Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau juga menyebar ke wilayah Bekasi, Jawa Barat, pada Minggu (6/9/2026) pagi.

Warga bilang, hujan abu vulkanik terjadi dengan intensitas tipis. Meski sempat dibersihkan, namun abu vulkanik kembali menempel di lantai rumah warga.

Di kawasan Rasamala, Menteng Dalam, Jakarta Selatan.

Warga membersihkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menempel di jendela rumah dan kendaraan.

Warga khawatir abu vulkanik akan mengganggu pernapasan.

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau meningkat selama 25 jam berturut-turut hingga mengeluarkan dentuman kencang. Apa yang perlu diwaspadai? Kita bahas bersama pakar mitigasi bencana geologi, Surono.

Baca Juga [FULL] Cerita Penumpang Pesawat yang Gagal Terbang ke Jakarta, Terdampak Erupsi Anak Krakatau di https://www.kompas.tv/regional/689387/full-cerita-penumpang-pesawat-yang-gagal-terbang-ke-jakarta-terdampak-erupsi-anak-krakatau

#abuvulkanik #gunungmeletus #erupsi #anakkrakatau

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/689389/waspada-abu-vulkanik-erupsi-anak-krakatau-bahaya-ini-kata-pakar-mitigasi-bencana-geologi
Transkrip
00:02Saudara, aktivitas vulkanik Gunung Anak Rakatau meningkat selama 25 jam berturut-turut
00:07hingga mengeluarkan dentuman kencang.
00:09Apa yang perlu diwaspadai, kita akan bahas bersama pakar mitigasi bencana geologi Surono.
00:14Selamat malam, Pak Surono.
00:16Selamat malam, Mbak Dian Sili Tonga. Selamat malam, para pemeriksa Akumensi TV yang saya hormati.
00:22Ya, Pak Surono, ini kan aktivitas Gunung Anak Rakatau intens selama 25 jam terakhir.
00:27Apa analisis Anda soal ini dan apakah ada dampak yang perlu diwaspadai ke depan?
00:33Ya, Gunung Anak Rakatau ini kan Gunung Api Muda.
00:37Dia harus sering meletus, itu kodrat alamiahnya ya, agar supaya dia semakin besar dan semakin tinggi.
00:44Yang jadi masalah sekarang ini letusannya relatif besar, ya kan.
00:49Abunya terbang kemana-mana dan tidak ada hujan yang segera menurunkan abu yang terbang tersebut.
00:55Dan yang paling bahaya adalah kalau dia sampai masuk ke zona vital strategis seperti bandara Soekarno-Hatta,
01:06kemudian bandara di Lampung, Raten Inten, gitu ya.
01:09Dan sekarang ini terjadi demikian ya, masuk ke mengganggu bandara Soekarno-Hatta dan bandara Raten Inten, ya.
01:19Kalau kemudian hari, pasti akan terjadi hal yang sama, hanya tidak tahu kapan terjadinya.
01:27Dan ingat bahwa Gunung Anak Rakatau akan sering meletus, ya kan.
01:32Karena dia adalah Gunung Api Muda yang secara alami dia harus membangun tubuhnya agar supaya besar dan agar supaya tinggi.
01:42Karena material kasarnya kan jatuh di sekitar puncak dan di badannya.
01:47Nah material yang halus itu dilontarkan, ya kan, jatuh di mana-mana dan celakanya lagi enggak hujan, gitu ya.
01:54Begitu, Mbak Dian.
01:55Oke, jadi menurut Anda ini fenomena erupsi kali ini adalah fenomena yang normal dibanding yang pernah terjadi sebelumnya?
02:02Sebetulnya dalam kategori erupsi memang harus ya, hanya sekarang ini ketinggiannya lebih, ya kan, dibanding dengan sebelumnya, gitu ya.
02:15Terus kemudian abunya tersebar jauh kemana-mana karena tidak hujan, tidak segera turun, ya kan.
02:23Ya ini yang jadi masalah sekarang antisipasi masyarakat adalah kesehatan mereka, ya kan.
02:28Bahwa abu ini bukan abu biasa, ya, abu yang mengandung silika, bahannya tajam dan keras, gitu ya.
02:36Jangan sampai terirup masuk ke saluran penapasan bisa masalah, gitu kan.
02:40Ini harus menggunakan masker penutup pidun dan mulut.
02:43Kemudian gunakanlah kacamata, utamanya adalah saudara-saudara kita yang menggunakan motor.
02:49Jangan sampai kena debu vulkanik masuk ke mata.
02:52Dan bila itu terjadi, jangan langsung digosok-gosok, tapi dicuci agar supaya kotorannya itu keluar.
02:59Kalau digosok, bahaya.
03:00Dan kemudian kalau di kaca mobil itu, diguyur kacanya, abunya supaya lepas.
03:06Jangan digosok dengan kain basah, itu nanti menjadi baret-baret, gitu.
03:11Oke, jadi kalau seandainya situasi ini terjadi terus-menerus secara intens ke depannya, Pak Surono, selain bandara, wilayah mana yang
03:20paling terdampak dan harus diwaspadai?
03:23Itu sangat bergantung kepada arah dan kecepatan angin, ya kan.
03:26Sekarang angin mungkin berubah-rubah arah ya dengan kondisi saat sekarang ini, sehingga bisa sampai ke Bandung, gitu kan.
03:35Bahkan jauh ke Lampung bagian utara.
03:39Ini kan sudah cukup jauh untuk letusan yang Krakatau yang sekarang ini, anak Krakatau yang sekarang ini, gitu loh.
03:48Oke, Anda tadi katakan bahwa saat kondisi erupsi anak Krakatau diperparah dengan tidak adanya hujan, begitu ya.
03:55Lalu apa yang harus dilakukan oleh otoritas untuk mengantisipasi resiko kesehatan terhadap warga?
04:03Alam kan tidak bisa ditawar ya, dia hanya memberikan harga bandrol, gitu kan.
04:07Kalau tidak ada hujan ya harus diterima seperti itu, ya gunakan namasker dan penutup hidung dan mulut dan kacamata.
04:16Ya untuk daerah-daerah yang memang terlalu parah dengan abu, ya tentunya harus mengurangi kegiatan di luar, gitu ya.
04:25Itu tidak ada lain ya, kita kan hanya tamunya alam ya, kita yang harus menyesuaikan diri dengan kondisi Tuhan rumah,
04:33alam itu sendiri, gitu.
04:34Oke, kalau gitu ada tidak jarak aman warga yang harus diperhatikan agar warga juga tetap, ya silahkan.
04:41Sebetulnya kalau dari jarak letusan yang secara langsung material bisa mengenai masyarakat, itu sudah aman, gitu kan.
04:50Yang tidak aman adalah debu alus yang terbang kemana-mana, itu saja.
04:55Kalau letusan dari material pijarnya, gitu, yang bisa mencelakai itu dalam radius 3 km dari titik letusan, itu daerah bahayanya
05:08di luar itu aman sebetulnya.
05:10Hanya saja yang tidak bisa dikendalikan kemana akan terbang dan setinggi apa debu halus itu, gitu.
05:16Dan itu kalau masuk ke sedot mesin pesawat terbang, jet, gitu, bisa sangat bermasalah.
05:25Terutama kalau masuk ke ruangan mesin, ya kan mengganggu catu oksigen, bisa kehilangan tenaga atau mesin mati sama sekali di
05:35udara, gitu loh.
05:36Oleh karena itu, suatu tindakan yang sangat brilian untuk menutup semua penerbangan dari dan ke Soekarno-Hatta, hari tadi, gitu
05:44ya.
05:45Ya, itu langkah yang sudah tepat Anda lihat.
05:47Nah, kemudian mau penegasan kembali, Pak Surono, apakah menurut Anda aktivitas vulkanik Gunung Anak Rakato ini masih akan terjadi secara
05:55intens?
05:56Lebih intens?
05:56Mungkin sekarang ini akan menurun, ya, dalam waktu beberapa, gitu ya.
06:01Tetapi, kodrat alamiah tadi yang tidak bisa ditawar, ya, dia harus membangun tubuhnya dari the next, mungkin akan terjadi letusan
06:10lagi, tidak memerlukan jeda yang cukup lama, gitu.
06:14Nah, apakah letusannya sebesar yang sekarang atau lebih besar lagi, ya, bergantung pada datanya.
06:20Jadi, kita untuk alam itu, ya kan, kejadian saat ini tidak harus sama dengan kejadian masa lalu, bergantung proses saat
06:30sekarang.
06:31Gitu loh.
06:32Oke, berarti kalau situasi saat ini, apakah Anda melihat sudah perlu dilakukan evakuasi atau pengungsian warga?
06:39Saya kira tidak perlu.
06:40Kalau evakuasi itu kan kalau terancam langsung dari letus, dari material yang dimuntahkan oleh Anak Rakato, material padat misalnya, material
06:51pijar atau hujan abu lebat yang diameternya cukup lumayan besar lah, gitu ya.
06:58Itu dia lakukan pengungsian atau awan panas, utamanya yang paling berbahaya.
07:03Tapi kalau abu kan tidak bisa kita lakukan apapun, gitu kan.
07:07Karena dia bisa menjangkau di mana arah angin itu bertiup, gitu loh.
07:13Oke, terakhir Pak Surono, singkat saja, boleh Anda sampaikan analisa Anda, selain Gunung Anak Rakato, kan ada gunung lain yang
07:21kemudian juga erusi secara bersama.
07:22Nah, Anda melihat ini fenomenanya wajar tidak?
07:25Sebetulnya fenomena alamnya yang kebetulan beberapa gunung meletus bersamaan, saya pernah melakukan skenario terjadi lima letusan gunung api sekaligus saya
07:35membentuk pasukan untuk gerak cepat melakukan itu ya.
07:38Misalnya Sinabung dengan Anak Rakato, itu kok catu magma dan orijin tekanannya itu berbeda.
07:45Apalagi dengan ibu di Almaira, ya kan.
07:48Dengan Semeru itu jauh lagi antara ayam dan panggang, gitu.
07:52Jadi, kebetulan gunung kita itu paling banyak di dunia, 13% gunung api di dunia dari kita bisa saja saling
08:00bersamaan letusannya, gitu kan.
08:03Itu hal yang wajar saja dan alamiah sekali, gitu.
08:06Oke, baik. Terima kasih Pak Surono, Pakar Mitigasi Bencana Geologi sudah berbagi pandangan di Kompas Malam.
08:12Saya telah lupa, Pak Surono.
Komentar

Dianjurkan