Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Kebakaran hutan dan lahan terus terjadi, tak hanya di Pulau Kalimantan, tapi juga di Pulau Sumatera.

Di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, pemadaman api di lahan gambut jadi fokus penanganan karena lokasinya yang berdekatan dengan pipa minyak.

Sementara di Palembang, ratusan anak terserang ISPA. Jumlah ini 6 kali lipat ketimbang pasien dewasa.

Kejadian kebakaran lahan di Kabupaten Ogan Ilir makin sering terjadi. Salah satunya di Pulau Kabal, Indralaya Utara.

Tim Manggala Agni Kemenhut, Daerah Operasi Banyuasin, berupaya memadamkan dan mengendalikan api. Kebakaran terus berulang, bahkan di lokasi yang sama.

Satgas Penanggulangan Karhutla Sumsel menjadikan daerah ini sebagai salah satu fokus penanganan karena berdekatan dengan Jalinsum, jalan tol, jalur kereta api, dan pipa minyak.

Kondisi lahan gambut yang terbakar dalam, sulitnya akses, sumber air yang menipis, hingga arah angin yang berubah, membuat kebakaran di lahan ini sulit dikendalikan.

Di Puskesmas Merdeka, Palembang kasus infeksi saluran pernapasan atas, atau ISPA, melonjak tajam hingga 2 kali lipat.

Tercatat, kasus ISPA pada bulan Agustus mencapai 349 pasien, dengan 124 kasus didominasi oleh kelompok usia balita, anak hingga remaja.

Angka ini melesat drastis dibanding bulan Juni, yakni 144 kasus, dan Juli, 139 kasus. Tak hanya saluran pernapasan, keluhan iritasi mata atau konjungtivitis juga dilaporkan meningkat.

Pihak medis mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas luar rumah serta menutup rapat pintu dan jendela guna menghindari paparan asap berbahaya.

Akibat kebakaran yang terus terjadi, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan menutup sementara aktivits pendakian di sembilan taman nasional.

9 taman nasional yang ditutup, yaitu Bromo Tengger Semeru, Kerinci Seblat, Gunung Ciremai, Tambora, Manusela, Bukit Baka Bukit Raya, Gunung Gede Pangrango, Gunung Leuser, dan Lorentz.

#karhutla

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/688582/karhutla-di-sumatera-kalimantan-lahan-gambut-jadi-fokus-pemadaman-kasus-ispa-naik-2-kali-lipat
Transkrip
00:00Saudara kebakaran hutan dan lahan terus terjadi, tak hanya di Pulau Kalimantan, tapi juga di Pulau Sumatera.
00:06Di Kabupaten Oganilir, Sumatera Selatan, pemadaman api di Lahan Gambut jadi fokus penanganan karena lokasinya yang berdekatan dengan pipa minyak.
00:14Sementara di Palembang, ratusan anak terserang ispa. Jumlah ini enam kali lipat ketimbang pasien dewasa.
00:26Kebakaran lahan di Kabupaten Oganilir makin sering terjadi, salah satunya di Pulau Kabal, Indralaya Utara.
00:34Tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan Daerah Operasi Banyu Asin berupaya memadamkan dan mengendalikan api.
00:42Kebakaran terus berulang, bahkan di lokasi yang sama.
00:46Satgas Penanggulangan Karhut Law Sumatera Selatan menjadikan daerah ini sebagai salah satu fokus penanganan
00:52karena lokasinya berdekatan dengan jalin sum, jalan tol, jalur kereta api, dan pipa minyak.
00:59Kondisi lahan gambut yang terbakar dalam, sulitnya akses, serta sumber air yang menipis hingga arah angin yang berubah
01:05membuat kebakaran di lahan ini sulit dikendalikan.
01:10Untuk Sumatera Selatan sendiri, eskalasi tetap naik ya.
01:15Tetapi saat ini kita antisipasi banget untuk kondisi yang di Oki.
01:20Kenapa di Oki? Karena di beberapa hari ini,
01:23kalau kita lihat dari Citra Sentinel, terlihat sekali bahwa
01:27kebakaran-kebakaran di beberapa titik di Oki ini menjadi salah satu penyebab
01:32utama dari pergerakan asap ke arah Palembang dan sekitarnya
01:36yang setiap malam kita rasakan.
01:38Jadi kita konsentrasi banyak di Oki.
01:42Tebalnya kabut asap karena kebakaran lahan berdampak pada kesehatan warga.
01:47Di Puskesmas Merdeka, Palembang, Sumatera Selatan,
01:51kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA
01:53melonjak tajam hingga dua kali lipat.
01:57Tercatat kasus ISPA pada bulan Agustus mencapai 349 pasien,
02:02dengan 124 kasus didominasi oleh kelompok usia balita, anak hingga remaja.
02:08Angka ini melesat drastis dibanding bulan Juni yakni 144 kasus.
02:14Tak hanya saluran pernapasan,
02:16keluhan iritasi mata atau konjunktivitis juga dilaporkan meningkat.
02:21Pihak medis mengimbang warga untuk segera membawa pasien ke rumah sakit
02:25jika penanganan mandiri tidak berhasil.
02:28Warga juga diminta mengurangi aktivitas luar rumah
02:31serta menutup rapat pintu dan jendela
02:34guna menghindari paparan asap berbahaya.
02:37Tapi kalau untuk di bulan Agustus sendiri,
02:39yang paling tinggi itu di minggu ke-1 dan ke-2,
02:42sementara di minggu ke-3 dan ke-4 itu sudah mulai menurun.
02:46Kalau untuk angkanya,
02:47untuk balita dan anak-anak dan remaja itu ada 124 pasien,
02:52sementara untuk pasien dewasa itu 26,
02:55dan pasien lansia 46.
02:56Jadi memang kayaknya 6 kali lipat dewasa sih
03:01kalau untuk usia anak-anak.
03:02Jadi selain batu pilek,
03:04banyak juga sih pasien memang lalu sakit tenggorokan.
03:10Akibat kebakaran lahan yang terus terjadi,
03:12Direkturat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem
03:16Kementerian Kehutanan
03:17menutup sementara aktivitas pendakian di 9 taman nasional.
03:219 taman nasional yang ditutup yaitu Bromo Tengger Semeru,
03:25Kerinci Sebelat, Gunung Ciremai, Tambora, Manusela,
03:30Bukit Baka Bukit Raya, Gunung Gede Pangrango,
03:33Gunung Leuser dan Lorenz.
03:36Ini sekali lagi maksudnya adalah
03:38bukan kita membatasi keinginan para pendaki
03:42untuk menaiki taman nasional kita,
03:44tapi karena risiko yang sangat tinggi,
03:46yang terjadi terakhir di Bromo, Tengger dan Semeru,
03:49yang akhirnya mengakibatkan ada 170-an pendaki yang terjebak,
03:53Alhamdulillah bisa kita evakuasi,
03:55namun usaha pemadamannya luar biasa menyulitkan,
03:58dan sekali lagi sangat mengganggu konsentrasi kita
04:01untuk bekerja di 6 provinsi-provinsi.
04:03Oleh karena itu, kami adakan penutupan taman nasional secara sementara,
04:07dan juga penutupan taman nasional secara terbatas
04:11seperti yang saya katakan tadi.
04:14Walaupun aktivitas pendakian di 9 taman nasional ditutup,
04:18pendakian di 4 kawasan konservasi lainnya
04:20masih dibuka terbatas dengan pengawasan lebih ketat.
04:24Kebijakan ini diterapkan untuk mengantisipasi risiko kebakaran
04:28dan menjaga keselamatan pengunjung.
04:31Tim Liputan, Kompas TV
04:37Untuk mengetahui situasi terkini,
04:39Karhutlah di Kalimantan Barat dan juga Sumatera Selatan.
04:42Sudah ada jurnalis Kompas TV,
04:43Doris Pardede dan Juru Kamera Muhammad Nasruddin di Pontianak,
04:47dan Purwantoro di Palembang.
04:49Kita ke Kalimantan Barat terlebih dahulu.
04:52Doris, bagaimana situasi saat ini di sana?
04:54Apakah masih ada titik api?
04:58Ya, terima kasih.
05:00Untuk saat ini kami bisa laporkan,
05:01kondisi kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Barat
05:05masih terus terjadi.
05:06Bahkan berbeda dengan hari sebelumnya.
05:09Pada hari ini,
05:11kondisi Kabupat Asak di Pontianak
05:15dan juga Kabupaten Kepuraya
05:16pada khususnya meningkat dari hari sebelumnya.
05:20Dari berdasarkan data BMKG,
05:23bahwa saat ini memang ada peningkatan titik panas di Provinsi Kalimantan Barat,
05:28di mana jumlah titik panas yang terpantau di seluruh Provinsi Kalimantan Barat
05:32mencapai 7.500 lebih.
05:37Dan data ini tersebar hampir di seluruh Kabupaten Kota
05:40yang ada di Provinsi Kalimantan Barat.
05:43Untuk Kabupaten yang dengan titik panas terbanyak,
05:47yaitu di Kabupaten Ketapang,
05:48di mana saat ini titik panas di sana mencapai 4.000 lebih
05:52dan hampir 500 lebih titik panas yang berada di sana
05:57berada dalam tingkat kepercayaan tinggi.
06:00Kami juga informasikan terkait dengan penanganan karhutlah
06:03di Provinsi Kalimantan Barat.
06:05Selain dilakukan pemadaman karhutlah,
06:09baik itu secara langsung melalui darat,
06:11melalui udara,
06:12dan juga modifikasi cuaca,
06:14saat ini juga kami sudah mendapatkan informasi terbaru
06:16terkait dengan penanganan hukum
06:20terhadap dengan karhutlah yang dilakukan oleh
06:23Polda Kalimantan Barat,
06:24di mana sampai dengan saat ini
06:26kasus karhutlah yang ditangani
06:29yaitu sebanyak 57 kasus,
06:31di mana dari semua kasus ini,
06:33tiga di antaranya sudah ditetapkan tersangka
06:36dalam penanganan,
06:37dalam penanganan,
06:39penuh,
06:39penuh,
06:40kasus karhutlah,
06:42di mana kasus yang terjadi juga
06:45dari total 57 ini,
06:4730 di antaranya merupakan,
06:50sebagai terlapor,
06:52ada 40 kasus saat ini masih dalam proses lidik,
06:56sembilan di antaranya sudah dilempahkan ke
07:00Dinas Lingkungan Hidup,
07:02dan kasus-kasus ini kepada keseluruhan
07:05membakar lahan seluas 709,9 hektare.
07:11Demikian.
07:12Baik, artinya sudah ada tiga tersangka,
07:14proses hukum masih berlanjut,
07:16namun di satu sisi,
07:18titik hotspot ini juga masih nampak di sejumlah titik,
07:22kami harapkan ini juga bisa segera usai,
07:25terutama terkait dengan pihak-pihak yang dinyatakan,
07:28kemudian melanggar hukum,
07:28ini juga bisa mempertanggungjawabkan aksinya.
07:32Dari Kalimantan kita bergeser ke Sumatera Selatan,
07:36ada jurnalis Kompas TV Purwantoro di Palembang, Sumatera Selatan.
07:40Purwantoro, kalau di sana seperti apa dampaknya?
07:44Ya putuh,
07:46seperti hari-hari hampir memasuki pekan ketiga di kota Palembang,
07:54khususnya itu masih dalam kondisi terselimuti asap,
07:59atau polusi asap,
08:00karena udara di Palembang terlihat,
08:04setiap harinya terlihat abu-abu kecoklatan,
08:07dan berbau bakaran.
08:09Dengan standar pencemaran udaranya berada di atas 100,
08:16yang hari ini menurut data Kementerian Lingkungan Hidup,
08:21ada di 144 mikrogram per meter kubik,
08:26artinya pada kondisi tidak sehat.
08:28Kondisi ini juga berlangsung selama satu hari penuh,
08:36namun kepekatannya atau udara yang kersium,
08:42itu akan lebih pekat pada malam hari menjelang dunia hari.
08:47Dan pemerintah kota Palembang
08:50kemudian mengambil kebijakan untuk memundurkan
08:54waktu masuk sekolah dan pulang sekolah
08:58untuk menghindari dampak dari kabut asal ini
09:02pada kesehatan anak-anak atau siswa dan para guru.
09:08Termasuk ASN di Pemperintah Palembang
09:12juga diminta untuk mengurangi aktivitas di luar ruang
09:15dengan kondisi cuaca atau kondisi udara
09:18yang bertahan pada tidak sehat kali ini.
09:23Dan untuk kondisi penanggulangan kebakaran lahan dan hutan
09:29yang ada di Sumatera Selatan sendiri,
09:32ini ada sejumlah kabupaten yang terutama lahan gambutnya
09:37masih terbakang, yaitu di Oki, Morainim, Muba, dan Oganilir.
09:43Oganilir ini menjadi daerah yang paling sering terjadi kejadian kebakaran.
09:51Hampir setiap hari ada tiga atau dua sampai tiga kejadian kebakaran
09:57yang terus berulang dan di area-area yang tidak terlalu jauh
10:01dari kejadian-kejadian sebelumnya.
10:07Kali ini juga tim Satgas di Sumatera Selatan
10:13juga terus memfokuskan penanganan di Kabupaten Oganilir.
10:18Karena ini yang menjadi titik sentral dari masuknya asap
10:24ke sejumlah wilayah terutama di Ibu Kota Sumatera Selatan, Palembang ini.
10:29Butuh.
10:29Tapi kalau bicara soal proses ataupun juga kendala pemadaman
10:34yang berminggu-minggu sampai dengan hari ini
10:36masih terus terjadi begitu di sana.
10:38Sebetulnya apa ya kendalanya?
10:40Apakah karena hanya karena memang banyak lahan gambungnya
10:43atau juga di satu sisi sumber air ini juga sulit
10:48untuk didapatkan oleh para petugas?
10:51Betul, betul.
10:53Selain sumber air, akses yang jauh,
10:56kemudian bahan bakaran yang luar biasa banyak dan dalam,
11:00inilah yang akhirnya membuat penanganan
11:04atau pengendalian kebakaran lahan,
11:06terutama gambut yang ada di Sumatera Selatan.
11:09Di Osi terutama yang memiliki gambut dalam,
11:12itu semakin sulit.
11:13Tapi upaya-upaya ini terus dilakukan dengan penambahan-penambahan.
11:18Kemarin tim Sargas meminta untuk dapat dimobilisasi
11:23dengan alat berat untuk mencapai titik-titik yang saat ini
11:26sangat banyak, terutama di lahan-lahan gambus
11:30Ogan Komering Ilir.
11:32Betul.
11:33Baik, kita harapkan ini juga alat berat bisa mempercepat proses pemadaman.
11:38Terima kasih laporan Anda, Jurnalis Kompas TV,
11:40Borwantoro dari Palembang, Sumatera Selatan,
11:42dan sebelumnya juga ada Doris Pardede dan Juru Kamera Muhammad Nasruddin
11:46dari Pontianak, Kalimantan Barat.
11:48Tetap hati-hati, sehat selalu, rekan-rekan.
Komentar

Dianjurkan