Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta, menilai dunia saat ini sedang berada dalam fase transisi global yang ditandai dengan munculnya berbagai aliansi baru yang bergerak secara dinamis.

Menurut Anis, negara-negara di dunia tengah mencari cara untuk mengelola perubahan tatanan global yang sedang berlangsung. Dalam konteks itulah Indonesia memutuskan bergabung dengan BRICS.

Anis mengatakan belum ada kepastian apakah BRICS akan berkembang menjadi alternatif utama dalam tatanan global. Namun, menurutnya, forum tersebut menjadi salah satu instrumen penting dalam menghadapi masa transisi saat ini.

Ia mencontohkan kompleksitas yang terjadi di Timur Tengah. Dalam konflik Iran, terdapat kepentingan yang berbeda antara negara-negara Teluk dan Iran.

Situasi itu juga tercermin di dalam BRICS yang beranggotakan sejumlah negara dengan kepentingan yang tidak selalu sejalan.

Menurut Anis, salah satu strategi yang dijalankan pemerintah saat ini adalah membangun kehadiran Indonesia yang kuat dalam berbagai forum internasional.

"Saya kira apa yang dipikirkan oleh Presiden yang pertama adalah strong presence, kehadiran yang kuat. Dan itu harus Presiden langsung, tidak didelegasikan kepada menteri," ungkapnya.

Anis mengatakan pendekatan tersebut setidaknya telah membantu mendorong perhatian dunia terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Pada akhirnya, kata Anis, diplomasi internasional sangat bergantung pada kepercayaan antarpemimpin dan antarnegara.

Bagaimana menurut Anda?



Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/WN2BU1nrpng



#prabowo #perang #iran

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/673167/wamenlu-anis-matta-presiden-harus-turun-langsung-diplomasi-tak-bisa-didelegasikan-rosi
Transkrip
00:00Dan karena itu memang kalau kita melihat di selama masa reformasi paling tidak kalau kita melihat.
00:09Ini kan tidak pernah Kemlu ini dipimpin oleh orang non-Kemlu kecuali di era Jagusdur yaitu Pak Alwi Syihab dan
00:19sekarang.
00:21Karena era ini era yang masih relatif stabil, sehingga rata-rata pembicaraan itu pembicaraan melalui forum-forum multilateral.
00:34Sekarang menurut saya kita sedang menghadapi satu proses membentukkan aliansi-aliansi baru yang tidak permanen.
00:44Tetapi bergerak secara sangat dinamis karena semuanya berpikir bagaimana mengelola proses transisi global ini.
00:52Saya kira itulah sebabnya mengapa Indonesia bergabung dengan BRICS.
00:57Apakah BRICS akan menjadi alternatif dalam tatanan global? Tidak ada yang juga tahu.
01:03Tetapi dia menjadi salah satu instrumen dalam proses transisi global ini.
01:11Sekarang misalnya dalam portofoli saya di Timur Tengah, di Oki, dalam perang Iran ini kan ada negara teluk dengan ada
01:18Iran.
01:19Iya kan?
01:20Kan ini masalah.
01:21Di BRICS itu ada Iran dan juga ada Emirat.
01:25Kan ini juga masalah.
01:27Iya kan?
01:28Jadi instrumen multilateral ini juga secara pelan-pelan ada tetapi efektifitasnya yang tidak terlalu bagus.
01:37Dan karena itu dalam konteks inilah memang kita berijetihat untuk menemukan satu jalan diplomasi baru.
01:44Dalam situasi ini saya kira apa yang dipikirkan oleh Presiden yang pertama adalah strong presence.
01:50Kehadiran yang kuat.
01:51Dan itu harus Presiden langsung tidak didelegasikan kepada Menteri.
01:54Itu memang harus high profile.
01:56Itu artinya kehadiran yang kuat.
01:57Jadi pedato Presiden di PBB itu sangat kuat.
02:01Dan kehadiran di BOP sebagai bagian dari manuver geopolitik menurut saya itu efektif.
02:08Untuk paling tidak.
02:09Kalau enggak Anda sekarang masih menyaksikan genosida kan.
02:13Walaupun ini nanti tidak berjalan.
02:15Misalnya atau katakanlah mengalami disrupsi di tengah jalan atau distraksi di tengah jalan.
02:20Tapi paling tidak satu masalah selesai.
02:22Dan sekarang persoalannya adalah tidak ada satu instrumen yang bisa kita pakai untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus.
02:29Karena itu juga ada sisi retailnya.
02:32Jadi dia high profile di satu sisi tapi retail di sisi yang lain.
02:37Iya kan?
02:39Kan itu masalahnya kan?
02:40Nah jadi kalau Anda melihat kenapa banyak kunjungannya?
02:44Karena ada sisi retailnya dari sisi itu.
02:47Dan kenapa ada pengulangan-pengulangan?
02:49Kan kalau sebenarnya kalau kita melihat yang paling banyak dikunjungi oleh presiden dalam periode ini pada dasarnya kan Eropa sama
02:56Timur Tengah.
02:57Itu kan?
02:58Iya.
02:59Dalam satu tahun pertama beliau berkunjung ke Timur Tengah beberapa kali menemui orang yang sama.
03:06Karena memang persoalannya sangat dinamis.
03:08Dan orang membutuhkan perbincangan yang high profile seperti itu untuk mengetahui.
03:13Karena jalur lain itu kan masalah trust untuk membangun trust itu kan?
03:19Terima kasih.
03:19Terima kasih.
03:20Terima kasih.
03:20Terima kasih.
03:20Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan