Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
NTT, KOMPAS.TV - Ketika guncangan gempa membuat warga berlari mencari tempat aman, para tenaga kesehatan justru bertahan di garis depan. Bekerja di tenda darurat, menahan lelah, hingga menyambut lahirnya seorang bayi prematur.

Seminggu melayani pasien di tenda darurat, tenaga kesehatan RSUD Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mulai mengalami kelelahan. Dinginnya cuaca dan terbatasnya fasilitas menjadi tantangan di tengah proses pemulihan pascagempa.

Sejak gempa terjadi, para tenaga kesehatan RSUD Ruteng tetap bekerja di tengah dinginnya udara malam.

Setelah bangunan rumah sakit rusak, mereka tak lagi bekerja di dalam ruangan. Pelayanan kesehatan kini dipindahkan ke tenda-tenda darurat.

RSUD Ruteng merupakan rumah sakit rujukan bagi tiga kabupaten, yakni Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Kondisi ini membuat sejumlah tenaga kesehatan mulai kelelahan. Bahkan, beberapa di antaranya harus mendapatkan perawatan medis.

Di saat para tenaga kesehatan berjuang melawan lelah dan keterbatasan, perjuangan menyelamatkan nyawa juga dilakukan para tenaga kesehatan di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Seorang bayi perempuan lahir prematur saat gempa susulan masih terjadi.

Proses persalinan sang ibu, Maria Florida Nogo Kelen, terpaksa dilakukan melalui operasi caesar darurat di samping RSUD Aeramo, Nagekeo.

Di tengah keterbatasan fasilitas, tangisan bayi akhirnya terdengar setelah satu jam 25 menit proses operasi caesar.

Bayi perempuan tersebut kemudian diberi nama Maria Gempita Soliwona.

Bagi keluarga, kelahiran Gempita menjadi sebuah harapan sekaligus bukti bahwa di tengah bencana, para tenaga kesehatan tetap berjuang menjaga kehidupan.

Keterbatasan fasilitas dan meningkatnya jumlah pasien membuat tenaga kesehatan harus bekerja ekstra di tengah situasi bencana. Kondisi ini membuat sejumlah tenaga kesehatan mulai mengalami kelelahan.

Untuk mengetahui kondisi terkini para tenaga kesehatan di RSUD Ruteng, kita tanyakan langsung kepada Humas RSUD Ruteng, Yohana Raisita Damalia Mari.

Baca Juga [FULL] Warga Banjarbaru Kalsel Penyintas Asma Terdampak Kabut Asap Imbas Karhutla | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/regional/687064/full-warga-banjarbaru-kalsel-penyintas-asma-terdampak-kabut-asap-imbas-karhutla-kompas-malam

#nakes #tenagamedis #ntt #gempantt

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/687065/full-perjuangan-tenaga-medis-di-tengah-gempa-ntt-fasilitas-terbatas-nakes-mulai-kelelahan
Transkrip
00:00Sama sekali dari obat-obat, apalagi kami hanya bangun tenda tengah malam dingin-dingin,
00:07sementara ada bayi juga itu yang kami rasa tidak nyaman.
00:17Pernisi nakes di rumah sakit Rutenk sejauh ini,
00:22hantar sebagian besar sudah cukup kelelahan.
00:25Kita ketahui bahwa rumah sakit Rutenk ini ada tenaga dokter umum,
00:30itu kurang lebih 19 orang, sudah ada yang sakit, dirawat, tapi masih harus melayani.
01:02Saudara, ketika guncangan gempa membuat warga berlari mencari tempat aman,
01:07para tenaga kesehatan justru bertahan di garis depan.
01:11Bekerja di tenda darurat menahan lelah hingga menyambut lahirnya seorang bayi prematur.
01:30Seminggu melayani pasien di tenda darurat,
01:33tenaga kesehatan RSUD Ruteng Manggarai Nusa Tenggara Timur mulai mengalami kelelahan.
01:40Dinginnya cuaca dan terbatasnya fasilitas,
01:43menjadi tantangan di tengah pemulihan pasca gempa.
01:47Sejak gempa terjadi, para nakes RSUD Ruteng tetap bekerja di tengah dinginnya udara malam.
01:54Pasca bangunan RS yang rusak, mereka tak lagi bekerja di dalam ruangan.
01:59Pelayanan kini dipindah ke tenda darurat.
02:02RSUD Ruteng merupakan rumah sakit rujukan bagi tiga kebupaten,
02:07yakni Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
02:11Kondisi ini membuat sejumlah nakes mulai kelelahan,
02:14bahkan ada yang harus mendapat perawatan medis.
02:18Ruteng sejauh ini,
02:21handir sebagai maksar sudah cukup kelelahan.
02:23Kita ketahui bahwa rumah sakit umum Ruteng ini,
02:26ada tenaga dokter umum,
02:28itu kurang lebih 19 orang,
02:30sudah ada yang sakit, dirawat,
02:32tapi masih harus melayani jadi infus.
02:34Di infus di ruangan UGD,
02:35sambil juga memantau pasien.
02:39Satu minggu, mereka bertugas di luar tenda,
02:44jadi dengan suhu yang dingin,
02:46nyamuk, Ruteng ini,
02:48itu sangat mempengaruhi pada kondisi kesehatan.
02:54Di saat para tenaga kesehatan berjuang melawan lelah,
02:58di tengah keterbatasan,
03:00perjuangan menyelamatkan nyawa
03:01juga dilakukan para nakes di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
03:05Seorang bayi perempuan lahir prematur,
03:08saat gempa susulan masih terjadi.
03:11Proses persalinan sang ibu,
03:13Maria Floridanogo Kellen,
03:14terpaksa melalui operasi sesar darurat
03:17di samping RSUD Airemo, Nagekeo.
03:21Di tengah keterbatasan fasilitas,
03:23tangisan bayi akhirnya terdengar setelah 1 jam 25 menit
03:27proses operasi sesar.
03:31Ia pun diberi nama
03:33Maria Gempita Suliwona.
03:38Cemas atau bisa atau tidak,
03:40karena dengan alat seadanya operasi juga di depan pintu masuk,
03:46dengan gempa yang getar juga berjalan terus,
03:49yang terakhir itu sempat alat juga mati,
03:52listrik juga drop,
03:55listrik drop,
03:55akhirnya alat juga tidak bisa berfungsi.
03:57di jahit-jahit terakhir itu waktu jahitannya membaik,
04:03lagi tirawat,
04:06terus gempitanya juga sudah membaik.
04:09Bagi keluarga,
04:11kelahiran Gempita menjadi sebuah harapan,
04:13sekaligus bukti bahwa di tengah bencana,
04:16para tenaga kesehatan tetap berjuang menjaga kehidupan.
04:20Tim Liputan, Kompas TV
04:27Keterbatasan fasilitas dan meningkatnya jumlah pasien
04:31membuat tenaga kesehatan harus bekerja ekstra
04:34di tengah situasi bencana,
04:35yang membuat banyak nakas kelelahan.
04:38Kita tanyakan langsung kepada Humas RSUD Ruteng,
04:41Yohana Raisita dan Malia Mari.
04:43Selamat petang, Bu Yohana.
04:46Selamat sore, Bu Sindi.
04:48Bu Yohana, bagaimana kabarnya di sana?
04:52Ya, sudah cukup mulai suaranya.
04:58Bu Yohana kan juga warga asli NTT.
05:00Keluarga, rumah di sana terdampak juga?
05:05Terdampak juga.
05:06Kalau keluarga, ada yang tinggal di tenda juga.
05:09Dengan kondisi psikologis,
05:11harus memikirkan keluarga,
05:13memikirkan rumah, terdampak,
05:15tapi juga masih banyak pasien di situ.
05:16Dan mungkin Bu Yohana bukan satu-satunya,
05:19bagaimana kondisi psikologis, fisik,
05:21teman-teman tenaga kesehatan di sana, Bu Yohana?
05:25Untuk saat ini memang ada sebagian nakkes yang sangat amat terdampak dengan gempa yang terjadi di Ruteng.
05:34Ada perawat yang rumahnya mungkin roboh ya,
05:38saat ini mereka tinggal di mobil, di tenda,
05:40tetapi tugas melayani itu sudah panggilan dari awal sebagai seorang nakkes untuk melayani sesama.
05:48Seperti itu, jadi tetap berjuang untuk melayani sesama yang membutuhkan.
05:53Dalam sehari, berapa tenaga kesehatan yang bisa bertugas, Bu Yohana?
06:01Untuk saat ini biasanya kalau di UGD,
06:04kita membagi dua atau tiga untuk dokter umumnya,
06:08sedangkan petugas perawat itu sekitar enam orang,
06:11dan petugas bidannya itu kurang lebih tiga orang, seperti itu.
06:16Dan itu jumlahnya cukupkah untuk merawat banyaknya pasien pasca gempa?
06:22Untuk situasi sekarang, kalau dibilang cukup,
06:26saya pastikan mungkin tidak cukup,
06:28karena melayani di tengah kepanikan,
06:30hiruhara keluarga yang merujuk pasien ke sini,
06:34dan kita tidak bisa prediksi satu hari pasien datang dengan kondisi gawat darurat
06:39yang harus ditangani oleh dua atau tiga petugas,
06:43menurut saya itu kurang cukup.
06:44Sehari bisa merawat berapa pasien, Bu Yohana, di sana?
06:49Karena rumah sakit umum Ruteng adalah rumah sakit rujukan dari tiga kabupaten,
06:55jadi UGD kita itu sehari bisa terima 30 sampai 50 pasien.
07:05Dengan kondisi kegawat daruratan yang juga berbeda-beda.
07:09Nah, berarti dengan kondisi seperti itu,
07:11nakas yang terbatas, satu orang dokter atau suster bisa bertugas sampai berapa jam seharinya?
07:21Selama gempa dari hari Sabtu tanggal 15,
07:25untuk perawat-perawat staff di ruangan itu kita overtime.
07:31Di hari pertama, kedua, dan ketiga itu kita overtime lebih dari jam kerja mereka.
07:35Terutama untuk kepala ruangan, leader di ruangannya,
07:38itu bisa sampai jam 4 dan jam, sampai sore, sampai sore, jam 4, jam 5 begitu.
07:45Dan itu kan juga berarti kalau overtime,
07:49besoknya masih harus lanjut kerja lagi, merawat masyarakat di sana,
07:54sempat pulang dulu atau memang akhirnya harus menginap di sana?
08:00Sebagian besar kita stand by karena rujukan kita tidak bisa prediksi,
08:05jadi hanya istirahat, minum sebentar, dan tidak pulang ke rumah seperti itu.
08:15Keluhan yang paling sering ditangani oleh tenaga kesehatan di sana apa saja, Bu Yohana?
08:21Nah, untuk rumah sakit RSUD Ruteng,
08:24rujukan yang paling banyak adalah ibu yang hendak melahirkan,
08:28melahirkan, ibu yang hendak melahirkan atau kasus kebidanan.
08:32Dan untuk pada saat gempa ini,
08:34banyak pasien yang patah tulang, shock,
08:38dan mulai sekarang mulai berdatangan pasien dengan gangguan pernafasan dan gangguan pencernaan.
08:45Nah, berarti obat-obatan, fasilitasnya,
08:49sejauh ini masih memadai enggak, Bu Yohana?
08:54Kami bersyukur sekali karena dari Kementerian Kesehatan
08:58sangat cepat tanggap dengan situasi kami,
09:02sehingga obat-obatan, BMHP itu sudah kami terima sebagiannya,
09:08dan bantuan tim sukarelawan pun sudah berdatangan ke RSUD Ruteng.
09:15Apa tantangan yang setiap harinya selalu dihadapi
09:19dan dirasakan oleh teman-teman tenaga kesehatan di sana, Bu Yohana?
09:24Sebagai tenaga kesehatan,
09:26banyakkan keluhannya karena di tenda,
09:29karena di tenda situasi pada siang hari itu sangat panas,
09:34malam hari itu dingin,
09:36suhu di sini bisa 9-12 derajat kalau malam hari,
09:41dan nyamuk paling banyak.
09:43Nah, berarti pasien tetap dirawat di tenda dengan kondisi keterbatasan itu
09:50atau sebenarnya bagian dari rumah sakit masih ada yang bisa digunakan, Bu Yohana?
09:56Dari bagian rumah sakit,
09:58dalam segala keterbatasan yang ada,
10:03dalam segala keterbatasan yang ada,
10:06rumah sakit melakukan permohonan kepada Kementerian Kesehatan,
10:36untuk penambahan tenaga sukarela,
10:38baik itu dari tenaga dokter, dokter spesialis, maupun tenaga keperawatan.
10:43Dan sampai dengan hari ini,
10:45terus datang tenaga sukarela yang membantu.
10:48Ada tenaga sukarela dari Surabaya,
10:51dari alumni UI, dari Brawijaya,
10:54dari WJT Yohanes,
10:55juga hari ini dari kemarin,
10:58kalau tidak salah,
10:59dan terakhir itu kita dibantu dari DINCAS Bali.
11:05Dan kalau bantuan logistik yang saat ini juga sudah mulai mengalir ke RSUD Ruteng,
11:13apa yang masih tetap dibutuhkan selain tadi bantuan tambahan tenaga kesehatan?
11:17Apalagi sih yang paling urgent di sana, Bu Yohana?
11:21Untuk saat ini mungkin karena di dalam satu minggu ini,
11:25teman-teman kadang-kadang sudah tidak memikirkan harus makan,
11:29harus minum,
11:30jadi sudah mulai kelelahan,
11:34multivitamin diperlukan,
11:35terus penghangat mungkin ya untuk di dalam tenda,
11:39itu diperlukan juga,
11:41dan pergantian jadwal jaga.
11:44Karena sebagian dokter kemarin kita masih pertahankan untuk tetap bertugas,
11:49meskipun dipasang infus,
11:52dikasih multivitamin secara injeksi,
11:54masih harus bertugas.
11:56Tetapi hari ini dokter yang pertama kali menangani pasien saat gempa,
12:02itu malah tidak bisa datang,
12:04karena bukan lagi kelelahan,
12:06tapi sudah mulai dengan keluhan diare,
12:08gangguan pencernaan,
12:09seperti itu.
12:11Bu Yohana, salam hormat kami sebesar-besarnya,
12:14terima kasih kami juga sebesar-besarnya,
12:16salam untuk teman-teman tenaga kesehatan di sana,
12:18semoga sehat selalu,
12:19dan semua yang diharapkan bisa segera terrealisasi oleh pemerintah.
12:23Bu Yohana, terima kasih ya.
Komentar

Dianjurkan