Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY yang menegaskan Demokrat siap diandalkan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan.

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes melihat pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai tanda bahwa peran partai-partai koalisi dalam pemerintahan belum sepenuhnya seimbang.

Menurut Arya, pernyataan agar Presiden tidak ragu mengandalkan Demokrat justru dapat mengonfirmasi adanya persoalan pembagian peran di dalam koalisi.

Arya mempertanyakan mengapa setelah dua tahun pemerintahan berjalan, AHY masih perlu menegaskan bahwa Demokrat siap diandalkan Presiden.

Menurutnya, salah satu kemungkinan adalah adanya keinginan partai untuk memperoleh peran yang lebih besar.

Pengurus DPP Partai Demokrat Ahmad Khoirul Umam mengatakan pernyataan tersebut muncul setelah berkembangnya berbagai spekulasi mengenai pidato AHY.

Umam menjelaskan, pidato AHY disampaikan pada 5 September dan kemudian disiarkan sejumlah televisi pada 7 September.

Menurutnya, dalam rentang tersebut muncul pemberitaan dan spekulasi yang berkembang ke berbagai arah.

Umam menegaskan pernyataan bahwa Demokrat siap diandalkan bukan untuk menyampaikan sinyal perpecahan, melainkan merespons spekulasi tersebut.

Umam juga menegaskan posisi Demokrat dalam koalisi pemerintahan Prabowo.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/rrPIGe9iTKo



#AHY #prabowo #menteri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/691125/ahy-bilang-demokrat-siap-diandalkan-pakar-ada-peran-yang-timpang-satu-meja
Transkrip
00:00Dalam kehidupan militer, kita mengenal satu nilai, bahwa dalam sebuah misi kita harus tahu persis siapa yang berdiri teguh di
00:09samping kita,
00:11terutama ketika terjadi sesuatu, keadaan apapun, dalam suka maupun duka, kita harus tahu bahwa orang itu tetap dapat diandalkan.
00:22Karena itu, izinkan Bapak Presiden, saya menyampaikan dengan tulus bahwa Bapak Presiden dapat mengandalkan Partai Demokrat.
00:37Satu menjadang forum kembali lagi.
00:40Pak Giat, yang tadi kita bahas di sebelumnya sudah dijawab, apresiasi dulu dong, bahwa Pak Haya ternyata mendengar, sudah diklarifikasi.
00:48Itu satu hal, sudah cukup. Tapi Anda melihat Pak Haya menyodorkan langsung di hadapan Presiden Ketua Umum Partai Gerindra, kami
00:58siap diandalkan.
00:59Itu kan normatif ya, diandalkan normatif, lepas ada momentum menjelaskan atau tidak.
01:05Tapi kan diandalkan itu dalam situasi itu tadi, ada angka survei yang sedang melorot, disadari bersama, masih banyak target belum
01:12tercapai.
01:13Anda berharap apa pada Partai Demokrat?
01:14Ya, saya pikir sebelum saya menjawab itu, saya ingin mengklarifikasi apa yang disampaikan oleh Mas Arya di sesi sebelumnya.
01:21Bahwa ada seolah-olah framing atau opini kebijakan atau program dari pemerintahan Pak Prabu ini dibuat tergesa-gesa tanpa perencanaan.
01:30Kita harus memahami dulu bahwa seorang Prabu Subianto itu berbeda misalnya dibandingkan dengan Pak Jokowi dengan Pak SBY misalnya.
01:39Pak Prabu itu sudah punya cita-cita terkait dengan apa yang akan dilakukan ketika dia menjadi Presiden itu sudah sangat
01:47lama dan itu sudah dipergumulannya, teknisnya sudah sangat lama.
01:51Misalnya di 2004 beliau ikut Konvensi Partai Golkar.
01:54Apa yang menjadi kebijakan beliau sekarang ini itu juga dibicarakan ketika beliau ikut Konvensi Partai Golkar di 2004.
02:00Begitu juga misalnya pada pemilu 2009 bersama Buk Mega.
02:04Apa yang disampaikan oleh Pak Prabu ketika menjadi calon wakil Presidennya Buk Mega itu sama persis dengan apa yang menjadi
02:10kebijakan beliau saat ini.
02:12Pun plus misalnya di 2014 dan 2019.
02:15Jadi dia sudah punya cita-cita program dan lain sebagainya itu sudah sangat lama.
02:20Bahkan ketika beliau menjadi Presiden itu yang ingin beliau eksekusi.
02:24Memang ada problem beliau ketika misalnya pada saat beliau pidato di DPR-MPR ada problem birokrasi yang itu mungkin tidak
02:32secepat yang beliau harapkan.
02:34Atau budaya merumitkan diri birokrasi itu masih banyak atau budaya korupsinya masih sangat banyak.
02:40Memang kata kelat tata kelola MBG itu problemnya di problem birokrasi teknis.
02:46Itu yang perlu kita kawal, kita awasi bagaimana ini tidak terjadi di kemudian hari seperti yang kemarin.
02:51Begitu juga misalnya Koperasi Desa Merah Putih.
02:53Tapi so far beberapa kebijakan besarnya hilirisasi, suasem pada pangan, ketahanan energi dan lain sebagainya sedang dalam proses.
03:00Saya pikir itu yang paling penting.
03:02Yang kedua, saya pikir begini.
03:04Ya Pak Prabu itu bukan hanya dalam konteks demokrat kalau kait dengan Pak Ahi tadi.
03:10Pak Prabu itu kan ingin mengkonsolidasikan seluruh putra-putri terbaik bangsa.
03:15Baik di koalisi maupun ada yang di luar.
03:18Kalau bisa bersatu bagaimana kita sekuat-kuatnya, sekeras-kerasnya berjuang untuk katakanlah mewujudkan cita-cita bangsa, kesejahteraan rakyat dan sebagainya.
03:27Ya apa yang menjadi tawaran Pak Ahi tadi saya yakin dan percaya tidak akan bertepuk sebelah tangan.
03:34Jangankan dengan demokrat, dengan partai koalisi.
03:36Dengan PDIP sekalipun Pak Prabu selalu mengajak.
03:39Dengan katakanlah beberapa kali misalnya Pak Prabu mengundang para rektor, para dekan, para wartawan untuk ayo kita bicarakan terkait masa
03:48depan bangsa.
03:49Bagaimana solusinya kalau ada masalah dan sebagainya.
03:52Saya pikir itu.
03:52Mas Arya, kalau penjelasan Mas Giat katanya karena sudah mengamati lama nih sejak tahun 2004.
03:57Jadi nggak model nunggu-nunggu lagi sudah langsung plug and play.
04:02Pokoknya harus jalan.
04:03Kira-kira intinya sudah dengan kajian-kajian yang penuh.
04:07Ya kebijakan itu kan disebut kebijakan publik ya.
04:12Ada kata publiknya.
04:14Artinya karena dia kebijakan publik tentu harus publik juga punya ruang untuk memberikan pandangan terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil.
04:25Nah tapi saya kembali lagi soal tadi ya.
04:28Demokrat supaya apa.
04:31Jangan ragu presiden supaya demokrat dapat diandalkan.
04:33Ini kan menurut saya mengonfirmasi bahwa memang peran-peran partai koalisi itu timpang atau terbatas.
04:42Bayangkan dua tahun pemerintahan sudah terbentuk, koalisi sudah terbentuk.
04:47Tiba-tiba Pak Ahaye berpidato, jangan ragu Bapak Presiden untuk mengandalkan partai demokrat.
04:54Oh menegaskan ulang.
04:56Saya kira itu artinya apa? Artinya memang selama ini.
04:59Anda melihat bahwa statement bahwa kami bisa diandalkan itu menjerminkan bahwa sebenarnya ada keraguan.
05:05Oh jangan-jangan partai demokrat akan didepak gitu kira-kira.
05:08Ada kekhawatiran atau gimana?
05:09Enggak mungkin ya kalau pandangan saya bisa jadi selama ini pembagian peran kepada partai-partai.
05:16Oke, lebih kepada minta dikasih peran lebih dong gitu.
05:20Enggak seimbang dibagi perannya.
05:22Begini, begini.
05:23Terkait dengan itu.
05:24Sebenarnya, sebentar lagi saya sekat dikit.
05:27Nah, jadi gini. Saya ingat dulu ya.
05:32Ketika Pak SBY diperiode pertama, itu hantaman koalisinya mungkin belum seberapa dibandingkan pidato Pak Haye tadi.
05:45Kita bisa bayangkan dulu Pak SBY diperiode pertama hampir diimpeach oleh DPR, hampir ya, karena kasus senturi.
05:57Jadi justru partai-partai koalisi lah yang menjadi promotor untuk mengusulkan hak angket senturi.
06:05Jadi ada Partai Golkar, ada PKS, ada PAN, oh saya tidak salah ya.
06:16Nah, jadi pidato ini saya kira belum seberapa dibandingkan apa yang terjadi di masa Pak SBY.
06:23Perihode pertama atau kedua? Pertama saya ingat saya.
06:25Sempat disinggung juga kan di pidato Presiden Prabowo.
06:28Nah, artinya kritik internal itu sesuatu yang mungkin biasa dilakukan, tujuannya banyak ya.
06:37Mas Imam tentu bisa menjelaskan apa tujuannya.
06:40Tapi tentu partai-partai sebagai organisasi yang rasional tentu akan menghitung apakah, tadi yang saya bilang, apakah mana yang lebih
06:48besar?
06:48Cost apa benefit?
06:50Kalau costnya lebih besar, tentu partai-partai akan, kalau misalnya kalau costnya lebih besar, partai-partai tentu akan menghitung merekalkulasi
07:00apakah berada di kabinet akan menguntungkan atau tidak menguntungkan.
07:04Oke.
07:04Gitu kira-kira.
07:05Mas Imam, tadi mau menjelaskan soal andalkan, kan emang terus disebut tuh, diandalkan benar juga sih menurut saya.
07:11Kalau itu bukan mengkonfirmasi, jadi asbabulwurudnya, ini betul-betul asbabulwurud, dari tadi sifatnya tabayun, klarifikasi terus.
07:19Pidato dilakukan tanggal 5 September, kemudian disiarkan di berbagai televisi tanggal 7.
07:27Rentang dari tanggal 5 ke tanggal 7, itu sudah ada pemberitaan online.
07:33Disitulah kemudian, sejumlah spekulasi kemana-mana berkembang.
07:35Kita juga kaget, loh kenapa ditariknya sampai sejauh itu? Artinya apa? Ini sudah tidak pada tempatnya.
07:43Itu kan hal yang biasa lah, dipersepsi oleh pemberitaan.
07:45Kemudian kan muncul itu, dari tanggal 5 kemudian tanggal 7, ada rentang sampai pada momentum pidato yang tadi disampaikan di
07:53hadapan Bapak Presiden, itu tanggal 9.
07:55Tepat di hari ulang tahun Partai Demokrat ke-25.
07:58Sehingga kemudian, statement tadi disampaikan oleh Mas Getumahai, sifatnya adalah merespon spekulasi-spekulasi yang dianggap tidak berdasar itu,
08:08supaya kemudian jangan memecah belah.
08:11Ini kita niatnya sudah clear, kita dalam konteks ini ya, terkait dengan konteks koalisi, kemudian bagaimana soliditas di dalam pemerintahan,
08:20kita kekeh, kita tunduk, karena amanahnya adalah menyukseskan pemerintahan Pak Prabowo.
08:26Nah itu disampaikan dalam rangka merespon itu, supaya kemudian spekulasinya tidak kemana-mana.
08:32Jadi secara momentum, statement tadi kita siap untuk diandalkan, bukan mengkonfirmasi hal-hal yang seperti tadi,
08:41tetapi betul-betul sebagai upaya easing atau resolving di dalam konteks perdebatan yang kalau misalnya tidak dimitigasi, itu bisa liar.
08:49Nah oleh karena itu, ini disampaikan dengan saya.
08:53Saya mau konfirmasi lagi, tadi sudah disampaikan, oh beginilah posisinya, kalimat dapat diandalkan itu bukan, tapi untuk merespon.
09:02Tapi saya mau nanya ke Partai Demokrat nih, dengan situasi, dengan gaya kepemimpinan Pak Prabowo, dengan kompleksitas persoalan,
09:08tadi disebut salah satu yang mendadak dan sebagainya, Partai Demokrat masih nyaman gak sih?
09:12Nyaman mas, jangan karena depan mas giat loh, ini kita.
09:18Dan memang di DPR misalnya, saya karena kebetulan di DPR, di DPR memang Demokrat dan seluruh Partai Koalisia masih sangat
09:26solid,
09:26masih sangat bersatu untuk mendukung segala kebijakan dari pemerintahan Pak Prabowo.
09:31Saya pikir apa yang disampaikan Mas Umam itu nyaman ya dari lubuk hati yang paling dalam itu.
09:35Bapak-bapak berdua ini kalau melihat kan hari ini, kemarin Senin itu kan sebenarnya tidak hanya satu nama perubaya kan,
09:42muncul, ada men, hudlah, ada beberapa nama lah yang akan diganti, yang terlihat cuma satu gitu.
09:48Melihat seperti ini, Partai Politik, ya sudahlah harus siap-siap diganti, atau ya sudah ini kami, kenapa?
09:55Karena itu tadi, kami tadi memulai dengan apa ya alasnya dicopot?
10:00Jawabannya tentu bukan hanya hak Pak Prabowo Presiden, singkat aja.
10:03Ya kalau saya begini, tetap instrumen itu resabel instrumen yang dimiliki oleh Presiden kan,
10:10ya saya pikir begini, pertanyaannya kenapa misalnya Pak Burbaya dicopot,
10:16tapi saya pikir supaya lebih prospektif pertanyaannya kenapa harus suah hasil Najara.
10:21Ya itu tadi yang sudah saya tanyakan kan.
10:23Karena lebih berorientasi masa depan itu kan, ketimbang misalnya kita mencari alasan kenapa Pak Burbaya dicopot,
10:29nanti spekulasi-spekulasi yang beredar, terkait dengan danantara, cara komunikasi, terkait dengan transfer keuangan daerah, dan lain sebagainya.
10:36Kalau penjelasan dari Pak suah hasil Najara ketika dia dilantik, bahwa ada pesan Presiden yang itu terkait dengan tata kelola
10:44fiskal kita.
10:44Pesannya kan bagaimana APBN kita sehat, bagaimana APBN kita kredibel, dan yang paling penting adalah bagaimana APBN kita itu mampu
10:53mendorong dan mendukung program-program.
10:55Kalau sampai di Pak Burbaya dan Pak suah hasil nggak ada masalah, tapi kalau menyangkut menteri-menteri lain yang...
10:59Kalau itu spekulasi lagi kan, saya pikir kita tunggu saja misalnya.
11:03Tunggu saja ya, anak keputusan dari Presiden kan.
11:05Nah, saya ingin menegaskan terkait dengan resabel yang kemarin.
11:08Saya yakin dan percaya ada optimisme pasar, ada optimisme publik, misalnya ketika, ini kan biasa,
11:14dalam sepak bola saja, di pertengahan pertandingan ada pergantian pemain itu biasa.
11:18Bukan dalam konteks bahwa pemain yang diganti itu jelek kinerjanya, tidak.
11:23Tapi mungkin bahwa ada strategi-strategi baru.
11:25Tapi biasanya kalau pergantian pemain kita bisa lihat, oh cedera, oh kena kartu kuning.
11:28Ya, itu salah satu alasan, salah satu faktor.
11:31Tapi bisa juga bahwa ada dinamika atau strategi baru yang harus dimainkan.
11:35Kalau pakai dinamika atau strategi yang lama ini nggak jalan, karena kondisinya mungkin sudah berbeda.
11:40Kalau kita lihat misalnya Pak Suhasil Najara, itu kan kekuatannya misalnya di katakanlah keberlangsungan kelembagaan.
11:48Bahwa beliau orang lama di tata kelola fisika kita.
11:51Karena jadi kepala kebijakan fiskal.
11:52Karena jadi kepala badan kebijakan fiskal, jadi wamen sangat lama, guru besar ekonomi, dan lain sebagainya.
11:57Saya pikir perlu orang seperti itu untuk kondisi ke depan.
12:01Atau kemudian misalnya bahwa kemampuan kredibilitas teknokratisnya juga sangat diperlukan.
12:06Oke, lalu bagaimana kita bisa memaksimalkan kabinet merah putih?
12:11Satu menjakan kembali, usaha jeda.
12:13Selamat menikmati.
12:13selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan