00:00Psikolog ingatkan, jangan sering-sering curhat ke chat GPT dan kawan-kawan.
00:05Pakar psikologi mengingatkan agar tidak terlalu sering curhat kepada chatbot AI seperti chat GPT, Gemini, atau Replika.
00:13Interaksi dengan bot dinilai berbeda dengan manusia karena terasa palsu dan kosong.
00:19AI tidak bisa memberi dukungan emosional nyata, mengenalkan teman baru, atau memberikan pelukan saat dibutuhkan.
00:24Profesor Omri Gilad menjelaskan, chatbot dirancang agar pengguna terus bertahan di platform, bahkan dibuat adiktif.
00:33Studi Harvard Business menunjukkan banyak orang memakainya untuk kebutuhan terapi dan teman curhat.
00:37Namun psikolog Fylerite menegaskan chatbot tidak tepat dijadikan terapis.
00:42Responsnya hanya mengikuti kata pengguna tanpa mempertimbangkan konteks psikologis dan bisa berisiko menyesatkan, termasuk memberi saran berbahaya.
00:49Para ahli menekankan pentingnya mencari pertolongan profesional saat menghadapi masalah mental.
00:55AI hanya mampu memberikan jawaban berdasarkan data, bukan pemahaman mendalam atas kondisi emosional seseorang, sehingga pengguna bisa saja menerima saran yang tidak sesuai.
01:05Data Common Sense Media mencatat, 72 persen remaja di as pernah menggunakan chatbot AI.
01:11Sebanyak 18 persen untuk teman ngobrol, 12 persen untuk dukungan emosional, dan 9 persen menganggap AI sebagai sahabat dekat.
01:19Ketergantungan pada chatbot dikhawatirkan dapat membuat interaksi sosial di dunia nyata menurun.
01:23Hubungan dengan manusia yang sebenarnya tetap penting karena dapat memberikan empati, dukungan, dan pemahaman yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
01:33Psikolog menegaskan, AI sebaiknya hanya dijadikan alat bantu, bukan sumber utama dalam memenuhi kebutuhan emosional.
01:39Pengguna perlu mengelola kebiasaan ini agar kesehatan mental tetap terjaga.
01:44Terima kasih.
Komentar