Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menilai reshuffle merupakan kewenangan Presiden. Ia meminta pergantian menteri tidak langsung dimaknai sebagai penilaian buruk terhadap menteri yang diganti.

Sugiat kemudian memberikan analogi pergantian pemain dalam pertandingan sepak bola.

Menurutnya, pergantian pemain di tengah pertandingan tidak selalu berarti pemain yang diganti memiliki kinerja buruk.

"Dalam sepak bola saja di pertengahan pertandingan ada pergantian pemain itu biasa. Bukan dalam konteks bahwa pemain yang diganti itu jelek kinerjanya, tidak. Tapi mungkin bahwa ada strategi-strategi baru," ungkapnya.

Sugiat menilai pergantian menteri juga bisa dilakukan karena pemerintah membutuhkan strategi berbeda sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Dalam konteks pergantian Menteri Keuangan, Sugiat juga menjelaskan alasan dirinya melihat sosok pengganti Purbaya memiliki kekuatan dari sisi teknokrasi dan tata kelola fiskal.

Sugiat melihat saat ini pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar alasan Purbaya diganti, melainkan bagaimana kebijakan Menteri Keuangan yang baru dapat menjawab tantangan pemerintahan ke depan.

Sugiat mengatakan Menteri Keuangan yang baru mendapat pesan dari Presiden terkait tata kelola fiskal.

Fokusnya antara lain menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN serta mendukung program-program pemerintah.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/rrPIGe9iTKo



#menkeu #purbaya #reshuffle

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/691127/purbaya-direshuffle-sebagai-menkeu-gerindra-ungkap-strategi-baru-prabowo-satu-meja
Transkrip
00:00Saya mau konfirmasi lagi, tadi sudah disampaikan, oh beginilah posisinya, kalimat mengan dapat diandalkan itu bukan, tapi untuk merespon.
00:09Tapi saya mau nanya ke Partai Demokrat nih, dengan situasi, dengan gaya kepemimpinan Pak Prabowo, dengan kompleksitas persoalan, tadi disebut
00:15salah satu yang mendadak dan sebagainya, Partai Demokrat masih nyaman gak sih?
00:19Nyaman Mas?
00:20Nyaman ya?
00:20Karena begini.
00:21Jangan karena depan Mas Giat loh.
00:23Ini kita.
00:24Dan memang di DPR misalnya, saya karena kebetulan di DPR, di DPR memang Demokrat dan seluruh Partai Koalisia masih sangat
00:33solid, masih sangat bersatu untuk mendukung segala kebijakan dari pemerintahan Pak Prabowo.
00:38Saya pikir apa yang disampaikan Mas Umam itu nyaman ya dari lubuk hati yang paling dalam itu.
00:42Bapak-bapak berdua ini kalau melihatkan hari ini, kemarin Senin itu kan sebenarnya tidak hanya satu nama perubaya kan.
00:49Muncul, ada menhudlah, ada beberapa nama lah yang akan diganti.
00:53Yang Trinanta cuma satu gitu.
00:55Melihat seperti ini, partai politik, ya sudahlah harus siap-siap diganti.
00:59Atau, ya sudah ini kami, kenapa?
01:02Karena itu tadi, kami tadi memulai dengan apa ya alasnya dicopot?
01:07Jawabannya tentu bukan hanya hak perubaya Presiden.
01:10Singkat aja.
01:11Ya kalau saya begini, tetap instrumen itu resabel instrumen yang dimiliki oleh Presiden kan.
01:17Ya saya pikir begini, pertanyaannya kenapa misalnya Pak Purubaya dicopot.
01:22Tapi saya pikir supaya lebih prospektif pertanyaannya, kenapa harus Suhasil Najara?
01:28Ya, itu tadi yang saya tanyakan kan.
01:30Karena lebih berorientasi masa depan itu kan.
01:32Ketimbang misalnya kita mencari alasan kenapa Pak Purubaya dicopot.
01:36Nanti spekulasi-spekulasi yang beredar.
01:38Terkait dengan dana antara, cara komunikasi, terkait dengan transfer keuangan daerah, dan lain sebagainya.
01:43Kalau penjelasan dari Pak Suhasil Najara ketika dia dilantik,
01:47bahwa ada pesan Presiden yang itu terkait dengan tata keluar lapis kali kita.
01:51Pesannya kan bagaimana APBN kita sehat, bagaimana APBN kita kredibel,
01:56dan yang paling penting adalah bagaimana APBN kita itu mampu mendorong dan mendukung program-program.
02:02Kalau sampai di Pak Purubaya dan Pak Suhasil nggak ada masalah.
02:04Tapi kalau menyangkut menteri-menteri lain yang diperlukan.
02:06Kalau itu spekulasi lagi kan.
02:08Saya pikir kita tunggu saja misalnya.
02:10Tunggu saja ya, anak keputusan dari Presiden kan.
02:12Saya ingin menegaskan terkait dengan resabel yang kemarin.
02:15Saya yakin dan percaya ada optimisme pasar, ada optimisme publik.
02:19Misalnya ketika, ini kan biasa.
02:21Dalam sepak bola saja, di pertengahan pertandingan ada pergantian pemain itu biasa.
02:25Bukan dalam konteks bahwa pemain yang diganti itu jelek kinerjanya, tidak.
02:30Tapi mungkin bahwa ada strategi-strategi baru.
02:31Tapi kan biasanya kalau pergantian pemain kita bisa lihat, oh cedera, oh kena kartu kuning.
02:35Ya itu salah satu alasan, salah satu faktor.
02:38Tapi bisa juga bahwa ada dinamika atau strategi baru yang harus dimainkan.
02:42Kalau pakai dinamika atau strategi yang lama ini nggak jalan.
02:45Karena kondisinya mungkin sudah berbeda.
02:47Kalau kita lihat misalnya Pak Suhasil Najara, itu kan kekuatannya misalnya di katakanlah keberlangsungan kelembagaan.
02:55Bahwa beliau orang lama di tata kelola piscala kita, pernah jadi kepala kebijakan fiskal, jadi wamen sangat lama, guru besar
03:03ekonomi dan lain sebagainya.
03:04Saya pikir perlu orang seperti itu untuk kondisi ke depan.
03:07Atau kemudian misalnya bahwa dia kemampuan kredibilitas teknokratisnya juga sangat diperlukan.
03:13Oke, lalu bagaimana kita bisa memaksimalkan kabinet merah putih?
03:18Satu meja akan kembali usaha jeda.
Komentar

Dianjurkan