Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Meski gencatan senjata diberlakukan, namun militer Israel masih juga menyerang wilayah Lebanon dengan dalih menyerang Hizbullah.

Tindakan Israel ini justru semakin memperkeruh usaha perdamaian di Timur Tengah. Lalu apakah perdamaian di timur tengah masih jauh dari harapan? kita bahas bersama Pengamat Timur Tengah Hasibullah Satrawi dalam program Kompas Malam, Sabtu (4/5/2026).

Video Editor: Laurensius Galih

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/666810/lebanon-memanas-israel-langgar-gencatan-senjata-begini-analisis-pengamat-timur-tengah
Transkrip
00:00Israel terus melanggar gencatan senjata yang dimulai 17 April lalu dan kemudian diperpanjang hingga pertengahan Mei.
00:07Israel mengklaim serangan mereka menargetkan kelompok Lebanon, pro-Iran, dan Hezbollah.
00:12Namun kenyataannya, saudara, justru banyak korban yang merupakan warga sipil.
00:19Serangan Israel yang diklaim menyasar Hezbollah dan warga pro-Iran menyebabkan kerusakan luar biasa di Lebanon.
00:26Tak hanya kerusakan infrastruktur, korban jiwa pun berjatuhan.
00:30Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut 41 orang tewas selama 24 jam dalam serangan udara terbaru Israel pada Sabtu lalu.
00:43Sementara itu diserang, Hezbollah tidak tinggal diam.
00:47Serangan Hezbollah menyasar tentara dan kendaraan perang Israel.
00:50Hezbollah mengklaim telah menewaskan tiga tentara Israel, sementara itu lebih dari 3.100 orang terluka.
01:03Saling serang Israel dan Hezbollah seiring dengan perangiran dan Amerika Serikat, saudara.
01:09Korban tewas dan luka di Lebanon terbanyak sejak 2 Maret lalu.
01:13Total korban tewas mencapai 2.569 orang.
01:17Sementara korban luka 8.183 orang.
01:28Meski gencatan senjata diberlakukan, namun militer Israel masih juga menyerang wilayah Lebanon dengan dali menyerang Hezbollah.
01:36Tindakan Israel ini justru semakin memperkeruh usaha perdamaian di Timur Tengah.
01:40Lalu apakah perdamaian di Timur Tengah masih jauh dari kata harapan?
01:43Kita bahas bersama pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi.
01:47Selamat malam Pak Hasibullah.
01:49Selamat malam Mbak Dian.
01:52Ya Pak Hasibullah, Israel masih terus menyerang Hezbollah.
01:55Mereka masih saling serang.
01:57Dan apakah Anda melihat ini menjadi penghambat negosiasi damai antara Amerika Serikat dan juga Iran?
02:03Ya, saya rasa memang Lebanon merupakan persoalan tersendiri dengan segala macam kompleksitasnya.
02:10Bahkan saya menyebutnya Lebanon itu ibarat seperti barang di atas perahu yang bergerak.
02:18Kalau diharapkan barang itu diam sementara perahunya terus bergerak, maka itu adalah hal yang mustahil.
02:25Perahu itu adalah termasuk diantaranya kondisi di Iran, kondisi di Israel, kondisi di Palestina, dan kondisi di sekitar Israel secara
02:33umum.
02:33Saya ingin mengatakan ada keterkaitan di satu sisi di antara konflik-konflik yang ada di Israel dan sekitarnya,
02:42tapi juga ada keterputusan di sisi yang lain.
02:45Walaupun terminologi terputus dan terhubung terkait dengan konflik di Temur Tengah sekarang ini seringkali digunakan secara politis oleh para pihak.
02:55Misalkan Iran, ketika Iran mengaitkan Lebanon sebagai bagian daripada wilayah ginjatan senjata,
03:02maka sebenarnya itu juga mengandung dimensi politik.
03:06Karena dengan itu Iran ingin memasukkan Hezbollah di dalam dirinya,
03:11dan itu merupakan satu bagian daripada kelompoknya.
03:16Walaupun pada waktu bersamaan, Iran belum pernah koordinasi dengan otoritas di Lebanon.
03:20Hal yang sama sebenarnya juga dari sisi Israel.
03:23Ketika Israel menganggap Lebanon persoalan yang terpisah,
03:27itu adalah persoalan yang juga politis, sikap yang juga politis.
03:31Karena pada ujungnya dengan memisahkan Lebanon dari Hezbollah,
03:36maka sebenarnya mereka ingin memecah belak.
03:38Dan ketika mereka menganggap Lebanon sebagai sebuah persoalan terpisah,
03:43mereka tidak betul-betul mau bermosyawara, mau bernego dengan Hezbollah.
03:48Nah itu yang saya bilang, terma terpisah dan terputus dalam konteks konflik-konflik ini
03:54sebenarnya bermuatan politis.
03:56Sebenarnya harus ada energi untuk kemudian betul-betul memisahkan satu sama lain
04:02dalam konteks agar persoalannya selesai.
04:04Tapi bukan justru dalam konteks mengaitkan satu sama lain
04:07dan membuat kabur di antara satu persoalan dengan persoalan yang lain.
04:12Begitu Mbak Dia.
04:13Baik, ini adalah politis tapi apakah Anda melihat situasi saat ini
04:17seberapa besar konfliknya nantinya bisa meluas ke wilayah lain, eskalasinya?
04:23Pak Sibulo.
04:24Seperti yang saya bilang tadi, kalau perahunya masih terus bergerak,
04:28yaitu konflik Iran dan Amerika,
04:31maka hampir mustahil barang di atasnya itu dibiarkan berhenti.
04:36Saya ingin mengatakan, kalau konfliknya Iran, Amerika dan Israel masih membara,
04:41hampir mustahil, Lebanon akan betul-betul dipisahkan.
04:45Akan betul-betul diselesaikan.
04:47Sekali lagi, minimalnya Hezbollah tidak akan pernah mau menerima logika itu.
04:51Bagi Hezbollah, selesainya persoalan Iran,
04:54selesainya persoalan Amerika, serangan Amerika terhadap Iran,
04:58itu menjadi syarat, itu menjadi ketentuan
05:01untuk kemudian membuat dia bisa menerima berdamai dengan Israel.
05:06Artinya, ini yang menentukan adalah berakhirnya perang antara Amerika Serikat dan Iran.
05:11Baru Hezbollah akan menghentikan serangan kepada Israel dan sebaliknya?
05:14Dari sisi Hezbollah, kurang lebih begitu.
05:17Karena sekali lagi, keterlibatan Hezbollah dalam perang ini adalah sebagai solidaritas.
05:22Karena itu, ketika perang ini dimulai tanggal 28 Februari,
05:26lalu tanggal 2 Maret, Hezbollah melakukan memutusan untuk melibatkan diri dalam perang ini.
05:32Dan saat itu, otoritas Lebanon sudah memberikan larangan
05:35kepada Hezbollah agar tidak terlibat.
05:38Sekali lagi, Lebanon memiliki kompleksitas tersendiri terkait dengan persoalan ini.
05:43Dan sejauh ini, cara menyelesaikan persoalan di Lebanon menurut saya
05:47belum bersifat komprehensif, belum juga menjadi satu kesatuan,
05:52di mana pada akhirnya ujung-ujung konfliknya
05:55juga terkait dengan konflik-konflik lain, terutama yang terjadi di Iran.
05:58Oke, di tengah masih berlangsungnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
06:02Ada tidak posisi diplomasi yang bisa dilakukan internasional
06:06dalam konflik antara Israel dan juga Lebanon, Pak Sibullo?
06:10Menurut saya, dengan adanya perkembangan perang sekarang menjadi perang hormos,
06:15perang maritim, terutama saya menyebutnya,
06:18Mbak Dian, fase sekarang adalah fase yang ke-6,
06:21di mana salah satu cirinya saya melihat adalah
06:24adanya agresivitas, kalau dari sisi Iran,
06:28yang itu tidak begitu kentara dalam fase-fase sebelumnya,
06:32lima fase sebelumnya,
06:33dan juga dari sisi Amerika yang dimulai dengan hadirnya kembali
06:38retorika-retorika ancaman.
06:40Itu yang membedakan fase ke-6 dengan fase yang ke-5,
06:43yaitu pertanggal 21 April.
06:45Saya secara kategori menganggap 21 April sebagai fase yang ke-5 dalam perang ini.
06:50Salah satu cirinya adalah di fase yang ke-5,
06:53Amerika mengalami kayak semacam kekalahan diplomasi,
06:56karena walaupun mereka sangat ingin datang ke Pakistan,
07:00harapannya bisa ditunggu oleh Aragji yang juga berkunjung ke sana,
07:04kenyataannya Aragji tidak menunggu utusan dari Pakistan,
07:07dari Amerika, dan pada akhirnya pertemuan itu tidak terjadi.
07:11Nah, di fase yang ke-6,
07:14saya melihat ada kayak semacam peningkatan eskalasi dari kedua sisi.
07:18Dari sisi Iran, kita melihat peningkatan agresivitas yang sangat-sangat meningkat.
07:23Yang terbaru, misalkan, itu kita bisa lihat dari sikapnya
07:27badan intelijen garda revolusi Iran,
07:30yang menyatakan dalam bentuk ultimatum,
07:33silakan Amerika memilih dua.
07:35Yang pertama adalah opsi serangan militer yang mustahil,
07:40yang kedua atau bersepakat dengan Iran.
07:42Coba bayangkan Iran sekarang sudah berani mengancam secara terbuka,
07:47secara agresif kepada Amerika.
07:50Nah, sementara dari sisi Amerika,
07:51saya juga melihat setelah 1 Mei kemarin,
07:53ada kayak semacam peningkatan retorika,
07:56yang sebelumnya kurang begitu berenergi,
07:58tapi ini Trump kemudian sudah mulai kembali kepada nada-nada ancaman.
08:02Misalkan yang terbaru,
08:04Trump mengatakan,
08:05walaupun proposalnya belum tentu diterima,
08:08dan malah mengatakan ada kemungkinan opsi militer diambil kembali.
08:11Artinya apa?
08:12Saya menganggap,
08:14saya melihat ini dua pihak sekarang,
08:16sama-sama siap untuk berunding,
08:18tapi juga sama-sama siap untuk berperang.
08:21Dan kalau baca sebabnya,
08:23dalam konteks Amerika,
08:25konteksnya adalah sepertinya Amerika merasa aman dari jebakan 60 hari.
08:30Nah, dari Iran,
08:31saya melihat kenapa menjadi lebih agresif,
08:34itu disebabkan oleh efektivitas atau dampak
08:37daripada blokade yang dilakukan oleh Amerika.
08:40Jadi, saya melihat itu dampak yang sangat kuat bagi Iran,
08:43karena itu Iran menjadikan persoalan blokade,
08:47itu persoalan yang sangat krusial,
08:49bahkan itu hal utama yang harus diselesaikan oleh Amerika,
08:52kalau Amerika ingin menyelesaikan soal-soal lain,
08:55termasuk soal nuklir.
08:56Oke,
08:56sikap Amerika Serikat menjadi penentu,
08:58berakhirnya konflik antara Israel dan juga Lebanon,
09:00karena kita tahu,
09:01perang ini juga menimbulkan banyak korban jiwa.
09:04Terima kasih atas ulasan Anda,
09:05Pak Asyibolo Satrawi,
09:06Pengamat Timur Tengah,
09:07di Kompas Malam,
09:08selamat malam dan sehat selalu.
Komentar

Dianjurkan