Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta, menegaskan pembahasan Board of Peace (BOP) untuk sementara ditunda menyusul meningkatnya ketidakpastian situasi di Timur Tengah.

Anis menyebut BOP perlu dipahami sebagai manuver geopolitik yang memiliki tujuan bertahap. Sasaran utamanya adalah menghentikan genosida di Palestina.

Ia menilai target tersebut secara relatif telah tercapai, meski perang di kawasan belum benar-benar berakhir.

Anis juga mengaitkan dinamika BOP dengan situasi politik domestik Israel. Menurutnya, apabila proses perdamaian berjalan dan tercapai penyelesaian konflik, maka tekanan politik terhadap Perdana Menteri Israel akan semakin besar.

Anis menilai salah satu bentuk distraksi tersebut adalah eskalasi konflik dengan Iran yang kemudian berkembang lebih luas dan sulit dikendalikan.

Dalam kondisi seperti sekarang, menurutnya, kontrol terhadap kawasan menjadi semakin tidak menentu sehingga pemerintah Indonesia mengambil langkah yang tepat dengan menunda pembicaraan terkait BOP.

Selain itu, tindakan Israel terhadap warga negara Indonesia yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla juga menjadi perhatian pemerintah.

Dalam paparannya, Anis turut mengulas dua opsi strategis yang menurutnya sedang dikembangkan Israel. Opsi pertama adalah normalisasi hubungan dengan negara-negara Islam. Namun, menurut Anis, skenario tersebut semakin sulit diwujudkan pasca-perang di Palestina.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/WN2BU1nrpng



#prabowo #perang #iran



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/673166/perang-timur-tengah-wamenlu-anis-matta-ungkap-alasan-indonesia-tunda-pembicaraan-bop-rosi
Transkrip
00:00Dan ini kan juga sempat kalau saya catat, waktu itu Pak Anies pernah menyebut di awal tahun
00:06bahwa ada satu kondisi tidak terkendali, kekecewaan dan tidak ada penelesaian sistematis
00:11ujung-ujungnya terjadi perang dunia. Ini relevan atau tidak dengan kondisi saja?
00:15Sangat relevan dan saya kira perang Iran, Amerika dan Israel di sini
00:19ini akan menjadi satu milestone yang sangat penting.
00:23Saya belum sebut skenario ketiga, Mbak.
00:24Skenario ketiga ini skenario no peace, no war.
00:28Tidak ada damai, tidak ada perang juga, tidak ada eskalasi tapi tidak ada kesepakatan.
00:33Dan dalam situasi seperti ini, Salat Hormuz itu akan menjadi bancakan bersama
00:41baik oleh Amerika maupun oleh Iran.
00:45Dan jika ini terjadi, situasi ini bisa membahayakan sisi yang lainnya yaitu di Babul Mandab.
00:52Iya kan, di Babul Mandab ini bisa menjadi karena ada kekuatan Houthi di sini yang juga bisa mengontrol
00:58dan di sisi lain ada Israel yang punya penetrasi yang sangat besar ke Somaliland
01:04yang persis bertemu di ujung, di jalur masuk ke Red Sea gitu ya.
01:10Jadi ini juga bukan, ini situasi yang dampaknya Pak, dia menghentikan mobilitas secara global.
01:17Mungkin tidak sedaksat mobilitas yang terjadi waktu kita mengalami COVID-19.
01:22Tapi ini akan, apa namanya, sangat mengganggu mobilitas perdagangan secara global.
01:30Untuk Indonesia apa yang harus diwaspadai?
01:33Yang paling pokok bagi kita sekarang ini adalah bagi Indonesia, menurut saya ya.
01:40Apapun dari tiga skenario ini yang terjadi, Timur Tengah yang kita kenal selama ini
01:45akan menjadi Timur Tengah yang baru.
01:49Siapa pemenangnya, kita tidak tahu.
01:51Siapa yang mengaturnya, kita tidak tahu.
01:53Bagaimana dia diatur, kita tidak tahu.
01:56Kenapa? Karena semua aktor melakukan strategic adjustment.
02:01strategic adjustment artinya orang melakukan perubahan strategi di masing-masing negara ini
02:08dan proses perubahan strategi ini yang kita harus pantau dan itu sangat dinamis sekali.
02:15Apa dampaknya bagi Indonesia sekarang?
02:19Tampaknya secara geografi kan kita jauh dari konflik.
02:24Tentu saja tidak banyak orang mengetahui bahwa pada dasarnya sumber energi yang ada di seluruh dunia
02:32atau reserve energi yang ada di seluruh dunia, paling besar itu ada di kawasan ini.
02:37Jadi 20%?
02:38Memang supply-nya kepada konsumsi secara global itu sekitar 20-30%
02:44tetapi secara reserve cadangan paling besar yang ada di sini.
02:49Cadangan kedua terbesar yang ada di Amerika, Venezuela, Kanada di kombinasi ini.
02:55Kalau dua sumber energi ini digabung jadi satu, ini sekitar 70% total energi dunia.
03:03Jadi Anda bisa membayangkan seandainya Amerika memenangkan perang ini,
03:08dia akan punya choke point bagi seluruh dunia dari hal secara energi.
03:12Itulah kenapa Amerika Serikat sampai sekarang masih habis-habisan untuk dihormus.
03:16Itu salah satu alasannya, jadi background yang perlu kita pertimbangkan.
03:23Sebab perang Iran ini kan terjadinya bulan Februari, tapi Venezuela kan Januari.
03:28Iya kan?
03:29Nah cuma kalau kita melihat, dari tahun 2019, kan ada COVID ya, sampai tahun 2022.
03:39Kita itu kan kayak secara global mengalami kayak total shutdown.
03:452022 itu sudah ada perang Ukraine.
03:48Teaternya di mana? Di Eropa.
03:51Iya kan?
03:532023 perang Israel-Palestina, yang sekarang mengalami eskalasi menjadi perang kawasan.
03:59Yang dulu sejak awal saya sebutkan, ini akan berkembang menjadi perang kawasan.
04:04Teaternya di mana? Di Timur Tengah.
04:06Sekarang kalau kita lihat peta Mbak Edyang.
04:10Perang yang terjadi di Eropa ini, di Ukraine ini dengan Rusia,
04:15ini juga akan mengubah, akan menciptakan settlement baru antara Eropa dengan Rusia secara keseluruhan.
04:23Iya kan?
04:24Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, bagaimana bentuk settlementnya ke depan.
04:29Tetapi yang jelas, Eropa telah menjadi teater perang.
04:34Sekarang Timur Tengah, ini teater perang yang baru.
04:37Iya kan?
04:37Dan sudah berlangsung 3 tahun.
04:40Makanya dalam skenario ketiga yang saya sebutkan tadi,
04:42kira-kira Timur Tengah ini bisa menjadi skenario Ukraine.
04:47Tidak jamai, tidak ada settlement, tidak ada perang.
04:50Perang sana-sini terjadi, tapi ya kayak begitu ya.
04:52Nah, sekarang, bagi Indonesia sekarang ini,
04:57kita mungkin berpikir terlebih dahulu soal energi, soal ini semuanya.
05:00Itu dampak langsung yang paling cepat yang kita pikirkan ya.
05:06Karena itu pun yang terjadi pada saat awal eskalasi terjadi.
05:09Tapi sebenarnya, yang paling mengkhawatirkan bagi kita itu adalah,
05:13apakah mungkin kawasan ini juga menjadi teater baru dalam konflik global itu.
05:19Sebab yang kita saksikan ini kan konflik-konflik regional,
05:22tapi dalam skala yang besar di mana aktor global seluruhnya secara relatif terlibat, terbuka atau tidak terbuka.
05:30Iya kan?
05:32Kan kita tidak bisa mengatakan bahwa perang Ukraine itu adalah perang Rusia dengan Ukraine.
05:36Itu secara de facto itu adalah dengan NATO pada dasarnya.
05:40Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa dalam perang ini cuma Iran sama Israel dan Amerika yang terlibat.
05:49Iya kan?
05:49Semua orang tahu bahwa secara de facto ini akan menyeret seluruh aktor untuk terlibat di sana.
05:56Nah, bicara soal ini Pak, karena salah satu aktor dalam perang ini adalah Israel.
06:00Kita tahu dalam skenario yang pertama tadi Bapak sebutkan, dalam proses negosiasi, halangannya itu dari Israel.
06:08Sejak awal perang ini berlangsung negosiasi di Islamabad, lalu juga sampai hari ini di situ yang jadi bottleneck-nya.
06:15Sementara kita bersama-sama Israel di Board of Peace.
06:19Terlebih lagi, selain itu pun ada penyiksaan yang dilakukan oleh Israel terhadap warga negara Indonesia yang ikut di global sumut
06:26flotilla.
06:26Apa relevansi kita saat ini di BOP? Perlukan ditinjau ulang?
06:31Jadi dari awal BOP ini harus dipersepsi sebagai manuver geopolitik yang punya beberapa tujuan secara bertahap.
06:40Tujuan yang paling intinya itu adalah menghentikan genosida.
06:44Karena itu pemandangan yang sangat buruk yang mengganggu kita di seluruh dunia.
06:51Secara relatif target ini sekarang tercapai, tapi perangnya tidak berhenti.
06:56Berhenti, iya kan.
06:58Kenapa? Karena saya yakin bahwa bagi Netanyahu, dia akan memahami bahwa BOP ini akan menjadi instrumen untuk mengisolasi dia di
07:09dalam Israel.
07:10Sebab begitu ada settlement di sana, begitu ada proses damainya berlangsung, di Israel harus ada pemilu.
07:17Dan ini bukan hal yang diikinkan oleh Netanyahu.
07:20Dan karena itu selalu perlu ada distraksi.
07:22Distraksi itu adalah serangan ke Iran dulu yang 12 hari ya.
07:25Iya, betul.
07:27Nah tapi kemudian situasi ini berkembang kemana-mana dan menjadi secara relatif mulai tidak terkontrol.
07:34Cuma yang perlu kita lihat sekarang ini adalah bahwa dalam situasi sekarang ini,
07:42kontrol kepada kawasan ini semakin tidak menentu.
07:46Dan karena itu saya kira pemerintah sudah benar ketika mengatakan ini kita hold dulu pembicaraan tentang BOP.
07:55Tunda dulu sampai waktu yang tidak ditentukan.
07:57Sebab situasi di kawasan ini sedang mengalami distraksi, gangguan yang tidak memungkinkan proyek ini jalan.
08:04Gangguan ini apa ya perang ini sekarang?
08:05Termasuk juga soal apa yang dilakukan Israel terhadap warga negara Indonesia di global sumut Fulatila.
08:11Itu jadi perhatian pemerintah Indonesia mengecam itu.
08:13Secara otomatis kita bekerja.
08:15Saya mengikuti secara pribadi saya mengikuti masalah itu dari awal sebelum kejadian dan di saat kejadian dan setelah juga kejadiannya.
08:22Cuma apa yang perlu kita lihat di sini menurut saya adalah bahwa ada dua opsi sebenarnya yang strategik option yang
08:33dikembangkan oleh Israel.
08:35Dan menurut saya dua strategik option ini yang sedang mengalami masalah.
08:40Strategik optionnya itu didasari oleh satu asumsi dasar bahwa moral support untuk Israel,
08:48moral groundnya secara global makin hari makin habis.
08:53Tapi yang paling berbahaya bagi Israel dalam jangka menengah dan jangka panjang itu adalah moral ground Israel di barat.
09:00Yang menjadi supporter utama dari kelahiran negara Israel itu.
09:07Dan genosida yang berlangsung dalam selama perang kemarin itu benar-benar menghancurkan moral ground ini.
09:13Jadi orang-orang di sana berpikir bahwa bagaimana mereka harus menjadikan Israel menjadi secara bertahap negara yang independen,
09:22tidak terlalu bergantung ke Amerika ataupun ke Eropa.
09:29Dan untuk itu menurut saya mereka mempunyai dua opsi.
09:32Opsi yang pertama adalah normalisasi hubungan dengan negara-negara Islam.
09:39Tapi itu sekarang tidak terjadi setelah perang Palestina ini.
09:43Jadi opsi ini relatif berantakan dan tidak mungkin terjadi.
09:48Opsi yang kedua adalah mengukuhkan posisi Israel sebagai kekuatan militer mutlak di kawasan
09:54dengan memenangkan perang besar terutama kepada musuh yang dianggap paling potensial dalam hal ini adalah Iran.
10:00Dan menurut saya mungkin juga mereka memasukkan Turki dalam list atau Mesir di dalam list.
10:06Jadi paling tidak secara kapasitas militer, Iran, Turki, dan Mesir ini adalah strategi kompetitor secara militer bagi dia.
10:16Nah kalau dia terlibat dalam satu perang itu dia harus membuktikan bahwa dia benar-benar lebih powerful di atas mereka.
10:24Dan saya kira perang Iran ronde pertama ini kan membuktikan bahwa itu tidak terjadi.
10:29Dan artinya BOP ditegaskan kembali ditunda?
10:32Tunda ya.
10:33Kita tidak membahas lebih lanjut, tidak mengikuti lebih lanjut plan awal BOP?
10:38Secara sederhana tidak kondusif untuk sekarang ini dilanjutkan.
10:43Tapi bahasanya bukan keluar dari BOP atau tidak?
10:45Terima kasih.
10:45Terima kasih.
10:47Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan