00:00Tapi, saya kira supaya tidak terlalu panjang, saya mau mengatakan begini, teori dalang itu sudah lama dikemukakan oleh kita, bahkan
00:09itu sejak dari orde baru.
00:11Selalu saja ada peristiwa politik besar, selalu dikaitkan dengan ada dalang di belakangnya.
00:16Tapi hingga hari ini, saya kira belum ada satu pun peristiwa politik yang melibatkan masa, yang betul-betul diungkap dalangnya
00:26siapa.
00:28Itu sampai sekarang, itu hanya jadi cap bagi semua gerakan untuk disebut ada dalang di belakang, ada di belakang.
00:36Tidak usah jauh-jauh, 2025 pun kita belum tahu dalangnya siapa, nanti kita bahas lebih jauh soal itu ya Bang
00:40Reh.
00:40Tunggu satu lagi, yang saya mau katakan begini, kalau dilihat dari polanya ini, sekarang mestinya kita sudah mulai beralih dari
00:49cara melihat dalang di luar, jangan-jangan sebetulnya dalangnya ada di dalam.
00:54Jangan-jangan dalangnya sebetulnya ada di dalam, Prof. Sule. Jadi melihatnya bahwa ini murni, kriminal atau sebenarnya memang benar-benar
01:02ada operasi politik.
01:04Maksudnya Rai itu, di dalam Budi Ari.
01:08Saya belum ke sana, mas Kini.
01:10Oh, akan ke sana.
01:12Saya tarik dulu, kalau sebelumnya kan selalu disebut dalang itu di luar kan?
01:17Karena selalu menyebut teori dalang itu mesti pejabat pemerintah.
01:20Atau jangan Budi Ari lah, muni gitu ya.
01:23Nah sekarang, kalau dari peristiwa Agustus ke peristiwa Agustus 2026, nggak terungkap dalangnya yang di luar, kan sekarang harus kita
01:34ubah cara berpikirnya, jangan-jangan dalangnya ada di dalam.
01:38Sebetulnya, ini kan kurat-kurat dalam perahu nih.
01:41Semua udah tahu kok.
01:43Cuma nggak mau ngomong atau tidak berani ngomong.
01:47Rai aja.
01:48Eh, iya rai aja nggak berani ngomong.
01:52Kalau saya kan demi sopan santun, saya nggak ngomong.
01:55Jadi, Anda memang melihat sangat tegas bahwa memang di dalam, orang dalam.
02:02Iya.
02:03Orang dalam kan bukan cuma satu orang.
02:04Kenapa bisa begitu?
02:05Kenapa?
02:06Siapa yang berkepentingan untuk situasi seperti itu?
02:11Siapa, Prof?
02:12Ya, orang-orang itu tadi.
02:14Jadi, kita cari misalnya ya, kalau dulu dengan membuat kerusuhan, konten terbatas.
02:22Jadi, contoh Malari, ya, itu dibakar Senen.
02:29Kemudian, kenapa di stopnya itu tidak ke arah Menteng?
02:36Tapi, yang ke arah Pasar Senen, itu dilepasin sehingga masyarakat terbatas.
02:43Kenapa?
02:44Kalau yang dilepas itu ke arah Menteng, itu menjadi tidak terkontrol.
02:49Jadi, desainnya itu jelas kita bikin rusuh, kita batasi supaya kerusuhannya itu bisa dikendalikan.
02:57Nah, yang menjadi persoalan adalah, kalau tipe crowd, kerumunan berubah menjadi riots, menjadi brawl, tawuran, dan menjadi riots, menjadi kerusuhan,
03:09itu tidak mungkin terkontrol.
03:10Nah, ini, kasus yang ini adalah, lihat, polanya sama-sama sebelum-sebelumnya, itu mahasiswa demo, ya, minus UI, ya.
03:25UI kan sudah seperti ayam sayur kalau bagi anak-anak yang lain.
03:29Karena apa?
03:32Pakai alegoris, demo alegoris itu seperti karnaval, karnaval tujuh belasan, tidak punya tekanan politik.
03:40Nah, itu makanya juga ditinggal.
03:43Ini saya membeberkan fakta, loh, ya, bukan ngomporin anak-anak.
03:48Kalau kena kompor, ya, salahnya sendiri, gitu, kan.
03:51Nah, jadi, ini ditinggalkan.
03:55Anak-anak mahasiswa yang biasa bertarung, mulai jam 10 pagi, itu paling lama itu jam 4 udah teler, udah capek.
04:05Artinya selebihnya adalah?
04:07Nah, selebihnya pasti gelombang lain.
04:10Jadi, polisi itu jangan jaga mahasiswa.
04:15Kalau alegoris, ya, gebu-gebu kan itu biasa lah, gitu, ya.
04:18Sampai jam 3, jam 4, gitu.
04:21Yang harus diseriosi, dijaga itu setelah jam 4, jam 5, apalagi setelah tutup jam 6, gak boleh demo lagi.
04:28Nah, ini kan gampang ditelusuri.
04:32Kenapa?
04:33Ada instrumen-instrumen untuk melihat ini perintahnya dari siapa, HP-nya nomor berapa, namanya siapa, ada kok semua.
04:44Masalahnya, ada keberanian untuk mengukur, gak?
04:47Kita punya kompolnas, kita punya komnasam, ya.
04:51Jadi, maksudnya kompolis gak berani?
04:53Polisi gak berani?
04:55Kalau kompolis setengah, setengah berani.
04:57Kalau komnasam gak berani?
04:59Pak Reb, Anda disampaikan.
Komentar