Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Aktivis Muda NU Roy Murtadho melihat persoalan hubungan NU dengan pemerintah dari perspektif teologis. Ia mengingatkan bahwa ketaatan kepada pemimpin bukanlah ketaatan tanpa batas.

Roy menilai, kebijakan pemerintah tetap perlu dikritisi apabila dinilai tidak sesuai dengan kepentingan rakyat.

Roy kemudian menegaskan bahwa persoalan utama yang perlu dibedakan adalah antara republik dan rezim yang sedang berkuasa.

"PBNU itu bela NKRI atau oligarki? Bela Indonesia atau penguasa? Kalau bela Indonesia pasti kepentingan rakyat yang harus didahulukan," katanya.

Menurut Roy, kritik terhadap pemerintah justru merupakan bagian dari kecintaan terhadap negara.

Pengamat Politik Adi Prayitno menilai, NU memiliki tradisi panjang dalam menjaga hubungan dengan negara. Namun, di tengah melemahnya kekuatan masyarakat sipil, NU justru perlu mengambil posisi lebih kritis.

Baca Juga MBG Dikritik, Aktivis: NU Harus Kritis, Bukan Diikat Kekuasaan | SATU MEJA di https://www.kompas.tv/talkshow/688696/mbg-dikritik-aktivis-nu-harus-kritis-bukan-diikat-kekuasaan-satu-meja

Menurut Adi, posisi tersebut penting karena saat ini semakin sedikit kekuatan masyarakat sipil maupun partai politik yang berani bersikap kritis.

Adi berharap NU dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan perspektif kritis, termasuk dengan menjaga struktur organisasinya dari kepentingan politik praktis.

"Bukan hanya soal menteri, tidak boleh jadi anggota dewan, tidak boleh jadi DPRD, tidak boleh juga misalnya jadi pengurus partai tertentu, dan seterusnya, dan seterusnya," jelasnya.

Di sisi lain, Aktivis NU Lukman Edy menawarkan perspektif berbeda. Ia menilai besarnya kekuatan NU membuat organisasi tersebut tidak cukup jika hanya berperan sebagai pengkritik pemerintah.

Lukman mengatakan bahwa potensi besar NU harus dimanfaatkan untuk berbagai peran, termasuk mengingatkan pemerintah ketika terdapat kebijakan yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/eJNXoZKls5Q


#pbnu #muktamarnu35 #prabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/688703/pbnu-diminta-kritis-ke-pemerintah-aktivis-bela-nkri-atau-oligarki-satu-meja
Transkrip
00:00Kita tegaskan bahwa kita itu punya track, kita itu punya kompas, kita itu punya manhaj.
00:09Tentang ada rekomendasi untuk merangkul semua elemen itu bagaimana?
00:14NO itu didirikan itu sangat-sangat inklusif, terbuka.
00:19Nah itu nanti ada persaratannya, bagaimana masuk ke dalam NO,
00:23di situ itu kita harus bersatu, kemudian ada kebersamaan.
00:28Itu inti daripada NO.
00:35Masih di satu menjadah forum, saya ke Mas Adi.
00:38Mas Adi, singkat aja pertanyaan saya.
00:41Dengan dinamika, dengan tadi sudah dijelaskan oleh Pak Lukman Edy,
00:46Gusro juga sudah menjelaskan ada hal, oke lah, sudah diputuskan.
00:49Dan Adi juga mengatakan kalau sudah diputuskan, ya sudah lah.
00:52Bagaimanapun kita harus takdim kepada GIAI, harus tunduk taat.
00:58Tapi pertanyaan adalah harapan selalu muncul, bagaimana sebetulnya PBNU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia,
01:06itu memposisikan diri.
01:08Sebagai mitra strategis, nah karena strategis ini kadang-kadang agak ini juga nih,
01:13atau kritis, kritis dalam arti ya kesepanjang untuk kepentingan Indonesia,
01:16tidak ada implikasi politiknya, tidak berniat buruk dalam memberikan kritik misalnya.
01:22Menurut Anda sebagai yang orang yang menyebut lah NU sejak dalam kandungan itu,
01:29gimana Anda mengatakan? Strategis atau kritis gitu harusnya?
01:33Kalau kita melihat kecenderungan secara umum Mas Yogi,
01:37sulit kita membayangkan NU itu menjadi mitra kritis.
01:39Kenapa?
01:40Karena pandangan-pandangan sosial, politik, dan keagamannya selama ini sangat moderat.
01:45Sebagai salah satu contoh misalnya, kita belum pernah mendengar para ulama,
01:49para KIAI, dan intelektual-intelektual NU secara mainstream,
01:53misalnya mencoba untuk mengkritisi soal hubungan antara Islam dan demokrasi,
01:57mencoba untuk membanding-bandingkan antara Islam dengan NKRI dan Pancasila.
02:00Sejak awal bagaimana negara ini berdiri,
02:04saya lihat secara umum memang kawan-kawan intelektual dan ulama NU selalu menganggap
02:08ada mutual interesting, ada mutual understanding antara NU dengan gagasan-gagasan kebangsaan.
02:15Ini clear dan fake, tapi pada setting bersamaan,
02:18generasi-generasi NU ini kan juga muncul dari kalangan-kalangan kelompok kritis,
02:22khususnya tergabung dalam kelompok-kelompok civil society,
02:25dan memang cukup lantang bagaimana mencoba untuk membawa NU itu
02:30sangat jauh berada di luar kekuasaan dan struktur pemerintahan.
02:34Ini adalah generasi kedua kita menyebutnya,
02:36yang saya kira memang ada harapan karena NU itu dinilai punya resource.
02:40Tanpa harus misalnya menjadi partner dan mitra strategis terhadap pemerintah,
02:44NU itu punya segala-galanya, empowering di bidang ekonomi.
02:48Kapan ini mulai dipikirkan bagaimana NU itu punya badan usaha milik Nahdlatul Ulama misalnya.
02:54Sebenarnya se-simple ini sih Mas Hadi,
02:55artinya kalau kita melihat ada satu rumah besar dengan tradisi yang cukup lama,
03:01bicara Indonesia, NU, sudahlah 100%, 1000%, NU pasti paham soal Indonesia dengan kekasannya.
03:09Tapi dalam dinamika pergembangan zaman bangsa,
03:12hari ini kan kita menghadapi kompleksitas tantangan gitu.
03:15Ada titik-titik tertentu di mana masyarakat itu perlu diberi pencerahan,
03:19perlu di-backup, tapi ini kan tidak muncul.
03:22Bukan semata-mata untuk mengadu, untuk selalu kontra dengan kekuasaan,
03:26tetapi mengawal kekuasaan adalah bagian demokrasi dan NU paham betul soal itu.
03:30Di sini tadi pertanyaan saya, strategis atau kritis?
03:33Karena kritis bukan berarti hubungan.
03:34Kalau masyarakat saya dan Gus Roy mungkin hampir sama,
03:37harus menjadi mitra kritis.
03:39Mitra kritis.
03:39Karena di tengah begitu banyak matinya kelompok-kelompok civil society yang kritis,
03:43dan bahkan nyaris tidak ada satupun partai politik yang berrekap kritis,
03:48maka orma sebesar NU harus tampil,
03:50di mana menjadi logomotif dan garda terdepan memberikan perspektif kritis.
03:55Tapi pandangan itu kan kemudian harus ambiar total,
03:58karena kalau dalam praktiknya,
04:00kita tahu bahwa unsur-unsur yang ada di PBNU
04:03adalah beliau-beliau dan mereka-mereka yang memang terafiliasi.
04:07Bagian dari kekuasaan politik,
04:08ada yang jadi menteri, kota umum partai,
04:10dan juga merangkap sebagainya.
04:12Dan itu ciri khas NU ada di mana-mana ya?
04:14Artinya apa?
04:15Saya sebenarnya sangat mengapresiasi kemarin,
04:17ketika ada satu keputusan bahwa
04:20elit-elit NU khususnya di bidang tertentu,
04:23itu misalnya tidak rangkap jabatan.
04:25Tapi ini kan hanya berlaku untuk Raisam dan kota umum.
04:27Saya berharap untuk struktur di bawahnya,
04:29Segen, kemudian Wasegen, Bendahara,
04:32dan struktur di bawahnya,
04:33itu memang harus terlepas dari unsur-unsur kekuasaan.
04:36Bukan hanya soal menteri,
04:38tidak boleh jadi anggota dewan,
04:39tidak boleh jadi DPRD,
04:41tidak boleh juga misalnya jadi pengurus partai tertentu,
04:43dan seterusnya, dan seterusnya.
04:44Supaya bisa clear.
04:46Tapi sepanjang ini tidak diputus pantarantainya,
04:49dalam praktiknya susah.
04:50Kita berharap NU itu akan menjadi mitra strategis, Mas Yogi.
04:53Saya akan ke, terima kasih,
04:55saya akan ke Gusro-Gusro,
04:57kan pernah lah ada di masa kepemimpinan Gus Yahya,
05:00ada kritikan keras,
05:02satu, terlalu diam,
05:04kedua, terlalu terlihat seperti menjadi penyangga kekuasaan,
05:08bukan penyangga keumatan dan bangsa, gitu.
05:11Yang terakhir adalah dipantik dengan konsesi tambang itu.
05:14Anda melihat seperti apa sebetulnya seharusnya posisi?
05:18Pertanyaannya kurang lebih sama dengan yang disampaikan ke Mas Adi.
05:21Ya, saya mau masuk di argumen teologisnya sebenarnya.
05:25Selama ini kan yang beredar di kalangan kita,
05:30satu pandangan bahwa kita harus taat kepada
05:34Amirul Muminin.
05:35Ya ayuhallatina amanu atiullah wa atiur rasul wa uwil amri minkum.
05:40Yang harus clear dalam ayat ini adalah
05:42taat kepada uwil amri itu diletakkan di nomor tiga.
05:47Kita harus taat kepada Allah sama rasulnya.
05:51Yang pertama.
05:52Yang kedua, kita harus ngecek juga
05:54uwil amri tadi ini taat kepada Allah apa tidak?
05:57Taat kepada rasul apa tidak?
05:59Nilai-nilai Islam dilanggar apa tidak?
06:01Saya berani bicara 99 persen
06:05rezim hari ini tidak merepresentasikan
06:07ketaatan kepada Allah dan rasulnya.
06:10Bagaimana Anda bisa mengatakan itu?
06:12Ya dalam semua aspek kebijakannya justru merugikan rakyat.
06:17Semua orang survei mengatakan tingkat populasi apa itu,
06:21popularitas Prabowo juga menurun.
06:23Sangat jatuh sekali.
06:26Riset-riset akademik dari jaringan LSM maupun kampus
06:30mengatakan bahwa banyak yang enggak puas.
06:32Dan ini pemborosan misalnya.
06:35Jadi menurut saya singkatnya,
06:37mitra strategis itu artinya bukan berarti
06:40enggak ngomong sama sekali ketika ada kesalahan.
06:43Yang kedua ya.
06:44Mitra kritis kalau kata Mas Adil.
06:46Yang kedua,
06:49pertanyaan saya bukan untuk NO sebenarnya,
06:51untuk PBNU.
06:51Untuk PBNU, oke.
06:53Dia klinik, bedakan NO dan PBNU.
06:55Ini pengurus besar.
06:56PBNU itu bela NKRI atau oligarki.
07:00Bela Indonesia atau penguasa.
07:02Kalau bela Indonesia,
07:03pasti kepentingan rakyat harus dahulukan.
07:07Dalam banyak kasus selama ini
07:08tidak menunjukkan itu.
07:10Konflik-konflik sosial ekologis,
07:12konflik kepentingan antara rakyat dengan penguasa,
07:15justru seringkali berpihak kepada
07:16kepada pihak penguasa.
07:18Ini yang menjadi kegelisahan kami ya.
07:21Yang kalau boleh, yang ketiga.
07:22Oke, boleh, boleh, boleh, boleh dong.
07:24Nah yang ketiga,
07:25ini mesti diletakkan dengan baik bahwa
07:29komitmen kita kepada Republik itu
07:31no debate ya.
07:32Oke.
07:32Sudah enggak ada.
07:36NU itu seribu persen memang harus
07:38membela Republik ini.
07:39Hanya yang membedakan adalah
07:40karakter kepengurusan setiap
07:42PBNU itu kan?
07:43Ya, yang harus dibedakan,
07:45komitmen kita kepada Republik
07:46enggak boleh ditawar.
07:47Tapi komitmen kepada rezim beda dong.
07:50Rezim dan Republik itu beda.
07:52Ini yang menurut saya harus di...
07:53Konteksnya adalah memberikan kritikan.
07:55Itu juga bagian menciptai dan mendukung
07:57rezim juga kan?
07:59Oke, saya ke Pak Lukman.
08:01Pak Lukman agak naik suhunya nih Pak Lukman.
08:04Dan saya yakin Pak Lukman bisa membawa pesan,
08:07menangkap pesan ini.
08:07Karena sebagai pelayan Kiai
08:09pasti akan menyuguhkan segala hal.
08:10Tolong disampaikan semuanya.
08:12Pertanyaannya sama kira-kira.
08:14Di kepengurusan ke depan itu akan
08:17menjadi mitra strategis atau mitra kritis?
08:21Atau Pak Lukman punya formulasi lain
08:23di kepengurusan baru ini?
08:29Karena kepengurusan baru kan belum terbentuk.
08:33Tapi kan kira-kira Tan Fidijah sama Roy Samir
08:36sudah terbentuk.
08:37Sudah terpilih.
08:38Tapi begini, kalau menurut saya
08:42terlalu besar mesin NU itu
08:46kalau hanya mau dijadikan sebagai
08:48sebuah organisasi pengkritik pemerintah.
08:51Nah, oleh sebab itu potensi yang ada di NU
09:00maupun potensi yang ada di PBNU itu
09:04harus dimaksimalkan perannya.
09:07Harus dimaksimalkan.
09:09Bukan hanya misalnya
09:13kalau perspektifnya perspektif
09:17Mas Ado misalnya
09:19jadi pengkritik,
09:20itu mungkin satu fungsi saja
09:23yang akan dijalankan oleh PBNU ke depan.
09:26Ketika ada kebijakan-kebijakan
09:28yang tidak sesuai dengan aspirasi keumatan,
09:33maka kemudian PBNU bisa berperan
09:38untuk mengingatkan pemerintah
09:40dan memberikan solusi-solusi
09:43apa yang sebaiknya dilakukan.
09:46Tetapi mesin besar NU ini
09:49harus juga bisa memainkan peran lain.
09:53Peran bagaimana program-program
09:56yang disusun pemerintah misalnya
09:58untuk apakah program jangka pendek tahunan,
10:01program jangka pendek lima tahunan
10:04atau program jangka panjang
10:0625 tahunan misalnya,
10:10itu adalah menjadi bahagian dari
10:17peran yang bisa dilakukan oleh PBNU.
10:23Karena begini,
10:25sebagai sebuah mesin yang besar
10:27dengan umat yang besar juga,
10:31bahkan sebahagian besar problem bangsa,
10:35problem kerayatan adalah menjadi problem
10:37bagi nahdiin,
10:40itu NU dan PBNU itu menjadi
10:44apa namanya,
10:46menjadi institusi yang penting.
10:51Jadi institusi yang penting
10:53demi suksesnya program-program
10:55Pak Luqman mau bilang bahwa
10:56PBNU tidak hanya melulu bicara kritis gitu ya?
11:01Tapi juga memberikan solusi berpartisipasi gitu,
11:05menggerakkan nahdiin yang jumlahnya jutaan.
11:07Mesin NU itu terlalu besar
11:07kalau hanya digiring untuk menjadi pengkritik pemerintah.
11:12Pengkritik tentu ini ada terusannya,
11:14kritik dan solusi.
11:15Banyak fungsi lain.
11:16Ya,
11:17banyak fungsi lain yang bisa dilakukan oleh
11:20PBNU
11:21sebagai sebuah
11:24jam'iyah maupun
11:26nahdiin sebagai
11:28sebuah jamaah,
11:30itu
11:31suksesnya program pemerintah
11:33adalah bahagian dari suksesnya juga
11:36membangun bangsa ini.
11:37Karena kan
11:37mayoritas bangsa ini adalah
11:39nahdiin gitu.
11:40Jadi,
11:41kalau misalnya pemerintah sukses
11:42mengatasi kemiskinan,
11:43pasti nahdiin ini kaya-kaya semua ini.
11:46Kalau PBNU
11:47Yang kaya
11:48nahdiin atau PBNU?
11:51Iya.
11:52Nahdiin, Pak.
11:54Oh, nahdiin.
11:55Melegakan kalau jawaban itu.
11:56PBNU itu kecil, Pak.
11:57Jadi kode sama dua narsum saya di sini.
11:58PBNU itu setiap tahun berganti.
12:00Setiap lima tahun berganti.
12:01Baik, baik.
12:01Orangnya juga gak banyak ya.
12:04Lebih dari seratus orang misalnya ya.
12:06Tapi nahdiinnya kan gede banget.
12:08Yang itu
12:09bukan hanya menjadi urusan PBNU,
12:12tapi juga menjadi urusan pemerintah gitu loh.
12:14Pak Lukman, tahan dulu jawabannya.
12:17Bagaimana kekuatan dan potensi PBNU dimaksimalkan
12:20demi merawat jagad dan membangun peradaban?
12:23Satu Meja The Forum kembali sesaat lagi.
12:26Sampai jumpa di tensor.
12:28Terima kasih never.
12:28Sampai jumpa digomala News.
Komentar

Dianjurkan