00:03Saya secara kebetulan dipanggil oleh Bapak Presiden untuk membahas beberapa perkembangan termasuk dalamnya adalah harga krut BBM terhadap ICP.
00:18Yang kedua juga kita membahas tentang penataan tambang ke depan yang harus dimiliki oleh sebagian besar kepemilikannya oleh negara.
00:31Dan itu terkait dengan implementasi daripada pasal 33.
00:36Khususnya pertambangan-pertambangan yang baik yang lama maupun yang baru, itu nanti akan kita mencoba untuk mengoptimalkan pendapatan negaranya secara
00:46maksimal.
00:46Dan ini kita akan memakai contoh seperti pembagian hasil daripada pengelolaan migas kita.
00:53Migas kita itu kan ada cost recovery, ada growth split, mungkin pola-pola itu yang mencoba kita eksersis untuk kita
01:00bangun untuk bisa melakukan kerjasama dengan pihak swasta.
01:03Tapi itu akan konsesi lagi tambang itu kan?
01:04Ya?
01:05Tidak pakai konsesi lagi?
01:06Tetap konsesi, tetapi kita akan mengoptimalkan untuk pendapatan agar seimbang dengan negara.
01:12Dan negara harusnya akan mendapatkan porsi yang lebih besar.
01:16Itu kan instrumennya aja ya.
01:18Pak, untuk CNG Pak, pengganti LPG bagaimana?
01:20Oh iya, CNG.
01:22Jadi teman-teman tahu bahwa LPG kita ini kan 75-80% kan kita masih impor.
01:28Kebutuhan LPG kita setiap tahun meningkat.
01:32Hari ini di Candra Asri maupun di Lote itu membutuhkan 2-3 juta ton per tahun untuk bahan baku.
01:39Nah, terkait dengan konsumsi rumah tangga itu kurang lebih sekitar 7-8 juta ton.
01:44Nah, persoalannya sekarang adalah ketika gejolak politik seperti ini untuk mendapatkan kepastian impor LPG itu memang ada.
01:54Tapi kan kita tergantung pada global.
01:55Maka kita merumuskan untuk mencari alternatif lain.
01:59CNG adalah salah satu alternatifnya.
02:00Nah, si CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG sudah ada.
02:07Tapi pada klasifikasi yang 20-20 kg ke atas.
02:11Ada yang 10-10 kg ke atas.
02:13Nah, untuk yang 3 kg memang tabungnya masih dilakukan uji coba.
02:18Karena tekanannya kan besar sekali.
02:21Dia sekitar 200-250 bar.
02:23Nah, ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi.
02:25Insya Allah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya.
02:28Kemudian kalau itu sudah dinyatakan form, kita akan melakukan konversi.
02:32Sebab apa?
02:34CNG ini bahan bakunya ada semua di kita.
02:36C1, C2.
02:37Gas.
02:38Apalagi kita kan baru menemukan gas sekitar 3.000 mm di Kalimantan Timur.
02:44Nah, ini sebagian besar kita bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk men-cover CNG.
02:51Pak, ada.
02:52Proyeksi anggarannya berapa untuk CNG itu, Pak?
02:54Gimana?
02:55Proyeksi anggarannya berapa yang diperlukan untuk peralihan secara bertahap ini?
02:58Ini kan modelnya B2B aja nantinya.
03:02Jadi, pemerintahnya menyiapkan terhadap gas C1, C2.
03:09Bahwa kemudian instrumen ekosistem bisnisnya, dia itu tidak kurang atau hampir sama dengan ekosistem daripada bisnis LPG, ya.
03:20Masyarakat tadi mengeluhkan soal tarif listrik naik, Pak.
03:22Mungkin ada tanggapannya, Pak.
03:23Gimana?
03:24Masyarakat mengeluhkan di medsos tarif listrik naik di bulan Mei ini.
03:27Sebenarnya ada kenaikan atau bisa?
03:28Sampai dengan hari yang saya bicara ini dan eksersis yang kami lakukan, itu belum ada kenaikan tarif listrik.
03:38Nanti kalau ada, nanti akan disampaikan, ya.
03:42Pak, Indonesia bakal kerjasama nikel sama Filipina, ya, Pak?
03:45Gimana?
03:45Indonesia bakal kerjasama nikel dengan Filipina itu benar, ya, Pak?
03:50Jadi gini, negara kita sekarang kan masuk dalam negara yang mengandung masyarakat hilirisasi dan industrialisasi.
03:57Nah, salah satu negara yang mempunyai cadangan nikel itu kan Filipin.
04:04Tapi dia kan jumlahnya nggak banyak sebenarnya.
04:06Nah, dalam kondis kerjasama G2G itu tidak ada.
04:10Tetapi kalau memang ada B2B yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan, saya pikir opsi itu selalu ada aja.
04:18Ya, baik, makasih ya.
04:19Pak, kalau jadi 3 kilo itu bakal jadi subsidi nggak pakai LPG?
04:27Sekali lagi saya katakan bahwa untuk minyak subsidi, baik itu bensin, solar maupun LPG, tidak akan ada kenaikan.
04:40Saya katakan tidak akan ada kenaikan.
04:44Namun, untuk BBM yang sifatnya industri atau hanya untuk orang-orang yang mampu, itu penyesuaiannya berdasarkan harga pasar dan sesuai
04:56dengan peraturan menteri SDM tahun 2022.
04:59Pak, untuk si NG itu sudah dikaji belum Pak akan disubsidikan?
05:02Si NG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30 persen lah, lebih murah.
05:09Kenapa dia lebih murah?
05:10Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industri-nya kan ada di kita, di dalam negeri.
05:15Jadi tidak kita melakukan import, kos transportasinya aja udah bisa meng-cover.
05:19Dan yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya.
05:26Jadi itu jauh lebih efisien.
05:27Dan kalau ditanya apakah sudah perform untuk jalan atau tidak, pada skala yang besar udah jalan.
05:32Di daerah-daerah Jawa kan sudah dipakai, si NG.
05:34Hotel, restoran, kemudian MBG, dapur-dapur MBG sudah pakai itu.
05:40Akan memberdayakan warga lokal nggak Pak?
05:41Oh pasti dong.
05:43Dengan kita memakai CNG, insya Allah kalau teknologinya udah ada,
05:48itu mampu kita melakukan efisiensi devisa kita kurang lebih sekitar 130 triliun.
05:53Sampai 137 triliun.
05:55Dan kalau itu lebih murah, itu akan mengurangi subsidi kita.
05:59Atau kalau kita mau bantu rakyat lagi, kita akan mengurangi beban rakyat dalam kontes pembelian.
06:05Sekarang kan pertabung itu untuk LPG kan ada 18, 19, ada yang 20, bahkan ada yang lebih.
06:10Itulah kemudian di bulan Januari, Februari 2025,
06:15saya kan sempat dijadikan sebagai rujak waktu itu kan.
06:18Dan teman-teman media juga kan ikut memberitakan itu.
06:21Padahal waktu itu alat tujuan saya, bagaimana subsidi itu tersasaran.
06:26Bagaimana harga rakyat itu diberikan, jangan subsidi tersasaran.
06:30Nah tujuannya itu, harganya jangan naik gitu loh.
06:33Tapi waktu itu ya udahlah, itu pengalaman 2025 di awal kan.
06:37Tapi 2026, saya pikir kita harus inovatif, kita mencari alternatif-alternatif yang semua sumber energinya ada di negara kita.
06:45Jadi TNG nggak subsidi Pak kalau nanti dibikin jadi 3 kilo kayak gas melon itu Pak?
06:49Semuanya lagi dikaji.
06:50Opsinya subsidi masih harus lah.
06:53Tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya.
06:56Kita kok, kita belum buat kok, kalian sudah membuat ponisi itu loh.
07:00Aku bingung lah.
07:01Mas, kalau di Kalimantan dimana lagi Pak?
07:02Ya hampir semua tempat yang ada sumber-sumber gasnya ya.
07:05Tambang nilai itu katanya udah kehabisan kuota produksi Pak.
07:08Kalau kayak gini loh kalau dikasih revisiin RKB, apa sih Pak?
07:11Aku udah tahu siapa yang tanya.
07:14Saya sudah kasih loh RKB-nya.
07:15Kalau kurang dia harus cari ditambang-tambang sekitarnya ya.
07:23Makasih ya, makasih deh ya.
07:26Dinda makasih Dinda.
07:27Makasih Kak Nda.
07:35Dinda, Dinda.
07:36Dinda, Dinda.
Komentar