00:00Kita masuk di sekpen Kompas Bisnis bersama saya Nada Aprilia.
00:03Saudara, sampai dengan 31 Januari 2026,
00:07anggaran pendapatan belanja negara alias APBN defisit 54,6 triliun rupiah.
00:12Ini adalah rekor defisit terdalam 5 tahun terakhir,
00:16bahkan melampaui pada era pandemi COVID-19.
00:21Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa bilang,
00:24defisit APBN disebabkan oleh pendapatan negara yang tercatat
00:28baru 172,7 triliun rupiah hingga akhir bulan lalu.
00:33Sementara pada saat yang sama,
00:35belanja negara mencapai 227,3 triliun rupiah.
00:40Sederhadanya, saudara, berangkas negara sudah tekor di awal tahun.
00:43Sebagai perbandingan pada periode yang sama tahun lalu,
00:47keuangan negara hanya defisit 23 triliun rupiah atau 0,09 persen terhadap PDB.
00:58Pasar komoditas global, pendapatan negara telah mencapai 172,7 triliun rupiah
01:07atau 5,5 persen dari target APBN,
01:11tumbuh sebesar 9,5 persen year on year.
01:15Kinerjaan ini ditopang oleh penerimaan perpajakan yang tetap kuat,
01:19serta PNBP yang mulai menunjukkan pemulihan di luar komponen non berulang tahun lalu.
01:25Di sisi belanja, belanja negara terrealisasi sebesar 227,3 triliun rupiah
01:32atau 5,9 persen dari pagu APBN,
01:36tumbuh tinggi sebesar 25,7 persen year on year.
01:40Dengan dinamika yang saya sebutkan tadi,
01:42posisi defisit APBN tercatat mencapai 54,6 triliun rupiah
01:46atau hanya 0,21 persen dari PDB.
01:50Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.
02:00Anggaran pendapatan dan belanja negara langsung mencatatkan defisit pada bulan pertama 2026.
02:06Pelebaran defisit ini sekaligus meningkatkan kebutuhan penarikan utang baru
02:10di tengah beban bunga yang kian besar.
02:12Per 31 Januari 2026, sodara, defisit mencapai 54,6 triliun rupiah
02:18atau 0,21 persen terhadap PDB.
02:22Secara nominal, sodara, ini menjadi defisit Januari terdalam dalam 5 tahun terakhir
02:27bahkan melampaui posisi pada masa pandemi COVID-19.
02:31Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa bilang
02:34defisit ini masih dalam batas yang aman.
02:36Benarkah demikian?
02:38Kompas Bisnis sudah bersama dengan kami, bersama dengan narasumber dari Strategic Research Manager Core
02:44Yusuf Frendi Manilet akan membahasnya untuk Anda hari ini.
02:48Selamat pagi Mas Yusuf, Assalamualaikum, Pak Habar?
02:51Selamat pagi, Waalaikumsalam, kabar baik Mbak Nana.
02:55Mas Yusuf, defisit per Januari capai 54,6 triliun.
03:00Benar, ini masih dalam batas yang aman Mas?
03:03Ya, kalau kita mengacu pada koridor target defisit di sepanjang tahun 2006,
03:10sebenarnya memang target ataupun capaian defisit di Januari 26 ini
03:14masih berada dalam posisi yang sesuai atau yang diincar oleh pemerintah ya.
03:20Namun, kita tentu perlu melihatnya dalam spektrum yang lebih luas.
03:25Kalau saya melihatnya, kalau kita bandingkan defisit di tahun ini,
03:31jika dibandingkan dengan tahun lalu, ini mengalami pelebaran.
03:34Dan kalau kita runut, pelebaran defisit itu umumnya memang akan terjadi atau bertambah ya
03:40di sepanjang perjalanan di tahun anggaran.
03:43Sebagai contoh, misalnya di tahun lalu, meskipun di awal tahun defisit anggaran itu relatif kecil,
03:51tetapi di akhir tahun 2025, defisit itu kemudian mengalami pelebaran hingga 2,93 persen
03:59terhadap, rasionya terhadap PDB.
04:01Dan ini yang kemudian menurut kami perlu diantisipasi atau perlu didalami oleh pemerintah
04:09mengenai potensi pelebaran defisit yang kemungkinan akan terjadi juga di tahun ini.
04:14Mengingat pola yang sama juga kita lihat di awal tahun 2026.
04:18Kalau misalnya kita lihat dari pola belanja misalnya ya,
04:22di tahun ini belanja ini meningkat sangat signifikan.
04:26Pertumbuhannya itu mengalami 25 persen ya, dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.
04:31Dan kalau kita lihat dari sisi pendapatan, itu peningkatannya sekitar 20 persenan juga gitu ya.
04:40Nah, ketika misalnya pendapatannya ini tidak bisa mengkompensasi kebutuhan belanja
04:45yang di bulan-bulan berikutnya kami kira juga akan mengalami peningkatan.
04:50Ini yang perlu diantisipasi atau perlu diwaspadai gitu ya.
04:53Karena belajar dari pengalaman tahun lalu sebenarnya defisit di awal tahun itu juga terjadi.
04:58Tetapi di akhir tahun itu kemudian mengalami pelebaran.
05:02Dan ketika itu mengalami pelebaran, ini yang akhirnya mendorong pemerintah
05:06untuk melakukan beberapa kebijakan efisiensi yang pada akhirnya itu mendorong
05:12perlambatan pertumbuhan belanja pemerintah di ekonomi seperti itu, Nanda.
05:18Oke, kalau tadi yang Mas Yusuf katakan adanya pelebaran ini berarti apa saja resiko yang harus diwaspadai?
05:25Sebab ada kekhawatiran nih Mas, akan jadi tekanan sepanjang tahun nantinya?
05:28Ya, yang pasti jika pemerintah tidak mampu mengompensasi kenaikan belanja
05:36dan juga penerimaannya itu jeblok di bulan-bulan berikutnya
05:41defisit yang mengalami kenaikan itu akan memberikan konsekuensi terhadap
05:46rencana penarikan utang pemerintah.
05:48Karena bagaimanapun juga kita harus akui bahwa pendapatan negara kita itu
05:54belum mampu ya mengakomodir seluruh kebutuhan biaya.
05:59Dan kalau kita ingat juga di tahun lalu, rasio pajak kita itu justru mengalami penurunan
06:04rasio pajak terhadap PDB itu mengalami penurunan yang tadinya di sekitar 10 persenan
06:09sekarang di 2025 tahun lalu itu mengalami penurunan di sekitar angka 9 persenan gitu.
06:15Artinya ini menunjukkan bahwa memang kemampuan penarikan pajak kita relatif masih kecil
06:21dan ketika itu terjadi maka pemerintah harus mau tidak mau ya mencari sumber alternatif pendanaan
06:27termasuk di dalamnya dari cara melakukan penarikan utang yang baru.
06:32Nah sayangnya lingkungan global saat ini memang cukup menantang untuk menarik utang baru ya
06:38karena kalau kita ingat misalnya di beberapa hari yang kebelakang
06:43situasi global ini masih tidak menentuk karena adanya kebukusan dari Presiden Trump
06:48yang meskipun dibatalkan oleh MA tetapi ini sifatnya masih dinamis.
06:54Kemudian masalah geopolitik di Timur Tengah juga kami kira juga akan ikut
07:00menambah rentetan tantangan pemerintah dalam upaya menarik utang baru
07:05karena sederhananya ketika kondisi ekonominya itu tidak stabil
07:10maka investor itu inginnya meminta dana ataupun timbal hasil yang lebih besar gitu ya
07:16untuk utang yang akan mereka berikan gitu.
07:19Dan ketika itu mereka lakukan ini kan tentu akan ikut menekan APBN dalam jangka menengahnya.
07:25Jadi karena timbal hasilnya besar bunga utangnya pun kemungkinan juga akan ikut bertambah di kemudian hari.
07:32Padahal sampai dengan tahun 2000 saja rasio bunga utang kita terhadap belanja pemerintah pusat itu
07:38mengalami peningkatan di angka sekitar 20 hingga 25 persen terhadap total belanja pemerintah pusat.
07:45Dan ini memperkecil fleksibilitas ruang gerak pemerintah dari sisi belanja
07:50untuk mengakomodir belanja-belanja yang sebenarnya sifatnya lebih produktif misalnya ya.
07:56Misalnya belanja untuk infrastruktur misalnya, kemudian belanja untuk modal,
08:02kemudian belanja untuk bantuan sosial.
08:04Ini kan sebenarnya bisa lebih bermanfaat dibandingkan membayar untuk pembayaran bunga utang
08:09yang bunganya memang mengalami peningkatan tiap tahun yang imbal hasilnya juga meningkat.
08:14Jadi itu konsekuensi yang kemungkinan akan muncul jika defisit ini mengalami pelebaran.
08:21Ada potensi pemerintah akan mencoba menarik utang baru tetapi tantangan untuk menarik utang baru itu tidak sedikit
08:28karena kondisi ekonomi global tidak menentu, maka imbal hasil yang diminta oleh investor juga akan terlalu besar
08:35sehingga bunga utang yang akan ditanggung oleh APBN dalam nyangka pendek menengah hingga panjang juga berkonses yang akan bertambah.
08:41Oke, sebelum kita membahas mengenai belanja negara, Mas tadi mengenai utang negara.
08:47Berarti secara garis besarnya lagi konsekuensi defisit ini terhadap utang negara
08:51meskipun kalau dilihat dari penerimaan pajak ini kan naiknya sampai 30 persen Mas Yusuf?
08:57Iya, penerimaan pajak memang mengalami kenaikan 30 persen tetapi kita juga harus lihat lebih dalam
09:03apa faktor penemudian secara pertumbuhan itu mengalami kenaikan yang signifikan.
09:09Kalau kita bandingkan, jadi kalau kita ukurkan sebenarnya penerimaan pajak di tahun ini dibandingkan di tahun lalu.
09:16Di tahun lalu penerimaan pajak itu relatif rendah karena ketika itu pemerintah masih berupaya untuk memperbaiki sistem kortex ketika itu.
09:25Jadi pembayarannya itu masih bermasalah sehingga penerimaannya rendah gitu.
09:31Nah di tahun ini relatif lebih sedikit gitu ya permasalahan pada sistem kortex sehingga dari sisi teknis
09:38penuh jumlah yang relatif lebih sedikit di tahun 2025 itu diukur mengalami kenaikan di 2026.
09:45Jadi ini ada faktor teknis di dalamnya seperti itu.
09:47Dan kita belum bisa mengatakan bahwa kenaikan 30 persen ini sudah cukup baik karena sekali lagi ada faktor teknis di
09:54sana
09:55dan kalau kita ukur dari rasio pajak di akhir 2025 lalu yang mengalami penurunan justru ini yang menjadi perhatian,
10:02yang perlu menjadi perhatian.
10:03Jangan sampai kemudian rasio ini tidak bisa meningkat di tahun ini karena ketika dia tidak bisa meningkat,
10:09ini akhirnya tidak berimbang ya kompensasinya penerimaan negara itu tidak bisa mengkompensasi
10:15peningkatan penerimaan belanja di bulan-bulan berikutnya di sepanjang tahun 2026.
10:19Oke, nah kalau ini kan kemarin informasinya juga ada lonjakan belanja negara pada Januari tahun ini, Mas Yusuf.
10:27Ini mencerminkan adanya pola front-loading nggak sih?
10:30Atau memang pendapatan pajak kita aja yang nggak mampu untuk bisa mengimbangi rencana belanja pemerintah?
10:37Ya kalau kita mengikuti memang ini adalah kombinasi ya, kombinasi dari sisi penerimaan kita
10:45yang memang belum bisa mengkompensasi kenaikan belanja, dan di sisi lain ada upaya untuk mendorong
10:51percepatan belanja di awal tahun oleh pemerintah.
10:54Dari sisi aspek positif, menurut saya itu cukup kita perlu mengapresiasi
10:59karena bagaimanapun juga belanja pemerintah ini kan bisa memberikan efek multiplier ke perekonomian.
11:06Tetapi yang perlu kita baris-baris bawih adalah ke depannya gitu ya,
11:10karena kalau kita lihat kan di sepanjang 2026 ini, pemerintah memang menargetkan
11:15peningkatan penerimaan belanja yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.
11:20Beberapa pos-pos belanja termasuk yang sifatnya program-program flagship
11:24itu juga mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
11:28Kita tentu berharap itu dapat dibiayai, tetapi kalau kita melihat dari kinerja
11:33penerimaan negara itu kita perlu menggarisbawahi atau perlu memberikan semacam
11:40peringatan gitu ya, jangan sampai kemudian ini tidak bisa dibiayai karena tadi
11:45kemampuan penerimanya lebih sedikit.
11:47Dan saya kira kita tidak sendiri karena lembaga-lembaga seperti kemarin ya,
11:51MUDIS juga memberikan peringatan bahwa adanya peningkatan rasio belanja ini
11:56belum bisa ditutupi dengan peningkatan rasio di sisi penerimaan.
12:00Seperti itu Mbak Nanda.
12:00Nah oke, kalau secara skup lebih besarnya lagi, berarti Mas Yusuf
12:05defisit ini apakah dapat mempengaruhi persepsi negatif asing atas kondisi ekonomi Indonesia saat ini?
12:11Ya kalau kita lihat memang ini akan mempengaruhi persepsi investor asing
12:16dan juga yang akan berinvestasi di Indonesia gitu ya.
12:21Karena bagaimanapun juga defisit ini adalah gambaran bagaimana pemerintah melakukan pengelolaan.
12:27Harapannya tentu defisit itu masih akan berada pada range target ya.
12:33Sekali lagi kan di tahun ini range target defisit itu di sekitar 2,6%.
12:38Jangan sampai kemudian range ini kemudian melebar.
12:41Itu seperti yang terjadi di tahun lalu.
12:43Ini yang kemudian diperingatkan oleh berbagai lembaga bahwa kenaikan jumlah belanja ini cukup signifikan.
12:52Sementara dari sisi penerimaannya ini tidak mampu gitu.
12:55Di saat yang bersamaan tentu lembaga-lembaga atau investor asing menunggu ya terobosan-terobosan dari sisi,
13:03terutama dari sisi penerimanya.
13:05Kalau dari sisi belanja menurut kami sudah cukup banyak terobosan yang dilakukan termasuk dari peluang progresif.
13:10Tapi dari sisi penerimanya ini yang belum ada gitu.
13:14Belum terlihat apa yang akan dilakukan oleh otoritas kementerian keuangan
13:18untuk meningkatkan rasio penerimaan pajak kita, Mbak Nanda.
13:22Oke ini menarik sekali pembahasan dari analisis sudut pandang dari Mas Yusuf.
13:26Kita akan melihat sebenarnya kita tunggu babak berikutnya seperti apa untuk KPBN 2026 ke depan.
13:31Terima kasih atas waktunya bersama kami di Kopas Bisnis Strategist Research Manager Core, Yusuf Rendi Manilet.
13:38Selamat reaktifitas Mas, sehat selalu.
13:41Selamat pagi.
Komentar