Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV Kebakaran lahan di Samarinda, Kalimantan Timur, mendekati kawasan permukiman warga pada Sabtu sore (5/9/2026). Proses pemadaman terkendala minimnya sumber air di lokasi.

Dari pantauan udara, api di Jalan Belimau, Kelurahan Lempake, Samarinda, cepat meluas akibat angin kencang. Petugas gabungan BPBD bersama relawan terus berupaya memadamkan api meski sumber air terbatas. Hingga Sabtu malam, api masih membara dan terus meluas. Berdasarkan data BPBD Samarinda per 4 September, lahan terbakar di 10 kelurahan mencapai 241 hektare.

Sementara itu, ribuan ikan di Sungai Silu-Gonggo atau Sungai Juwana, Pati, Jawa Tengah, mati setelah debit sungai menyusut akibat musim kemarau berkepanjangan. Kondisi ini juga mengancam pasokan air dan lahan pertanian di Kabupaten Pati.

Di sekitar Bendungan Karet Desa Bungasrejo, sebagian besar dasar sungai terlihat terbuka. Tumpukan ikan sapu-sapu mati menutupi lumpur dan air yang dangkal. Warga kemudian mengumpulkan ikan-ikan tersebut.

BMKG telah mengeluarkan peringatan kekeringan meteorologis tertinggi untuk Pati dan lebih dari 20 kabupaten lain di Jawa Tengah selama 10 hari pertama September.

Dampak kemarau juga terjadi di Sungai Kapuas, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Debit air yang menyusut membuat kapal tongkang bersama kapal tunda kandas dan menghambat aktivitas pelayaran.

Untuk membahas dampak kemarau dan kemungkinan anomali iklim, KompasTV menghadirkan Guswanto, Sekretaris Utama sekaligus Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG.

#kemarau #kekeringan #samarinda #pati #sungai #bmkg

Baca Juga [FULL] Angin Jabodetabek Bawa Abu Anak Krakatau ke Lampung, Peneliti Beri Peringatan | KOMPAS PETAN di https://www.kompas.tv/nasional/689398/full-angin-jabodetabek-bawa-abu-anak-krakatau-ke-lampung-peneliti-beri-peringatan-kompas-petan

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/689399/full-kemarau-panjang-lumpuhkan-indonesia-bmkg-ungkap-sungai-menyusut-ikan-mati-kompas-petang
Transkrip
00:09Sampai jumpa di video selanjutnya.
00:31Di lokasi, petugas gabungan BPBD dibantu relawan perjibaku memadamkan api meski sumber air minim.
00:39Hingga Sabtu malam, api masih membarah dan terus meluas. Petugas terus melakukan proses pemadaman.
00:47Data yang dirilis BPBD Samarinda per 4 September. Luasan lahan yang terbakar dari 10 kelurahan di Samarinda mencapai 241 hektare.
01:01Kita menggunakan back pump untuk membatasi api.
01:06Ini kelihatannya api karena angin kencang juga masih sedikit berkorbar.
01:11Tadi memang waktu kebakaran pertama itu sangat dekat dengan pemikiman warga.
01:16Namun demikian teman-teman damkar dan relawan sudah turun duluan untuk mematikan api yang datang kemudian.
01:22Namun air kencang, terbawa angin sehingga melebar ke tengah di pelukar-pelukar yang ada ini atau rumput-rumput ini.
01:31Ribuan ikan di sungai Silugongo, Pati, Jawa Tengah mati setelah debit sungai kering karena musim kemarau berkepanjangan.
01:39Kondisi ini juga mengancam pasokan air dan lahan pertanian di seluruh Kabupaten Pati.
01:49Sungai yang juga dikenal sebagai Sungai Juwana surut tajam di sekitar bendungan karet di desa Bunga Serejo.
01:56Rekaman video menunjukkan sebagian besar dasar bendungan terbuka dengan tumpukan ikan sapu-sapu yang mati,
02:04menutupi sebagian lumpur dan air dangkal.
02:06Warga berkumpul di sepanjang dasar sungai, mengumpulkan ikan-ikan ke dalam wadah.
02:13Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG telah mengeluarkan peringatan kekeringan meteorologis tertinggi
02:21untuk pati dan lebih dari 20 kabupaten lain di Jawa Tengah selama 10 hari pertama bulan September.
02:54Kemarau panjang membuat Sungai Kapuas di Kabupaten.
02:57dan sekadam Kalimantan Barat mengering.
03:00Debit air yang menyusut membuat kapal tongkang kandas.
03:07Seperti inilah kondisi Sungai Kapuas di Kalimantan Barat yang mengering.
03:12Debit air yang menyusut membuat sebuah kapal tongkang bersama kapal tunda kandas di tengah sungai.
03:19Kondisi ini terjadi akibat permukaan air yang semakin dangkal
03:23sehingga menghambat aktivitas pelayaran di jalur Sungai Kapuas.
03:28Di tengah kondisi ini sejumlah warga tampak mendatangi lokasi untuk melihat lebih dekat.
03:40Sungai Kapuas mulai mengering.
03:42Kapal-kapal kandas dan kekhawatiran krisis air pun muncul.
03:46Apakah ini sekedar kemarau biasa atau ada anomali iklim yang perlu diwaspadai?
03:51Kita bahas bersama Pak Guswanto, Sekretaris Utama dan PLT Deputi Bidang Meteorologi BMKG.
03:57Pak Guswanto, selamat petang.
03:59Selamat petang, Cindy.
04:01Pak Guswanto, ini sebenarnya apa yang terjadi sampai sungai-sungai terpanjang,
04:05sungai-sungai yang sebelumnya penuh debit air, mengering sampai sebegininya, Pak?
04:10Baik, Cindy.
04:12Yang pertama kita sampaikan bahwa dari beberapa press con punya BMKG,
04:18bahwa disampaikan di sana bahwa kemarau ini berafiliasi dengan adanya El Nino.
04:24Sehingga kalau kita lihat bahwa ini adalah terjadi kemarau panjang.
04:29Kemudian El Nino-nya sangat kuat.
04:31Kalau kita lihat dari indeks Indian Ocean Development-nya juga positif.
04:35Nah, kalau kita lihat dari ketiga dampak ini atau ketiga penyebab kondisi ini,
04:41itu yang menyebabkan bahwa saat ini itu kemarau ini cukup panjang ya artinya.
04:48Dan kita juga sudah memprediksi bahwa kemarau tahun ini, 2026,
04:53itu puncaknya yaitu di Agustus-September.
04:57Dan sekarang Agustus-September ini.
04:59Sekira-kira itu, Cindy.
05:01Jadi, ini adalah amplifikasi dari tiga proses, yaitu proses kemarau itu sendiri.
05:08El Nino yang sangat kuat, indeksnya Nino 34 itu 2.2.
05:13Kemudian kita lihat juga IOD-nya positif.
05:16Indian Ocean Development-nya ini juga positif.
05:19Ini juga mengurangi suplai masa udara basah ke wilayah Indonesia.
05:25Khususnya di wilayah sebelah barat dan Kalimantan.
05:28Pak Gus Wanto, tapi kalau kita bandingkan dengan tahun-tahun terakhir,
05:33apakah bisa dibilang memang dampaknya pada tahun ini lebih ekstrim?
05:37Ya, betul sekali, Cindy.
05:40Walaupun indeksnya itu masih tahun 97 itu lebih tinggi,
05:45namun tahun ini itu dampaknya itu dirasa lebih ekstrim kekeringan 2026 ini.
05:52Ini kita lihat durasinya lebih panjang dan kita melihat bahwa BMKG itu sudah mencatat bahwa kemarau ini berlangsung hingga April
06:01hingga Oktober.
06:02Nanti Oktober pertengahan hingga sampai November itulah baru akan menjadi ini lebih lama dari pola normalnya.
06:12Kemudian kita lihat juga hotspot itu meningkat juga pada bulan Juli terdeteksi 9.000 titik panas.
06:17Ini lebih dua kali lipat dibandingkan periode-periode sebelumnya.
06:21Dan kita melihat juga, Cindy, bahwa krisis air bersih, air bersih ya, banyak di daerah mengalami penurunan.
06:29Air tanah dan sungai memicu keterbatasan pasokan air rumah, tangga, dan pertanian.
06:35Dan yang kita lihat juga bahwa karhutlah ini juga meluas hingga Juni 2026 dan luas lahan terbakar itu sudah mencapai
06:458.000 hektare dan saat ini mungkin sudah lebih ya.
06:49Nah, kita juga melihat, Cindy, sebenarnya kekeringan itu tidak terjadi begitu saja.
06:55Ada prosesnya. Kita lihat tadi disampaikan oleh Cindy di awal pembukaan bahwa kekeringan meteorologis sudah dideklar oleh BMKG pada waktu
07:05itu.
07:06Yang mana kekeringan meteorologis itu terjadi ketika curah hujan di satu daerah itu berada di bawah normal dalam satu musim.
07:14Kondisi ini membuat kelembapan udara nurun.
07:17Nah, saat ini itu sudah memasuki yaitu kekeringan hidrologis.
07:21Di mana terjadi saat pasokan air tanah, air tanah ini yang dimaksud adalah air tanah dan air permukaan ya,
07:29seperti sungai, danau, waduk, ini sudah berkurang secara drastis.
07:33Debit air pun juga sudah menurun dari tingkat normalnya.
07:38Nah, nanti kita waspadai jangan masuk ke dalam kekeringan yang tahap selanjutnya,
07:43yaitu kekeringan agronomis atau pertanian.
07:46Di mana terjadi kandungan air di dalam tanah itu berkurang.
07:52Tanah tidak mampu memenuhi kebutuhan air bagi tanaman,
07:55sehingga pertumbuhan tanaman bisa terganggu dan layu.
07:59Nah, ini kan masih ada periode, kalau kita berpaksa ada 40 harian lagi menuju arah musim hujan.
08:06Nah, ini kita jaga jangan sampai terjadi kekeringan sosial dan kekeringan ekonomi,
08:10yang mana akibat pasokan kekurangan air tadi terganggu karena dampak tiga jenis kekeringan di atas,
08:17itu memicu adanya krisis ekonomi dan sosial di masyarakat.
08:20Nah, kita melihat bahwa saat ini kita berusaha keras melalui modifikasi cuaca,
08:27melalui water booming, bagaimana mengendalikan kekeringan ini,
08:32supaya pada tahapan tidak berlanjut menuju kekeringan agronomis.
08:37Jadi, kekeringan masih di tingkat hidrologis.
08:41Pak Gus Wanto, tapi kalau sepanjang sejarah sebenarnya,
08:44apakah memang sudah pernah terjadi juga kekeringan sungai,
08:47sampai tadi kan diberita sampai ada ikan-ikan yang mati juga?
08:52Iya, kalau kita lihat ini adalah yang kekeringannya agak cukup tinggi ya,
08:57dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
08:59Tadi kan sudah saya sampaikan di depan seberapa ekstrim ya.
09:04Memang kalau dibandingkan tahun 97-98,
09:07indeknya itu masih tinggi yang dulu.
09:09Namun dampaknya ini saat ini itu lebih dibanding yang tahun lalu ya.
09:16Nah, respon itu sebenarnya kan tergantung dari bagaimana sebuah komunitas,
09:22sebuah masyarakat itu merespon terhadap proses kekeringan tadi.
09:26Ini yang perlu kita gunakan juga.
09:30Artinya seperti proses-proses kita tidak melakukan pembakaran,
09:35supaya dampak itu tidak lebih parah.
09:37Kemudian bagaimana kita bisa menggunakan air itu secara bijak,
09:42hal-hal itulah yang perlu kita tekankan,
09:45agar tidak menuju kekeringan agronomi, satu pertanian.
09:50Oke. Pak Guswanto, ini harus diantisipasi sampai kapan kekeringan ekstrim ini,
09:56dan wilayah mana saja yang juga harus bersiap?
10:00Baik, Cindy. Jadi kalau kita melihat daripada perakiraan BMKG,
10:05saat ini kita lihat ya, ada namanya hari tanpa hujan.
10:10Kita melihat dari citra satelit maupun analisis yang kita lakukan secara klimatologis.
10:16Namun dari citra satelit, kita melakukan analisis saat ini sudah sebanyak 81,1 persen.
10:24Zona musim di Indonesia itu mengalami kemarau dengan hari tanpa hujan yang panjang.
10:29Misalkan kita lihat ya, Cindy.
10:33Cakupan wilayah, misalkan 567 zona musim tadi,
10:38ini di Indonesia sedang dana musim kemarau.
10:40Durasi terlama itu adalah Provinsi Jawa Tengah ya,
10:43mencatatkan hari tanpa hujan terlama, ini sudah mencapai 122 hari.
10:49Ini disusul wilayah Purworejo sempat mengalami hari tanpa hujan hingga 80 hari.
10:55Nah, kita juga melihat ada status, kalau boleh saya sampaikan itu awas kekeringan di wilayah D.I.E.
11:03Ini juga peringatan dini kekeringan, mitrugis ini juga kita tekankan,
11:08karena ada yang sudah melampaui 60 hari dari peta yang kita lihat tadi,
11:13dari satelit konsekutif dry disknya ya.
11:16Kemudian puncak kekeringan itu sendiri, BMKG sudah memprediksi,
11:20yaitu terjadi Agustus hingga September.
11:22Saat ini adalah di bulan September tanggal awal.
11:25Jadi masih ada sekitar 30-40 hari yang kita harus bertahan,
11:31agar nantinya di bulan pertengahan Oktober hingga Oktober akhir itu sudah masuk musim hujan.
11:39Oke, baik.
11:40Pak Guswanto, Sekretaris Utama dan PLT Deputi Bidang Meteorologi BMKG,
11:44terima kasih sudah berbagi penjelasan untuk Kompos Petang seselalu ya Pak Guswanto.
11:49Ya, terima kasih Sindi.
11:50Semoga sehat selalu dan kekeringan lekas berlalu.
11:53Amin.
11:54Terima kasih Pak.
Komentar

Dianjurkan