Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Anggaran pendapatan dan belanja negara langsung mencatatkan defisit pada bulan pertama 2026. Pelebaran defisit ini sekaligus meningkatkan kebutuhan penarikan utang baru di tengah beban bunga yang kian besar.

Per 31 Januari 2026, defisit mencapai Rp 54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap PDB. Secara nominal, ini menjadi defisit Januari terdalam dalam lima tahun terakhir, bahkan melampaui posisi pada masa pandemi COVID-19.

Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai defisit ini masih dalam batas aman. Benarkah demikian? Kompas Bisnis menanyakan kepada Yusuf Rendy Manilet, Strategic Research Manager CORE, untuk analisis lebih lanjut.

#APBN #pdb #brangkas

Baca Juga Kasus Tewasnya Pelajar di Tual, Bripda M.S. Resmi Dipecat | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/652763/kasus-tewasnya-pelajar-di-tual-bripda-m-s-resmi-dipecat-kompas-petang



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/652767/strategic-research-manager-core-soal-apbn-rekor-defisit-terdalam-5-tahun-terakhir-masih-batas-aman
Transkrip
00:00Kita masuk di sekpen Kompas Bisnis bersama saya Nada Aprilia.
00:03Saudara, sampai dengan 31 Januari 2026,
00:07anggaran pendapatan belanja negara alias APBN defisit 54,6 triliun rupiah.
00:12Ini adalah rekor defisit terdalam 5 tahun terakhir,
00:16bahkan melampaui pada era pandemi COVID-19.
00:21Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa bilang,
00:24defisit APBN disebabkan oleh pendapatan negara yang tercatat
00:28baru 172,7 triliun rupiah hingga akhir bulan lalu.
00:33Sementara pada saat yang sama,
00:35belanja negara mencapai 227,3 triliun rupiah.
00:40Sederhadanya, saudara, berangkas negara sudah tekor di awal tahun.
00:43Sebagai perbandingan pada periode yang sama tahun lalu,
00:47keuangan negara hanya defisit 23 triliun rupiah atau 0,09 persen terhadap PDB.
00:58Pasar komoditas global, pendapatan negara telah mencapai 172,7 triliun rupiah
01:07atau 5,5 persen dari target APBN,
01:11tumbuh sebesar 9,5 persen year on year.
01:15Kinerjaan ini ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tetap kuat,
01:19serta PNBP yang mulai menunjukkan pemulihan di luar komponen non berulang tahun lalu.
01:25Di sisi belanja, belanja negara terrealisasi sebesar 227,3 triliun rupiah
01:32atau 5,9 persen dari pagu APBN,
01:36tumbuh tinggi sebesar 25,7 persen year on year.
01:40Dengan dinamika yang saya sebutkan tadi,
01:42posisi defisit APBN tercatat mencapai 54,6 triliun rupiah
01:46atau hanya 0,21 persen dari PDB.
01:50Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.
02:00Anggaran pendapatan dan belanja negara langsung mencatatkan defisit pada bulan pertama 2026.
02:06Pelebaran defisit ini sekaligus meningkatkan kebutuhan penarikan utang baru
02:10di tengah beban bunga yang kian besar.
02:12Per 31 Januari 2026, sodara, defisit mencapai 54,6 triliun rupiah
02:18atau 0,21 persen terhadap PDB.
02:22Secara nominal, sodara, ini menjadi defisit Januari terdalam dalam 5 tahun terakhir
02:27bahkan melampaui posisi pada masa pandemi COVID-19.
02:31Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa bilang
02:34defisit ini masih dalam batas yang aman.
02:36Benarkah demikian?
02:38Kompas Bisnis sudah bersama dengan kami, bersama dengan narasumber dari Strategic Research Manager Core
02:44Yusuf Frendi Manilet akan membahasnya untuk Anda hari ini.
02:48Selamat pagi Mas Yusuf, Assalamualaikum, Pak Habar?
02:51Selamat pagi, Waalaikumsalam, kabar baik Mbak Nana.
02:55Mas Yusuf, defisit per Januari capai 54,6 triliun.
03:00Benar, ini masih dalam batas yang aman Mas?
03:03Ya, kalau kita mengacu pada koridor target defisit di sepanjang tahun 2006,
03:10sebenarnya memang target ataupun capaian defisit di Januari 26 ini
03:14masih berada dalam posisi yang sesuai atau yang diincar oleh pemerintah ya.
03:20Namun, kita tentu perlu melihatnya dalam spektrum yang lebih luas.
03:25Kalau saya melihatnya, kalau kita bandingkan defisit di tahun ini,
03:31jika dibandingkan dengan tahun lalu, ini mengalami pelebaran.
03:34Dan kalau kita runut, pelebaran defisit itu umumnya memang akan terjadi atau bertambah ya
03:40di sepanjang perjalanan di tahun anggaran.
03:43Sebagai contoh, misalnya di tahun lalu, meskipun di awal tahun defisit anggaran itu relatif kecil,
03:51tetapi di akhir tahun 2025, defisit itu kemudian mengalami pelebaran hingga 2,93 persen
03:59terhadap, rasionya terhadap PDB.
04:01Dan ini yang kemudian menurut kami perlu diantisipasi atau perlu didalami oleh pemerintah
04:09mengenai potensi pelebaran defisit yang kemungkinan akan terjadi juga di tahun ini.
04:14Mengingat pola yang sama juga kita lihat di awal tahun 2026.
04:18Kalau misalnya kita lihat dari pola belanja misalnya ya,
04:22di tahun ini belanja ini meningkat sangat signifikan.
04:26Pertumbuhannya itu mengalami 25 persen ya, dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
04:31Dan kalau kita lihat dari sisi pendapatan, itu peningkatannya sekitar 20 persenan juga gitu ya.
04:40Nah, ketika misalnya pendapatannya ini tidak bisa mengkompensasi kebutuhan belanja
04:45yang di bulan-bulan berikutnya kami kira juga akan mengalami peningkatan.
04:50Ini yang perlu diantisipasi atau perlu diwaspadai gitu ya.
04:53Karena belajar dari pengalaman tahun lalu sebenarnya defisit di awal tahun itu juga terjadi.
04:58Tetapi di akhir tahun itu kemudian mengalami pelebaran.
05:02Dan ketika itu mengalami pelebaran, ini yang akhirnya mendorong pemerintah
05:06untuk melakukan beberapa kebijakan efisiensi yang pada akhirnya itu mendorong
05:12perlambatan pertumbuhan belanja pemerintah di ekonomi seperti itu, Nanda.
05:18Oke, kalau tadi yang Mas Yusuf katakan adanya pelebaran ini berarti apa saja resiko yang harus diwaspadai?
05:25Sebab ada kekhawatiran nih Mas, akan jadi tekanan sepanjang tahun nantinya?
05:28Ya, yang pasti jika pemerintah tidak mampu mengompensasi kenaikan belanja
05:36dan juga penerimaannya itu jeblok di bulan-bulan berikutnya
05:41defisit yang mengalami kenaikan itu akan memberikan konsekuensi terhadap
05:46rencana penarikan utang pemerintah.
05:48Karena bagaimanapun juga kita harus akui bahwa pendapatan negara kita itu
05:54belum mampu ya mengakomodir seluruh kebutuhan biaya.
05:59Dan kalau kita ingat juga di tahun lalu, rasio pajak kita itu justru mengalami penurunan
06:04rasio pajak terhadap PDB itu mengalami penurunan yang tadinya di sekitar 10 persenan
06:09sekarang di 2025 tahun lalu itu mengalami penurunan di sekitar angka 9 persenan gitu.
06:15Artinya ini menunjukkan bahwa memang kemampuan penarikan pajak kita relatif masih kecil
06:21dan ketika itu terjadi maka pemerintah harus mau tidak mau ya mencari sumber alternatif pendanaan
06:27termasuk di dalamnya dari cara melakukan penarikan utang yang baru.
06:32Nah sayangnya lingkungan global saat ini memang cukup menantang untuk menarik utang baru ya
06:38karena kalau kita ingat misalnya di beberapa hari yang kebelakang
06:43situasi global ini masih tidak menentuk karena adanya kebukusan dari Presiden Trump
06:48yang meskipun dibatalkan oleh MA tetapi ini sifatnya masih dinamis.
06:54Kemudian masalah geopolitik di Timur Tengah juga kami kira juga akan ikut
07:00menambah rentetan tantangan pemerintah dalam upaya menarik utang baru
07:05karena sederhananya ketika kondisi ekonominya itu tidak stabil
07:10maka investor itu inginnya meminta dana ataupun timbal hasil yang lebih besar gitu ya
07:16untuk utang yang akan mereka berikan gitu.
07:19Dan ketika itu mereka lakukan ini kan tentu akan ikut menekan APBN dalam jangka menengahnya.
07:25Jadi karena timbal hasilnya besar bunga utangnya pun kemungkinan juga akan ikut bertambah di kemudian hari.
07:32Padahal sampai dengan tahun 2000 saja rasio bunga utang kita terhadap belanja pemerintah pusat itu
07:38mengalami peningkatan di angka sekitar 20 hingga 25 persen terhadap total belanja pemerintah pusat.
07:45Dan ini memperkecil fleksibilitas ruang gerak pemerintah dari sisi belanja
07:50untuk mengakomodir belanja-belanja yang sebenarnya sifatnya lebih produktif misalnya ya.
07:56Misalnya belanja untuk infrastruktur misalnya, kemudian belanja untuk modal,
08:02kemudian belanja untuk bantuan sosial.
08:04Ini kan sebenarnya bisa lebih bermanfaat dibandingkan membayar untuk pembayaran bunga utang
08:09yang bunganya memang mengalami peningkatan tiap tahun yang imbal hasilnya juga meningkat.
08:14Jadi itu konsekuensi yang kemungkinan akan muncul jika defisit ini mengalami pelebaran.
08:21Ada potensi pemerintah akan mencoba menarik utang baru tetapi tantangan untuk menarik utang baru itu tidak sedikit
08:28karena kondisi ekonomi global tidak menentu, maka imbal hasil yang diminta oleh investor juga akan terlalu besar
08:35sehingga bunga utang yang akan ditanggung oleh APBN dalam nyangka pendek menengah hingga panjang juga berkonses yang akan bertambah.
08:41Oke, sebelum kita membahas mengenai belanja negara, Mas tadi mengenai utang negara.
08:47Berarti secara garis besarnya lagi konsekuensi defisit ini terhadap utang negara
08:51meskipun kalau dilihat dari penerimaan pajak ini kan naiknya sampai 30 persen Mas Yusuf?
08:57Iya, penerimaan pajak memang mengalami kenaikan 30 persen tetapi kita juga harus lihat lebih dalam
09:03apa faktor penemudian secara pertumbuhan itu mengalami kenaikan yang signifikan.
09:09Kalau kita bandingkan, jadi kalau kita ukurkan sebenarnya penerimaan pajak di tahun ini dibandingkan di tahun lalu.
09:16Di tahun lalu penerimaan pajak itu relatif rendah karena ketika itu pemerintah masih berupaya untuk memperbaiki sistem kortex ketika itu.
09:25Jadi pembayarannya itu masih bermasalah sehingga penerimaannya rendah gitu.
09:31Nah di tahun ini relatif lebih sedikit gitu ya permasalahan pada sistem kortex sehingga dari sisi teknis
09:38penuh jumlah yang relatif lebih sedikit di tahun 2025 itu diukur mengalami kenaikan di 2026.
09:45Jadi ini ada faktor teknis di dalamnya seperti itu.
09:47Dan kita belum bisa mengatakan bahwa kenaikan 30 persen ini sudah cukup baik karena sekali lagi ada faktor teknis di
09:54sana
09:55dan kalau kita ukur dari rasio pajak di akhir 2025 lalu yang mengalami penurunan justru ini yang menjadi perhatian,
10:02yang perlu menjadi perhatian.
10:03Jangan sampai kemudian rasio ini tidak bisa meningkat di tahun ini karena ketika dia tidak bisa meningkat,
10:09ini akhirnya tidak berimbang ya kompensasinya penerimaan negara itu tidak bisa mengkompensasi
10:15peningkatan penerimaan belanja di bulan-bulan berikutnya di sepanjang tahun 2026.
10:19Oke, nah kalau ini kan kemarin informasinya juga ada lonjakan belanja negara pada Januari tahun ini, Mas Yusuf.
10:27Ini mencerminkan adanya pola front-loading nggak sih?
10:30Atau memang pendapatan pajak kita aja yang nggak mampu untuk bisa mengimbangi rencana belanja pemerintah?
10:37Ya kalau kita mengikuti memang ini adalah kombinasi ya, kombinasi dari sisi penerimaan kita
10:45yang memang belum bisa mengkompensasi kenaikan belanja, dan di sisi lain ada upaya untuk mendorong
10:51percepatan belanja di awal tahun oleh pemerintah.
10:54Dari sisi aspek positif, menurut saya itu cukup kita perlu mengapresiasi
10:59karena bagaimanapun juga belanja pemerintah ini kan bisa memberikan efek multiplier ke perekonomian.
11:06Tetapi yang perlu kita baris-baris bawih adalah ke depannya gitu ya,
11:10karena kalau kita lihat kan di sepanjang 2026 ini, pemerintah memang menargetkan
11:15peningkatan penerimaan belanja yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.
11:20Beberapa pos-pos belanja termasuk yang sifatnya program-program flagship
11:24itu juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
11:28Kita tentu berharap itu dapat dibiayai, tetapi kalau kita melihat dari kinerja
11:33penerimaan negara itu kita perlu menggarisbawahi atau perlu memberikan semacam
11:40peringatan gitu ya, jangan sampai kemudian ini tidak bisa dibiayai karena tadi
11:45kemampuan penerimanya lebih sedikit.
11:47Dan saya kira kita tidak sendiri karena lembaga-lembaga seperti kemarin ya,
11:51MUDIS juga memberikan peringatan bahwa adanya peningkatan rasio belanja ini
11:56belum bisa ditutupi dengan peningkatan rasio di sisi penerimaan.
12:00Seperti itu Mbak Nanda.
12:00Nah oke, kalau secara skup lebih besarnya lagi, berarti Mas Yusuf
12:05defisit ini apakah dapat mempengaruhi persepsi negatif asing atas kondisi ekonomi Indonesia saat ini?
12:11Ya kalau kita lihat memang ini akan mempengaruhi persepsi investor asing
12:16dan juga yang akan berinvestasi di Indonesia gitu ya.
12:21Karena bagaimanapun juga defisit ini adalah gambaran bagaimana pemerintah melakukan pengelolaan.
12:27Harapannya tentu defisit itu masih akan berada pada range target ya.
12:33Sekali lagi kan di tahun ini range target defisit itu di sekitar 2,6%.
12:38Jangan sampai kemudian range ini kemudian melebar.
12:41Itu seperti yang terjadi di tahun lalu.
12:43Ini yang kemudian diperingatkan oleh berbagai lembaga bahwa kenaikan jumlah belanja ini cukup signifikan.
12:52Sementara dari sisi penerimaannya ini tidak mampu gitu.
12:55Di saat yang bersamaan tentu lembaga-lembaga atau investor asing menunggu ya terobosan-terobosan dari sisi,
13:03terutama dari sisi penerimanya.
13:05Kalau dari sisi belanja menurut kami sudah cukup banyak terobosan yang dilakukan termasuk dari peluang progresif.
13:10Tapi dari sisi penerimanya ini yang belum ada gitu.
13:14Belum terlihat apa yang akan dilakukan oleh otoritas kementerian keuangan
13:18untuk meningkatkan rasio penerimaan pajak kita, Mbak Nanda.
13:22Oke ini menarik sekali pembahasan dari analisis sudut pandang dari Mas Yusuf.
13:26Kita akan melihat sebenarnya kita tunggu babak berikutnya seperti apa untuk KPBN 2026 ke depan.
13:31Terima kasih atas waktunya bersama kami di Kopas Bisnis Strategist Research Manager Core, Yusuf Rendi Manilet.
13:38Selamat reaktifitas Mas, sehat selalu.
13:41Selamat pagi.
Komentar

Dianjurkan