Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Apakah Anda salah satu orang yang sering curhat ke chatbot AI, seperti ChatGPT, Gemini, Meta AI, Character.ai, Nomi, Replika, dan sejenisnya? Ada baiknya, kebiasaan itu mulai dikelola dengan bijak. Sebab, pakar psikologi menyebut keseringan curhat dengan chatbot berbasis kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) memiliki dampak. Salah satu alasannya karena interaksi dengan bot, memiliki efek yang berbeda dengan interaksi dengan manusia sungguhan. Profesor psikologi Univesity of Kansas, Omri Gillath mengatakan, interaksi antara manusia dengan chatbot terasa "palsu" dan "kosong".

Tonton juga RiauOnline “
(RiauOnline)

#Riauonline #Riauonlinecoid #tipspsikologi #chatgpt #curhatkeai

Jangan lupa subscribe, tinggalkan komentar dan share.

Tonton konten lainnya juga di YouTube Channel:
- Sisi Lain https://youtu.be/_TYOe2wDBl8
- Wamoi dan Riau https://youtu.be/roXyLa8aFLU

Jangan lupa subscribe yaa..

Follow Juga akun Sosial Media kami

https://www.facebook.com/RiauOnlin

https://twitter.com/red_riauonline

https://www.instagram.com/riauonline.co.id/?hl=id

https://www.tiktok.com/@riauonline1

https://s.helo-app.com/al/xvYZYpjbvR

https://sck.io/u/j3hlxrGg

Transkrip
00:00Psikolog ingatkan, jangan sering-sering curhat ke chat GPT dan kawan-kawan.
00:05Pakar psikologi mengingatkan agar tidak terlalu sering curhat kepada chatbot AI seperti chat GPT, Gemini, atau Replika.
00:13Interaksi dengan bot dinilai berbeda dengan manusia karena terasa palsu dan kosong.
00:19AI tidak bisa memberi dukungan emosional nyata, mengenalkan teman baru, atau memberikan pelukan saat dibutuhkan.
00:24Profesor Omri Gilad menjelaskan, chatbot dirancang agar pengguna terus bertahan di platform, bahkan dibuat adiktif.
00:33Studi Harvard Business menunjukkan banyak orang memakainya untuk kebutuhan terapi dan teman curhat.
00:37Namun psikolog Fylerite menegaskan chatbot tidak tepat dijadikan terapis.
00:42Responsnya hanya mengikuti kata pengguna tanpa mempertimbangkan konteks psikologis dan bisa berisiko menyesatkan, termasuk memberi saran berbahaya.
00:49Para ahli menekankan pentingnya mencari pertolongan profesional saat menghadapi masalah mental.
00:55AI hanya mampu memberikan jawaban berdasarkan data, bukan pemahaman mendalam atas kondisi emosional seseorang, sehingga pengguna bisa saja menerima saran yang tidak sesuai.
01:05Data Common Sense Media mencatat, 72 persen remaja di as pernah menggunakan chatbot AI.
01:11Sebanyak 18 persen untuk teman ngobrol, 12 persen untuk dukungan emosional, dan 9 persen menganggap AI sebagai sahabat dekat.
01:19Ketergantungan pada chatbot dikhawatirkan dapat membuat interaksi sosial di dunia nyata menurun.
01:23Hubungan dengan manusia yang sebenarnya tetap penting karena dapat memberikan empati, dukungan, dan pemahaman yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
01:33Psikolog menegaskan, AI sebaiknya hanya dijadikan alat bantu, bukan sumber utama dalam memenuhi kebutuhan emosional.
01:39Pengguna perlu mengelola kebiasaan ini agar kesehatan mental tetap terjaga.
01:44Terima kasih.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan