Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu


JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto menegaskan sikapnya yang tak kompromi dengan korupsi.

Prabowo mengatakan tidak melindungi orang dekat yang terjerat kasus hukum sebagai bagian dari komitmen pemberantasan korupsi.

"Saya sudah buktikan. Pak Dadan itu tim sukses saya, tim pakar saya. Saya yang angkat di Kepala BGN. Saya juga yang serahkan ke kejaksaan," kata Prabowo dalam Program "Presiden Prabowo Menjawab", Rabu (16/9/2026).

Prabowo juga mencontohkan kasus penyitaan aset Hotel Sultan sebagai bentuk komitmennya, meski hotel tersebut dimiliki oleh Pontjo Sutowo yang merupakan kawannya.

Baca Juga [FULL] Blak-blakan! Presiden Prabowo Jawab Isu Reshuffle hingga RUU Perampasan Aset di https://www.kompas.tv/nasional/691113/full-blak-blakan-presiden-prabowo-jawab-isu-reshuffle-hingga-ruu-perampasan-aset



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/691137/presiden-prabowo-tegas-soal-korupsi-saya-tidak-ada-kawan-ini-negara
Transkrip
00:00Banyak sekali investasi kita yang produktif dan relatif kita mampu untuk investasi sendiri.
00:14Saya kira itu jawaban saya.
00:16Termasuk konsistensi, komitmen Pak Presiden, Pak Prabowo, siapapun mungkin saja Pak ya,
00:21mungkin saja ada potensi berada di sirkel Bapak, orang-orang dekat Bapak yang terindikasi Pak.
00:26Terindikasi ternyata terjerat tindak pidana korupsi, Bapak tidak akan tebang pilih, Pak, sikat mereka, Pak.
00:33Saya kira saya sudah buktikan, Pak Dadan itu tim sukses saya, tim pakar saya,
00:43saya yang angkat di kepala BGN, saya juga yang surahkan ke kejaksaan.
00:53Ada beberapa jenderal, saya yang naikin pangkat, orang-orang yang saya tahu jagoan di lapangan,
00:59tapi mungkin di ujungnya dia pilaf atau tergoda.
01:04Jadi tidak akan pakai perasaan, Pak ya, emosional untuk menangkap siapapun itu orangnya, Pak.
01:10Jadi begini, yang saya belajar ya, bernegara itu, kita harus arif, kita harus bijak,
01:20tapi di ujungnya kepentingan nasional, kepentingan rakyat harus di atas segala hal.
01:29Itu, kalau Anda mau bernegara, ya itu.
01:35Iya kan?
01:38Saya, banyak yang dekat sama saya, datang ke saya, Anda tahu lah, Anda wartawan, kan?
01:47Berapa banyak yang sudah saya selahkan.
01:56Banyak aset yang kita tetap, kita cita.
02:02Apa itu, Hotel Sultan itu?
02:04Betul.
02:05Wah, yang lobby ke saya banyak.
02:08Mungkin Pak Ponco itu dianggap tokoh, dan memang kawan saya juga,
02:13tapi saya, nggak ada kawan, nggak ada ini, ini negara.
02:15Bahkan sekarang lagi ramai juga, Pak, dorongan agar memberikan efek jera, sifatnya ultimatum jangka panjang, koruptor dihukum mati, Pak.
02:22Saya mau minta pandangan Bapak secara holistik soal itu, Pak.
02:25Ini masalah ya, bukan soal koruptor ya, masalah siapapun yang hukum mati.
02:32Masalahnya kalau dilaksanakan, nggak bisa diralat.
02:36Padahal, kadang-kadang buktinya nggak cukup.
02:40Bahkan banyak yang dihukum mati itu nggak bersalah.
02:45Ada sekian persen, di Amerika di mana kan terbukti.
02:49Sekarang ada DNA test dan sebagainya.
02:51Jadi, kalau menurut saya, yang paling penting adalah tindakan tegas, sistem, dan upaya untuk mengembalikan uang-uang itu.
03:09Tapi ya, tidak gampang benar, tidak gampang.
03:14Banyak yang melari ke luar negeri, ya kan?
03:19Tapi kita sekarang ada sistem, ada interpol dan sebagainya, ya kita kejar terus.
03:27Saya kira, kita pun sudah ada di KUHAB kita ya, mungkin.
03:32Kalau tidak salah, saya bukan ahli hukum tadi.
03:37Kalau tidak salah, kalau korupsi, dana, bencana alam, itu juga hukumannya sangat berat.
03:47Kejahatan luar biasa, Pak.
03:49Luar biasa?
03:50Iya.
03:51Jadi, perdagangan manusia, narkotika, itu kejahatan luar biasa.
03:56Terorisme, korupsi, ekstral di luar biasa.
03:57Itu termasuk hukuman mati?
03:58Iya, Pak.
03:59Benar ya?
03:59Iya, Pak.
04:00Jadi, iya kan, dana-dana untuk bantuan kemanusiaan korban bencana alam dikorupsi.
04:08Iya.
04:09Sangat, sangat.
04:11Dan menurut saya, kejahatan terhadap lingkungan, kejahatan terhadap environment, kalau sengaja membakar hutan, itu menurut saya, itu kejahatan besar juga
04:29itu.
04:30Iya.
04:33Ya, tapi itu saya serahkan ke ahli-ahli hukum untuk mengolah itu.
04:37Baik.
04:38Terima kasih, Pak Presiden.
04:39Tapi tadi menyinggung soal, Bapak, bicara ketika kita lihat bersama perombakan luar biasa di BGN, begitu, dadan CS kemudian diamankan
04:51karena kasus korupsi, itu membuka pikiran banyak orang, Pak, bahwa sosok Presiden ini adalah sosok yang tidak tebang pilih, Pak.
05:01Bapak bisa menghantam siapa saja yang memang terbukti merugikan negara.
05:05Iya, Pak, emang nggak ada pilihan lain, Pak.
05:07Jadi waktu saya, begitu saya naik jadi Menteri Pertahanan, hari pertama saya naik, malam pertama saya kumpulin semua keluarga saya
05:18dan semua orang-orang dekat saya di Gerindra.
05:22Saya bilang, saya akan menjadi Menteri Pertahanan mulai besok, Anda semua tidak boleh ikut cari bisnis di Kementerian Pertahanan.
05:34Saya sudah, saya mau begitu.
05:38Dan Anda bisa cek.
05:41Tetap saja ada pengusaha-pengusaha yang berusaha dekati keponaan saya, dekati ini, dekati ini, dekati ini, tapi begitu dilaporkan mereka
05:50ikut, saya coret semua.
05:52Sama, begitu saya jadi Presiden, saya sudah hati-hati, saudara, Gerindra, apa semua, jangan karena saya Presiden, saya, kalau kamu
06:03salah, saya nggak bisa lindungi kamu.
06:05Saya beritahu di depan, dan Anda bisa lihat, berapa Bupati Gerindra yang ditangkep, berapa wali kota, dan sebagainya.
06:22Karena, kadang-kadang KPK, apa semua, nanya, Pak, ini, kalau dia bersalah, ada bukti, tidak, jangan ragu-ragu.
06:33Sama, seorang perurau tinggi, kalau dia terbukti salah, ya, itu risiko dia, dia melanggar sumpah dia, melanggar Sabta Marga dan
06:47sumpah prajurit.
06:49Waktu peristiwa Ashabri, Anda ingat, nggak ada yang berani bertindak terhadap jenderal-jenderal itu, ya kan?
06:58Saya dipanggil Pak Jokowi, Pak Jokowi bilang, bagaimana jenderal-jenderal itu?
07:04Saya bilang, Pak, kalau seorang jenderal mencuri dari rakyat, atau mencuri dari anak boyah sendiri, jangan anggap dia jenderal lagi.
07:14Saya yang bikin surat ke Jaksa Agung, tanya aja ke Jaksa Agung, aku yang bikin surat, saya yang selahkan ke
07:20Jaksa Agung.
07:23Ada berapa?
07:26Karena kita sudah kasih peringatan terus.
07:31Pemimpin harus kasih contoh.
07:36Baik, luar biasa Bapak.
Komentar

Dianjurkan