- 4 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu sebaran abu vulkanik hingga Jabodetabek dan sejumlah wilayah lainnya.
Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga, penerbangan, hingga membuat sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Dalam dialog Pakar Vulkanologi ITB Mirzam Abdurrahman menjelaskan karakter abu vulkanik serta potensi dampaknya terhadap kesehatan, penerbangan, infrastruktur, pertanian, peternakan, dan sumber air.
Baca Juga Selain Bandara Soetta, Bandara Halim dan Radin Inten II Juga Ditutup hingga Pukul 18.00 WIB di https://www.kompas.tv/nasional/689436/selain-bandara-soetta-bandara-halim-dan-radin-inten-ii-juga-ditutup-hingga-pukul-18-00-wib
Mirzam juga menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan Anak Krakatau kembali mengalami erupsi besar seperti 1883 atau longsoran yang memicu tsunami pada 2018.
Bersama Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan, ia menjelaskan kondisi terkini, langkah mitigasi yang perlu dilakukan masyarakat, pentingnya mengikuti arahan pemerintah, serta alasan warga diminta tetap waspada tanpa panik.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/689440/full-vulkanologi-itb-bnpb-ungkap-kondisi-anak-krakatau-erupsi-besar-seperti-2018-kompas-pagi
Kondisi ini berdampak pada aktivitas warga, penerbangan, hingga membuat sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.
Dalam dialog Pakar Vulkanologi ITB Mirzam Abdurrahman menjelaskan karakter abu vulkanik serta potensi dampaknya terhadap kesehatan, penerbangan, infrastruktur, pertanian, peternakan, dan sumber air.
Baca Juga Selain Bandara Soetta, Bandara Halim dan Radin Inten II Juga Ditutup hingga Pukul 18.00 WIB di https://www.kompas.tv/nasional/689436/selain-bandara-soetta-bandara-halim-dan-radin-inten-ii-juga-ditutup-hingga-pukul-18-00-wib
Mirzam juga menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan Anak Krakatau kembali mengalami erupsi besar seperti 1883 atau longsoran yang memicu tsunami pada 2018.
Bersama Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan, ia menjelaskan kondisi terkini, langkah mitigasi yang perlu dilakukan masyarakat, pentingnya mengikuti arahan pemerintah, serta alasan warga diminta tetap waspada tanpa panik.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/689440/full-vulkanologi-itb-bnpb-ungkap-kondisi-anak-krakatau-erupsi-besar-seperti-2018-kompas-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:09Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Rakatau menyebar hingga ke permukiman di kawasan Jabodetabek.
00:16Warga terpaksa berkali-kali membersihkan debu yang menempel di jendela, pintu, lantai, dan kendaraan.
00:22Warga di Kemayoran Jakarta mulai memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.
00:27Di kawasan Rasa Mala, Menteng Dalam, Jakarta Selatan, abu vulkanik diakui warga tidak terlalu tebal.
00:34Namun warga khawatir, partikel halus debu akan mengganggu pernapasan.
00:40Sudah salah sapu, tapi tetap debunya masih ada, tidak dilap.
00:46Karena mungkin dampak dari abu vulkanik itu jadi debunya banyak ya.
00:52Takut pengaruh dari abu vulkanik, takut batuk atau kepernapasan.
00:56Jadi saya jaga kesehatan aja sih.
01:00Sementara itu, Pemfraf DKI Jakarta menerapkan pembelajaran jerak jauh atau PJJ mulai Senin 7 September 2026.
01:07Di sedik DKI Jakarta ingin memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana aman dan nyaman.
01:12Karena itu pembelajaran dilakukan dari rumah.
01:16Penerapan PJJ bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan, namun menyesuaikan kondisi yang berlangsung.
01:22Hal serupa juga dilakukan pemerintah kota Depok.
01:26Dinas pendidikan resmi mengeluarkan surat edaran penerapan pembelajaran jerak jauh atau PJJ bagi seluruh satuan pendidikan di kota Depok.
01:34Kebijakan ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri maupun swasta tanggal 7 dan 8 September 2026.
01:40Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi dampak abu vulkanik erupsi gunung anak Rakatau yang sudah mencapai kota Depok.
01:50Menginformasikan kepada seluruh warga Depok, khususnya buat satuan pendidikan, para orang tua murid, dan buat anak-anakku dari mulai TK,
01:58PAUD, RA, SD, SMP, atau Madrasah, dan Sanawiyah
02:04untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh atau via online dari mulai besok tanggal 7 September 2026 sampai dengan tanggal 8
02:17September 2026.
02:21Erupsi gunung anak Rakatau juga berdampak terhadap jadwal penerbangan di sejumlah bandara.
02:26Sedikitnya ada 8 bandara ditutup, serta 1.558 penerbangan ditunda.
02:31Kedelapan bandara yang ditutup, antara lain Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdana Kusuma, Bandara Radin Inten 2 Lampung, Bandara Hussein
02:41Sastra Negara, Bandara Budiarto Curug, Bandara Pondok Cabai, Bandara Taufik Kimas, serta Bandara Atung Bungsu.
02:50Menteri Perhubungan, Dudi Perwagandi bilang, pihaknya akan memantau secara berkala setiap setengah jam untuk melihat arah angin dan penyebaran abu
02:59vulkanik dan dampaknya terhadap penerbangan.
03:03Kondisi debu yang semula tadi siang itu anginnya mengarah ke barat, sekarang informasi dari BMKG anginnya mengarah ke timur.
03:15Maka kami memutuskan bahwa kedelapan bandara tersebut akan kami tutup sampai dengan pukul 24.00.
03:24Supaya kita ingin memastikan apakah memang debunya ini sudah berkurang atau justru makin bertambah.
03:33Karena tadi pada flight level 15.000 dengan speed 5.0 kami khawatir bahwa ini akan semakin melebar.
03:42Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, PVMBG menjelaskan arah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Rakatau dapat berubah mengikuti arah angin.
03:52Berdasarkan pemantauan, pada minggu sore, abu vulkanik mengarah ke bagian barat Selat Sunda.
03:58Untuk di tanggal 6 ini memang demikian arah abu mengarah ke wilayah barat, bagian barat, ke Selat Sunda dan ke
04:06semudah Indonesia.
04:07Jadi kita mungkin merasakan ya dan sekali lagi untuk arah abu ini akan sangat tergantung kepada angin.
04:12Jadi bisa berubah-ubah setiap hari.
04:14Kami memonitor di sini ada beberapa stasiun pengamatan bekerja sama dengan BMKG.
04:17Dan juga ada stasiun di Australia yang kita bisa bersama-sama memantau perubahan arah angin untuk abu ini karena abu
04:24ini juga akan mempengaruhi penerbangan.
04:28Abu vulkanik Gunung Anak Rakatau telah menyebar ke sejumlah wilayah termasuk Jakarta.
04:33Warga diimbau menggunakan masker saat beraktifitas.
04:36Status Gunung Anak Rakatau saat ini berada di level 3.
04:39Masyarakat sekitar diminta untuk siaga.
04:42Bahkan nelayan yang melintas di perairan sekitar harus menjaga jarak 3 km dari gunung.
04:47Tim Liputan Kompas TV
04:55Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Rakatau menyebar hingga ke permukiman di kawasan Jabodetabek.
05:02Bahkan erupsi Gunung Anak Rakatau juga berdampak pada aktivitas penerbangan.
05:07Sehingga 1.558 penerbangan ditunda dan 8 bandara ditutup.
05:13Sementara itu sejumlah sekolah di beberapa daerah menerapkan pembelajaran jarak jauh dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Rakatau.
05:21Lantas bagaimana mitigasi terbaik penanganan dampak abu vulkanik agar keselamatan tetap terjaga dan aktivitas warga juga bisa tetap berjalan.
05:30Akan kita ulas bersama Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB ada Pak Berton Panjaitan selamat pagi.
05:39Dan juga ada Pakar Vulkanologi ITB Mirzam Abdurrahman selamat pagi.
05:44Bapak-bapak terima kasih sudah bergabung dengan Sapa Indonesia pagi hari ini.
05:51Saya mau ke Pak Berton terlebih dahulu sampai dengan pagi hari ini.
05:55Bagaimana statusnya Pak? Apakah ada peningkatan jika dibandingkan dengan kemarin pada hari Minggu terkait dengan Anak Rakatau dan juga gunung
06:02-gunung yang lain?
06:03Ya, sampai saat ini kami masih mendapatkan laporan atau informasi yang berkoordinasi tentu dengan badan biologi bahwa sampai hari ini
06:16untuk gunung Anak Rakatau masih status level 3 atau siaga.
06:23Dan beberapa gunung juga yang tadi disebutkan juga masih level yang sama, belum ada pembaruan.
06:29Dan kami juga mendapatkan informasi beberapa hari ini juga malam ini dari laporan yang kami lihat bahwa ada beberapa kali
06:40lava fountain tapi tidak terlalu tinggi dari hari-hari sebelumnya untuk gunung Anak Rakatau.
06:52Oke, kalau antisipasi dari BNPB atas dampak erupsi gunung Anak Rakatau ini sejauh ini sudah apa saja yang dilakukan?
06:58Termasuk juga apakah ada bandara-bandara lagi yang jumlahnya ditambah begitu ditutup atau masih sama dengan kemarin?
07:05Kami tetap melakukan koordinasi tentu dengan pihak-pihak terkait seperti Kementerian Perhubungan, BMKG, Badan Geologi, dan pemerintah daerah.
07:18Untuk saat sekarang informasi yang kami peroleh masih per saat sekarang ini masih delapan bandara yang ditutup.
07:25Dan semoga tidak ada lagi bandara yang ditutup karena memang seperti arah angin ini menjadi penting kita tahu atau menjadi
07:36salah satu decision yang dibuat oleh pihak pengambil kebijakan untuk ditutup tidaknya sebuah bandara.
07:46Jadi masih delapan yang kami tahu yaitu Bandar Soekarno-Hatta, Halim Perdana Kusuma, Radin Intendua, Hussein Sastra Negara, Budiarto Curug,
07:57Pondok Cabai, Taufik Kemas, dan tentu dengan satu lagi Atung Bungsu di Pagaran Sumsel.
08:05Oke, ada delapan bandara yang ditutup. Informasi terakhir masih akan dipantau ya sampai dengan nanti pukul 9 pagi update-nya
08:12akan seperti apa.
08:12Saya mau ke Pak Mirzan, ini kalau kita bicara soal abu, sebetulnya penanganannya seharusnya seperti apa?
08:20Apakah bisa dilakukan modifikasi cuaca, kemudian untuk menurunkan sebaran abu, atau apa yang kemudian bisa dilakukan Pak?
08:29Baik Mbak Aputu dan pemisah Kompas TV, jadi kalau kita melihat sebaran abu itu kita beruntung.
08:35Sebenarnya arah dominan angin itu menuju ke arah Barat Daya, atau ke Samudah India.
08:41Tapi kenapa sebagian besar kemudian masuk Jabodetabek, sampai juga ke Bandung, ke tempat saya berada saat ini?
08:47Karena pada kolom ketinggian yang berbeda, itu arah angin itu bisa berubah.
08:53Tidak ada arah yang sama, bisa beragam dengan kecepatan yang berbeda.
08:57Artinya itu sebabnya kita bisa mendapatkan abu meskipun posisinya tidak pada arah angin yang dominan.
09:03Modifikasi tentu akan membantu, misalkan secara alami akan menjadi hujan tentu, nanti kolom udara akan menjadi jauh lebih bersih.
09:10Modifikasi membantu dalam konteks tadi, mungkin apa namanya, kalau hujan buatan dilakukan seperti di Karhulullah untuk kebakaran itu bisa memadamkan
09:18api.
09:19Ini juga untuk mengurangi sebaran abu yang menjadi lebih luas dari seharusnya.
09:26Nah tapi kalau kita lihat, ini kan ada beberapa gunung yang statusnya sudah level 3 begitu ya, termasuk salah satunya
09:34adalah anak gunung Karakatau.
09:36Sejauh ini pantauan Anda, statusnya masih bisa meningkat lagi Pak?
09:40Nah ini yang pertanyaan banyak orang gitu ya, apakah Karakatau kemudian akan meningkat meletus besar seperti letusan 1883, atau bisa
09:49menghasilkan longsoran seperti pada waktu 2018?
09:54Kita tentu mengikuti apa yang dilakukan oleh teman-teman PVMBG dengan pengamatan dengan monitoring instrumennya.
10:00Tetapi kita bisa lihat bersama-sama begini.
10:02Pertama, saya memiliki risk di sana dengan bimbingan saya di Birmingham University, bahwa pertumbuhan anak Karakatau sekarang itu ada dua
10:10kecepatan.
10:12Untuk mencapai ketinggian sebelum sepersis pada waktu 2018 longsor itu, kalau mengikuti pertumbuhan yang lambat antara tahun 1960 sampai 2018,
10:23maka ini baru bisa terpenuhi tingginya di tahun 2104.
10:27Tapi kalau cepat seperti pertumbuhan sekarang di 2019 sampai 2023 setidaknya, maka tahun 2036 itu baru kemudian bisa terjadi.
10:37Nah tadi disampaikan oleh Pak Berton, teman-teman PVMBG juga saya mencermati, apa maknanya ketika lava fountain atau kolom erupsi
10:45itu semakin pendek?
10:46Arti-arti seperti orang batuk Mbak Putu dan Pemirsa.
10:48Semakin intensitasnya berkurang, semakin jarak antara letusan itu berkurang, maka seperti orang batuk tadi, maka dia sudah berangsur akan pulih.
10:57Nah, itu pun yang kemudian masyarakat pun bisa melihat secara langsung selain mendengarkan informasi dan arahan dari PVMBG.
11:04Ketika kolomnya berkurang, tinggi pancuran lava fountain yang berkurang, itu artinya energinya berangsur-angsur berkurang.
11:10Itu salah satu yang bisa kita amati sebagai warga yang tinggal di sekitar Selat Sunda bisa mengamati fenomena ini secara
11:16langsung.
11:17Artinya kalau tadi disampaikan melihat perbandingannya dengan 2018, waktu yang dibutuhkan untuk membuat impact sebesar 2018 itu butuh waktu antara
11:272036 sampai dengan 2140.
11:31Apakah dengan kondisi yang terjadi di 2026, warga di sekitar Lampung, Banten yang saat ini kalau bicara soal dampak, ini
11:41kan lumayan terdampak cukup parah dengan tinggi abu yang juga cukup tebal.
11:46Ini harus dievakuasi atau seperti apa, Pak?
11:51Evakuasi tentu nanti dilihat statusnya, begitu ya, dari teman-teman PVMBG.
11:55Tapi kekhawatiran tadi akan munculnya tsunami, kemudian letusan besar 1883 itu sangat kecil sekali.
12:02Kenapa dikatakan sangat kecil?
12:03Karena kalau kita melihat anak rakatok sebagai kerucut seperti nasi tumpeng.
12:09Nasi tumpeng itu belum ada, belum terbentuk.
12:11Belum cukup tinggi, karena ketinggiannya sekarang baru sepertiga dari ketinggian 2018.
12:16Jadi barang itu yang menjadi cikal bakal, kalau longsoran pun itu masih sangat kecil.
12:21Apalagi kalau letusan 81, 883 ini kan beredar.
12:24Ini sepertinya akan menunjukkan 883.
12:26Tidak gitu ya, barangnya pun belum muncul.
12:29Aktivitasnya pun berangsur-angsur menurun.
12:31Tetapi dengan aktivitas yang masih berjalan ini tentu kewaspadaan perlu kita tentu, apa namanya, kita tentu tingkatkan.
12:38Kita tentu harus mengikuti arahan itu.
12:40Oke, saya punya pertanyaan yang sama juga ke Pak Berton.
12:44Kalau tadi pertanyaannya adalah bagaimana nasib warga yang ada di Lampung dan juga di Banten,
12:51pertimbangan dari pemerintah sendiri dan juga seluruh stakeholder seperti apa?
12:55Sudah ada mitigasi ataupun juga upaya untuk evakuasi?
13:00Untuk evakuasi kami kira tidak ya, karena memang ini masih abu dan tidak ada hal-hal yang lain.
13:10Artinya gini, yang kita semua masyarakat umum masih bisa atasi dengan menggunakan masker atau dengan ada di rumah atau di
13:20ruangan.
13:21Jadi ini tentu sangat membantu kita untuk memahami situasi.
13:26Nah, ketika memang kalau sudah meningkat eskalasi, tentu pemerintah juga, pemerintah daerah akan mengambil langkah-langkah sesuai dengan yang direkomendasikan
13:38oleh teman-teman dari Badan Gologi maupun Badan BMKG.
13:44Dan kami juga tentu akan bergerak sigap untuk melaksanakan berbagai upaya.
13:49Nah, untuk melakukan mitigasi ke depan sebenarnya, kita tentu membuat berbagai cara seperti ada rambu-rambu evakuasi,
14:02kemudian pendidikan edukasi terhadap masyarakat, dan juga ada sirine untuk ketika ada tsunami atau gunung meletus,
14:14sudah pada tahap yang mengkhawatirkan, ini bisa dibunyikan sehingga masyarakat bisa mengambil langkah.
14:22Tentu langkahnya pun sebenarnya kalau Abu Vulkanik ini lebih kepada jangan dibawa keluar ya masyarakatnya,
14:30jangan ini tapi malah dibuat di dalam ruangan gitu ya, atau di rumah.
14:36Jadi ini yang langkah-langkah yang tentu kita pikirkan ke depan bersama dengan Kementerian Lembaga dan Pemda.
14:43Saya mau tanya dulu terkait dengan sirine, kemudian juga rambu-rambu, khususnya soal sirine.
14:49Ini jangkauannya sebetulnya seluas apa sih Pak untuk kemudian jadi alarm bagi masyarakat,
14:54mengetahui adanya peringatan dini tsunami?
14:58Iya, kami 2024-2025 membangun berbagai sirine, beberapa titik di sepanjang pantai dari Banten sebenarnya,
15:11dan memang jangkauannya itu 2 km, radius 2 km, dan memang kerapatannya ini memang yang perlu kita tambah.
15:20Nah, jadi sirine ini untuk tentu untuk menyatakan masyarakat aksi gitu ya,
15:28tentu aksinya seperti apa, ada SOP-nya yang sudah kita sampaikan ke beberapa pemuka desa,
15:36kami memiliki desa tangguh di beberapa kabupaten di Banten.
15:44Nah, dari relawan atau pemegang kunci dari desa tangguh ini,
15:50tentu akan melakukan berbagai langkah-langkah aksi dini terhadap,
15:57merespon aksi dini terhadap potensi bencana yang ada.
16:00Oke, Mitikazi, jarak jauhnya, begitu ya, jangka panjangnya ini sudah disiapkan.
16:05Kalau bicara soal hari ini, modifikasi cuaca ini jadi satu pilihan Pak,
16:10untuk kemudian didorong mengurai abu vulkanik yang saat ini sudah menyebar sampai dengan ke Jabodetabek dan juga Jawa Barat?
16:19Ya, untuk modifikasi cuaca, operasi modifikasi cuaca sebenarnya,
16:25seperti yang disampaikan oleh Bapak Kepala BNPB kemarin pada saat Perhensi Conference,
16:30ini memungkinkan sekali dilakukan.
16:32Nah, sayangnya, saat ini bandara kita yang tempat kita posko untuk MC itu di Pondok Cabai ya,
16:44dan ini ditutup.
16:45Nah, kemudian kami melakukan reposisi pesawat dari Samarinda ke Semarang,
16:52karena Semarang relatif aman, dan ini membutuhkan waktu untuk ke sana.
16:56Nah, serta beberapa peralatan kami yang dari Pondok Cabai dibawa melalui darat ke Semarang.
17:02Nah, nanti dari sana tentu berkoordinasi dengan BMKG,
17:06berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan,
17:09arah angin kemana,
17:10sehingga nanti berpotensi untuk disemaikan garamnya,
17:15atau juga memang bibit awannya ada di mana.
17:21Nah, ini akan menjadi keputusan bagi kita.
17:24Keselamatan pembawa operator kita juga menjadi penting,
17:28kita pikirkan, pesawat juga kita pikirkan, perlu kita pikirkan,
17:32sehingga keputusannya tentu sangat, apa namanya,
17:37sangat perlu memikirkan hal-hal seperti abu kemana,
17:44jangan pada saat ada abu di situ, ya pesawat ada,
17:46itu kan kita sudah dilarang terbang.
17:48Tetapi ketika tidak ada abu di suatu sisi,
17:52dan ada bibit awan di suatu sisi tersebut,
17:56tentu kita ini bisa kita laksanakan.
17:58Oke, nah sekarang ke Pak Mirzam.
18:01Sebetulnya kalau bicara abu vulkanik,
18:03ini sebetulnya karakteristiknya seperti apa, sebahaya apa,
18:08dan tadi kalau disampaikan bahwa sekarang pilihan untuk melakukan modifikasi cuaca dari atas,
18:14ini bukan satu opsi yang optimal, begitu ya.
18:18untuk kemudian dilakukan, lantas apa yang bisa dilakukan?
18:21Apakah harus ada penyebaran air, misalnya, di area darat,
18:26begitu secara mobile, dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran, misalnya?
18:31Baik, Mbak Putu, sama Pemadam 4 TV.
18:34Jadi, seperti sampaikan Pak Berton tadi,
18:37melakukan modifikasi cuaca saat ini memang relatif lebih sulit daripada kondisi normal.
18:42Nah, kemudian yang penting adalah bagaimana kita melihat perkembangan luasan sebaran abu tersebut.
18:49Nah, ini menjadi salah satu dasar kemudian kalau kita mau melakukan mitigasi.
18:53Kira-kira ke daerah mana yang relatif aman,
18:56kalau kemudian masyarakat pada akhirnya harus dipindahkan.
18:59Karena satu dan lain hal, misalkan pesidat tempatan itu terlalu tebal.
19:02Nah, abu fekan ini kan berbeda dengan abu pada debu, pada biasa, pada umumnya, gitu ya.
19:08Karena memiliki komposisi tertentu, gitu ya, dengan tingkat keasaman yang tinggi,
19:12yang kadang-kadang keandungannya juga ada sirika dengan kekerasannya sangat tinggi.
19:16Maka antisipasinya adalah dalam kondisi sekarang, gitu ya.
19:20Untuk kita tetap bisa beraktifitas, seperti disampaikan tadi,
19:23mengurangi kegiatan di luar.
19:24Kalau harus keluar pun kita harus memakai masker.
19:26Permasalahan berikutnya adalah masker sudah mulai langka, gitu ya.
19:30Apa yang kemudian harus bisa kita lakukan?
19:31Kita bisa memanfaatkan apapun sebagai pelindung wajah kita,
19:35atau saluran penafasan kita.
19:37Bisa kain, bisa buff, bisa, bisa apa namanya, kemudian kerudung.
19:41Dengan sedikit membasahi, sedangkan sedikit membasahi,
19:44menambahkan, eh, menjadi lembab.
19:46Inilah salah satu pentingnya kita mengenali karakter abu,
19:49karena abu itu akan mudah terabsorb, mudah bereaksi dengan air,
19:53sehingga dengan air yang kita gunakan atau masker itu tadi,
19:56daya serapnya akan menjadi lebih, lebih optimum.
19:59Nah, selain itu, apalagi yang kita perlu antisipasi adalah,
20:02misalkan beberapa warga menggunakan sumur, gali,
20:05sumurnya perlu ditutup.
20:06Supaya apa? Supaya abu itu tidak masuk, kemudian merubah komposisi,
20:09menjadi lebih asam, dan sebagainya.
20:12Nah, itu salah satu upaya yang perlu kita lakukan.
20:15Beberapa gunung api di Indonesia sudah memiliki peta sebaran abu,
20:19yang bersifat prediktif, gitu ya.
20:21akan ke arah mana ketika terjadi letusan di musim penghujan,
20:24ke arah mana ketika terjadi kemudian di musim kering,
20:28termasuk anakarakatok.
20:29Jadi, data itu sangat bermanfaat sekali untuk mengantisipasi kira-kira
20:33pergerakannya ke arah mana,
20:35sehingga kita bisa melakukan langkah yang tepat,
20:37ketika harus memindahkan warga pada suatu tempat tertentu.
20:40Oke, itu yang kemudian bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
20:46Tapi kalau kita bicara soal abu vulkanik,
20:49ini kan memang memorinya adalah dulu ada gunung keluwet,
20:52kemudian juga dulu pernah merapi,
20:53ini yang kemudian juga jadi satu kekhawatiran bagi masyarakat.
20:57Sebetulnya kalau kita bicara soal abu vulkanik,
21:01yang kemudian dampaknya sebetulnya
21:04yang juga harus diantisipasi oleh masyarakat,
21:07ini bisa sejauh apa?
21:09Nah, ini ada tiga produk gunung api,
21:11kan kita punya abu vulkanik,
21:13kemudian kita punya lava, kita punya udus gembel.
21:16Lava itu biasanya mengalir pada
21:18aliran-aliran sungai yang berhulu pada
21:21apa namanya, puncak suatu gunung.
21:23Maka akan terbatasan lah.
21:24Udus gembel itu problemnya,
21:26dia bisa mengalir dengan kecepatan yang tinggi.
21:27Nah, abu vulkanik, karena ringan,
21:29maka dia bisa sangat tersebar, sangat luas sekali.
21:32Apa dampaknya?
21:33Tadi pertama adalah gangguan kesehatan
21:35kalau bagi warga yang beraktifitas di luar.
21:37Yang berikutnya adalah penerbangan,
21:39itu yang sudah kita lihat.
21:40Kenapa menjadi berbahaya bagi penerbangan?
21:42Kita bisa membayangkan begini,
21:44abu ini boleh kecil,
21:45tapi ketika berapa pasar dengan kecepatan pesawat
21:48di atas 500 km per jam,
21:49ini menjadi masalah benturan-benturan itu.
21:52Belum lagi kemudian abu yang berkomposisi beragam itu
21:55pada temperatur yang tinggi ketika masuk ke mesin,
21:57dia bisa meleleh, menempel ke mesin,
21:59kemudian menaikkan temperatur secara signifikan.
22:03Nah, dampak berikutnya adalah kemudian beban terhadap abu.
22:07Nah, kemudian disampaikan pada beberapa kesempatan,
22:10termasuk saya menyampaikan bagaimana kita membersihkan abu
22:12yang ada di atap rumah, di atas kendaraan, dan sebagainya.
22:16Karena sifatnya yang seperti semen,
22:18maka akumulasi abu sebisa mungkin tidak terjadi,
22:21tidak menunggu sampai tebal.
22:23Kalau menunggu sampai tebal,
22:24kemudian kita siram air,
22:25maka seperti menaruh adonan semen di atas rumah kita,
22:27akibatnya maka pasti atap rumah kita menjadi tidak kuat.
22:32Nah, jadi gangguan kesehatan, penerbangan,
22:35kemudian infrastruktur,
22:36belum lagi pertanian dan peternakan,
22:38ini akan memberikan dampak yang sama,
22:39termasuk tadi sumber cadangan air.
22:42Nah, ini yang artinya ada beberapa hal yang akan terpengaruhi,
22:45karena luasan tadi itu bisa sangat luas sekali.
22:48Saya mengatakan Abu Krakato ini sampai Bandung itu belum seberapa.
22:52Kita pernah punya histori,
22:53letusan Toba itu meletus dari Sumatera Utara,
22:55itu sampai Afrika, jarangnya berapa sembilan ribu kilometer.
23:00Jadi kita masih beruntung saat ini,
23:02dengan kondisi angin yang seperti ini,
23:04tidak terlalu jauh,
23:05sebenarnya masih beberapa daerah saja di Jawa dan Lampung.
23:10Oke, tapi kalau bicara soal gunung anak Krakato,
23:13sebetulnya erupsi kali ini,
23:15ini lebih besar kekuatannya,
23:17atau ini masih cenderung,
23:20dalam tanda kutip begitu ya,
23:21normal untuk ukuran anak gunung Krakato
23:24yang saat ini masih berproses begitu untuk tumbuh.
23:29Ya, kalau dibandingkan dengan letusan-letusan sebelumnya,
23:32setusan di abad ke-5,
23:351883, di 2018,
23:37memang agak sedikit berbeda.
23:38Tapi saya menghalai dua hal tadi,
23:40begitu ya,
23:40dengan mengamati pertumbuhan sebelum longsor dan setelah longsor itu,
23:44ada dua kecepatan yang berbeda.
23:46Maka, dengan dasar tersebut,
23:48dengan kecepatan yang lambat sebelum longsor,
23:50dan kecepatan yang kreatif cepat setelah longsor,
23:52maka pertumbuhan anak Krakato ini baru akan bisa,
23:56gitu ya,
23:56menghasilkan seperti tadi saya sampaikan,
24:00longsoran di 2018 mengikuti yang diikuti oleh tsunami itu,
24:03kalau kecepatannya cepat baru 2003,
24:05tapi kalau kecepatannya lambat di 2001,
24:072004.
24:09Nah,
24:10apakah kemudian bisa melihat terus hebat,
24:12gitu ya,
24:12seperti 188,
24:13tidak ada,
24:13karena tubuhnya aja belum ada,
24:15gitu ya,
24:15ini yang warga perlu bisa melihat,
24:19bahwa kondisi sekarang itu berbeda.
24:21Nah, terus,
24:21apakah ini cenderung semakin membesar,
24:23atau semakin mengecil?
24:24Pengamatan PVMBG akan memantau itu.
24:27Apakah kemudian intensitasnya menurun,
24:28dan sebagainya.
24:29Tapi warga,
24:29itu bisa menilai secara langsung,
24:31sekiranya belum mendapatkan informasi dari PVMBG,
24:34karena pasti,
24:35pesebaran,
24:36apa namanya,
24:36informasi ini ada,
24:37terbataskan satu dan lain hal.
24:39Apa yang bisa dilihat?
24:40Tadi seperti saya sampaikan,
24:42apakah kolom erupsinya semakin pendek,
24:44apakah kemudian lava fontainnya itu semakin pendek,
24:49apakah kemudian durasinya itu intensitasnya juga semakin kecil.
24:53Jadi,
24:54sekali lagi saya katakan,
24:55seperti orang batuk.
24:56Kalau kita ingin menilai batuk kita,
24:58apakah menuju sebuah atau tidak,
25:00apakah semakin rapat batuknya dan semakin keras,
25:02atau sebaliknya.
25:04Apalagi yang bisa kita amati.
25:05Saya yakin di beberapa tempat di Jawa Barat,
25:08sudah nyampe abunya.
25:09Kalau abu yang nyampe ke tempat warga,
25:11dan para pemirsa itu semakin lama,
25:13semakin tipis,
25:14dan semakin halus ukuran secara relatif,
25:16berarti Karakato sebenarnya sedang memberitahu,
25:18bahwa saya sudah menuju fase yang lebih baik.
25:21Nah,
25:22ini yang perlu sama-sama kita pelajari,
25:24bagaimana kemudian gunung api itu memberikan informasi,
25:27dan coba kita menerjemahkannya itu,
25:29menjadi suatu info yang kemudian bisa kita pahami,
25:31sebagai kode menuju yang lebih baik,
25:34ataupun kemudian kondisi yang lebih buruk.
25:35Oke, pertanyaan terakhir Mas Mirzan.
25:39Jadi,
25:40kalau pertanyaannya adalah,
25:41kapan waktu yang dibutuhkan untuk gunung anak Karakato ini meredah,
25:47erupsi,
25:47dan kemudian juga aktivitas-aktivitasnya,
25:50ini berapa lama,
25:51dan apa yang bisa dilakukan masyarakat,
25:53selama kita masih menunggu,
25:55dan situasinya masih seperti sekarang ini?
25:58Jadi,
25:59apa yang dilakukan oleh kolega PVMBG,
26:02oleh Burita dan tim itu sangat luar biasa sekali,
26:04dengan mengamati beberapa parameter,
26:07kegempaan,
26:08peningkatan temperatur,
26:09gas yang dikeluarkan,
26:10itu akan melihat,
26:11apakah trennya menuju sehat,
26:14sehingga kita bisa tahu ini akan kearamannya,
26:16tapi kita tidak bisa menjawab dengan pasti,
26:18Mbak,
26:18kapan ini akan berhenti?
26:21Nah,
26:21tapi,
26:21disampaikan lagi,
26:23bahwa instrumen tersebut adalah instrumen secara umum,
26:25maka kita harus meletakkan gunung api itu seperti anak kita,
26:29anak kita mungkin batuknya berkurang,
26:32berdiam dan lain,
26:33tapi kita tahu sifatnya,
26:34ini sepertinya diam ini belum tentu,
26:36bahwa ini menuju sehat,
26:37jadi ada karakter-karakter khusus,
26:39yang tidak bisa kemudian,
26:41kita memakai secara umum di tempat,
26:42di gunung yang satu dengan gunung yang lain,
26:45jadi tanda-tanda umumnya,
26:46anak ini sudah berhenti makan,
26:47tapi belum tentu,
26:48anak kita itu sebenarnya sudah tidak lapar,
26:51nah ini yang kemudian harus dilihat,
26:52termasuk dalam keraka tau tadi,
26:54di setiap anak keraka tau,
26:56di setiap gunung itu biasanya ada instrumen yang ditempatkan,
26:58kemudian ada pengamatan yang dilihat di story-nya,
27:01sehingga kita bisa tahu anak keraka tau ini akan ke arah mana,
27:04nah,
27:04apa yang bisa dilakukan oleh warga,
27:06tujuan kita tinggal di negara seperti Indonesia,
27:09itu dantai gunung api,
27:10itu adalah bagaimana hidup harmoni ketika gunung apinya meletus,
27:15maka sehariannya adalah tadi,
27:16mengikuti arahan pemerintah,
27:17kemudian mengikuti,
27:19apa namanya,
27:20menggunakan prosedur ketika terjadi letusan,
27:22yang terakhir adalah mengenal,
27:25mengenal gunung apinya dari tanda-tanda yang diberikan,
27:27itu adalah salah satu cara,
27:29supaya kita bisa hidup berampingan dengan harmoni gunung apinya,
27:32meletus kita tetap bisa beraktivitas,
27:34pada jarak yang aman,
27:35dengan cara yang kemudian juga aman bagi warga,
27:39bagi kita semua.
27:40Oke, baik,
27:42jadi jangan panik,
27:43yang utama adalah jangan panik,
27:44dan juga menjalankan tadi ya,
27:47ada banyak hal,
27:48mulai dari menggunakan masker,
27:50atau menggunakan kain yang sudah dibasahi,
27:52menutup sumber air,
27:53dan tentu saja menjaga bagaimana kemudian rumah ini,
27:56juga dibersihkan secara berkala begitu,
27:58dari Abu Fulkani,
28:00kita harapkan kondisinya segera membaik,
28:02dan seperti mengutip pernyataan Anda tadi begitu ya,
28:05anak ini batuknya bisa segera sembuh,
28:08supaya aktivitas juga bisa kembali berjalan seperti biasa.
28:12Terima kasih,
28:12Mas sudah berbagi pandangan,
28:15Terima kasih Mbak Putu dan Pemirsa semua.
28:16Makar Vulkanologi ITB,
28:18Mirzam Abdurrahman,
28:19dan juga tadi sebelumnya sudah bergabung juga,
28:21dengan Kompas TV begitu ya,
28:24ada Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencaran BNPB,
28:28Berton Panjaitan.
28:29Sehat-sehat selalu,
28:30Bapak-Bapak.
Komentar