Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
SAMARINDA, KOMPAS.TV - Kebakaran lahan di Samarinda, Kalimantan Timur mendekati kawasan permukiman warga.

Saat proses pemadaman, petugas terkendala sumber air minim di lokasi.

Kencangnya angin membuat api begitu cepat meluas. Di lokasi, petugas gabungan BPBD dibantu relawan berjibaku memadamkan api meski sumber air minim.

Dari data yang dirilis BPBD Samarinda per 4 September, luasan lahan yang terbakar dari 10 kelurahan di Samarinda mencapai 241 hektar.

Puluhan pohon rambutan dan sekitar 100 batang pohon limau milik seorang guru ludes terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan.

Kebakaran tersebut menghanguskan hampir seluruh tanaman di lahan seluas kurang lebih 9 ribu meter persegi.

Beginilah kondisi di sekitar pondok milik seorang guru yang menyiapkan masa pensiun dengan berkebun.

Lahan seluas 9 ribu meter persegi yang ditanami rambutan dan limau hampir habis terbakar, hanya tersisa sejumlah pohon di sekitar pondok karena tersambar api kebakaran lahan yang awalnya menyala di lahan semak belukar berjarak 50 meter dari lokasi.

Puluhan pohon rambutan dan ratusan pohon limau yang dipersiapkan untuk masa pensiunnya habis terbakar.

Untuk mengetahui perkembangan penanganan kebakaran lahan, sudah ada Jurnalis KompasTV Sayyidah Aisyah dan Juru Kamera Arpawi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Baca Juga [FULL] BUKA FAKTA! Ito Sumardi & Greenpeace Ungkap Siapa Dalang di Balik Karhutla | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/689235/full-buka-fakta-ito-sumardi-greenpeace-ungkap-siapa-dalang-di-balik-karhutla-kompas-petang

#karhutla #kalimantan #samarinda

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/689277/begini-pantauan-operasi-pemadaman-karhutla-di-banjarbaru-kalsel-kompas-siang
Transkrip
00:00Bakaran lahan di Samarinda, Kalimantan Timur mendekati kawasan permukiman warga.
00:12Saat proses pemadaman, petugas terkendala sumber air minim di lokasi.
00:18Kencangnya angin membuat api begitu cepat meluas.
00:21Di lokasi, petugas gabungan BPBD dibantu relawan berjibaku memadamkan api meski sumber air minim.
00:28Dari data yang dirilis BPBD Samarinda perempat September 2026,
00:34luasan lahan yang terbakar dari 10 kelurahan di Samarinda mencapai 241 hektare.
00:49Mobil tangki juga ada yang menggunakan back pump untuk membatasi api.
00:55Nah, ini kelihatannya api karena angin kencang juga masih sedikit berkorbar.
01:01Tadi memang waktu kebakaran pertama itu sangat dekat dengan pemikiman warga.
01:06Namun demikian, teman-teman damkar dan relawan sudah turun duluan untuk mematikan api yang datang kemudian.
01:12Namun angin kencang, terbawa angin sehingga melebar ke tengah di pelukar-pelukar yang ada ini atau rumput-rumput ini.
01:21Puluhan pohon rambutan dan sekitar 100 batang pohon limau milik seorang guru lulus terbakar
01:26akibat kebakaran hutan dan lahan.
01:29Bakaran tersebut menghanguskan hampir seluruh tanaman di lahan seluas kurang lebih 9.000 meter persegi.
01:39Beginilah kondisi di sekitar pondok milik seorang guru yang menyiapkan masa pensiun dengan berkebun.
01:46Lahan seluas 9.000 meter persegi yang ditanami rambutan dan limau hampir habis terbakar.
01:52Hanya tersisa sejumlah pohon di sekitar pondok karena tersambar api kebakaran lahan
01:57yang awalnya menyala di lahan semak belukar berjarak 50 meter dari lokasi.
02:04Puluhan pohon rambutan dan ratusan pohon limau yang dipersiapkan untuk masa pensiunnya habis terbakar.
02:18Dan saudara untuk mengetahui perkembangan terkini, penanganan kebakaran lahan
02:22dan sudah ada jurnalis Kompas TV Sayidah Aisyah dan juru kamera Arpawi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
02:29Selamat siang Aisyah.
02:31Bagaimana kondisi di sana saat ini dan bagaimana dengan upaya penanganan yang dilakukan?
02:37Ya, terima kasih Imran dan juga saudara perhari ini di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
02:43Kondisinya sudah mulai berangsur normal begitu, namun pada pukul 5 pagi hingga 8 pagi itu
02:52kabut asap cendurung menebal atau kabut asap sendiri masih ada seperti itu.
02:57Namun perhari ini kabut asap di Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini tidak setebal pada beberapa hari belakang
03:06atau beberapa hari yang lalu seperti itu Imran.
03:09Namun juga tiga saat ini mengenai bahkan bakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan ini
03:16masih terus, upayanya masih terus dipadamkan oleh relawan gabungan seperti itu.
03:23Meski tidak ada titik api, bahkan titik api sendiri di Kalimantan Selatan ini
03:28cenderung menurun begitu di Banjarbaru ini masih belum ada ditemukan titik api.
03:34Namun petugas relawan, petugas gabungan, TNI, Polri, dan pemerintah provinsi sendiri ini
03:40terus mengupayakan melakukan pemadaman di sejumlah titik-titik usai kebakaran lahan.
03:47Karena titik setelah kebakaran lahan ini tentu masih menimbulkan kabut asap
03:54atau masih menimbulkan asap dari bawah tanah gambut ini begitu.
03:58Karena memang proses pemadaman ini tentu tidak hanya di area permukaan saja
04:04namun hingga harus tinggal ke bagian bawah tanah karena kondisi tanah gambut ini
04:12barahnya itu, apinya itu sampai ke bawah tanah seperti itu.
04:15Namun hingga saat ini penanganan oleh tim gabungan yaitu selain memakai metode penyeraman
04:27tidak berulang, tentu memakai metode air, sampur, sabun, atau foam begitu.
04:34Selain itu juga penanganan ini memang memerlukan ekstra tenaga dan metode khusus
04:40seperti petugas Manjual Agni Kalimantan Menoranjar melakukan metode
04:46dengan memancakkan nozzle untuk ke dalam tanah guna menjangkau
04:52atau menjangkau perasapan barah api ke bawah permukaan tanah tadi.
04:58Karena memang penyiram permukaan saja tidak efektif semoga.
05:04Kondisi ini dinilai efektif untuk memadamkan api begitu.
05:08Imron.
05:09Baik upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan
05:13terus dilakukan.
05:14Saat ini kondisinya sudah berangsur normal dan lebih baik dari sebelumnya
05:18bahkan sudah tidak terpantau ada titik api di sana.
05:21Terima kasih atas laporan Anda, Jurnalis Kopas TV, Sayida Aisyah, dan Juru Kamera Arpawi.
Komentar

Dianjurkan