Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes menilai terdapat sejumlah catatan dalam pemerintahan Prabowo-Gibran yang perlu diperhatikan.

Arya menyebut salah satunya adalah apa yang ia istilahkan sebagai "abnormalitas" dalam pemerintahan, termasuk dalam proses pembuatan kebijakan dan peran partai koalisi.

Arya kemudian menyoroti peran koalisi yang menurut pengamatannya tidak sebesar pemerintahan sebelumnya dalam membahas sejumlah program strategis pemerintah.

Mulai dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG, Koperasi Merah Putih, hingga Sekolah Rakyat.

Arya juga melihat adanya persoalan dalam pembagian peran di antara partai-partai.

Menurutnya, ada menteri yang memiliki jabatan, tetapi dinilai tidak memiliki otoritas yang sebanding.

Arya kemudian melihat adanya indikasi keretakan dalam koalisi.

Ia menyoroti dua momentum yang terjadi dalam waktu berdekatan, yakni pidato AHY mengenai kekuasaan dan pernyataan Presiden ke-7 Joko Widodo soal kekuasaan.

Namun, pandangan tersebut dibantah oleh Partai Demokrat.

Pengurus DPP Partai Demokrat, Ahmad Khoirul Umam, mengatakan pernyataan AHY telah diklarifikasi langsung di hadapan Presiden Prabowo.

Menurut Umam, konteks pernyataan tersebut merupakan refleksi internal Partai Demokrat.

Umam menegaskan, menurut Demokrat, tidak ada persoalan seperti yang dispekulasikan terkait pidato AHY.

Umam mengatakan pernyataan AHY juga berkaitan dengan kepentingan Demokrat menjaga ruang demokrasi dan memastikan proses politik berjalan secara adil.

Sementara itu, Partai Gerindra menilai partai-partai koalisi seharusnya fokus menjalankan program pemerintahan Prabowo.

Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengatakan penilaian terhadap kinerja pemerintah seharusnya tidak hanya didasarkan pada survei kepuasan publik.


Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/rrPIGe9iTKo



#kabinet #prabowo #reshuffle

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/691117/pengamat-lihat-tanda-keretakan-koalisi-prabowo-demokrat-klarifikasi-satu-meja
Transkrip
00:01Enggak lah, baru dipecat, menjadi menteri lagi, gimana loh?
00:05Abis ini mau pulang mancing belakang rumah.
00:07Tergobunya kolam di belakang, jadi bisa mancing belakang rumah, mending lamun.
00:10Kenapa dipecat gitu ya?
00:18Masih di Satu Menjadi Forum, saya ke Mas Umam ya, tadi kita lihat Pak Purbaya ekspresinya yang ya begitulah, gayanya
00:26dan...
00:26Tapi pasti ada pesan lah, saya masih menangkap ada kekecewaan tapi belum terucap aja dari Pak Purbaya.
00:32Saya mau begini, kita tahu kalau dalam suatu pemerintahan ada koalisi partai politik bukan kali pertama di pemerintahan.
00:42Bahkan dari mulai Pak SBY, Pak Jokowi juga ada koalisi partai politik.
00:47Tetapi ketika ada survei, bayangkan di awal pemerintahan Prabowo Gibran itu tingkat kepuasan publiknya bahkan di atas 80% berbagai
00:57lembaga survei.
00:58Tapi sejak Juli, Agustus dengan kompleksitas persoalan mulai dari keracunan MBG, mulai dari Kooperasi Merah Putih dan sebagainya,
01:06itu sudah mulai muncul. Setidaknya ada tiga lembaga survei yang menyebutkan bahwa tingkat kepuasannya sudah ada di bawah 50%
01:14dan ini cukup mengkhawatirkan.
01:16Kenapa? Karena penting juga ini untuk stabilitas dan sebagainya.
01:20Saya mau nanya ke Mas Umam nih, kalau partai politik partai koalisi itu dalam posisi yang 80% pasti nyaman
01:25kan?
01:26Tapi kalau sudah di bawah 50% kan tanggung renteng nih. Akan kena dampaknya. Penyikipan normatifnya kan akan, oh kami
01:33akan melakukan koreksi bersama-sama.
01:35Tetapi kan itu belum pernah muncul. Ada ketakutan, oh takutnya nanti dianggap terlalu kritis, vokal, nanti terlempar dari partai dan
01:44sebagainya.
01:44Demokrat yang sudah pernah berkuasa 10 tahun, liatnya seperti apa?
01:48Ya, satu itu sebagai sebuah instrumen assessment ya. Kita hormati sebagai bagian dari upaya penilaian terutama dari kelompok civil society.
02:01Tetapi memang di saat yang sama tentu ini menjadi sebuah wake up call bagi kita semua.
02:07Bagaimana disampaikan oleh Mas Ahai, kalau ada program pemerintah yang berdampak positif baik kepada masyarakat harus kita dukung.
02:17Tapi kalau ada yang belum sempurna, mari kita bantu perbaiki bersama.
02:23Mas, artinya Pak Ahai dan Demokrat juga sama-sama mencermati dan membaca situasi survei di masyarakat yang menyebutkan bahwa tingkat
02:32kepuasan Pak Prabowo itu di bawah 50%.
02:34Sebenarnya basisnya bukan konteks survei, tetapi bagaimana evaluasi yang kemudian muncul di ranah percakapan pabrik.
02:40Ya, itu kan diterbitkan lewat survei, Kak.
02:41Ya, misalnya itu kemudian dipotel ke dalam survei.
02:44Nah, maka kemudian ini menjadi ruang bagi kita untuk saling berkoordinasi.
02:49Tadi sempat kita waktu offline tadi berdiskusi, apakah rapat koordinasi itu dilakukan secara intens?
02:54Cukup intens, Mas.
02:55Cukup intens?
02:56Cukup intens.
02:56Artinya bahwa setiap momen-momen yang membutuhkan public policy yang decisive, yang clear, setiap ratas yang dilakukan Pak Presiden kemudian
03:07di follow up dengan cepat ya oleh Kementerian-Kementerian Koordinator.
03:12Setidaknya saya misalnya membantu Mas Ahaye di Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kemilaihan terkait dengan isu-isu yang terkait
03:20dengan misalnya sekolah rakyat, terkait dengan proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca pencana, dengan segala kekuatan dan juga kelemahan dalam konteks
03:31mendeliver program-program pemerintah, itu terus dilakukan secara intens.
03:36Mas Umar, itu kan yang normatifnya ya, tapi kan wajar sih, menurut saya wajar aja kalau ada kekhawatiran.
03:42Justru kalau nggak khawatir aneh nih, kok ada survei di bawah 50%, kita juga melihat kompleksitas persoalan itu tinggi, kan
03:49aneh.
03:50Nah ini saya mau ke Mas Sugiyat nih, artinya sebagai partai kan, pertanyaan saya sama, tetapi di tengah itu saya
03:57ingat ketika sesama mitra, Ketua Umum Ahaye menyampaikan pidato soal mengingatkan kekuasaan itu,
04:03Anda kan berkomentar tuh, Pak Menteri udahlah fokus kerja aja, ini gimmick atau memang genuin?
04:12Wah Anda menganggap ini Menteri Ahaye jangan dong singgung-singgung soal kekuasaan menjelang pemilu, meskipun baru 3 tahun.
04:20Ya yang pertama bahwa ya pemerintahan Pak Prabowo baru berjalan 2 tahun, 2 tahun nanti Oktober baru genap, baru masuk
04:273 tahun.
04:28Saya pikir kalau pemerintahan yang rentang waktunya 5 tahun, 2 tahun itu kan masa-masa untuk bekerja keras.
04:35Terkait misalnya dengan persepsi opini publik di beberapa lembaga serupi yang itu menurunkan katakanlah profile rating Pak Prabowo,
04:42saya pikir ini juga perlu dikaji.
04:44Ya kami tidak terlalu khawatir misalnya kalau di awal-awal misalnya sampai 80%, lalu kemudian di 2026 turun drastis,
04:52bahkan sampai ada yang di bawah 50%.
04:55Karena kami anggap bahwa serupi itu kan ukuran subjektif, ukuran persepsi opini publik di satu masyarakat dalam waktu tertentu dengan
05:04metodologi tertentu.
05:05Itu tidak bisa menunjukkan bagaimana secara objektif kinerja seorang presiden atau pemerintahan.
05:12Kalau kita lihat misalnya bandingkan dengan ukuran-ukuran yang lebih objektif, bagaimana 2 tahun pemerintahan Pak Prabowo sedang berjalan.
05:19Katakanlah pertumbuhan ekonomi di semester pertama 2026 yang tumbuh di atas 5%.
05:24Walaupun katakanlah pada saat yang bersamaan, bank itu menargetkan Indonesia hanya di 3%.
05:30Gini Mas Yad, pertanyaan saya adalah ketika Anda mengomentari pernyataan pidato Pak Ahaya itu.
05:37Ini saya mau menjelaskan dulu terkait dengan kinerja Pak Prabowo dulu, baru saja saya akan sambung dengan bagaimana perilaku dari
05:44kawan-kawan koalisi.
05:45Saya itu tadi, pasti Anda mengomentari itu, pasti Anda melihat nuansa, kenapa sih sekelas Ahaya harus ngomongin soal kekuasaan, ya
05:53itu tadi lebih baik soal kinerja, itu maksud saya.
05:55Ya, makanya gini, tadi saya katakan bahwa ada capaian-capaian yang secara objektif itu bisa diukur.
06:00Misalnya pertumbuhan ekonomi yang itu dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia cukup tinggi, 5% ke atas.
06:06Belum lagi kita mendapatkan data bahwa investasi yang masuk ke Indonesia per 2026 pertengahan ini sudah sampai lebih dari 1
06:15.000 triliun misalnya, yang menyerap angka kerja yang sangat banyak.
06:19Misalnya lagi bagaimana ketahanan pangan yang targetnya katakanlah 3 tahun, 4 tahun bisa suasembada beras, ternyata dalam waktu 2 tahun
06:26bisa suasembada beras.
06:27Itu kan ukuran-ukuran objektif. Saya berharap pada saat menyampaikan statement terkait dengan pernyataan Ketua Umum Demokrat, bahwa ayo kita
06:34lanjutkan kemajuan-kemajuan objektif dari pemerintahan Pak Prabowo ini.
06:39Apalagi misalnya ada juga persoalan-persoalan dari program prioritas Pak Prabowo, misalnya ada persoalan di tata kelola IBG.
06:45Oke, itu saya setuju satu hal, sesama partai koalisi, partner saling mendukung capaian-capaian, bahkan bekerja keras mencapai itu.
06:51Tapi yang disampaikan oleh Ketua Umum bicara soal mengingatkan kekuasaan kan menurut saya normatif, kenapa harus diingatkan dengan fokus saja
06:58kerja.
06:59Ini seolah-olah akhirnya kita membaca, wartawan membaca, memang ada yang tidak kerja.
07:02Itu yang menjawab harusnya saya itu.
07:05Tidak apa-apa, kan di dua-dua partner ini kan, silakan saja kalau menjawab.
07:08Gini, saya lanjutkan ya, saya pikir mungkin nanti dikuatkan oleh Mas Umam terkait dengan konteks apa yang disampaikan oleh Mas
07:16Ahaye.
07:17Kita hanya mengingatkan bahwa ada agenda besar, ada ambisi besar dari seorang Presiden Prabowo terkait dengan persoalan-persoalan rakyat.
07:24Yang itu harus dituntaskan dalam waktu lima tahun ini.
07:28Kita tidak cerita dua periode, tapi dalam konteks lima tahun ini.
07:31Dan ketika partai-partai koalisi...
07:33Hati-hati loh, Mas Anda nggak ngomong dua periode itu.
07:35Ya karena memang Pak Prabowo kan mengatakan bahwa dia akan fokus, menuntaskan lima tahun, belum ada cerita pemilu.
07:42Nanti pada saat momentum yang tepat, kita akan lakukan evaluasi, biasanya Gerindra gitu, kita akan lakukan evaluasi terkait dengan Pileg,
07:49terkait dengan Pilpres.
07:50Tapi pada momentum tahun ini, kita fokus dulu pada pelaksanaan program-program prioritas Pak Prabowo.
07:55Saya berharap memang, ya sebagai partai Gerindra pasti punya harapan.
07:59Buat setiap elemen bangsa, terkhusus lagi koalisi, fokusnya di situ dulu.
08:03Oke, saya mau kasih Mas Umam sedikit sebelum saya nanti ke Mas Arya.
08:08Mas Iyimu menjelaskan? Atau sudah cukup?
08:10Sebenarnya sudah cukup, tapi paling menjelaskan, asbab ulurut.
08:15Kenapa kemudian itu disampaikan.
08:17Konteksnya itu betul-betul dalam momentum internal,
08:21Dut 25 Partai Demokrat, dan ini memberikan ruang refleksi dan kontemplasi dalam konteks berdemokrasi.
08:29Demokrat itu lahir 2021, maaf, 2001.
08:33Jadi betul-betul momennya itu pada momentum reformasi.
08:36Mas Ahaya menyampaikan, kita itu ya praktis anak kandung reformasi.
08:41Dan namanya itu Partai Demokrat.
08:43Artinya bahwa prinsipal dalam konteks demokrasi itu menjadi core-nya.
08:47Nah, ketika kemudian itu disampaikan, betul-betul ini menjadi sebuah ruang kontemplasi.
08:52Karena kita pernah di dalam kekuasaan, bahkan memimpin kekuasaan.
08:55Pernah di luar, bahkan kemudian ketika di luar kita juga pernah diancam, quote by quote,
09:00Oleh oknum yang berada di lingkaran kekuasaan.
09:03Maka ketika itu disampaikan, ini sebenarnya sebuah wake up call bagi kita.
09:08Kepada semua pihak.
09:10Kepada semua pihak.
09:11Bahwa kita hati-hati mengeksersis amanah rakyat itu.
09:15Nah, makanya ketika kemudian ada yang menarik ke sana kemari,
09:18ini spekulasinya terlalu jauh.
09:20Dan sudah diklarifikasi langsung oleh Mas Ahayi di hadapan Bapak Presiden Prabowo.
09:27Sebenarnya duduk perkaranya seperti ini dan kemudian disampaikan poin-poin utama dari pidato itu.
09:32Dan all good, all clear.
09:34Dan sudah jawab tangan kan?
09:36Sudah.
09:37Mau jawab tangan lagi?
09:37Ya boleh.
09:39Sebagai bentuk pertanggung jawaban.
09:41Saya ke Mas Arya.
09:43Mas Arya, soal pergantian kabinet ya.
09:45Sudah enam kali dan sebagainya.
09:47Ada pendapat bahwa mengatakan gini,
09:50emu berkali-kali diganti,
09:51tapi nuansanya cenderung lebih mementingkan kaitannya dengan kepentingan koalisi.
09:57Satu hal itu mungkin normatif.
09:59Yang kedua, di tengah situasi problematik persoalan,
10:03tekanan geopolitik dan sebagainya,
10:05harusnya ada yang namanya penekanan pentingnya teknokratis.
10:08Itu juga masukkan.
10:10Tetapi ada juga yang lebih ekstrim.
10:11Mengatakan bahwa siapapun menterinya tidak akan bisa memenuhi ekspektasi.
10:16Kenapa?
10:17Karena program-program yang dibebankan kepada menteri,
10:20dalam hal ini dari presiden,
10:21itu juga landasannya belum clear.
10:23Contoh MBG.
10:24Kita lihat pilihan penting tidak masih ada persoalan.
10:27Yang kedua, Koperasi Merah Putih.
10:29Anda melihat hal yang sama atau Anda punya pandangan lain soal ini?
10:31Ini pemerintah akan dua tahun ya.
10:35Dan saya melihat ada sejumlah catatan, terutama dari saya pribadi,
10:40soal kecenderungan terjadinya abnormalitas di kepresidenan ya,
10:47di pemerintahan terutama ya.
10:49Abnormalitas yang pertama itu terkait proses pembuatan kebijakan.
10:56Dalam proses pembuatan kebijakan yang normal,
10:59itu biasanya ada keinginan yang ingin dicapai,
11:05ada tujuan yang ingin dicapai,
11:07kemudian dibicarakan di level teknis,
11:11mungkin di level internal kementerian,
11:13mungkin di DPR,
11:15mungkin di tingkat koalisi,
11:18disiapkan perangkat peraturan perundang-undangannya,
11:20baru kemudian di-launch.
11:23Saya nggak tahu apakah proses itu dilakukan secara,
11:28dengan model yang normal atau justru model informal gitu ya.
11:33Mungkin Mas Umam sama Pak Suget yang jawab.
11:35Dari rangkaian peristiwa,
11:38pemberitaan,
11:39rapat ada,
11:40ratas,
11:40bahkan weekend di Hambalang juga rapat kan.
11:44Cuman mungkin Mas Arya belum diundang aja.
11:47Nah yang kedua soal abnormalitas yang kedua,
11:50yang saya lihat itu adalah peran koalisi terbatas.
11:54Peran koalisi terbatas.
11:56Peran koalisi terbatas ya.
11:57Saya melihat,
11:58saya nggak tahu,
11:59kita bukan orang dalam.
12:02Amatan Anda aja?
12:04Amatan saya,
12:04peran koalisi untuk membahas program-program strategis pemerintahan.
12:11Misalnya soal bagaimana MBG dilakukan,
12:15bagaimana evaluasinya,
12:17bagaimana kooperasi merah putih,
12:19bagaimana sekolah rakyat,
12:21program-program besar pemerintahan.
12:24Itu saya melihat peran koalisi
12:26tidak sebesar yang terjadi di pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
12:31Nah itu catatan abnormalitas yang kedua.
12:35Abnormalitas yang ketiga,
12:36itu terkait pembagian peran yang nggak setara.
12:40Di level partai-partai.
12:42Misalnya apa?
12:43Misalnya saya lihat,
12:45ada kita lihat sejumlah menteri terutama,
12:49itu yang punya beban kerja yang sangat besar.
12:53dibandingkan menteri-menteri yang lain.
12:55Beban kerja itu tidak hanya akses,
12:57akses fisik,
12:59akses informasi,
13:01akses politik.
13:02Tapi ada menteri-menteri yang tidak punya beban kerja,
13:07punya jabatan,
13:08tetapi tidak punya otoritas.
13:10Itu beda, sesuatu yang beda.
13:12Boleh saja menteri punya jabatan,
13:13tapi punya nggak punya otoritas,
13:15itu kan sesuatu yang nggak normal menurut saya.
13:17Bahkan saya mendengar katanya para Menko,
13:19tentu ini harus di cross-check,
13:21tapi para Menko juga banyak kehilangan peran.
13:24Nah saya kira makanya ini jadi catatan yang serius ya,
13:27kalau koalisi ini penting ya,
13:29karena indikasi terjadinya retak di koalisi itu
13:33sudah mulai muncul ya.
13:35Apa yang paling Anda lihat?
13:36Yang ada dua momentum ya.
13:40Satu pidatonya Pak Haye.
13:42Meskipun tadi sudah diluruskan.
13:44Meskipun tadi sudah diluruskan.
13:44Tapi ya nggak apa-apa, itu kan pandangan Anda.
13:46Saya melihat gini,
13:48dalam situasi yang normal,
13:51itu tidak mungkin seorang ketum
13:53menyampaikan kritik terbuka di depan publik
13:56soal bahwa kekuasaan ada batasnya
13:58dan ada pemilu.
14:00Yang pertama.
14:02Yang itu Pak Jokowi.
14:03Pak Jokowi bilang bahwa
14:04kekuasaan jangan semena-mena.
14:08Ini dua kejadian dalam berhentang
14:11waktu yang berdekatan.
14:13Pasti ada maksudnya.
14:14Pasti ada tujuannya.
14:15Nah jadi retak itu bisa terjadi
14:17karena dua kondisi.
14:19Ini kan menentukan posisi partai ya.
14:22Satu yang tadi Mas Yogi sampaikan,
14:24soal survei.
14:26Tentu partai sebagai organisasi yang rasional
14:30tentu akan berpikir
14:31apakah kos lebih besar daripada benefit.
14:35Kalau kos yang ditanggung lebih besar daripada benefit yang didapatkan,
14:40misalnya suara turun, drop di pemilu gitu ya.
14:44Tentu partai akan melakukan rekalkulasi.
14:47Anda mau mengatakan bahwa
14:49ada di dalam kabinet Prabowo Gibran ini
14:51juga harus dihitung dampaknya
14:53dalam pertarungan 2009.
14:54Partai akan menghitung saya kira.
14:55Partai akan menghitung dampaknya di tahun 2009.
14:57Dan tingkat kebosan publik yang di bawah 50% itu
14:59harusnya dibacak sebagai
15:00sesuatu yang
15:01tidak menguntungkan secara politik.
15:03Karena begini,
15:03karena
15:04kita sudah punya
15:06tiga presiden yang dipilih secara langsung.
15:09Presiden SBY,
15:11Presiden Jokowi,
15:12dan Presiden Prabowo.
15:13Dan dalam dua tahun terjadi penurunan 30%
15:19kepuasan publik
15:21itu sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
15:25Di pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
15:27Jadi wajar kemudian kalau
15:29Partai Demokrat
15:31memberikan sinyal kuat.
15:33Yang kedua juga mungkin
15:35Partai Demokrat sekarang juga sedang lagi naik daun.
15:39Naik daun berarti kata
15:40lagi tinggi surveinya, lagi naik.
15:42Oh lagi naik.
15:43Jadi tentu juga butuh.
15:44Melihat momentum.
15:45Butuh momentum ya.
15:46Kita lihat
15:46Demokrat kan
15:48Cek ombak.
15:48Demokraat kan
15:49tidak punya momentum ya.
15:51Misalnya
15:51dari 2009
15:5320%
15:552014
15:5610%
15:572019
15:58sekitar 8%
16:002024
16:017%
16:02Drop terus.
16:03Turun terus Demokrat.
16:04Jadi gak ada
16:06belum ada cara
16:07untuk rebound.
16:08Sedang mengamati nih kira-kira harus besar mana.
16:11Bisa jadi.
16:11bisa jadi pidato itu adalah cara
16:14untuk bisa
16:15kembali rebound ya.
16:16Saya coba respon ya.
16:17Ya boleh.
16:18Sedikit-sedikit.
16:18Sedikit-sedikit.
16:19Ya.
16:19Tadi sudah kita
16:20klarifikasi ya.
16:22Ada proses
16:23Tabayun dihadapan Pak Presiden
16:24dan sudah clear semuanya.
16:26Dan
16:26mengapa kemudian itu disampaikan
16:28sekali lagi
16:29terkait dengan tadi
16:30yang disampaikan oleh Mas Arya.
16:32Memang ada
16:33semacam
16:34survival interest.
16:35karena memang tadi secara
16:37elektoral
16:38terjadi penurunan
16:39dan ada
16:40sejumlah anomali
16:41di mana misalnya ya
16:42di pemilu
16:432024
16:44itu secara
16:46suara
16:47Demokrat itu
16:48mendapatkan
16:49penambahan
16:49500 ribu
16:51suara
16:51dibandingkan dengan
16:52pemilu sebelumnya
16:53di Pilek 2019.
16:55Tetapi
16:56dalam konteks
16:57perolehan
16:58kursi
16:58justru mengalami penurunan.
17:00Sangat
17:01agak unik disitu.
17:02Nah itulah kenapa
17:03memiliki justifikasi
17:05ketika kemudian
17:07misalnya dalam konteks
17:08Pida Thomas
17:09Ketua Mahaye
17:10menyampaikan
17:11perlunya
17:12election yang fair
17:13pemilu yang fair
17:14bicara tentang
17:15konteks
17:16netralitas kekuasaan
17:17negara
17:18bicara tentang
17:19supremasi hukum
17:20bicara tentang
17:21konteks
17:21kedaulatan rakyat
17:22dan lain sebagainya.
17:23Dalam rangka apa?
17:24Mengharapkan
17:25bahwa ruang demokrasi
17:27ini kita jaga
17:28bagian dari
17:28survival interest kita
17:30supaya kemudian
17:31semuanya berjalan
17:31secara fair.
17:32Saya pikir
17:32sesuatu yang cukup
17:34urgent bukan hanya
17:35untuk demokrat
17:35semua
17:36termasuk teman-teman
17:37sahabat-sahabat di
17:38Ketua Mahaye
17:38Kalau begitu
17:40gini
17:40kalau kemarin
17:42perubahan yang diganti
17:43apakah berikutnya
17:46menteri-menteri
17:46dari partai politik
17:47satu meja
17:48akan kembali
17:49usai jadah.
Komentar

Dianjurkan