Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Sudarto, mengingatkan seluruh penerima dan alumni beasiswa LPDP menyusul viralnya alumni LPDP yang memamerkan anaknya menjadi Warga Negara Asing (WNA).

"Teman-teman ini, awas juga teman-teman alumni itu. Kami juga sedang memikirkan dan mempertimbangkan untuk mencantumkan nama anak-anak yang tidak patuh di dalam website LPDP," ujar Sudarto saat konferensi pers, Rabu (25/2/2025).

"Sekali lagi, ini kan lu pakai duit pajak, ya kan, LPDP. Artinya ya wajarlah itu, wajarlah. Jadi ini sedang kita pertimbangkan," lanjutnya.

Baca Juga Alumni LPDP Viral, Komnas HAM Ingatkan Literasi Digital dan Sensitivitas Publik di https://www.kompas.tv/nasional/652887/alumni-lpdp-viral-komnas-ham-ingatkan-literasi-digital-dan-sensitivitas-publik

#lpdp #dirutlpdp #beasiswa

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/653064/geram-dirut-lpdp-awas-alumni-itu-lu-pakai-duit-pajak
Transkrip
00:00Lu pakai duit pajak, LPDP, artinya ya wajarlah itu.
00:07Saya harus mungkin menyampaikan permohonan maaf juga kepada para applicants untuk menjadi calon penerima biasiswa.
00:17Karena apa? Kami melakukan background checking terhadap Anda semuanya.
00:23Oleh lembaga-lembaga tentunya berkomentan, bukan kami.
00:29Demikian halnya, pada saat Anda, mungkin teman-teman matahari yang pernah ikut ya, tes substantifnya, Anda pasti diwawancari oleh satu
00:41psikolog dan dua dosen PhD minimal.
00:48Jadi psikolog pun harus master, minimal master.
00:52Dan Anda ditanyakan masalah tentu kemampuan akademis Anda.
00:58Ditanyakan mengenai komitmen untuk kembali berkontribusi kepada Indonesia, wawasan kebangsaan.
01:05Dan setelah itu ada namanya PK.
01:07Waktu Anda sebelum berangkat ada namanya persiapan keberangkatan.
01:10Kalau dulu dua minggu ya, mungkin Pak Bagus sekarang satu minggu itu.
01:15Dimana di situ Anda dilatih kembali terkait dengan culture change, karena Anda akan memasukkan ke budaya yang berbeda.
01:27Kemudian Anda diajarkan juga leadership dan yang proposi paling utama adalah wawasan kebangsaan.
01:34Mungkin waktu satu minggu itu akan kami koreksi kembali, kami bukan koreksi, akan kami kaji kembali apakah cukup.
01:43Tapi memang selalu ada trail off antara biaya sama manfaat.
01:48Tapi kalau dengan kasus yang seperti ini tadi, mungkin kami akan memperpanjang kali ya.
01:54Tapi akan kami kaji tenang-tenang dengan biaya komenten.
01:57Dan pada waktu melakukan penguatan wawasan kebangsaan, tentunya yang melakukan bukan kami, adalah lembaga yang kompeten di situ.
02:06Jadi artinya ada yang berlapis tadi, terkait dengan yang 36 saat ini sedang melakukan pendalaman.
02:13Tentunya tadi kita melihat secara proporsional, melihat konteksnya juga.
02:19Kalau konteksnya tadi, kalau dia misalnya sekarang lagi kerja ya, di misalnya laptop dunia gitu, laboratorium yang menghasilkan mungkin vaksin
02:28atau apa gitu.
02:30Kita minta izin ke kita, dan kita minta lagi komitmennya.
02:35Karena kalau dia keluar dari situ, belum tentu kita ada anak Indonesia yang bisa masuk ke situ loh.
02:41Jadi, sekali lagi konteksnya.
02:42Tapi kalau tidak ada komitmen ya, langsung kita sanksi pasti itu.
02:48Jadi, sekali lagi kami melepaskan dari urusan individu, urusan keluarga ya.
02:54Ini adalah kami menjaga amanah, maka kami biasanya black and white saja.
03:01Tapi sekali lagi ya, konteksnya terlalu kemuliaan.
03:03Karena kita paham tentang pentingnya kita mendapatkan akses di yang tadi loh, perkembangan teknologi, apalagi teknologi frontier yang belum banyak
03:15berkembang di Indonesia.
03:17Mungkin itu ya, Mbak Afi, Mbak Dimas, masalah.
03:22Kalau uang kembali kan sedang kita hitung, ya.
03:24Sedang kita hitung.
03:26Karena apa?
03:29Contoh yang bersangkutan kan, ya kita ada dananya, kita ada hitung-hitungannya.
03:33Kan itu kan mulai tahun 2015 ya?
03:3615-16 yang salah ya.
03:38Kemudian setelah itu dia lanjutkan SDG dari 2017 sampai 2021.
03:43Itu sedang kami hitung, ya.
03:47Nanti akan, pasti, ya.
03:50Nanti itu kan menjadi public domain nanti pasti kita umumkan.
03:53Dan tadi kami juga lagi, selagi memikirkan ini, teman-teman ini, awas juga teman-teman alumni itu.
03:58Kami selagi memikirkan juga, mempertimbangkan untuk menaruh teman-teman nama anak-anak yang tidak patuh itu,
04:06di dalam website-nya RPDP.
04:07Ini lagi kami pikirkan tuh.
04:11Aku nggak mau katakan nemeng dan semeng loh ya.
04:13Tapi, sekali lagi ini kan, lu pakai duit pajak.
04:17Iya kan?
04:18RPDP.
04:20Artinya, ya wajarlah itu.
04:23Wajarlah.
04:24Jadi, ini lagi kita pertimbangkan.
04:26Jadi, banyak sekali sedang kami lakukan saat ini.
04:29Ini sekali lagi memberikan momentum bagi kami untuk melakukan perbaikan.
04:33Dan sekali lagi terima kasih kepada semuanya yang sangat-sangat peduli terhadap
04:39pengembangan SDM Indonesia yang harus kita bersempat.
04:44Oke.
04:49Menemani pagi Anda dengan informasi terbaru.
04:52Satu langkah lebih dekat, satu langkah lebih menjeraikan.
04:55Taksikat Kompas Pagi di Kompas TV, channel 11, di televisi Anda.
05:00Terima kasih.
05:03Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan