Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 jam yang lalu


JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akan melakukan kunjungan ke sejumlah negara, termasuk India dan China, untuk memastikan kepastian pasokan bahan bakar minyak (BBM) bagi Indonesia.

Bahlil mengatakan, Indonesia masih mengimpor BBM jenis RON 90 dari Singapura. Karena itu, pemerintah berupaya mencari sumber pasokan yang lebih terjamin untuk menjaga ketahanan energi nasional.

"Mulai besok saya akan berangkat ke beberapa negara termasuk India, China, dan beberapa negara untuk saya mendapatkan kepastian pasokan," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Baca Juga Bahlil ke Singapura: Jangan Kalian Minta Dihargai, Tapi Susah Hargai Kita di https://www.kompas.tv/nasional/698122/bahlil-ke-singapura-jangan-kalian-minta-dihargai-tapi-susah-hargai-kita



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/698299/tak-bergantung-kepada-singapura-bahlil-cari-pasokan-bbm-ke-china-hingga-india
Transkrip
00:00Dan kita sampai dengan hari ini masih melakukan kajian untuk tahapan proses ekspor listrik ke negara lain.
00:14Karena kita masih butuhkan listrik banyak di negara kita, jadi mungkin belum dalam waktu dekat kali ya.
00:21Tapi semuanya akan kita kaji lagi, kita hitung itu, kita timbak-timbak lah.
00:28Indonesia juga tahu bahwa kita mengimpor BBM RON 90 yang tadi saya sampaikan dari negara tetangga.
00:37Dan mulai besok saya akan berangkat ke beberapa negara termasuk India, China dan beberapa negara untuk saya mendapatkan kepastian pasokan.
00:48Rakyat Indonesia tenang, insya Allah saya memberikan jaminan atas arahan dan perintah Presiden Prabowo bahwa cadangan BBM kita
01:04dalam standar minimum nasional harga tidak akan naik untuk BBM subsidi, saya diperintahkan untuk mencari kontrak jangka panjang.
01:17Dan terakhir, saya senang untuk kita sama-sama menghargai.
01:24Ya kita sama-sama harus menghargai, apalagi sesama sodalah.
01:31Tapi kalau ada yang merasa untuk dihargai saja, sementara lain-lain tidak dihargai, maka saya pikir semua pasti ada jalannya.
01:43Seperti orang Papua bilang, jangan tulis lain, baca lain, bikin lain.
01:49Saya pikir demikian teman-teman media.
01:51Silahkan kalau ada yang mau tanya.
01:59Dengan Rio, Pak, dari Dunia Energi, ada beberapa pertanyaan.
02:02Yang pertama, ke depan berarti sekema pengadaan LPG, CRUD, dan BBM, berarti melalui BLU, kemudian ke perintahannya,
02:10atau seperti apa mungkin bisa dijelaskan, Pak.
02:11Kemudian, tadi Bapak sempat menyegung equal treatment, Pak.
02:15Apakah kebijakan ini sebagai respon juga?
02:17Kalau memang ada quote-unquote, kita kan terjadi kelangkaan BBM, Pak, berapa bulan terakhir, Pak.
02:23Sebagai respon terhadap kelangkaan tersebut, karena kan kita tahu sumber BBM kita, ataupun kita dari mana, Pak.
02:29Yang tadi Pak menjelaskan juga.
02:31Kemudian terakhir, Pak, sumber gasnya itu nanti, yang dipangkas itu, Pak, maaf, Pak, itu dari mana saja, Pak.
02:39Dan kalau memang ada tindakan hukum, nantinya ada tindakan hukum, seperti apa respon pemerintah, Pak?
02:43Terima kasih, Pak.
02:46Pertanyaan kau banyak kali.
02:48Yang pertama, dalam per-107, itu nanti yang mengadakan BLU, setelah itu BLU akan melakukan B2B, B2G dengan Pertamina.
03:02Jadi Pertamina nanti akan membeli di BLU.
03:06Jadi enggak ada lagi perusahaan-perusahaan lain.
03:10Enggak ada lagi.
03:11Jadi negara ke negara saja sudah, biar tidak ada anus tanah antara kita.
03:17Yang kedua, terkait dengan respon, enggak ada respon-respon.
03:24Mau respon siapa?
03:25Saya menyampaikan ini terkait dengan bagaimana kondisi energi kita.
03:30Kalau yang disampaikan kelangkaan itu adalah metode supply logistiknya.
03:37Dari kilang ke terminal.
03:40Jadi itu namanya bukan cadangan nasional kita yang berkurang ya.
03:44Bukan, itu harus clear dulu.
03:46Di Bali kan kemarin terjadi, karena terjadi keterlambatan daripada kapal yang tiba di sana.
03:54Tapi Alhamdulillah udah clear.
03:56Alhamdulillah udah clear.
03:57Yang ketiga, menyangkut dengan pemotongan 31 mm, itu di daerah, satu di laut, Laut Natuna, yaitu dari perusahaan 3S dari
04:10Metco Enpegresik dan Petrocina Jabung.
04:15Dan yang kedua adalah Prime Natuna, Blok A, dan Metco Natuna, Blok B.
04:24Oke, jadi, dan ketiga adalah wilayah Kakap ya.
04:28Jadi, sekalipun terjadi pemotongan, tidak kita menanggar aturan.
04:33Karena masih di dalam batas minimal ekspor.
04:38Sekali lagi saya katakan ya, tidak kita melakukan pelanggaran aturan atau pelanggaran kontrak.
04:44Karena kita baru melakukan minimum.
04:50Jadi, saya juga bingung ya, kenapa mungkin yang ngomong ini belum baca kontrak dulu kali ya.
04:55Kok ada kayak gimana gitu ya.
04:58Padahal itu baru 31.
05:02Bagaimana lagi kalau lebih ya.
05:03Tapi kan kita tidak ingin itu loh.
05:05Tapi kalau memang ya gimana-gimana ya, kita bisa bicarakan baik-baik ya.
05:11Oke.
05:15Siang Pak Balin.
05:17Saya Rian Pak, dari Bisnis Indonesia.
05:19Masih tanya soal tadi pemangkasan ekspor gas ke Singapura.
05:23Ini kan 31 BBTU ya Pak.
05:26Ini tuh dalam jangka waktunya apakah pemangkasan permanen atau dalam tempo beberapa waktu tertentu Pak.
05:32Kemudian kan ini tadi dari Natuna sama Sumatera ya.
05:35Dan nanti pasokannya katanya dialihkan untuk pembangkit di Batam ya Pak.
05:37Nah gimana sih memang pasokan gas untuk pembangkit di Batam dan Sumatera.
05:41Kemudian tadi Bapak juga menyinggung soal negara yang tidak saling menghargai ya.
05:46Memang tolak ukur tidak saling menghargai itu seperti apa-apa untuk Indonesia.
05:48Apakah dengan nanti menurut tolak ukur Bapak Singapura sudah menghargai apakah ekspor ini bakal dilanjutkan lagi atau malah.
05:55Gimana sih Pak ke depannya kayak itu.
05:58Terima kasih.
05:58Saya hari ini bicara sebagai Menteri SDM ya, bukan sebagai Tunggolkar.
06:03Jadi harus straight berdasarkan aturan.
06:05Yang pertama, saya mau sampaikan bahwa di dalam kontrak yang ada, itu ada batas minimum yang harus disuplai.
06:18Oke.
06:21Dari apa yang terjadi ini, kita belum melewati batas minimum.
06:25Belum ada.
06:26Jadi belum ada pelanggaran di situ.
06:28Belum ada ketidakpatuhan kita atau belum ada langkah yang tidak menghargai kontrak.
06:39Terkecuali saya sudah, Pak Joko sudah motong 90 persen atau 89 persen.
06:45Ini kan baru 8 persen.
06:47Jadi belum ada bos.
06:49Jadi saya gak mau tanggapi hal yang belum ada ini.
06:51Jadi saya tidak mau berhalusinasi dengan orang lain gitu.
06:56Jangan orang punya kegelisahan terus saya tanggapi.
06:58Gak bagus.
06:59Saya bukan ahli peramal orang ya.
07:01Satu.
07:02Yang kedua, kita tahu bahwa kita sekarang kan ada beberapa sumur-sumur gas kita yang terjadi incline, penurunan.
07:11Karena ada terjadi shutdown, pemeliharaan.
07:15Nah karena terjadi pemeliharaan, maka saya harus memprioritaskan kepentingan dalam negeri.
07:20Ada dua di situ.
07:21Satu adalah urusan PLN.
07:26Yang kedua urusan industri.
07:28Karena industri kita kalau tidak kita supply, bagaimana bisa punya bahan baku dan berangkat meningkatkan nilai tambah.
07:36Hilirisasinya.
07:38Yang ketiga, apakah ini permanen atau tidak, saya merasa belum ada perlenggaran kontrak.
07:46Jadi saya pikir itu dinamis aja lah mas.
07:48Ya, silahkan jangan main.

Dianjurkan