Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
MAKASSAR, KOMPAS.TV - Duka mendalam dirasakan keluarga almarhum Bripda DP, personel Direktorat Samapta Polda Sulawesi Selatan yang meregang nyawa di RSUD Daya Kota Makassar di usia yang masih sangat belia yakni 19 tahun.

Tangis haru keluarga tak terbendung saat melihat jenazah korban.

Informasi awal, korban dikabarkan masuk rumah sakit jam 6 pagi karena sakit hingga dinyatakan meninggal.

Tapi keluarga mendapati sejumlah kejanggalan. Di tubuh almarhum ditemukan sejumlah luka lebam.

Orangtua Bripda DP beberapa kali histeris, tidak menyangka anak keduanya pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

Ayah korban yang juga anggota Polri meyakini putranya tidak punya latar belakang penyakit tertentu.

Pihak keluarga pun langsung meminta jenazah Bripda DP diotopsi agar kematiannya bisa diusut.

Propam Polda Sulawesi Selatan berjanji kepada keluarga Bripda DP untuk melakukan pengusutan dan memastikan penyelidikan dilakukan secara profesional guna mengungkap kematian korban.

Terlebih, diduga korban meninggal akibat dianiaya seniornya saat berada di asrama.

Bidpropam Polda Sulawesi Selatan periksa 6 saksi terkait meninggalnya Bripda DP, terdiri dari rekan satu angkatan dan senior korban.

Sempat ada laporan palsu mengenai penyebab kematian Bripda DP yang disebut meninggal akibat membentur-benturkan kepala.

Tapi dari penyelidikan, salah satu polisi diduga kuat melakukan penganiayaan kepada korban.

Jenazah Bripda DP telah diotopsi di Dokpol Biddokkes Polda Sulawesi Selatan.

Dari hasil medis dan pemeriksaan saksi, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro memastikan kematian korban akibat penganiayaan.

Polisi menetapkan satu orang tersangka yang merupakan senior korban, yakni Bripda P. Polisi masih mengusut dugaan pelaku lain.

Baca Juga Polisi Tewas Diduga Dianiaya Senior di Makassar, Bripda P Ditetapkan Tersangka di https://www.kompas.tv/regional/652591/polisi-tewas-diduga-dianiaya-senior-di-makassar-bripda-p-ditetapkan-tersangka

#polisi #sulsel #aniaya



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/653066/deretan-fakta-kematian-bripda-dp-polisi-muda-19-tahun-yang-dianiaya-senior-berut
Transkrip
00:00Kasus polisi bunuh polisi kembali terjadi.
00:04Kali ini senior menganiaya juniornya hingga berujung kematian di Makassar, Sulawesi Selatan.
00:11Mirisnya saudara, korban Bribda DP yang baru berusia 19 tahun adalah polisi muda yang baru lulus pendidikan dan baru bertugas
00:20di Satuan Sabara.
00:22Lalu apa yang melatar belakangi senior tega menganiaya juniornya?
00:30Duka mendalam dirasakan keluarga almarhum Bribda DP, personel Direktorat Samapta Polda, Sulawesi Selatan yang meregang nyawa di RSUD Dayakota, Makassar
00:42di usia yang masih sangat belia, yakni 19 tahun.
00:47Tangis haru keluarga tak terbendung saat melihat jenazah korban.
00:52Informasi awal, korban dikabarkan masuk rumah sakit jam 6 pagi karena sakit hingga dinyatakan meninggal.
01:00Tapi keluarga mendapati sejumlah kejanggalan.
01:03Di tubuh almarhum ditemukan sejumlah luka lebam.
01:10Orang tua Bribda DP beberapa kali histeris tidak menyangka anak keduanya pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.
01:20Ayah korban yang juga anggota Polri meyakini putranya tidak punya latar belakang penyakit tertentu.
01:28Pihak keluarga pun langsung meminta jenazah Bribda DP diotopsi agar kematiannya atau penyebab kematiannya bisa diusut.
01:41Tidak pernah sakit ya, tidak adalah latar belakang sakitnya.
01:43Dan semenjak di sini, semayang saya ada di sini, keluar darah terus, beri bulut.
01:50Dan di situasi ada yang mengatakan benturan kepala, luka kepalanya tapi tidak ada luka di kepala.
01:57Tidak ada, tidak ada luka di kepala.
02:00Kalau memang murni, memang bentuk di kepala, pasti ada luka di kepala.
02:03Nah ini, darah belakang tersebut kami akan proses mencintai adilat.
02:09Apabila memang ada penyelayaan, kami serahkan penyelidik polda untuk mengungkap tuntas siapa pelaku daripada penyelayaan.
02:20Propom Polda Sulawesi Selatan berjanji kepada keluarga Bribda DP untuk melakukan pengusutan dan memastikan penyelidikan dilakukan secara profesional,
02:30guna mengungkap penyebab kematian korban.
02:32Terlebih, diduga korban meninggal akibat dianiaya seniornya saat berada di Asraba.
02:40Propom, insya Allah kita akan ungkap kalau memang ada kejadian yang di luar dari kejadian umum atau kejadian yang mencurigakan
02:50atau ada kekerasan di situ,
02:51insya Allah kita akan luruskan dan kita akan tebakkan aturan yang sesuai dengan aturan yang benar-benar berkomitmen kepada keluarganya
02:57untuk bertindak secara profesional.
03:00Minggu pagi 22 Februari 2026 menjadi memori kelam bagi keluarga Bribda DP.
03:08Kepergian mendadak lulusan Polri Angkatan 53 Tahun 2025 membuat syok keluarga.
03:14Karena beberapa jam sebelumnya, Bribda DP masih sempat menghubungi ibunya di pinrang, meminta dibawakan nasu paleko, makanan khas bugis favoritnya.
03:26Rencananya, makanan itu akan diantar ke asrama Nitsamapta dan disantap bersama seniornya.
03:32Pesan itu dikirim sekitar jam 5 pagi, namun saat ibunya membalas sekitar sejam kemudian tidak ada lagi respons.
03:42Padahal keluarga juga berencana mengirim sepeda motor milik korban ke lokasi tugasnya di Makassar.
03:47Keluarga yang khawatir telepon dan pesan tak lagi dijawab menghubungi rekan-rekan Bribda DP dan dapat informasi, Bribda DP sedang
03:58tidur.
03:58Tapi sekitar pukul 7 pagi, saudara keluarga menerima kabar Bribda DP dilarikan ke RSUD Daya dan dinyatakan meninggal dunia.
04:17Tangis ibunda Bribda DP pecah di hadapan Kapolda Sulawesi Selatan yang melayat ke rumah duka.
04:24Sebagai ibu yang melahirkan, hatinya hancur.
04:28Ia menjerit meminta keadilan agar kasus kematian putranya bisa diusut tuntas.
04:34Terima kasih.
04:35Tidak ada banyak penuntuan.
04:36Tidak ada banyak penuntuan.
04:36Tidak ada banyak penuntuan.
04:38Tidak ada banyak penuntuan.
04:40Ya.
04:40Ya.
04:41Ganti jika banyak penatuan.
04:42Ya.
04:43Tidak ada.
04:44Ganti dan kata Pak Kapolda diri dan dia,
04:46iya.umehkan
04:47jangan juga. Muttua
04:48dayah. Ya ampun.
04:49Tidak ada
04:50adaулиk. Dengit akan
04:51janji Pak Kapolda. Menjanji Pak
04:54Kapilda. Benda hanya supaya
04:56Rakyatnya satu.
04:57Tolong kasih per night save
04:59came HERE. Kemanlahills ke muchos
05:00para muda dan side bad cannée. Pa Jarrah.
05:07Bid Pro Pampolda Sulawesi Selatan periksa 6 saksi terkait meninggalnya Bribda DP terdiri dari rekan satu angkatan dan senior korban.
05:17Sempat ada laporan palsu mengenai penyebab kematian Bribda DP yang disebut meninggal akibat membentur-benturkan kepala.
05:25Tapi dari penyelidikan, salah satu polisi diduga kuat melakukan pengadiayaan kepada korban.
05:45Jenazah Bribda DP telah diotopsi di Dokpol Bidokes, Polda Sulawesi Selatan.
05:51Dari hasil medis dan pemeriksaan saksi, Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Juhandani Rahar Jopuro memastikan kematian korban akibat pengadiayaan.
06:04Polisi menetapkan satu orang tersangka yang merupakan senior korban, yakni Bribda P.
06:12Polisi masih mengusut dugaan pelaku lain.
06:17Rangan salah seorang tersangka atas B itu dihubungkan dengan hasil pemeriksaan dari Bidokes itu ada persesuaian.
06:30Baik itu dengan cara memukul di bagian kepala dan bagian baton tubuh lainnya, ini sudah sinkron.
06:38Jadi dapat kita yakini bahwa saudara P adalah pelakunya dan kita akan melaksanakan proses lebih lanjut.
06:47Bribda DP baru satu tahun bertugas.
06:51Di mata keluarga, anak kedua dari tiga bersaudara itu dikenal baik.
06:55Ia diterima polisi tahun 2025 pada angkatan 53 dengan penempatan di Sabara, Polda Sulawesi Selatan.
07:03Namun karir Bribda DP teregut akibat ulah senior.
07:08Kapolda Sulawesi Selatan menjelaskan motifnya masalah hirarki senior-junior.
07:14Senior marah karena junior dipanggil tidak mau menghadap.
07:26Salah seorang keluarga Bribda DP histeris di atas pusara tak terima dengan nasib naas yang menimpa Bribda DP.
07:35Keluarga lega saat Kapolda Sulawesi Selatan berjanji mengusut tuntas kasus kematian Bribda DP.
07:42Perjuangan Bribda DP di institusi Polri kini diharapkan bisa diteruskan adik kembarnya.
07:49Keinginan itu disampaikan ayah korban yang juga personel Polres Pinra.
07:58Merespons kasus kekerasan yang melibatkan polisi,
08:02anggota Komisi 3 DPR RI Fraksi Demokrat Hinca Panjaitan memintakan Kapolri
08:08menindak dengan tegas pelaku dan juga mereformasi Polri secara total.
08:17Untuk segera mengambil tindakan cepat
08:21dengan cara menempatkan dipaksus, periksa, dan segera di sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
08:31Saya kira tidak ada ampun lagi, masyarakat sudah sangat gelisah
08:34dan ini adalah kultural yang harus segera diubah.
08:38Sikap perilaku polisi yang menyalahgunakan kewenangan.
08:44Dan ini meresahkan sekali.
08:47Kasus polisi muda tewas di tangan senior
08:50menambah daftar panjang kekerasan yang melibatkan polisi.
08:55Kompolnas meminta pendidikan Polri tidak lagi mengedepankan fisik
08:59dan tidak ada lagi senioritas, tetapi lebih menekankan sisi humanis.
09:04Polisi yang masuk sudah lah, tidak usah diajarin
09:08perihal-perihal yang sifatnya kekerasan fisik misalnya begitu ya.
09:15Apa namanya, budaya egois itu sudah tidak perlu lagi.
09:20Sekarang yang paling penting adalah
09:22bagaimana meletakkan pendidikan kepolisian menjadi pendidikan yang lebih humanis.
09:27Sekali lagi mengingatkan bahwa institusi kepolisian adalah institusi sipil
09:32bukan institusi dengan karakter militeristik.
09:35Oleh karenanya junior-senior sudah tidak ada lagi.
09:38Pendekatan kekerasan sudah tidak ada lagi.
09:41Harusnya begitu.
09:44Meski sudah menetapkan satu tersangka,
09:47Polda Sulawesi Selatan tidak menutup kemungkinan
09:50adanya keterlibatan pihak lain.
09:52Propam masih memeriksa anggota polisi lainnya
09:55yang diduga mengetahui atau terlibat dalam peristiwa penganiayaan
09:59yang berujung pada tewasnya Bribda DP.
Komentar

Dianjurkan