00:00Saudara kebakaran hutan dan lahan terus terjadi, tak hanya di Pulau Kalimantan, tapi juga di Pulau Sumatera.
00:06Di Kabupaten Oganilir, Sumatera Selatan, pemadaman api di Lahan Gambut jadi fokus penanganan karena lokasinya yang berdekatan dengan pipa minyak.
00:14Sementara di Palembang, ratusan anak terserang ispa. Jumlah ini enam kali lipat ketimbang pasien dewasa.
00:26Kebakaran lahan di Kabupaten Oganilir makin sering terjadi, salah satunya di Pulau Kabal, Indralaya Utara.
00:34Tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan Daerah Operasi Banyu Asin berupaya memadamkan dan mengendalikan api.
00:42Kebakaran terus berulang, bahkan di lokasi yang sama.
00:46Satgas Penanggulangan Karhut Law Sumatera Selatan menjadikan daerah ini sebagai salah satu fokus penanganan
00:52karena lokasinya berdekatan dengan jalin sum, jalan tol, jalur kereta api, dan pipa minyak.
00:59Kondisi lahan gambut yang terbakar dalam, sulitnya akses, serta sumber air yang menipis hingga arah angin yang berubah
01:05membuat kebakaran di lahan ini sulit dikendalikan.
01:10Untuk Sumatera Selatan sendiri, eskalasi tetap naik ya.
01:15Tetapi saat ini kita antisipasi banget untuk kondisi yang di Oki.
01:20Kenapa di Oki? Karena di beberapa hari ini,
01:23kalau kita lihat dari Citra Sentinel, terlihat sekali bahwa
01:27kebakaran-kebakaran di beberapa titik di Oki ini menjadi salah satu penyebab
01:32utama dari pergerakan asap ke arah Palembang dan sekitarnya
01:36yang setiap malam kita rasakan.
01:38Jadi kita konsentrasi banyak di Oki.
01:42Tebalnya kabut asap karena kebakaran lahan berdampak pada kesehatan warga.
01:47Di Puskesmas Merdeka, Palembang, Sumatera Selatan,
01:51kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA
01:53melonjak tajam hingga dua kali lipat.
01:57Tercatat kasus ISPA pada bulan Agustus mencapai 349 pasien,
02:02dengan 124 kasus didominasi oleh kelompok usia balita, anak hingga remaja.
02:08Angka ini melesat drastis dibanding bulan Juni yakni 144 kasus.
02:14Tak hanya saluran pernapasan,
02:16keluhan iritasi mata atau konjunktivitis juga dilaporkan meningkat.
02:21Pihak medis mengimbang warga untuk segera membawa pasien ke rumah sakit
02:25jika penanganan mandiri tidak berhasil.
02:28Warga juga diminta mengurangi aktivitas luar rumah
02:31serta menutup rapat pintu dan jendela
02:34guna menghindari paparan asap berbahaya.
02:37Tapi kalau untuk di bulan Agustus sendiri,
02:39yang paling tinggi itu di minggu ke-1 dan ke-2,
02:42sementara di minggu ke-3 dan ke-4 itu sudah mulai menurun.
02:46Kalau untuk angkanya,
02:47untuk balita dan anak-anak dan remaja itu ada 124 pasien,
02:52sementara untuk pasien dewasa itu 26,
02:55dan pasien lansia 46.
02:56Jadi memang kayaknya 6 kali lipat dewasa sih
03:01kalau untuk usia anak-anak.
03:02Jadi selain batu pilek,
03:04banyak juga sih pasien memang lalu sakit tenggorokan.
03:10Akibat kebakaran lahan yang terus terjadi,
03:12Direkturat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
03:16Kementerian Kehutanan
03:17menutup sementara aktivitas pendakian di 9 taman nasional.
03:219 taman nasional yang ditutup yaitu Bromo Tengger Semeru,
03:25Kerinci Sebelat, Gunung Ciremai, Tambora, Manusela,
03:30Bukit Baka Bukit Raya, Gunung Gede Pangrango,
03:33Gunung Leuser dan Lorenz.
03:36Ini sekali lagi maksudnya adalah
03:38bukan kita membatasi keinginan para pendaki
03:42untuk menaiki taman nasional kita,
03:44tapi karena risiko yang sangat tinggi,
03:46yang terjadi terakhir di Bromo, Tengger dan Semeru,
03:49yang akhirnya mengakibatkan ada 170-an pendaki yang terjebak,
03:53Alhamdulillah bisa kita evakuasi,
03:55namun usaha pemadamannya luar biasa menyulitkan,
03:58dan sekali lagi sangat mengganggu konsentrasi kita
04:01untuk bekerja di 6 provinsi-provinsi.
04:03Oleh karena itu, kami adakan penutupan taman nasional secara sementara,
04:07dan juga penutupan taman nasional secara terbatas
04:11seperti yang saya katakan tadi.
04:14Walaupun aktivitas pendakian di 9 taman nasional ditutup,
04:18pendakian di 4 kawasan konservasi lainnya
04:20masih dibuka terbatas dengan pengawasan lebih ketat.
04:24Kebijakan ini diterapkan untuk mengantisipasi risiko kebakaran
04:28dan menjaga keselamatan pengunjung.
04:31Tim Liputan, Kompas TV
04:37Untuk mengetahui situasi terkini,
04:39Karhutlah di Kalimantan Barat dan juga Sumatera Selatan.
04:42Sudah ada jurnalis Kompas TV,
04:43Doris Pardede dan Juru Kamera Muhammad Nasruddin di Pontianak,
04:47dan Purwantoro di Palembang.
04:49Kita ke Kalimantan Barat terlebih dahulu.
04:52Doris, bagaimana situasi saat ini di sana?
04:54Apakah masih ada titik api?
04:58Ya, terima kasih.
05:00Untuk saat ini kami bisa laporkan,
05:01kondisi kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat
05:05masih terus terjadi.
05:06Bahkan berbeda dengan hari sebelumnya.
05:09Pada hari ini,
05:11kondisi Kabupat Asak di Pontianak
05:15dan juga Kabupaten Kepuraya
05:16pada khususnya meningkat dari hari sebelumnya.
05:20Dari berdasarkan data BMKG,
05:23bahwa saat ini memang ada peningkatan titik panas di Provinsi Kalimantan Barat,
05:28di mana jumlah titik panas yang terpantau di seluruh Provinsi Kalimantan Barat
05:32mencapai 7.500 lebih.
05:37Dan data ini tersebar hampir di seluruh Kabupaten Kota
05:40yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.
05:43Untuk Kabupaten yang dengan titik panas terbanyak,
05:47yaitu di Kabupaten Ketapang,
05:48di mana saat ini titik panas di sana mencapai 4.000 lebih
05:52dan hampir 500 lebih titik panas yang berada di sana
05:57berada dalam tingkat kepercayaan tinggi.
06:00Kami juga informasikan terkait dengan penanganan karhutlah
06:03di Provinsi Kalimantan Barat.
06:05Selain dilakukan pemadaman karhutlah,
06:09baik itu secara langsung melalui darat,
06:11melalui udara,
06:12dan juga modifikasi cuaca,
06:14saat ini juga kami sudah mendapatkan informasi terbaru
06:16terkait dengan penanganan hukum
06:20terhadap dengan karhutlah yang dilakukan oleh
06:23Polda Kalimantan Barat,
06:24di mana sampai dengan saat ini
06:26kasus karhutlah yang ditangani
06:29yaitu sebanyak 57 kasus,
06:31di mana dari semua kasus ini,
06:33tiga di antaranya sudah ditetapkan tersangka
06:36dalam penanganan,
06:37dalam penanganan,
06:39penuh,
06:39penuh,
06:40kasus karhutlah,
06:42di mana kasus yang terjadi juga
06:45dari total 57 ini,
06:4730 di antaranya merupakan,
06:50sebagai terlapor,
06:52ada 40 kasus saat ini masih dalam proses lidik,
06:56sembilan di antaranya sudah dilempahkan ke
07:00Dinas Lingkungan Hidup,
07:02dan kasus-kasus ini kepada keseluruhan
07:05membakar lahan seluas 709,9 hektare.
07:11Demikian.
07:12Baik, artinya sudah ada tiga tersangka,
07:14proses hukum masih berlanjut,
07:16namun di satu sisi,
07:18titik hotspot ini juga masih nampak di sejumlah titik,
07:22kami harapkan ini juga bisa segera usai,
07:25terutama terkait dengan pihak-pihak yang dinyatakan,
07:28kemudian melanggar hukum,
07:28ini juga bisa mempertanggungjawabkan aksinya.
07:32Dari Kalimantan kita bergeser ke Sumatera Selatan,
07:36ada jurnalis Kompas TV Purwantoro di Palembang, Sumatera Selatan.
07:40Purwantoro, kalau di sana seperti apa dampaknya?
07:44Ya putuh,
07:46seperti hari-hari hampir memasuki pekan ketiga di kota Palembang,
07:54khususnya itu masih dalam kondisi terselimuti asap,
07:59atau polusi asap,
08:00karena udara di Palembang terlihat,
08:04setiap harinya terlihat abu-abu kecoklatan,
08:07dan berbau bakaran.
08:09Dengan standar pencemaran udaranya berada di atas 100,
08:16yang hari ini menurut data Kementerian Lingkungan Hidup,
08:21ada di 144 mikrogram per meter kubik,
08:26artinya pada kondisi tidak sehat.
08:28Kondisi ini juga berlangsung selama satu hari penuh,
08:36namun kepekatannya atau udara yang kersium,
08:42itu akan lebih pekat pada malam hari menjelang dunia hari.
08:47Dan pemerintah kota Palembang
08:50kemudian mengambil kebijakan untuk memundurkan
08:54waktu masuk sekolah dan pulang sekolah
08:58untuk menghindari dampak dari kabut asal ini
09:02pada kesehatan anak-anak atau siswa dan para guru.
09:08Termasuk ASN di Pemperintah Palembang
09:12juga diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruang
09:15dengan kondisi cuaca atau kondisi udara
09:18yang bertahan pada tidak sehat kali ini.
09:23Dan untuk kondisi penanggulangan kebakaran lahan dan hutan
09:29yang ada di Sumatera Selatan sendiri,
09:32ini ada sejumlah kabupaten yang terutama lahan gambutnya
09:37masih terbakang, yaitu di Oki, Morainim, Muba, dan Oganilir.
09:43Oganilir ini menjadi daerah yang paling sering terjadi kejadian kebakaran.
09:51Hampir setiap hari ada tiga atau dua sampai tiga kejadian kebakaran
09:57yang terus berulang dan di area-area yang tidak terlalu jauh
10:01dari kejadian-kejadian sebelumnya.
10:07Kali ini juga tim Satgas di Sumatera Selatan
10:13juga terus memfokuskan penanganan di Kabupaten Oganilir.
10:18Karena ini yang menjadi titik sentral dari masuknya asap
10:24ke sejumlah wilayah terutama di Ibu Kota Sumatera Selatan, Palembang ini.
10:29Butuh.
10:29Tapi kalau bicara soal proses ataupun juga kendala pemadaman
10:34yang berminggu-minggu sampai dengan hari ini
10:36masih terus terjadi begitu di sana.
10:38Sebetulnya apa ya kendalanya?
10:40Apakah karena hanya karena memang banyak lahan gambungnya
10:43atau juga di satu sisi sumber air ini juga sulit
10:48untuk didapatkan oleh para petugas?
10:51Betul, betul.
10:53Selain sumber air, akses yang jauh,
10:56kemudian bahan bakaran yang luar biasa banyak dan dalam,
11:00inilah yang akhirnya membuat penanganan
11:04atau pengendalian kebakaran lahan,
11:06terutama gambut yang ada di Sumatera Selatan.
11:09Di Osi terutama yang memiliki gambut dalam,
11:12itu semakin sulit.
11:13Tapi upaya-upaya ini terus dilakukan dengan penambahan-penambahan.
11:18Kemarin tim Sargas meminta untuk dapat dimobilisasi
11:23dengan alat berat untuk mencapai titik-titik yang saat ini
11:26sangat banyak, terutama di lahan-lahan gambus
11:30Ogan Komering Ilir.
11:32Betul.
11:33Baik, kita harapkan ini juga alat berat bisa mempercepat proses pemadaman.
11:38Terima kasih laporan Anda, Jurnalis Kompas TV,
11:40Borwantoro dari Palembang, Sumatera Selatan,
11:42dan sebelumnya juga ada Doris Pardede dan Juru Kamera Muhammad Nasruddin
11:46dari Pontianak, Kalimantan Barat.
11:48Tetap hati-hati, sehat selalu, rekan-rekan.
Komentar