00:02Kita masih di Rossi on location, Bu Susi.
00:05Kalau Bu Susi, kan seorang generasi muda saat ini mahasiswa punya kecemasan,
00:12apakah mereka bisa kerja atau enggak dengan lapangan kerjaan yang cukup kompetitif.
00:16Bu Susi punya perusahaan penerbangan.
00:18Kalau Ibu Susi menerima mahasiswa baru yang sudah lulus dari UNPAD misalnya atau kampus lain,
00:24apa yang Ibu Susi lihat dari anak muda untuk bisa diterima di kantornya Bu Susi?
00:28Saya sebetulnya senang cari anak muda yang punya kemauan, keras kemauannya.
00:36Jadi bukan yang gampang, Tapi terus terang, Rosi, kita dua tahun terakhir ini banyak bertanya.
00:44Karena kita banyak rekrut, tapi juga resign banyak.
00:49Nah kebanyakan anak-anak muda sekarang ini tidak tahan pressure, tidak tahan tekanan.
00:56Jadi begitu satu kali salah, kena marah, langsung resign.
01:01They don't care anything.
01:03Nah jadi kita juga terus belajar mencari orang baru lagi.
01:09Ada ke salah satu ciri anak muda sekarang ini sedikit ignorance.
01:16Ada kesombongan.
01:17Nah itu nanti Anda akan punya persoalan untuk mencari pekerjaan baik, membangun karir yang punya patron baik sampai atas.
01:28Karena biasanya company itu akan cari yang loyal, yang punya jam terbang, experience.
01:37Nah anak-anak muda sekarang ini agak susah di situ.
01:40Tidak tahan pressure, gampang ganti, gampang mutung itu kalau bahasa sudanya.
01:49Pundung, nah itu kita agak susah.
01:51Nah kalau mau, mau belajar segala dan banyakan juga anehnya.
01:57Generasi sekarang ini sangat lemah di multitasking.
02:01Perusahaan ini cari orang dengan gaji tinggi.
02:04Kalau mereka bisa multitasking.
02:08Karena kalau pekerjaan yang teller gitu, sekarang EI banyak.
02:17Dengan data input dari anak-anak SMP, SMA saja, company can run.
02:24Kita itu sekarang butuh anak-anak muda yang bisa memanage.
02:29Terus mengkoordinasikan, mengkondisikan, making up ekosistem untuk sebuah proyek atau pekerjaan.
02:40Nah anak muda zaman sekarang ini kebanyakan tidak mau itu.
02:44Tidak multitasking.
02:47Dia hanya mau sesuai dengan...
02:49Ya, single task.
02:50Ya, sesuai dengan apa yang dia pelajari atau apa yang dia ingin kerjakan.
02:56Padahal perusahaan sekarang juga ingin pekerja-pekerja atau pelamar itu juga mau memiliki keinginan untuk belajar.
03:04Ya, kita butuh misalnya kayak saya mau pensiun, saya cari kader-kader manajer, bahkan untuk CEO kalau bisa kan.
03:14So we can reside.
03:16Nah ini tidak dimiliki, saya tidak mau menyalahkan siapapun.
03:19Tapi kelihatannya anak-anak muda sekarang ini kurang kuat terhadap pressure.
03:28Yang kedua gampang bosan.
03:31And doesn't wanna get out from comfort zone.
03:34Jadi yang dia nggak ngerti, ya nggak mau.
03:37Nah itu saya pikir satu challenge untuk...
03:40Saya pikir bukan cuma untuk anak muda diunpat saja.
03:44Tapi secara keseluruhan.
03:46Mungkin kalau saya ringkas adalah harus selalu mau membuka diri untuk dapat banyak pengetahuan.
03:52Sehingga more talented.
03:54Talenta kita itu bisa banyak, kita bisa mengerjakan banyak hal dengan baik.
03:59Terus kedua mungkin lebih tahan banting.
04:02Karena pasti kalau belum apa-apa udah pundung gitu, ngambek.
04:07Dan belum apa-apa selalu meminta work life balance.
04:10Mulai selalu baru-baru terus kan.
04:12Jadi akhirnya salary-nya juga salary newcomer kan.
04:17Nggak naik sampai ke 30 juta, 40 juta.
04:21Difficult to get that point of salary.
04:24Karena biasanya kayak di perusahaan kita.
04:26Seseorang akan mendapat gaji sampai 30-40 juta kalau udah di atas 10 tahun kan.
04:32Oke bu.
04:32Perangka dari 6 juta, 7 juta, 9 juta gitu.
04:36Nah anak-anak muda sekarang tidak.
04:38Nah mereka balik ke perusahaan baru ya.
04:40Turun lagi ke bawah lagi.
04:42Itu yang kita sayangkan.
04:44Oke.
04:45Bu Susi dari sisi private sector untuk menerima calon-calon tenaga kerja baru.
04:51Apakah itu dari mahasiswa ataupun yang lain.
04:53Untuk dua bapak-bapak ini karena ini dua-duanya adalah pemimpin daerah dan latar belakangnya politik.
05:00Saya mau ke Mas Wali dulu.
05:03Bagaimana Anda menjawab apatisme anak-anak sekarang melihat dunia politik.
05:08Ngelihat tidak ada sesuatu yang memberikan inspirasi, harapan.
05:13Dan rata-rata lebih kepada ngelihat sama aja antara mereka yang belum berkuasa dan kini berkuasa.
05:19Podoh saatnya memang menggunakan kekuasaan itu dengan cara ya mereka sendiri aja.
05:24Bagaimana Anda menjelaskan rasa jengkel anak-anak muda melihat dunia politik sekarang?
05:31Satu integritas.
05:32Itu sih mau sistemnya apapun.
05:34Integritas jadi nomor satu.
05:37Jadi kalau integritas buat saya patokannya 3P gitu.
05:40Pantas, patut, patuh.
05:44Pantas enggak nih saya ngomong begini.
05:46Patutkah saya berbuat seperti itu?
05:48Apakah perkataan dan perbuatan saya mematuhi peraturan yang ada itu?
05:53Tiga itu kuncian buat integritas itu kunci.
05:55Sudah pasti.
05:56Kedua, resilience.
05:59Daya tahan.
06:00Mendapatkan tekanan itu, aduh yuk hadepin aja.
06:03Saya sebagai wali kota Bandung, ibu kota Jawa Barat, punya gubernur segini.
06:08Tahan.
06:09Jangan cengeng.
06:10Kalau cengeng mah saya udah minta ke rakyat untuk udah, jangan saya aja, orang lain aja gitu.
06:15Oh mana ada orang nolak kekuasaan hari gini mah?
06:17Ada, bu.
06:18Enggak, enggak ada.
06:20Ada, benar.
06:21Di Jawa Barat udah ada dua wakil bupati yang akhirnya mundur.
06:24Yang pertama, yang sekarang jadi wakil bupati Tasik.
06:28Siapa?
06:28Diki Chandra.
06:30Yang kedua, yang sekarang jadi bupati Indramayu.
06:33Waktu jadi wakil bupati, mundur dia.
06:35Si Luki Hakim.
06:36Ada, bu, kalau enggak tahan, bu.
06:38Oh, kalau enggak kuat dengan tantangannya sebagai kepala daerah gitu.
06:41Betul, bu.
06:42Jadi, tapi belum menjawab, gimana kalau orang anak muda sekarang udah apatis liat politisi dan politik Indonesia?
06:50Boleh, enggak apa-apa, boleh.
06:51Saya ingin mengutip apa yang dikata oleh Suhoki Almarhum.
06:54Beliau mengatakan bahwa pesimisme dan apatisme adalah nyawaku untuk masa depan.
06:59Tuh.
07:00Hanya harus gitu.
07:01Enggak apa-apa, it's okay.
07:03Tapi, jangan cuma ngelum-lum, do something, kerjain sesuatu.
07:08Raih sesuatu.
07:09Saya juga dulu 15 semester, akhirnya lulus juga.
07:12Begitu udah lulus, ya berbuat sesuatu.
07:16Umur 15 tahun lulus SMP, cita-cita umur 20 tahun udah punya penghasilan sendiri.
07:22Masih mahasiswa.
07:24Udah gitu umur 25 tahun, udah bisa punya modal lumayan lah gitu.
07:28Terus, pokoknya setiap 5 tahun nih, ininya apa namanya, perencanaan hidupnya.
07:35Kuncinya adalah integritas dan resilience.
07:37Itu aja.
07:38Thank you, Mas Wali.
07:39Terakhir, sebagai closing statement dari Gubernur Jawa Barat, KDM.
07:45Enggak seru kalau enggak nanya soal politik sama KDM ini.
07:50Kang Deddy itu banyak diidentikan kan sering belusukan gitu kan.
07:56Tadi kan konten udah dijawab tuh, emang dari dulu begitu.
07:58Dan itu adalah menjadi bagian dari awal pembuatan polisi.
08:02Emang KDM itu ingin kayak Pak Jokowi ya?
08:04Belusukan, terus masuk gorong-gorong gitu.
08:08Oh iya, periodisasi Pak Jokowi dengan saya menjadi bupati hampir sama.
08:15Cuman bedanya waktu itu media tidak memotret saya.
08:20Jadi saya sudah melakukan itu sejak wakil bupati tahun 2003.
08:24Jadi Pak Jokowi yang niru Kang Deddy?
08:27Bukan begitu, artinya bahwa Pak Jokowi bekerja di Solo, saya bekerja di Purwakarta.
08:32Pak Jokowi di Solo, karena Solo itu pusat politik loh.
08:36Terpotret, tereksposnya dengan cepat dan nasibnya jauh lebih baik, lebih dulu.
08:43Nah kemudian saya di Purwakarta, tanpa media dan tidak punya akses terhadap media.
08:49Saya jalanin lakukan itu, jadi ya kita sudah lama bekerja mengunjungi masyarakat.
08:55Jadi kalau dalam bahasa Jawanya belusukan, saya nyebutnya kukurusukan itu udah dari dulu.
09:01Dari zaman waktu bupati Purwakarta?
09:022003, wakil bupati.
09:042003?
09:052003?
09:06Iya.
09:06Sudah keliling, sehingga ketika hari ini orang banyak menanyakan, kok ini baru muncul gubernur?
09:15Zaman dulu mungkin di Humas, Pemda, Purwakarta ada kamera gede kali ya.
09:19Kadang-kadang saya suka nyari, ada nggak foto saya zaman itu?
09:21Saya suka nyari, ternyata masih ada.
09:23Oh ini lagi di sini, di sini.
09:25Jadi aspeknya memang sudah lama kita berkeliling masyarakat dan kemudian dari bertemu langsung dengan masyarakat, dari kita tahu di lapangan,
09:35maka kita mengambil keputusan-keputusan.
09:37Dan ada satu hal, kalau kita mengerti lapangan, memahami kita tidak akan bisa dibohongin oleh anak buah.
09:46Pemimpin yang ada di lapangan adalah menjadi modal awal tidak bisa dibohongi oleh anak buah.
09:52Jadi Kang Deddy ingin mengatakan bahwa jangan hanya melulu percaya pada laporan anak buah ya.
09:58Karena anak buah selalu bisa memberikan laporan asal bapak senang.
10:02Saya tidak begitu menanggapinya.
10:04Jadi saya begini, saya kan saya bilang kepaparahan tadi.
10:09Kalau ada pohon ditebang, kok dibiarkan?
10:15Kenapa itu dibiarkan?
10:16Karena pada tingkat teknis di lapangannya melakukan pembiaran.
10:22Nah dengan periode sekarang saya bertemu dengan camat, kemudian digerakan.
10:26Hari ini sikap mental, lurah-lurah di kota Bandung sudah beda.
10:31Dia tidak boleh ada kesalahan di lingkungannya, karena akan berdampak pada punishment yang akan diberikan oleh wali kotanya.
10:39Oke, jadi Kang Deddy disini juga menjadi satu forum menjelaskan bahwa berdasarkan beberapa survei dengan top of mind,
10:51tingkat keterpilihan tertinggi, ini enggak bikin Kang Deddy jadi semacam jumawa gitu.
10:58Itu satu, bener kan?
10:59Iya enggak?
11:00Ya biasa aja.
11:01Biasa aja.
11:02Kan kita nanggapin itu sebagai cermin.
11:05Ya cermin itu kan ada dua, itu cermin tentang diri kita positif atau negatif.
11:11Oke, kalau gitu pertanyaan belahan juga, Kang Deddy punya ambisi enggak 2029 nyalon?
11:15Iya, kenapa?
11:17Ada keinginan enggak 2029 nyalon?
11:20Nyalon Gubernur ada keinginan.
11:23Tepuk tangan dulu untuk jawaban yang luar biasa.
11:25Nampain, saya ingat pertama kali Pak Gubernur ngasih sambutan di depan PHRI itu event saya pertama kali bersama setelah dilantik
11:35PHI Jawa Barat,
11:36Pak Gubernur menjelaskan, saya kata Pak Gubernur, bertekad untuk jadi Gubernur dua periode.
11:42Wah tepuk tangan dong, terus nunjuk saya, Farhan kamu wali kota?
11:45Iya, dua periode kan? Dua periode Pak?
11:47Gitu.
11:48Karena ditunjuk kemudian.
11:50Dua periode Pak kalau kepilih.
11:55Terus, klarifikasi lagi kan.
11:57Jadi satu, tadi Gubernur konten itu menjadi bagian dari awal untuk membuat policy.
12:05Dua, biasa aja dengan hasil survei.
12:08Tiga, belusukan ke gorong-gorong enggak niru pemimpin sebelumnya.
12:14Iya, karena memang kita sudah melakukan sudah sejak lama.
12:18Terus yang berikutnya adalah hidup ini.
12:21Tapi kalau lihat Pak Gu, Pak, seperti ini, dia juga enggak mungkin betah di kantor.
12:29Kalau dia suruh kerja pasti akan lebih senang keluar.
12:33Jadi ya saya pikir belusukan dia bukan dibikin-bikin, memang dia enggak bisa betah di kantor, dia senangnya jalan-jalan.
12:40Emang ada belusukan yang dibikin-bikin, Bu?
12:42Ada banyak. Jadi Bu Susi, bahkan ada staf khusus beliau ya, yang bilang, saya kan ketemu.
12:50Pak Wali nanti kata Pak Gu begini-gini, yaudah Pak Gu sekarang kemana?
12:54Enggak tahu, tunggu telepon aja, nanti telepon.
12:56Hei kamu ke sini, saya lagi ada di lokasi, cegera ke sini.
13:00Itu, enggak pernah kantor.
13:02Jadi enggak mungkin dia mau betah di rumah, di kantor, gitu enggak mungkin.
13:07Jadi menjadi wali kota Bandung dengan gubernurnya kayak gini, berkah atau bencana?
13:12Oh berkah dong.
13:19Berkah loh, karena ada gubernur yang suka malah kepala daerah bawahnya.
13:23Ada, asli seru setor, ini mah enggak pernah, malah enggak pernah ke kita, ngasih.
13:29Tepuk tangan dulu, bener ya, janji ya.
13:31Baru sih gini, kita ini kan aneh mbak.
13:33Karena katanya era digital, tanda tangan sudah digital, perencanaan digital.
13:40Terus kalau sudah era digital, gubernur wali kotanya di kantor mau ngapain digitalisasi?
13:44Ya benar.
13:46Saya bisa rapat di jalan, saya bisa nanatangan di jalan.
13:50Yang diperlukan hari ini adalah menguasai masalah di lapangan.
13:54Bu Susi ini, kalau menjadi menteri kantoran, tidak akan ada kapal ditenggelamkan.
14:00Ya benar.
14:01Tapi juga karena saya tidak betah di kantor.
14:06Terima kasih.
14:07Tepuk tangan dulu dong untuk tiga narasumber kita.
14:09Gubernur Jawa Barat, Kang Deddy Mulyadi, Menteri KKP,
14:14periode 2014-2019, Ibu Susi Pujastuti, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
14:22Tepuk tangan sekali lagi buat mereka, warga Jawa Barat.
14:26Kita mendapat banyak simpul-simpul moral cerita tentang kepemimpinan,
14:33tentang juga bagaimana kita menjalani hidup.
14:36Satu, menurut saya memang juga yang saya tangkap dari Ibu Susi sama Kang Deddy,
14:41jangan cepat kegeeran ketika kita berada di puncak situasi tertentu.
14:47Tidak ada derita dan tidak ada juga kegembiraan.
14:50Dalam perjalanan hidup semua datang silih berganti, itulah kehidupan yang membentuk kita.
14:55Makasih Kang Deddy, Bu Susi, Farhan, terima kasih.
14:58Terima kasih juga untuk Universitas Pajajaran.
15:01Kita jumpa lagi dalam program Rosi tiap hari Kamis di Kompas TV independen terpercaya.
15:06Haturnuhun, Universitas Pajajaran.