00:04Kalau untuk terkait tentang kejiwaan, itu butuh proses. Ini masih berproses, makanya kami sampaikan.
00:11Kami butuh waktu, karena tidak bisa 1-2 hari untuk mengenali psikologi seseorang.
00:25Sistem rekrutman, ideologi, psikologi, itu pasti akan sangat dominan. Kita lihat kejalanan-kejalanan.
00:39Sederhana peristiwa polisi, tembak polisi kembali terjadi. Bahkan kini peristiwa penembakan terjadi tidak di ruang publik, tidak di kantor polisi,
00:47tetapi di markas komando.
00:48Lalu apa yang sesungguhnya terjadi di internal poli? Saya akan tanyakan secara langsung kepada guru besar Departemen Kriminolog UI,
00:55yang juga merupakan pakar ilmu kepolisian, Prof. Adrianus Meliala. Prof. Adrianus, terima kasih untuk waktunya.
01:01Terima kasih.
01:01Polisi sampai dengan saat ini masih mengecek kondisi kejiwaan dari tersangkat.
01:06Jika betul ada gangguan psikis, pertanyaannya mengapa seorang anggota poli ini bisa tidak terdeteksi kondisi kejiwaannya ketika mendaftar sebagai anggota
01:16poli?
01:17Ada dua cara dulu melihatnya. Pertama, kalau kita bicara mengenai gangguan psikis,
01:20maka ada gangguan psikis yang kemudian menjadikan pelakunya itu tidak bisa bertanggung jawab terhadap perbuatannya,
01:26atau gangguan psikis yang sebetulnya masih bisa.
01:28Nah, saya menduga kalau lihat dari di mana keduanya ini terlibat dalam pekerjaan,
01:33lalu si pelaku juga masih bisa perform, kalau tidak salah di 8 bulan ya biasanya itu,
01:38maka sebetulnya ini, kalau saya duga, ini kategorinya adalah satu situasi psikis, betul mungkin ada,
01:45tapi masih bisa dipertanggung jawabkan oleh pelaku dan korban.
01:48Dengan kata lain, kalau dalam hal ini dilakukan sidik atau penyidikan pidana oleh propam,
01:53maka saya yakin harus dibawa ke komite etik, ke sidang etik, dan kemudian lanjut kepada sidang pidana.
01:59Nah, saya menduga bahwa karena dia berada dalam lingkungan polairut ya,
02:03yang memang tidak terlalu banyak mementingkan orang.
02:07Dengan kata lain, jumlah personil cukup terbatas di situ.
02:10Kalau kita bicara mengenai struktur daftar urusan personilnya,
02:14maka lebih banyak perwira ke atas.
02:16Kenapa? Karena dia berhadapan dengan alutsista kan, kalau dalam bahasa Tia ini tuh,
02:22yang tentu lalu kemudian perlu awak-awak yang berkualifikasi perwira.
02:26Nah, awak-awak yang berkualifikasi bintara tentu tidak terlalu banyak gitu ya.
02:29Alhasil kemudian, apa namanya, tidak banyak bintara yang juga menjadi teman-teman bergaul,
02:34teman bicara dari si pelaku.
02:36Mungkin itu yang lalu menjadikan ketika dia punya masalah,
02:38dia lalu kemudian kurang teman untuk kemudian sharing terkait dengan masalah-masalahnya.
02:42Mungkin itu.
02:43Kuasa hukum sudah melihat rekaman CCTV yang kemudian diperhatikan oleh penyidik,
02:47dan kuasa hukum menemukan sejumlah kejanggalan.
02:49Yang pertama adalah, pelaku ini masuk dari pintu belakang,
02:53pintu yang tidak biasanya dimasuki oleh orang yang ingin masuk ke Mako.
02:58Kemudian yang kedua adalah pelaku menggunakan helm.
03:01Ketika masuk ke area Mako, termasuk juga ketika mengeksekusi korban.
03:05Dan yang ketiga adalah, pelaku dengan mudahnya,
03:08dalam tanda kutip, mengambil senjata di ruang senjata
03:11yang sebenarnya dijaga oleh salah satu anggota Polri.
03:15Dari rentetan kasus ini, apakah bisa ditafsirkan bahwa memang sudah ada
03:20niat perencanaan dalam pembunuhan ini?
03:23Ya, saya kira dua-duanya ada ya.
03:24Niatnya ada, perencanaannya ada.
03:26Pertama tadi soal helm, itu kan satu hal yang aneh sekali,
03:30yang masuk ke dalam ruangan pakai helm.
03:31Kenapa? Karena kelihatannya sebagai orang dalam,
03:34dia tak amat tahu di mana,
03:36di mana dan arah dari CCTV yang ada di kantor tersebut.
03:39Kedua juga misalnya tadi soal pintu yang accessible bagi dia untuk masuk.
03:45Dan ketiga, dia juga punya akses kelihatannya dengan senjata.
03:48Maka kemudian dia bisa pakai, dia bisa gunakan,
03:51sebagaimana tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang lain.
03:54Jadi menurut saya, ini bukan aneh.
03:55Tapi ini adalah satu buah dari satu kemarahan misalnya,
03:59yang telah dia pendam,
04:01lalu kemudian dia salurkan secara terencana.
04:03Bahwa Anda juga mendalam ilmu kepolisian,
04:05dan ada beberapa hal yang kemudian pernah Anda singgung.
04:09Salah satunya adalah,
04:10ada upaya untuk saling menutupi jika ada yang melakukan kesalahan,
04:12atau code of silence, termasuk juga,
04:14jika salah satu melakukan pelanggaran blue wall of silence.
04:17Apakah memang kultur untuk kemudian menormalisasi
04:22tindakan menyimpang ataupun mungkin saja perundungan ini ada di internal kori?
04:27Nah, kalau kita bicara perundungan yang mungkin terjadi sebelumnya,
04:33beberapa saat sebelum eksekusi ini terjadi,
04:35antara korban dan pelaku,
04:37maka jangan lupa bahwa perundungan itu adalah istilah kita.
04:40Kita sebagai pengamat itu menyebutnya sebagai perundungan,
04:43sebagai bullying.
04:44Tapi apakah situasi itu,
04:46situasi di mana atasan memerintahkan secara keras,
04:48atasan main tangan kepada anak buah,
04:51atasan memerintahkan dengan menghardi kepada anak buah,
04:54itu dalam bahasa mereka,
04:56dalam kultur mereka,
04:56dia akan sebut perundungan.
04:57Belum tentu.
04:58Kenapa?
04:59Karena mereka dibiasakan melalui budaya paramiliter,
05:02bahkan dididik dengan cara keras seperti itu.
05:04Tentu lalu kemudian lama-lama,
05:07banyak pihak yang,
05:08bahkan juga polisi sendiri yang lalu meninggalkan itu,
05:10dengan berkata bahwa,
05:11untuk apa saya marah-marah?
05:13Toh, bawah saya pintar kok,
05:15tidak usah dimarahin pun juga,
05:16dia bisa mengerjakannya.
05:17Kenapa saya lalu mengeluarkan urat leher untuk itu?
05:21Jadi lama-lama memang makin berkurang.
05:23Tapi tidak berarti itu kemudian dianggap sebagai tindakan yang salah.
05:26Nah ini perlu kita waspada.