Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Badan Pusat Statistik melibatkan mitra statistik di daerah untuk mempercepat proses verifikasi lapangan terhadap lebih dari 11 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan Nasional yang berstatus dinonaktifkan.

Lalu, bagaimana sinkronisasi antara data kemiskinan BPS dengan PBI BPJS Kesehatan?

Berikut dialog Kompas Bisnis bersama Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti.

Baca Juga Pembaruan Data Nasional, Lebih dari 31 Ribu Peserta BPJS PBI di Jember Dinonaktifkan di https://www.kompas.tv/regional/652399/pembaruan-data-nasional-lebih-dari-31-ribu-peserta-bpjs-pbi-di-jember-dinonaktifkan

#bpjskesehatan #pbi #bps #datakemiskinan

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/652789/full-kepala-bps-ungkap-verifikasi-peserta-bpjs-kesehatan-pbi-nonaktif-pastikan-akurasi-data
Transkrip
00:00Sementara itu, Saudara Badan Pusat Statistik melibatkan mitra statistik di daerah untuk mempercepat proses verifikasi lapangan
00:07terhadap lebih dari 11 juta peserta penerima bantuan yuran jaminan kesehatan nasional yang berstatus dinonaktifkan.
00:15Lalu bagaimana sinkronisasi antara data kemiskinan BPS dengan PBI BPJS Kesehatan?
00:21Kompas Bisnis langsung bertanya kepada Kepala BPS Amalia Adininggar Widya Santi.
00:27Bu Wini, selamat pagi.
00:29Selamat pagi.
00:31Selamat bu.
00:33Alhamdulillah.
00:34Alhamdulillah.
00:35Ibu pertanyaan pertama saya ini, bagaimana BPS memastikan akurasi dan juga pemutakiran data penduduk miskin yang menjadi dasar penetapan PBI
00:45BPJS Kesehatan bu?
00:46Ya, jadi tentunya sesuai dengan hasil rapat koordinasi antar kementerian baik dengan Menko PMO maupun dengan Pak Menteri Sosial.
00:58Jadi kami memang ditugaskan untuk melakukan ground check terhadap peserta PBI yang sempat dinonaktifkan.
01:10Jadi dalam waktu saat ini kami akan melakukan sekitar ground check 106.153 peserta PBI yang sempat dinonaktifkan.
01:25Tetapi sekali lagi bahwa yang 106.153 orang ini sudah direaktifasi secara otomatis.
01:32Kemudian proses ground check ini tentunya akan kami selesaikan sekitar dalam waktu 3 minggu.
01:41Sehingga nanti di minggu ke-2 bulan Maret ini akan selesai.
01:45Dan BPS tentunya sekali lagi kita akan berperan untuk terus menyediakan data-data statistik yang berkualitas.
01:55Yang sehingga bisa meningkatkan ketajaman ataupun keakuratan dari kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah.
02:04Dan BPS tentunya tidak menetapkan penerima PBI.
02:10BPS kan lembaga yang menentukan kebijakan penerima dari PBI.
02:19BPS adalah lembaga yang tugasnya menyediakan data statistik resmi yang dimanfaatkan untuk kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh kementerian lain.
02:29Oke, Bu Wini tadi disebutkan oleh Bu Wini ini terkait juga menjamin keakuratan data begitu.
02:35Ini secara teknis komunikasi dengan mitra statistik daerah itu seperti apa Bu?
02:41Iya, jadi tentunya BPS adalah lembaga statistik resmi negara yang memiliki kantor di seluruh Indonesia.
02:49Kami ada kantor di 34 provinsi yang meng-cover 38 provinsi di Indonesia.
02:57Dan kami juga ada kantor BPS di kabupaten kota yang berada di sekitar 502 kabupaten kota.
03:07Ini tentunya meng-cover 514 kabupaten kota seluruh Indonesia karena ada beberapa kantor BPS kabupaten kota yang memang menjalankan fungsi
03:18ganda beberapa kabupaten di handle oleh satu kantor BPS kabupaten kota.
03:24Nah, tentunya BPS-BPS yang di daerah ini selalu mengikuti instruksi yang kami tetapkan di pusat.
03:33Mereka melakukan menjalankan, nantinya akan menjalankan ground check bersama dengan mitra statistik kami di daerah.
03:41Dan juga dengan nantinya akan dibantu oleh pendamping PKH juga untuk melaksanakan ground check yang khusus PBI ini.
03:49Oke, berarti banyak sekali tahapannya agar memang akurasi data tetap terjaga begitu ya Bu ya.
03:55Lalu kemudian ini sebetulnya seberapa sering data kemiskinan ini diperbarui dan apakah cukup responsif menangkap masyarakat yang baru jatuh miskin
04:04misalnya karena PHK Bu?
04:05Ya, jadi mohon kita bedakan antara data tunggal sosial ekonomi nasional dengan angka kemiskinan.
04:14Karena ini merupakan data yang maksud saya cara mengumpulkan datanya berbeda.
04:20Kalau data tunggal sosial ekonomi nasional ini adalah database yang isinya betul-betul individu yang memiliki NIK seluruh Indonesia.
04:30Sehingga detesan ini jumlahnya ada 289 juta berdasarkan versi yang berbaru di bulan Januari 2026.
04:41Dan di dalam data tunggal sosial ekonomi nasional ini sifatnya adalah ini database masyarakat Indonesia dengan NIK tunggal dan juga
04:52kartu keluarga tunggal.
04:54Sehingga jumlah kartu keluarga yang terdaftar di dalam detesan saat ini betul-betul unik dan tunggal karena kami sudah rekonsiliasi
05:02dengan Duk Capil dan jumlahnya 95 juta.
05:05Tapi bedakan dengan angka kemiskinan.
05:08Untuk menghitung angka kemiskinan ini yang kita sebut dengan statistik makro.
05:14Di mana data kemiskinan atau angka kemiskinan ini kami hitung berdasarkan survei yang kita sebut dengan SUSENAS.
05:24Survei ekonomi sosial dan ekonomi nasional atau SUSENAS.
05:29Di mana metodologinya menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach.
05:37Dan ini kami lakukan setahun dua kali.
05:40Nah yang terakhir kami baru rilis adalah kondisi September 2025.
05:45Di mana angka kemiskinannya yang kami rilis sekitar 8,25 persen.
05:53Artinya sekitar 23,4 juta orang Indonesia masuk ke dalam kategori miskin.
06:00Berarti memang harus bisa dibedakan di mana data tunggal dengan data kemiskinan tersebut.
06:06Lalu kemudian Ibu banyak kan keluhan warga miskin yang tercabut dari PBI.
06:11Dari sisi data apa sih penyebab paling umum exclusion error ini?
06:15Ya tentunya untuk mengurangi inclusion ataupun exclusion error.
06:22Kami akan melakukan ground check tidak hanya 106.153 peserta PBI yang sempat dinonaktifkan
06:34dan itu disebut sebagai penderita penyakit katastrofik.
06:38Tetapi kami juga langsung akan melakukan ground check terhadap sekitar 11 juta orang yang sempat dinonaktifkan PBI-nya.
06:50Sehingga dengan demikian nanti datanya akan semakin lebih akurat.
06:54Nah tentunya bagaimana penyebab dari inclusion?
06:58Apa yang disebut dengan tadi yang ditanyakan oleh Masian ya?
07:01Inclusion error.
07:02Inclusion error itu adalah orang yang seharusnya tidak berhak tetapi malah ikut menerima.
07:07Sementara exclusion error adalah orang yang seharusnya berhak tetapi tidak menerima.
07:13Nah jadi tentunya dengan data yang semakin akurat ini akan meminimalkan inclusion dan exclusion error.
07:21Dan kami sudah perhitungannya juga Masian bahwa semakin kita sering melakukan ground check
07:27inclusion error dan exclusion error ini akan semakin kecil.
07:32Oke, Bu ini kalau kita perjelas begitu terkait dengan penyebab paling umumnya.
07:39Apakah beda penyebab paling umum dari exclusion error ini dengan inclusion error tadi Bu?
07:46Penyebabnya ya salah satunya adalah pertama karena memang mungkin ada dinamika di dalam ekonomi rumah tangga.
07:56Itu bisa menyebabkan salah satu penyebab exclusion error.
08:02Misalnya yang tadinya mereka hidup cukup kemudian karena ada sesuatu hal di dalam ekonomi rumah tangganya.
08:12Apakah karena PHK, kemudian karena ada sesuatu musibah.
08:16Kemudian mereka kehilangan aset, kemudian mereka tidak mendapatkan pekerjaan.
08:23Nah itu tiba-tiba mereka bisa masuk kepada kelompok yang kita sebut dengan kelompok yang dengan tingkat kesejahteraan rendah.
08:35Nah ini yang mungkin tadinya dia mampu, sekarang menjadi tidak mampu karena ada musibah.
08:42Itu ada kemungkinan exclusion error.
08:45Memang sekali lagi bahwa data tunggal sosial ekonomi nasional ini atau DTSN memang data yang terkait dengan manusia.
08:57Yang memang setiap saat ini bisa berubah kondisinya.
09:02Kadang dalam hitungan menit ada yang meninggal.
09:05Bahkan dalam hitungan detik ada yang lahir.
09:08Bahkan mungkin tiba-tiba mereka tidak memiliki pekerjaan.
09:12Atau tiba-tiba seperti di bencana Sumatera ada bencana sehingga menghilangkan semua aset rumah maupun kepemilikan lainnya.
09:23Nah ini yang proses karena data manusia itu memang relatif dinamis.
09:30Tentunya yang dilakukan oleh BPS adalah kita melakukan ground check sebelum kebijakan-kebijakan strategis dilakukan.
09:40Oke datanya dinamis karena memang kondisi-kondisi yang berubah setiap waktunya begitu ya Bu ya.
09:45Kemudian juga ada pertanyaan yang berdasar yang bisa juga dijelaskan dan ingin ketahui oleh masyarakat.
09:51Apakah perbedaan data antara pusat dan juga daerah masih sering terjadi Bu?
09:55Lalu bagaimana mekanisme sinkronisasinya?
10:00Tentunya karena BPS ini adalah lembaga vertikal kalau data yang dikeluarkan oleh BPS secara ofisial
10:09kami pastikan ini datanya konsisten karena kami sudah rekonsiliasi antara BPS pusat dengan daerah.
10:18Kemungkinan data yang berbeda adalah kalau data tersebut dihasilkan oleh lembaga-lembaga lain atau dinas-dinas di daerah.
10:26Kita kan tentunya ini harus kita double check dulu ya sumber datanya dari mana.
10:32Kalau sumber datanya memang itu statistik resmi yang dihasilkan oleh BPS ini kami pastikan koheren datanya.
10:41Baik di pusat maupun disaggregasi terhadap daerah.
10:46Oke baik apabila ada perbedaan ini bisa jadi begitu dihasilkan oleh lembaga lain dan memang BPS juga melakukan double check
10:53agar datanya semakin akurat demikian ya Bu.
10:55Terima kasih Kepala BPS Amalia Dininggar Yudhya Santia atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis.
11:01Sehat selalu Bu.
11:02Sehat terima kasih Mas Yan.
11:04Terima kasih.
11:04Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan