Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kini memasuki babak baru.

Hasil pemeriksaan Dinas Kesehatan menemukan tiga bakteri berbahaya dalam sisa menu MBG yang dikonsumsi para korban.

Namun, bagi keluarga korban, persoalannya bukan hanya soal penyebab keracunan.

Bahkan, mereka membawa kasus ini ke ranah hukum, dengan melaporkan BGN, SPPG hingga pihak guru atau sekolah ke polisi.

Lalu, sejauh mana pihak-pihak tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban?

Kita akan mengulasnya bersama, Sugi at Santoso, Juru Bicara Partai Gerindra dan Ardiansyah, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Bakrie, sekaligus Sekjen Pergizi Pangan Indonesia.

Baca Juga 230 Siswa dan 13 Guru Diduga Keracunan MBG di Pati, Pemkab Tetapkan KLB | BERUT di https://www.kompas.tv/regional/690029/230-siswa-dan-13-guru-diduga-keracunan-mbg-di-pati-pemkab-tetapkan-klb-berut

#mbg #keracunan #karo

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/690042/full-sekjen-pergizi-pangan-indonesia-dan-gerindra-buka-suara-soal-3-bakteri-di-mbg-karo
Transkrip
00:00Tiga kali bolak-balik rumah sakit.
00:06Dan sayalah yang pira di media sosial itu yang menanyakan racun apa yang terdetensi di ikan itu.
00:18Ratusan keluarga korban kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis atau MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara
00:25mendatangi rapat dengar pendapat di DPRD Kabupaten Karo.
00:30Dan mempertanyakan penanganan kasus yang sudah hampir satu bulan belum ada kejelasan.
00:35Susana rapat sempat memanas saat orang tua mengungkapkan kekecewaan karena mengaku baru mengetahui hasil uji laboratorium.
00:42Padahal insiden terjadi sejak 13 Agustus lalu ketika ratusan siswa di sejumlah sekolah di Berastagi
00:49mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG.
00:53Gejala yang dialami diantaranya mual, muntah, pusing, gatal pada mulut dan kulit hingga sesak napas.
00:59Data pemerintah Sumatera Utara sehari setelah kejadian menyebut jumlah korban mencapai 361 siswa.
01:06Para korban kemudian mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
01:11Dan dari hasil laboratorium, Dinas Kesehatan Karo menemukan tiga jenis bakteri pada sisa MBG yang dikonsumsi ratusan siswa.
01:19Bakteri tersebut ditemukan pada nasi, ikan, dan melon.
01:25Sampel dari nasi di sekolah itu positif, basilus cereus.
01:34Selanjutnya sampel dari ikan densis pakai saus, dari sekolah positif, streptococcus aureus.
01:44Selanjutnya sampel melon dari sekolah positif, e.coli, dan sampel butahan.
01:53Salah satu daripada korban itu positif, stabilcoccus aureus.
01:59Kini keluarga korban membawa kasus ini kerana hukum.
02:02Mereka meminta aparat mengusut tuntas pihak yang dinilai bertanggung jawab,
02:06termasuk pihak BGN, SPPG, dan pihak sekolah atau guru yang disebut dalam pengaduan.
02:12Yang kami laporkan itu adalah pertama SPPG-nya, BGN-nya, dan juga termasuk gurunya juga kita laporkan, Bu.
02:25Karena kita nilai juga ada kelalaian pada saat penerimaan daripada makanan itu, Bu.
02:33Namun siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi, katakanlah keracunan ini, itu sampai sekarang belum ada, Bu.
02:45Itu makanya kita sebagai kuasa hukum daripada korban MBG melakukan upaya hukum pelaporan itu,
02:54supaya jangan lagi ada korban-korban yang lain, Bu.
02:58Kini mereka menunggu jawaban dari pemerintah dan kepolisian agar kasus ini tidak berhenti pada penghentian operasional dapur MBG,
03:06melainkan juga mengungkap akar masalah dan pihak yang harus bertanggung jawab.
03:20Sedara kasus keracunan makanan bergizi gratis, MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara kini memasuki babak baru.
03:27Hasil pemeriksaan dinas kesehatan menemukan tiga bakteri berbahaya dalam sisa menu MBG yang dikonsumsi para korban.
03:36Namun bagi keluarga korban, persoalannya bukan hanya soal penyebab keracunan.
03:41Bahkan mereka membawa kasus ini kerana hukum dengan melaporkan BGN, SPPG, hingga pihak guru atau sekolah ke polisi.
03:48Lalu sejauh mana pihak-pihak tersebut dapat dimintai pertanggung jawaban?
03:52Kita akan mengulas bersama Sugiyat Santoso, jurubicara Partai Gerindra dan Ardian Syah,
03:58Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakri sekaligus Sekjen Pergizi Pangan Indonesia.
04:03Selamat malam Pak Sugiyat, juga Pak Ardian Syah.
04:07Selamat malam.
04:09Dan kita akan membahas banyak soal kasus keracunan MBG dulu.
04:15Saya akan ke Pak Ardian Syah.
04:17Sebenarnya dalam kasus keracunan munculnya sejumlah bakteri berbahaya, apa saja potensi kemungkinan munculnya ini?
04:24Apakah dari sisi pengolahannya kah? Apakah bahannya kah? Atau penyimpanan makanannya yang harus ditelusuri?
04:31Misalnya, Bacillus aereus pada nasi atau Staphylococcus aereus pada ikan densis dan juga E. coli pada melon?
04:39Ya, artinya tadi ya hasilnya kan sudah keluar ya.
04:44Tiga mikrobat tersebut.
04:47Jadi saya kira memang faktor pengolahan, kemudian sanitasi dan ajin baik dari penjamahnya atau dari kondisi ruang pengolahan.
05:02Dan juga termasuk pencegahan kontaminasi silam.
05:06Ya, termasuk juga adalah dari bahan baku ya.
05:09Jadi kalau kita ketahui misalnya, Bacillus aereus itu kan pada nasi kemungkinan karena ada spora ya,
05:18yang sebetulnya terdapat pada beras dan bertahan sampai pada pemasakan.
05:24Nah, jika nasi matang terlalu lama pada suhu hangat atau suhu ruang, maka sporanya tentu akan bisa berkembang.
05:32Nah, spora itu yang nanti akan menghasilkan toksin, toksin itulah yang kemungkinan ada di dalam bahan bakatan itu.
05:39Kemudian kalau Staphylococcus aereus kan itu biasanya hubungannya dengan kontaminasi dari penjamah ya.
05:47Dari kondisi makanya diwajibkan ya, bandisan agar lagi diwajibkan harus memakai sarung tangan, tutup mulut,
05:55ataupun tutup kepala gitu ya. Jadi itu menjadi standar minimal ya.
06:00Jadi kalau ada menghindari adanya kontaminasi tersebut.
06:04Nah, kemudian kalau E.coli itu kemungkinan ada kontaminasi dari pekel yang bisa terjadi dari air yang digunakan.
06:13Air yang digunakan pada saat pengolahan dan itu bisa mengkontaminasi bahannya.
06:19Kemudian bisa mengkontaminasi alat-alat yang digunakan pada saat proses pengolahan.
06:25Oke, jadi kalau dari tadi yang dijelaskan ada banyak faktornya mulai dari bahan, cara pengolahannya,
06:33juga faktor eksternal, penjamahnya juga.
06:36Pak Sugiyat, Anda melihat bahwa ini adalah persoalan serius dalam pengawasan program MBG.
06:41Karena dalam kasus terakhir ini, beberapa kasus terakhir terjadi dulu keracunan,
06:46baru ada pengawasan soal SOP dan sebagainya. Padahal kan harusnya sebaliknya.
06:51Ya, yang pertama kami dari Partai Gerindra menyampaikan rasa keprihatinan yang sangat mendalam
06:57atas peristiwa keracunan yang menimpa anak-anak kita siswa di Karu terkait dengan program MBG.
07:06Kita berharap BGN secepatnya menuntaskan persoalan ini,
07:10memastikan bahwa anak-anak kita itu bisa terlayani dalam konteks perlindungan kesehatannya
07:15dan yang paling penting bisa diusut ini masalahnya apa dan siapa yang bertanggung jawab itu.
07:21Yang kedua, saya pikir Bapak Presiden Prabowo berkali-kali mengatakan bahwa
07:26terkait dengan tata pengolah MBG, apalagi sekarang kan kepala BGN-nya baru
07:30setelah beberapa peristiwa yang lalu kita mendapatkan banyak sekali peristiwa-peristiwa
07:35penyelewengan terkait dengan program ini, kita berharap siapapun itu,
07:39apakah SPPG, apakah koordinat regional, siapapun itu yang tidak taat SOP,
07:45tidak taat ajas terkait dengan pelaksanaan MBG, ya kepala BGN yang baru bisa mengevaluasinya.
07:51Silahkan mungkin, kalau kemarin kan berdasarkan informasi yang beredar
07:54terhadap kasus pimpinan BGN yang lama kan banyak sekali dapur-dapur itu berdiri mungkin
07:59karena mekanismenya tidak sesuai dengan apalah yang seharusnya,
08:04apakah dengan cara-cara yang tidak baik,
08:06sehingga pembangunan dapurnya itu tidak memenuhi standar dapur yang disesuaikan dengan BGN,
08:12terkait misalnya dengan tata ruang dapurnya, terkait dengan pengaturan suhunya,
08:18terkait dengan kualitas penyimpanan makanannya dan sebagainya,
08:21saya pikir memang BGN pada masa prioritas masgar yang baru ini,
08:25masgar yang baru ini bisa melakukan evaluasi secara total terhadap seluruh SPPG yang ada di Indonesia
08:31supaya tidak ada lagi dalam konteks pencegahan, supaya tidak ada lagi peristiwa seperti ini di kemudian hari.
08:36Kalau bicara soal evaluasi, kan evaluasi selalu dibilang bahkan sejak kasus hukum awal mantan pimpinan BGN yang terlibat,
08:43saya ke Pak Ardiansyah agar clear betul,
08:46seharusnya kalau memang evaluasi dilakukan, apa yang disiapkan harusnya,
08:51apa yang tidak boleh terjadi dalam proses pengolahan,
08:54sehingga harusnya sih temuan tiga bakteri ini tidak dilakukan kalau tidak ditemukan kalau SOP-nya benar.
09:00Nah itu dalam proses apa semestinya evaluasi itu dilakukan Pak Ardiansyah?
09:04Kalau dari sisi menjaga kualitas makanan?
09:07Ya berarti kan tadi tiga faktor ya, pengolahan, kemudian standar di dalam standar pengolahannya,
09:17kemudian pekerjaannya, kemudian bahan baku, ya itu memang harus dikontrol ya.
09:21Jadi itu yang utamanya.
09:27Nah jadi itu harus strik sekali saya kira ya, sehingga kemungkinan adanya cemaran-cemaran itu harus diminimalkan sedini mungkin ya.
09:37Tapi kita kan kontrol bahan baku itu memang harus ada mengikuti SOP yang sudah dikuat,
09:45kemudian standar pengolahan, kemudian sanitasi pekerja,
09:50nah mereka kan memang harusnya sudah menjalankan budaya dengan baik ya.
09:54Padahal pun kalau misalnya ada masalah ya,
09:57berarti bisa kontrolnya, bisa memang ada kejadian yang memang diluar dari kapasitas mereka gitu.
10:06Pak Ardiansyah, semestinya kalau kita lihat kasus terakhir di Karo,
10:11apa yang harus diantisipasi?
10:12Kalaupun tiga bakteri ini ada, efek terburuknya itu apa sih yang ditakutkan?
10:19Ya kalau keracunan kan berarti semini gejala-gejala yang umum ya tentunya sakit perut, pusing kepala.
10:29Dan kalau kondisinya sangat parah ya bisa juga menyebabkan kematian.
10:36Tetapi tentu itu yang tidak kita inginkan.
10:38Ya bahwa yang paling penting adanya data ini sebagai indikasi bahwa sampel itu positif ya,
10:48meskipun nanti perlu ada penelusuran lebih lanjut.
10:51Apakah misalnya perlu otoritas yang menyatakan bahwa bahayanya,
10:57apa dari mikrobanya jelas misalnya ini jenisnya spesies dan seterusnya.
11:02Nah kalau dari Gerindra melihat evaluasi yang ada Pak Sugiat atau kasus di Karo terakhir,
11:09sebenarnya siapa yang harus dimintai pertanggung jawaban lewat BGN?
11:13Siapa yang harus ditunjuk terlebih dahulu?
11:16Apakah SPPG-nya atau ada lebih luas dari itu?
11:20Tidak hanya SPPG, tapi siapa yang harusnya punya tanggung jawab lebih soal ini?
11:25Ya kalau berasal dari informasi yang kami dapatkan terkait dengan peristiwa ini,
11:29ini murni karena SPPG-nya tidak memenuhi SOP yang sudah ditetapkan oleh BGN.
11:36Bagaimana misalnya terkait dengan kualitas ikan dan proses cara masaknya dan sebagainya.
11:43Dan memang kan kalau kita, ini kan tidak berdiri sendiri peristiwa ini.
11:46Bahwa sebelum Mas Sudaryono jadi kepala BGN kan memang sudah ada persoalan terkait dengan penentuan titik dapur
11:53dan pembangunan dapur-dapur yang saya pikir banyak sekali mungkin yang tidak sesuai dengan standar
11:58karena mengejar setoran dan sebagainya kan.
12:01Inilah yang mungkin menjadi PR besar dari Mas Sudaryono sebagai kepala BGN
12:05untuk katakanlah menginvestigasi, mengaudit seluruh SPPG di Indonesia
12:09yang ketika selama ini terbangun itu bagaimana kualitasnya.
12:13Seperti yang dikatakan oleh Mas Ardiansa tadi,
12:15apakah sudah memenuhi standar SOP yang ada terkait dengan katakanlah penyimpanan makanannya,
12:22pengaturan suhunya, sanitasinya.
12:24Kalau berdasarkan data yang kami dapat per 7 September 2026,
12:29Mas Sudaryono itu sudah menutup hampir 2.000 SPPG yang katakanlah belum mendapatkan dapurnya
12:34itu sertifikat layak higienis dan sanitasi.
12:38Dan memang ini menjadi pekerjaan yang sangat berat.
12:40Tapi saya pikir sekali lagi bukan berarti bahwa kita lepas tanggung jawab.
12:45Ya saya mendukung misalnya, kalau memang ada tindak pidana dalam peristiwa ini
12:50karena kelalaian sehingga mengakibatkan korban, mengalami kesakitan dan lain sebagainya,
12:54saya pikir memang harus ada unsur-unsur penegakan hukumnya yang lebih konkret
12:59supaya tidak ada lagi efek jerajangan sampai ini terbiarkan.
13:02Nanti kemudian SPPG-SPPG yang lainnya di Indonesia itu tetap pada pola yang sama.
13:07mau mencari untung sebanyak-banyaknya, lalu kemudian tidak memenuhi SOP dari
13:12yang sudah ditentukan oleh BGN dalam konteks penyediaan MDG ini kepada anak-anak.
13:17Mas Sugiyat, kalau bicara pidana tentu itu keniscayaan.
13:20Karena kalau ada keracunan seperti ini, ada kesalahan, baik kelalaian,
13:25harus ada yang bertanggung jawab secara pidana.
13:26Tapi kan anak-anak, nyawa anak-anak ini bahaya sekali kalau harus jadi taruhan.
13:33Bahkan ada yang kehilangan ingatan sebagai efek dari keracunan.
13:37Sebenarnya apakah sebegitu buah si malakamanya untuk menutup misalnya SPPG
13:42atau menghentikan dulu program MBG di sejumlah titik yang dianggap bermasalah
13:46daripada ada kasus baru dievaluasi?
13:50Pertama saya ingin kembali meluruskan terkait dengan misalnya ada anak yang kehilangan ingatan
13:56karena MBG.
13:57Nanti saya belum dapat penjelasan resmi dari BGN apakah setelah dilakukan audit
14:02atau investigasi terkait dengan kasus ini bahwa si anak itu karena faktor makanannya
14:07sehingga dia kehilangan ingatan.
14:09Kita tunjuk saja nanti redis resmi dari BGN.
14:12Tapi kalau terkait dengan program secara keseluruhan,
14:14ini kan ada banyak ribuan dan puluhan dapur yang sudah terbangun.
14:19Ya banyak juga misalnya dapur-dapur yang itu taat terhadap SOP yang sudah ditetapkan oleh BGN
14:24dan tidak ada masalah.
14:25Bahkan dalam beberapa temuan kami di lapangan sesungguhnya terhadap anak-anak yang kurang mampu,
14:31MBG ini menjadi kebutuhan mereka.
14:33Jangan karena nilai sekitik, katakanlah ada beberapa SPPG yang bandel, yang nakal,
14:38yang tidak tertib, tidak disiplin, kemudian menjernalisasi bahwa proyek MBG ini
14:43harus dihentikan sementara atau ditutup.
14:46Itu kan mengorbankan hak-hak anak yang lain.
14:48Jangan logikanya seperti ini, sama dengan misalnya katakanlah proyek infrastruktur.
14:53Karena ada kontraktor yang membangun satu ruas jalan itu korupsi,
14:58atau katakanlah rusak jalannya, lalu kita hentikan seluruh pembangunan jalan di Indonesia,
15:02kan logika seperti itu kan nggak bagus juga.
15:05Saya pikir itu.
15:05Nah, kalau begitu evaluasi yang bisa dilakukan apa, Bapak Ardiansyah?
15:10Misalnya ini kan menyediakan makanan skala besar,
15:14tapi jangan sampai ada satu kasus dulu baru dievaluasi.
15:18Karena yang namanya keracunan, seringan-ringannya efek sakit perut,
15:22tentu tidak ada orang tua yang ingin anaknya sakit dulu baru dievaluasi.
15:25Nah, idealnya seperti apa sih kalau untuk program pangan skala besar,
15:30kalau memang mau betul-betul melakukan evaluasi tata kelola yang bisa dilakukan,
15:34SOP apa sih yang harus ditinjau kembali,
15:36pun juga apa langkah hukum yang akan didorong,
15:39sesaat lagi kita akan membahas di Sampai Indonesia malam.
15:51Kamu masih bersama dengan Sugiyat Santoso,
15:54Jurubicara Partai Gerindra, juga Ardiansyah,
15:56Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Bakri,
15:59sekaligus Sekjen Pergizi Pangan Indonesia.
16:01Saya ke Pak Ardiansyah.
16:02Tiga bakteri berbahaya, itu bisakah menimbulkan kematian?
16:07Tadi dikatakan ini kan sangat berbahaya.
16:09Dalam kondisi apa bakteri tersebut bisa menimbulkan kematian, Pak Ardiansyah?
16:14Studinya atau kasus terkaitnya seperti apa?
16:17Ya, artinya jumlah mikroba itu memang sudah sangat tinggi jumlahnya ya di dalam.
16:24Jadi ada ketiga jenis mikroba ini kan punya karastik yang berbeda-beda.
16:29Jadi kalau Bacillus itu dia menghasilkan spora.
16:34Nah, sporanya itu yang bisa menyebabkan dia lebih tahan dan bisa menghasilkan spora itu yang kemudian berkembabia pada saat memasakkan
16:44nasi.
16:44Dan dibiarkan dan itu bisa memasakkan toksin.
16:48Stabilococosaurus juga salah satu yang juga bisa menyebabkan enterotoksin.
16:54Nah, di dalam rutanya masuk ke dalam tubuh itu bisa diproduksi di makanan.
17:01Nah, ini yang dia kalau diproduksi makanan kan kemungkinan ada toksin yang dihasilkan tadi misalnya Stabilococosaurus.
17:08Nah, itu kalau dikonsumsi itu akan lebih cepat reaksi di dalam tubuh.
17:13Tapi kalau yang dikonsumsi itu adalah mikrobannya, maka mikrobannya butuh waktu yang lama ya.
17:19Lebih lama.
17:21Jadi onset timenya, gejala keracunannya akan lebih lama.
17:23Jadi, itu saya kira ya.
17:25Jadi, jumlahnya ya tentu ini termasuk mikroba-mikroba yang bersifat patogen ya memang harusnya tidak ada di dalam bahan pangan.
17:38Dalam kondisi apa, bakteri ini bisa menimbulkan keracunan skala ringan hingga berat atau bahkan menimbulkan kematian, Pak Aryansyah?
17:49Ya, dia ada di apa, tadi kan mengkontaminasi ya, mengkontaminasi makanan, kemudian dia bisa tumbuh dengan baik pada suhu-suhu
17:59di dalam.
18:00Ya, itu tadi bisa terjadi di proses pengolahan, bisa terjadi di apa, pada saat pengiriman misalnya sudah di dalam wadah
18:08atau ompek makanan itu.
18:10Nah, kadang kan dia terlalu lama penyajiannya di sekolah misalnya.
18:14Jadi, kondisi-kondisi itu yang mikroba itu akan bisa bertumbuh dan berkembang biak dengan cepat.
18:22Pak Aryansyah, tentu saya dan orang tua lainnya tidak ada yang mau anaknya punya risiko keracunan berat.
18:30Bahkan amit-amit hingga meninggal dunia.
18:32Nah, sementara program MBG ini kan skalanya masif tiap hari, kalaupun SOP itu disiplin dilakukan, apa sebenarnya runutan yang harus
18:45dijaga?
18:46Jangan sampai ada risiko keracunan, kalau memang betul SOP-nya itu seperti apa, Pak Aryansyah?
18:52Ya, tadi kembali lagi ya, bahwa penanganan bahan itu kan, sorry, bisa dari bahan bakunya, kemudian pada saat produksi, pekerjaannya,
19:04kemudian ada SOP pengiriman, SOP sampai dengan penyajian kepada penerimaan manfaat.
19:11Nah, kemudian kan pada saat kita bicara proses pengolahan, tentu ada sertifikasi ya, mengikuti cara pengolahan pangan yang baik.
19:21Saya kira sekarang saya tahu, BGN mewajibkan namanya sertifikat like hygiene sanitasi ya, atau LSAS.
19:30Kemudian pengendalian keamanan ya, yang keamanan pangan pada titik-titik mana, nah itu saya kira yang harus dikendalikan.
19:38Dan, dan satu lagi mungkin yang perlu disiapkan, bagaimana SOP penanganan cepat ya, kalau misalnya ada masalah-masalah yang ditemukan
19:48di lapangan seperti ini.
19:49Tapi bicara soal punya SLHS, dalam sejumlah kasus di Sidoarjo, misalnya Pak Sugiat, itu kan asalnya punya SLHS, taruhlah yang
20:00di Kali Tengah, itu punya SLHS, tapi ternyata setelah ada kasus keracunan baru dicabut.
20:04Nah, jaminannya apa ya? Jangan sampai ada keracunan dulu, baru dievaluasi, baru dicabut.
20:11Sementara efek keracunan kan tidak bisa ditarik mundur.
20:15Ya, kami sekali lagi, ya sangat yakin dan percaya dengan kepala BGN yang baru, Mas Sudaryono, bisa mengatakan, mengevaluasi tata
20:25pola MBG ini jauh lebih baik.
20:27Misalnya, walaupun katakanlah SPBG sudah memenuhi syarat sertifikasi light higienis dan sanitasi,
20:33tapi tetap per setiap hari harus dimonitor secara langsung bagaimana SOP yang sudah ditetapkan oleh BGN ini diterapkan.
20:41Misalnya kemarin kita dapat informasi, misalnya bahwa dalam SOP BGN, paling cepat itu memasak pukul 2 hari.
20:51Tidak boleh di bawah itu kan, misalnya ada yang memasak pukul 10 atau pukul 9 malam misalnya,
20:57dan itu kan terlalu cepat sehingga makanan yang diomprengan itu terlalu lama tersimpan.
21:02Saya pikir, ya BGN harus punya sistem atau punya alat untuk katakanlah memonitoring seluruh SPBG,
21:09apakah memenuhi setiap SOP yang sudah ditetapkan oleh BGN.
21:13Kalau memang ada SOP yang dilanggar oleh SPBG, saya pikir memang BGN harus bertindak tegas untuk melutup,
21:20supaya tidak mencegah, tidak terjadi lagi peristiwa-peristiwa seperti yang terjadi di Karo.
21:25Dan memang kan dari apa yang sudah dilakukan oleh Mas Sudaryono sebagai kepala BGN,
21:29ke 7 September saja sudah 1.999 SPBG, itu yang ditutup sementara dengan banyak evaluasi yang dilakukan.
21:38Saya berharap bukan hanya 1.999 ini saja yang dilakukan investigasi dan audit,
21:44seluruh SPBG yang sudah terbangun, saya berharap BGN mendatangi langsung tentang kelayakan dapur yang mereka bangun,
21:52apakah terkait dengan pengaturan suhu, terkait dengan penyimpanan makanannya, terkait dengan sanitasinya,
21:59dapur yang mereka sudah bangun itu sudah memenuhi standar BGN atau belum.
22:03Karena memang kan dari belajar peristiwa yang terjadi pada pimpinan BGN sebelumnya,
22:07kan ini masih centang perenang semua ini kan.
22:09Masih banyak peristiwa-peristiwa yang mendapatkan titik dapur pun harus mereka setoran dan lain sebagainya.
22:15Saya yakin dan percaya di bawah kepimpinan Mas Sudariono ini akan dibangun tata keolah yang baik
22:20sehingga program MBG ini bisa berjalan secara maksimal dan baik di tengah-tengah masyarakat.
22:25Sebenarnya kalau tadi Pak Ardiansyah bilang dari studinya,
22:28bakteri yang ditemukan dalam kasus keracunan MBG itu bisa menyebabkan kematian.
22:34Kalau dari SOP yang ada saran Pak Ardiansyah sebenarnya, apa yang bisa dilakukan?
22:39Karena kalau diolah terlalu dini waktunya, terlalu panjang waktu ke penyajian hingga dimakannya makanan tersebut,
22:47itu bisa jadi faktor keracunan.
22:50Di sisi lain, kalau pagi-pagi buru-buru sementara ada ribuan porsi yang harus dilayani,
22:55itu juga kan tidak akan keburu waktunya.
22:57Apa sih yang harus dilakukan? Apakah kuotanya harus dibatasi?
23:01Atau apa Pak Ardiansyah dalam pengolahan makanan yang ideal semestinya yang harus dilakukan,
23:06yang tidak bisa ditawar dalam penyajian MBG ini?
23:10Ya, memang kan tentunya setelah adanya kejadian ini,
23:15menurut hemat saya memang ada evaluasi ya, evaluasi terhadap praktek-praktek yang sudah dilakukan.
23:25Saya tidak dalam kapasitas untuk itu, tapi artinya kita mulai misalnya tadi pelaksanaan SOP,
23:32kemudian ada mitigasinya, kemudian pelaksanaannya di lapangan bagaimana.
23:36Nah, jadi saya kira hal-hal itu yang memang dibenahi.
23:39Jadi dari prinsip, kan gini, dari prinsip sanitasi dan pengolahan bahan bakunya dikontrol dengan baik,
23:47yang menyuplainya juga baik, kemudian pada saat distribusinya.
23:50Kalau saya, prinsipnya berpotokan kepada SOP itu, Mbak Friskaya.
23:54Jadi selama itu bisa dilakukan, kemudian budaya keamanan pangan juga bisa dilaksanakan oleh para pelaku.
24:02Budaya keamanan pangan itu ya tadi menjaga supaya faktor kontaminasi itu tidak terjadi.
24:07Kemudian termasuk juga adalah pada saat penyajian, ya kita bicara SPPG mungkin bisa ngontrol dirinya sendiri.
24:14Tapi begitu di luar dibawa ke sekolah, nah sekolahnya juga harus diberitahukan bahwa makanan ini harus disajikan dengan cepat, tidak
24:26boleh lebih.
24:27Mungkin saya dengar ada sekarang dikasih label gitu ya.
24:31Jadi kalau misalnya di label itu dituliskan kalau lebih dari jam sekian, maka akan ada risiko.
24:38Misalnya dengan ada pelabelan itu mungkin salah satu upaya.
24:40Nah, itulah. Jadi sehingga kelihatannya kan memang upaya-upaya perbaikan, saya kira tetap harus dilakukan ke depan ya.
24:50Demikian, Mbak Friskaya.
24:51Baik. Kalau dari Pak Sugiet singkat saja.
24:53Jangan sampai ada sedikit saja faktor keracunan sehingga mengorbankan bahkan risikonya nyawa bagi anak-anak.
25:00Bagaimana evaluasi yang paling real yang bisa dilakukan?
25:03Jangan sampai kejajar setoran.
25:04Menjaga MBG-nya tetap harus disalurkan, sementara ada SPPG-SPPG yang menyediakan makanan bergizi gratis, tapi ternyata tidak laik dari
25:12berbagai faktor.
25:13Nah, apa yang harus dilakukan, Pak?
25:14Ya, sebelum itu saya ingin mengklarifikasi, Mbak, beberapa yang disampaikan oleh Mbak tadi.
25:20Pertama, bahwa belum ada satu peristiwa pun bahwa dalam peristiwa keracunan di program MBG ini yang ada korban jiwa kematian.
25:30Oke, Pak, itu tadi kan risikonya yang saya sebutkan, yang tadi ditanyakan ke Pak Ardian, ada risiko yang bisa di,
25:35yang kita tentu hindari itu keracunan hingga sampai meninggal dunia.
25:38Itu yang harus dijaga?
25:39Tidak, Pak. Satu, itu yang kedua. Terkait misalnya tadi ada kasus di Karo yang sampai kehilangan ingatan misalnya.
25:46Berdasarkan informasi yang kita dapat, itu ya belum ada satu lembaga manapun, katakanlah Dinas Kesehatan Karo, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera,
25:55bahkan BGN sendiri,
25:56atau katakanlah Rumah Sakit Independen yang merilis hasil investigasinya bahwa si anak itu karena makan di program MBG yang keracunan
26:06tadi,
26:06sehingga kehilangan ingatan, mungkin ada faktor lain, supaya beritanya tidak menyebar kemana-mana seolah-olah ini semua ditimpakkan ke program
26:12MBG.
26:13Tapi tetap kita bahwa harus mencegah peristiwa-peristiwa keracunan ini tidak terulang lagi.
26:18Saya sepakat misalnya, bahwa dalam konteks tata kelola, bukan yang dalam konteks SOP,
26:22tapi misalnya, kalau memang dianggap satu SPP itu terlalu besar sampai 2.000-3.000,
26:28misalnya akan nanti BGN melakukan peristiwa sendiri, berapa besar misalnya satu SPP itu,
26:35supaya kerjanya maksimal, bukan hanya dalam konteks kuantitas, tapi juga dalam konteks kualitas.
26:40Misalnya terkait dengan monitoring perharian, karena ini kan pekerjaan yang setiap hari dilakukan.
26:46BGN juga harus punya sistem bagaimana pengawasannya, monitoringnya itu perhari,
26:51dari mulai hulu sampai kehilir, dari mulai bagaimana bahan-bahan makanan ini didapat,
26:56lalu diolah di SPPG, sampai seperti yang dikatakan oleh Bang Ardiansa tadi,
27:01sekolah itu mendistribusikannya juga harus punya SOP sendiri,
27:04supaya tidak terlalu lama dan sebagainya.
27:06Saya percaya ini sekarang yang sedang disusun,
27:09dan saya yakin ada beberapa perubahan-perubahan yang sangat signifikan
27:13dari SOP yang sudah disusun oleh Kepala BGN yang baru,
27:16dan tingkat pengawasannya juga sudah akan mulai lebih proaktif lagi dan progresif lagi.
27:21Satu tata kelola harus dilakukan secara baik,
27:23jangan sampai ada satu pun faktor risiko yang dinegasikan oleh pemerintah,
27:27sehingga MBG ini dilaksanakan tanpa ada evaluasi,
27:31yang bahkan punya risiko berat untuk kesehatan anak-anak.
27:35Dan di sisi lain juga proses hukum itu tidak boleh juga dilupakan,
27:38karena satu kelolaan apapun yang bisa menyebabkan risiko hilangnya jawa,
27:44bahkan yang terberatnya jangan sampai terjadi dengan program prioritas pemerintah
27:48yang seharusnya berjalan dengan baik dari hulu ke hilir.
27:50Terima kasih atas waktunya Pak Ardiansyah, terima kasih juga.
27:53Pak Sugiat sudah hadir di Sapa Indonesia malam.
Komentar

Dianjurkan