- 15 jam yang lalu
- #ekonomi
- #apbn
- #menkeu
- #purbayayudhi
KOMPAS.TV - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melanjutkan kunjungan kerjanya di Amerika Serikat. Purbaya bertemu 18 investor besar untuk mengklarifikasi berbagai persepsi negatif terkait APBN RI.
Selain itu, Purbaya juga bertemu dengan World Bank dan lembaga pemeringkat S&P Global Ratings. Ia menyebut kedua lembaga tersebut puas dengan strategi fiskal Indonesia.
Apakah pertemuan Purbaya dengan investor global, IMF, World Bank, hingga S&P mampu mengubah sentimen global terhadap Indonesia, termasuk prospek fiskal?
Simak pembahasan KompasTV bersama M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF.
Baca Juga Menkeu Purbaya: IMF hingga Bank Dunia Kagum pada Kebijakan Fiskal Indonesia di https://www.kompas.tv/nasional/663169/menkeu-purbaya-imf-hingga-bank-dunia-kagum-pada-kebijakan-fiskal-indonesia
#ekonomi #apbn #menkeu #purbayayudhi
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/663258/full-indef-soroti-pertemuan-menkeu-purbaya-dengan-imf-bank-dunia-dan-investor-global
Selain itu, Purbaya juga bertemu dengan World Bank dan lembaga pemeringkat S&P Global Ratings. Ia menyebut kedua lembaga tersebut puas dengan strategi fiskal Indonesia.
Apakah pertemuan Purbaya dengan investor global, IMF, World Bank, hingga S&P mampu mengubah sentimen global terhadap Indonesia, termasuk prospek fiskal?
Simak pembahasan KompasTV bersama M Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF.
Baca Juga Menkeu Purbaya: IMF hingga Bank Dunia Kagum pada Kebijakan Fiskal Indonesia di https://www.kompas.tv/nasional/663169/menkeu-purbaya-imf-hingga-bank-dunia-kagum-pada-kebijakan-fiskal-indonesia
#ekonomi #apbn #menkeu #purbayayudhi
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/663258/full-indef-soroti-pertemuan-menkeu-purbaya-dengan-imf-bank-dunia-dan-investor-global
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara, apakah pertemuan Purbaya dengan 18 investor global, AMF, Bank Dunia, hingga S&P
00:06ampuh mengubah sentimen global terhadap Indonesia, termasuk soal prospek fiskal?
00:12Kita bahas bersama M. Rizal Taufiku Rahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.
00:17Mas Rizal, selamat pagi.
00:19Pagi, Mas Ian.
00:20Mas Rizal, ini kunjungan Menteri Keuangan Purbaya ke Amerika Serikat.
00:25Menurut Anda, apakah cukup menghindarkan sentimen negatif global soal fiskal RI?
00:31Saya kira kita berharap demikian.
00:34Tetapi dari pernyataan Pak Purbaya tadi, bahwa Indonesia mendapat respon positif
00:41dari International Monetary Fund, kemudian World Bank, dan juga lembaga pemberingkat seperti S&P Global Rating,
00:50perlu kita cermati dengan seksama, terutama dalam konteks ekonomi global saat ini.
00:57Jadi, saya kira apresiasi dalam for bilateral atau investor tersebut,
01:03umumnya masih menunjukkan confidence signaling, bukan penilaian final terhadap fundamental.
01:11Jadi, kalau kita bicara indikator objektif, yang menunjukkan kondisi saat ini,
01:19yang justru itu masih dihadapi oleh Indonesia.
01:22Contoh, katakannya ILSBN-nya meningkat, gitu ya.
01:26Kemudian juga kepemilikan asing, yang menurun, katakanlah termasuk juga outlook kredit Indonesia
01:35yang masih mendapatkan revisi, menjadi negatif oleh beberapa lembaga.
01:40Artinya, persepsi positif ini kita apresiasi, dan ternyata kunjungan pertama Menteri Keuangan,
01:50ke IMF World Bank, dan juga ke lembaga pemberingkatan internasional ini cukup efektif.
01:57Tetapi, belum sepenuhnya mencerminkan perilaku pasar.
02:02Itu saya kira, Pak, tanggapannya, Mas.
02:05Ini berarti bukan penilaian final secara fundamental,
02:09tapi kalau kita lihat yang dikhawatirkan begitu adalah rating ataupun rilis dari S&P
02:15yang kemungkinan akan dikeluarkan pada Juni nanti.
02:19Kemudian ini seberapa kuat paparan dari Menteri Keuangan Purbaya
02:22bisa meyakinkan S&P yang akan mengeluarkan rilisnya pada Juni nanti?
02:29Saya kira kita berharap paparan yang disampaikan,
02:35artinya terutama di level narasi kebijakannya,
02:38itu polisi naratif yang sangat confident, dan juga clear.
02:43Dan tentu disampaikan juga dengan capaian-capaian
02:47yang bisa membuktikan ke level empirik, terutama di market validation-nya.
02:53Artinya dalam konteks-konten, paparan ini memang harus berada di jalur yang tepat.
03:01Misalnya menekankan kepada keseimbangan antara pertumbuhan dan disiplin fiskal,
03:07atau juga bagaimana misalnya bantalan-bantalan anggaran selama ini.
03:14Karena ini sangat penting bagi investor global,
03:18terutama di dalam mencari policy clarify, dan juga direction.
03:25Untuk itu dalam konteks komunikasi internasional,
03:30terutama di dalam policy politik, dan juga policy communication-nya,
03:36maka harus punya strong messaging yang kemudian mampu menjawab
03:43pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang arah kebijakan pemerintah.
03:47Yang kedua tentu harus memiliki kekuatan yang memang sepenuhnya oleh indikator-indikator market.
03:54Dan tentu juga harus di, yang ketiga gitu ya,
03:58harus dipandang oleh para investor yang mereka sangat tertarik untuk berinvestasi gitu ya,
04:06terkait dengan menenangkan bagi mereka untuk masuk di Indonesia.
04:13Terutama menenangkan dalam jangka pendek, ya.
04:17Ini juga saya kira penting.
04:21Dan yang terakhir saya kira berkaitan dengan kredibilitas di jangka menengah,
04:24yang saya kira ini juga akan sangat penting begitu ya,
04:30bagaimana pemerintah menjaga fiskal ketika tekanan eksternal shock gitu ya,
04:36seperti harga minyak, kemudian juga berkaitan dengan belanja-belanja prioritas,
04:41dan juga terkait dengan penerimaan yang masih challenging.
04:45Saya kira investor global biasanya lebih fokus pada
04:47what heaven under stress scenario, biasanya gitu mas.
04:50Oke, oke berarti memang salah satu yang dipertimbangkan adalah harus ada pesan yang kuat begitu,
04:56yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendasar ataupun fundamental.
04:59Tapi menurut Anda, Mas Rizal,
05:02mana yang akan lebih dipertimbangkan oleh S&P nanti?
05:04Apakah paparan dari Menteri Keuangan soal kondisi fiskal Indonesia yang diklaim stabil,
05:09atau rilis mudis dan juga fiskal yang sebelumnya telah menurunkan outlook utang Indonesia?
05:14Saya kira biasanya penilaian S&P Global Rating itu memiliki beberapa pilar utama ya,
05:28terutama konsistensi dari sisi rating, evaluation, dan juga outlook Indonesia itu sendiri.
05:35Katakanlah berkaitan dengan saya kira kinerja dan prospek pertumbuhan ekonomi,
05:40katakanlah gitu ya, capaian-capaian dan rating sebelumnya tentu saja ya,
05:45yang sudah dikeluarkan oleh MSCI atau juga katakanlah Moody gitu ya,
05:51termasuk juga saya kira profil fiskal dan juga fleksibilitas anggaran.
05:55Ini juga salah satu paling kurusial,
05:58di mana S&P menilai kaitan dengan defisit fiskal,
06:03apakah misalnya terkendali atau melebar,
06:05atau juga terkait dengan katakanlah rasio utang ya,
06:10terhadap PDB kita, apakah masih moderat gitu ya,
06:13plus juga fleksibilitas fiskalnya, ini menjadi kunci.
06:17Jadi termasuk juga katakanlah resiko eksternalitas,
06:21S&P sangat sensitif ya terhadap defisit transaksi berjalan,
06:25termasuk juga ketergantungan terhadap impor energi,
06:29stabilitas nilai tukar atau kurs,
06:32dan juga cadangan defisa.
06:34Dan biasanya tekanan global ini akan mempengaruhi ya,
06:39terhadap resistensi surplus atau defisit katakanlah ya,
06:44termasuk yang harus dipertimbangkan juga,
06:48atau akan dipertimbangkan ya,
06:49kemungkinan besar oleh S&P itu adalah stabilitas moneter dan sektor keuangan.
06:54Bagaimana misalnya mixed policy ya,
06:57efektivenessnya ya,
06:58koordinasi antara Bank Indonesia dengan pemerintah katakanlah,
07:02itu juga akan menjadi catatan penting ya,
07:06terutama di dalam menjaga stabilitas inflasi,
07:08kredibilitas kebijakan moneternya bagaimana,
07:11kemudian kondisi perbankan,
07:13dan juga dinamika market,
07:15terutama di pasar SBN,
07:17termasuk peran investor asing dan domestik seperti apa.
07:20Yang terakhir saya kira yang paling akan disoroti juga masalah,
07:25kualitas institusi dan konsistensi policy rat kaitan dengan governance dan policy credibility.
07:32Jadi ini faktor yang meskipun mungkin,
07:34yang terkait dengan governance dan policy credibility ini tidak terlihat,
07:39tetapi sangat menentukan.
07:41S&P kemungkinan akan menilai apakah kebijakan pemerintah ini konsisten,
07:45dan katakanlah gitu ya,
07:46transparan dan dapat diprediksi.
07:50Oke, banyak sekali yang dipertimbangkan begitu nantinya oleh S&P,
07:53termasuk tadi kebijakan makroekonomi dan juga kebijakan moneter.
07:58Kemudian apa sih yang paling penting mas untuk dibahas Indonesia saat bertemu dengan IMF dan juga Bang Dunia?
08:04Namun kita bahas susah jeda,
08:06mas Rizal tetaplah bersama kami di Kompas Bisnis.
08:15Anda masih bersama kami di Kompas Bisnis,
08:17Saudara, dan kita lanjutkan perbincangan bersama Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef,
08:22Rizal Taufiku Rahman.
08:23Mas Rizal, sebelum kita membahas terkait dengan apa yang perlu didiskusikan oleh Menteri Keuangan Purbaya di Amerika Serikat,
08:30kita bahas dulu jika membandingkan begitu ya,
08:33Sri Mulyani yang pro cadangan APBN dan Pak Purbaya pro uang beredar di sistem dalam konteks audiensi internasional.
08:41Dari skala 1 sampai 10, audiensi Purbaya berapa skornya menurut Anda?
08:48Karena ini awal ya Pak Purbaya ya, berbeda dengan Bu SMI kan cukup panjang dan punya experience-nya gitu ya.
08:59Saya kira kalau skala sampai 10 ya, saya kira 7 lah gitu ya.
09:07Baik, baik kita lanjutkan soal tadi yang pembahasan berarti memang perlu ada pembahasan yang bukan satu kali ini aja,
09:16mesti ada keberlanjutan begitu intinya ya, agar memang diskusi dan juga negosiasi Indonesia semakin terasa.
09:22Apa yang paling penting untuk dibahas Indonesia saat bertemu dengan IMF dan juga Bank Dunia di Amerika Serikat menurut Anda?
09:29Saya kira harus mampu menjelaskan ya, bukan masalah atau sekedar kondisi yang baik-baik saja,
09:37atau Indonesia kuat gitu ya, tetapi harus mampu menjawab titik kerawan yang menjadi perhatian global ya,
09:44terkait dengan kredibilitas dan juga apa namanya, basis data gitu.
09:50Setidaknya ada tiga ya, pertama berkaitan dengan apa namanya, bagaimana Indonesia tetap kuat di saat krisis
10:00atau di dalam kondisi stres skenario katakanlah.
10:04Misalnya berkaitan dengan kredibilitas konsolidasi fiskal di jangka menengah katakanlah gitu ya,
10:12bahwa Indonesia misalnya perlu menjelaskan konkret ya, dan juga terbuka berbasis data
10:18bagaimana menjaga defisit ya, supaya tetap terkendali di tengah tekanan belanja
10:24dan juga tekanan guncangan global termasuk juga harga energi,
10:29kemudian juga prioritas program katakanlah juga target-target tahunan.
10:34Kemudian yang kedua adalah berkaitan dengan bagaimana misalnya memperluas ruang fiskal secara terstruktur.
10:42Ini tentu harus mampu menjelaskan juga begitu ya, strategi memperkuat sektor eksternalnya katakanlah ya,
10:49isu defisit transaksi berjalan, kemudian ketergantungan impor energi, stabilitas rupiah ya,
10:56menjadi perhatian konsen dan juga utama.
11:00Termasuk juga di dalam kapasitas kebijakan dan tata kelola misalnya ya,
11:06itu harus mampu dijelaskan, terutama isu-isu yang sangat sensitif itu adalah masalah kredibiliti dan juga governance.
11:14Indonesia perlu menunjukkan bahwa katakanlah arah kebijakan fiskal, investasi ya,
11:19sektor keuangan konsisten dan dapat juga diprediksi.
11:22Yang ketiga adalah tentu merubah pertumbuhan itu jauh lebih produktif dan berkelanjutan.
11:30Jadi selain bagaimana melakukan reformasi di penerimaan negara terkait dengan tech capacity katakanlah,
11:38pun juga bagaimana mereformasi subsidi energi dengan manajemen resiko harga minyak yang volatil gitu,
11:45dan itu mampu dijelaskan.
11:47Karena dua isu terkait reformasi penerimaan negara, kemudian reformasi subsidi energi katakanlah,
11:54ini adalah isu paling fundamental dan juga dalam konteks global gitu ya,
12:00Indonesia masih menunjukkan strategi transisi di subsidi katakanlah,
12:04berkaitan dengan subsidi berbasis harga ke subsidi berbasis target katakanlah.
12:08Jadi biasanya katakanlah IMF gitu ya, atau World Bank itu akan menekankan pada efisiensi,
12:16kemudian kapabilitas, kemudian juga berkait dengan trust.
12:21Jadi kalau misalnya setidaknya tiga aspek ini secara konkret, terukur, berbasis data,
12:27maka kita berharap ya forum IMF maupun World Bank tadi ya tidak hanya menghasilkan apresiasi
12:34atau political signaling dan fundamental signaling,
12:39tapi juga mampu meningkatkan kepercayaan global yang lebih nyata.
12:42Nanti kita bisa lihat tercermin dari rating, katakanlah investasi maupun stabilitas market gitu mas.
12:49Bisa digaris bawahnya juga begitu ya, penting sekali membahas soal kredibilitas konsolidasi fiskal
12:54dan juga defisit yang tetap terkendali.
12:57Mas Rizal kan ini sebelumnya Pak Purbaya sempat bilang,
13:00Bank Dunia ini salah hitung saat menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke 4,7 persen.
13:06Apakah paparan ini juga mempengaruhi keputusan Bank Dunia dalam membuat proyeksi RI menurut Anda?
13:12Ya saya kira perlu diklarifai saja nanti disanakan dan disampaikan oleh Pak Purbaya begitu ya,
13:18bahwa apa namanya perhitungan kemudian terkait dengan metodologi, asumsi ya,
13:26dan juga saya kira tujuan analisis itu harus mampu dijawab gitu dan juga disampaikan.
13:32Mengapa? Karena kalau misalnya bicara salah hitung ya dalam konteks teknis,
13:38tetapi kalau kemudian perbedaan metodologi, asumsi, dan perspektif analisis ini yang justru akan berbeda.
13:45Nah perbedaan ini penting dan itu tadi harus dijelaskan dan ini adalah second opinion terhadap kebijakan domestik.
13:51Jadi tantangan bagi pemerintah ya bukan membantah, saya kira akan sangat baik gitu ya,
13:56tetapi menjelaskan gap tersebut secara transparan gitu ya,
14:01tadi ya metodologi, asumsi, maupun perspektif metode analisisnya,
14:05dan juga memperbaiki kualitas data serta kebijakan agan konvergen dengan penilaian global.
14:10Mungkin itu sih Mas Sian.
14:12Oke, berarti harus mampu menjawab dan juga memaparkan terkait juga metodologi dan juga asumsinya
14:18di depan Bank Dunia ataupun World Bank.
14:21Setelah pertemuan Pak Purbaya bilang Bank Dunia dan juga S&P puas dengan strategi fiskal Indonesia.
14:28Apa yang perlu dijaga agar rasa puas itu tidak berbalik arah menurut Anda Mas Rizal?
14:33Saya kira kredibilitas ya harus tetap dijaga ya.
14:39Jadi supaya tetap respon positif maka konsistensi juga menjadi penting.
14:46Konsistensi antara komitmen dan implementasi kebijakan.
14:49Jadi setidaknya ada beberapa kunci yang harus dijaga gitu ya agar tetap punya persepsi positif.
14:55Pertama katakanlah disiplin fiskal yang kredibel dan konsisten ya yang tadi saya sampaikan.
15:01Kemudian yang kedua katakanlah pengendalian subsidi dan kualitas belanja yang tentu peran besar katakanlah harus dijaga
15:10tidak hanya besarannya gitu ya kuantitasnya tetapi juga masalah efisiensinya.
15:15Ketiga adalah terkait dengan tag ratio yang harus diperbaiki.
15:21Bagaimana komitmen fiskal itu ya akan pasti dipertanyakan gitu ya.
15:27Pemerintah perlu misalnya menunjukkan progres nyata agar uang fiskal itu benar-benar meningkat secara struktural.
15:33Dan yang keakhir saya kira masalah bagaimana berkaitan dengan konsistensi kebijakan
15:43dan juga kepastian regulasi di tengah sok eksternal yang mempengaruhi terhadap berbagai indikator ekonomi.
15:53Dan ini saya kira juga perlu dijaga begitu ya agar konsistensi antara komitmen dan juga implementasi kebijakan
16:07yang tetap akan mendorong dan juga menjaga positif signaling tadi.
16:15Selain bertemu dengan Bank Dunia, IMF dan juga SNP, ini Menteri Keuangan dan juga tim
16:21bertemu dengan 18 investor global.
16:24Apakah investor akan serta-merta menurut Anda masuk ke Indonesia dengan sekali paparan tadi?
16:32Kita sih berharap begitu ya, tetapi bagi investor kan pasti akan banyak pertimbangan ya.
16:38Tentu tidak otomatis langsung masuk besar-besaran begitu ya.
16:42Mereka tentu akan cenderung masih sikap wide and see, baru kemudian secara bertahap masuk.
16:49Kemudian masuknya juga pasti ada syaratnya kan terkait dengan pembuktian di kebijakan yang konsisten tadi.
16:57Nah investor kemungkinan dalam jangka pendek ya masuk tetapi selektif di portfolio ya pasti ke sektor SBN maupun saham.
17:07Kedua kemungkinan di dalam jangka panjang kalau dilihat dari foreign direct investmentnya,
17:13investor itu akan tidak terlalu atau belum akan terlalu agresif katakanlah begitu ya.
17:21Mereka akan menunggu bukti konkret minimal 1-2 kuartal ke depan.
17:27Dan yang ketiga tentu ini juga akan menjadi pertimbangan gitu ya.
17:33Investor ini sangat tergantung pada indikator market, bukan dari meeting apa ya namanya,
17:41dari meeting lah begitu ya atau pada saat paparan saja gitu ya.
17:45Katakanlah misalnya mereka akan melihat arah yield SBN-nya seperti apa, naik apa turun,
17:51atau risk premiumnya semakin baik apa justru sebaliknya.
17:54Pergerakan rupiah katakan apakah stabil atau volatil, bahkan arus dana asingnya.
18:01Nah untuk itu maka apa namanya kuncinya bukan pada pertemuan atau narasi saya kira,
18:08yang tapi para investor ini mereka akan tetap melihat bagaimana konsistensi kebijakan
18:15dan juga stabilitas ya di indikator-indikator makroekonomi maupun keuangan untuk beberapa kuartal ke depan.
18:24Ya intinya berarti wide and see dulu begitu ya kalau kita lihat investor ini di jangka pendek,
18:30bisa SBN dan juga saham tadi disebutkan oleh Mas Rizal juga jangka panjang ini
18:33belum akan agresif dan menunggu bukti konkret beberapa kuartal ke depan.
18:38Terima kasih Mas Rizal Taufikur Rahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indep
18:43atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis.
18:44Sehat selalu Mas.
Komentar