- 1 hari yang lalu
KOMPAS.TV - Target Menkeu Purbaya terkait Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 10.000 pada 2026 dan 28.000 pada 2029-2030 menjadi sorotan.
Kepala Riset Panin Sekuritas, Nico Laurens, menilai target tersebut tidak mudah dicapai di tengah tekanan ekonomi dan tantangan struktural pasar.
Menurut Nico, untuk mencapai IHSG 28.000, diperlukan lonjakan signifikan pada kinerja emiten, khususnya dari sisi laba bersih.
"Kalau kita pakai valuasi sekarang, berarti laba itu harus naik sampai tiga kali lipat, dan menurut kami itu cukup berat dalam waktu empat tahun," kata Nico dalam program Kompas Bisnis, Senin (4/5/2026).
Baca Juga Diterpa Kabar Sakit, Menkeu Purbaya Terlihat Jalan-Jalan di Mal Bareng Keluarga di https://www.kompas.tv/nasional/666798/diterpa-kabar-sakit-menkeu-purbaya-terlihat-jalan-jalan-di-mal-bareng-keluarga
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/666928/full-panin-sekuritas-soroti-tantangan-besar-di-balik-target-ihsg-purbaya-tembus-28-000
Kepala Riset Panin Sekuritas, Nico Laurens, menilai target tersebut tidak mudah dicapai di tengah tekanan ekonomi dan tantangan struktural pasar.
Menurut Nico, untuk mencapai IHSG 28.000, diperlukan lonjakan signifikan pada kinerja emiten, khususnya dari sisi laba bersih.
"Kalau kita pakai valuasi sekarang, berarti laba itu harus naik sampai tiga kali lipat, dan menurut kami itu cukup berat dalam waktu empat tahun," kata Nico dalam program Kompas Bisnis, Senin (4/5/2026).
Baca Juga Diterpa Kabar Sakit, Menkeu Purbaya Terlihat Jalan-Jalan di Mal Bareng Keluarga di https://www.kompas.tv/nasional/666798/diterpa-kabar-sakit-menkeu-purbaya-terlihat-jalan-jalan-di-mal-bareng-keluarga
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/666928/full-panin-sekuritas-soroti-tantangan-besar-di-balik-target-ihsg-purbaya-tembus-28-000
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:28Kompas Bisnis
00:30Ini percaya diri bahwa indeks harga saham gabungan berpeluang menembus level Rp28.000 pada periode 2029 hingga 2030.
00:42Menteri Keuangan Purbaya Yudhisa Dewa bilang keyakinan itu didasarkan pada pandangannya bahwa pergerakan pasar saham sangat ditentukan oleh kekuatan fondasi
00:53ekonomi dan siklus ekspansi pertumbuhan.
00:56Menurut Purbaya target ini bukan sesuatu yang mustahil jika ekonomi tumbuh kuat dan juga ekspansi berjalan sesuai arah yang diharapkan
01:06oleh pemerintah.
01:07Menteri Keuangan juga menambahkan meningkatnya partisipasi investor retail termasuk dari kalangan generasi muda turut menjadi faktor yang dapat mendukung penguatan
01:18pasar modal ke depan.
01:19Lebih lengkap apa kata Menteri Keuangan Purbaya soal target IHSG ke level Rp28.000 dalam waktu berapa tahun ke depan
01:28kita lihat ke grafik.
01:30Nah ini dia kata dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhisa Dewa yang menyebutkan let's say sekarang 7.000 lah ekspansi kita
01:39akan berlangsung sampai 2029 hingga 2030.
01:44Itu saya bilang bisa 4 hingga 5 kali bisalah 28.000 paling sial mereka bilang Purbaya gila.
01:52Begitu yang dibilang oleh Pak Purbaya.
01:55Ini Pak Purbaya bilang saat menyambangi Bursa Efek Indonesia pada Senin pekan lalu meski proyeksi ini sempat membuat Menteri Keuangan
02:04disebut gila.
02:05Pak Purbaya tetap optimistis level IHSG di Rp28.000 dapat tercapai untuk mendukung argumennya.
02:13Ini Menteri Keuangan juga menyinggung pengalaman historis pasar modal Indonesia.
02:18Ia membandingkan kinerja indeks pada periode 2002 yang masih berada di level sekitar 400-an kala itu namun berhasil meroket
02:27ke level 2.500 pada tahun 2009.
02:30Maka dengan asumsi IHSG saat ini berada kurang lebih di level 7.000-an ia menilai level 28.000 masih
02:38masuk akal dalam fase ekspansi panjang.
02:41Menurut Pak Purbaya lonjakan serupa bisa kembali terjadi jika pertumbuhan ekonomi nasional berkembang baik dan pasar mendapat dukungan fundamental yang
02:52juga kuat.
02:53Sementara untuk tahun 2026 Purbaya masih memproyeksikan IHSG di level 10.000.
03:00Namun tentu saudara setiap periode memiliki tantangan global dan juga domestik yang berbeda-beda.
03:05Kita lihat sejauh mana pergerakan IHSG selama awal tahun 2026 hingga penutupan perdagangan kami sepekan lalu dalam data selanjutnya.
03:15Ya ini dia saudara nyatanya hingga akhir April 2026 IHSG terjun bebas sebesar 19,55%.
03:27Ini kalau kita lihat pada awal tahun 2026 tepatnya 2 Januari pada pembukaan pasar waktu itu dan kala itu level
03:37ditutup di 8.748.
03:42Kita lihat grafiknya di sini saudara naik turunnya memang sempat naik dan berada di level all time height pada 20
03:50Januari.
03:51Kemudian turun kembali dan sempat juga volatilitasnya tinggi di sini turun lagi hingga akhirnya ini IHSG berada di level 6
03:59.956 pada penutupan perdagangan pekan lalu ditutup pada hari Kamis 30 April 2026.
04:07Kalau dilihat dari grafik ini saudara IHSG selama awal tahun naik turunnya cenderung tinggi.
04:12Bagaimana tidak IHSG sempat tembus level tertinggi sepanjang sejarah pada 20 Januari lalu ke level 9.174 namun tak berlangsung
04:23lama pada awal Februari ini terlempar ke level 7.900an dan juga sempat naik turun lagi namun tertahan di atas
04:307.000an hingga akhirnya ambles ke level 6.956 pada penutupan perdagangan pekan lalu.
04:38Faktor kombinasi global dan juga domestik ditenggarai membuat tekanan besar terhadap IHSG.
04:44Lalu seperti apa kinerja saham-saham bank BUMN yang selama ini menjadi andalan pemerintah? Kita lihat ke data berikutnya.
04:52Ini dia saudara ini sejalan dengan pergerakan IHSG kinerja hampir semua bank BUMN juga terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun
05:052026 kecuali bank tabungan negara.
05:09Kita lihat saudara dari mulai Bank Rakyat Indonesia dengan kode BBRI disini turun sangat dalam dari awal tahun 2026 sebesar
05:1718,31 persen penurunannya.
05:21Kita lihat juga Bank Mandiri dengan kode BMRI yang turun sahamnya ataupun kinerja sahamnya sebesar 13,92 persen atau minus
05:3013,92 persen.
05:32Dan juga kita lihat ada BBNI ataupun Bank Negara Indonesia di juga turun di 14,87 persen penurunan yang cukup
05:44dalam.
05:44Dan terkecuali kalau kita lihat dari gambar ataupun grafik ini kecuali BBTN ataupun BTN yang memang tumbuh dari awal tahun
05:552026 dari Januari hingga April paling tidak ini tumbuh ataupun naik sahamnya sebesar 15,32 persen.
06:04Sementara BRIS ataupun ini Bank Syariah Indonesia BSI ini penurunannya paling dalam di antara semuanya yaitu 20,40 persen.
06:17Padahal saudara dari laporan keuangan yang sudah dirilis hampir semua bank BUMN pada kuartal pertama tahun ini mencatatkan peningkatan laba
06:25bersih yang cukup signifikan dibanding tahun lalu.
06:28Di antaranya kalau kita lihat Bank Rakyat Indonesia laba bersih naik 13,8 persen mencapai 15,63 triliun rupiah.
06:37Sementara Bank Mandiri laba bersihnya juga naik secara year on year naik 16 persen jadi 15,4 triliun rupiah.
06:45BBNI juga membukukan laba bersih sebesar 5,66 triliun rupiah tumbuh 5,2 persen dibandingkan tahun lalu.
06:52Sedangkan BTN mencatatkan peningkatan laba bersih yang lebih impresif sebesar 22,6 persen atau sebesar 1,1 triliun rupiah.
07:03Sementara Bank Syariah Indonesia mengacu pada laporan keuangan Februari lalu juga tumbuh 17 persen.
07:08Dengan pertumbuhan laba bersih yang gemilang ini lalu mengapa kinerja saham bank BUMN justru rontok seberapa besar asing keluar dari
07:16pasar saham Indonesia kita lihat ke data berikutnya.
07:20Ya saudara sejak awal tahun aksi jual asing sangat deras kalau kita lihat dari data ini nominalnya ada di 48
07:31,38 triliun rupiah asing keluar dari bursa saham Indonesia sejak Januari 2026 hingga April.
07:43Kalau dihitung itu berarti Januari, Februari, Maret, April sekitar 4 bulan yang keluar dana asing adalah 48,38 triliun rupiah.
07:54Saudara data ini juga sejalan dengan aksi jual asing terhadap saham-saham bank BUMN seperti yang saya sebutkan tadi.
08:01Untung tapi juga asing keluar.
08:02Selama 2026 asing keluar di BRI sebesar 7,22 triliun rupiah, bank mandiri 7,36 triliun rupiah, BNI 2,48
08:15triliun rupiah, bank syariah Indonesia atau BSI ini 612 miliar rupiah.
08:21Hanya bank ataupun BTN yang terpantau di akumulasi asing sebesar 352 miliar rupiah sejak awal tahun 2026.
08:31Artinya apa saudara?
08:32Kepercayaan investor asing terhadap iklim investasi di pasar modal belum sepenuhnya pulih.
08:38Lalu kemudian saudara dengan kondisi pasar saham Indonesia yang terus terkoreksi, tekanan global dan domestik yang juga besar.
08:45Seberapa mungkin target Menteri Keuangan Purbaya?
08:48Ini IHSG di level 10 ribu di 2026 dan level 28 ribu di 2030.
08:56Bisa tercapai sentimen dan juga katalis apa saja yang diperlukan agar target ini bisa tercapai di tengah lembaga pemeringkat global
09:04yang menurunkan outlook Indonesia.
09:06Kita bahas usai jeda.
09:07Tetaplah bersama kami di Kompas Bisnis.
09:09Anda masih bersama kami di Kompas Bisnis.
09:12Saudara apa saja yang perlu dilakukan pemerintah agar target IHSG ke level 10 ribu di 2026 dan 28 ribu di
09:192030 bisa tercapai?
09:21Apa yang bisa diyakinkan kepada lembaga pemeringkat dan investor asing agar kembali berinvestasi di pasar modal Indonesia?
09:28Kita tanya langsung Niko Lorenz, Kepala Riset Panin Sekuritas.
09:31Mas Niko, selamat pagi. Apa kabar?
09:35Pagi Mas Yan, kabar lebih baik.
09:36Oke Mas Niko, ini kan kemarin, tepatnya pada hari Senin kalau tidak salah, Pak Purbaya mengungkapkan soal target IHSG di
09:4628 ribu pada periode 2029-2030.
09:50Dengan kondisi saat ini banyaknya tekanan, apakah menurut Anda masuk akal?
09:56Karena kalau kita lihat target ini untuk 3 sampai 4 tahun ke depan.
10:00Sedangkan kalau kita melihat histori, selama 5 tahun terakhir saja IHSG cenderung stagnan, tidak bergerak kemana-mana.
10:07Iya, jadi kalau dari kita sih ngeliatnya kayaknya lumayan tough ya Mas.
10:13Maksudnya untuk mencapai target 28 ribu ya, karena kalau kita melihat fair value IHSG itu kan sebenarnya fungsinya kan dua.
10:20Itu adalah price earnings, target, istilahnya target multiple-nya itu berapa harusnya wajarnya, sama earnings per share-nya sebenarnya, laba
10:30yang dihasilkan.
10:31Nah, jadi kayak key-nya adalah kita mungkin starting-nya dari earnings per share dulu ya, atau laba bersih.
10:37Karena kalau untuk mencapai 28 ribu, berarti artinya kan kalau asumsi dengan valuasinya sekarang, misalnya kita 15 kali laba,
10:45itu berarti kan kayak kita harus 1.867 ya, berarti artinya kalau sekarang laba bersih rata-rata semua company yang
10:53ada di IHSG dihitung,
10:54itu kan sekitar 500-an ya, 500-550, berarti artinya kita naik laba 3 kali lipat.
11:01Jadi artinya kalau kita ngomongin tadi growth, asumsinya Pak Purbayo kasih statement misalnya,
11:06itu akan didorong oleh pertumbuhan ekonomi, menurut kita juga agak tough Mas.
11:10Karena artinya kan berarti labanya naik 3 kali lipat dalam 4 tahun gitu ya.
11:14Kalau kita asumsinya agresif, ekonominya 8%, kita bilang bahwa laba-laba emiten mungkin bisa lebih signifikan lah asumsinya 20%,
11:23itu pun tidak bisa mencapai, maksudnya di level 1.867.
11:28Jadi laba ini untuk mencapai naik sampai 3 kali lipat, menurut kita tough ya,
11:33apalagi kalau kita coba breakdown by composition-nya kan sebenarnya banking ini bobotnya paling besar gitu ya, positioning-nya.
11:40Banking beberapa tahun lalu nggak terlalu bagus, tahun ini juga performanya sedikit tertekan dari sisi spread profitability, net interest margin
11:50-nya.
11:50Nah jadi dari laba agak tough.
11:53Kedua adalah ekspektasinya mungkin orang akan melihat ada potensi re-rating.
11:57Re-rating itu sebenarnya berarti sama kayak sam-sam di Korea, misalnya Kospi, sam-sam di Amerika yang sebenarnya valuasi
12:05price earnings-nya bisa diperdagangkan sampai 20 kali.
12:07Kenapa mereka bisa diperdagangkan premium gitu ya, karena sektor-sektornya tuh lagi favor, misalnya.
12:14Kalau kita ngomongin IT, semiconductor, infrastructure technology, itu AI misalnya, itu sam-sam itu di Kospi dan Korea itu sangat
12:24dominan.
12:25Jadi growth-nya muncul kelihatan jadi orang berani bayar mahal buat sam-sam Korea dan juga US gitu.
12:30Jadi nah ini sam-sam yang seperti ini, itu bisa diperdagangkan tuh bisa 20 kali.
12:35Kalau kita lihat di US tuh sekarang PE, S&P tuh bisa sampai 21 kali, Korea juga sekitar 20 kali.
12:42Nah pertanyaan apakah Indonesia ada kayak premium yang bisa ditawarkan ke investor sebenarnya?
12:48Karena structure-nya kita kan sebenarnya basic commodities kan?
12:51Mas kita kan biasanya kayak kita jualan CPO, jualan batubara, bukan yang sebenarnya typical tech-related.
12:58Nah kalau kita misalnya bisa save ke tech-related gitu, kayak misalnya beberapa negara tetangga, kayak misalnya Malaysia,
13:04orang udah mulai appreciate tuh maksudnya beberapa, karena berarti Indonesia bisa kasih growth yang sebenarnya di atas rata-rata dan
13:10jauh significance gitu.
13:11Cuma kalau kita secara ekonomi itu kita masih base-nya atau adalah resources atau sumber daya, menurut kita sih kayaknya
13:19agak lumayan berat sih Mas Jan.
13:22Mas Diko, kalau tadi saya mendengar dari Anda bahwa kenaikan laba perusahaan hingga belasan kali begitu yang menjadi faktor yang
13:31bisa menentukan atau menemicu target ini,
13:34kalau kita ngomongin katalis dan juga sentimen luar biasa apa saja sih selain yang tadi disebutkan oleh Mas Niko yang
13:40diperlukan agar target ini bisa tercapai?
13:44Iya, sebenarnya kombinasinya banyak ya.
13:48Maksudnya kalau kita ngomongin indeks emerging market itu biasanya selalu positif kalau seandainya liquidity-nya muncul.
13:55Nah liquidity muncul itu tuh biasanya kalau seandainya kita mungkin balik ke jaman-jaman,
14:01misalnya kayak contohnya ekonomi nggak terlalu bagus gitu ya, post-crisis 2008 atau setelah krisis tahun 2000,
14:08itu kan berarti artinya bank sentral ini bakal pangkas suku bunga gitu ya,
14:12bakal pangkas suku bunga, bakal glontorin M2, uang-uang beredarnya banyak.
14:17Atau pemerintah pun untuk push ekonomi, mereka defisitnya dilebarin gitu ya,
14:22defisitnya dilebarin, semua negara dilebarin, akhirnya uang-uang ini tuh bisa masuk ke emerging market gitu ya.
14:27Nah jadi itu sih, cuma di posisi sekarang ini kan sebenarnya kalau kita ngomongin dari sisi inflasi,
14:33kebijakan kontrol moneter, itu kan tergantung sama inflasinya kan.
14:37Kalau misalnya inflasinya itu tinggi, mau nggak mau biasanya kebijakan akan lebih ketat.
14:42Karena biasanya pasti bank sentral akan kejar stabilitas dulu.
14:45Jadi di posisi itu kayaknya agak susah.
14:47Di fase yang sekarang suku bunga kita akan dipangkas atau kebijakan moneternya itu longgar.
14:53Jadi itu kayaknya unlikely.
14:55Kedua adalah sebenarnya kita ngelihat dari sisi tensi geopolitik.
14:59Karena kalau kita mau melakukan valuasi ISG itu kan salah satunya adalah namanya risk premium.
15:04Itu premi resiko.
15:06Ketika misalnya ekonomi lagi nggak terlalu bagus, volatility lagi nggak terlalu bagus,
15:10orang biasanya punya ekspektasi tinggi,
15:12kalau misalnya mau masuk saham, dia bisa ngasih returnnya bisa nggak lebih tinggi.
15:17Nah, jadi kalau premi resiko itu akan meningkat tuh mas biasanya ketika kondisi-kondisi ekonomi itu lagi nggak terlalu bagus
15:23kayak sekarang gitu ya.
15:24Tensi masih jalan terus, selamat hormus masih di-close, harga minyak itu masih 110 gitu ya.
15:30Ada banyak, apalagi kalau kita ngelihat kayak saham-saham di Amerika sekarang itu kan ada yang punya concern bahwa
15:37kok saham-saham ini kayaknya lumayan beresiko ya.
15:41Kayak contohnya kita lihat di Amerika sekarang itu namanya ada Shiller,
15:44Price Earnings Ratio, itu adalah kayak valuasi saham di-adjust sama secara cyclical-nya, capek namanya.
15:51Nah, itu tuh tertinggi sejak jaman-jaman tahun 2000.
15:55Wah, di kondisi yang sebenarnya tensi geopolitik masih tinggi, harga minyak tinggi,
15:59kok bisa ya valuasinya premium?
16:00Jadi, maka orang lagi berpikir, apakah ini ekonominya connect atau disconnect gitu ya.
16:05Nah, cuma kan so far lah, banyak masih bagus.
16:07Cuma kalau kita nanti lihat beberapa data nggak bagus,
16:11earnings turun karena harga minyak itu naik,
16:13nah ini pasti akan ada hukuman dari pasar gitu ya.
16:16Nah, jadi kalau kita lihat bahkan kayak beberapa yang besar pun udah sedikit konservatif.
16:20Kayak tadi pagi misalnya si Gary Schilling ini salah satu ekonom legenda,
16:25dia bilang bahwa pasar US itu bisa koreksi sampai 20-30%.
16:28Nah, selalu sama, selalu siklusnya tuh kalau misalnya US market itu koreksi,
16:32pasti istilahnya namanya ada contigien.
16:35Contigien itu artinya semua aset-aset yang berisiko itu korelasinya mendekati satu
16:40dan saham Indonesia pasti bakal ikutan kena gitu.
16:43Jadi, US market kena, semua investor saham bakal ngejual posisinya di aset yang berisiko
16:49seperti saham dan saham Indung pasti bakal kena.
16:51Jadi, yang kedua ini menurut kita tough karena premium risiko.
16:54Ketiga adalah sebenarnya corporate governance yang sebenarnya investor lagi coba cermatin.
16:58Karena selalu sama tuh mas, jadi kalau kita kan sebenarnya lagi coba lihat review MSCI yang terakhir ya.
17:05Walaupun sebenarnya base key skenario saat ini adalah kita tidak di downgrade ke frontier market,
17:12cuman investor masih punya perspektif bahwa,
17:14wah Indonesia ini setelah kejadian kemarin terkait dengan free float,
17:19terkait dengan ternyata saham-saham free float itu tidak mencerminkan data actualnya,
17:24investor itu jadi mendiskown.
17:26Mendiskown itu artinya, wah ini kayak tata kelola itu kan penting ya,
17:30apalagi kita ngomongin di global situ kan mekanismenya itu kan banyak yang melalui pasifan gitu.
17:36Jadi, orang investor itu akan coba lihat nih sebenarnya tata kelola dari suatu negara.
17:41Nah, kalau itu misalnya tata kelolanya nggak diberesin misalnya,
17:44kita ngeliat kayak ada beberapa konser, ternyata saham-saham ini,
17:47kita ini masih menyembunyikan data-data asli free float-nya,
17:52maka pasti bakal mendiskown.
17:53Nah, jadi tiga kombinasi itu yang menurut kita penting ya.
17:56Selain keempat, yang menurut kita juga lumayan concern adalah,
17:59investor itu kan kalau misalnya mau masuk suatu investasi itu kan akan coba melihat stabilitas nilai tukar.
18:06Nah, stabilitas nilai tukar itu ya sesimpel bayanginnya kalau kita misalnya mau masuk Indo,
18:10kita pakai rupiah, misalnya rupiahnya melemah gitu ya.
18:13Kita invest di ETF-nya Indo.
18:15Untung misalnya asumsinya 8%, gitu.
18:17Cuma rupiahnya bisa melemah 10%.
18:19Berarti kita udah net rugi 2%.
18:21Nah, rupiah itu jadi salah satu faktor penting, investor mau masuk atau nggak suatu negara.
18:27Oke.
18:27Posisi sekarang sebenarnya rupiah ini kan lagi under pressure ya, Mas Yann ya.
18:32Karena konser utama investor itu adalah structural dari sisi kita punya defisit APBN.
18:37Karena kalau kita lihat kan dengan harga minyak tinggi, asumsi dolar kita 70, makin lebar defisitnya.
18:44Wah, ini ada possibility bahwa kayak trend utang itu masih tinggi,
18:48itu ada risiko, akan kasih tekanan buat rupiah.
18:51Apalagi kalau kita ngomongin dari sisi pendapatan kita, pajak kita,
18:56itu setengahnya 40-45% itu dibayarkan untuk pokok dan juga bunga.
19:01Nah, kalau seandainya uang ini dipakai buat pokok dan bunga,
19:05ketumbuhannya kemana nih?
19:06Belanja model yang kayak contohnya misalnya buat kayak
19:09pakai bergizi gratis, misalnya infrastructure.
19:12Karena setengahnya aja udah dipakai buat pokok dan juga bunga, gitu ya.
19:15Jadi, ini yang sebenarnya bikin investor beberapa kayaknya agak.
19:20Di fasenya sekarang lumayan worried sih, Mas Yann.
19:23Berarti artinya itu sebetulnya itu butuh waktu juga
19:26untuk menarik lagi investor ke Indonesia dan butuh strategi begitu.
19:29Kalau kita balik lagi ke target dan juga proyeksi
19:33dari Menteri Keuangan Purbaya Yudisa Dewa
19:35yang menyebutkan bahwa targetnya itu 28 ribu
19:38di periode 2029 dan 2030.
19:41Namun untuk 2026, itu targetnya di 10 ribu.
19:44Tapi kalau kita ngomongin soal target dan juga proyeksi,
19:47tidak bisa dihindari soal historinya juga ini, Mas Niko.
19:50Kan sejak awal tahun ini ISG terkoneksi lebih dari 19 persen.
19:55Ini dari grafik juga 19,55 persen begitu penurunannya.
19:59Apakah ini sebetulnya, histori ini bisa dijadikan cerminan
20:03terhadap proyeksi IHSG secara jangka pendek hingga akhir tahun 2026?
20:08Karena kan targetnya tadi, seperti disebutkan, 10 ribu.
20:12Iya. Kalau di fasenya sekarang ini, sebenarnya ini, Mas.
20:15Mungkin ada sedikit perubahan ketika dulu kita indeks 9.100 itu kan
20:20sebenarnya by structural itu didorong dari sam-sam konglomerasi.
20:25game-nya waktu itu secara strukturalnya adalah konglomerasi itu akan menjadikan
20:30MSCI itu sebagai exit liquidity.
20:33Jadi, mereka akan coba kayak angkat harganya gitu ya, sampai ke level tertentu.
20:38Kalau mereka udah masuk kayak ke MSCI, berarti artinya ada kayak flow dari investor luar.
20:44Dan mereka bisa keluar di situ.
20:46Nah, cuman game-nya udah sedikit berbeda nih.
20:48Jadi, kalau kita lihat itu kan sebenarnya kebijakan terakhir itu adalah
20:51ini bisa dibilang lebih meng-discourage itu buat sam-sam konglomerasi sekarang.
20:58Karena dengan contohnya, misalnya kita ngomongin kayak contohnya sum brand gitu ya.
21:03Hitung-hitungan free float-nya atau sum yang dimiliki oleh masyarakat itu
21:07sebenarnya secara statement-nya 13%.
21:09Cuman ternyata data actual misalnya shareholder concentration list-nya
21:13ternyata yang pegang itu bukan masyarakat nggak sampai 13%.
21:17Ternyata data yang megang itu cuma sekitar 2,5-3% aja.
21:21Nah, berarti artinya adalah
21:23discourage sebenarnya buat konglomerasi itu buat masuk ke MSCI.
21:27Oke.
21:28Nah, jadi ini yang kita lihat secara struktural ini
21:30kayaknya konglomerasi yang dulu bobotnya sampai 40%
21:34di ISG, ini pasti bakal tertekan.
21:36Jadi, kita nggak bisa ngelihat kayak cycle-cycle
21:39yang sebenarnya kayak indeks kita tuh bisa balik ke 9.100 gitu.
21:44Karena kalau kita lihat performa banking kita kan sekarang nggak terlalu bagus ya.
21:48Kalau kita kan performa banking nggak terlalu bagus.
21:51Lagi investor kan worried beberapa hal gitu.
21:53Soal pertumbuhan, soal ternyata ada ekspektasi bahwa beberapa kredit itu
21:57ternyata ada intervensinya pemerintah gitu ya.
22:00Misalnya kayak contohnya didorong untuk push.
22:03Misalnya kayak contohnya makan bergizi, KDMP, dan lain-lain.
22:05Ada beberapa concern dari sisi investor gitu.
22:08Jadi, secara struktural menurut kita agak tough sebenarnya.
22:12Oke.
22:12Nah, jadi di fase itu yang kita lihat kayaknya buat mencapai indeks target 10.000 pun
22:18lumayan berat sih masiannya.
22:20Lumayan berat ya.
22:21Karena itu, maksudnya kalau di fase yang sekarang itu ya paling ekspektasinya
22:24consumer sekarang lagi nggak terlalu bagus gitu ya.
22:26Kita yang bobot kedua terbesar itu kan adalah consumer.
22:29Consumer itu kalau kita melihat beberapa cost composition-nya itu
22:32kayak contohnya packaging, harga plastik itu lagi naik semuanya.
22:36Sekarang harga bahan baku kayak contohnya gandum, coklat,
22:39itu juga lagi pada naik.
22:40Itu akan kasih pressure sebenarnya.
22:41Kalau kita lihat emiten-emiten, tumbuhnya juga labanya nggak sampai double digit.
22:46Mayora, Indofood.
22:48Jadi, lumayan berat.
22:49Oke.
22:49Kalau kita bahas kayak misalnya kayak contohnya otomotif,
22:52sekarang data juga lagi nggak terlalu bagus gitu ya.
22:54Kalau kita lihat property, kalau kita lihat penjualan marketing sales,
22:57beberapa emiten, data nggak terlalu bagus juga.
22:59Jadi, sektor-sektor consumer good ini pun kelihatan bahwa
23:03kalau perbankan ngasih kredit, itu mereka tahan.
23:06Karena mereka takut.
23:07Kalau misalnya kita salurin buat ke property sama otomotif,
23:10takutnya jadi gagal bayar.
23:12Karena NPL-nya lagi pada tinggi, mas.
23:13Jadi, saya lihat, oh kok kayaknya agak susah nih di fase yang sekarang.
23:17Baik.
23:17Bro, kita sekarang ini munculnya adalah dari commodities.
23:21Batubara lagi naik semuanya ya.
23:23Kalau kita lihat nickel juga harganya lagi bagus gitu ya.
23:26Dan bisa dibilang kan komoditas ini kan menjadi hedging untuk inflasi.
23:30Nah, growth-nya muncul dari situ.
23:31Cuma kan bobotnya nggak sebesar banking plus consumer gitu ya.
23:35Sama sektor-sektor tadi tuh.
23:37Misalnya ada otomotif, ada property gitu.
23:39Jadi, agak susah sih, mas.
23:41Di fase sekarang kita lagi coba cermatin nih.
23:43Kira-kira pertumbuhannya, growth-nya muncul atau nggak sebenarnya.
23:47Oke.
23:47Agak sulit ya untuk menembus level 10 ribu begitu di akhir tahun ini
23:51dengan begitu banyaknya tekanan.
23:52Sebelum kita membahas soal banking yang tadi sempat dimensin oleh Mas Niko,
23:57tadi juga Mas Niko sempat menyebutkan terkait dengan MSCI begitu
24:01yang masih menunda rebalancing-nya hingga saat ini.
24:04Ada juga selain MSCI, sejumlah lembaga pemeringkat menurunkan outlook Indonesia.
24:09Ada juga S&P yang baru akan mengeluarkan rilis Juni nanti yang perlu diwaspadai.
24:13Apa yang perlu diperhatikan dari lembaga-lembaga ini ke depan terhadap situasi pasar saham Indonesia?
24:21Iya, jadi kalau kita lihat sih sebenarnya ini ya,
24:24kan kita tahu bahwa beberapa lembaga ini sudah menurunkan outlook
24:28dari yang sebelumnya neutral itu ke negatif.
24:31Artinya apa?
24:32Sebenarnya bahwa ada possibility secara rating obligasi itu bisa diturunkan dalam 12 bulan ke depan.
24:39Jadi arti turun itu adalah ada possibility bahwa rating obligasi kita bisa diturunkan.
24:44Nah, sebenarnya kan kekhawatiran investor ini sebenarnya selalu sama ya.
24:48Kenapa dulu kita sempat di-upgrade?
24:50Kenapa sekarang kayak kita di-downgrade?
24:52Nah, kalau kita lihat lembaga rating, itu kan sebenarnya mereka fokusnya ke obligasi.
24:56Risiko gagal bayar gitu ya.
24:58Risiko gagal bayar.
24:59Nah, risiko gagal bayar kayak mungkin kita ngeliatnya suatu negara dan suatu emiten
25:03punya point of view yang sama.
25:05Jadi kalau kita ngeliat pertama adalah uangnya ada atau enggak.
25:08Nah, kalau kita ngomongin uangnya Indonesia, pasti uangnya orang pasti mikirnya ada gitu.
25:12Cuma ingat bahwa struktural dari sisi panjang kita itu cuman dari ekonomi itu cuman 9%.
25:20Wah, ini kita belum kayak maksimalkan sebenarnya dari sisi struktur revenue gitu ya.
25:24Makanya kalau kita lihat kan pemerintah dalam beberapa bulan terakhir itu agresif kejar dari sisi struktural revenue-nya.
25:31Kayak contohnya misalnya harga patokan mineral itu diterapkan.
25:35Harga batu barah acuan diterapkan biar mereka bisa dapat royalty.
25:37Kalau kita lihat yang melanggar-melanggar itu dikejar biar dapat biaya sanksi.
25:43Kalau kita ngeliat dari kayak cukai itu dikejar.
25:45Jadi ada kemarin jalan tol ada sempat dibahas insentif PPN.
25:49Intinya struktural revenue-nya ini harus diberesin.
25:51Nah, kalau angka struktural revenue itu GDP-nya itu bisa pelan-pelan naik,
25:54itu ada possibility kita bisa enggak diturunkan sebenarnya.
25:58Oke, itu isinya panjang nih mas.
26:00Itu butuh waktu sebenarnya.
26:01Nah, terus yang kedua adalah itu.
26:03Kita ibaratnya kayak investor worried bahwa dari posisi pajak yang sekarang,
26:09itu 20% itu dipakai buat bunga.
26:13Dan 45% dipakai buat bayar bunga dan juga pokok.
26:16Nah, ini kalau misalnya enggak diberesin gitu ya.
26:18Kita enggak pelan-pelan, enggak ketergantungan untuk bayar bunga.
26:21Nah, ini pasti investor akan appreciate.
26:25Karena uang ini bisa jadi pertumbuhan.
26:26Kalau dulu, kita kan sempat di-upgrade karena si lembaga rating ini ngeliat bahwa Indonesia itu shifting dari sisi budgetnya.
26:34Dulu kita tipikannya yang modelnya konsumtif gitu ya.
26:37Konsumtif artinya adalah enggak ada efek multiplayernya tuh, Mas Yian.
26:42Karena kalau misalnya kita kayak contohnya,
26:44mereka ngeliat bahwa kayak kita contohnya dulu aja infrastructure,
26:47sampai 400 triliun, 405 triliun, 450 triliun tiap tahun.
26:51Itu ada efeknya kayak ekonomi.
26:53Multiplayernya muncul, logistik cost-nya bisa turun.
26:55Nah, mereka appreciate.
26:57Cuma kalau kebijakannya dianggap konsumtif gitu ya,
27:00seperti yang kayak beberapa hal misalnya,
27:02dengan makan bergizi dan lain-lain,
27:04investor dari lembaga rating ini ngeliatnya,
27:06wah, ini kok multiplier efeknya agak sedikit terbatas.
27:10Nah, jadi itu sih.
27:11Kedua adalah ini, Mas.
27:13Kalau kita ngeliat struktur ini kan sebenarnya yang menjadi konsumtif ini kan adalah defisit APBN.
27:17Setelahnya bisa tembus tiga atau enggak.
27:19Tembus tiga atau enggak ini sangat tergantung pemerintah.
27:21Mereka bisa kayak merealokasi misalnya kayak belanja-belanja,
27:25itu ke beberapa post yang sebenarnya lebih strategis misalnya.
27:28Kemarin kan EBG dari 6 hari pangkas 5 jadi 4 misalnya sekarang.
27:33Nah, cuman struktural subsidi kita itu yang jadi perhatian.
27:37Karena setiap 1 dolar kenaikan harga minyak,
27:42itu dampak buat ke defisit kita itu bisa makin lebar 7 triliun.
27:45Oke, baik.
27:46Pertanyaan adalah ini minyak mau kemana?
27:47Di posisi sekarang kan masih tinggi.
27:49Nah, jadi kalau kita lihat itu minyak asumsi daya APBN kita 70,
27:53sekarang actual minyaknya itu 110.
27:55Nah, jadi di komposisi belanja subsidinya ini masih tertekan sebenarnya.
28:00Nah, jadi dengan kombinasi-kombinasi itu,
28:02dari sisi lembaga rating masih melihat bahwa,
28:05oh, ruang Indonesia defisit lebih dari 3% itu masih ada sebenarnya.
28:12Nah, kalau seandainya kita kan nggak 3% ya,
28:14berarti kan artinya adalah kita akan kayak mengurangi belanja-belanja itu tadi
28:18untuk ke subsidi misalnya.
28:20Berarti artinya growth-nya akan lebih terbatas kan.
28:23Nah, growth pasti orang akan lari ke equity.
28:27Karena kalau kita ngomongin dari sisi saham,
28:29pasti mereka investasi itu akan cari ini bisa tumbuh apa nggak.
28:32Nah, kalau uang yang masuk itu udah yang dari belanja pemerintah itu kan
28:36kalau kita ngomongin ekonomi ini 55% kita belanja,
28:40government spending itu kan sekitar 3.000 triliun,
28:44berarti sekitar 1.6 ya,
28:451.6 atau ya berarti sekitar 16% dari ekonominya.
28:49Nah, kalau misalnya belanja pemerintahnya nggak sebesar itu,
28:53berarti artinya kan growth kita yang dikompensasi.
28:55Makanya kemarin IMF, World Bank itu udah revisi turun.
28:59Nah, kalau tumbuhan ekonominya ternyata nggak setinggi yang dibayangkan misalnya 6%,
29:04nah itu pasar bisa terkoreksi lagi tuh, mas.
29:06Karena mereka udah membayangkan bahwa ekspektasi kita ekonominya bisa tumbuh sekitar 6%.
29:11Oke.
29:12Jadi itu sih.
29:13Mas Niko, tadi sempat membahas soal sektor saham perbankan begitu.
29:18Kita tunjukkan di gambar, ini kinerja saham Bank BUMN yang selalu menjadi andalan pemerintah.
29:23Ini hampir semuanya turun selama year to date begitu.
29:26Dan penurunannya sangat dalam, termasuk BRI, Mandiri, BNI, dan juga Bank Syariah Indonesia,
29:32terkecuali BTN begitu yang tumbuh 15,32%.
29:36Padahal kalau kita melihat laporan keuangan kan sebagian besar sudah keluar.
29:40Seluruh, hampir seluruh dari Bank BUMN ini menunjukkan adanya peningkatan lapar bersih yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun lalu.
29:49Analisis Anda mengapa demikian?
29:50Apakah tadi faktor dari kebijakan pemerintah yang juga turut mempengaruhi investor untuk membeli, paling tidak retail, membeli, dan juga asing
30:01membeli saham-saham ini?
30:04Iya, jadi kalau kita melihat sih sebenarnya kalau laporan keuangan perbankan yang khususnya buat yang SOI, BUMN itu orang melihatnya
30:13kan growth-nya lumayan ya.
30:15Masihannya, cuman ini kita melihatkan sebenarnya kalau kita coba breakdown datanya itu kan kita lihat pertumbuhan kreditnya lumayan tinggi.
30:23Jadi, bank-bank itu target biasanya cuman 8-10%, beberapa bank kayak BNI, BRI yang udah rilis, itu BTN, itu
30:31growth-nya bisa sampai sekitar 20-30%.
30:34Jadi, kalau kita coba breakdown, itu di dalamnya ada korporasi.
30:37Kalau di dalam korporasi itu, satu-satunya adalah KDMP yang lumayan dominan, itu adalah Koperasi Desa Merah Putih.
30:43Jadi, udah ada kredit yang sebenarnya muncul ke situ.
30:46Nah, cuman itu dari sisi growth-nya.
30:48Nah, cuman kita kalau coba lihat dari sisi profitability itu, Mas Yan, itu ada namanya net interest margin.
30:55Jadi, net interest margin itu adalah spread antara aset yield, jadi ibaratnya bunga yang kita salurkan buat ke semua aset
31:02kita, buat kredit, kita dapet uang dari obligasi, dipotong sama biaya yang kita bayar buat ke yang nabung, misalnya deposito,
31:10obligasi, itu kan ada spread-nya.
31:12Cuman, kalau kita melihat dari spread, itu tertekan.
31:15Spread tertekan itu fungsinya dua, karena pertama adalah kan suku bunga udah turun berapa kali, kita ada terakhir 4,75%,
31:23jadi pasti mekanisme lending itu pasti bakal turun.
31:27Kedua adalah kalau kita ngomongin dari sisi KDMP ini, secara volume bagus ya, maksudnya nolong gitu.
31:34Cuman, kalau kita lihat secara spread profitability, sebenarnya relatifnya terbatas, karena ini typical loan atau lending yang sebenarnya secara bunga,
31:43bank itu dapetnya 6%, biaya funding-nya itu dari pemerintah dapat 5%, makanya spread dari sisi net interest margin-nya
31:50agak sedikit tertekan.
31:51Nah, jadi itu sih Mas, sebenarnya. Nah, cuman pertanyaan kedua, kira-kira kuartal 2, kuartal 3, kuartal 4 akan seperti
31:59apa sebenarnya?
32:00Tentu ya nanti ya, bagaimana di kuartal ke-2, ke-3, dan juga ke-4, apakah akan jauh lebih baik
32:07lagi begitu?
32:08Karena memang banyak sekali, kalau kita melihat market cap juga BRI, mandiri juga terhitung banyak begitu yang memegang saham-saham
32:17ini.
32:17Terima kasih, Kepala Riset Panin Sekuritas, Niko Lorenz, atas penjelasan bersama kami di Kompas Bisnis. Sehat selalu, Mas.
32:25Terima kasih.
Komentar