- 5 jam yang lalu
- #demo27agustus
- #pejompongan
- #rusuh
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Badan Intelijen Negara, Muhammad Herindra buka suara soal kerusuhan usai demo 27 Agustus 2026.
Namun, ia enggan merinci soal data intelijen mengenai kelompok misterius yang melakukan perusakan dan kerusuhan.
Herindra menjelaskan soal data intelijen mengenai unjuk rasa 27 Agustus lalu di Jakarta, telah dikoordinasikan antarinstansi intelijen, baik dari BIN, TNI dan Polri.
Mengenai kelompok di luar pendemo, ia bilang polisi telah menangkap para pelaku perusak fasilitas umum saat terjadi kerusuhan di malam 27 Agustus 2026.
Termasuk memburu pelaku pengeroyokan berujung kematian pedagang cermin, Bambang Setiawan.
Hampir sepekan usai kerusuhan di malam 27 Agustus, polisi mengungkap sketsa wajah terduga pelaku penganiayaan berujung kematian Bambang Setiawan, melalui petunjuk CCTV dan keterangan saksi.
Apa kerumitan dalam pengungkapan pelaku, kita bahas bersama Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Jentera, Bivitri Susanti.
Baca Juga [FULL] Polda Metro Rilis Sketsa Wajah Pelaku Pengeroyokan & Perusuh Kericuhan 27 Agustus di https://www.kompas.tv/nasional/688614/full-polda-metro-rilis-sketsa-wajah-pelaku-pengeroyokan-perusuh-kericuhan-27-agustus
#demo27agustus #pejompongan #rusuh
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688699/full-bivitri-susanti-dorong-polisi-segera-tangkap-2-pengeroyok-bambang-setiawan-usai-rilis-sketsa
Namun, ia enggan merinci soal data intelijen mengenai kelompok misterius yang melakukan perusakan dan kerusuhan.
Herindra menjelaskan soal data intelijen mengenai unjuk rasa 27 Agustus lalu di Jakarta, telah dikoordinasikan antarinstansi intelijen, baik dari BIN, TNI dan Polri.
Mengenai kelompok di luar pendemo, ia bilang polisi telah menangkap para pelaku perusak fasilitas umum saat terjadi kerusuhan di malam 27 Agustus 2026.
Termasuk memburu pelaku pengeroyokan berujung kematian pedagang cermin, Bambang Setiawan.
Hampir sepekan usai kerusuhan di malam 27 Agustus, polisi mengungkap sketsa wajah terduga pelaku penganiayaan berujung kematian Bambang Setiawan, melalui petunjuk CCTV dan keterangan saksi.
Apa kerumitan dalam pengungkapan pelaku, kita bahas bersama Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Jentera, Bivitri Susanti.
Baca Juga [FULL] Polda Metro Rilis Sketsa Wajah Pelaku Pengeroyokan & Perusuh Kericuhan 27 Agustus di https://www.kompas.tv/nasional/688614/full-polda-metro-rilis-sketsa-wajah-pelaku-pengeroyokan-perusuh-kericuhan-27-agustus
#demo27agustus #pejompongan #rusuh
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688699/full-bivitri-susanti-dorong-polisi-segera-tangkap-2-pengeroyok-bambang-setiawan-usai-rilis-sketsa
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Kembali di Kompas Peta, Saudara Polisi merilis sketsa wajah dua terduga pelaku pengeroyokan
00:04yang menewaskan Bambang Setiawan dalam kerusuhan di pejompongan Jakarta pada 27 Agustus lalu.
00:10Sketsa didapatkan berdasarkan keterangan 14 saksi dan rekaman CCTV di dekat lokasi kejadian.
00:28Tabir soal pelaku pengeroyokan brutal yang menewaskan seorang pedagang cermin Bambang Setiawan
00:34di pejompongan pada kerusuhan di malam 27 Agustus 2026 mulai tersingkap.
00:40Dalam penjelasan hasil penyelidikannya, polisi mengumumkan sketsa wajah
00:44dua terduga pelaku pengeroyokan yang didapat dari uji forensik
00:49terhadap rekaman CCTV dan digital serta pemeriksaan saksi.
00:53Penyelidik melakukan persesuaian antara keterangan saksi dan hasil analisa digital
01:02didapatkan sketsa wajah yang mengarah kepada terduga pelaku pengeroyokan
01:10dan atau penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang tersebut.
01:19Sebelumnya, istri almarhum Bambang Setiawan, Sudara Darsi, menceritakan
01:24bar soal kematian suaminya berawal dari rekaman video kekerasan yang beredar di malam kerusuhan.
01:29Menurutnya sebelum ditemukan tewas, almarhum Bambang sempat izin
01:33untuk mematikan lampu toko yang berjarak 500 meter dari kediaman korban.
01:38Kita tahu ini dari video. Kita gak nyanyi-nyanyi ilas nih posisi mayat ini,
01:43posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita gak tahu.
01:48Tapi pokoknya dapat infonya di Rx Polri gitu ya?
01:51Itu info dari siapa ibu?
01:54Anak saya gak tahu ya, anak saya yang besar info dari mana saya gak tahu.
01:58Cuman sempat WA anak saya, coba kamu perhatiin nih video.
02:03Ini video Bapak bukan.
02:06Saya ini ternyata benar loh.
02:10Itu Bapak.
02:12Sementara itu, analis menilai untuk memutus rantai terulangnya peristiwa kerusuhan
02:17kalau terdapat aksi penyampaian aspirasi yang mengkritik pemerintahan
02:21tak sebatas dalam kacamata pidana.
02:23Namun juga dalam perspektif politik untuk mengungkap dalangnya.
02:27Saya membaca bahwa framing ini lebih dari sekedar tindak pidana pengrusakan penganiayaan masyarakat
02:33tetapi kepada pengkondisian, konflik sosial, tawuran masyarakat
02:37untuk memahami bahwa ternyata kerusuhan ini berbasis atau berlatar belakang kepentingan politik.
02:45Jadi kita tidak terkunci dengan masalah sistem peradilan pidana biasa.
02:49Nah tentunya dalam situasi seperti ini, menjelang Oktober, kita tahu Oktober adalah
02:54masa periode Presiden diangkat melalui pemimpin kemarin.
02:59Ini selalu ada kerusuhan-kerusuhan berlatar belakang politik.
03:03Framing ini kita bangun supaya apa?
03:06Supaya kita membuka peluang-peluang bahwa ada aktor-aktor politik yang mencoba menciptakan instabilitas sosial.
03:12Jadi kita bisa usut siapa di belakangnya.
03:15Polisi memastikan proses pengejaran kedua terduga pelaku dilakukan
03:19dan akan menuntaskan kasus pengeroyokan yang mengakibatkan korban jiwa pasca demo 27 Agustus.
03:26Saat ini 47 orang juga telah ditetapkan sebagai tersangka
03:30terkait pengerusakan fasilitas umum dan penganiayaan.
03:33Tim Liputan, Kompas TV
03:41Polisi merespon soal organisasi masyarakat yang disebut ikut membantu menjaga demo 27 Agustus.
03:48Kabit Humas, Polda Metro Jaya, Kompas Budi Hermanto menjelaskan
03:51perbantuan hanya diajukan oleh Pemprov DKI Jakarta dan Kodam Jaya.
03:56Saya sampaikan ya, Polda Metro Jaya mengajukan permohonan untuk berbantuan itu kepada Kodam Jaya,
04:04kepada Pemprov DKI, melalui DINKES, BISUK, SATPOL PP,
04:10serta kita mengajukan PAMDAL DPR karena terkait tentang kegiatan di DPR itu sudah bisa dikutip.
04:21Kepala Badan Intelijen Negara Muhammad Herindra
04:24buka suara soal kerusuhan usai demo 27 Agustus.
04:28Namun ia enggan merinci soal data intelijen mengenai kelompok misterius
04:31yang melakukan perusakan dalam kerusuhan.
04:35Herindra menjelaskan soal data intelijen mengenai unjuk rasa 27 Agustus lalu di Jakarta
04:42telah dikoordinasikan antar instansi intelijen baik dari BIN, TNI, dan Polri
04:47mengenai kelompok di luar pendemo, ia bilang polisi telah menangkap para pelaku perusak fasilitas umum
04:52saat terjadi insiden 27 Agustus, termasuk memburu pelaku pengeroyokan
04:58berujung kematian pedagang cermin bernama Bambang Setiawan.
05:06Kita kan ada koordinasi antar instansi intelijen baik dari BIN, dari TNI, dari Polri, dan itu sudah
05:17setelah sebagainya.
05:18Tapi pola rusuhnya, kelompoknya sama enggak Pak sebetulnya kalau dibaca dari tahun sebelumnya setidaknya Pak?
05:26Karena polisi sudah merilis ya beberapa apa, setelahnya beberapa pelaku-pelaku yang melakukan
05:33tindakan-tindakan yang anatis dan setelah sudah ditanggung kepolisian.
05:39Hampir sepekan selesai insiden pada malam 27 Agustus, polisi mengungkap sketsa wajah
05:44terduga pelaku penganian berujung kematian Bambang Setiawan melalui petunjuk CCTV dan keterangan saksi.
05:51Apa kerumitan dalam pengungkapan pelaku?
05:54Kita bahas bersama pengajar Sekolah Tinggi Hukum Jentera, Bivitri Susanti,
05:59dan juga nanti akan bergabung bersama kami, mantan kabar reskrim, Ito Sumardi.
06:04Namun kita ke Mbak Bibip terlebih dahulu. Selamat petang Mbak Bibip, semoga sehat selalu.
06:09Iya, selamat petang.
06:10Iya Mbak Bibip, untuk saat ini polisi menggunakan sketsa untuk saat ini dan juga sebelumnya dari TAUD ataupun TPF
06:18menemukan sejumlah fakta bahwa ada pengorganisasian atau penurunan masa pada saat insiden malam 27 Agustus selalu.
06:26Anda melihatnya seperti apa? Ada pola-pola di mana? Ada kelompok yang memprotes, kemudian ada yang mendemo,
06:32dan kemudian juga ada kelompok lain yang berupaya untuk memasuki di dalam lapangan ataupun di jalan di mana.
06:40Polisi pada saat itu yang berwenang untuk melakukan penegakan hukum.
06:45Ya, jadi memang kalau dilihat dari yang sudah disiarkan ya, dari tim advokasi untuk demokrasi,
06:52dan juga dari banyak sekali footage yang beredar di berbagai media sosial,
06:57saya kira-kira kita melihat memang ada kelompok-kelompok masa yang turun setelah pendemo yang terdaftar di kepolisian itu sudah
07:08pulang.
07:08Kan artinya begini, kita sebenarnya kalau mau menyisir tidak terlalu sulit,
07:11karena setiap orang yang mau turun ke jalan harus memberikan pemberitahuan dulu kepada kepolisian.
07:18Nah, kita bisa lihat itu yang datang di malam hari apakah sudah mendaftar atau belum.
07:23Nah, kalau kita lihat dari yang sudah beredar, kan setidak-tidaknya ada tiga kelompok tuh.
07:29Ada kelompok yang nggak tahu dari mana, kita belum tahu asalnya dari mana,
07:33ada satu klaim dari salah satu ormas, tapi yang dua lagi kelompok yang di pejompongan,
07:39yang berujung pada kematian Bambang Setiawan, itu sebenarnya belum teridentifikasi dengan jelas.
07:44Nah, saya kira ini yang harus diusul tuntas,
07:46dan selain sketsa, kita tentu saja mengapresiasi Polri yang mengeluarkan sketsa,
07:52tapi kita juga sudah banyak sekali melihat juga rekaman warga.
07:57Jadi, citizen journalism juga berjalan dengan baik,
08:01saya sendiri banyak melihat di thread, di Instagram, dan seterusnya.
08:05Video memang agak mengerikan ya, begitu.
08:08Anda mau bilang bahwa pelaku ini sebenarnya dari video aja sudah cukup,
08:12dan harusnya sketsa ini tidak dimunculkan.
08:14Melalui video aja sudah bisa diidentifikasi, seperti itu?
08:18Ya, saya melihatnya seperti itu, karena kalau kita melihat kinerja polisi yang sudah lalu-lalu kan,
08:24tak terlalu sulit sebenarnya untuk mengidentifikasi orang,
08:27tanpa bikin sketsa pun, dengan ada video seharusnya,
08:31sudah bisa dilacak, dan kita semua tahu persis,
08:34kepolisian juga sebenarnya sudah canggih,
08:35dengan melihat wajah seseorang,
08:38itu biasanya langsung keluar tuh datanya, NIK-nya, dan seterusnya.
08:42Nah, ini yang saya kira kita patut mendorong,
08:44supaya kepolisian menunjukkan profesionalisme yang sama,
08:47dengan yang selama ini sudah dilakukan,
08:49ketika ada misalnya katakanlah video-video perilaku yang tidak senonoh,
08:55atau misalnya video apapun yang berada di media sosial,
09:00selama ini kepolisian cepat.
09:02Jadi, saya kira kita semua patut berharap dalam kasus ini pun kepolisian cepat sekali untuk bertindak,
09:08tidak hanya bermodalkan sketsa manual.
09:12Namun, polisi menduga bahwa video tersebut merupakan rekayasa dari AI atau kecerdasan buatan.
09:17Anda melihatnya seperti apa?
09:20Ya, nanti kita bisa serahkan kepada ahlinya ya,
09:23dan saya kira kan memang tidak hanya satu itu yang sudah beredar,
09:27bahkan yang saya tahu karena saya memperhatikan betul,
09:29ada satu yang sudah diminta di-take down oleh pihak pemerintah,
09:35tapi di luar itu banyak sekali yang lainnya juga beredar.
09:38Nah, saya kira, sebagainya tadi saya katakan,
09:41kepolisian kita sebenarnya canggih untuk bisa menentukan,
09:43kalau memang ada satu yang dianggap bukan asli,
09:47maka bisa dicari yang lainnya,
09:49karena kan kita juga tidak hanya bermodalkan apa yang ada di media sosial,
09:53tapi juga ada CCTV,
09:55kemudian barangkali saya menduga banyak sekali yang mengambil foto, dan seterusnya.
10:00Kita bisa perdebatkan itu,
10:01tapi saya kira yang kita inginkan di sini,
10:04polisi sangat terang, cepat gitu, cepat tanggap,
10:08karena ini menyangkut nyawa manusia.
10:10Dan saya kira ini bukan soal kriminalitas biasa ya,
10:14tapi pengeroyokan,
10:16dan juga ada latar belakang politik di baliknya,
10:19dan ada kekuatan ormas juga,
10:21jadi tentu saja masyarakat jadi bertanya-tanya,
10:26mengapa yang hari ini tidak sesigap,
10:29sebagaimana biasa.
10:30Mengapa Anda melihat ada dugaan kepentingan politik di sana,
10:34apa yang Anda lihat dari situasi pada 27 Agustus itu?
10:38Saya ingin membayangkannya,
10:40kita semua perlu membandingkannya dengan tahun lalu.
10:43Tahun lalu itu, Agustus 2025,
10:46ada kematian Afan Kurniawan.
10:48Kali ini saya melihat polisi sangat hati-hati,
10:52tapi juga ada pihak yang,
10:54barangkali politiknya di sini nih,
10:56ada satu ormas yang secara terang-terangan bilang,
11:00memang kami salah satu kelompok yang turun misalnya.
11:02Dan ormas itu kita juga paham,
11:05punya keterkaitan politik dengan pemerintah hari ini.
11:09Nah, jadi dimensi itu harus dibaca, satu.
11:12Dimensi kedua yang harus dibaca adalah,
11:15juga bagaimana keseluruhan kejadian hari itu,
11:18ada kaitannya dengan kerja DPR,
11:22dalam hal ini RU perapasan aset.
11:24Walaupun memang yang ketemu dengan DPR sudah pulang,
11:27tapi kan kita harus melihatnya dalam satu rangkaian.
11:30Yang AMPB, Aliansi Masyarakat Pati Bersatu,
11:33sudah pulang jam 1 siang,
11:35tapi kemudian sore datang kelompok-kelompok lain,
11:38malam datang kelompok yang berujung pada kematian Bambang Kestiawan.
11:41Nah, dimensi politik yang kedua ini kita harus baca.
11:44Sebenarnya, apa yang sedang ditunjukkan kepada masyarakat.
11:48Yang saya lihat, jangan-jangan,
11:50sebenarnya kita sedang ditunjukkan,
11:52apa ya, suatu ternyata penyampaian pendapat,
11:56yang bisa dihadang oleh kelompok masyarakat lainnya.
11:59Jadi ada konflik horizontal.
12:01Dan ini yang kedua,
12:02akibatnya adalah kita jadi agak punya kekhawatiran sekarang,
12:06jangan-jangan besok-besok,
12:08untuk aksi-aksi berikutnya,
12:09kita juga punya ketidakpercayaan pada kelompok masyarakat sendiri.
12:13Kekhawatiran mendalam seperti apa?
12:15Apakah juga seperti memori kolektif dari tahun 98,
12:18bahwa ada kelompok masyarakat yang kemudian dibunturkan,
12:19dan menjadi potensi konflik horizontal?
12:23Oh iya, memori kolektif itu pasti ada.
12:25Polanya jadi sama, kalau kita perhatikan ya.
12:28Dan yang unik juga,
12:30kan salah satu kelompok yang sudah mengaku saya adalah salah satu dari tiga itu,
12:34kami bukan saya,
12:35yaitu GRIP,
12:36sampai sudah mengeluarkan pernyataan bahwa,
12:39soalnya kami juga menengarai itu ada PKI,
12:42ada komunis gitu ya.
12:44Jadi artinya,
12:44bahkan narasinya pun setelah kemudian berkembang ya.
12:49Tapi saya kira kita juga mesti melihat narasinya kok juga sama.
12:53Jadi pola-pola dari 30 tahun yang lalu,
12:55dari 40 tahun yang lalu,
12:57digunakan juga pada hari ini.
12:59Pada 1998, kita punya PAM Suakarsa,
13:01yang juga dekat sekali dengan kekuasaan pada saat itu.
13:05Nah yang saya khawatirkan,
13:07kalau sekarang kita tidak melihat seperti tahun lalu,
13:09dengan adanya temuan-temuan jurnalisme ya,
13:13misalnya ada pihak-pihak aparat TNI,
13:17ada pihak kepolisian yang melindas Afan Kurniawan.
13:20Tahun ini,
13:20bukan kepolisian, bukan TNI,
13:23tapi ada kelompok ormas yang dekat sekali dengan kekuasaan.
13:27Nah ini pola yang 1998 juga memang terjadi dengan PAM Suakarsa.
13:32Ini yang kita harus cermatin.
13:33Untuk saat ini,
13:34polisi belum menyebutkan bahwa,
13:36dan menemukan penyelidikan,
13:37ataupun penyelidikan,
13:38bahwa belum ada indikasi terhadap komunitas atau kelompok tertentu.
13:42Namun, ingin menaikkan pada Anda,
13:44seperti apa sebenarnya negara harus hadir,
13:46memastikan bahwa kasus yang terjadi pada 27 Agus itu,
13:49bukan peristiwa biasa?
13:52Itulah sebabnya,
13:53negara harusnya melakukan pengungkapan fakta yang menyeluruh.
13:58Ini yang gagal dilakukan pada tahun lalu,
14:01Agustus 2025 itu,
14:02ada dorongan juga dari masyarakat sipil,
14:04tapi waktu itu Pak Prabowo tidak membuat pencari fakta,
14:07malah membuat tim percepatan reformasi kepolisian tahun lalu.
14:11Nah, saya kira seharusnya tahun ini tidak boleh terulang,
14:15harus dilakukan pencarian fakta.
14:17Karena yang terjadi,
14:18gara-gara tahun lalu tidak ada pengungkapan fakta,
14:21banyak sekali anak-anak muda,
14:23800-an orang yang ke pengadilan,
14:26karena faktanya tidak pernah terungkap,
14:28mereka langsung dituduh-tuduh.
14:30Nah, hari ini kan juga ada 300-an,
14:33tidak terkait dengan Bambang Setiawan,
14:34tapi saya kira tanggung jawab negara letaknya di situ.
14:37Kita bukannya mau menuduh ini pasti negara misalnya.
14:40Belum tentu,
14:41tapi adalah tanggung jawab negara
14:43untuk mengungkapkan apa yang terjadi
14:46dengan suatu peristiwa keamanan dan ketertiban umum.
14:49Itu jelas dalam konstitusi.
14:50Jadi ini memang negara itu duty bearernya,
14:53negara adalah pengembangan tugas
14:56untuk mengungkapkan peristiwa ketertiban dan keamanan seperti ini,
15:01supaya terang-menerang fakta apa yang sebenarnya terjadi pada 27 Agustus.
15:06Oke, dan terakhir untuk saat ini,
15:08memang polisi telah menerapkan pasal bagi para tersangka
15:11terkait dengan pengeroyokan ataupun penganean berat dengan pasal 466.
15:15Untuk saat ini seperti apa?
15:17Apakah pasal yang dijatuhkan itu cukup?
15:19Dan apakah juga polisi mesti mengusut tuntas terkait dengan aktor intelektual
15:24dibalik dengan serangan ataupun terjadinya insiden 27 Agustus?
15:28Nah inilah yang agak sulit ya,
15:31kalau misalnya masih bermodel gambar tadi ya.
15:34Jadi saya kira yang pertama harus dilakukan adalah
15:36untuk menemukan betul,
15:37kemudian mengungkapkan apa yang tadi saya katakan,
15:41misalnya harus dicek tuh.
15:43Apakah tiga rombongan itu,
15:45kan ada dua yang di daerah,
15:47dekat daerah Slippi,
15:49satu di pejompongan.
15:51Nah yang di pejompongan ini yang berujung pada kematian Bambang Siawan.
15:54Jadi memang harus diungkap dengan terang keseluruhannya.
15:59Satu, siapa saja yang melakukan tindakan pidana pembunuhan,
16:02tapi saya setuju bahwa harusnya pengungkapan tentang
16:07sebenarnya tiga kelompok itu apakah misalnya punya keterkaitan,
16:12kita belum tahu nih makanya sebut terang,
16:14punya keterkaitan dengan kepolisian misalnya.
16:16Karena ada juga video-video yang menunjukkan
16:19ada semacam relasi lah gitu.
16:22Mungkin bukan pengawalan, tapi berdampingan gitu ya
16:25antara mobil kepolisian
16:27dengan salah satu kelompok yang turun pada malam itu.
16:30Nah ini semua yang harus diungkap
16:31supaya ini tidak terjadi lagi.
16:34Karena bahaya sekali konflik horizontal seperti ini.
16:37Ya, bahwa polisi telah mengungkap dari konvers tadi siang
16:39bahwa ada enam klaster,
16:41yaitu perusahaan fasilitas umum,
16:43lalu juga kamera pemantau,
16:45termasuk di dalamnya ada juga penganiaya,
16:47pemilik senjata tajam,
16:48dan juga perekrut maupun penyandang dana.
16:49Nah, namun ini yang harus terus kita nantikan
16:51bagaimana pengusutan tuntas dari pihak kepolisian
16:54agar negara hadir untuk memenuhi rasa keadilan publik,
16:57terutama ada warga bernama Bambang Setiawan
17:00meninggal atau tewas pada saat malam 27 Agustus.
17:03Terima kasih Mbak Bibip atau Bivitri Susanti,
17:05pengajar dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Jentera.
17:08Sehat-sehat selalu.
17:08Terima kasih.
Komentar