:10Selamat malam Prof. Hik.
00:13Selamat malam Ibrahim.
00:15Prof, ini terah marah atas jawaban Iran pada proposal damai AS. Apakah ini tandanya jalan damai semakin terjal?
00:23Jadi begini, kalau saya melihat bahwa memang Iran itu punya dua step.
00:28Step pertama adalah berkaitan dengan tidak diserangnya oleh Amerika, selat hormus, lalu kemudian juga aset yang selama ini dibekukan.
00:37Itu diselesaikan dahulu, baru setelah itu step berikutnya adalah mengenai masalah senjata nuklir pengayaan uranium.
00:46Nah, sementara kalau dari Presiden Trump, dia tidak mau.
00:50Justru permasalahan utama yang harus bisa diselesaikan adalah berkaitan dengan senjata nuklir dan pengayaan uranium, bahkan juga terhadap cadangan atau
01:02stockpile yang ada di Iran yang harus ditaruh di negara ketiga.
01:07Nah, disini saya melihat memang tidak ada titik temu kalau seperti ini.
01:13Memang ini yang harus diupayakan oleh pihak Pakistan, kalau misalnya Pakistan masih menjadi mediator untuk apa ada kesepakatan di antara
01:23Amerika Serikat dengan Iran mengenai masalah proposal ini.
01:30Ini kan Trump kecewa, marah, dia bilang sampai 3-4 kali Iran berubah pikiran.
01:35Tapi mengapa Trump masih memberi celah untuk negosiasi, Prof, menurut Anda?
01:41Karena di dalam negeri, Trump itu tidak mendapat dukungan apabila dia melakukan serangan balik kepada Iran, muncul serangan lagi.
01:50Pertama, Kongres banyak yang tidak menyetujui, bahkan Partai Demokrat itu sangat kritis, yang seolah-olah dia menyuarakan kepentingan Iran terkait
02:01dengan perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
02:04Belum lagi, anggaran untuk perang itu kan harus di-approve lagi oleh Kongres, bahkan juga 60 hari yang kemarin sudah
02:13dipakai oleh Trump.
02:14Kalau mau menyerang kembali, itu harus dapat persenjuan dari Kongres Amerika Serikat.
02:19Dan sekarang Partai Demokrat Amerika Serikat itu sedang menyiapkan sebuah undang-undang yang mengharuskan atau yang tidak memungkinkan Trump untuk
02:30melakukan perang kembali.
02:31Itu yang pertama.
02:33Belum lagi, masyarakat di Amerika Serikat itu sangat mengeluh dengan harga minyak yang melonjak sampai hampir 50%, bahkan lebih dari
02:4150%.
02:42Nah, itu yang membuat Trump, dia masih memberikan kemungkinan untuk berdiplomasi meskipun dia mengancam.
02:50Intinya adalah dia mengancam Iran untuk, kamu harus terima, kalau tidak saya akan serang.
02:55Tapi sebenarnya Iran juga tahu bahwa Trump itu dukungan di dalam negerinya tidak ada, sehingga dari pihak Iran dia bermain
03:04dengan waktu.
03:04Prof, artinya saat ini justru Amerika Serikat, Donald Trump sedang ada dalam tekanan termasuk dari dalam negerinya.
03:10Jadi, Bu, tak punya pilihan lain bagi Amerika Serikat selain negosiasi tadi ya?
03:16Betul, betul.
03:17Di dalam negerinya dia dapat tekanan.
03:19Lalu dari luar negeri kita tahu ada Inggris, Perancis yang mau membuat grup atau kelompok aliansi sendiri untuk pembebasan dari
03:32Slat Hormuz yang dia tidak mau dikaitkan dengan Amerika Serikat.
03:36Itu artinya tekanan.
03:38Bahkan juga kan dari Cina, Rusia kalau ada resolusi untuk membuka Slat Hormuz selalu di veto.
03:43Nah, jadi Trump ini mendapat tekanan di dalam negeri ya, dari luar negeri dia, tapi sementara dia ingin bahwa dia
03:51harus keluar sebagai pemenang perang.
03:53Ini yang orang bicara tentang exit strateginya seperti apa.
03:57Sementara Iran sangat tahu betul karena apa?
04:01Iran punya akses terhadap apa yang terjadi di Amerika Serikat karena terbuka melalui PS-nya dan lain sebagainya.
04:07Sehingga dia bisa menghitung apa yang harus dia lakukan dan apa yang tidak mungkin Trump lakukan.
04:13Oke, kalau ini soal akan bertemu dengan Tiongkok, dengan si Jinping nih, Donald Trump, apakah bisa nanti untuk menekan Iran
04:22untuk membuka Slat Hormuz?
04:24Karena kan Hormuz ini yang jadi objek vitalnya nih Prof.
04:29Ya, justru kalau saya melihat begini, memang nantinya ujungnya itu perang ini tidak akan ada kesepakatan.
04:38Karena proposal ini sangat jauh untuk bisa disepakati.
04:42Saya melihatnya seperti itu ya, satu.
04:43Yang kedua adalah perang ini akan diambangkan dengan adanya gencatan senjata.
04:49Yang penting bagi Iran adalah Amerika Serikat tidak lagi menyerang Iran karena dia defensif.
04:58Sementara kalau dari Amerika Serikat kan sudah mengatakan Epic Fury sudah berakhir dan kalaupun dia melakukan serangan itu kalau Iran
05:06duluan yang menyerang dia secara nyata.
05:09Nah, lalu kemudian yang isu terbesar itu berkaitan dengan Slat Hormuz.
05:14Bagaimana ini Slat Hormuz?
05:15Nah, sekarang ini dunia yang tadi saya katakan, Inggris beraliansi dengan Perancis dan mungkin banyak negara.
05:22Dia akan mengatakan pada Iran, ini bukan kaitannya dengan Amerika Serikat, tapi dunia sangat terpukul dengan penutupan dari Slat Hormuz
05:33ini.
05:33Jadi, kita akan selesaikan dengan Iran tapi tanpa melibatkan Amerika Serikat.
05:38Dan itu bagi Amerika Serikat itu sama saja, mohon maaf ya, menempeling mukanya Amerika Serikat karena dunia tidak lagi percaya
05:45sama Amerika Serikat.
05:46Kalau gitu, bergen daya tawar Amerika Serikat sendiri apa sih yang bisa digunakan untuk menekan Iran saat ini jika tadi
05:53bacaannya seperti itu?
05:54Banyak tekanan justru yang didapat.
05:55Ya, kalau menurut saya sih getakan-getakan dari Trump bahwa Iran, yang oleh Iran dikatakan bahwa mereka siap kapan saja
06:08kalau misalnya Amerika Serikat akan melakukan serangan.
06:12Dan bahkan menjanjikan bahwa serangan balasan dari Iran itu akan dari serangan yang kemarin ini.
06:21Oke, Prof, singkat Prof, terakhir apa kepentingan AS dan Tiongkok terhadap Iran untuk saat ini, Prof?
06:31Kepentingan Amerika Serikat terhadap Tiongkok adalah bagaimana bisa meminta Tiongkok untuk menyampaikan kepada Iran bahwa Slat Hormuz itu akan dibuka.
06:42Dan mungkin kompensasinya adalah Trump tidak akan mengenakan tarif dan lain sebagainya.
06:48Tetapi saya duga bahwa China tidak akan begitu saja mau menerima keinginan dari Trump karena kekhawatiran dari China adalah kalau
06:58Trump bisa menekuk Iran dan nantinya diperlakukan seperti Venezuela tidak membolehkan negara Venezuela itu menjual minyaknya ke China.
07:08Demikian juga kalau Iran nanti ditekuk padahal bagi China minyak itu sangat penting bagi mereka untuk pertumbuhan ekonomi.
07:15Terima kasih Prof. Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI telah menyampaikan pandangannya di program Kepas Malam Hari.
07:21Terima kasih Prof.
Komentar