00:01Saya bilang itu, ada yang bilang kita mengabaikan infrastruktur, enggak kita tidak mengabaikan infrastruktur, tetap doang infrastruktur.
00:11Nanti kalau ada permintaan lagi besar kita tambah lagi.
00:15Belanja barang yang menarik apa?
00:18Ada BOS 4,8 triliun, ada stabilisasi pangan 0,9 triliun.
00:28Jadi ini semua yang menjaga stabilitas di perekonomian termasuk stabilitas harga pangan, sehingga inflasinya terjaga dan daya belinya terjaga.
00:43Jadi itu semua bukan terjadi otomatis, tapi karena intervensi pemerintah.
00:51Tumbuh 5,61 bukan tiba-tiba saja terjadi, tapi memang by design.
00:59Mudah-mudahan ke depan kita bisa teruskan itu, sehingga kita bisa tumbuh lebih cepat.
01:05Ya, 2 tahun, 3 tahun lagi kita bisa kaya bersamalah.
01:10Kita bisa tumbuh 8%, 2-3 tahun lagi kita kaya bersamalah, makan-makan lagi kita.
01:15Next.
01:20Mungkin ini subsidi komentasi ya.
01:24Ini juga sudah pernah disebutkan ya.
01:28Subsidi saya berikan untuk dijaga stabilitas perekonomian.
01:34Nah, langsung saya tanya nih.
01:36Salah satu kritik di dunia adalah, jangan beri subsidi kelebihan ketika anggaran kamu tidak mampu.
01:49Saya ditanya itu sama World Bank, kalau nggak salah, IMF.
01:56Kita bilang, kita subsidi untuk masyarakat yang kelas bawah yang nggak mampu.
02:03Tapi yang kelas atas, BBM-nya tidak kita subsidi.
02:09Makanya naikkan, nggak lama lagi naik.
02:12Ya, itu yang langkah itu yang dihargai oleh lembaga-lembaga internasional,
02:18bahwa kita nggak membabi buta subsidinya.
02:20Subsidinya terarah.
02:22Dan ini kita akan lakukan dan sudah kita lakukan dan akan kita lakukan terus.
02:29Jadi pemerintah menjaga keselian barang dengan harga bersubsidi,
02:36itu ada BBM, LPG, dan lain-lain.
02:38Tapi yang penting itu, terarah.
02:40Bukan untuk semua halangan.
02:42Hanya untuk yang betul-betul membutuhkan.
02:44Karena nggak semua orang kita beruntung, punya uang lebih,
02:48untuk bisa hidup dengan kenaikan harga yang terlalu signifikan.
02:55Itu yang dihargai oleh World Bank.
02:57Kalau nggak salah World Bank dengan IMF,
03:00jadi dia nanya ke saya,
03:02yang itu gimana?
03:02Ya nggak apa, yang ini nggak kita lepas.
03:04Saya sudah umumkan.
03:06Langsung dia anggur-anggur.
03:07Jadi memang seperti kontroversial,
03:10tapi selama targetnya pas,
03:13nggak ada masalah.
03:14Saya bilang ke mereka juga,
03:17apa gunanya saya tarik subsidi punya uang lebih,
03:20kalau kondisi sosial politiknya kacau.
03:24Saya nggak bisa bangun malah.
03:26Oke, next.
03:27Itu menurut ya.
03:31Ketanganan pangan,
03:31empusan ya.
03:33Ketanganan pangan,
03:34realisinya mencapai 53,7 triliun,
03:3725,5 persen dari APBN,
03:40yang sebesar 210,4.
03:42ini sampai di kapasitas 1 Maret melalui belanja kementerian lembaga,
03:50subsidi pupuk, buluk, dan lain-lain.
03:54Neliatur subsidi pupuk, 25,1 triliun,
03:57itu dibayar di depan.
03:59Lalu dulu kan di belakang,
04:00ini yang sudah ceritakan,
04:02ini yang membuat perusahaan pupuk kita bisa menghemat biaya dengan baik,
04:08dan bisa berproduksi dengan baik,
04:11sehingga sekarang mereka bisa mulai ekspor, katanya.
04:16Buluk juga,
04:19kita melakukan investasi pada buluk untuk mendukung pembelian beras dan gabah,
04:24dan jagung petani.
04:26Nggak ada yang kita tunda kalau emang dibutuhkan.
04:30Jadi nggak diri-iri,
04:31saya dulu kan dibayar di akhir tahun.
04:33Buluknya ngutang,
04:34sekarang nggak,
04:34kalau butuh kasih, kasih, kasih.
04:37Sekarang, saya uangnya banyak.
04:40Betul, Pak?
04:41Betul, Mas?
04:43Kata orang itu sebenghar, benghar lah.
Komentar