00:00Selamat malam, pencopotan Purubaya Yudi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan memantik perbincangan publik.
00:07Bukan hanya prosesnya yang mendadak, tetapi alasan pencopotannya.
00:11Apakah kinerja atau ada faktor lain selain kepentingan politik?
00:17Bahkan ada spekulasi pergantian Menteri akan terus berlanjut.
00:21Purubaya dicopot, siapa menyusul?
00:24Inilah satu menjaduh forum malam ini bersama saya, Yogi Nugraha.
00:27Kita sudah hadir di Studio Kompas TV Malam ini untuk membahas tema kita malam ini adalah
00:32Ahmad Khoyrul Umam, pengurus DPP Partai Demokrat.
00:36Selamat malam, Mas Umam.
00:37Selamat malam, Mas Yogi. Selamat malam.
00:39Waalaikumsalam, Partai Demokrat ya.
00:41Good.
00:42Ada juga Mas Sugiyat Santoso, jurubicara Partai Gerindra, yang juga sebagai wakil ketua Komisi 13 DPR RI.
00:50Selamat malam, Mas Yogi.
00:51Selamat malam.
00:52Waalaikumsalam, warahmatullahi wabarakatuh.
00:54Kami juga mengundang Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes.
01:00Selamat malam, Mas Arya.
01:01Selamat malam, Mas Yogi.
01:03Oke.
01:04Saya langsung aja deh ke Partai Berkuasa.
01:08Gerindra kan Partai Berkuasa.
01:09Siap.
01:09Paling tahu kalau ada pencopotan kabinet, kira-kira dari sekian partai ya pasti Gerindra.
01:14Seharusnya kan begitu.
01:15Ya, Mas Yogiat melihat sebelumnya Partai Gerindra pernah ada pembahasan sebagai partai yang mendampingi langsung Presiden.
01:26Terkait dengan Pergantian Menteri Keuangan, adakah hal-hal yang memang, oh kami nggak kaget.
01:32Karena memang sering dibahas nih, banyak hal-hal yang memang tidak sesuai dengan harapan Pak Prabowo misalnya.
01:37Ya, kalau prinsipnya kan resapel itu instrumen yang dimiliki oleh seorang Presiden untuk memastikan kabinetnya itu bisa berjalan dengan baik
01:46sesuai dengan target-target atau tujuan-tujuan dari pemerintahan Presiden itu sendiri.
01:51Saya pikir memang ya tidak ada sebuah kewajiban bagi kami, katakanlah sebagai partai pendukung utama Bapak Prabowo Subianto untuk ikut
02:00cawe-cawe dalam konteks resapel.
02:02Oh, kenapa?
02:03Ya, karena itu menjadi kewenangan mutlak dari seorang Presiden.
02:06Tapi kalau memberikan pertimbangan, memberikan masukan sebagai partai yang memang ada di belakang Presiden, hal yang wajar kan harusnya?
02:13Ya, pasti kalau bukan hanya dalam konteks resapel, setiap saat misalnya pimpinan kami di tingkat pusat pasti berkomunikasi dengan Bapak
02:21Presiden,
02:21menyampaikan perkembangan terkait dengan apa yang terjadi di lapangan dalam konteks kebijakan-kebijakan dan program-program yang ada.
02:28Apakah kemudian itu ditindaklanjuti dengan melakukan evaluasi sehingga hasilnya resapel,
02:33itu kita kembalikan kepada Presiden yang memiliki katakanlah otoritas penuh untuk itu.
02:39Tapi khusus-khusus yang terkait perubahan sebagai menteri keuangan selama satu tahun ini,
02:43ada catatan khusus nggak dari, pernah nggak menyampaikan?
02:46Itu kan rapat yang biasa kalau menyampaikan.
02:48Kalau secara khusus misalnya, Partai Gerindra dalam konteks resapel,
02:52kita tidak akan pernah terlibat secara khusus terkait dengan itu.
02:56Saya katakan sekali lagi tegaskan bahwa konteks kita adalah mengawal dan mendukung bagaimana kebijakan dan program dari Bapak Prabowo sebagai
03:04Presiden itu bisa sukses.
03:06Apakah nanti programnya itu kendalanya di kementerian atau kendalanya di tingkat birokrasi di bawah atau kendalanya di tingkat yang lain,
03:13itu kita sampaikan secara data dan objektif.
03:16Jadi tidak pernah sekalipun misalnya Partai Gerindra berusaha masuk dalam konteks otoritas Presiden dalam konteks resapel tadi.
03:24Oke, kalau Mas Sugiat tadi mengatakan bahwa ya kami tahu tapi kembalikanlah ke Presiden, kami bisa maklum.
03:31Tapi kalau Mas Arya sebagai pengamat politik, pasti melihat ada pola sudah yang ke-6 kalinya ada resapel.
03:38Saya tidak mencatat khusus soal mendadak karena tahun lalu saat perubahan menggantikan Sri Mulyani pun juga nuansanya mendadak gitu.
03:45Anda melihat pergantian ini terutama, kita melihat gini, yang mengganti adalah wakilnya.
03:51Artinya asumsi kita selama ini adalah ya wakilnya ini kan juga satu paket dengan menterinya soal kebijakan.
03:57Jadi kalau mau ditanya apakah kinerja atau politik gitu, saya sebagai lembaga yang juga mau monitoring termasuk juga sering melakukan
04:04survei, punya pandangan apa soal ini?
04:07Baik, terima kasih Mas Yogi.
04:10Terhadap resapel Pak Purbaya ini memang sekarang itu banyak yang saya lihat ya, banyak spekulasi yang liar terutama di media
04:19sosial ya.
04:21Ada yang berasumsi karena faktor konflik dengan Danantara, karena Pak Purbaya ingin menagih dividen ya.
04:31Ada karena dianggap tidak loyal terhadap presiden, ada juga karena faktor-faktor yang lain.
04:39Banyak spekulasi yang liar di luar, yang itu pada satu sisi tentu memberikan image yang juga kurang positif terhadap proses
04:49resapel.
04:50Dan kalau kita lihat memang dalam beberapa resapel kali ini, beberapa resapel yang telah dilakukan, ada kecenderungan-kecenderungan yang terjadi
05:01ya.
05:02Satu, beberapa resapel itu sifatnya parsial.
05:07Jadi hanya satu atau dua menteri yang dicopot, kemudian juga tidak ada pola yang jelas ya, kapan akan dilakukan resapel.
05:17Terutama soal alasannya persekotan, menurut Mas Arya lu gak publik tahu.
05:21Alasannya kenapa dilakukan resapel, sehingga itu membuat para menteri di dalam juga merasa deg-degan juga.
05:29Nih jangan-jangan nanti lagi akan ada resapel lagi gitu.
05:31Sehingga setiap menteri, terutama yang berasal dari non-partai ya.
05:37Kalau yang dari partai politik, apalagi ketua umum atau sekretaris jenderal, mungkin itu lebih safe, lebih aman ya.
05:43Kemungkinan untuk di resapel mungkin kecil sekali kalau saya lihat untuk level ketua umum.
05:48Nah tapi kalau kita lihat ya, beberapa hal kecenderungan resapel itu dari pemerintah-pemerintah sebelumnya dan juga pemerintah sekarang.
05:57Jadi mengatakan beberapa posisi yang ketua parpol itu berarti maksudnya AHI aman ya?
06:02Ya saya kira ketua-ketua parpol, AHI, Cak Imin, Kekhasaan.
06:06Oh itulah kenapa purbaya cepat sekali diganti karena gak ada background partai politiknya?
06:10Ya gak ada pendukungnya lah ya.
06:14Nah umumnya resapel terjadi karena satu kinerja tentu pasti ya.
06:20Presiden menganggap kinerja dianggap kurang baik.
06:23Tapi ada juga beberapa resapel yang terjadi karena menteri dianggap berseberangan dengan kebijakan presiden.
06:30Presiden maunya X, menteri melakukan Y.
06:33Atau dianggap tidak loyal terhadap presiden.
06:37Presiden ingin A, menterinya ingin B.
06:42Nah dalam konteks sistem...
06:43Kalau dalam selama ini amatan Anda, Pak Purbaya ini kan banyak muncul.
06:46Termasuk yang loyal atau gak?
06:48Agak susah itu menjawabnya.
06:50Agak susah.
06:50Harusnya Anda lebih gampang menjawab ketimbang bapak-bapak dua ini yang dari partai politik.
06:55Menteri memang harus loyal pada presiden ya.
06:58Karena bagaimanapun tentu presiden punya otoritas dan kuasa untuk melakukan itu.
07:03Tapi menteri juga saya kira harus berkata jujur pada presiden.
07:08Saya lihat sekarang terjadi akses yang kurang setara kepada presiden.
07:15Terhadap menteri-menterinya?
07:17Menteri terhadap presiden.
07:19Aksesnya gak setara.
07:20Itulah yang menjawab kenapa kemudian dari sisi beberapa partai kaget kenapa ada reshava.
07:26Karena gak semua orang bisa akses presiden ya.
07:30Dan informasi yang boleh keluar, yang boleh diterima oleh presiden itu terbatas sekali.
07:38Tadi saya udah bertanya ke partai berkuasa, saya menyebutnya begitu, partai Gerindra.
07:43Saya tanya ke partai koalisi lainnya yang kira-kira juga gak jauh-jauh lah jaraknya dengan Gerindra.
07:48Akses setara presiden.
07:50Mas Umam, mewakili partai demokrat.
07:54Anda termasuk yang kaget demokrat ya?
07:57Atau mungkin bisa menjawab bahwa benar atau gak sih sebenarnya yang dirasakan oleh partai demokrat aja.
08:04Karena ada menterinya.
08:06Itu tidak semudah itu bisa berkomunikasi dengan presiden.
08:10Dalam konteks ini saya makmum kepada imam saya.
08:13Wah inilah.
08:15Kenapa?
08:16Sekali lagi, ini sudah rumus dasar.
08:18Dalam konteks koalisi pemerintahan ya otoritas tertinggi.
08:22Dalam konteks kekuasaan pemerintahan ya hak pregurikatif presiden.
08:26Tetapi memang di dalam mengeksersis kekuasaan presiden tentu bukan hanya faktor teknokrasi.
08:35Tetapi tentu juga ada pertimbangan-pertimbangan lain.
08:38Pertimbangan politik.
08:39Tadi salah satunya di highlight oleh Mas Arya.
08:44Namun barangkali juga itu adalah bagian dari pertimbangan yang saya pikir cukup komprehensif.
08:52Karena setiap keputusan diambil tentu tidak diambil dengan kalkulasi yang parsial.
08:58Kalau misal kemudian aspek politik misalnya.
09:01Barangkali bagaimana pola komunikasi ya.
09:04Misalnya barangkali disampaikan sejumlah kalangan.
09:08Sebenarnya Pak Purbaya kan relatif cukup ini ya terbuka ya.
09:13Orangnya memang belak-belakan gitu.
09:15Tetapi mungkin dalam konteks itu juga berpotensi misalnya menciptakan kebingungan.
09:23Atau barangkali menciptakan hal-hal yang diharapkan misalnya oleh presiden.
09:28Spontanitasnya seringkali mengejutkan pasar.
09:30Aspek itu.
09:31Termasuk juga misalnya terkait dengan pola relasi dengan pemerintah daerah.
09:34Daerah dan lain sebagainya.
09:35Jadi dalam konteks ini tetap valid, justified.
09:40Kalau misalnya kemudian presiden mengambil keputusan.
09:43Ada pun kemudian persoalan teknokrasi yang lain.
09:46Saya pikir kementerian keuangan adalah bagian dari nomenklatur besar di dalam pemerintahan.
09:52Jadi kalau pun kemudian misalnya Pak Purbaya kemudian sudah digeser.
09:56Saya pikir proses rekonsolidasinya juga cukup cepat.
09:59Dan bisa proses penyesuaian itu dilakukan.
10:01Kenapa juga kami mengundang partai politik yang berkoalisi dengan Gerinda dan Pak Prabu itu adalah Partai Demokrat.
10:10Karena kami ingin membandingkan.
10:11Saya ingin dapat nuansanya saja.
10:13Partai Demokrat pernah berkuasa 10 tahun lewat Pak SBE.
10:16Yang pasti itu dibaca betul dan dicermati betul oleh Mas Ahai sekarang.
10:22Melihat karakter pemerintahan jaman Pak SBE kan begitu tertata rapi.
10:26Nggak ada tuh yang mendadak.
10:27Semua tuh kelihatan.
10:28Hari ini melihat perubahan pola.
10:31Saya tidak bicara benar atau salah.
10:32Tetapi ada hal yang memang agak berbeda gitu.
10:35Itu pernah nggak dibahas?
10:38Melihat, waduh ini kita harus bagaimana ini posisinya.
10:41Praktis tidak pernah membahas secara detail.
10:44Artinya bahwa setiap leadership itu memiliki karakter yang beragam.
10:50Dan kalaupun Pak SBE seperti era Pak SBE, Pak Jokowi seperti era Pak Jokowi,
10:56Pak Prabowo juga pasti punya style yang memang menjadi bagian dari karakter kepemimpinan beliau.
11:04Bahwa kemudian keputusan dilakukan secara decisif, kemudian secara tegas dilakukan.
11:09Yaitu bagian dari sebuah model pendekatan dari beliau.
11:13Nah ada pun kemudian, kalaupun dianggap berbeda,
11:17ya saya pikir itu bagian dari dinamika.
11:20Dan sekali lagi tantangannya berbeda.
11:22Secara domestik, secara global, international.
11:26Di level kawasan juga berbeda.
11:28Dan mekanisme manajemen pemerintahannya juga barangkali juga berbeda.
11:33Maka di level ini, ya kita hormat, respek, dan senti kodawuh kepada putusan dari Pak Presiden.
11:42Oke, kita akan membahas lagi seperti apa evaluasi pemerintahan Prabowo Gibran ini menjelang dua tahun.
11:50Bagaimana perspektif dari Partai Politik dan Pengamat?
11:52Satu meja kembali ke Pusat Jeda yang satu ini.
Komentar