Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 8 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, buka suara usai dipanggil Presiden RI, Prabowo Subianto, di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (5/5/2026).

"Saya kebetulan dipanggil oleh Bapak Presiden untuk membahas beberapa perkembangan, termasuk di dalamnya adalah harga crude BBM terhadap ICP," ujar Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

"Yang kedua, kita juga membahas tentang penataan tambang ke depan yang sebagian besar kepemilikannya harus dimiliki oleh negara," lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri ESDM Bahlil juga membantah kabar tarif listrik yang naik, dan mengatakan hingga saat ini pemerintah belum menentukan hal tersebut.

Baca Juga Bahlil: Impor Minyak Rusia untuk Perkuat Ketahanan Energi, Harga Tak Diungkap di https://www.kompas.tv/nasional/666763/bahlil-impor-minyak-rusia-untuk-perkuat-ketahanan-energi-harga-tak-diungkap

#prabowo #bahlillahadalia #breakingnews

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/667112/full-menteri-esdm-bahlil-buka-suara-usai-dipanggil-presiden-prabowo-jawab-isu-tarif-listrik-naik
Transkrip
00:03Saya secara kebetulan dipanggil oleh Bapak Presiden untuk membahas beberapa perkembangan termasuk dalamnya adalah harga krut BBM terhadap ICP.
00:18Yang kedua juga kita membahas tentang penataan tambang ke depan yang harus dimiliki oleh sebagian besar kepemilikannya oleh negara.
00:31Dan itu terkait dengan implementasi daripada pasal 33.
00:36Khususnya pertambangan-pertambangan yang baik yang lama maupun yang baru, itu nanti akan kita mencoba untuk mengoptimalkan pendapatan negaranya secara
00:46maksimal.
00:46Dan ini kita akan memakai contoh seperti pembagian hasil daripada pengelolaan migas kita.
00:53Migas kita itu kan ada cost recovery, ada growth split, mungkin pola-pola itu yang mencoba kita eksersis untuk kita
01:00bangun untuk bisa melakukan kerjasama dengan pihak swasta.
01:03Tapi itu akan konsesi lagi tambang itu kan?
01:04Ya?
01:05Tidak pakai konsesi lagi?
01:06Tetap konsesi, tetapi kita akan mengoptimalkan untuk pendapatan agar seimbang dengan negara.
01:12Dan negara harusnya akan mendapatkan porsi yang lebih besar.
01:16Itu kan instrumennya aja ya.
01:18Pak, untuk CNG Pak, pengganti LPG bagaimana?
01:20Oh iya, CNG.
01:22Jadi teman-teman tahu bahwa LPG kita ini kan 75-80% kan kita masih impor.
01:28Kebutuhan LPG kita setiap tahun meningkat.
01:32Hari ini di Candra Asri maupun di Lote itu membutuhkan 2-3 juta ton per tahun untuk bahan baku.
01:39Nah, terkait dengan konsumsi rumah tangga itu kurang lebih sekitar 7-8 juta ton.
01:44Nah, persoalannya sekarang adalah ketika gejolak politik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada.
01:54Tapi kan kita tergantung pada global.
01:55Maka kita merumuskan untuk mencari alternatif lain.
01:59CNG adalah salah satu alternatifnya.
02:00Nah, si CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG sudah ada.
02:07Tapi pada klasifikasi yang 20-20 kg ke atas.
02:11Ada yang 10-10 kg ke atas.
02:13Nah, untuk yang 3 kg memang tabungnya masih dilakukan uji coba.
02:18Karena tekanannya kan besar sekali.
02:21Dia sekitar 200-250 bar.
02:23Nah, ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi.
02:25Insya Allah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya.
02:28Kemudian kalau itu sudah dinyatakan form, kita akan melakukan konversi.
02:32Sebab apa?
02:34CNG ini bahan bakunya ada semua di kita.
02:36C1, C2.
02:37Gas.
02:38Apalagi kita kan baru menemukan gas sekitar 3.000 mm di Kalimantan Timur.
02:44Nah, ini sebagian besar kita bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk men-cover CNG.
02:51Pak, ada.
02:52Proyeksi anggarannya berapa untuk CNG itu, Pak?
02:54Gimana?
02:55Proyeksi anggarannya berapa yang diperlukan untuk peralihan secara bertahap ini?
02:58Ini kan modelnya B2B aja nantinya.
03:02Jadi, pemerintahnya menyiapkan terhadap gas C1, C2.
03:09Bahwa kemudian instrumen ekosistem bisnisnya, dia itu tidak kurang atau hampir sama dengan ekosistem daripada bisnis LPG, ya.
03:20Masyarakat tadi mengeluhkan soal tarif listrik naik, Pak.
03:22Mungkin ada tanggapannya, Pak.
03:23Gimana?
03:24Masyarakat mengeluhkan di medsos tarif listrik naik di bulan Mei ini.
03:27Sebenarnya ada kenaikan atau bisa?
03:28Sampai dengan hari yang saya bicara ini dan eksersis yang kami lakukan, itu belum ada kenaikan tarif listrik.
03:38Nanti kalau ada, nanti akan disampaikan, ya.
03:42Pak, Indonesia bakal kerjasama nikel sama Filipina, ya, Pak?
03:45Gimana?
03:45Indonesia bakal kerjasama nikel dengan Filipina itu benar, ya, Pak?
03:50Jadi gini, negara kita sekarang kan masuk dalam negara yang mengandung masyarakat hilirisasi dan industrialisasi.
03:57Nah, salah satu negara yang mempunyai cadangan nikel itu kan Filipin.
04:04Tapi dia kan jumlahnya nggak banyak sebenarnya.
04:06Nah, dalam kondis kerjasama G2G itu tidak ada.
04:10Tetapi kalau memang ada B2B yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, saya pikir opsi itu selalu ada aja.
04:18Ya, baik, makasih ya.
04:19Pak, kalau jadi 3 kilo itu bakal jadi subsidi nggak pakai LPG?
04:27Sekali lagi saya katakan bahwa untuk minyak subsidi, baik itu bensin, solar maupun LPG, tidak akan ada kenaikan.
04:40Saya katakan tidak akan ada kenaikan.
04:44Namun, untuk BBM yang sifatnya industri atau hanya untuk orang-orang yang mampu, itu penyesuaiannya berdasarkan harga pasar dan sesuai
04:56dengan peraturan menteri SDM tahun 2022.
04:59Pak, untuk si NG itu sudah dikaji belum Pak akan disubsidikan?
05:02Si NG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30 persen lah, lebih murah.
05:09Kenapa dia lebih murah?
05:10Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industri-nya kan ada di kita, di dalam negeri.
05:15Jadi tidak kita melakukan import, kos transportasinya aja udah bisa meng-cover.
05:19Dan yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya.
05:26Jadi itu jauh lebih efisien.
05:27Dan kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar udah jalan.
05:32Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai, si NG.
05:34Hotel, restoran, kemudian MBG, dapur-dapur MBG sudah pakai itu.
05:40Akan memberdayakan warga lokal nggak Pak?
05:41Oh pasti dong.
05:43Dengan kita memakai CNG, insya Allah kalau teknologinya udah ada,
05:48itu mampu kita melakukan efisiensi devisa kita kurang lebih sekitar 130 triliun.
05:53Sampai 137 triliun.
05:55Dan kalau itu lebih murah, itu akan mengurangi subsidi kita.
05:59Atau kalau kita mau bantu rakyat lagi, kita akan mengurangi beban rakyat dalam kontes pembelian.
06:05Sekarang kan pertabung itu untuk LPG kan ada 18, 19, ada yang 20, bahkan ada yang lebih.
06:10Itulah kemudian di bulan Januari, Februari 2025,
06:15saya kan sempat dijadikan sebagai rujak waktu itu kan.
06:18Dan teman-teman media juga kan ikut memberitakan itu.
06:21Padahal waktu itu alat tujuan saya, bagaimana subsidi itu tersasaran.
06:26Bagaimana harga rakyat itu diberikan, jangan subsidi tersasaran.
06:30Nah tujuannya itu, harganya jangan naik gitu loh.
06:33Tapi waktu itu ya udahlah, itu pengalaman 2025 di awal kan.
06:37Tapi 2026, saya pikir kita harus inovatif, kita mencari alternatif-alternatif yang semua sumber energinya ada di negara kita.
06:45Jadi TNG nggak subsidi Pak kalau nanti dibikin jadi 3 kilo kayak gas melon itu Pak?
06:49Semuanya lagi dikaji.
06:50Opsinya subsidi masih harus lah.
06:53Tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya.
06:56Kita kok, kita belum buat kok, kalian sudah membuat ponisi itu loh.
07:00Aku bingung lah.
07:01Mas, kalau di Kalimantan dimana lagi Pak?
07:02Ya hampir semua tempat yang ada sumber-sumber gasnya ya.
07:05Tambang nilai itu katanya udah kehabisan kuota produksi Pak.
07:08Kalau kayak gini loh kalau dikasih revisiin RKB, apa sih Pak?
07:11Aku udah tahu siapa yang tanya.
07:14Saya sudah kasih loh RKB-nya.
07:15Kalau kurang dia harus cari ditambang-tambang sekitarnya ya.
07:23Makasih ya, makasih deh ya.
07:26Dinda makasih Dinda.
07:27Makasih Kak Nda.
07:35Dinda, Dinda.
07:36Dinda, Dinda.
Komentar

Dianjurkan