Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Asap kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian. Tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di wilayah yang terdampak kebakaran, asap karhutla juga dapat bergerak hingga melintasi batas negara dan mencapai wilayah negara tetangga.

Lantas, bagaimana asap dari kebakaran hutan dan lahan bisa menempuh jarak sejauh itu? Apakah semata-mata karena luasnya kebakaran, atau ada faktor lain yang membuat asap terbawa hingga ke negara tetangga?

Api yang membakar kawasan hutan dan lahan menghasilkan asap dalam jumlah besar. Kondisi ini dapat diperparah ketika kebakaran berlangsung di area yang luas dan sulit dipadamkan.

Asap karhutla membawa berbagai partikel yang dapat menurunkan kualitas udara. Bagi masyarakat di sekitar lokasi kebakaran, kondisi ini dapat mengganggu jarak pandang, aktivitas sehari-hari, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

Namun, dampak karhutla tidak selalu berhenti di wilayah yang terbakar.

Asap yang berada di atmosfer dapat bergerak mengikuti kondisi angin. Ketika arah angin membawa massa udara ke wilayah lain, asap dapat menyebar semakin jauh dan bahkan melintasi batas negara.

Inilah yang kemudian membuat karhutla menjadi persoalan lintas batas.

Ketika asap mencapai negara tetangga, dampaknya dapat dirasakan melalui penurunan kualitas udara dan terganggunya aktivitas masyarakat di wilayah tersebut.

Beberapa waktu lalu, Malaysia hingga Filipina dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kualitas udara tidak sehat tercatat terjadi di wilayah sekitar Kuala Lumpur dan sebagian wilayah Sarawak.

Kabut abu-abu tipis menyelimuti Kuala Lumpur, termasuk sejumlah landmark ikonik seperti Menara Kembar Petronas dan Menara Kuala Lumpur.

Menteri kehutanan raja juli antoni menjelaskan situasi tersebut dipengaruhi arah angin yang bergerak ke wilayah-Wilayah tersebut.

Lantas, mengapa asap karhutla bisa bergerak hingga sejauh itu? Simak pembahasan berikut ini.

#kathutla #kabutasap

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688849/mengapa-kabut-asap-karhutla-dari-indonesia-bisa-sampai-ke-negara-tetangga-mbg
Transkrip
00:10Mereka punya peran juga dalam munculnya kebakaran hujan ini.
00:14Terkait dengan kesehatan, kemudian pendidikan anak-anak, dan rehabilitasi bukan hanya hutannya,
00:22tapi tempat-tempat yang terdampak oleh kebakaran.
00:26Jadi semua ini all out war ya, perang bersama.
00:30Asap kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian.
00:33Tak hanya menganggu aktivitas masyarakat di wilayah yang terdampak kebakaran,
00:37asap karhutlah juga dapat bergerak hingga melintasi batas negara dan mencapai wilayah negara tetangga.
00:43Lantas, bagaimana asap dari kebakaran hutan dan lahan bisa menempuh jarak sejauh itu?
00:49Apakah semata-mata karena luasnya kebakaran atau ada faktor lain yang membuat asap terbawa hingga ke negara tetangga?
00:56Api yang membakar kawasan hutan dan lahan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
01:01Kondisi ini dapat diperparah ketika kebakaran berlangsung di area yang luas dan sulit dipadamkan.
01:07Asap karhutlah dapat menurunkan kualitas udara.
01:11Apakah dari jurnalisme data harian kompas juga menangkap begitu?
01:15Karena ini kan beritanya sangat besar, karena memang luasnya kebakaran dan juga berdampak kemana-mana.
01:24Apakah jurnalisme data harian kompas juga menangkap khusus untuk di Pulau Kalimantan?
01:28Ini ada keberulangan kebakaran ataupun titik panas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya?
01:32Ya, mungkin tidak kita tidak ditemukan di halaman satu ini ya.
01:37Nah ini bisa lihat di halaman belakang, ini kadang-kadang melupakan ya, melupakan halaman belakang karena paling belakang.
01:44Dan ini baru pertama kali kompas menyajikan peta Indonesia dalam posisi horizontal ya,
01:52posisi horizontal ya, karena biasanya kan begini ya.
01:54Nah kalau kita lihat, memang yang di belakang ini Pulau Kalimantan itu yang paling depan ya,
02:01ini kan petanya titik panas ya, titik panas tahun 2026.
02:05Yang kuning itu di area yang tidak pernah terbakar, yang merah pernah terbakar.
02:09Nah kalau kita lihat yang ini, kuning yang di sini ini di Kalimantan Barat ini,
02:14ini baru pertama kali terbakar tahun 2026.
02:17Jadi artinya, paling tahun ini nih, entah kenapa Kalimantan Barat itu paling banyak kebakarannya.
02:24Kalau sebelumnya, mungkin dibaliknya Kalimantan Tengah ya, luasannya ya.
02:29Ini dilihat berulangnya, kebakaran berulang, ini 2011 sampai 2025, ini paling banyak ada di Kalimantan Tengah.
02:36Nah mungkin nanti harus jadi perhatian pemerintah juga,
02:40kenapa sekarang ini muncul banyak di Kalimantan Barat.
02:43Oke, kalau kita melihat datanya, Mbak Putri, ini dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
02:51bahkan sampai ke ujung selatan Papua ya, ini terdapat titik merah.
02:55Kalau kita berbicara soal data begitu, perluasan api dan juga berulangnya kebakaran,
03:02itu seperti apa detailnya?
03:05Jadi kalau kita lihat, memang kalau se-Indonesia ini sebenarnya kalau yang terbakar bukan hanya Kalimantan ya,
03:12ini semua, hampir semua di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, ini juga ada titik merahnya.
03:17Nah kalau dari data, memang paling luas area terbakar itu Kalimantan Barat,
03:22kemudian kedua adalah Sumatera Selatan, jangan dilepakan ya, Sumatera Selatan itu ada di sini,
03:27ini juga terluas.
03:30Kemudian ada di Papua Selatan yang merah di ujung kanan ya.
03:33Nah, ini apa namanya,
03:38tiga provinsi itu selama 2011-2025 itu,
03:42luasan karutatnya berulang itu paling tinggi dibandingkan provinsi yang lain.
03:46Jadi kan artinya, kenapa selalu berulang di tiga provinsi itu kan?
03:52Mana saja tadi?
03:53Dari di Kalimantan, kalau yang berulang sering itu di Kalimantan Tengah,
03:57kemudian Sumatera Selatan dan Papua Selatan yang paling ujung ini.
04:00Nah tahun ini, paling banyak ada di Kalimantan Barat.
04:04Oke.
04:06Bagi masyarakat di sekitar lokasi kebakaran,
04:09kondisi ini dapat mengganggu jarak pandang,
04:11aktivitas sehari-hari hingga meningkatkan resiko gangguan kesehatan
04:15terutama pada kelompok rentan.
04:16Namun, dampak karutat tidak selalu berhenti di wilayah yang terbakar.
04:21Asap yang berada di atmosfer dapat bergerak mengikuti kondisi angin.
04:25Ketika arah angin membawa masa udara ke wilayah lain,
04:28asap dapat menyebar semakin jauh dan bahkan melintasi batas negara.
04:33Seperti wilayah Malaysia hingga Filipina,
04:36yang beberapa waktu lalu dilanda kabut asap
04:38akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
04:42Kualitas udara tidak sehat tercatat terjadi di wilayah sekitar Kuala Lumpur
04:47dan sebagian wilayah Sarawak.
04:49Kabut abu-abu tipis menyelimuti Kuala Lumpur,
04:52termasuk sejumlah landmark ikonik
04:54seperti Menara Kembar, Petronas, dan Menara Kuala Lumpur.
04:58Indonesia agak rumit juga menangani ya,
05:03karena luasnya wilayah.
05:04Tapi perlu juga disadarkan bahwa Malaysia, Singapura juga punya keben juga di Indonesia.
05:11Ya jangan memprotes, tapi ikut dong mencegahan.
05:15Dia buka sawit juga di sini, baik perusahaan maupun orang per orang.
05:20Nah, jadi jangan asal protes loh.
05:23Nah, itu kira-kira.
05:24Justru menurut kita, ya mereka punya peran juga dalam munculnya kebakaran hutan ini.
05:31Di sisi kenegaraan, kita boleh minta maaf dan butuh bantuan,
05:36tapi dari sisi perilaku di lapangan, mereka juga punya peran di situ.
05:41Ketua DPR RI, Puan Maharani merespon wacana agar kebakaran hutan dan lahan
05:46ditetapkan sebagai bencana nasional di tengah sorotan dampak asap kebakaran
05:50yang turut dirasakan negara tetangga, termasuk Malaysia dan Filipina.
05:54Puan menyebut pemerintah telah melakukan langkah-langkah koordinasi
05:57untuk menangani kah hutan.
05:59Ya, saat ini kan sudah dilakukan langkah-langkah koordinasi
06:07untuk mengatasi hal tersebut.
06:10Jadi, saya rasa pemerintah sudah melakukan langkah-langkah yang harus dilakukan.
06:15Namun, dari DPR tentu saja kami akan meminta kepada pemerintah
06:20untuk bisa mengantisipasi dan melakukan langkah-langkah yang lebih efektif
06:25terkait dengan karbut lainnya dan dilakukan, dikoordinasikan oleh para menepunya
06:32dengan kementerian terkait.
06:35Karena bukan hanya saat ini saja atau kebakarannya saja,
06:41namun nanti paska sesudah selesai kebakarannya itu,
06:45apa yang akan dilakukan terkait dengan kesehatan,
06:48kemudian pendidikan anak-anak, dan rehabilitasi bukan hanya hutannya,
06:54tapi tempat-tempat yang terdampak oleh kebakaran.
06:59Mbak, ini kan ada protes juga dari Malaysia ya, Mbak?
07:01Nah, ini ada sikap tegasnya di depan.
07:03Ya, nanti saya akan koordinasikan, meminta kepada kementerian,
07:09khususnya kementerian luar negeri,
07:10untuk bisa melakukan komunikasi yang efektif dan baik
07:16untuk bisa memberikan masukan atau koordinasi terkait dengan hal ini.
07:22Karena biasanya terjadinya kebakaran di Kalimantan ini,
07:29memang efeknya itu akan juga terdampaknya penegara-negara tetangga.
07:51Kita hormati hukum yang sudah dilakukan untuk di internal tanya ke DPP.
08:01Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan
08:05situasi yang terjadi dipengaruhi oleh arah angin
08:07yang bergerak ke wilayah-wilayah negara tetangga.
08:10Pak Presiden mengatakan kepada kita,
08:12fokus utama pemerintah Indonesia di dalam pendengar Kalimantan Kehutanan
08:16adalah untuk keselamatan rakyat Indonesia.
08:21Bahwa kemudian kita bisa jaga atau kontrol Kalimantan Kehutanan kita,
08:26asap kita,
08:28kemudian tidak terjadi trans boundary haze,
08:34Alhamdulillah.
08:35Tentu kita sebagai masyarakat yang memiliki hubungan baik
08:41dengan negara tetangga,
08:42kita akan berjuang bersama dan boleh dilihat,
08:46mungkin di sini tidak terbaca,
08:49kebakaran itu tidak terjadi di kita saja.
08:51Di Sarawak itu juga terjadi kebakaran hutan.
08:52Cuma ini arah angin nih, kebetulan.
08:53Kok kebetulan sekali?
08:55Arah anginnya kebetulan memang naik ke atas.
08:58Kalau seandainya arah anginnya dari sini,
09:00ini menurut teman-teman dari LH juga,
09:03ini kebakaran yang terjadi di sini,
09:05juga akan masuk ke Indonesia.
09:06Karena memang asap gak ada KTP-nya gitu mas,
09:10kira-kira gitu kan.
09:10Jadi kita tahu ya kan kita akan berjuang.
09:12Semasih mungkin ya,
09:14kita tidak akan memberikan dampak negatif atau mudarat
09:16kepada tetangga kita,
09:17tapi perintah Presiden ya,
09:20apa yang kita kerjakan hari ke hari,
09:21TNI, PORI, Manggala Agni ini
09:24untuk mengelindungi masyarakat kita,
09:26masyarakat Indonesia.
09:28Pak Mawin, ada teman?
09:30Cukup Pak?
09:32Oke, teman-teman?
09:35Terima kasih banyak.
09:36Sekali lagi mohon dukungan ya,
09:37mohon dukungan agar September ini
09:41masyarakat kita dapat lebih teredukasi,
09:44baik yang masyarakat kecil maupun yang gede-gede,
09:47perusahaan-perusahaan gede,
09:48untuk tidak melakukan land clearing
09:50pada masa kering semacam ini.
09:53Dan semoga trend tadi,
09:55lihatin lagi mas,
09:55trend tadi,
09:57trend kita ini,
09:58terus bisa kita tekan ya,
10:00dengan lima hal yang saya katakan tadi
10:02harus berjalan secara integrasi
10:04secara simulkan.
10:05Ini ada data-data lain,
10:06silakan nanti teman-teman bisa ambil.
10:08Next.
10:09Ini detailnya ya,
10:11nanti di Kalimantan Barat itu,
10:12next, next, next, next.
10:13Ini detailnya nih,
10:15ini,
10:16ini ya,
10:18di Riau,
10:18ini udah nol,
10:20udah nol,
10:21oke, next.
10:23Nah ini di Jambi,
10:26ini detailnya,
10:26silakan kalau mau foto,
10:28ya,
10:29Sorolangun,
10:30ini udah nol ya,
10:32oke,
10:34udah nol kan,
10:36Sorolangun,
10:37ini,
10:38ini,
10:38ini,
10:39ini,
10:40tabulasi dari si Pongi,
10:41jadi kalau kita lihat si Pongi,
10:42kita teman-teman harus ngerjain sendiri.
10:44Ya,
10:45oke,
10:45ini jumlah total selama Agustus,
10:48ya,
10:49ini jumlah totalnya,
10:50ini hariannya,
10:51tanggal 1 sampai tanggal 31.
10:53Ini Jambi,
10:54next,
10:56Sumatera Selatan,
10:58ini,
10:59terakhir,
10:59Sumatera Selatan,
11:00yang paling tinggi,
11:03Oki,
11:03saya kemarin ke Oki,
11:04ya,
11:05saya langsung datang ke Oki,
11:06bulan ini saya udah dua kali ke Oki,
11:08ya,
11:08bulan ini saya udah dua kali ke Oki,
11:09karena memang selalu tinggi,
11:11yang paling tinggi Oki,
11:12kemudian Musi Banyu Asin,
11:15nol,
11:16oh,
11:16sebenarnya ini lima ini,
11:18rankingnya agak salah ini,
11:19rankingnya salah nih mas,
11:20ini ada Banyu Asin lima ternyata,
11:23dan kemudian ada,
11:26apa nih,
11:29Lematang Gilir,
11:31Pali,
11:31oh, singkatan di Pali ya,
11:32sebetulnya bilang Pali,
11:34oh,
11:35ini ranking total ya,
11:36oh,
11:36ranking total,
11:36ranking harian,
11:38ini ranking harian nih,
11:40Kalimantan terakhir,
11:42Kalimantan,
11:42Kalimantan Barat,
11:43ini teman semua,
11:45ya,
11:46ini yang paling tinggi,
11:48Ketapang,
11:50Sanggau Melawi,
11:51ya,
11:52105,8,
11:56Kuburaya,
11:58oh,
11:58hari kemarin 39,
11:59ya,
11:59ya,
12:00ini Kuburaya ini yang perbatasan dengan Pontianak,
12:03ya,
12:03dan karena itu,
12:04saya kira di sini juga battleground kita ini,
12:07oke,
12:08next,
12:11Kalimantan Tengah,
12:12yang paling tinggi,
12:13Kota Waringin Timur,
12:17kemudian Kapuas,
12:18dan kemudian,
12:20ya,
12:20sama lah ini,
12:20empat-empat ya,
12:21Katingan ya,
12:22ada Katingan,
12:23ada Palangkaraya,
12:24lain sebagainya,
12:25jadi sekali lagi ini data transparan,
12:26terbuka,
12:27ya,
12:27accountable,
12:28ya,
12:28tidak ada yang ditutupi,
12:29dan kita share kepada teman-teman media,
12:31kepada publik,
12:32untuk bagian dari akuntablet sudah,
12:34demikian dari kami,
12:35sekali lagi,
12:36makasih banyak Pak Awamen,
12:38yang luar biasa,
12:38Pak Awamen ini yang memimpin war room,
12:40yang mengingatkan dirjen,
12:42mengingatkan kepala balai semua,
12:44ya,
12:44untuk bergerak,
12:45dari sini,
12:46saya di lapangan,
12:46ya,
12:47saya besok,
12:48kalau ada teman-teman media,
12:48boleh juga,
12:49bergantian nanti,
12:51besok saya ke Jambi,
12:54Lusa saya ke Kalimantan Barat,
12:56besoknya lagi ke Kalimantan Tengah,
12:58minggu depan lagi kita akan,
12:59saya akan clean lagi sesuai dengan,
13:01Jambi masih kosong,
13:02tapi kita akan tetap,
13:04apa namanya,
13:05datangi,
13:06karena ada beberapa hal,
13:07yang harus kita selesaikan,
13:08untuk menyelesaikan,
13:09menyatukan pasukan darat di sana,
13:11jadi terus,
13:11meskipun nol,
13:12hari ini,
13:13saya besok datang dengan kepala BNPB,
13:15boleh,
13:15teman-teman media,
13:16lihat bagaimana realitas lapangan,
13:18sehingga tidak hanya melihat,
13:19dari ruangan yang ber-AC ini,
13:21makasih,
13:23oke,
13:24yang terakhir juga,
13:24ini tambahan,
13:25kami juga mem-BKO kan,
13:27mendeploy,
13:29polisi hutan,
13:30dan staff-staff yang ada,
13:31di UPT-UPT,
13:32untuk membantu,
13:34teman-teman menggalai untuk pemadaman,
13:36baik itu,
13:36langsung melakukan pemadaman,
13:40maupun logistik,
13:41transportasi,
13:42maupun medis,
13:43maupun olahandata,
13:44jadi semua ini,
13:45all out war ya,
13:46perang bersama,
13:47dan September ini,
13:48sekali lagi ini adalah,
13:49ladang perjuangan,
13:49dimana kita harus menangkan,
13:51angka karhutlahnya rendah,
13:53apinya padam,
13:54dan masyarakat yang terdampak,
13:55insya Allah,
13:55akan berkurang.
13:57Menurut Menhut Raja Juli,
13:59pemerintah akan terus berjuang,
14:01untuk mencegah transbonderi heis,
14:03atau pencemaran kabut asap,
14:05lintas batas terkait karhutlah.
14:07Raja Juli juga mengatakan,
14:08Indonesia bersama negara tetangga,
14:10juga akan berjuang bersama,
14:12terkait hal ini.
14:17Cara baru nonton di Smart TV,
14:20nonton live streaming,
14:21dan ribuan tayangan Kompas Gramedia,
14:24langsung dari Smart TV kamu.
14:26Cara installnya,
14:27buka Google Play Store di Smart TV kamu.
14:30Cari Kompas TV,
14:31melalui pencarian.
14:33Pilih aplikasi,
14:35lalu install.
14:36Selesai,
14:37kamu bisa menonton video,
14:38video pilihan editorial Kompas TV.
14:40Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga.
Komentar

Dianjurkan