00:00Saudara konflik Timur Tengah hingga Perang Rusia-Ukraina memperlihatkan konsep baru peperangan asimetris.
00:06Serangan drone yang menyerang secara masif menjadi wujud baru perang modern saat ini.
00:11Komando Pertahanan Udara Nasional sebagai garda terdepan menjaga langit Nusantara dihadapkan pada situasi yang mengharuskan TNI bersiap mengantisipasi dan juga
00:21mencegah serangan dari udara.
00:22Berikut wawancara jurnalis Kompas TV Jonha Monangan dengan juru kamera Bondan Wicak Sono serta Benediktus Yanwaruslim dari Mako Hanudnas yang
00:32sudah direkam sebelumnya.
00:36Saat ini sudah semakin dinamis kita melihat adanya konflik antara Israel dan Iran sudah menggunakan drone dan menandakan bukti bahwa
00:48perang asimetris sudah bisa mengungguli perang konvensional.
00:52Lantas seperti apa kita melihat dari sisi pertahanan udara dan juga dari doktrin yang ada yang sekarang sudah semakin berkembang?
01:02Saat ini saya sudah bersama dengan Panglima Kohanudnas yaitu dengan Marsikal Madiateni Andiawan Martono Putra.
01:10Panglima apa kabar?
01:11Baik, selamat sore mas.
01:13Terima kasih sudah menerima tim Kompas TV untuk bisa berbincang soal Kohanudnas.
01:18Terima kasih panglima.
01:19Sama-sama.
01:19Ini kan kita kan bicara soal pertahanan udara ya, Hanud.
01:24Kalau Panglima sendiri melihat ke depan bagaimana sistem Hanud yang sebenarnya harusnya proper yang kita harusnya terapkan ini?
01:30Ya, kita negara Indonesia itu adalah sekarang menggunakan punya prinsip defensif aktif.
01:36Tapi kita juga tetap harus memonitor situasi perkembangan global, regional, maupun nasional.
01:44Tentunya kita harus mengikuti terus nih Mas.
01:46Karena dengan mengikuti perkembangan tersebut, kita akan berpikir terus.
01:53Karena kita selalu melihat bahwa tiap saat itu pasti ada ancaman di kita.
01:57Tidak mungkin tidak ada ancaman.
01:59Baik ancaman langsung maupun tidak langsung.
02:01Langsung itu bisa saja konvensional perang.
02:04Yang kalau tidak langsung, ya kita akan terjadi beberapa perusahaan, peretasan di database kita.
02:13Bisa saja terjadi seperti itu.
02:15Kemudian kegiatan-kegiatan lain, khususnya masalah yang terjadi saat ini,
02:24waduh, kalau kita lihat besar sekali dampaknya terhadap kehidupan kita ya mas ya.
02:30Berarti terkait dengan adanya yang sekarang terjadi,
02:34dan juga mungkin ada rencana kegiatan pertahanan membeli berbagai alutsista,
02:39khususnya Hanud, kalau Panglima sendiri melihat ini sudah cukup ideal ya?
02:43Sebetulnya kalau ideal belum.
02:46Tetapi nanti pemerintah akan memberikan semua kemampuan dan meningkatkan semampuan,
02:52khususnya di pertahanan udara ini dengan maksimal.
02:55Kita terdiri lima pulau besar.
02:57Dan nanti konsep ke depan, dari kita sendiri,
03:00Kohanudas akan menyampaikan,
03:02menyiapkan, punya konsep bahwa setiap pulau itu kita punya pertahanan pulau besar masing-masing.
03:08Baik secara horizontal maupun secara vertical.
03:12Karena sebaiknya ya, di Pulau Jawa kita punya satu sistem pertahanan
03:16dari mulai darat, laut, udara yang terintegrasi.
03:19Di Sumatera kita punya, di Kalimantan kita punya, di Sulawesi kita punya, di Papua kita punya.
03:25Sehingga semuanya nantinya menjadi satu dan terintegrasi.
03:29Kemudian kita diberikan beberapa alutsista yang nantinya oleh pemerintah khususnya
03:36untuk mengamankan wilayah udara di wilayah kita Indonesia ini.
03:42Dan ke depan, kita nggak cuma wilayah udara saja mas,
03:44aerospace juga menjadi tanggung kita nantinya.
03:46Harapannya seperti itu.
03:47Nah, apa mimpi Panglima untuk Kohanutnas ke depan ini?
03:51Jelas kita bisa memonitor wilayah udara kita dengan maksimal,
03:55dengan 7x24 jam.
04:00Kemudian kita juga bisa mengantisipasi
04:03apa saja yang akan menjadi ancaman bagi negara kita,
04:07khususnya melalui media udara.
04:09Dan saat ini Kohanutnas itu tidak cuma satu matra.
04:12Kohanutnas itu ada darat, laut, dan udara.
04:15Kita semuanya berkolaborasi, kita semuanya saling meningkatkan,
04:22saling memberikan masukan, saling mengingatkan, dan saling memberikan bagaimana sih masukan
04:28supaya kita dapat melaksanakan tugas-tugas khususnya pertahanan udara ini
04:32dengan satu sistem komando dan kendali yang pas dan tepat nantinya.
04:38Kita tiap hari selalu diskusi bagaimana merumuskan ini, bagaimana merumuskan ini,
04:43dengan kita melihat perkembangan situasi saat ini.
04:47Dan nantinya kita tetap akan menggunakan,
04:50ya kita tidak akan keluar dari teknologi.
04:52Apalagi sekarang ini teknologi yang paling itu adalah artificial intelligence itu.
04:55Contohnya, di satuan radar kita yang sekarang tergelar,
04:58dulu kita menggunakan untuk apabila ada laporan sasarannya masuk,
05:05kita harus melihat dulu dari mulai flight clearance information center itu,
05:12mana ini benar nggak musuh ini sudah terdaftar atau belum,
05:15ini sudah, apa namanya, sudah izin atau belum.
05:18Kita perlu waktu 5 sampai 10 menit.
05:21Tapi dengan AI harapannya, 3 detik sudah bisa, mas.
05:24Bahwa itu adalah musuh,
05:26ataukah itu adalah pesawat yang belum berizin,
05:28ataukah itu pesawat yang sudah berizin,
05:30tetapi belum dimasukkan ke dalam database kita.
05:33Luar biasa Pak Lima.
05:34Terima kasih atas waktunya Pak Lima,
05:36sehingga kita juga bisa punya gambaran
05:39antara kaitan ancaman yang sedang terjadi,
05:43seperti serangan drone,
05:44dan juga mungkin konsep adanya,
05:47ancaman di masa depan.
05:48Terima kasih Pak Lima.
05:49Sama-sama.
05:50Kembalikan wawancara saya dengan
05:51Panglima Kuan Luklas,
05:53Marsikal Majatendi Andiawan Martono Putra.
05:56Kita bisa mendapatkan gambaran
05:57bagaimana konsep atau ancaman terjadi,
06:00khususnya di wilayah pertahanan udara nasional.