KOMPAS.TV Kebakaran hutan yang meluas di kawasan Pendingin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, memicu meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Salah satu klinik di wilayah Sanga-Sanga mencatat 30 kasus ISPA dalam sepekan yang dialami orang dewasa maupun anak-anak.
Sementara itu, kabut asap akibat karhutla mulai memasuki permukiman warga di Liang Anggang, Banjarbaru, sejak dini hari. Seorang balita bahkan terpaksa diungsikan kerabatnya ke Kabupaten Banjar akibat mengalami batuk dan pilek yang tidak kunjung sembuh.
Kementerian Kesehatan menyampaikan kasus ISPA melonjak secara signifikan di sejumlah wilayah. Untuk merespons kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan mengerahkan 314 tenaga kesehatan dan mendistribusikan ratusan ribu logistik kesehatan ke lokasi terdampak.
Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA meningkat dari 402 menjadi 716 kasus dalam kurun waktu satu minggu. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Kasus asma dan iritasi juga dilaporkan di Riau dan Kalimantan Selatan.
Lantas, bagaimana tren lonjakan ISPA selama karhutla dan langkah yang perlu diterapkan pemerintah? Simak pembahasannya bersama Edy Wuryanto, Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, serta Ani Rusmila, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru.
#karhutla #ispa #kabutasap #kementeriankesehatan #kalimantan #kompastv
Baca Juga Imbas Kebakaran Hutan, Pasien RSUD Ilaga Papua Tengah Terpaksa Dievakuasi | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/687048/imbas-kebakaran-hutan-pasien-rsud-ilaga-papua-tengah-terpaksa-dievakuasi-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/687052/full-kasus-ispa-melonjak-dpr-dan-dinkes-banjarbaru-bahas-dampak-asap-karhutla-di-warga-sapa-malam
Sementara itu, kabut asap akibat karhutla mulai memasuki permukiman warga di Liang Anggang, Banjarbaru, sejak dini hari. Seorang balita bahkan terpaksa diungsikan kerabatnya ke Kabupaten Banjar akibat mengalami batuk dan pilek yang tidak kunjung sembuh.
Kementerian Kesehatan menyampaikan kasus ISPA melonjak secara signifikan di sejumlah wilayah. Untuk merespons kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan mengerahkan 314 tenaga kesehatan dan mendistribusikan ratusan ribu logistik kesehatan ke lokasi terdampak.
Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA meningkat dari 402 menjadi 716 kasus dalam kurun waktu satu minggu. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Kasus asma dan iritasi juga dilaporkan di Riau dan Kalimantan Selatan.
Lantas, bagaimana tren lonjakan ISPA selama karhutla dan langkah yang perlu diterapkan pemerintah? Simak pembahasannya bersama Edy Wuryanto, Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, serta Ani Rusmila, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru.
#karhutla #ispa #kabutasap #kementeriankesehatan #kalimantan #kompastv
Baca Juga Imbas Kebakaran Hutan, Pasien RSUD Ilaga Papua Tengah Terpaksa Dievakuasi | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/regional/687048/imbas-kebakaran-hutan-pasien-rsud-ilaga-papua-tengah-terpaksa-dievakuasi-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/687052/full-kasus-ispa-melonjak-dpr-dan-dinkes-banjarbaru-bahas-dampak-asap-karhutla-di-warga-sapa-malam
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:01Kebakaran hutan yang meluas di kawasan pendingin Kabupaten Kutai, Kertanegara, Kalimantan Timur memicu meningkatnya kasus ISPA.
00:08Salah satu klinik di wilayah Sanga-Sanga mencatat, dalam sepekan ada 30 kasus ISPA yang telah ditangani.
00:15Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga mengalami ISPA.
00:20Tapi memang ada peningkatan untuk satu minggu ini.
00:23Ini anak-anak banyak saya berikan terapi nebulizer untuk mengurangi sesak dan juga untuk mengencerkan darah.
00:32Sementara itu di Liang Anggang, seorang balita terpaksa diungsikan kerabatnya ke Kabupaten Banjar akibat alami batuk pilek yang tak kunjung
00:40sembuh.
00:41Kabut asap akibat karhutlah kini mulai memasuki permukiman warga sejak dini hari.
00:46Ini menjadi potret pahit dari ancaman karhutlah yang sangat merubikan kelompok rentan di sekitar lokasi kebakaran.
00:53Asap ada tuh nanya batuk kam, ada tahan, batuk salismaan, ada bampihan.
01:00Mulai yang terjadinya kebakaran ini mulai ada asapan sampai yang ini batuknya tuh kada muampi, salismaannya kada muampi.
01:12Malam ini kesian, kada kawah guring, kedinginan.
01:16Kementerian Kesehatan menyampaikan kasus ISPA melonjak secara signifikan di sejumlah wilayah.
01:23Berespon hal tersebut, Kementerian Kesehatan mengerahkan 314 tenaga kesehatan
01:28dan mendistribusikan ratusan ribu logistik kesehatan ke lokasi terdampak.
01:34Melalui rilis tertulisnya, Kementerian Kesehatan mencatat
01:37lonjakan kasus ISPA dilaporkan terjadi secara signifikan di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera.
01:43Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA melonjak dari 402 kasus menjadi 716 kasus dalam kurun waktu satu minggu.
01:53Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus sejak Januari 2026
02:01dengan lonjakan tertinggi di Pontianak, Kuburaya, dan Mempawah.
02:07Trend serupa juga disertai kasus asma dan iritasi, turut dilaporkan juga di Riau dan Kalimantan Selatan.
02:16Risiko kebakaran hutan dan lahan perlu diwaspadai, terlebih di musim kemarau seperti saat ini.
02:23Kebakaran hutan dan lahan bukan lagi sekedar darurat ekologis,
02:27melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa.
02:31Tim Liputan, Kompas TV
02:39Lalu bagaimana sebenarnya tren lonjakan ISPA selama Karhutla?
02:43Dan apa langkah yang seharusnya diterapkan pemerintah pusat dan daerah?
02:46Untuk membahasnya saat ini sudah bergabung bersama kami,
02:49Edi Urianto, anggota Komisi 9 dari fraksi PDI Perjuangan.
02:53Dan ada juga PLT Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Ibu Ani Rusmila.
02:58Selamat malam, Pak Edi, Ibu Ani.
03:00Selamat malam, Mas Radhi.
03:03Selamat malam.
03:04Saya ke Ibu Ani dulu kalau begitu.
03:06Ibu Ani, berapa total akumulasi ISPA yang terdata di sana pas Karhutla?
03:10Dan bagaimana tren peningkatannya dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya, Bu?
03:15Terima kasih, Bapak.
03:17Kalau untuk peningkatan jumlah kasus,
03:21akumulasi jumlah kasus sampai minggu ke-32 ini,
03:27memang terjadi sekitar 23.646 kasus ya.
03:35Kalau kita bandingkan adanya peningkatan dengan tahun lalu,
03:39sebenarnya kalau dibandingkan sih memang sebenarnya belum tidak melebihi
03:45daripada tahun 2025.
03:47Tetapi kalau kita lihat dari 4 minggu terakhir,
03:51tentunya memang terjadi pelonjakan.
03:54Di mana di minggu 29 sampai ke minggu 32 ini,
03:59dari yang 879 menjadi 1.142 kasus.
04:04Oke.
04:05Cukup signifikan di 4 minggu terakhir,
04:07karena titik apinya semakin menyebar begitu ya, Bu Ani, kira-kira ya di sana ya?
04:11Iya, betul.
04:12Oke.
04:13Wilayah mana saja yang mencatatkan kasus ispa tertinggi di sana, Bu?
04:17Kalau kasus ispa tertinggi itu di Kecamatan Liang Anggang.
04:22Liang Anggang?
04:23Iya, di Kecamatan Liang Anggang.
04:25Kalau untuk kelurahannya,
04:27Guntung Payung, Landasan Ulin Selatan,
04:29kemudian Landasan Ulin Barat,
04:31Guntung Paikat, dan Sungai Ulin.
04:33Tapi yang tertinggi itu adalah Guntung Payung.
04:36Oke, artinya Liang Anggang ini yang titik apinya paling banyak, Bu ya?
04:40Berarti ya?
04:41Iya, betul.
04:42Oke.
04:43Karena memang yang terbanyak itu daerah Kecamatan yang Anggang,
04:45kemudian baru di Kecamatan Landasan Ulin.
04:48Oke.
04:49Pak Edy, gimana Komisi 9 DPR menilai kesiap siagaan
04:53dan efektivitas langkah Kementerian Kesehatan
04:55dalam respons lonjakan kasus IPA ini?
04:57Ini kan sudah masif sekali,
04:59seperti di Banjar Baru saja sudah banyak.
05:02Ini belum kita bicara,
05:02Kalimantan Barat yang titik apinya sepertinya lebih banyak
05:05daripada Kalimantan Selatan.
05:06Gimana nih, Pak Edy?
05:06Ya, sesungguhnya di 2026 ini,
05:11El Nino kan sudah kita prediksi bahwa tahun 2026
05:16dampaknya lebih tinggi dari kasus di 2025.
05:20Karena itu pemerintah dari awal sudah kita ingatkan
05:23untuk memitigasi, mengantisipasi,
05:25karena dampak kemarau panjang,
05:27pasti wilayah seperti Kalimantan,
05:29kebakaran lahan gambut itu pasti akan tinggi.
05:33Karena itu, kasus yang meningkat di 2 minggu terakhir ini,
05:39yang meningkatnya tajam sekali,
05:41maka akan menjadi perhatian serius Komisi 9,
05:45dan besok tanggal 26 Agustus,
05:52kami akan rapat dengan Menkes untuk meminta laporan,
05:55sekaligus juga akan kami arahkan bagaimana nanti Kemenkes akan memitigasi
06:02soal dampak El Nino, terutama Kalutlah ini.
06:08Artinya Kemenkes sampai sekarang belum ada laporan ke Komisi 9,
06:11baru tanggal 26 nanti itu ya Pak ya?
06:14Ya karena kami baru masa reses,
06:16baru memulai masa sidang,
06:17dan kebetulan juga kan bersamaan dengan gempa di NTT,
06:22sehingga sekarang ini resources yang ada di Kemenkes
06:25sedang difokuskan di NTT,
06:27karena begitu besar dampaknya.
06:29Nah tapi tentu kita tidak boleh mengesampingkan Kalutlah ini,
06:33karena ini kan sebetulnya rutin tiap tahun kan,
06:36hanya mungkin tahun 2006 dampaknya lebih besar.
06:39Ya kasus ISPA yang meningkat itu bagian dari konsekuensi,
06:42karena Kalutlah enggak tertangani dengan baik pada sisi hulu.
06:47Tentu kami harus mengantisipasi dampak kesehatannya,
06:50jangan sampai kelompok-kelompok resiko tinggi,
06:53anak-anak, lansia, ibu hamil,
06:55ini mengalami dampak yang lebih serius.
06:57Tapi yang lebih penting adalah bagaimana
06:59pencegahannya dalam situasi Kalutlah ini,
07:03kelompok-kelompok resiko tinggi ini memperoleh mitigasi yang baik,
07:07terutama distribusi masker,
07:10jangan sampai kurang,
07:11lalu juga pendampingan oksigen,
07:14tabung oksigen,
07:16lain-lain gawat daurat yang itu terkait dengan ISPA,
07:19itu harus kita perkuat,
07:20terutama di fokus-fokus yang daerah mengalami Kalutlah.
07:25Ya, kelompok resiko tinggi,
07:26Ibu Anit, seperti kata Pak Edi tadi,
07:28kalau di Banjarbaru sudah diklasifikasikan,
07:31dan sudah ada penanganan khusus untuk mereka sejauh ini?
07:36Iya, jadi untuk yang mereka yang berisiko tinggi,
07:39seperti kelompok umur anak-anak bayi balita,
07:43kemudian anak-anak dan remaja,
07:46serta lansia, ibu hamil ya,
07:49itu sudah kami klasifikasikan.
07:51Dan memang, kalau dari kasus,
07:53ya memang mereka kelompok rentanlah yang lebih berisiko.
07:57Dan saya melihat beberapa keluhan warga,
08:00tidak hanya di Banjarbaru ya,
08:01di Kalimantan Barat,
08:03di Kalimantan Tengah,
08:04di Palangkaraya,
08:05ini mereka mengaluh,
08:06kami sesak nafas,
08:07kami sesak nafas,
08:08dan keluhannya ini,
08:09mereka mengatakan,
08:10ini lebih parah sesaknya dibandingkan tahun sebelumnya,
08:12ataupun peristiwa kahruta sebelumnya.
08:14Apakah keluhan ini juga yang disampaikan
08:15ke Dinas Kesehatan Banjarbaru
08:17sampai ke telinga Ibu Ani juga, Bu?
08:21Iya, memang karena kebut asap yang lebih tebal,
08:25jadi otomatis lebih mengganggu sekali
08:27untuk pernafasan.
08:31Jadi, gangguan itu tergantung dari
08:34partikel asap yang ada.
08:38Oke.
08:39Apa namanya, tingkat keparahan asapnya.
08:44itu sangat mempengaruhi kepada
08:47keluhan yang terjadi.
08:48Oke.
08:49Nah, saya berharap tidak ada
08:52fasilitas kesehatan juga yang terganggu
08:53dengan kabut asap ini.
08:54Tapi saya nanti akan tanyakan ke Bu Ani,
08:56bagaimana juga nanti memitigasi
08:58jika memang karhutlah
09:00dan muncul kabut asap
09:01di beberapa ilai termasuk di Banjarbaru ini,
09:03akhirnya bisa mengganggu aktivitas
09:07fasilitas kesehatan,
09:08bahkan permukiman warga yang ada di sana.
09:09Sesaat lagi saya akan tanyakan
09:10di Sapa Indonesia Malam.
09:11Tetaplah bersama kami.
09:26Kami lanjutkan perbincangan di Sapa Indonesia Malam
09:29masih membahas soal dampak kesehatan
09:31yang muncul akibat peristiwa karhutlah
09:34di wilayah Kalimantan Selatan,
09:36khususnya di Banjarbaru
09:38dan wilayah-wilayah Kalimantan lainnya sebenarnya.
09:40Saya tadi bertanya ke Bu Ani
09:41sebagai PLT Kadis Kesehatan di Kota Banjarbaru.
09:47Bu Ani, kalau saat ini banyak yang mengeluh juga
09:51bahwa kebakaran hutan ini sudah mencapai
09:53atau merambah permukiman warga.
09:55Nah, apakah juga ada informasi bahwa
09:57saat ini fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada di sana
10:00yang bisa menangani kasus-kasus ISPA ini
10:03masih jauh dari jangkauan api
10:05atau ada langkah mitigasi yang bisa dilakukan
10:07supaya nantinya jika terjadi
10:09ini bisa tetap terlayani
10:11mereka-mereka yang terdampak ISPA ini, Bu Ani?
10:17Ya, kalau untuk fasilitas-fasilitas kesehatan
10:20insya Allah masih bisa beroperasi dengan baik ya,
10:23dengan optimal.
10:24Kemudian, tapi dalam kondisi ini
10:26juga menambah layanan
10:30yaitu layanan fasilitas maskeriling juga gitu ya.
10:32Kemudian kita juga ada posko
10:35kemudian kita dibantu juga oleh kelompok masyarakat
10:39yang berdampak gitu ya
10:40kita berdasarkan dengan masyarakat
10:42juga kader dan perlawan-perlawan.
10:44Jadi memang kita
10:45dinas kesehatan tidak sendiri
10:47jadi dibantu oleh sumber daya yang lain.
10:50Oke, ya syukurlah kalau memang itu
10:52masih bisa ditanggulangi.
10:54Saya ke Pak Edi ini bertanya seperti ini.
10:56Pak Edi, ini kan sebenarnya ujung tombak
10:58dari penanganan dampak karhutlah ini
11:01dampak kesehatan karhutlah ini kan
11:02sebenarnya dari pemerintah daerah ya
11:04terutama kadis-kadis yang ada di daerah begitu
11:07kepala dinas-dinas yang ada di daerah.
11:09Tapi kira-kira bagaimana seharusnya
11:11pemerintah ini berbagi peran
11:13pemerintah pusat dan pemerintah daerah ini
11:15berbagi peran dalam penanganan
11:16dampak kesehatan karhutlah
11:17agar tidak saling lempar tanggung jawab.
11:19Biasanya kan, oh ini ranahnya pusat
11:21ini ranahnya daerah.
11:22Nah, dalam kasus ini sepertinya
11:23harus berjalan bersamaan.
11:25Bagaimana membagi perannya?
11:26Kira-kira menurut Anda?
11:29Ya, jadi pemerintah pusat, Pak Menteri Kesehatan
11:33melihat resiko karhutlah ini
11:36harus segera menetapkan protokol-protokol
11:39kesehatan pada daerah-daerah yang terdampak.
11:42Itu pertama tuh.
11:45Karena itu menjadi kewajiban Menteri Kesehatan.
11:48Yang kedua, memang protokol wajib masker
11:53bagi daerah-daerah yang terpapar
11:56itu harus dilakukan
11:57untuk mencegah partikel-partikel besar
12:01agar tidak masuk ke dalam tubuh kita.
12:03Karena kalau maskernya ini terlewati,
12:07partikel masuk,
12:08pasti yang terjadi,
12:09pasti penyakit ispa.
12:11Dan itu nanti pembiayanya akan lebih besar itu
12:14penanganannya.
12:15Yang ketiga, memang
12:17daerah harus disupport.
12:19Karena kan kita tahu
12:20transfer ke daerah minim, terbatas.
12:22Sehingga kemampuan daerah
12:23untuk menangani ini sendiri
12:25itu nggak akan mungkin.
12:26Sehingga pembiayaan dari APBN
12:28sangat dibutuhkan.
12:29Dan itu harus melalui
12:30protokol Kementerian Kesehatan.
12:33Nah, dengan begitu maka
12:35APBN harus masuk
12:37untuk membantu daerah-daerah yang terdampak.
12:39kan kita juga punya layanan BPJS
12:43bagi mereka yang sakit
12:44di layanan kesehatan.
12:47BPJS kita juga sedang tidak bagus-bagus saja.
12:50Tetapi menurut saya soal BPJS ini pun
12:52juga nanti akan ditanggung oleh APBN.
12:55Jadi harus ada pembiayaan berjenjang.
12:58Dan karena TKD untuk 2026 itu terbatas,
13:03maka mau nggak mau
13:04APBN harus diarahkan ke sana.
13:06Nah, toh Menteri Keuangan juga sudah menyatakan
13:09membeli cadangan untuk bencana alam.
13:12Dengan begitu maka harus ada koordinasi
13:15antara pusat dan daerah.
13:16Nah, kabupaten juga terutama
13:18misalnya Banjarbaru ya,
13:19kalau memang dampak daerahnya begitu
13:21urgent, luas,
13:23maka harus ada protokol
13:25yang kemudian ditegakkan.
13:27Kita punya pengalaman menangani COVID kok.
13:29Begitu semua orang keluar itu,
13:31yang namanya masker itu menjadi kewajiban.
13:34Nah, saya kira hal-hal
13:36pencegahan dini ini perlu dilakukan
13:38agar masyarakat terlindungi
13:41meskipun secara hulu
13:43kebakaran tidak bisa kita hindari.
13:45Tetapi jangan sampai
13:46partikel-partikel yang masuk
13:48ke dalam tubuh kita itu
13:50tidak membahayakan kesehatan kita.
13:52Maka kuncinya adalah
13:53pada ketersediaan masker.
13:55Nah, kami sedang mendorong
13:56pemerintah pusat
13:58untuk mendelivery logistik
13:59terutama masker
14:00yang lebih banyak
14:02ke daerah-daerah
14:03yang terdampak.
14:04Ya, bukan hanya
14:05Kalimantan Selatan,
14:06ada Kalteng, Kalbar,
14:09Kaltim,
14:10ada Jambi, Riau,
14:11Sumatera Selatan.
14:12Semua ini harus mendapat prioritas.
14:15Daripada nanti
14:16masyarakat sakit,
14:17masuk rumah sakit,
14:18malah biayanya lebih mahal.
14:19Lebih besar.
14:20Apalagi menyangkut kelompok resiko.
14:22Ya, apalagi menyangkut resiko tinggi,
14:24lansia yang sudah punya
14:26background penyakit
14:27paru obstruksi kronis.
14:29Begitu dia terpapar
14:31asap yang patik-patik masuk,
14:33maka serangan asmanya
14:34bisa kambuh,
14:35nanti berdampak
14:36pada serangan jantung,
14:37dan itu pasti
14:38biayanya malah lebih besar.
14:40Jadi menurut saya
14:40pencegahan dini
14:42itu jauh lebih penting
14:43daripada
14:43nanti dampak penanganan
14:45di rumah sakit.
14:46Saya kira itu, Mas.
14:47Ya, Pak Edy tadi bicara
14:48protokol kesehatan.
14:49Tapi menurut Pak Edy,
14:50kira-kira
14:51diperlukan nggak sih
14:52penetapan khusus
14:53status darurat kesehatan
14:55atau bencana nasional
14:56di wilayah terdampak
14:56agar mobilisasi
14:58tenaga kesehatan,
15:00logistik,
15:00dan lain-lain ini
15:01juga bisa lancar.
15:02Dan anggaran juga,
15:03yang Anda katakan tadi,
15:04ada cadangan anggaran
15:05yang bisa dialokasikan.
15:06Ini juga bisa cepat
15:07tersalurkan ke daerah-daerah
15:09terdampak, Pak Edy.
15:11Memang ada kriteria
15:12untuk menentukan
15:13status bencana nasional ya.
15:15Tetapi kalau melihat
15:16urgensi dan wilayah
15:17yang terpapar,
15:19tampaknya ini memang belum.
15:20Tetapi kan
15:22protokol kesehatan
15:24itu menjadi penting.
15:25Yang lebih penting
15:26dari penetapan status
15:28itu kan setelahnya
15:29bagaimana peran
15:30pemerintah pusat
15:30bisa lebih fokus
15:32membantu
15:33pemerintah daerah,
15:34lalu pemerintah daerah
15:34punya resources
15:35untuk menangani
15:37masyarakatnya kan.
15:38Itu yang jauh lebih penting.
15:39Jadi, menurut saya
15:41jangan hanya juga
15:43terfokus pada NTT,
15:45tapi juga yang
15:46wilayah-wilayah
15:47KADU TELA ini
15:48juga pemerintah pusat,
15:50KMNKS
15:51membagi peran.
15:52Yang penting
15:53masyarakatnya dikondisikan,
15:56logistik maskernya
15:58distribusi
15:59secara biluap mas,
16:00peran dukungan masyarakat
16:03gotong royong dilakukan,
16:05para bupati,
16:06para dinas
16:07bisa
16:08bergerak bersama
16:10untuk menjadi
16:11komandan di lapangan,
16:12menyadarkan masyarakat,
16:14saya kira itu
16:15hal yang
16:16untuk
16:17penetapan status
16:19bencana nasional,
16:20saya kira nanti
16:20akan ada kriteria
16:21penilaian,
16:22dan
16:22kami akan
16:23bahas juga
16:24nanti pada tanggal
16:2526 Agustus
16:27saat kita
16:28rakar dengan
16:29MNKS
16:29bisa kita evaluasi
16:31secara menyeluruh.
16:32Yang intinya
16:32pada kondisi ini
16:33masyarakat
16:34telah ini dengan baik.
16:35Tadi Pak Edy
16:36sudah menyinggung
16:37TKD,
16:38ini saya juga ingin
16:38menanyakan jadinya
16:39ke Bu Ani Bu,
16:41kalau bicara
16:42soal anggaran
16:42transfer
16:43pusat ke daerah,
16:45ini kan seperti Pak Edy
16:46juga simpung tadi,
16:47ini belum begitu maksimal
16:48di tahun 2026 ini,
16:50tidak maksimal bahkan.
16:51Nah kira-kira
16:52sampai saat ini
16:53dengan melonjaknya
16:54kasus ISPA ini,
16:56apakah di sana
16:57di Banjarbaru
16:58masih aman
16:59secara finansial
17:00untuk mendanai
17:01tenaga kesehatan
17:02yang sepertinya
17:03harus bekerja
17:03lebih ekstra lagi
17:05karena peningkatan
17:05kasus ISPA
17:06dan juga untuk
17:07membeli
17:07atau menambah
17:08anggaran-anggaran
17:09untuk
17:10alat-alat kesehatan
17:11dan sebagainya Bu Ani?
17:15Itu harus ada penambahan
17:16karena
17:17untuk strategi
17:19pengelanganan
17:20kasus yang
17:20kami hadapi ya,
17:22tapi kan adalah
17:23strategi pencegahan
17:24dan juga
17:24penanganan
17:25medisnya.
17:26Jadi kalau pada sisi
17:27strategi pencegahan
17:29otomatis kita
17:29memerlukan
17:31apa namanya
17:32untuk perlindungan diri
17:34berarti
17:35membeli makan masker.
17:36Kemudian kita perlu
17:37edukasi kepada publik
17:38kemudian juga
17:39tentunya
17:41kita
17:41perlu
17:42masker
17:44yang kita bagikan
17:45secara gratis
17:46ke masyarakat
17:46kan itu tentunya
17:47memerlukan
17:48pendanaan.
17:49Kemudian juga
17:50dari sisi
17:51strategi penanganan
17:53medis kan
17:53kita juga melakukan
17:54deteksi dini
17:55kemudian penanganan
17:56kasus
17:56dan
17:57apa namanya
17:59koordinasi
17:59responnya
18:00jadi otomatis
18:01memang
18:02yang teranggarkan
18:03sekarang kan adalah
18:04yang teranggarkan
18:04rutinnya.
18:05Ini
18:05kita tentunya
18:07perlu tambahkan
18:08support
18:09dan pembiayaan
18:10dimana untuk
18:11logistik
18:12masker
18:13dan obat-obatan
18:14dan suplemen
18:17ya
18:17untuk
18:18masyarakat.
18:19Ya
18:20masker dan suplemen
18:21dan alat-alat
18:22kesehatan
18:23dan juga mungkin ya
18:23untuk biaya
18:25apa namanya
18:26tenaga kesehatan
18:27yang bekerja ekstra
18:28begitu kan
18:28pasti harus ada
18:29biaya ekstra juga
18:30untuk mereka
18:30bekerja
18:31begitu ya
18:32Bu Ani.
18:33Begini Bu Ani
18:34saya mendapatkan
18:35informasi
18:35Menteri Kesehatan
18:36Budi Gunalisyadikin
18:37mengatakan bahwa
18:38ada sekitar
18:39700
18:40kurang lebih 700
18:41ya koreksi
18:42kalau saya salah
18:42tenaga kesehatan
18:44yang akan
18:45dikirimkan
18:46ke daerah-daerah
18:47kebakaran hutan
18:48dan lahan
18:48yang
18:49prioritasnya
18:50yang cukup
18:51besar
18:51apakah salah satunya
18:53sudah tiba di Banjarbaru
18:54bantuan tenaga kesehatan
18:55dari pemerintah pusat
18:56ini Bu Ani?
18:58Kalau di tempat
18:59kami
19:01dari pusat
19:02belum
19:02ada
19:03kalau yang
19:04diterjunkan
19:05ke
19:06wilayah
19:07masih menggunakan
19:08tenaga yang ada
19:09tapi tenaga kesehatan
19:10yang ada di sana
19:11saat ini
19:11masih bisa menangani
19:13sejauh ini?
19:15Sementara ini
19:16masih bisa
19:17saya mendapatkan informasi
19:19ternyata
19:19bukan 700
19:20melainkan
19:21314 tenaga kesehatan
19:22tadi sudah dijawab
19:24oleh Bu Ani
19:24yang
19:24kalau yang dikirimkan
19:26dari pusat
19:27maksudnya
19:28dari pusat ke daerah
19:29ke Banjarbaru
19:32belum ada
19:33masih tenaga kita
19:36dari tenaga pusat
19:37rumah sakit
19:38oke
19:38tapi kalau logistik
19:39dan lain-lain
19:39pasukan obat
19:40apa namanya
19:41seperti ya misalnya
19:42alat-alat kesehatan
19:43nebulizer
19:44oksigen dan lain-lain
19:44ini masih mencukupi Bu
19:46hingga saat ini
19:47kita sudah disupport
19:48dari pemerintah provinsi
19:50kalau untuk
19:51masker ya
19:52kemudian kalau yang
19:53untuk oksigen
19:54itu kita juga
19:56dari rumah sakit ya
19:56karena
19:57ada Pak
19:58apa namanya
19:59untuk
20:02supply
20:03aninya
20:03apa namanya
20:04alat
20:04oksigen konsentrat
20:06yang
20:07diberikan ke kita
20:08untuk
20:09daerah-daerah
20:10yang tergantung
20:11baik
20:12harapannya tentu saja
20:13perbincangan kita
20:14malam hari ini
20:15bersama Pak Edy
20:15dan juga Bu Ani
20:16ini didengar juga oleh
20:17ya otoritas yang
20:19berwenang gitu ya
20:20terutama Kementerian Kesehatan
20:22supaya tadi penanganannya
20:22komprehensif
20:23tidak saling
20:24menunggu
20:26begitu ya
20:26karena ini butuh penanganan cepat
20:27terutama untuk
20:28kelompok rentan tadi
20:29yang harus mendapatkan
20:30prioritas penanganan
20:31yang
20:32di daerah-daerah
20:33yang
20:34kasus Ispanya sudah melonjak
20:35terima kasih Pak Edy Urianto
20:37anggota Komisi 9
20:38DPR RI
20:39dari fraksi PDI Perjuangan
20:40dan juga
20:41Kepala Dinas Kesehatan
20:42Kota Banjarbaru
20:43Ani Rusmila
20:44kita jumpa lain waktu
20:45selamat malam
20:45Bu Ani
20:46Pak Edy
20:46Kepala Dinas Kesehatan
Komentar