Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 hari yang lalu


JAKARTA, KOMPAS.TV - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan aktivitas yang meningkat sejak Jumat (4/9/2026).

Namun, Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.

"Bahwa tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018 terutama ini berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi," kata Lana, Minggu (6/9/2026).

Baca Juga Menhub Imbau Gunakan Kereta hingga Kapal Imbas Erupsi Anak Krakatau di https://www.kompas.tv/nasional/689393/menhub-imbau-gunakan-kereta-hingga-kapal-imbas-erupsi-anak-krakatau



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/689396/gunung-anak-krakatau-erupsi-badan-geologi-ungkap-bedanya-dengan-kondisi-tahun-2018
Transkrip
00:00Pertanyaan selanjutnya, apakah aktivitas saat ini berpotensi memicu tsunami seperti pada tahun 2018?
00:09Jadi bisa disampaikan Mbak Gina bahwa tidak setiap erupsi gunung anak Krakatau akan memicu tsunami.
00:17Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018 terutama ini berkaitan dengan keruntuhan
00:24sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar.
00:28Bukan semata-mata akibat kolom erupsi.
00:31Morfologi gunung anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018.
00:38Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018.
00:44Kemudian juga mengalami pertumbuhan dan perubahan morfologi kembali akibat aktivitas erupsi berikutnya.
00:51Nah berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya ini relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan yang jelas
01:04dibandingkan pemetaan sebelumnya.
01:05Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini pertumbuhan tubuh gunung anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini
01:18masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
01:23Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif.
01:33Baik, pertanyaan selanjutnya, apakah kerusakan CCTV mengganggu pemantauan secara real time?
01:40Kerusakan perangkat yang berada dekat kawah dapat mengurangi cakupan pengamatan visual dari titik tertentu.
01:48Tetapi tidak semata-mata menghentikan pemantauan gunung anak Krakatau.
01:52Pemantauan yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian SDM ini dilakukan secara multi-parameter.
02:02Dan tidak hanya bergantung pada satu CCTV atau satu instrumen saja.
02:07Parameter utama yang tetap digunakan mencakup jaringan seismik, pengamatan visual, dan lokasi yang aman maksud saya,
02:16dan deformasi serta emisi gas, cita satelit, serta informasi lapangan.
02:21Redudansi instrumen sangat penting karena peralatan yang ditempatkan dekat gunung api aktif ini selalu memiliki risiko terkenanya lontaran material,
02:32juga abu, serta cuaca ekstrim, atau juga gangguan komunikasi.
02:37Untuk itu, PVMBG Badan Geologi Kementerian SDM juga melakukan evaluasi kualitas dan kontunitas data.
02:44Perbaikan atau penggantian alat akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi aktivitas dan keselamatan petugas.
02:51Selama aktivitas tinggi, personel tidak akan dikirim memasuki zona berbahaya hanya untuk memperbaiki sistem.
02:59Demikian, Mbak Gina.
03:01Baik, Ibu. Pertanyaan yang kelima, bagaimana proyeksi sebaran abu dan dapatnya bagi penerbangan serta pemukiman?
03:09Baik, Mbak Gina. Jadi arah sebaran abu ini sangat dipengaruhi oleh arah kecepatan angin pada berbagai ketinggian.
03:19Jadi tinggi kolom erupsi, durasi erupsi, dan jumlah material yang dikeluarkan itu ini sangat mempengaruhi arah sebaran abu tersebut.
03:28Oleh sebab itu, arah sebaran abu dapat berubah dalam waktu relatif singkat dan harus diperbarui berdasarkan kondisi meteorologi terkini.
03:38PPMBG menyampaikan informasi sumber erupsi, waktu kejadian, tinggi kolom abu, warna, intensitas, dan arah kecenderungan kolom abu yang teramati.
03:49Untuk keselamatan pertambangan, informasi tersebut dikoordinasikan melalui mekanisme Volcano Observatory Notice for Aviation atau VONA
04:00dan menjadi masukan bagi otoritas penerbangan serta lembaga meteorologi penerbangan.
04:07Potensi dampak yang lebih luas ini akan meningkat apabila kolom erupsi menjadi lebih tinggi.
04:13Erupsi berlangsung lebih lama atau angin membawa abu ke jalur penerbangan dan wilayah berpenduduk.
04:19Dampak terhadap operasional bandara ditetapkan oleh otoritas penerbangan berdasarkan informasi abu aktual,
04:28perakiraan penyebaran, dan juga standar keselamatan penerbangan.
04:31Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi karena sebaran abu tidak dapat diproyeksikan berdasarkan satu kejadian erupsi.
04:40Demikian, Mbak Gina.
Komentar

Dianjurkan