Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 14 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Teori mengenai adanya dalang di balik berbagai peristiwa politik dinilai bukan hal baru di Indonesia.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti mengatakan sejak era Orde Baru, sejumlah peristiwa politik kerap dikaitkan dengan adanya pihak tertentu yang mengendalikan gerakan massa dari belakang layar.

"Yang saya mau katakan begini. Kalau dilihat dari polanya ini sekarang mestinya kita sudah mulai beralih dari cara melihat dalang di luar. Jangan-jangan sebetulnya dalangnya ada di dalam," ujar Ray Rangkuti di Bola Liar KompasTV, Jumat (5/9/2026). (timecode 00:42)

Sementara itu Guru Besar Universitas Bhayangkara Hermawan Sulistyo menilai terdapat sejumlah jejak yang semestinya dapat digunakan untuk mengungkap pihak yang berada di balik suatu peristiwa.

"Nah, ini kan gampang ditelusuri. Kenapa ada instrumen-instrumen untuk melihat ini ke perintahnya dari siapa, HP-nya nomor berapa, namanya siapa. Ada kok semua. Masalahnya ada keberanian untuk mengungkap. Kita punya kompolnas, kita punya Komnasham," kata Prof Sulistyo. (timecode 4:32)

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Rizaldi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/689144/dalang-kerusuhan-tak-terungkap-ray-rangkuti-jangan-jangan-ada-orang-dalam
Transkrip
00:00Tapi, saya kira supaya tidak terlalu panjang, saya mau mengatakan begini, teori dalang itu sudah lama dikemukakan oleh kita, bahkan
00:09itu sejak dari orde baru.
00:11Selalu saja ada peristiwa politik besar, selalu dikaitkan dengan ada dalang di belakangnya.
00:16Tapi hingga hari ini, saya kira belum ada satu pun peristiwa politik yang melibatkan masa, yang betul-betul diungkap dalangnya
00:26siapa.
00:28Itu sampai sekarang, itu hanya jadi cap bagi semua gerakan untuk disebut ada dalang di belakang, ada di belakang.
00:36Tidak usah jauh-jauh, 2025 pun kita belum tahu dalangnya siapa, nanti kita bahas lebih jauh soal itu ya Bang
00:40Reh.
00:40Tunggu satu lagi, yang saya mau katakan begini, kalau dilihat dari polanya ini, sekarang mestinya kita sudah mulai beralih dari
00:49cara melihat dalang di luar, jangan-jangan sebetulnya dalangnya ada di dalam.
00:54Jangan-jangan dalangnya sebetulnya ada di dalam, Prof. Sule. Jadi melihatnya bahwa ini murni, kriminal atau sebenarnya memang benar-benar
01:02ada operasi politik.
01:04Maksudnya Rai itu, di dalam Budi Ari.
01:08Saya belum ke sana, mas Kini.
01:10Oh, akan ke sana.
01:12Saya tarik dulu, kalau sebelumnya kan selalu disebut dalang itu di luar kan?
01:17Karena selalu menyebut teori dalang itu mesti pejabat pemerintah.
01:20Atau jangan Budi Ari lah, muni gitu ya.
01:23Nah sekarang, kalau dari peristiwa Agustus ke peristiwa Agustus 2026, nggak terungkap dalangnya yang di luar, kan sekarang harus kita
01:34ubah cara berpikirnya, jangan-jangan dalangnya ada di dalam.
01:38Sebetulnya, ini kan kurat-kurat dalam perahu nih.
01:41Semua udah tahu kok.
01:43Cuma nggak mau ngomong atau tidak berani ngomong.
01:47Rai aja.
01:48Eh, iya rai aja nggak berani ngomong.
01:52Kalau saya kan demi sopan santun, saya nggak ngomong.
01:55Jadi, Anda memang melihat sangat tegas bahwa memang di dalam, orang dalam.
02:02Iya.
02:03Orang dalam kan bukan cuma satu orang.
02:04Kenapa bisa begitu?
02:05Kenapa?
02:06Siapa yang berkepentingan untuk situasi seperti itu?
02:11Siapa, Prof?
02:12Ya, orang-orang itu tadi.
02:14Jadi, kita cari misalnya ya, kalau dulu dengan membuat kerusuhan, konten terbatas.
02:22Jadi, contoh Malari, ya, itu dibakar Senen.
02:29Kemudian, kenapa di stopnya itu tidak ke arah Menteng?
02:36Tapi, yang ke arah Pasar Senen, itu dilepasin sehingga masyarakat terbatas.
02:43Kenapa?
02:44Kalau yang dilepas itu ke arah Menteng, itu menjadi tidak terkontrol.
02:49Jadi, desainnya itu jelas kita bikin rusuh, kita batasi supaya kerusuhannya itu bisa dikendalikan.
02:57Nah, yang menjadi persoalan adalah, kalau tipe crowd, kerumunan berubah menjadi riots, menjadi brawl, tawuran, dan menjadi riots, menjadi kerusuhan,
03:09itu tidak mungkin terkontrol.
03:10Nah, ini, kasus yang ini adalah, lihat, polanya sama-sama sebelum-sebelumnya, itu mahasiswa demo, ya, minus UI, ya.
03:25UI kan sudah seperti ayam sayur kalau bagi anak-anak yang lain.
03:29Karena apa?
03:32Pakai alegoris, demo alegoris itu seperti karnaval, karnaval tujuh belasan, tidak punya tekanan politik.
03:40Nah, itu makanya juga ditinggal.
03:43Ini saya membeberkan fakta, loh, ya, bukan ngomporin anak-anak.
03:48Kalau kena kompor, ya, salahnya sendiri, gitu, kan.
03:51Nah, jadi, ini ditinggalkan.
03:55Anak-anak mahasiswa yang biasa bertarung, mulai jam 10 pagi, itu paling lama itu jam 4 udah teler, udah capek.
04:05Artinya selebihnya adalah?
04:07Nah, selebihnya pasti gelombang lain.
04:10Jadi, polisi itu jangan jaga mahasiswa.
04:15Kalau alegoris, ya, gebu-gebu kan itu biasa lah, gitu, ya.
04:18Sampai jam 3, jam 4, gitu.
04:21Yang harus diseriosi, dijaga itu setelah jam 4, jam 5, apalagi setelah tutup jam 6, gak boleh demo lagi.
04:28Nah, ini kan gampang ditelusuri.
04:32Kenapa?
04:33Ada instrumen-instrumen untuk melihat ini perintahnya dari siapa, HP-nya nomor berapa, namanya siapa, ada kok semua.
04:44Masalahnya, ada keberanian untuk mengukur, gak?
04:47Kita punya kompolnas, kita punya komnasam, ya.
04:51Jadi, maksudnya kompolis gak berani?
04:53Polisi gak berani?
04:55Kalau kompolis setengah, setengah berani.
04:57Kalau komnasam gak berani?
04:59Pak Reb, Anda disampaikan.
Komentar

Dianjurkan