- 6 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - DPR Amerika Serikat menyetujui resolusi yang diajukan Partai Demokrat, yang bertujuan membatasi kewenangan Presiden Donald Trump untuk melanjutkan aksi militer terhadap Iran, tanpa persetujuan Kongres.
Dalam Sapa Pagi bersama Ketua Administrasi Publik Universitas Nasional, Nur Sadik, dan Guru Besar Geopolitik Timur Tengah UGM, Siti Mutiah Setiawati, keduanya menilai keputusan DPR AS dapat menjadi jalan keluar politik bagi Trump untuk mengakhiri konflik tanpa kehilangan legitimasi.
Menurut Nur Sadik, jika ingin keluar dari konflik tanpa kehilangan legitimasi politik, Trump sebaiknya mengikuti keputusan Kongres dan Senat.
"Sangat logikal kalau Trump menghentikan perang atas desakan dari dalam yaitu Kongres dan Senat dan juga rakyat Amerika," kata Nur Sadik dalam Sapa Pagi, Sabtu (6/6/2026) (timecode 19:18).
Baca Juga Panas! Menlu Rubio Dicecar di Kongres AS Bahas Trump Ketiduran Saat Rapat di https://www.kompas.tv/internasional/673079/panas-menlu-rubio-dicecar-di-kongres-as-bahas-trump-ketiduran-saat-rapat
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/673176/full-dpr-as-batasi-kewenangan-trump-peluang-damai-dengan-iran-menguat-ini-kata-guru-besar-ugm
Dalam Sapa Pagi bersama Ketua Administrasi Publik Universitas Nasional, Nur Sadik, dan Guru Besar Geopolitik Timur Tengah UGM, Siti Mutiah Setiawati, keduanya menilai keputusan DPR AS dapat menjadi jalan keluar politik bagi Trump untuk mengakhiri konflik tanpa kehilangan legitimasi.
Menurut Nur Sadik, jika ingin keluar dari konflik tanpa kehilangan legitimasi politik, Trump sebaiknya mengikuti keputusan Kongres dan Senat.
"Sangat logikal kalau Trump menghentikan perang atas desakan dari dalam yaitu Kongres dan Senat dan juga rakyat Amerika," kata Nur Sadik dalam Sapa Pagi, Sabtu (6/6/2026) (timecode 19:18).
Baca Juga Panas! Menlu Rubio Dicecar di Kongres AS Bahas Trump Ketiduran Saat Rapat di https://www.kompas.tv/internasional/673079/panas-menlu-rubio-dicecar-di-kongres-as-bahas-trump-ketiduran-saat-rapat
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/673176/full-dpr-as-batasi-kewenangan-trump-peluang-damai-dengan-iran-menguat-ini-kata-guru-besar-ugm
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menyetujui resolusi yang bertujuan menghentikan aksi militer terhadap Iran.
00:06Sementara itu, negosiasi damai Amerika dan Iran begitu alot dan saling serang antara kedua negara terus terjadi.
00:13Apakah resolusi DPR Amerika ini cukup tajam untuk menghentikan langkah Trump hingga bisa berdamai dengan Iran?
00:20Kita akan bahas bersama dengan dua narasumber melalui sambungan daring.
00:24Ada Guru Besar Geopolitik Timur Tengah dari Universitas Gajah Mada, ada Ibu Siti Mutia Setiawati, dan juga Ketua Administrasi Publik
00:31dari Universitas Nasional, Prof. Nur Sadik.
00:34Selamat pagi Ibu Siti dan juga Prof. Nur Sadik.
00:39Selamat pagi Mbak Sisti.
00:42Selamat pagi Prof. Nur.
00:43Oke, saya mau ke Prof. Sadik dulu. Prof. Sadik, ini kalau kita lihat ya, DPR Amerika Serikat memutuskan Trump tidak
00:50bisa melanjutkan perang di Iran tanpa restu dari Kongres.
00:54Itu artinya, ini menjadi ganjalan bagi Trump bila ingin melanjutkan perang?
01:02Ya, benar. Jadi, perlu diketahui bahwa Amerika ini sangat taat sama konstitusi.
01:09Dan konstitusinya itu memang mempunyai suatu hal yang sangat berlapis-berlapis gitu ya.
01:16Jadi, walaupun keputusan di Senat, di Kongres kemarin, melarang Trump untuk melanjutkan perang,
01:22tapi perlu diingat, Trump juga masih mempunyai hak untuk manfaat keputusan itu.
01:27Jadi, hal-hal seperti ini yang membuat bahwa Amerika adalah seorang pemimpin sangat mempunyai kekuasaan yang sangat luar biasa.
01:36Tapi, sekali lagi, Trump ini dipilih oleh rakyat Amerika, bukan oleh Kongres.
01:43Nah, rakyat Amerika inilah sebagian persis, besar sekali jumlahnya sudah tidak senang dengan kepimpinan Trump.
01:49Karena dia bilang bahwa kami bukan untuk mau berperang.
01:56Oke, ya, itu artinya kita tahu Trump punya hak veto, itu artinya juga resolusi yang dilakukan oleh DPR Amerika Serikat
02:06tidak cukup tajam untuk menghentikan Trump, Prof. Sadik?
02:15Benarnya, niat yang baik.
02:17Perlu diketahui bahwa ini Trump berasal dari Partai Republik.
02:20Tetapi, Amerika Serikat sangat selektif dalam mempunyai pemimpinnya.
02:26Sumber presiden di Amerika, kalau dia bukan anggota senator, mantan anggota senator,
02:31atau mantan anggota gubernur.
02:33Nah, kali ini, baru Trump yang tidak pernah menjadi senator, tidak pernah menjadi gubernur,
02:39tiba-tiba jadi presiden.
02:41Dia seorang pengusaha.
02:42Nah, ini mempengaruhi leadership-nya.
02:46Sebelum menjadi gubernur, dia melalui kalau pemimpin-pemimpin yang lain,
02:50katakanlah Jimmy Carter, Ronald Reagan, mantan gubernur, mantan senator,
02:56Bill Clinton, Obama, semua mantan senator, mantan gubernur, Hillary Clinton, semua itu.
03:03Polanya sudah terpola untuk seorang presiden.
03:05Tapi, kali ini, seorang presiden Amerika berasal dari pengusaha.
03:09Yang pengusaha memang agak, pengusaha nggak terlalu jelas juga.
03:15Nggak terlalu bersih lah hasilnya itu.
03:17Donald Trump karena punya bisnis di Las Vegas, dan macam-macam.
03:24Oke, nah kita juga ingin tahu jadi sebenarnya,
03:27untuk sistem di Amerika memang memungkinkan segala keputusan ada di tangan presiden.
03:33Seperti apa sebenarnya prosedurnya dengan sistem pemberitahan yang kemudian kita tahu dianut oleh Amerika?
03:38Senat di sana sudah membatasi kewenangan dari Presiden Amerika Serikat dalam hal kebijakan perang di Iran.
03:46Tapi kemudian ternyata seorang Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, punya hak veto juga.
03:52Nah, ini kan jadi agak sedikit membingungkan ya kalau kita melihatnya.
04:00Iya, benar. Jadi seorang Presiden harus benar-benar terpilih.
04:04Sangat selektif orang baik, orang yang mempunyai kemanusiaan yang tinggi.
04:08Sebenarnya Amerika ini sudah great.
04:11Nggak perlu make great again gitu ya.
04:13Karena luar biasa dia jadi negara super power.
04:17Dia harus mengayomi negara-negara kecil di dunia ini.
04:20Makanya ada namanya Fulbright, Amerika membantu orang-orang yang menjadi biasiswa.
04:24Ada USAID, ada bantuan Amerika untuk negara-negara yang senang berkembang.
04:29Semuanya itu.
04:30Tapi yang terjadi dengan Trump ini yang lain itu.
04:33Dia menganggapkan negara-negara kecil.
04:36Ya, dia mengurusin hal-hal yang kecil.
04:38Padahal ini negara yang super power, negara besar.
04:41Harusnya yang besar-besar.
04:44Jangan lawan sama Iran lah.
04:45Negara kecil kan itu.
04:47Kalau mau lawan ya Cina, Rusia gitu.
04:49Yang besar.
04:51Ya kan?
04:51Nah ini.
04:54Sehingga perlu...
04:59Oke.
05:00Oke baik.
05:01Perlu kebijakan.
05:02Kebijaksanaan orang Presiden.
05:04Oke, saya mau ke Ibu Siti.
05:06Ibu Siti, bagaimana Ibu Siti bisa membaca kebatinan dari geopolitik dalam hal ini adalah Timur Tengah?
05:11Ketika memang kita tahu DPR Amerika Serikat membatasi kewenangan Presiden Donald Trump
05:16untuk kebijakan perang di Iran dengan resolusi yang dilakukan oleh Senat Amerika Serikat.
05:22Tapi di satu sisi, Presiden Amerika Serikat punya hak veto.
05:25Bagaimana Anda bisa membaca geopolitik yang terjadi di Timur Tengah setelah ini?
05:30Ini, maaf.
05:32Terima kasih Mbak Adisi.
05:33Saya belum menganalisis dari geopolitik ya.
05:37Geopolitik itu kan ilmu pendekatan tersendiri yang menghubungkan kebijakan politik dengan kondisi geografis.
05:46Mohon maaf.
05:47Tapi kali ini adalah menyangkut keputusan untuk menghentikan perang lewat Kongres.
05:54Jadi yang saya amati, tanggal 3 Juni kemarin, Kongres itu menyelenggarkan cematan pemilihan.
06:01Kongres itu kan terdiri dari Senat yang anggotanya jumlahnya 100 orang, mewakili semua negara bagian.
06:11Kemudian terdiri dari House of Representatives, yaitu semacam DPR, yang anggotanya terdiri dari 435.
06:24Jadi semua anggota Kongres itu 535, kemudian mereka menyelenggarakan semacam pemilihan gitu,
06:34untuk membuat aturan bahwa Donald Trump itu setiap membuat keputusan harus disetujui Kongres.
06:44Nah padahal, kan ini 535 anggota, tadi sudah dijelaskan 215 diantaranya itu setuju.
06:53Bahwa harus ada rancangan undang-undang yang membuat Presiden Amerika Serikat itu kalau memutuskan perang itu harus disetujui Kongres.
07:06Nah sementara Kongres kan ada Senat.
07:09Senat tadi ini namanya Joint Concord Resolution, maaf, Concord Resolution namanya keputusan bersama mereka.
07:18Senat dengan DPR tadi.
07:21Nah setelah mereka memutuskan, itu Senat sendiri yang akan membawa ke gedung kapital untuk dimintakan persetujuan Presiden.
07:31Di sini chance-nya ya.
07:33Tapi Senat ini kan juga sudah memberi suara setuju ya bahwa perang Amerika harus dihentikan.
07:41Nah persoalannya kalau dibawa ke gedung putih, nanti memang Donald Trump itu mempunyai chance untuk memveto.
07:51Tapi dugaan banyak pengamat mengatakan bahwa sebetulnya Senat akan mendesak Donald Trump untuk menyatujui penghentian perang.
08:01Yang itu sebetulnya oleh Donald Trump dianggap ini bukan perang.
08:05Jadi saya tidak perlu persetujuan Kongres kan gitu.
08:09Donald Trump itu mengelak bahwa ini masih tarahnya itu belum perang.
08:15Jadi ini hanya serangan gitu ya.
08:19Kemudian kalau ini dihentikan di tengah jalan akan sangat merugikan Amerika Serikat.
08:25Karena Iran akan merasa menang.
08:27Kemudian Republik Islam Iran ini akan terus mengganggu keamanan Amerika Serikat dan juga Israel.
08:36Itu yang dinyatakan oleh Donald Trump.
08:38Jadi dia sudah memberi respon seperti itu.
08:43Dan saya rasa memang ini respon Donald Trump itu menolak kalau suruh menghentikan.
08:49Nah persoalannya adalah bagaimana perjuangan Senat nanti ya untuk bisa mendapatkan yang namanya joint resolution.
08:57Ya itu kalau sudah bukan konkret resolution tapi joint resolution beda dalam term politics ya.
09:07Karena saya orang politik jadi itu beda.
09:09Ya disanalah nanti akan terjadi semacam ya apa komunikasi atau dialog apakah akan dihentikan atau akan dilanjutkan.
09:21Yang itu sebetulnya dihentikan atau dilanjutkan itu dilema bagi Donald Trump.
09:26Oke kalau melihat suasana kebatinan Donald Trump saat ini yang tampaknya masih panas.
09:31Sulit rasanya ketika kita bisa memprediksi ini akan dihentikan.
09:35Tapi kalau kita lihat soal negosiasi Amerika Serikat dengan Iran yang sudah lama alot Bu Siti soal poin nuklir.
09:45Apakah nantinya Trump juga akan secara apa ya secara kedepannya akan mengalah atau seperti apa kalau dari perkiraan Anda?
09:57Ya kalau namanya perundingan itu kan harus ada kesepakatan ya Pak.
10:03Kesepakatan itu harus kompromi padahal yang bisa dikompromikan itu hal yang tidak urgent bagi kedua belah pihak.
10:13Nah kalau pengurangan atau bahkan penghapusan nuklir Iran bagi Iran itu urgent itu unnegotiable.
10:20Itu sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan ya.
10:26Jadi saya rasa tuntutan Amerika Serikat itu tidak masuk akal karena bagi Iran itu yang urgent.
10:33Ya bahwa pengembangan nuklir itu dia kan sudah menandatangani NPT ya.
10:38Non-proliferation Treaty dengan PBB bahwa pengembangan nuklir Iran itu tidak akan untuk senjata pemusnah masal.
10:49Dan itu sudah ada burangkali juga asosiasinya nuklir itu juga mengatakan bahwa Iran itu tidak punya senjata pemusnah masal.
11:01Tapi kenapa terus diserang?
11:03Nah kalau Iran itu terus diserang pengembangannya dirasakan tidak adil.
11:08Sementara kesepakatan atau perundingan itu syaratnya harus adil.
11:13Kenapa Amerika Serikat tidak mempermasalahkan Israel yang punya senjata nuklir?
11:18Tidak mempermasalahkan China, tidak mempermasalahkan Rusia, Korea Utara, India, Pakistan yang punya senjata nuklir.
11:26Mengapa yang menjadi target hanya Iran?
11:31Ya jadi ini berasa tidak adil.
11:34Sehingga tidak akan ada kesepakatan kalau yang dikompromikan hal yang urgent bagi pihak lawan.
11:39Kalau bagi pihak Amerika, urgentnya apa?
11:42Membela unconditional secara tidak bersarat kepada Israel.
11:48Bisa nggak?
11:49Misalnya Iran kan itu menuntut dia juga menghentikan dukungan pada Israel.
11:56Kemudian dia, sebetulnya tuntutan Iran itu masuk akal adalah mencahirkan aset Iran yang dibekukan oleh Amerika.
12:05Tidak, kemudian keluar dari wilayah teluk yang sekarang ini dibelukade.
12:09Aset Iran di Amerika bukan milik Amerika.
12:13Sehingga itu hal yang tidak urgent harusnya harus dipenuhi.
12:17Kemudian keluar dari teluk membelukade wilayah negara lain.
12:21Nah ini baru pertimbangan geopolitik ya.
12:26Bahwa teluk dan selat hormus itu kan milik Iran dan milik kedaulatan dengan Oman ya.
12:35Masalah penghormatan terhadap kedaulatan pihak lawan itu juga salah satu syarat keberhasilan perundingan.
12:42Sehingga kalau itu tidak ada penghormatan kedaulatan,
12:45dia mengutak-atik hal yang sensitif bagi musuh, bahwa hal yang penting bagi musuhnya tidak akan ada kesepakatan.
12:52Ini yang blunder kan di sini.
12:55Tapi kalau sebetulnya Donald Trump itu ingin berhenti.
12:59Tapi itu dilematis ya karena dia kan akan kehilangan muka.
13:03Nah kalau Kongres melarang, itu sebetulnya malah chance bagi Donald Trump,
13:08dia akan bilang saya menghentikan perang karena menuruti Kongres.
13:16Jadi dia tidak akan kehilangan muka internasional maupun dengan Iran.
13:23Seperti tadi Prof. Nur katakan bahwa Amerika Serikat itu kan sistem politiknya sudah sangat rigid,
13:30sangat tertib gitu ya.
13:32Jadi apapun yang diputuskan itu harus dituruti.
13:35Ini harusnya Trump itu mengikuti keputusan Kongres,
13:40sehingga perang berhenti tanpa kehilangan muka,
13:45yang namanya win-win solution.
13:47Oke, ini bisa menjadi salah satu momentum untuk bisa Donald Trump menghentikan perang
13:53tanpa harus kehilangan muka dan dalam tanda kutip menuruti apa kemauan dari Kongres.
13:59Tapi kita tahu Prof. Sadik dan juga Bu Tia,
14:02sifat dari seorang Donald Trump ini seperti apa?
14:06Apakah ini akan tetap terjadi?
14:08Seorang Donald Trump menuruti Kongres
14:12ataukah kemudian secara realistis ada hal-hal yang di luar nalar kita
14:19yang bisa dilakukan oleh Donald Trump?
14:21Prof. Sadik.
14:23Baik, jadi seorang pemimpin sekali lagi sangat dipengaruhi oleh karakter gitu ya.
14:29Nah, leadershipnya.
14:31Leadership Donald Trump beda dengan leadership pemimpin-pemimpin yang lain.
14:35Ya, baik-baik dari demokrat, apalagi dari republik.
14:44Oke, Prof. Sadik.
14:49Sayang sekali sinyal kita sedikit terganggu untuk sinyal dari Prof. Sadik.
14:54Saya kan mantan anggota senator, mantan gubernur.
15:00Halo?
15:01Iya, Prof. Sadik.
15:02Nanti kita perbaiki komunikasi lagi bersama Prof. Sadik begitu ya,
15:05karena sinyalnya tampaknya tidak stabil untuk Prof. Sadik.
15:09Saya ingin bertanya kepada Bu Tia dulu sambil memperbaiki komunikasi dengan Prof. Sadik,
15:15tim dari teknis Kompas TV begitu ya.
15:18Bu Siti, kalau melihat karakteristik oleh Donald Trump begitu,
15:23mungkinkah atau realistiskah seorang Donald Trump menuruti apa mau Kongres?
15:30Ya, kalau saya itu sangat pendekatannya psikologis ya.
15:36Kalau melihat behavior dia, dia itu tidak mau sebetulnya menuruti kemauan karena dibaksa.
15:46Tapi sebetulnya bukan masalah itu,
15:49tetapi bahwa Amerika Serikat itu saat ini di bawah Donald Trump itu mengalami dilema yang besar ya.
15:55Bahwa itu yang tidak akan dipertimbangkan oleh Donald Trump.
15:59Dilema itu suatu pilihan yang dua-duanya tidak menguntungkan,
16:04tapi dua-duanya juga bisa menguntungkan.
16:07Maksudnya kalau Donald Trump menghentikan perang,
16:10setelahnya dia diuntungkan,
16:12ya karena kemudian biaya itu bisa dihentikan,
16:18karena biayanya kita tahu biaya perang itu besar sekali,
16:21dan kemudian kalau dihentikan itu akan mengurangi biaya,
16:26kemudian dia juga bisa keluar dari,
16:29seperti tadi saya katakan, wilayah itu dengan gentleman,
16:32dia juga akhirnya ada chance yang namanya rekonsiliasi.
16:37Ya, karena Kongres yang memutuskan dan bukan Donald Trump,
16:42ini Donald Trump dilema artinya,
16:44dia kalau menuruti Kongres itu bukan passion dia sebetulnya,
16:48tapi harus dituruti, karena pilihan yang lain,
16:51perang ini membawa konsekuensi bahwa biaya yang besar,
16:57kemudian korban yang mungkin jumlah korban orang di pihak Amerika tidak,
17:01wilayah juga tidak ya,
17:03tetapi uang yang dikeluarkan itu besar,
17:06dan dia melakukan pelanggaran hukum internasional,
17:10dengan melakukan serangan, itu sudah cedera Amerika,
17:14ya, itu sudah cedera.
17:15Jadi dia itu pilihannya itu menghentikan atau memasukkan itu sangat dilematis, gitu.
17:21Dua-duanya itu tidak menguntungkan atau selakaligus juga menguntungkan,
17:27jadi bagaimana dia harus memutuskan?
17:29Ini sangat tergantung pada, ya,
17:32kalau saya di defense sebagai wakil presidennya,
17:35dan Mario Rubio sebagai menteri luar negerinya itu harus berperan,
17:40karena dulu juga kalau presiden itu kan tidak bisa menentukan sendiri.
17:46Jadi, ini kalau Donald Trump tidak mau mendengarkan kongres,
17:50ya, paling tidak dia mendengarkan orang terdekatnya dalam hal ini,
17:56dalam politik Amerika Serikat,
17:58menteri luar negeri itu kan namanya Secretary of State, ya.
18:02Jadi, dia itu sebetulnya juga pertimbangan dalam negerinya kuat.
18:07Karena Secretary of State, bukan Ministry of Foreign Affairs, ya,
18:11kalau Amerika, gitu.
18:13Oke, kita sudah ingin mencoba lagi bersama dengan Prof. Sadik.
18:17Prof. Sadik, bisa kembali melanjutkan dialog kita, Prof. Sadik?
18:22Oke, Prof. Sadik, ini kalau kita lihat tadi pertanyaan saya.
18:25Ya, baik, ya. Jadi...
18:27Realistis kah kemudian seorang Presiden Donald Trump ini mengikuti kongres?
18:33Kalau kata tadi Ibu Siti,
18:35memang Trump ini sudah terpojok dilematis, begitu ya?
18:38Kalau dari kacamata Anda seperti apa, Prof?
18:42Ya, jadi memang strategi itu exit oleh Donald Trump adalah mendengarkan senat, ya.
18:47Joint Session itu DPR, kongres sama senator bergabung.
18:51Namanya Joint Session.
18:53Nah, itu kalau nggak mau kehilanganmu,
18:55harus dengar kembali ke konstitusi.
18:57Kalau itu pun dia tidak mau dengar,
18:59dengar rakyat yang memilihnya.
19:01Karena rakyat Presiden Amerika dipilih oleh rakyat Amerika.
19:05Sama dengan Obama waktu itu.
19:07Mau disuruh impis, ya,
19:09tanya sama rakyat yang memilih saya.
19:11Nah, kebanyakan rakyat Amerika sekarang
19:13tidak senang dengan perang ini.
19:15Jadi, sangat logikal
19:17kalau Trump mengilih dengan perang
19:19atas desakan dari dalam,
19:21yaitu kongres dan senat,
19:23dan juga rakyat Amerika yang paling terakhir.
19:26Rakyatnya di dekat.
19:28Nah, dia jadi Presiden kena rakyat itu.
19:30Jadi, sekali lagi,
19:32saya melihat
19:35ada
19:39ada
19:42keanemen
19:44memang dari Donald Trump,
19:45negara-negara yang buang.
19:47Sementara Iran sendiri kok
19:48itu yang dilarang.
19:49Ini tidak fair, dia.
19:51Tapi ada kepentingan nasional
19:53mungkin dari
19:58Donald Trump,
19:59baik pribadi.
20:00karena ini po-bisnis.
20:01Po-bisnis ini adalah
20:02selalu mencari opportunity-opportunity
20:06untuk menjadikan bisnis.
20:09Oke, ada hitung-hitungan.
20:09Perang itu, that's a good business.
20:11Ada hitung-hitungan bisnisnya juga.
20:14Ya.
20:15Oke, ada hitung-hitungan bisnisnya juga
20:16yang menjadi pertimbangan
20:17dari Presiden Donald Trump.
20:19Tapi, kalau saya ingin
20:20menggarisbawahi,
20:21ada kesepahaman
20:22antara Bu Siti dan juga
20:24Prof. Sadiq yang mengatakan,
20:26sebaiknya Trump mengikuti
20:27Kongres untuk bisa
20:29menjaga muka.
20:30Ini menjadi salah satu momentum
20:32exit strategi dari
20:33Presiden Donald Trump.
20:34Terlebih, kita tahu,
20:36dalam waktu dekat
20:37Piala Dunia akan digelar.
20:39Iran dan Amerika Serikat
20:40juga terlibat di dalamnya.
20:42Apakah perang akan berimbas
20:44kepada event olahraga ini?
20:45Apalagi kemudian kita tahu,
20:47Iran sampai saat ini
20:48masih menunggu izin
20:50dari Amerika Serikat
20:51sebagai salah satu negara
20:52penyelenggara Piala Dunia
20:53untuk tahun ini?
20:56Bu Siti.
20:57Ya, memang sangat mengimbas ya.
21:00Amerika Serikat menggunakan
21:02yaitu hak semua negara.
21:04Ini apa, sport,
21:06tapi olahraga,
21:07tapi dipolitisir gitu ya.
21:09Itu hal yang biasa.
21:10Karena tahun 2022,
21:13World Cup itu kan di Qatar.
21:15Dan Qatar itu melarang
21:17misalnya LGBT untuk tampil,
21:19menonjol karena ini
21:20negara Islam misalnya gitu.
21:22Dan itu diprotes tapi loh,
21:24kan siapa punya kedaulatan?
21:25Oke.
21:25Dan ini memang
21:26Amerika menunjukkan
21:28kedaulatannya melarang.
21:30Tapi yang saya ikuti
21:31ternyata bahwa
21:32sepak bola ini,
21:34World Cup ini
21:35tidak hanya diselenggarkan
21:36di Amerika,
21:37tapi juga di Meksiko
21:39dan di Kanada.
21:40Sehingga Iran
21:42yang sudah lolos
21:43kualifikasi
21:44untuk mengikuti
21:45pertandingan ini,
21:47dia akan bertanding
21:48di Meksiko.
21:49ya, jadi katanya hari ini
21:52mereka menuju
21:53kota yang namanya,
21:55saya nggak tahu
21:56bacaannya,
21:56tulisannya Tijuana
21:58di Meksiko
21:59untuk mulai pertandingan.
22:01Jadi,
22:02ini solusi yang
22:03kelihatan kalau
22:04Amerika Serikat
22:05juga tidak kehilangan
22:07muka buah dia.
22:08Dia kan memprotes
22:09kalau ada
22:10tim sepak bola,
22:12tim olahraga
22:12yang dilarang masuk.
22:14Contohnya,
22:14kita kan juga pernah
22:16menyelenggarakan
22:17basket
22:19junior itu ya,
22:21berapa waktu yang lalu
22:22Indonesia tidak
22:22memberi visa
22:23untuk wakil dari
22:25Iran,
22:25eh sorry,
22:26dari Israel.
22:27Dari Israel
22:28dan itu kan
22:29diprotes seluruh dunia,
22:31akhirnya kemudian
22:31dipindahkan.
22:32Nah, ini
22:33tidak harus dipindahkan,
22:35tapi ternyata
22:35memang
22:36penyelenggaraannya
22:37di tiga negara
22:38sehingga
22:39Amerika Serikat
22:40maupun
22:41tim Iran
22:42itu baik-baik saja ya,
22:43tidak terjadi lagi
22:45apa
22:45sport yang
22:47kemudian dipolitisir,
22:48tapi dipolitisir
22:49ada solusinya yang
22:50apa,
22:51kalau menurut saya
22:52ya itu
22:52bagus ya
22:54solusinya bahwa
22:55sepak bola
22:56tidak diselenggarakan
22:57di Amerika,
22:58tapi Amerika Serikat
22:59juga sudah
22:59menunjukkan
23:00kedaulatannya
23:02untuk tidak
23:02memberi visa
23:03pada tim Iran,
23:04gitu.
23:05Oke, terakhir
23:06saya ingin tahu
23:06tanggapan Anda
23:08Prof. Sandik
23:08soal event olahraga
23:09yang bergensi ini
23:11dan ditunggu-tunggu
23:12Amerika Serikat
23:14dan juga
23:14dunia.
23:15Benarkah kemudian
23:16dengan adanya
23:16situasi yang
23:17tidak kondusif
23:18atau belum
23:19kondusif di
23:20Amerika Serikat
23:20sendiri
23:21akan ada
23:22kemungkinan-kemungkinan
23:22lain.
23:23Walaupun kita tahu
23:24olahraga
23:25dan juga
23:26politik
23:26tidak berkaitan
23:28secara langsung
23:28tapi
23:29seringkali
23:30dihubung-hubungkan.
23:32Ya,
23:33sebenarnya
23:34kalau kita
23:34mau lihat
23:35dampak positif
23:36dari olahraga ini
23:37biaya
23:38dunia sepak bola ini
23:39kepada perang
23:40sangat positif
23:41karena
23:42olahraga ini
23:43menjunjung tinggi
23:44sportifitas
23:46olahraga ini
23:47membuat kita
23:47ingin berdamai
23:50makanya
23:51sebelum masuk
23:52ke pila dunia
23:52kita lulus seleksi
23:53Asia misalnya
23:55seleksi Eropa
23:56misalnya
23:59Latina Amerika
24:00baru sampai ke pila
24:01makanya
24:02di dalam pertandingan itu
24:03setelah selesai
24:04pertandingan
24:04kita harus
24:05jabat tangan-jabat tangan
24:06ya kan
24:07sebelum mulainya juga
24:08kita harus ini
24:09jadi ada waktu
24:10kita untuk
24:12bertanding
24:13ada waktu
24:14untuk berdamai lagi
24:14perlunya juga
24:16kadang-kadang
24:17orang Amerika
24:18mengatakan
24:18life is a game
24:20ada waktunya
24:21hidup ini
24:23adalah suatu
24:23pertandingan
24:24kadang-kadang kita
24:25kalah
24:25kadang-kadang kita
24:26menang
24:27Amerika harus melihat
24:29hal ini bahwa
24:29ini positif sekali
24:30jadi jangan
24:31berperang terus
24:32ya
24:33kita harus
24:34game is over
24:36perang harus
24:36diakhiri
24:37untuk berteman
24:39bukankah
24:40Tuhan menciptakan
24:41manusia di dunia ini
24:42bersuka-suka
24:43dan berbahasa
24:43untuk saling kenal
24:45mengenal
24:45bersahabat
24:46bukan untuk berperang
24:48diantara yang terbaik
24:49diantara mereka
24:50itu bukan
24:50karena dia super
24:51karena kedekatan
24:53sama yang maha kuasa
24:54pencipta
24:54baik itu
24:55Kristen, Protestan, Islam
24:57menjunjung tinggi hal itu
24:59jadi kita memang
25:00kita akan untuk berbeda
25:04oke
25:04oke baik
25:05ini
25:07oke Prof. Sadik
25:09tentu saja nanti kita akan
25:10lihat apakah benar
25:11Presiden Donald Trump
25:13akhirnya
25:14berbeda untuk persatu
25:15oke
25:16kita akan lihat apakah nanti
25:17Presiden Donald Trump
25:18akan tetap
25:22kemudian kita tahu
25:24menuruti Kongres
25:26ataukah kemudian dengan
25:27wataknya yang kita tahu
25:29tidak bisa dipegang
25:30atau inkonsisten
25:31terima kasih
25:32Ketua Administrasi Publik
25:33Universitas Nasional
25:34Prof. Nur Sadik
25:35telah bergabung bersama kami
25:36dan sebelumnya
25:37ada Guru Besar Geopolitik
25:39Timur Tengah
25:40dari Universitas Gajah Mada
25:41Ibu Siti Mutiah Setiawati
25:43telah bergabung bersama kami
25:44terima kasih Bapak Ibu
25:46Assalamualaikum
25:46terima kasih Mbak Adisti
25:48terima kasih
25:49Assalamualaikum
25:49terima kasih Prof Nur
Komentar