00:00Kita ke informasi lainnya, saudara.
00:02Kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan program makan bergizi gratis atau MBG
00:06di sejumlah daerah mendapat sorotan tajam dari Komisi 9 DPR RI.
00:10DPR meminta Badan Gizi Nasional merombak sistem penyediaan makan bergizi gratis
00:14dan bahkan menuntut BGN dan SPPG untuk bertanggung jawab kepada para korban.
00:23Dalam beberapa hari terakhir,
00:25dugaan keracunan usai menyantap makan bergizi gratis atau MBG
00:29terjadi di sejumlah daerah.
00:30Di Sidoarjo, Jawa Tibur, ratusan santri dan pelajar mengalami gejala keracunan.
00:37Di Agam, Sumatera Barat, ratusan siswa dan guru juga mengalami keluhan yang serupa.
00:47Sementara, ratusan pelajar SPP di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan
00:51mengalami lemas, mual hingga muntah, usai mengonsumsi MBG.
00:57Meski masih dalam proses penyelidikan,
00:59namun salah satu hal yang disorot adalah waktu makanan selesai dimasak
01:03dengan waktu makanan dikonsumsi.
01:06Makanan dilaporkan sudah matang sejak pukul 5 pagi.
01:09Sementara, distribusi dan konsumsi berlangsung jauh setelahnya.
01:14Label batas waktu konsumsi juga disebut tidak ditempelkan pada setiap ompreng.
01:19Melainkan, hanya pada satu wadah.
01:22Wakil Ketua Komisi 9 DPR RI, Charles Honoris menilai,
01:26pengelola program termasuk BGN dan SPPG harus bertanggung jawab
01:31atas dampak yang dialami para korban.
01:33Pernyataan tersebut disampaikan Charles Honoris
01:36dalam rapat dengar pendapat Komisi 9 DPR RI
01:39bersama Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, pada 3 September 2026.
01:44Charles menilai, persoalan keracunan dalam program MBG
01:48tidak hanya menyangkut kondisi kesehatan korban.
01:52Menurutnya, ada dampak lain yang harus dipertanggung jawabkan.
01:56Mulai dari trauma, kerugian emosional,
01:59hingga potensi kerugian lain yang dialami korban dan keluarga.
02:03Charles menegaskan, BGN dan SPPG sebagai pihak yang terlibat
02:07dalam pengelolaan dan penyediaan makanan
02:09tidak boleh lepas tangan atas peristiwa tersebut.
02:14Pak, Kepala tadi menyampaikan,
02:15Bapak punya anak, masih usia 13 dan 6,
02:17saya juga punya anak, usia 12 dan 10.
02:21Ini beruntung dan bersyukur ya,
02:23orang-orang kumurit yang menjadi anak medik korban
02:25sepertinya yang baik-baik nih.
02:27Nggak ada yang bugat.
02:28Kalau saya, Pak, saya bugat lah.
02:30Saya bugat SPPG, saya bugat BGN,
02:32saya minta ganti kerugian.
02:33Bukan hanya karena masalah kesehatan yang sudah ditimbulkan.
02:36Masalah emosional, masalah trauma dan SPGN-nya.
02:39Jadi mau dipikirkan ke depan,
02:41kalau terjadi seperti ini lagi,
02:43kompensasi apa yang diberikan kepada keluarga korban?
02:47Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono
02:49berulang kali menyampaikan permintaan maaf
02:52atas peristiwa yang terjadi.
02:54Permintaan maaf disampaikan kepada para korban,
02:56keluarga, serta pihak-pihak yang terdampak
02:59akibat kasus keracunan dalam pelaksanaan program MBG.
03:03Sudaryono juga menyebut,
03:05penanganan kasus tidak hanya dilakukan
03:06dari sisi administrasi dan evaluasi program.
03:09Menurut Sudaryono,
03:11dari hasil penyelidikan kepolisian,
03:13sudah ada pihak yang masuk dalam tahap penyelidikan,
03:16bahkan penyidikan.
03:28Sejauh ini,
03:30laporan yang kami terima dari kepolisian,
03:32beberapa titik dapur
03:34yang kemudian menyebabkan
03:35gangguan kesehatan keracunan makanan,
03:37itu dilakukan penyelidikan
03:38dan ada yang sudah naik penyidikan.
03:41Nah, apakah ada yang tersangka atau tidak,
03:43kita serahkan kepada hasil penyelidikan
03:46atau penyelidikan oleh aparat pendagang hukum di lain.
03:48Silahkan.
03:49Kalau Anda menemukan di lapangan
03:50ada dapur yang, mohon maaf,
03:52mungkin dia melakukan kecurangan,
03:55dia misalnya markup dan lain sebagainya,
03:57laporkan kami, kami investigasi.
04:00Kasus ini kembali menyoroti pentingnya
04:03standar keamanan pangan
04:04dalam program MBG,
04:06mengingat makanan yang didistribusikan
04:08menyasar jutaan penerima manfaat.
04:12Tim Liputan, Kompas TV
Komentar