00:00Dalam kehidupan militer, kita mengenal satu nilai, bahwa dalam sebuah misi kita harus tahu persis siapa yang berdiri teguh di
00:09samping kita,
00:11terutama ketika terjadi sesuatu, keadaan apapun, dalam suka maupun duka, kita harus tahu bahwa orang itu tetap dapat diandalkan.
00:22Karena itu, izinkan Bapak Presiden, saya menyampaikan dengan tulus bahwa Bapak Presiden dapat mengandalkan Partai Demokrat.
00:37Satu menjadang forum kembali lagi.
00:40Pak Giat, yang tadi kita bahas di sebelumnya sudah dijawab, apresiasi dulu dong, bahwa Pak Haya ternyata mendengar, sudah diklarifikasi.
00:48Itu satu hal, sudah cukup. Tapi Anda melihat Pak Haya menyodorkan langsung di hadapan Presiden Ketua Umum Partai Gerindra, kami
00:58siap diandalkan.
00:59Itu kan normatif ya, diandalkan normatif, lepas ada momentum menjelaskan atau tidak.
01:05Tapi kan diandalkan itu dalam situasi itu tadi, ada angka survei yang sedang melorot, disadari bersama, masih banyak target belum
01:12tercapai.
01:13Anda berharap apa pada Partai Demokrat?
01:14Ya, saya pikir sebelum saya menjawab itu, saya ingin mengklarifikasi apa yang disampaikan oleh Mas Arya di sesi sebelumnya.
01:21Bahwa ada seolah-olah framing atau opini kebijakan atau program dari pemerintahan Pak Prabu ini dibuat tergesa-gesa tanpa perencanaan.
01:30Kita harus memahami dulu bahwa seorang Prabu Subianto itu berbeda misalnya dibandingkan dengan Pak Jokowi dengan Pak SBY misalnya.
01:39Pak Prabu itu sudah punya cita-cita terkait dengan apa yang akan dilakukan ketika dia menjadi Presiden itu sudah sangat
01:47lama dan itu sudah dipergumulannya, teknisnya sudah sangat lama.
01:51Misalnya di 2004 beliau ikut Konvensi Partai Golkar.
01:54Apa yang menjadi kebijakan beliau sekarang ini itu juga dibicarakan ketika beliau ikut Konvensi Partai Golkar di 2004.
02:00Begitu juga misalnya pada pemilu 2009 bersama Buk Mega.
02:04Apa yang disampaikan oleh Pak Prabu ketika menjadi calon wakil Presidennya Buk Mega itu sama persis dengan apa yang menjadi
02:10kebijakan beliau saat ini.
02:12Pun plus misalnya di 2014 dan 2019.
02:15Jadi dia sudah punya cita-cita program dan lain sebagainya itu sudah sangat lama.
02:20Bahkan ketika beliau menjadi Presiden itu yang ingin beliau eksekusi.
02:24Memang ada problem beliau ketika misalnya pada saat beliau pidato di DPR-MPR ada problem birokrasi yang itu mungkin tidak
02:32secepat yang beliau harapkan.
02:34Atau budaya merumitkan diri birokrasi itu masih banyak atau budaya korupsinya masih sangat banyak.
02:40Memang kata kelat tata kelola MBG itu problemnya di problem birokrasi teknis.
02:46Itu yang perlu kita kawal, kita awasi bagaimana ini tidak terjadi di kemudian hari seperti yang kemarin.
02:51Begitu juga misalnya Koperasi Desa Merah Putih.
02:53Tapi so far beberapa kebijakan besarnya hilirisasi, suasem pada pangan, ketahanan energi dan lain sebagainya sedang dalam proses.
03:00Saya pikir itu yang paling penting.
03:02Yang kedua, saya pikir begini.
03:04Ya Pak Prabu itu bukan hanya dalam konteks demokrat kalau kait dengan Pak Ahi tadi.
03:10Pak Prabu itu kan ingin mengkonsolidasikan seluruh putra-putri terbaik bangsa.
03:15Baik di koalisi maupun ada yang di luar.
03:18Kalau bisa bersatu bagaimana kita sekuat-kuatnya, sekeras-kerasnya berjuang untuk katakanlah mewujudkan cita-cita bangsa, kesejahteraan rakyat dan sebagainya.
03:27Ya apa yang menjadi tawaran Pak Ahi tadi saya yakin dan percaya tidak akan bertepuk sebelah tangan.
03:34Jangankan dengan demokrat, dengan partai koalisi.
03:36Dengan PDIP sekalipun Pak Prabu selalu mengajak.
03:39Dengan katakanlah beberapa kali misalnya Pak Prabu mengundang para rektor, para dekan, para wartawan untuk ayo kita bicarakan terkait masa
03:48depan bangsa.
03:49Bagaimana solusinya kalau ada masalah dan sebagainya.
03:52Saya pikir itu.
03:52Mas Arya, kalau penjelasan Mas Giat katanya karena sudah mengamati lama nih sejak tahun 2004.
03:57Jadi nggak model nunggu-nunggu lagi sudah langsung plug and play.
04:02Pokoknya harus jalan.
04:03Kira-kira intinya sudah dengan kajian-kajian yang penuh.
04:07Ya kebijakan itu kan disebut kebijakan publik ya.
04:12Ada kata publiknya.
04:14Artinya karena dia kebijakan publik tentu harus publik juga punya ruang untuk memberikan pandangan terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil.
04:25Nah tapi saya kembali lagi soal tadi ya.
04:28Demokrat supaya apa.
04:31Jangan ragu presiden supaya demokrat dapat diandalkan.
04:33Ini kan menurut saya mengonfirmasi bahwa memang peran-peran partai koalisi itu timpang atau terbatas.
04:42Bayangkan dua tahun pemerintahan sudah terbentuk, koalisi sudah terbentuk.
04:47Tiba-tiba Pak Ahaye berpidato, jangan ragu Bapak Presiden untuk mengandalkan partai demokrat.
04:54Oh menegaskan ulang.
04:56Saya kira itu artinya apa? Artinya memang selama ini.
04:59Anda melihat bahwa statement bahwa kami bisa diandalkan itu menjerminkan bahwa sebenarnya ada keraguan.
05:05Oh jangan-jangan partai demokrat akan didepak gitu kira-kira.
05:08Ada kekhawatiran atau gimana?
05:09Enggak mungkin ya kalau pandangan saya bisa jadi selama ini pembagian peran kepada partai-partai.
05:16Oke, lebih kepada minta dikasih peran lebih dong gitu.
05:20Enggak seimbang dibagi perannya.
05:22Begini, begini.
05:23Terkait dengan itu.
05:24Sebenarnya, sebentar lagi saya sekat dikit.
05:27Nah, jadi gini. Saya ingat dulu ya.
05:32Ketika Pak SBY diperiode pertama, itu hantaman koalisinya mungkin belum seberapa dibandingkan pidato Pak Haye tadi.
05:45Kita bisa bayangkan dulu Pak SBY diperiode pertama hampir diimpeach oleh DPR, hampir ya, karena kasus senturi.
05:57Jadi justru partai-partai koalisi lah yang menjadi promotor untuk mengusulkan hak angket senturi.
06:05Jadi ada Partai Golkar, ada PKS, ada PAN, oh saya tidak salah ya.
06:16Nah, jadi pidato ini saya kira belum seberapa dibandingkan apa yang terjadi di masa Pak SBY.
06:23Perihode pertama atau kedua? Pertama saya ingat saya.
06:25Sempat disinggung juga kan di pidato Presiden Prabowo.
06:28Nah, artinya kritik internal itu sesuatu yang mungkin biasa dilakukan, tujuannya banyak ya.
06:37Mas Imam tentu bisa menjelaskan apa tujuannya.
06:40Tapi tentu partai-partai sebagai organisasi yang rasional tentu akan menghitung apakah, tadi yang saya bilang, apakah mana yang lebih
06:48besar?
06:48Cost apa benefit?
06:50Kalau costnya lebih besar, tentu partai-partai akan, kalau misalnya kalau costnya lebih besar, partai-partai tentu akan menghitung merekalkulasi
07:00apakah berada di kabinet akan menguntungkan atau tidak menguntungkan.
07:04Oke.
07:04Gitu kira-kira.
07:05Mas Imam, tadi mau menjelaskan soal andalkan, kan emang terus disebut tuh, diandalkan benar juga sih menurut saya.
07:11Kalau itu bukan mengkonfirmasi, jadi asbabulwurudnya, ini betul-betul asbabulwurud, dari tadi sifatnya tabayun, klarifikasi terus.
07:19Pidato dilakukan tanggal 5 September, kemudian disiarkan di berbagai televisi tanggal 7.
07:27Rentang dari tanggal 5 ke tanggal 7, itu sudah ada pemberitaan online.
07:33Disitulah kemudian, sejumlah spekulasi kemana-mana berkembang.
07:35Kita juga kaget, loh kenapa ditariknya sampai sejauh itu? Artinya apa? Ini sudah tidak pada tempatnya.
07:43Itu kan hal yang biasa lah, dipersepsi oleh pemberitaan.
07:45Kemudian kan muncul itu, dari tanggal 5 kemudian tanggal 7, ada rentang sampai pada momentum pidato yang tadi disampaikan di
07:53hadapan Bapak Presiden, itu tanggal 9.
07:55Tepat di hari ulang tahun Partai Demokrat ke-25.
07:58Sehingga kemudian, statement tadi disampaikan oleh Mas Getumahai, sifatnya adalah merespon spekulasi-spekulasi yang dianggap tidak berdasar itu,
08:08supaya kemudian jangan memecah belah.
08:11Ini kita niatnya sudah clear, kita dalam konteks ini ya, terkait dengan konteks koalisi, kemudian bagaimana soliditas di dalam pemerintahan,
08:20kita kekeh, kita tunduk, karena amanahnya adalah menyukseskan pemerintahan Pak Prabowo.
08:26Nah itu disampaikan dalam rangka merespon itu, supaya kemudian spekulasinya tidak kemana-mana.
08:32Jadi secara momentum, statement tadi kita siap untuk diandalkan, bukan mengkonfirmasi hal-hal yang seperti tadi,
08:41tetapi betul-betul sebagai upaya easing atau resolving di dalam konteks perdebatan yang kalau misalnya tidak dimitigasi, itu bisa liar.
08:49Nah oleh karena itu, ini disampaikan dengan saya.
08:53Saya mau konfirmasi lagi, tadi sudah disampaikan, oh beginilah posisinya, kalimat dapat diandalkan itu bukan, tapi untuk merespon.
09:02Tapi saya mau nanya ke Partai Demokrat nih, dengan situasi, dengan gaya kepemimpinan Pak Prabowo, dengan kompleksitas persoalan,
09:08tadi disebut salah satu yang mendadak dan sebagainya, Partai Demokrat masih nyaman gak sih?
09:12Nyaman mas, jangan karena depan mas giat loh, ini kita.
09:18Dan memang di DPR misalnya, saya karena kebetulan di DPR, di DPR memang Demokrat dan seluruh Partai Koalisia masih sangat
09:26solid,
09:26masih sangat bersatu untuk mendukung segala kebijakan dari pemerintahan Pak Prabowo.
09:31Saya pikir apa yang disampaikan Mas Umam itu nyaman ya dari lubuk hati yang paling dalam itu.
09:35Bapak-bapak berdua ini kalau melihat kan hari ini, kemarin Senin itu kan sebenarnya tidak hanya satu nama perubaya kan,
09:42muncul, ada men, hudlah, ada beberapa nama lah yang akan diganti, yang terlihat cuma satu gitu.
09:48Melihat seperti ini, Partai Politik, ya sudahlah harus siap-siap diganti, atau ya sudah ini kami, kenapa?
09:55Karena itu tadi, kami tadi memulai dengan apa ya alasnya dicopot?
10:00Jawabannya tentu bukan hanya hak Pak Prabowo Presiden, singkat aja.
10:03Ya kalau saya begini, tetap instrumen itu resabel instrumen yang dimiliki oleh Presiden kan,
10:10ya saya pikir begini, pertanyaannya kenapa misalnya Pak Burbaya dicopot,
10:16tapi saya pikir supaya lebih prospektif pertanyaannya kenapa harus suah hasil Najara.
10:21Ya itu tadi yang sudah saya tanyakan kan.
10:23Karena lebih berorientasi masa depan itu kan, ketimbang misalnya kita mencari alasan kenapa Pak Burbaya dicopot,
10:29nanti spekulasi-spekulasi yang beredar, terkait dengan danantara, cara komunikasi, terkait dengan transfer keuangan daerah, dan lain sebagainya.
10:36Kalau penjelasan dari Pak suah hasil Najara ketika dia dilantik, bahwa ada pesan Presiden yang itu terkait dengan tata kelola
10:44fiskal kita.
10:44Pesannya kan bagaimana APBN kita sehat, bagaimana APBN kita kredibel, dan yang paling penting adalah bagaimana APBN kita itu mampu
10:53mendorong dan mendukung program-program.
10:55Kalau sampai di Pak Burbaya dan Pak suah hasil nggak ada masalah, tapi kalau menyangkut menteri-menteri lain yang...
10:59Kalau itu spekulasi lagi kan, saya pikir kita tunggu saja misalnya.
11:03Tunggu saja ya, anak keputusan dari Presiden kan.
11:05Nah, saya ingin menegaskan terkait dengan resabel yang kemarin.
11:08Saya yakin dan percaya ada optimisme pasar, ada optimisme publik, misalnya ketika, ini kan biasa,
11:14dalam sepak bola saja, di pertengahan pertandingan ada pergantian pemain itu biasa.
11:18Bukan dalam konteks bahwa pemain yang diganti itu jelek kinerjanya, tidak.
11:23Tapi mungkin bahwa ada strategi-strategi baru.
11:25Tapi biasanya kalau pergantian pemain kita bisa lihat, oh cedera, oh kena kartu kuning.
11:28Ya, itu salah satu alasan, salah satu faktor.
11:31Tapi bisa juga bahwa ada dinamika atau strategi baru yang harus dimainkan.
11:35Kalau pakai dinamika atau strategi yang lama ini nggak jalan, karena kondisinya mungkin sudah berbeda.
11:40Kalau kita lihat misalnya Pak Suhasil Najara, itu kan kekuatannya misalnya di katakanlah keberlangsungan kelembagaan.
11:48Bahwa beliau orang lama di tata kelola fisika kita.
11:51Karena jadi kepala kebijakan fiskal.
11:52Karena jadi kepala badan kebijakan fiskal, jadi wamen sangat lama, guru besar ekonomi, dan lain sebagainya.
11:57Saya pikir perlu orang seperti itu untuk kondisi ke depan.
12:01Atau kemudian misalnya bahwa kemampuan kredibilitas teknokratisnya juga sangat diperlukan.
12:06Oke, lalu bagaimana kita bisa memaksimalkan kabinet merah putih?
12:11Satu menjakan kembali, usaha jeda.
12:13Selamat menikmati.
12:13selamat menikmati
Komentar