- 1 hari yang lalu
- #businesstalkkompastv
JAKARTA, KOMPASTV - Presiden Prabowo Subianto mendadak mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan dan menggantinya dengan Suahasil Nazara.
Di hadapan publik, Suahasil menegaskan prioritasnya menjalankan APBN yang kredibel dan dapat dipercaya.
Namun di balik pergantian ini, pencopotan Purbaya yang mendadak menuai sorotan publik.
Terlebih Presiden baru saja kembali dari luar negeri dan Purbaya pun diberitahu saat sedang rapat dengan DPD. Apa urgensi ekonomi dan politiknya?
Saksikan pembahasan selengkapnya dalam #BusinessTalkKompasTV episode "Suahasil Gantikan Purbay, APBN Kian Kredibel?", Selasa, 15 September 2026 pkl 22.00 WIB hanya di KompasTV!
Sahabat KompasTV, yuk gabung Membership dan dapatkan akses ke konten eksklusif! Klik tombol Join di sini: https://bit.ly/JoinMembershipKompasTV
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/690920/full-suahasil-gantikan-purbaya-di-posisi-menkeu-arah-apbn-berubah-business-talk
Di hadapan publik, Suahasil menegaskan prioritasnya menjalankan APBN yang kredibel dan dapat dipercaya.
Namun di balik pergantian ini, pencopotan Purbaya yang mendadak menuai sorotan publik.
Terlebih Presiden baru saja kembali dari luar negeri dan Purbaya pun diberitahu saat sedang rapat dengan DPD. Apa urgensi ekonomi dan politiknya?
Saksikan pembahasan selengkapnya dalam #BusinessTalkKompasTV episode "Suahasil Gantikan Purbay, APBN Kian Kredibel?", Selasa, 15 September 2026 pkl 22.00 WIB hanya di KompasTV!
Sahabat KompasTV, yuk gabung Membership dan dapatkan akses ke konten eksklusif! Klik tombol Join di sini: https://bit.ly/JoinMembershipKompasTV
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/690920/full-suahasil-gantikan-purbaya-di-posisi-menkeu-arah-apbn-berubah-business-talk
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:10Intro
00:17Saudara, tidak ada angin, tak ada hujan.
00:20Tiba-tiba purbaya Yudhisa Dewa dicopot dari jabatannya Menteri Keuangan.
00:26Tak ada yang menduga secepat itu, disafel berlangsung setiba Presiden Prabowo di tanah air
00:32usai pulang dari KTT Briggs di India Senin Dinihari.
00:37Purbaya pun tampak kaget baru diberitahu istana lewat telepon selagi rapat dengan DPD RI.
00:46Kedaya-kedaya termasuk dengan bantuan DPD,
00:52untuk memastikan bahwa tidak akan mengerti bagaimana Menteri yang proyek saya putus dunia.
00:58Tidak ada yang terbuka dari SSS kembang Menteri, tolong di liat.
01:04Hanya sehari berselang, Purbaya sudah serah terima jabatan Menteri Keuangan ke penggantinya,
01:10suhasil Nazara.
01:11Purbaya hanya memberi sambutan pendek,
01:14mengapresiasi kinerja jajaran kementerian selama setahun kepemimpinannya.
01:19Ini undangan yang saya hormati.
01:24Bapak dan Ibu,
01:27bagi saya hari ini adalah momen penting.
01:30Tapi saya pikir kepanjangan ini.
01:32Jadi kan,
01:33kalau waktu itu saya datang,
01:35boleh ngomong panjang,
01:36karena untuk menciptakan optimisme.
01:38Kalau sekarang kan saya akan serahkan ke Bapak,
01:40suhasil saja ke depannya.
01:42Jadi saya hanya ngomong pendek saja.
01:45Terima kasih semua atas kerjasama selama satu tahun terakhir ini.
01:51Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
01:55Usai dilantik Presiden,
01:57Menteri Keuangan suhasil Nazara bilang,
01:59siap menjaga kredibilitas APBN sesuai arahan Presiden,
02:03sembari mendukung program prioritas pemerintah.
02:08Oleh istana dan tadi saya menghadap Bapak Presiden.
02:11Prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel.
02:14Jadi saya akan terus menjalankan APBN yang dapat dipercaya,
02:18komunikasi publik yang dapat dipercaya,
02:20dan juga akan memastikan bahwa
02:23apa yang dilakukan oleh APBN adalah
02:26mendukung program prioritas pemerintah.
02:28Anggota Komisi Keuangan DPR fraksi Gerindra,
02:34Kamru Samad, mengatakan
02:35pencopotan purbaya dari kursi bendahara negara adalah langkah tepat.
02:39Sebab, gaya komunikasi purbaya saat masih menjabat
02:43dinilai kerap menimbulkan kebingungan
02:46di internal Kementerian Keuangan.
02:48Beberapa pandangan-pandangan dari eselon 1, eselon 2-nya
02:52terhadap berbagai pernyataan Menteri sebelumnya,
02:56kadang-kadang sulit juga mereka untuk menerjemahkan.
02:59Si birokrasinya belum selesai selama satu tahun,
03:02sehingga ada dinamika di Kementerian Keuangan yang
03:05kadang-kadang antara pernyataan di external,
03:08di ruang publik,
03:09dengan kebijakan itu belum sinkron.
03:13Saya kira bagian daripada evaluasi
03:15secara objektif yang dilakukan oleh seorang Presiden,
03:19sehingga memilih sosok yang kami yakin
03:23pasar akan jauh lebih friendly dengan Pak Suwa.
03:28Selama menjabat Menteri Keuangan,
03:31purbaya dikenal bak koboy
03:32dengan gaya komunikasi ceplas-ceplos.
03:35Awalnya bergaung purbaya efek.
03:38Pasar menaruh harapan besar pada arah kebijakan fiskal,
03:42kredibilitas APBN,
03:43serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar
03:46dan stabilitas sektor keuangan.
03:49Sebelum di Risafal,
03:51purbaya baru saja menggelar perombakan besar-besaran
03:55terhadap ratusan pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan
03:5810 September lalu.
04:00Yang dirombak yaitu pejabat pimpinan tinggi pertama,
04:04pejabat administrator,
04:06pejabat pengawas,
04:07pejabat fungsional,
04:08dan pejabat pada unit organisasi non-eselon Kementerian Keuangan.
04:13Purbaya merombak jajarannya,
04:15utamanya untuk pembenahan sektor perpajakan.
04:19Sebagai Menteri Keuangan yang baru,
04:22Suhasil bukan sosok baru di Kementerian.
04:25Ia telah menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak tahun 2019,
04:29sempat menduduki sejumlah posisi strategis,
04:32termasuk Kepala Badan Kebijakan Fiskal atau BKF.
04:36Sejak 1999, Suhasil telah mengajar sebagai dosen,
04:43hingga berhasil meraih gelar guru besar ilmu ekonomi di Universitas Indonesia.
04:49Pasar pun cukup positif menyebut Pengangkatan Menteri Keuangan Baru,
04:54Indeks IHSG, pulih dari koreksi yang sempat menyentuh 2,6% di sesi 2 perdagangan,
05:01hanya turun 0,10% di level 6.534 di akhir perdagangan.
05:07Aliran modal masuk inflow tercatat senilai Rp327 miliar di sesi 2
05:13dengan aksi beli bersih investor asing didominasi saham Big Banks.
05:18Otomatis saham Big Banks kompak menguat.
05:22Dalam 2 tahun pemerintahannya,
05:24Presiden Prabowo sudah 2 kali mengganti Menteri Keuangan.
05:29Ekonom menilai siapapun Menteri Keuangannya akan menghadapi tantangan
05:33bagaimana menyeimbangkan penerimaan negara
05:36dengan pengeluaran uang negara yang dipakai membiayai program prioritas.
05:42Kita lihat sebenarnya PR dari Paswa ini kan ada dalam pengendalian fiskal
05:49untuk beberapa program prioritas pemerintah, PR gitu.
05:54Jadi PR-nya adalah ketika harus menjalankan program prioritas
05:58yang grande dan memakan anggaran besar.
06:01Ini yang baru harus bisa memutar otaknya,
06:04memutar bagaimana caranya negara ini mendapatkan uang
06:08tanpa merepotkan sektor lainnya.
06:11Menteri Keuangan Suhasil Nazara berjanji menjaga kredibilitas APBN
06:16namun pada saat yang sama ia dihadapkan pada prioritas kebijakan pemerintah
06:21yang berbiaya besar.
06:23Bagaimana pasar dan publik melihat kredibilitas keuangan negara
06:26di tangan nakoda baru?
06:28Kita bahas lengkapnya di Bisnis Talk
06:30Suhasil gantikan purbaya APBN kian kredibel bersama saya, Ian Rahman.
06:35Dan saudara tentunya saya tidak sendiri untuk membahas hal ini.
06:38Saya sudah kedatangan sejumlah nasumber di Studio Kompas TV.
06:41Saya perkenalkan untuk Anda, saudara.
06:43Yang paling kanan ada Bahtra Banung, jurubicara Gerindra.
06:47Mas Bahtra, selamat malam.
06:48Selamat malam, Mas. Semuanya.
06:50Dan juga saya perkenalkan untuk Anda, saudara.
06:52Ada Fitra Faisal, tenaga ahli Bakom RI.
06:54Mas Fitra, selamat malam.
06:55Selamat malam, Kang.
06:56Dan yang paling kiri ada Ferry Latuhihin, ekonom senior.
06:59Prof Ferry, selamat malam.
07:00Selamat malam, Pak Cik.
07:01Ada juga Naylul Huda, kepala ekonom selios.
07:04Mas Huda, selamat malam.
07:05Selamat malam, Mas.
07:06Tentunya saya juga ditemani oleh wartawan senior kontan, Samsul Asar.
07:09Mas Samsul, selamat malam.
07:10Selamat malam.
07:11Saya ke Mas Huda.
07:13Menurut Anda, pergantian dari purbaya ke Suhasil Nazara.
07:18Apakah Anda menilai ini terlalu mendadak
07:20karena Presiden baru tiba di Indonesia, langsung ada risafel?
07:23Ya, tentu mendadak atau tidak, pasti itu Presiden yang bisa jawab.
07:27Apakah memang ini keputusannya diambil satu malam saja
07:30atau berhari-hari bahkan berbulan-bulan.
07:33Oke.
07:34Tapi yang kalau kita lihat sebenarnya memang perlu risafel, perlu diganti.
07:38Karena?
07:39Ya, karena kalau kita lihat dari berbagai, ya mungkin beberapa bulan belakang lah.
07:44Ini kita bisa melihat perekonomian kita juga, bisa kita bilang nggak kredibel,
07:49APBN yang dikelola oleh purbaya juga nggak kredibel dan sebagainya.
07:51Meskipun, ya tadi, ada beberapa indikator tadi sebutkan juga
07:56bahwa ada perombakan dan sebagainya yang itu mengacu kepada masalah internal.
08:00Nah, inilah yang memang menyebabkan dari satu sisi,
08:03dari sisi data juga, data APBN ya, khususnya ya,
08:07itu juga nggak terlalu dipercaya sama pasar dan sebagainya
08:10yang akhirnya itu menumpuk sebenarnya.
08:13Dan inilah yang memang dijadikan alasan.
08:15Kalau saya lihat alasannya seperti itu.
08:18Apakah ini murni soal evaluasi kinerja atau ada hal lain menurut Anda?
08:21Ya, kinerja itu kan bisa kinerja terkait dengan bagaimana dia mengolah APBN,
08:26juga mengolah internal.
08:27Nah, ini saya rasa juga pasti ada dua faktor itu, Mas Yan.
08:31Nah, kalau kita lihat dari sisi misalkan berbagai macam lah,
08:35kita dari awal tahun sebenarnya sudah bilang juga bahwa APBN ini tidak kredibel.
08:39Buktinya apa? Beberapa lembaga rating juga mengatakan hal yang serupa.
08:44Ya kan, di awal tahun gitu kan.
08:45Nah, inilah yang memang menjadikan, ya tadi kita bilang kinerjanya jelek,
08:50internalnya juga jelek, ya memang harusnya, memang harus diganti, Mas Yan.
08:54Baik, Mas Hamso, baru pulang dari India, baru tiba di Indonesia begitu,
08:59langsung ada pergantian dari Purbaya Yudhisa Dewa ke Suhasil Nazara.
09:03Nah, persis setelah Purbaya, ini melakukan perombakan di Kementerian Keuangan,
09:09Anda membaca hal ini seperti apa?
09:12Mungkin dari kinerja yang setahun itu, evaluasi tetap ada dari Presiden.
09:18Mengapa? Keributan-keributan yang muncul itu yang mungkin jadi berhatian.
09:22Pertama, keluhan-keluhan pemerintah daerah mengenai pengurangan anggaran namanya TKD itu.
09:29Itu jadi masalah juga di daerah dia sampai sekarang.
09:31Dan ada juga dari keluhan pengusaha, namanya restitusi pajak yang ditahan itu juga menjadi keluhan.
09:38Karena selama ini menjadi darah bagi pelaku usaha untuk menjalankan bisnisnya.
09:44Angka-angkanya yang turun drastis banget.
09:46Misalkan TKD tadi di 860 sekian triliun, tahun ini menjadi 640-an triliun.
09:53Dan seperti tadi yang saya sebut untuk pajak restitusi itu yang tahun lalu bisa sampai 200-an triliun,
10:00per Januari sampai Agustus.
10:02Nah, tahun ini baru sekitar 7 bulan itu sekitar 160-an triliun.
10:08Itu artinya apa?
10:10Keterbatasan dari pengusaha karena namanya restitusi kan tidak hanya itu, itu hak bagian dari pengusaha yang memang produksinya biar tidak
10:18terganggu.
10:19Dan mereka merestitusi itu karena mungkin usahanya tidak sesuai prediksi awal.
10:26Jadi dia membayar pajak lebih dan seharusnya dikembalikan karena hasil produksinya tidak sesuai.
10:30Yang seperti itu mengganggu likuiditas pengusahaan itu salah satu yang mungkin jadi perhatian beberapa bulan terakhir ini yang akan jadi...
10:37Mas Samsul, tapi ini kan ada desas-desus begitu, resistensi internal yang membuat pergantian ini berlangsung secara mendadak begitu.
10:47Bagaimana?
10:50Internal mungkin tadi yang disebut Mas Huda, ada mungkin.
10:54Seperti kita lihat kemarin pas begitu Pak Suha hasil dilantik itu sambutannya itu beda gitu.
11:01Di Kementerian Keuangan itu seperti ada upacara yang orang berbondong-bondong menyambut.
11:05Itu sesuatu yang kembali lagi ke laptop istilahnya.
11:10He came back.
11:13Artinya selama ini yang mungkin didambakan kehati-hatian di Kementerian Keuangan.
11:18Tidak asal komunikasi yang lebih terhitung.
11:23Itu yang mungkin diharapkan lagi kembali ke situ.
11:26Kalau tanggapan Mas Huda, bagaimana soal resistensi internal ini yang ujung-ujungnya ataupun dikaitkan dengan pergantian dari Purbaya ke Suhasil
11:34Nazar?
11:35Yang pertama seperti ini Mas, bahwa kalau dari informasi yang saya dapat ya, itu memang dari internal pada Kamis atau
11:44minggu lalu lah.
11:45Itu Pak Purbaya merombak untuk beberapa jajaran Eselon.
11:50Di dalam DJP maupun di ZBC.
11:52Nah, ini tapi ada beberapa Eselon yang memang harusnya dilantik sama Pak Purbaya, itu tidak datang.
11:59Nah, artinya apa? Artinya memang dari sisi resistensi internal sendiri ada ketidak setujuan.
12:06Nah, makanya inilah yang memang tadi disebut juga sebenarnya di Viti bahwa disitu ada pengaruh dari perombakan yang besar-besar
12:13yang dilakukan oleh Pak Purbaya.
12:15Apakah ini terkait dengan Pak Dirjen ataupun DJP maupun Pejuka ya?
12:21Nah, ini pasti akan ada resistensi ke sana.
12:23Nah, bagaimanapun juga kalau kita lihat dari sisi Pak Bimo maupun juga Pak Jakanya sendiri, pastikan dia punya anak buah
12:31yang memang bisa diandalkan.
12:33Menurut dia, masing-masing menurut individu pasti kan.
12:36Nah, ini ketika dirombak sama Pak Purbaya, Es Menteri, Es Laku Menteri, tentu ini menimbulkan resistensi dari bawahannya.
12:42Nah, inilah yang memang kita bisa sampaikan bahwa internal pun juga bermasalah.
12:48Jadi, makanya ada faktor kinerja yang eksternal terkait dengan pengolahan APBN dan juga terkait dengan manajemen di internalnya juga berpengaruh
12:56terhadap pencopotan Pak Purbaya.
12:58Oke, Mas Fitra, ini ada desas-desus terkait dengan resistensi internal yang ujung-ujungnya begitu dikaitkan dengan pergantian Menteri Keuangan,
13:06begitu.
13:06Secara mendadak di garis bawah hal ini.
13:09Bagaimana pemerintah menjawab hal ini?
13:13Ya, itu isu saja ya. Jadi, ini hak prerogatif Presiden.
13:16Yang jelas, semua pertimbangan sudah ada di piring yang mencampurkan seluruh unsur tersebut.
13:26Tapi kalau misalnya kita lihat dalam konteks permainan sepak bola.
13:31Ada kalanya seorang pemain sepak bola itu mencetak lebih banyak gol.
13:36Tetapi, pelatih melihat ada kebutuhan tim lain.
13:39Dan ini adalah hak prerogatif pelatih, hak prerogatif Presiden.
13:43Untuknya ganti, untuk permainannya tetap berkesinambungan.
13:46Dalam hal ini, kalau kita bicara mengenai Presiden Historikal,
13:50kemarin di OJK ketika mundur diganti internal OJK.
13:53BI mundur diganti internal BI.
13:56Kementerian Keuangan juga diganti internal Kementerian Keuangan.
13:59Jadi, prinsip kesinambungan itu yang ingin dijaga.
14:01Dalam konteks yang lain, kita bicara misalnya lembaga rating tadi ya.
14:05Lembaga rating sebenarnya kalau kita lihat yang terbaru, S&P,
14:08itu sudah memasukkan salah satunya adalah faktor kapasitas fiskal kita yang memadai.
14:13Dalam hal ini, kalau kita lihat di semester 1 sampai bulan Juni,
14:16itu pemasukan di sisi revenue, Rp1.459 triliun.
14:21Naiknya itu secara year on year 21,4%.
14:23Sementara dari sisi belanjanya, Rp1.656 triliun.
14:27Naiknya 17,8%.
14:28Itu sudah ada di laporannya S&P bahwa ini sesuai dengan trajectory fiscal capacity sehingga pada akhirnya S&P tetap
14:36mempertahankan rating kita dan tidak merubah.
14:38Oke, apakah artinya?
14:39Dalam konteks itu artinya, kalau kita lihat capaian pertumbuhan ekonomi sudah in place, rating juga sudah in place.
14:45Tapi, ada kepinglihatan lain dari Presiden yang melihatnya butuh perubahan pemain.
14:52Apakah artinya ini Anda mau menjawab bahwa atau memastikan bahwa perombakan ini, risafal ini tidak mendadak?
14:58Tidak mendadak.
14:59Karena memang kan ini semua sudah dipikirkan oleh Presiden.
15:01Tapi kenapa ini dilakukan ketika Purbaya sedang rapat dengan DPD?
15:06Ini terkesan sangat mendadak loh.
15:07Ya ini, kalau itu kita bisa tanya ke Presiden langsung ya.
15:10Dalam konteks ini, apa yang sudah direncanakan ya tinggal timenya saja seperti apa.
15:14Bahkan kalau kita lihat momen dari sampelnya memang di antara 14-17 September.
15:18Oke.
15:19Pak Ferry, kalau Anda melihat ini, disampaikan bahwa ini tidak mendadak begitu.
15:24Tapi ada video yang tadi juga kita sampaikan.
15:28Purbaya ditelepon ketika rapat atau ketika bekerja dengan DPD.
15:33Dan Presiden pun baru pulang dari India.
15:35Kesannya ini sangat mendadak.
15:36Kalau dari kacamata Anda?
15:39Ya buat saya nggak penting mendadak atau mendidik ya.
15:43Oke.
15:44Yang penting bahwa Purbaya memang diganti oleh sesuah hasil.
15:48Kan gitu ya.
15:49Berarti caranya tidak penting?
15:50Caranya tidak penting.
15:52Karena memang kalau kita lihat respect dari awal pun sebetulnya,
15:56saya adalah orang yang pertama mengatakan di ruangan ini,
15:59ketika Purbaya diangkat dengan Ilona pada waktu itu,
16:03he is not the right man untuk menjadi man-Q.
16:06Itu setahun yang lalu loh ya.
16:08Saya yang pertama dipanggil, ditanya apakah ini orang yang tepat.
16:11Saya bilang, saya tahu dia sejak tahun 2000.
16:13Kita sama-sama di Dana Reksa.
16:15Dan ternyata memang,
16:17bahwa dibilang feeling saya bahwa dia tidak akan bertahan lama,
16:20itu memang dari sejak awal dia diangkat.
16:23Nah sekarang kembali ke pertanyaan awal.
16:25Apakah ini mendadak kah dan apa?
16:28Dan kalau kita bicara soal mendadak kan cuma masalah teknis ya.
16:31Ini ada apa sih sebetulnya sampai dadak-dadakan begini gitu.
16:35Nah kalau saya melihat dari segi kapasitas bos,
16:37dari segi kapasitasnya,
16:40ini tipe yang menurut saya nanti kita akan nyambung dengan masalah kredibilitas dan prioritas ya.
16:46Ini tipe yang, Purbaya ini tipe yang ingin katakanlah bermain dua kaki.
16:51Di satu pihak dia ingin kredibel,
16:54di lain pihak dia ingin sama sekali menservice,
16:57melayani prioritas program-program yang disebut program strategis.
17:01Dan ini dia mengalami budget constraint yang luar biasa.
17:05Sampai kelimpungan,
17:06akhirnya cuma bisa memainkan sal,
17:09ya kan?
17:09Nah ini ya didian pajak diobok-obok,
17:11supaya pendapatan pajak mungkin tambah banyak.
17:14Dia udah mengerahkan katanya juga,
17:17TNI, Polri, Untek,
17:19ngejar-ngejar pajak ke daerah-daerah.
17:21Jadi dia berusaha menyeimbangkan kredibilitas dan prioritas.
17:26Prioritas tadilah prioritas ya program-program yang disayang oleh Pak Presiden.
17:30Baik.
17:32Baik, saya ke Mas Batra.
17:34Mas Batra,
17:35dengan pergantian secara mendadak,
17:38dan kita melihat juga tadi ada telpon terhadap Purba ya ketika bekerja,
17:42ataupun rapat dengan DPD begitu.
17:45Mengapa ini pertanyaannya kenapa tidak dipanggil saja begitu?
17:47Apakah Presiden sudah berpikir panjang begitu untuk melakukan pergantian dari Purba ya ke Suhasil Nazara?
17:54Sebetulnya kan kalau kita cermati bahwa kita kan negara yang menganut sistem presidensil ya.
17:59Artinya dengan begitu bahwa Presiden punya kewenangan,
18:04diberi mandat oleh Undang-Undang Dasar kita,
18:07bahwa beliau punya hak prioritas artinya setiap saat, setiap waktu,
18:11beliau boleh melakukan pergantian dan tidak mengenal soal waktu atau timing.
18:16Jadi bagi hemat kami, ini Presiden kapanpun mau lakukan reshuffle,
18:21itu tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
18:24Artinya yang paling penting adalah apakah keputusan ini sudah tepat atau tidak.
18:29Nah bagi kami dari Partai Gerindra tentu memberikan dukungan yang penuh kepada Presiden,
18:33bahwa ini adalah langkah yang tepat.
18:35Dan kalau kita lihat jejak rekam Menteri Keuangan yang baru, Pak Suhasil ya,
18:39kita tahu sendiri bahwa beliau pernah jadi Kepala BKF mulai sejak tahun 2015,
18:45terus kemudian 2019 sampai per hari ini artinya hampir 6 tahun menjadi Wakil Menteri Keuangan.
18:50Dan beliau juga orang internal KMNQ, artinya kami menaruh harapan besar.
18:55Dan saya pikir Pak Suhasil tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan konsolidasi,
19:00karena yang paling penting begini.
19:01Kadang-kadang kan kalau misalnya mengganti Menteri itu,
19:05kalau misalnya dia orang luar, dia butuh waktu penyesuaian yang panjang,
19:09sementara di suatu sisi publik juga menuntut kinerja yang cepat,
19:12untuk kemudian bagaimana agar pertumbuhan ekonomi yang diharapkan oleh Presiden,
19:16dan tentu yang diharapkan masyarakat dan diharapkan kita semua bisa lebih cepat tumbuhnya.
19:21Jadi menurut hemat kami, ini sesuatu yang pas,
19:23dan kemudian kita memberi kepercayaan kepada Pak Suhasil,
19:26mudah-mudahan sesuai dengan ekspektasi Presiden dan ekspektasi publik.
19:29Itu saja, tentu saja pertimbangan-pertimbangan itu juga dipikirkan betul oleh Presiden,
19:35seperti yang diungkapkan oleh Mas Bahtera tadi.
19:36Tapi yang jadi concern juga, ini Saudara Purbaya dikenal sebagai sosok Menteri Keuangan
19:41dengan kebijakan fiskal agresif, yang mengejarah pro-pertumbuhan.
19:45Sementara Suhasil dikenal lebih disiplin fiskal,
19:49seperti saat ia membantu Sri Mulyani.
19:50Mengapa kemudian Presiden mengangkat Suhasil jadi Menteri Keuangan,
19:54namun kita bahas saja dan tetap bersama kami di Business Talk.
20:10Anda masih bersama kami di Business Talk, Saudara, saya langsung ke Mas Huda.
20:13Ini Mas Huda, apa urgensinya pergantian Menteri Keuangan?
20:18Karena toh penggantinya adalah wakilnya sendiri,
20:21yang jelas-jelas kemarin bilang bahwa akan melanjutkan program.
20:25Artinya ini kemungkinan tidak ada yang baru begitu.
20:28Ya, saya juga melihatnya hal demikian soalnya.
20:30Bahwa kalau kita lihat dari sisi Pak Suwapun,
20:34karena dia sudah lama, kemudian juga membantu Bu Ani ya,
20:38sebelumnya, terus juga membantu Pak Purbaya juga,
20:40saya melihatnya tidak ada perubahan yang cukup signifikan.
20:42Terutama dalam hal bagaimana, tadi sampaikan sama Prof. Ferry,
20:46men-serve dari program prioritas dari Presiden.
20:49Saya tidak melihat akan ada perubahan yang cukup signifikan di situ.
20:52Nah, kemudian yang kedua adalah memang ini dibutuhkan keberanian sebenarnya,
20:58untuk bagaimana mengolah ABBN ini secara lebih kredibel.
21:01Artinya adalah memang kita butuh sebenarnya Menteri Keuangan itu
21:05yang bisa untuk meng-cut beberapa budgetnya dari program prioritas Presiden
21:11yang memang itu tidak diperlukan sama masyarakat.
21:14Nah, inilah sebenarnya kita butuh keberanian itu.
21:17Tapi, sayangnya kemarin ketika Preskonpun, Pak Suwa ya,
21:21itu sampaikan bahwa keperlanjutan yang akan dipilih sama masyarakat.
21:24Ya, menurut Anda, Pak Suwa akan berani atau tidak?
21:27Mohon maaf, dengan segala hormat, kemungkinan besar akan tidak.
21:31Oke, oke Mas Fitra.
21:34Pertanyaan yang sama sebetulnya,
21:36kalau memang ini yang dilakukan atau penjawaban dari Pak Suwa adalah
21:41akan melanjutkan program-program yang ada,
21:43jadi apa bedanya menurut Anda?
21:44Apa urgensinya mengganti Menteri Keuangan?
21:47Apa bedanya figur lama dan figur baru ini?
21:49Memang tidak ada bedanya, ini keberlanjutan sebagai yang saya sampaikan tadi ya.
21:53Jadi, memilih dari internal Kementerian Keuangan
21:56untuk memang melanjutkan hal-hal atau program-program yang memang sudah...
21:59Oh, jadi kenapa harus diganti kalau begitu?
22:01Sudah, saya jelaskan dulu.
22:02Jadi, kalau kita bicara mengenai pertumbuhan ekonomi,
22:045,45% semester satu ini.
22:06Tapi ada PR-PR lain yang memang perlu dilakukan juga oleh Kementerian Keuangan.
22:10Dalam hal ini, kita bicara kesinambungan dalam mencapai target-target makro,
22:15tetapi di sisi yang lain juga ada pergantian pemain.
22:19Dalam hal ini adalah untuk kemudian menyimbangkan iramanya saja.
22:22Nah, oleh karena kalau kita lihat juga desain APBN,
22:25saya pernah di bulan Mei itu datang di rapat kabinet,
22:28di depan saya ada Prof Suwa,
22:30di sebelah kiri itu lebih dekat ke arah Presiden itu ada Pak Purwaya.
22:34Dan ketika waktu itu Pak Presiden bilang ke Pak Suwa,
22:39Pak Suwa saya minta di APBN tahun 2027,
22:42waktu itu belum ada pengumuman tentang era APBN ya,
22:46saya minta nanti defisitnya 1,8%.
22:48Oke.
22:48Nah, waktu itu dalam perkembangannya,
22:50kan kita sempat melihat bahwa range defisit itu 1,8 sampai 2,4%.
22:54Dan pada akhirnya kita melihat kemarin yang sudah disetujui 2,4% defisit.
22:58Dalam hal itu berarti pertama,
23:00kita melihat bahwa Presiden sangat concern terhadap kondisi fiskal kita.
23:03Yang kedua adalah Pak Suwa adalah yang mendesain juga APBN tahun 2027,
23:08menjadi secondannya Pak Purwaya.
23:10Tetapi sebenarnya salah satu main thinkernya juga Pak Suwa dalam hal itu.
23:14Nah, dalam konteks itu, itu berkesenamungan.
23:16Apa sih program prioritasnya adalah apa?
23:18Ya, ketahanan pangan, kemudian energi dan air.
23:21Yang kemudian yang ketiga ada pendidikan,
23:23keempat ada kesehatan,
23:24ada industrialisasi dan hilerisasi.
23:27Yang keenam itu infrastruktur dan perumahan.
23:29Yang ketujuh ada pembangunan ekonomi desa.
23:31Yang terakhir adalah kemiskinan.
23:33Nah, ini sesuai dengan mazab dari Big Push,
23:37yang juga sempat disampaikan oleh Jeffrey Sachs.
23:39Kita butuh Big Push untuk kemudian mencapai target-target pertumbuhan,
23:43tetapi end goal-nya adalah The End of Poverty,
23:46sebagaimana buku dari Jeffrey Sachs di tahun 2002,
23:49The End of Poverty.
23:51Oke, Pak Ferry, programnya sama,
23:55hanya orangnya berbeda,
23:56dan keberlanjutan.
23:57Ini urgensi secara ekonominya apa dong,
24:00kalau kayak begini?
24:01Justru di situ, yang saya katakan tadi,
24:04perubahnya itu terjebak pada apa yang tadi saya katakan,
24:07tarik ulur, tegangan,
24:09antara di satu pihak,
24:10kredibilitas daripada fiskal kita,
24:13di lain pihak,
24:15itu prioritas program-program Pak Presiden,
24:17dan kita tahu prioritas program Pak Presiden
24:19yang membakar duit gila-gilaan,
24:21adalah MBG.
24:22Di sini lah,
24:24jadi perubahnya mencoba mencari keseimbangan,
24:26dan ternyata dia gagal,
24:27ya kan?
24:28Nah, sempat juga kan dia berucap bahwa ini,
24:30kita ini akan dikejar-kejar pajak nantinya nih,
24:33cuma untuk menservice prioritas yang dicanangkan oleh Pak Presiden,
24:37gitu loh ya,
24:38dan ini dananya sangat luar biasa,
24:40jadi kalau seandainya diganti orang pun,
24:42ya apakah itu suah hasil atau suah tak berhasil,
24:45ya sama aja gitu loh ya,
24:47kalau selama ini ketegangan ini masih tetap tinggi,
24:50jadi kita ngomong di situ aja,
24:52kan tadi Pak Faswa Hasil bilang,
24:54ya kita akan menjaga kredibilitas fiskal kita,
24:57di samping kita memenuhi program-program prioritas,
24:59sekarang menjadi program prioritas kan kita,
25:01kita tahu KDMP,
25:03terutama adalah MBG,
25:04gitu kan ya,
25:05nah jadi kalau umpamanya itu tidak dirubah tegangan tadi,
25:08semerut saya ya,
25:10ini cuma sekedar,
25:11saya cuma bisa berharap begini,
25:12mungkin Pak Suha Hasil bisa merapikan administrasinya dengan baik,
25:17ya ketimbang...
25:18maksudnya tidak besar ya,
25:20hanya merapikan...
25:20tidak,
25:21lupanya kan tadi kita lihat begini ya,
25:23market kemarin,
25:24ya kan itu rebound,
25:25dari minus 150 sampai minus single digit,
25:28itu merayakan kepergian Pak Purbaya,
25:31oke,
25:32nah tadi market,
25:33minus lagi,
25:35itu merayakan kedatangan Pak Suha Hasil,
25:38kan gitu,
25:39karena apa,
25:39karena Pak Suha Hasil basically tidak mengatakan...
25:41maksudnya Anda mengertikan tidak ada yang lebih baik,
25:44tidak,
25:44kalau memang tadi seperti pernyataan dari Pak Suha Hasil sendiri,
25:47bahwa dia cuma meneruskan program-program yang ada,
25:50kita akan mengalami tegangan yang sama,
25:53yaitu kredibilitas budget kita,
25:55ya kan,
25:56saya nggak yakin budget kita bisa defisitnya di bawah 3%, loh.
25:59Jadi menurut Anda ini keputusan politis?
26:00Karena menurut saya bukan keputusan politis ya,
26:02mungkin ya,
26:03mungkin keputusan yang boleh dibilang,
26:05mau nggak mau,
26:06gini deh,
26:06daripada gagal dengan orang ini,
26:09kita coba sama orang lain,
26:10tapi Anda jangan merubah ya,
26:13strateginya,
26:14kan bisa,
26:15ya kan,
26:16ya ini sih menurut saya itu,
26:18makanya market responnya kan tadi negatif,
26:21ya kan,
26:22bahkan rupiah sempat lagi dolar 17.700,
26:25ya kan,
26:26karena tadi,
26:27poinnya yang ditunggu-tunggu oleh market adalah perubahan kebijakan,
26:31mengetahui bahwa fiskal kita kedodoran,
26:34dan bukan tidak mungkin,
26:35saya khawatir,
26:36market pun sama khawatirnya,
26:38seandainya debt service ratio kita,
26:40lihat ya,
26:41untuk tahun depan aja,
26:42itu 650 triliun,
26:43itu untuk bayar bunganya,
26:45ya ini bisa membuat debt DSR kita naik ke atas 20%,
26:48sedangkan threshold-nya baga rating agency 15%,
26:51investor worry boss,
26:53seandainya DSR naik ke atas 20%,
26:55dan rating kita terpaksa harus di downgrade,
26:58dari investment grade menjadi non-investment grade,
27:01ini cilaka buntut kuda.
27:02Oke, kita bahas nanti lebih lengkap terkait dengan market,
27:05saya mau bertanya dulu kepada Mas Bahtra,
27:08ini terkait dengan risafo,
27:09yang penuhi momentum 2 tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,
27:15dan juga Gibran,
27:16ini urgensi politik atau urgensi ekonomi menurut Anda?
27:19Ya, sebetulnya kan kalau kita lihat ya,
27:20bahwa publik menaruh harapan besar,
27:23terhadap kepemimpinan Pak Prabowo,
27:25sejak awal beliau dilantik,
27:26dan itu juga yang insya Allah akan dipenuhi oleh Pak Prabowo,
27:30dengan misalnya berjalannya atau gencarnya program-program strategis,
27:33dan sampai hari ini Alhamdulillah sudah berjalan cukup baik,
27:36namun yang paling penting bagi kami,
27:38pada akhirnya pertumbuhan ekonomi itu tidak berarti apa-apa,
27:42kalau semua program-program ini tidak bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
27:46Nah, poin pentingnya adalah Pak Prabowo menyampaikan pada pidato 14 Agustus di DPR,
27:54bahwa capaian-capaian pemerintah yang sudah cukup baik ini,
27:57dan kalau kita lihat capaian pertumbuhan ekonomi kita ya,
27:59baik itu di kuartal pertama, kuartal kedua,
28:02dan bahkan di semester pertama,
28:03mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan,
28:06sementara misalnya,
28:07walaupun tantangan global yang kita tahu sangat kompleks,
28:11tetapi Alhamdulillah Indonesia mampu melewati fase-fase itu,
28:14tetapi Pak Prabowo menjelaskan sekali lagi,
28:16bahwa ini tidak berarti apa-apa pertumbuhan ini,
28:18kalau misalnya masyarakat tidak ikut menikmati daripada hasil pertumbuhan ekonomi itu,
28:23nah maka dari itu Pak Prabowo akan berusaha ya,
28:26bagaimana agar masyarakat bisa merasakan semua program-program kerja itu,
28:31dan yang paling penting adalah tentu itu tadi harus ditopang sama bendahara negara
28:35yang betul-betul selain bisa meningkatkan penerimaan,
28:38tetapi juga dia harus, istilahnya itu bukan pelit ya,
28:42dia harus memang mampu memaintain pengeluaran-pengeluaran
28:44yang tentu harus diprioritaskan kepada program-program
28:46yang sudah direncanakan oleh pemerintah yang sudah cukup baik ini,
28:50dan Alhamdulillah sudah berjalan dengan baik.
28:52Mas Mastra, bagaimana kemudian memaintain pengeluaran,
28:54kalau biaya yang harus dikeluarkan,
28:58termasuk biaya program prioritas ini sangat banyak,
29:01dan tidak boleh diotak-atik lagi?
29:03Ya sebetulnya kan begini ya,
29:04sumber-sumber penerimaan banyak yang bisa dimaksimalkan,
29:06terutama ini yang sedang dijalankan oleh Presiden Prabowo,
29:08misalnya hilirisasi sumber daya alam kita.
29:11Kita tahu sendiri bahwa kebocoran-kebocorannya
29:14sangat, apa namanya, besar di sana.
29:16Ini yang berusaha diwujudkan oleh Presiden Prabowo,
29:18makanya misalnya bagaimana soal kemandirian ekonomi ini,
29:21betul-betul bisa diwujudkan terkait soal kalau kita lihat ya,
29:24banyak sekali penegakan-penegakan yang sudah dilakukan,
29:27terutama di wilayah sumber daya alam kita,
29:29baik itu misalnya di mineral batu bara kita,
29:31kemudian di nikel,
29:32begitu pun misalnya di, apa namanya,
29:35industri sawit kita yang selama ini sebenarnya bisa dimaksimalkan
29:39menjadi potensi pendapatan negara,
29:40tetapi karena menguapnya terlalu besar,
29:43akhirnya penerimaan negara juga tidak maksimal
29:45dari sisi sumber daya alam yang dikelola selama ini.
29:48Nah, maka dari itu Pak Prabowo betul-betul ingin
29:50agar semua ya,
29:51kekayaan negara ini ya,
29:53dikelola sebaik-baiknya dan diperuntukkan
29:55untuk kemakmuran rakyat.
29:56Inilah yang sedang didorong oleh Pak Prabowo,
29:58terus kemudian agar kita bisa nanti wujudkan
30:00bagaimana ketahanan pangan bisa kita, apa namanya,
30:04hadirkan terus kemudian,
30:05karena, mohon maaf ya,
30:06kita tidak tahu situasi dunia ini yang begitu kompleks ini,
30:09kalau misalnya tiba-tiba menimpan negara kita ya,
30:12kita harus siap semua dengan,
30:13dengan apa namanya, opsi-opsi.
30:15Dan tentu kita harus prepare terhadap banyak hal,
30:18nah maka dari itu Pak Prabowo sangat konsen di situ.
30:20Jadi kami berpikir bahwa,
30:22ini adalah sesuatu yang tepat,
30:24yang dilakukan oleh Presiden Prabowo,
30:25dan tentu juga harapan besar kita juga,
30:28mudah-mudahan Pak Suha hasil,
30:30dan karena beliau orang internal,
30:32dan juga pernah bekerja sama,
30:34sama Menteri Keuangan sebelumnya,
30:36dan kemudian Pak Purbaya kemarin terakhir,
30:38artinya kan beliau bisa memotret lebih dekat.
30:40Nah mudah-mudahan kelemahan-kelemahan
30:41di priode misalnya Busri,
30:43terus kemudian di Pak Purbaya ini,
30:45beliau bisa benahi secara cepat.
30:47Oke, Mas Hamzul,
30:49ini kan yang diinginkan adalah meningkatkan penerimaan negara,
30:53tadi data yang terbaru,
30:55kemudian penerimaan ini juga tidak sebesar itu begitu.
30:58Bagaimana kemudian ini untuk menjembatani,
31:00ataupun ambisi pemerintah,
31:02terkait juga dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat besar,
31:05di awalnya 6% di akhir tahun ini,
31:07dan juga 6% di tahun depan.
31:08Kalau penerimaan,
31:09rumus dasarnya kalau penerimaan negara,
31:12atau penerimaan kita itu turun,
31:14itu adalah menghemat.
31:15Yang dilakukan terhadap dua program utama,
31:18yang tadi disebut Proferi,
31:20itu sangat berat untuk menghemat itu.
31:22Kalau program MBG sudah berusaha menghemat,
31:26hasilnya Rp20 triliun lumayan.
31:28Tapi program kooperasi desa merah putih,
31:32sampai sekarang belum ada upaya untuk upaya menghemat itu,
31:35mengadam itu.
31:36Ini dua risiko fiskal yang harus dihadapi oleh Menteri Keuangan Baru.
31:39Belum lagi kalau kita menghitung harga minyak,
31:42yang hari ini sudah di atas Rp100 lagi,
31:43dan rata-rata ICP mungkin sudah mendekati Rp90,
31:46artinya harus ada tambahan subsidi untuk subsidi energi
31:50sekitar Rp130 sampai Rp136 triliun tahun ini.
31:54Nah itu kan risiko-risiko yang sangat dibaca oleh pasar.
31:57Kalau itu tidak segera dilakukan gambaran perubahannya seperti apa,
32:01itu akan, ya podowai,
32:03kalau siapapun Menteri Keuangannya,
32:05kalau visi-misinya tetap sama kan harus menjalankan visi-misi.
32:09Intinya seperti itu.
32:10Oke Mas Amso, dengan tadi PR-nya banyak sekali gitu ya,
32:13terkait dengan sejumlah hal pekerjaan rumah,
32:16dan juga mungkin program-program yang diwariskan oleh Purbaya.
32:20Yang kemudian pertanyaannya,
32:21apakah nanti Pak Suwa, Suhasil Nazara,
32:24mampu untuk membenahi ataupun membaresi hal ini?
32:27Namun kita dibahas selesai dan tetap bersama kami di Bisnis Talk.
32:41Anda masih bersama kami di Bisnis Talk.
32:43Saudara saya ke Mas Bahtera,
32:45ini kan Purbaya sempat memotong anggaran MBG,
32:49apakah anggaran ini akan dikembalikan
32:52atas restu dari Menteri Keuangan yang baru?
32:56Ya, memang kan kalau kita lihat ya,
32:59bahwa program MBG terus dibenahi,
33:01baik terkait soal tata kelolanya,
33:04terus kemudian penerima manfaatnya,
33:05begitu pun misalnya anggaran yang selama ini
33:08yang dianggap cukup besar,
33:09dan kalau kita lihat pengumuman kemarin,
33:11Kepala BGN menyampaikan,
33:13bahwa ada ribuan sekolah yang sudah ditetapkan
33:17untuk kemudian tidak lagi menerima program MBG ini,
33:20artinya kan kita bisa melakukan penghematan yang cukup besar,
33:24dan pasti anggarannya akan tentu di alihkan ke program-program lain,
33:27yang dianggap sifatnya program strategis Pemerintah Presiden Prabowo.
33:31Dengan pembenahan ini, saya yakin dan percaya bahwa program MBG juga ke depan akan makin baik,
33:36dan tata kelolanya juga terus diperbaiki,
33:39dan yang paling penting bahwa kita bisa melakukan penghematan anggaran dari sana.
33:42Dan ini kan artinya,
33:43pemerintah juga tidak buta dengan masukan-masukan,
33:47dengan penyampaian pendapat,
33:48ataupun dianggap kritikan-kritikan selama ini,
33:50dan saya yakin dan percaya bahwa Presiden juga menerima masukan-masukan dari berbagai pihak.
33:56Ada request dari Presiden nggak untuk dikembalikan lagi anggaran yang sempat dipotong itu?
33:59Yang paling penting bagi kami adalah program ini terus berjalan,
34:03terus kemudian kedua adalah bagaimana bisa tepat sasaran,
34:06dan bisa berjalan se-efisien mungkin.
34:09Jadi saya yakin dan percaya bahwa ke depan pasti akan...
34:12Besarannya berapa? Apakah akan melanjutkan perbahaya yang sudah dipotong di bawah 200T?
34:16Nanti akan kita lihat ya,
34:18karena kan ini juga harus disepakati antara apa namanya,
34:21kepala BGN dengan di DPR,
34:23artinya nanti pasti ada penyesuaian-penyesuaian.
34:24Oke, ada penyesuaian begitu ya.
34:27Prof Ferry, terkait dengan perbahaya yang memotong anggaran MBG,
34:31menurut Anda ini ada kaitannya betul nggak dengan pergantian perbahaya ke suasil nazara?
34:37Terlepas dari masalah pergantiannya,
34:39di situ bahwa perbahaya memutuskan untuk memotong anggaran MBG,
34:44itu udah jelas,
34:45karena penghasilan pajak dan non-pajak ketidak cukup pasti,
34:49sampai akhirnya dia minta dan antara setor 120 triliun.
34:54Itu kan makanya saya bilang,
34:55ini tegangan yang sangat dahsyat,
34:57antara di satu pihak kredibilitas fiskal kita,
35:00di lain pihak,
35:01ingin memenuhi prioritas program-program yang diutamakan oleh Pak Presiden.
35:07Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah,
35:10apa ukurannya?
35:11Seandainya,
35:12seandainya memang Menteri Keuangan yang baru Pak Swahasil ini mengikuti,
35:17secara begini,
35:18oke saya setuju ya,
35:19dengan Pak Purbaya,
35:21kita potonglah segitu,
35:23dengan catatan,
35:24karena memang penghasilan pajak dan non-pajak kita tidak memadai.
35:28Nah,
35:28kalau itu memang berani diutarakan oleh Pak Swahasil,
35:32saya rasa itu kredibel ya,
35:34karena realistis,
35:35dalam arti apa?
35:35penerimaan kita tidak cukup,
35:37untuk mendanai proyek-proyek yang bersifat tadi,
35:41ya tadi ya MBG ya.
35:42Pak Ferry,
35:43tadi Mas Bahstra bilang akan ada penyesuaian terkait MBG ini.
35:46Ya, mau nggak,
35:47mau kan gini,
35:47bukan Mas Kesni juga,
35:49jangan salah tangkep ya,
35:50saya bingung ya,
35:52akan ada penyesuaian,
35:53itu kalau ada penyesuaian,
35:55itu namanya kepepetisme.
35:58Paham ya?
35:59Jadi,
36:00bukan berdasarkan pertimbangan ekonomi,
36:03tapi pertimbangannya adalah kepepet.
36:06Jadi,
36:07buat saya tidak ada yang bisa dirayakan,
36:09kalau tahu itu dikurangin karena kepepet,
36:11buat saya,
36:12itu cuma masalah waktu,
36:14kalau nggak kepepet,
36:14pasti diangkat lagi kan gitu.
36:16Jadi,
36:17yang menjadi persoalan bagi saya adalah,
36:19program ini memang benar-benar menghasilkan tenaga kerja atau tidak?
36:23Program ini benar-benar mengurangi kemiskinan atau tidak?
36:27Program ini kembali mengangkat middle income kelas kita atau enggak?
36:31Kan itu,
36:32yang menjadi persoalan,
36:33pemerintah apapun juga,
36:34siapa,
36:35pemerintah apapun juga,
36:37begitu dia naik berkuasa,
36:38yang pertama harus dipikirkan adalah,
36:40lapangan kerja bos,
36:42bukan makan bergizi gratis.
36:44Kalau soal itu,
36:45saya pikir terjawab dengan sendirinya ya,
36:47bahwa sudah pasti MBG ini menghasilkan lapangan pekerjaan.
36:50Bayangkan,
36:51misalnya kalau satu dapur ya,
36:52bisa merekrut sampai misalnya 50 orang,
36:55kali jutaan dapur,
36:57artinya kan berapa banyak lapangan pekerjaan yang bisa diciptakan.
36:59Kalau kita ngomongin dari sisi pertumbuhan ekonomi,
37:02bayangkan sumber bahan baku daripada MBG ini,
37:05diambil dari desa-desa,
37:07dari para petani kita,
37:08apakah itu tidak menghidupkan UMKM kita?
37:10Artinya,
37:11dengan program MBG ini,
37:13itu juga bisa menyumbang pertumbuhan ekonomi,
37:15baik secara lokal,
37:16begitu pun secara nasional.
37:18Jadi,
37:18kalau dianggap bahwa ini adalah program pemborosan,
37:22program sia-sia,
37:23tidak berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi,
37:26tidak berkontribusi dengan lapangan pekerjaan,
37:28kita bisa berdebat soal itu.
37:30Setiap saya belanja,
37:31dimanapun juga,
37:32pasti ada orang yang menerima, Pak.
37:35Ya kan?
37:35Yang dipertanyaan,
37:37apakah itu mengangkat produktivitas atau tidak?
37:40Kan begitu.
37:41Kalau memang mau bagi-bagi duit,
37:42semua pasti dapat.
37:44Menciptakan lapangan kerja disebutnya.
37:46Dan dia nggak usah kerja pun,
37:47dia dapat pendapatan masuk ke dalam PDB kita.
37:50Kan begitu.
37:51Walaupun dia tidak kerja.
37:53Ya, dari segi,
37:54dari segi apa?
37:55Dari segi expenditure.
37:58Ya, pertanyaannya,
37:59apakah itu tidak menimbulkan lapangan pekerjaan,
38:01kalau misalnya setiap dapur ini,
38:03punya pekerjanya hampir sekitar 50 orang,
38:06terus kemudian,
38:08semua bahan baku diambil
38:09daripada para petani-petani lokal kita,
38:12apakah dengan itu,
38:13dengan sendirinya tidak menimbulkan efek
38:15daripada pertumbuhan ekonomi?
38:17Saya pikir kita bisa berdebat soal itu.
38:19Jadi,
38:20menurut hemat kami bahwa,
38:21program MBG yang sudah cukup baik ini,
38:24kita mesti,
38:25boleh kita berbeda pandangan.
38:27Tetapi,
38:27bagi kami juga,
38:28bahwa ternyata MBG juga ini,
38:30ada efek pertumbuhan ekonominya.
38:31Ada efek penciptaan lapangan pekerjanya.
38:33Oke.
38:34Jadi,
38:35kalau misalnya,
38:36boleh kita tidak sepakat,
38:37tapi ini soal sudut pandangan.
38:39Kalau pertumbuhan ekonomi itu,
38:41didorong oleh konsumsi government,
38:43sebanyak 21,81%,
38:46dan dikuatlah kedualah 15,97%,
38:49saya bertanya,
38:50sampai kapan government kuat,
38:51menopang doping ini?
38:53Sampai kapan?
38:53Ini kan bukan swasta.
38:54Oke, oke.
38:55Ini bukan market.
38:57Ini government punya engineering.
38:59Sampai kapan dia kuat?
39:00Dengan kedodorannya fiskal kita sekarang.
39:02Nah, itulah makanya saya bilang.
39:03Purbaya pun pusing.
39:06Antara,
39:07kekuatan,
39:08fiskal credibility,
39:09dan prioritas presiden.
39:11Dengan,
39:12justifikasi,
39:13penghalalan,
39:13setiap SPPG itu menciptakan lapangan kerja.
39:16Dia nggak usah kerja pun,
39:17kalau saya bayar,
39:19masuk ke dalam PDB, bos.
39:21Kedalam expenditure.
39:22Oke.
39:23Menurut mati,
39:24pertumbuhan naik.
39:25Tapi, apakah Anda tidak kerja dapat duit,
39:27Anda bisa dikatakan bahwa ini pertumbuhan yang bagus?
39:30Kan itu question-nya.
39:32Oke, Mas Bandung memiliki jawaban?
39:34Boleh, Kangin.
39:35Saya mau coba.
39:35Silahkan.
39:36Pertama,
39:37kita lihat dulu dari sisi yang jauh lebih makro dulu ya.
39:41Pertama, dari sisi anggaran.
39:43Tadi Mas Hamso sempat menyampaikan ya,
39:45jadi ada tekanan-tekanan fiskal.
39:47Itu sebenarnya sudah diakomodasi
39:48semenjak laporan semester 1 tahun ini.
39:51Jadi, kalau kita melihat postur fiskal kita berubah
39:55dari yang sebelumnya,
39:56defisitnya 2,68 persen
39:59atau Rp689 triliun
40:01menjadi Rp2,85 persen.
40:03Kalau kita lihat dari belanjanya,
40:05itu naik dari Rp3.842 menjadi Rp3.942 triliun.
40:09Jadi, kalau dari belanja sendiri,
40:10itu naik Rp100 triliun.
40:11Meskipun ada pengenaikan juga
40:13dari sisi revenue,
40:14Rp3.153 menjadi Rp3.208 triliun.
40:17Nah, itu kemudian membuat defisitnya
40:20membesar dari Rp689 ke Rp734 triliun.
40:24Kenapa?
40:24Karena tadi sudah didesain
40:26untuk kemudian melihat pertimbangan global.
40:29Pertimbangan globalnya apa?
40:30ICP diset di level Rp97 sampai Rp100 per barrel.
40:34Which is, kalau kita averaging,
40:35itu sebenarnya sampai akhir tahun
40:36prognosisnya masih di situ.
40:38Itu yang pertama.
40:39Terus yang kedua,
40:40dalam konteks belanja
40:41dan juga kapasitas fiskal,
40:44sebenarnya Pak Suha sudah menyampaikan yang kemarin ya.
40:47Pertama,
40:48bahwa fiskal kita akan tetap dijaga 3%.
40:50Bahwa itu menjadi constraint.
40:53Optimisasi dari constraint ini bagaimana?
40:55Ya, dinamika di fiskal.
40:57Baik itu dari sisi revenue maupun dari sisi belanja.
40:59Artinya tidak menutup kemungkinan
41:00bahwa ketika ada potensi revenue yang miss,
41:03maka belanjanya akan diturunkan.
41:05Itu kan menjadi komitmen
41:06dan itu menjadi instruksi dari Presiden.
41:07Yang kedua adalah,
41:09tadi saya sepakat bahwa memang tidak bisa
41:11selalu belanja pemerintah menjadi andalan.
41:14Dan itu juga disampaikan oleh Pak Suha.
41:15bahwa yang menjadi aktor-aktor ekonomi
41:18bukan hanya pemerintah.
41:20Sektor swasta itu menjadi lebih terlibat.
41:22Makanya kemarin itu
41:23sebenarnya sifatnya cuma jumpstart.
41:25Bagaimana tadi yang disampaikan
41:26Bro Ferry,
41:28pertumbuhan belanja pemerintah
41:30itu di kuartal 1
41:3221,81 persen.
41:33Kemudian menjadi 15,97 persen.
41:36Masih tinggi.
41:36Tetapi di sisi yang lain,
41:38memang ada transmisinya ke PMTB.
41:40Meskipun itu tentunya juga
41:41masih didrive oleh pemerintah,
41:42cuma memang sudah lebih supply driven.
41:44Seperti misalnya,
41:45kalau kita lihat dari kuartal keempat,
41:46PMTB kita,
41:47Gross Fixed Capital Formation,
41:49itu tumbuhnya secara year on year,
41:50itu 6,12 persen.
41:52Kemudian lanjut di kuartal 1
41:53menjadi 5,96 persen.
41:54Lanjut lagi di kuartal keduanya,
41:56itu menjadi 6,87 persen.
41:58Seperti John Baptistei bilang,
42:00supply, creation on demand,
42:01supply, innovation, technology,
42:03itu yang kemudian
42:04men-sustain pertumbuhan ekonomi.
42:05Nah, jadi dalam konteks itu,
42:07maka APBN ini memang didesain
42:09sebagai proses jumpstart saja,
42:11tapi bukan merupakan aktor utama.
42:13Oke, baik.
42:14Kami takap penjelasannya dari Mas Fitra.
42:17Mas Amso, kemudian MBG
42:19masih menjadi program prioritas.
42:21Sebetulnya berapa sih
42:22level anggaran MBG yang pas
42:24dan juga sehat
42:25untuk menjaga APBN.
42:26Namun kita bahas selesai juga.
42:27Tetaplah bersama kami di Bisnis Talk.
42:40Mas Amso,
42:41ini Mas Amso,
42:42bagaimana Menteri Keuangan yang baru
42:43menetapkan level yang pas begitu
42:46terkait dengan anggaran MBG
42:48sebagai program prioritas
42:50yang sehat
42:51bagi APBN kita?
42:52Betul.
42:53Pertama, program MBG
42:54satu sisi
42:55di satu
42:56gelombang masyarakat
42:58pasti sangat dibutuhkan.
42:59Nah, fokuslah di situ.
43:00Jadi, jangan
43:01belanja
43:02yang APBN
43:04yang pendapatannya sedikit
43:05yang mepet duitnya itu
43:07dipakai untuk semua.
43:08Jadi, MBG memang perlu
43:10tapi untuk daerah-daerah rural,
43:11daerah-daerah yang memang butuh
43:12atau memang
43:13perlu improve di situ
43:15untuk kesehatan,
43:16kemiskinannya seperti apa.
43:17Hitunglah pakai
43:18misalkan jumlah keluarga miskin
43:19yang 22 juta.
43:20Jangan sampai
43:21orang miskinnya disebut
43:2222 juta, tapi
43:23anggaran MBG-nya sampai
43:25penerimanya sampai
43:2670 sekian juta.
43:27Nah, itu kan
43:28yang tidak
43:29apa, tidak masuk akal di situ.
43:31Angka-angka itu
43:32bisa disesuaikan.
43:33MBG-nya tetap jalan, silahkan.
43:34Tapi, sesuaikanlah dengan
43:35kebutuhan masyarakat.
43:37Bukan
43:37dibagi rata
43:38seperti yang terjadi sekarang.
43:40Yang kedua adalah
43:40yang tidak kalah gede adalah
43:41KDMP.
43:42KDMP itu membuat
43:43anggaran desa juga jadi
43:44sangat
43:45dipatang, dipotong
43:46untuk membayar
43:48langsuran KDMP ini.
43:49Nah, itu juga
43:50satu yang harus
43:51jadi perhatian.
43:52Program-program.
43:53Dan, lagi
43:54tidak kalah menarik
43:55adalah belanja
43:57persenjataan.
43:58Beli senjata
43:58jangan kayak beli mainan.
44:00Sesuaikan kebutuhan.
44:01Beli pesawat,
44:02misalkan,
44:03yang sekarang kita
44:03butuh sinuk
44:04untuk kebakaran hutan,
44:06misalkan.
44:06Itu yang dibeli,
44:07kita tidak ada
44:08satupun sinuk.
44:09Oke, pertanyaannya
44:10Anda yakin nggak
44:11Menteri Keuangan
44:12yang baru berani
44:12untuk melakukan hal itu?
44:14Berharap.
44:14Motong MBG dan juga.
44:16Berharap, tapi belum tentu yakin.
44:18Oke.
44:19Berharap.
44:20Oke, levelnya berapa nih?
44:21Kalau MBG saja,
44:22kalau Pak Purbaya kan bilang
44:24targetnya di bawah 200 triliun.
44:26Kalau Menteri Keuangan yang baru,
44:29Pak Suwa,
44:29menurut Anda harus
44:30menetapkan standar berapa?
44:32Semestinya,
44:33kalau kita hitungannya
44:35kayak pakai dana bansos,
44:36misalkan sekian
44:37ratus ribu per orang
44:39per keluarga itu,
44:41mungkin nggak nyampe
44:41puluhan triliun,
44:42nggak nyampe ratusan triliun.
44:43Paling 30-40 triliun,
44:45kalau mau fokus ya,
44:47fokus di daerah-daerah
44:48yang memang membutuhkan.
44:49Populuhan terluar
44:50dan sebagainya,
44:52kelompok apa,
44:53daerah-daerah miskin
44:54yang memang butuh.
44:54Itu kalau mau fokus begitu,
44:56nggak akan sebesar
44:57ratusan triliun.
44:58Pak Fitra,
44:59Presiden mau nggak nih
44:59memotong anggaran MBG?
45:01Gini,
45:02jadi kan Presiden memberikan
45:03kreativitas ya
45:04kepada para menteri-menterinya.
45:05Jadi nggak perlu mikir semua.
45:07Dalam konteks ini
45:08selalu berdiskusi.
45:10Nah,
45:10sebenarnya begini,
45:11ada target juga yang perlu
45:12yang sering sekali kita luput ya.
45:14Dalam konteks
45:15growth incidence curve.
45:16Nah,
45:17bottom 40%.
45:18Kecenderungan pertumbuhan
45:19pengeluaran
45:20untuk yang bottom 40%
45:21sebenarnya sudah relatif,
45:22sudah relatif positif.
45:23Yang masalah kan
45:24yang middle class.
45:25Nah, middle class ini
45:26keluaran antara
45:272,2 juta
45:28sampai 9,9 juta.
45:29Keluarga di Indonesia
45:30itu jumlahnya,
45:32kalau kita rata-ratakan
45:324,71.
45:33arti satu keluarga
45:35punya 2 atau 3 anak.
45:36Jadi begini,
45:37berhitungannya.
45:37Ini efek tidak langsung ya.
45:39Jadi kalau misalnya
45:39satu keluarga
45:40punya 1 anak
45:41atau 2 anak,
45:42berarti 2 anak ini
45:43perharinya
45:44itu 30 ribu ongkosnya.
45:4615 ribu,
45:4615 ribu,
45:47dikali 20
45:47itu jadi 600 ribu.
45:50Nah,
45:50dalam hal ini
45:51itu berarti
45:52bisa meng-cover
45:54yang DC 5
45:54dan DC 6 sekaligus.
45:56Yang kelompoknya itu
45:57kalau kita bicara
45:57ya,
45:58aproksimasinya
45:59dari sisi pengeluaran
45:592,2 juta
46:00sampai 5 juta rupiah.
46:02Nah,
46:02dari sisi ini
46:03sebenarnya
46:04sudah ada
46:04potensi
46:06pengurangan beban
46:07pengeluaran dari middle class.
46:08Karena middle class itu
46:10kelompok pengeluaran terbesarnya
46:1141,8 persen
46:12adalah makanan.
46:13Nah,
46:13itu adalah satu hal saja.
46:14Meskipun tentunya
46:15kita juga harus melihat
46:16dampak ekonominya
46:17dan seterusnya.
46:17Dan pada akhirnya
46:18kita harus kembali lagi
46:18ke Undang-Undang 17 tahun 2003.
46:21Money Follow Function.
46:22Programnya apa?
46:23Fungsinya apa?
46:24Dan uangnya akan follow.
46:26Oke.
46:28Mas,
46:28Huda berarti artinya
46:30ini singkatnya
46:30perlu tidak ada penyesuaian
46:32terkait dengan MBG ini.
46:33Kalau kita
46:34jawaban dari Mas Witter
46:35kayaknya tampaknya
46:36tidak perlu begitu ada penyesuaian.
46:37Singkat saja.
46:38Ya,
46:38harus disesuaikan.
46:39Harus bahkan.
46:40Karena gini,
46:41saya sedikit
46:41berapa?
46:42Sebutan Kak.
46:43Tadi sedikit gatel
46:43sebenarnya terkait dengan
46:44pertumbuhan ekonomi
46:46yang didorok sama MBG.
46:47Which is itu
46:48nggak make sense sebenarnya.
46:49Kalau kita lihat sebenarnya
46:50ini shifting Mas.
46:52Mas Ian,
46:52ini perlu saya luruskan sebenarnya.
46:54MBG itu shifting.
46:55Dari mana uangnya?
46:56Dari dana pendidikan.
46:57Sama aja itu.
46:58Kalau kita belajar ekonomi
46:59ketika ada satu yang dikurangin
47:00itu pasti akan berkurang.
47:02Makanya tadi saya
47:04kita sudah menghitung
47:050,06 persen saja.
47:07Pertumbuhan ekonomi itu
47:08cuma 0,06 persen saja.
47:09Makanya tadi
47:10kalau kita lihat
47:11untuk harus disesuaikan
47:13saya bilang harus.
47:14Itu ya
47:14bisa kita bilang
47:15under 100 triliun
47:17bahkan itu
47:18ditiadakan.
47:19Diganti dengan
47:20program yang lebih baik.
47:22Oke.
47:22Mas Banung,
47:24boleh dijawab ini
47:24perlu disesuaikan
47:25boleh dijawab singkat?
47:26Saya pikir ya
47:27dengan memperbaikan
47:28tata kelola yang diintruksikan
47:29oleh Presiden terhadap BGN
47:31dengan sendirinya kan
47:32pasti ada
47:33apa namanya
47:34pengurangan-pengurangan.
47:35Misalnya contoh kecil
47:36saya sampaikan tadi
47:37bahwa
47:37kepala BGN
47:39sudah mengumumkan
47:39bahwa ada
47:40sekitar 1.600 sekolah
47:42yang
47:42tidak menerima lagi
47:44apa namanya
47:45program MBG ini.
47:46Artinya kan dengan
47:46sendirinya terkurangi
47:47dan kalau kita lihat kemarin
47:49bahwa program-program
47:50yang tidak bersentuhan
47:51langsung ya
47:52dengan
47:52apa namanya
47:54program MBG ini
47:55misalnya penyediaan
47:57sepeda motor lah
47:58ya kan
47:58ada
47:59kaos kaki lah
48:00dan saya pikir
48:01dengan sendirinya
48:01akan terkurangi
48:02dengan itu semua
48:03dan saya yakin
48:04dan percaya
48:04bahwa tata kelola-kelolanya
48:06juga makin baik ke depan
48:07dan insya Allah
48:08semua yang direncanakan
48:09oleh
48:10apa namanya
48:10kepala BGN yang baru
48:12akan berjalan
48:13semestinya.
48:14Masih yang 30 detik
48:14saya ingin tambahkan sedikit
48:16jadi sweet spot yang disampaikan oleh S&P
48:18itu antara 100 sampai 150 triliun
48:20oke singkat
48:20jadi kalau kita bicara laporan S&P
48:22dia melihat bahwa
48:23ada program prioritas pemerintah
48:24salah satunya
48:25makan bergizi gratis ini
48:27yang memiliki potensi
48:28untuk dikurangi
48:30antara 100 sampai 150 triliun
48:32oke terima kasih
48:33oke kita tunggu
48:35kinerja dari
48:35Menteri Keuangan yang baru
48:36dan terima kasih
48:37bapak-bapak atas kadirannya
48:38bersama kami
48:39di studio Kompas TV
48:40demikian bisnis talk
48:41saudara saya yang ramah
48:42menurut diri
48:42terima kasih dan sampai jumpa
48:43selamat menikmati
Komentar