00:00Banyak sekali investasi kita yang produktif dan relatif kita mampu untuk investasi sendiri.
00:14Saya kira itu jawaban saya.
00:16Termasuk konsistensi, komitmen Pak Presiden, Pak Prabowo, siapapun mungkin saja Pak ya,
00:21mungkin saja ada potensi berada di sirkel Bapak, orang-orang dekat Bapak yang terindikasi Pak.
00:26Terindikasi ternyata terjerat tindak pidana korupsi, Bapak tidak akan tebang pilih, Pak, sikat mereka, Pak.
00:33Saya kira saya sudah buktikan, Pak Dadan itu tim sukses saya, tim pakar saya,
00:43saya yang angkat di kepala BGN, saya juga yang surahkan ke kejaksaan.
00:53Ada beberapa jenderal, saya yang naikin pangkat, orang-orang yang saya tahu jagoan di lapangan,
00:59tapi mungkin di ujungnya dia pilaf atau tergoda.
01:04Jadi tidak akan pakai perasaan, Pak ya, emosional untuk menangkap siapapun itu orangnya, Pak.
01:10Jadi begini, yang saya belajar ya, bernegara itu, kita harus arif, kita harus bijak,
01:20tapi di ujungnya kepentingan nasional, kepentingan rakyat harus di atas segala hal.
01:29Itu, kalau Anda mau bernegara, ya itu.
01:35Iya kan?
01:38Saya, banyak yang dekat sama saya, datang ke saya, Anda tahu lah, Anda wartawan, kan?
01:47Berapa banyak yang sudah saya selahkan.
01:56Banyak aset yang kita tetap, kita cita.
02:02Apa itu, Hotel Sultan itu?
02:04Betul.
02:05Wah, yang lobby ke saya banyak.
02:08Mungkin Pak Ponco itu dianggap tokoh, dan memang kawan saya juga,
02:13tapi saya, nggak ada kawan, nggak ada ini, ini negara.
02:15Bahkan sekarang lagi ramai juga, Pak, dorongan agar memberikan efek jera, sifatnya ultimatum jangka panjang, koruptor dihukum mati, Pak.
02:22Saya mau minta pandangan Bapak secara holistik soal itu, Pak.
02:25Ini masalah ya, bukan soal koruptor ya, masalah siapapun yang hukum mati.
02:32Masalahnya kalau dilaksanakan, nggak bisa diralat.
02:36Padahal, kadang-kadang buktinya nggak cukup.
02:40Bahkan banyak yang dihukum mati itu nggak bersalah.
02:45Ada sekian persen, di Amerika di mana kan terbukti.
02:49Sekarang ada DNA test dan sebagainya.
02:51Jadi, kalau menurut saya, yang paling penting adalah tindakan tegas, sistem, dan upaya untuk mengembalikan uang-uang itu.
03:09Tapi ya, tidak gampang benar, tidak gampang.
03:14Banyak yang melari ke luar negeri, ya kan?
03:19Tapi kita sekarang ada sistem, ada interpol dan sebagainya, ya kita kejar terus.
03:27Saya kira, kita pun sudah ada di KUHAB kita ya, mungkin.
03:32Kalau tidak salah, saya bukan ahli hukum tadi.
03:37Kalau tidak salah, kalau korupsi, dana, bencana alam, itu juga hukumannya sangat berat.
03:47Kejahatan luar biasa, Pak.
03:49Luar biasa?
03:50Iya.
03:51Jadi, perdagangan manusia, narkotika, itu kejahatan luar biasa.
03:56Terorisme, korupsi, ekstral di luar biasa.
03:57Itu termasuk hukuman mati?
03:58Iya, Pak.
03:59Benar ya?
03:59Iya, Pak.
04:00Jadi, iya kan, dana-dana untuk bantuan kemanusiaan korban bencana alam dikorupsi.
04:08Iya.
04:09Sangat, sangat.
04:11Dan menurut saya, kejahatan terhadap lingkungan, kejahatan terhadap environment, kalau sengaja membakar hutan, itu menurut saya, itu kejahatan besar juga
04:29itu.
04:30Iya.
04:33Ya, tapi itu saya serahkan ke ahli-ahli hukum untuk mengolah itu.
04:37Baik.
04:38Terima kasih, Pak Presiden.
04:39Tapi tadi menyinggung soal, Bapak, bicara ketika kita lihat bersama perombakan luar biasa di BGN, begitu, dadan CS kemudian diamankan
04:51karena kasus korupsi, itu membuka pikiran banyak orang, Pak, bahwa sosok Presiden ini adalah sosok yang tidak tebang pilih, Pak.
05:01Bapak bisa menghantam siapa saja yang memang terbukti merugikan negara.
05:05Iya, Pak, emang nggak ada pilihan lain, Pak.
05:07Jadi waktu saya, begitu saya naik jadi Menteri Pertahanan, hari pertama saya naik, malam pertama saya kumpulin semua keluarga saya
05:18dan semua orang-orang dekat saya di Gerindra.
05:22Saya bilang, saya akan menjadi Menteri Pertahanan mulai besok, Anda semua tidak boleh ikut cari bisnis di Kementerian Pertahanan.
05:34Saya sudah, saya mau begitu.
05:38Dan Anda bisa cek.
05:41Tetap saja ada pengusaha-pengusaha yang berusaha dekati keponaan saya, dekati ini, dekati ini, dekati ini, tapi begitu dilaporkan mereka
05:50ikut, saya coret semua.
05:52Sama, begitu saya jadi Presiden, saya sudah hati-hati, saudara, Gerindra, apa semua, jangan karena saya Presiden, saya, kalau kamu
06:03salah, saya nggak bisa lindungi kamu.
06:05Saya beritahu di depan, dan Anda bisa lihat, berapa Bupati Gerindra yang ditangkep, berapa wali kota, dan sebagainya.
06:22Karena, kadang-kadang KPK, apa semua, nanya, Pak, ini, kalau dia bersalah, ada bukti, tidak, jangan ragu-ragu.
06:33Sama, seorang perurau tinggi, kalau dia terbukti salah, ya, itu risiko dia, dia melanggar sumpah dia, melanggar Sabta Marga dan
06:47sumpah prajurit.
06:49Waktu peristiwa Ashabri, Anda ingat, nggak ada yang berani bertindak terhadap jenderal-jenderal itu, ya kan?
06:58Saya dipanggil Pak Jokowi, Pak Jokowi bilang, bagaimana jenderal-jenderal itu?
07:04Saya bilang, Pak, kalau seorang jenderal mencuri dari rakyat, atau mencuri dari anak boyah sendiri, jangan anggap dia jenderal lagi.
07:14Saya yang bikin surat ke Jaksa Agung, tanya aja ke Jaksa Agung, aku yang bikin surat, saya yang selahkan ke
07:20Jaksa Agung.
07:23Ada berapa?
07:26Karena kita sudah kasih peringatan terus.
07:31Pemimpin harus kasih contoh.
07:36Baik, luar biasa Bapak.
Komentar