Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Memasuki dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, pembangunan ekonomi Indonesia berjalan di tengah situasi global yang penuh tantangan. Sehingga, momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia harus terus dijaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5 koma 61 persen pada kuartal satu 2026. Capaian tersebut menjadi dasar optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi lagi di tahun 2026 ini.

Prabowo menekankan bahwa realisasi investasi selalu mencapai target. Prabowo optimistis dalam beberapa waktu ke depan investasi akan semakin banyak masuk ke Indonesia. Dan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia di masa depan. Pemerintahan Prabowo-Gibran optimistis perekonomian Indonesia masih akan stabil meski menghadapi tantangan situasi global.

Keberhasilan pertumbuhan ekonomi tentu tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi dan investasi, tapi bagaimana pemerintah memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kita ulas masalah ini bersama Ekonom UI, Telisa Aulia Felianty, dan Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fitra Faisal.

#prabowogibran #gibran #bakomriSahabat

Baca Juga Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, Ombudsman: Sudah Bawa Surat Resmi 2 Kali, Tetap Ditolak di https://www.kompas.tv/regional/692517/temuan-fasilitas-mewah-di-lapas-cibinong-ombudsman-sudah-bawa-surat-resmi-2-kali-tetap-ditolak



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/692518/ekonom-ui-bakom-ri-bahas-stabilitas-ekonomi-indonesia-selama-dibawah-pimpinan-prabowo-gibran
Transkrip
00:00Saudara memasuki 2 tahun pemerintahan Prabowo Gibran,
00:02pembangunan ekonomi Indonesia berjalan di tengah situasi global yang penuh tantangan,
00:07sehingga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia harus terus dijaga.
00:12Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,61% pada kuartal 1-2026.
00:20Capaian tersebut menjadi dasar optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi lagi tahun 2026.
00:28Prabowo saudara merekankan, realisasi investasi selalu mencapai target.
00:34Prabowo optimis, dalam beberapa waktu depan investasi akan semakin banyak masuk ke Indonesia
00:40dan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia di masa depan.
00:50Kita sudah buka tahun ini 1,4 juta 8 kerja,
00:55tahun 2025 2,7 juta 8 kerja baru.
00:59Dan ini investasi bukan dari program pemerintah, bukan MBG, bukan Kepat Cimera Putih.
01:06Jadi, padahal ini gejolak global ya.
01:10Dan ini beberapa minggu ke depan ya, Anda tunggu aja.
01:17Karena saya sudah tahu ya, akan ada investasi besar-besaran masuk ke Indonesia.
01:24Ya, jadi saya sangat optimis.
01:28Saya sangat optimis.
01:29Saya sudah ketemu pemain-pemain besar di dunia.
01:33Mereka datang ke Indonesia.
01:35Ya, guys.
01:38Mereka tahu fundamental ekonomi kita kuat dan aman.
01:45Saudara pemerintahan Prabowo Gibran optimistis,
01:48perekonomian Indonesia masih akan terus stabil meski menghadapi tantangan situasi global.
01:54Keberhasilan pertumbuhan ekonomi tentu tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi dan investasi saja.
02:00Tapi pertanyaannya bagaimana,
02:02ini pemerintah bisa memanfaatkan momentum untuk bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.
02:08Kita ulas masalah ini bersama ekonom UI, Telisa Aulia Velianti.
02:12Prof Telisa, selamat malam.
02:13Selamat malam.
02:15Dan hadir juga tenaga ahli utama Badan Komunikasi Pemberita, Fitra Faisal.
02:18Mas Fitra, selamat malam.
02:19Selamat malam, Mbak Audrey.
02:20Saya mau ke Prof Telidul.
02:21Prof Telidul, kalau dua tahun pemerintahnya Pak Prabowo, Mas Gibran,
02:26ini meskipun di tengah tantangan global, ketidakpastian, ekonomi global juga,
02:31kita masih bisa menjaga untuk ukuran domestik.
02:35Sebenarnya tolak ukurnya dari mana sih?
02:37Kalau yang pertama, kita bicara dua level ya, makro dan mikro.
02:42Keberhasilan ekonomi itu bisa dilihat dari dua,
02:45namun kebanyakan kita biasa lihat makronya dulu ya,
02:47seperti yang sudah kita banyak bahas di berbagai forum juga.
02:51Jadi bahwa secara makro kita bisa menjaga stabilitas,
02:54at least ekonomi kita itu minimal 5%.
02:56Dan itu kan pengennya lebih tinggi terus ya.
02:59Menjaga 5 itu juga sebagai satu angka rata-rata historis dalam 10 tahun terakhir,
03:03itu juga tidak mudah di tengah-tengangan global.
03:05Jadi kita cukup apresiasi bahwa kita bisa menjaga minimal tuh 5,
03:09bahkan lebih dari 5 kan tadi sudah disebutkan,
03:11baik quarter 1 maupun quarter 2 tahun 2026 ini.
03:14Dan pengen ditingkatkan lagi.
03:16Jadi secara pertumbuhan, stabilitas pertumbuhan itu juga relatif oke.
03:21Terus kemudian yang kedua, inflasi kita terjaga ya.
03:24Meskipun memang belakangan ini ada El Nino,
03:27ada supply chain disruption dari Hormuz yang masih terus terjadi dan harga minyak ya,
03:32itu tapi setidaknya dulu kan inflasi kita tuh rata-rata 7-8%, 6%.
03:37Nah kita bisa menjaga sekarang rata-rata inflasi tuh di angka 3% atau 2,5 plus minus 1.
03:43Nah itu pun meskipun naik turun ya, ada harga-harga yang naik dan seterusnya,
03:46tapi tidak setinggi dulu.
03:47Kita masih bisa menjaga gitu, harga-harga kebutuhan pokok meskipun ada beberapa nanti yang mulai naik
03:53karena adanya low season ya, apa ada seasonal effect ya.
03:57Nah itu juga ini tapi secara umum relatif lebih stabil seperti itu.
04:02Jadi menjaga harga kebutuhan pokok dan inflasi pada tingkat yang stabil
04:05di tengah supply chain disruption yang sedang bergejolak.
04:08Itu juga menurut saya patut kita apresiasi ya stabilitas harga itu.
04:13Jadi stabilitas pertumbuhan ekonomi harga.
04:15Terus yang ketiga, lapangan kerja.
04:17Secara angka di atas kertas, tingkat pengangguran kita tuh trennya turun terus.
04:21Oh oke.
04:21Iya, TPT kita ya, tingkat pengangguran terbuka ya Pak Fitra yang 4, sekian itu.
04:264,65.
04:264,65.
04:27Ya itu luar biasa padahal dulu rata-rata tingkat pengangguran kita tuh di angka 6.
04:31Jadi memang secara makro tiga variable indikator utama yang konvensional itu kita baik.
04:37Nah nanti kita emang next akan bicara ke mikro dan kualitas.
04:41Nah mikro dan kualitas misalkan ketimpangan, kemiskinan, dan lain sebagainya ya.
04:45Oke, kemiskinan secara angka memang turun.
04:48Meskipun kita punya PR, memang garis kemiskinan itu belum kita update ya.
04:52Sesuai dengan Bank Dunia kan memang, walaupun Bank Dunia itu ketinggian banget.
04:55Tapi mungkin yang Indonesia perlu direview supaya ukuran kesejahteraannya itu dirasakan sama oleh masyarakat.
05:00Karena kan sekarang masyarakat banyak yang merasakan, ah enggak, masa sih serendah itu kemiskinan.
05:04Nah itu karena memang datanya perlu disesuaikan, garis kemiskinannya misalkan.
05:08Tapi overall tingkat kemiskinan kita itu trendnya memang menurun.
05:11Mungkin nanti dengan adjustment garis kemiskinan, ya itu artinya saya masih yakin sih mungkin masih turun.
05:17Tapi mungkin turunnya tidak kalau menggunakan angka ini ya.
05:21Artinya itu yang supaya lebih sesuai dengan kondisi di lapangan di masyarakat.
05:24Terus yang kedua ketimpangan.
05:25Dari sisi ketimpangan juga kita, jini koefisien kita secara trend itu menurun.
05:30Meskipun setahun terakhir ini agak sedikit ada naik, tapi naiknya kecil banget.
05:32Tapi overall trend dalam 5 tahun terakhir itu masih oke.
05:36Oke, nah tapi ketimpangan itu kan di atas kertas juga ya.
05:39Maksudnya artinya gini makro gitu, makro maksud saya.
05:41Artinya itu kan dari sisi pengeluaran, dari sisi pendapatan tabungan itu masih ada PR.
05:45Tapi pelan-pelan, jadi kita mulai dari yang baik dulu, terus kemudian yang enggak baik apa,
05:49itu nanti akan kita sempurnakan sebagai masukan kepada pemerintah.
05:53Kita tetap harus memberi masukan tentunya.
05:54Memberi masukan, oke.
05:55Mas Fitra ini kan sudah berada di penghujung akhir dari September.
05:58Aktinya masih ada Oktober, November, Desember.
06:00Tiga bulan lagi, syukur-syukur harapannya adalah pertumbuhan ekonomi kita terus dan bahkan melebihi gitu dengan capaian target 6%.
06:11Nah pertanyaannya tadi Pak Prabowo juga menyebutkan bahwa akan ada investasi besar-besaran masuk ke dalam negeri.
06:17Ini investasi apa yang nampaknya ini besar banget nih yang akan masuk ke negara kita?
06:22Ya sebelum saya ke sana ya, ingin mengulang dari ada tiga variable makro tadi, kita bisa lihat ya di tengah
06:31gejolak ekonomi global.
06:33Pertama dari sisi pertumbuhan ekonomi tadi ya 5,6% plus 5,29% secara rata-rata 5,45%.
06:41Ini sudah memberidge ya, sudah di atas rata-rata 10 tahun terakhir.
06:46Kalau kita lihat tahun 2014 sampai tahun 2024, kalau kita exclude pandemic times itu rata-rata 5,07%.
06:53Sehingga 5,45% di tahun ini semester ini, itu sudah memberidge jebakan atau kutukan 5% tersebut.
07:01Apa yang dilakukan pemerintah ya untuk menjaga resilensi atau ketahanan ekonomi tersebut?
07:05Salah satunya adalah kalau kita bisa lagi zoom in ke variable pertumbuhan ekonomi tadi,
07:11ada yang disebut sebagai PMTB, pembentukan modal tetap bruto, atau yang biasa disebut sebagai investasi ya dalam kategorinya.
07:18Itu pertumbuhannya di kuartal keempat tahun 2025, tumbuhnya itu 6,12% di kuartal satunya tahun 2026,
07:28itu tumbuhnya 5,96% dan kuartal 2-nya itu 6,87%.
07:35Nah, dari situ kita bisa melihat bahwa komponen utama pertumbuhan ekonomi sudah mulai berubah dari sisi consumption driven,
07:43konsumsi kita masih 5%-an, tapi sudah mulai ditopang oleh pergerakan dari sisi investasi.
07:49Maka kita bisa melihat di situ ada transformasi.
07:52Oke, transformasi seperti apa dan ada investasi apa?
07:54Nanti ya Mas Fitra akan menjawabnya tetap bersama kami, Saudara di Sampai Dedesya malam.
07:58Berbicara kembali lagi Mas Fitra soal tadi investasi, apa sih investasi yang kira-kira akan masuk yang kemudian bisa memperkuat
08:05ekonomi kita?
08:07Ya, jadi bagaimana yang saya sampaikan tadi, kita sudah ada perubahan struktur ya secara sistematis yang tadinya berfokus pada konsumsi,
08:15Nah, sekarang sudah mulai bergerak kepada investasi ya.
08:19Sebagaimana yang saya sampaikan tadi, pertumbuhan investasi, kalau kita lihat dari komponen pertumbuhan ekonomi tadi,
08:25dari kuartal keempat, kuartal satu, dan kuartal dua, itu sudah secara rata-rata melampaui pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
08:31Dan bahkan kalau kita lihat dari tren investasi asing ya, di kuartal kedua di tahun ini, tumbuhnya 27,4 persen,
08:38dan semester satu 17 persen.
08:40Jadi ini suatu indikasi yang sangat signifikan.
08:43Dan kalau tadi meminjam apa yang disampaikan oleh Pak Presiden, investasi yang lain akan terus berdatangan.
08:49Karena apa? Karena kita sudah beranjang sana ya, ke beberapa tempat di negara-negara besar, ada di Jepang, ada di
08:57Jerman, Perancis, Rusia, China.
09:00Dan ini dengan negara yang memiliki komitmen investasi strategis.
09:03Salah satunya kalau kita bisa melihat di China, ada potensi data center.
09:07Kemudian juga Jepang, ada potensi investasi di, dari sisi investasi di tambang, dan juga teknologi.
09:16Dan tidak menutup kemungkinan juga, ada fokusnya juga di semiconductors.
09:20Sebagaimana yang sudah kita lakukan sebelumnya, ada perjanjian-perjanjian atau komitmen dengan misalnya Inggris,
09:26ada satu perusahaan namanya Arm Design Chips, itu untuk mendesain semiconductors.
09:31Sehingga pada akhirnya kita bisa melihat roadmap pembangunan Indonesia ke depan, itu tidak hanya berbasis komoditas,
09:37tetapi juga berbasis nilai tambah.
09:39Nah ini yang kemudian bisa membuat kita tumbuh di atas 5%.
09:43Dan itu bisa juga menciptakan lapangan pekerjaan tentunya.
09:46Betul, sebagaimana yang kalau kita lihat realisasi investasi di tahun ini, sampai semester 1, 1010 triliun,
09:51itu sudah mampu menyerap 1,4 juta tenaga kerja baru.
09:54Cuma memang ada masalah juga dari sisi incompatibility secara umum.
09:58Kalau kita melihat, ya memang investasi masuk, tapi ada juga beberapa tempat yang tingkat kemiskinannya,
10:04dan juga tingkat penganggurannya itu stagnan.
10:07Nah ini yang menjadi concern president, ada stagnasi, ada semacam paradoks Indonesia,
10:13di mana investasi masuk, tetapi komponen-komponen pendukungnya,
10:17seperti misalnya ini absorptive capacity dari sisi labor, dan juga yang lain-lain,
10:21ini masih kurang mendukung.
10:22Sehingga pada akhirnya kalau kita bicara mengenai astacita,
10:24astacita nomor 5 memang bicara mengenai industrialisasi,
10:27yaitu mengundang investasi.
10:29Tapi di sisi yang lain, astacita nomor 3 dan 4-nya,
10:31we create jobs dengan invest di astacita nomor 4, sumber daya manusia.
10:36Nah makanya ini menjadi penting sekali,
10:37roadmap pembangunan bangsa ini adalah bukan hanya mengundang investasi,
10:41tetapi apa yang dibalik angka-angka itu,
10:42apakah dia bisa mendatangkan ekonomi inklusif yang mesejahterkan masyarakat,
10:46dan itu menjadi paradigma bangsa kita ke depan.
10:48Ya itu juga nampaknya menjadi PR sekarang juga ya Prof. Telly ya,
10:51karena banyak yang mengatakan,
10:53oke emuk ekonomi tumbuh, tapi belum dirasakan masyarakat,
10:56itulah yang harus kemudian menjadi pekerjaan yang harus segera diselesaikan,
10:59secepat mungkin oleh Presiden.
11:01Betul, jadi kalau saya melihat bahwa,
11:03tadi kan secara makro kita sudah bahas, sudah bagus ya,
11:05terus sekarang bicara trickle down effect,
11:07karena kan di masyarakat tetap saja ada 3 kelompok masyarakat ya,
11:10menengah, apa, atas, menengah, dan bawah.
11:12Nah masing-masing itu merasakan perbedaan.
11:14Nah makanya ini kalau saya melihat sebenarnya kebijakan pemerintah sudah mengarah tuh
11:17untuk melakukan redistribusi pendapatan dan lain sebagainya,
11:20artinya bahwa lapangan kerja dan investasi itu bisa dirasakan oleh masyarakat seperti itu,
11:25jadi supaya tidak hanya di kelompok atas saja gitu kan,
11:28jadi ada yang namanya trickle down effect policy,
11:30jadi bagaimana kebijakan-kebijakan supaya ini dirasakan oleh masyarakat.
11:33Nah sebenarnya kalau kita kaitkan dengan program-program prioritas,
11:37itu sekarang sudah mulai ada perbaikan ya,
11:38namanya desain awal tuh ada kekurangan itu wajar ya,
11:41cuma memang-memang perlu terus untuk dievaluasi dan diperbaiki,
11:45agar tadi dampak multiplier effect ke masyarakatnya itu betul-betul bisa dirasakan,
11:49supaya tadi ya yang tadi Mas Lita bilang indis ekonomi,
11:52ini kita benar-benar optimis,
11:53dan kemudian optimisme itu terwujud dalam implementasi yang dirasakan oleh masyarakat.
11:58Jadi bagaimana masyarakat lebih mudah mendapatkan akses pekerjaan,
12:01kemudian harga-harga terjangkau,
12:04kemudian juga dari sisi tabungan,
12:05mungkin masyarakat juga ingin meningkatkan tabungannya dan seterusnya,
12:09itu kan yang bahasa-bahasa umum nih yang ingin dirasakan,
12:12jangan sampai makan tabungan dan lain-lain.
12:13Nah itu sedang diupayakan,
12:14kalau kita lihat arah kebijakan pemerintah belakangan ini adalah
12:17bagaimana mendatangkan investasi,
12:19kemudian menjaga agar semua terjangkau,
12:22contohnya adalah iuran BPJS kesehatan kan sudah lama nggak dinaikkan misalkan,
12:26itu karena untuk menahan supaya tidak menambah beban masyarakat,
12:29padahal masyarakat kan butuh kesehatan yang terjangkau misalkan.
12:32Nah terus kemudian dari sisi tarif listrik itu juga pemerintah menahan nih,
12:36untuk tidak naik supaya masyarakat,
12:38nah kalau BBM itu memang karena sudah tinggi sekali ya,
12:41dan sehingga subsidi energinya membengkak.
12:42Terus menjaga fiskal untuk tetap punya ruang fiskal,
12:45sehingga program-program ini bisa terus berjalan,
12:48dan harapannya tadi bisa menyerap lapangan kerja.
12:50Dan belakangan kan pemerintah juga misalkan ingin pendidikan itu lebih terjangkau ya.
12:55Nah itu juga tujuannya adalah untuk meningkatkan kelas,
12:57karena memang kan selalu yang jadi isu adalah kelas menengah.
13:00Nah kelas menengah ini memang sekarang sedang dipikirkan gimana stimulus-stimulusnya ya,
13:04nanti mungkin dari Pak Fitra, dari pemerintah bisa menyampaikan tuh,
13:07apa sih stimulus untuk kelas menengah?
13:09Karena sekarang yang banyak bersuara itu kan kelas menengah ya.
13:12Karena terhimpit, naik, nggak bisa turun semakin.
13:14Turun, dan sebenarnya karena memang guncangan ini kan begitu besar ya,
13:18ada guncangan-guncangan geopolitik dan lain sebagainya.
13:20Nah kita sedang memikirkan apa sih, dan ingin memberi masukan juga kepada pemerintah,
13:24apa sih untuk kelas menengah? Kan kita udah bagus nih secara makronya.
13:27Nah tinggal gimana PR kita supaya ini benar-benar dirasakan oleh kelas menengah,
13:31supaya nanti banyak sekali orang-orang kita sendiri yang bilang,
13:35in this economy kita memang merasakan kesejahteraan ini bersama.
13:37Nah tapi kita harus kerja bareng.
13:39Memang nggak bisa cuma pemerintah sendiri,
13:41kita harus bareng-bareng menciptakan optimisme bersama,
13:43kerja keras bersama,
13:44menciptakan trust bersama,
13:46nah ini kan ongoing lah, kita ada lesson done bersama,
13:49nah itu kita berharap sih ada nanti terobosan-terobosan
13:52yang dilakukan oleh pemerintah seperti apa
13:54untuk mendorong agar kegiatan-kegiatan ekonomi ini
13:57memang bisa dirasakan tadi oleh kelas menengah ya.
14:00Apakah terobosan itu Mas Peter juga salah satunya
14:02adalah pemerintah yang terus mendorong
14:04pembangunan kooperasi Desa Merah Putih
14:06dan juga makan bergisi geratis?
14:07Karena ini bisa jadi kan untuk menambah penghasilan mereka,
14:12menambah juga pekerjaan mereka,
14:14dan tentunya memperkuat daya beli masyarakat itu sendiri.
14:18Ya, jadi uang pajak yang dikumpulkan dari masyarakat
14:22itu akan kembali kepada masyarakat juga.
14:24Nah, salah satunya adalah kalau kita melihat
14:26dari rencana anggaran di tahun depan misalnya ya,
14:28dari potensi pajak kita sampai 2.908 triliun rupiah,
14:34itu kalau kita bagi-bagi ya,
14:35itu pertama, paling besar 820 triliun rupiah
14:38anggarannya untuk pendidikan.
14:40Yang kedua untuk perlinsos 549,9 triliun rupiah.
14:43Yang ketiga untuk kesehatan ya,
14:47244,9 triliun rupiah.
14:49Kemudian ada ketahanan pangan,
14:50195,3 triliun rupiah.
14:53All in all itu apa yang pemerintah dapatkan
14:55dari revenue,
14:57dari aspek transaksi masyarakat,
14:59dan seterusnya,
15:00itu dikumpulkan,
15:01dikembalikan lagi kepada masyarakat
15:02secara langsung.
15:04Tidak hanya bagian kooperasi Merah Putih,
15:06tetapi juga untuk memberikannya secara langsung.
15:07Tapi tidak juga di situ saja ya,
15:10pemerintah berhenti tidak hanya untuk membagikan uang,
15:13membagikan,
15:14tapi ingin juga membagikan kesempatan.
15:16Salah satunya juga kalau kita bicara mengenai
15:18roadmap Indonesia ke depan adalah
15:21transform, tidak hanya reform.
15:22Makanya kemarin,
15:23Pak Presiden menyampaikan dalam pidatonya,
15:27dalam pidato APBN kemarin,
15:30itu 10 langkah besar transformasi Indonesia.
15:32Saya tidak harus bertibut semuanya,
15:34tetapi beberapa yang worth to note
15:37adalah adanya DDMF,
15:39dan antara Development Management Fund.
15:41Ada kemudian PFVI,
15:42Pusat Finansial Internasional Indonesia.
15:44Kemudian ada Trimming Down, BMN, dan seterusnya.
15:47Nah, dan antara dan seluruh ekosistemnya
15:49adalah untuk mempush ekonomi,
15:51sehingga bisa memperhasilkan ruang-ruang ekonomi baru.
15:53Tidak hanya, misalnya tadi dengan Perlin,
15:55SOS MBG, KDMP,
15:56itu merupakan bagian,
15:57tapi itu bukan merupakan bagian yang paling utama.
16:00Bagian yang paling utamanya adalah kita
16:01transform, tidak hanya sekedar reform.
16:04Nah, yang tidak kalah pentingnya,
16:06big push yang ingin dilakukan oleh pemerintah ini,
16:08bukan hanya untuk sekedar menciptakan angka-angka,
16:11tetapi end goal-nya,
16:13sebagaimana yang ingin disampaikan oleh Jeffrey Sachs,
16:15end of poverty,
16:17untuk mengurangi kemiskinan,
16:19untuk kemudian menikahkan keadaan masyarakat.
16:21Dan pemerintah hadir dalam hal ini
16:22untuk memberikan yang paling banyak
16:24kepada yang paling sedikit.
16:25Itu adalah teori keadilan roles
16:27yang dilakukan oleh pemerintah,
16:29di mana pemerintah dalam hal ini menjamin,
16:31masyarakat yang paling miskin,
16:33itu akan tetap sejahtera,
16:35tanpa kemudian mengambil kesempatan-kesempatan
16:38di middle class.
16:39Nah, sekarang permasalahannya adalah di middle class.
16:41Nah, itu yang tadi tanya Pak Prof. Kelly juga.
16:42Apa caranya membantunya?
16:44Cara membantu middle class adalah
16:45bukan memberikan bansus.
16:47Karena kalau diberikan bansus,
16:48itu akan kehilangan martabatnya.
16:51Sehingga untuk bisa mempertahankan martabat dari middle class,
16:54memberikan ruang kerja,
16:55ruang kerja di sektor formal,
16:57sehingga bisa martabat tetap tinggi,
17:00di sisi yang lain bisa income-nya tinggi juga.
17:03Sehingga apa yang dilakukan pemerintah
17:04bukan sekedar memberikan uang,
17:06tetapi kan memberikan kesempatan.
17:07Nah, ini yang kemudian kita lihat ke depan.
17:09Industrialisasi itu tujuannya apa sih?
17:10Untuk bisa menciptakan ruang-ruang kerja di sektor formal.
17:13Sehingga apa yang dikeluhkan masyarakat sekarang,
17:15indis ekonomi,
17:16bahkan tadi kita melihat,
17:17ada kemalingan di pedal.
17:21Itu kan berarti salah satu indikator
17:23ada tingkat tekanan tertentu
17:26di masyarakat tertentu.
17:27Nah, ini yang kita ingin balikan.
17:29Kita ingin balikan lagi
17:30bagaimana kesempatan-kesempatan terbesar itu
17:32adalah yang untuk masyarakat yang paling terpinggirkan.
17:34Gimana itu mempercepat untuk tadi
17:36masyarakat yang paling terpinggirkan
17:38dan juga masyarakat dengan middle class tadi.
17:40Jangan sampai tadi yang kita lihat berita sebelumnya,
17:43raket padel saja sudah,
17:45ibaratnya sudah dimanfaatkan
17:47untuk indis ekonomi gitu,
17:49untuk dicuri dan dimanfaatkan.
17:51Jadi kalau saya melihat adalah
17:53ini kan program sudah banyak ya
17:54di level makro,
17:55policy itu sudah banyak.
17:56Nah, sekarang mungkin kita perlu
17:58lebih banyak melihat implementasi di lapangannya
18:00supaya tadi lebih match lagi
18:02antara policy maker.
18:04Nah, contoh tadi ya.
18:06Misalkan tadi program untuk lapangan kerja ya.
18:09Nah, ini kan sebenarnya ada program magang.
18:11Kemarin itu ternyata membludak banget.
18:13Ini yang sederhana aja nih
18:14untuk lulusan-lulusan kerja kita
18:16pengen dapat kerja nih sederhana.
18:18Nah, ini kita ternyata program magang nasional
18:20dari pemerintah itu peminatnya banyak sekali.
18:22Jadi overload lah artinya
18:24berarti dibutuhkan.
18:25Nah, berarti kan sekarang
18:26kita punya generasi muda
18:27yang memang mereka sangat tertarik
18:29untuk bekerja.
18:30Nah, kita harus mengecek di lapangan
18:32apakah akses terhadap tenaga kerja
18:34itu mudah atau tidak.
18:35Karena sekarang aja banyak ya,
18:37apa namanya,
18:37kalau kita tidak awasi ya,
18:39itu banyak penipuan-penipuan
18:40orang atas nama supaya kerja.
18:42Ini, nah, kayak gitu-gitu.
18:42Jadi, mudah nggak sih dapat kerja?
18:44Nah, itu kita pantau.
18:45Kita ada call center lapangan kerja.
18:46Kementerian Tendaga Kerja
18:47sebenarnya punya dashboard,
18:49labor analytics dashboard juga.
18:50Jadi, kayak di situ nanti ada,
18:52terus mungkin ada semacam call center
18:53atau apa,
18:54ada balai-balai latihan kerja.
18:56Apa sih peluang-peluang kerja
18:57yang tersedia?
18:57Itu sudah ada.
18:58Namun, tadi, untuk kesosialisasi
19:01kemasyarakatnya,
19:02jadi masih ada gap di sini
19:03kalau kita lihat.
19:04Jadi, program sudah bagus,
19:06dana ada,
19:07terus kemudian,
19:07nah, ini sebagai ininya,
19:09nah, di situlah perlu ada kerjasama
19:11dengan multi-stakeholder,
19:12dengan Pemda,
19:13dengan perguruan tinggi,
19:14balai-balai latihan kerja tadi,
19:15media,
19:16juga tentunya berperan ya
19:17di sinergi pentahelix ya,
19:19LSM, dan lain sebagainya.
19:21Dan di sini kita fungsinya berjalan nih.
19:23Gimana caranya program-program
19:24yang sudah ada itu
19:25betul-betul dirasakan.
19:26Kemudian, perizinan dan investasi.
19:28Misalkan gini,
19:29itu sudah bagus tadi,
19:31investor sudah bagus di level makro,
19:32kita coba cuptakan iklim investasi yang baik.
19:34Nah, namun dalam kenyataan,
19:35itu di lapangan masih ada
19:36pungli-pungli terhadap investasi.
19:38Nah, itu,
19:39walaupun sekarang sudah pakai OSRBA,
19:41kemarin kita ada kajian juga ya,
19:43sudah pakai OSRBA,
19:44ternyata masih ada oknum-oknum.
19:47Nah, Presiden kan bilang
19:48nggak menginikan oknum-oknum.
19:50Nah, itu harapannya itu
19:51betul-betul ditegakkan.
19:52Jadi, jangan sampai ini
19:54oknum-oknum yang mempersulit
19:55ekonomi kita,
19:56ini muncul hidup gitu,
19:57masih tetap hidup itu harus diberantas tuh.
19:59Pungli-pungli ke kawasan industri,
20:01sehingga industri merasa kurang nyaman dan sebagainya,
20:03itu harus dipangkas juga dari sisi keamanan.
20:05Kemudian, tadi dari sisi masyarakat
20:07yang mau berupaya UMKM nih,
20:08UMKM mau mendirikan,
20:10tiba-tiba udah ada pungli,
20:11udah ada preman,
20:12apa namanya,
20:13macam-macam,
20:13mereka belum menghasilkan pendapatan.
20:15Nah, jadi bagaimana UMKM,
20:16ini kan penting ya,
20:17sebagai backbone ekonomi kita,
20:19itu bukan sekedar jargon UMKM naik kelas,
20:21kemudian UMKM didukung.
20:22Itu harus banyak pengawasan di lapangannya.
20:25Jadi kalau menurut saya,
20:26di level policy implementation yang sangat makro,
20:29itu sudah bagus.
20:30Tinggal di mikronya ini,
20:31di lapangan kita perlu,
20:33pengawasannya ditingkatkan,
20:34bahwa itu betul-betul nyampe.
20:35Dan kemudian nanti ada forum-forum,
20:37di mana dengan masyarakat,
20:38oh ini loh yang gap-nya,
20:39semakin banyak forum dengan masyarakat,
20:41nanti yang dilakukan tentu,
20:42tidak hanya oleh pemerintah utama sendiri ya,
20:44ada pemerintah daerah,
20:46ada dinas-dinas juga di daerah,
20:48itu harus semakin ditingkatkan.
20:49Dan kita berharap kesadaran para birokrasi juga,
20:52untuk kita bersama-sama.
20:53Artinya ada kolaborasi yang memang harus dikongsi.
20:54Ada kolaborasi.
20:56Terima kasih Prof. Teli,
20:57Mas Vita terima kasih,
20:58selamat malam Bapak dan juga Ibu.

Dianjurkan