00:02Terima kasih Anda masih di Rosi. Kita sedang membicarakan soal apa yang dikatakan oleh mantan Presiden Jokowi, kekuasaan jangan dipakai
00:11menjatuhkan orang.
00:12Saya masih bersama pengamat politik dan militer Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting dan Ketua Pergerakan Indonesia untuk semua, Dr. Ade
00:20Armando.
00:24Saya mau sedikit lagi kemudian mencoba mengingatkan apa yang dikatakan oleh mantan Presiden Jokowi, yaitu Lamun Siro Sakti Ojo Mateni,
00:37mohon maaf, semoga saya dapat mengucapkan ini dengan baik.
00:40Lamun Siro Pinter Ojo Mintri, Lamun Siro Banter Ojo Disiki, kalau kamu sakti atau punya kekuasaan besar, jangan suka menjatuhkan
00:50atau merugikan orang lain.
00:52Lamun Siro Pinter Ojo Mintri, jika kamu pintar dan cerdas, jangan merasa paling pintar untuk memperdaya atau merendahkan orang lain.
01:00Lamun Siro Banter Ojo Disiki, meskipun kamu mampu bergerak atau berjalan cepat, jangan suka mendahului atau melompati aturan dan hak
01:09orang lain dengan semena-mena.
01:10Sebuah petuah yang baik untuk kekuasaan, tapi kemudian malah dipersepsikan, ah dulu juga waktu berkuasa melakukan hal yang sama, itu
01:23kira-kira mengapa petuah ini kemudian tidak secara jenuin dapat diterima dengan baik.
01:30Karena pada waktu Pak Jokowi berkuasa selama 10 tahun, ia melakukan hal yang sebenarnya sedang ia kritik saat ini.
01:37Saya nih, nggak ada. Kalau orang yang berpikiran begitu menurut saya, saya cuma karena emang udah punya ketidakpercayaan aja.
01:47Jadi it started from, ya nggak percaya aja sama Pak Jokowi, dia ngomong apapun juga salah.
01:57Ijazahnya aja ditanyain gitu ya.
01:59Nah, dalam hal ini misalnya pertanyaan Anda nih ya, ketika dia berkuasa, Anda juga bilang tadi kan, Anda sekarang ngeritik
02:06orang yang berkuasa sekarang.
02:08Ketika Anda dulu berkuasa, Anda juga begitu.
02:11Saya akan tanya yang mana, yang mana bahwa Pak Jokowi itu menggunakan kekuasaannya untuk menghabisin orang lain?
02:18Nggak ada.
02:19Saya persempit. Apa yang dikatakan Bung Selamat Ginting adalah memberikan pidato ini sebenarnya untuk menjaga lingkaran keluarga Pak Jokowi yang
02:28ada dalam kekuasaan dan supaya tidak apa, supaya tetap membersamai Pak Prabowo dan jangan ditinggalkan.
02:34Jangan lagi terulang kursi wakil presiden itu bersama kursinya Menko, harusnya disamping oleh disamping presiden.
02:42Nggak, saya nggak percaya.
02:43Ya, sebenarnya dalam wawancara dengan Tempo sudah jelas, Jokowi juga sudah memberikan isyarat-isyarat bahwa, misalnya kalimat begini.
02:51Saya juga udah agak jarang nih ngobrol sama Pak Prabowo, dia jarang ketemu.
02:56Itu kan reprisens bahwa dulu orang menganggap dia betul-betul Dwi Tunggal nih, dia selalu ada bersama-sama Pak Prabowo.
03:04Siapa yang ditunggal maksudnya?
03:06Bukan Dwi Tunggal, jadi Pak Jokowi itu selalu berada bersama Pak Prabowo.
03:10Kalimat yang terakhir itu menunjukkan bahwa sebetulnya nggak gitu-gitu amat loh.
03:15Saya udah jarang ketemu Pak Prabowo.
03:17Udah jarang ketemu Pak Prabowo.
03:18Berarti ingin menjawab spekulasi orang bahwa Pak Jokowi masih cewe-cewe Pak Prabowo dan itu dijawab oleh Pak Jokowi.
03:27Tapi saya mau kembali yang tadi ya, misalnya bahwa Pak Jokowi juga melakukan hal yang sebelumnya dia kritik.
03:32Saya mau tanya nih, Bung Selamat Ginting ini udah ngeritik Prabowo Jokowi, sejak kapan?
03:38Sejak Jokowi masih jadi presiden, dia diganggu nggak?
03:42Sama sekali nggak, Roy Suryo itu udah menghina-hina Pak Jokowi sejak kapan?
03:47Sejak Pak Jokowi masih jadi presiden, ketika dia menjadi presiden, dia ganggu nggak, Roy Suryo?
03:53Nggak pernah bahwa sekarang dia melakukan, melaporkan, itu kan betul-betul persis karena dia sudah mundur dari, bukan mundur, dia
04:03sudah turun dari jabatannya.
04:05Ya kita sesama warga negara nih, eh si Roy Suryo masih juga bilang, kamu itu ijazahnya palsu, kamu itu ijazahnya
04:11palsu.
04:1299,9% menurut saya ijazahnya palsu.
04:15Tapi kita nggak usah masuk ijazah lah kepanjangan.
04:17Nggak, saya mau bilang, saya mau bilang, bahwa Pak Jokowi itu tidak menggunakan kekuasaan yang dia miliki untuk menghabisi Jokowi,
04:24Selamat Ginting, Dokter Tifa, dan siapapun.
04:27Tidak dia lakukan.
04:29Jadi ketika dia berkuasa pun, dia sebetulnya menerapkan prinsip yang dia sekarang ajarkan kepada kita semua, jangan pernah gunakan kekuasaanmu
04:38untuk menghasbisi lawan.
04:40Oke, Pak Jokowi tidak menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan orang lain saat berkuasa.
04:45Itu sudah dijawab, karena Anda mengatakan Pak Jokowi sebenarnya sedang menasati dirinya.
04:50Dan kemudian tolong dijawab, oh nggak ada itu untuk hanya melindungi kroninya.
04:56Anda juga ingin menjelaskan itu kan, bahwa apa yang dikatakan oleh Pak Jokowi ini sebenarnya hanya untuk melindungi putranya, lalu
05:02keluarganya.
05:03Nggak dong.
05:04Saya tidak percaya bahwa dia melakukan untuk kepentingan keluarga.
05:06Oke, silahkan Anda jawab itu.
05:08Kan memang tidak diungkapkan secara eksplisit.
05:12Ini diungkapkan semuanya secara implisit.
05:15Jadi, ya kira-kira dalamnya lautan kita bisa tebak.
05:22Tapi dalam hati siapa yang tahu.
05:24Oke, di dalam pidato Jokowi di Kebumen itu memang betul mengandung pesan moral.
05:34Jelas, itu budaya Jawa yang dia kemukakan.
05:37Tetapi, di dalam demokrasi tentu saja tidak boleh berhenti hanya pada keindahan pesan semata.
05:46Tapi kalau dijawab langsung kepada poinnya.
05:48Tadi sudah dijawab oleh Bung Ade Armando bahwa tidak benar bahwa Pak Jokowi sedang menasati dirinya karena selama berkuasa ia
05:55tidak melakukan apa yang dipidatokan.
05:59Yaitu menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan orang.
06:01Tapi kan Anda juga mengatakan bahwa pidato itu ditujukan pada Pak Prabowo untuk melindungi kroninya.
06:07Anaknya yang jadi wakil presiden, mantunya yang jadi gubernur, anaknya yang jadi ketum PSI.
06:11Apa yang ada bisa bantah soal ini?
06:13Bahwa pesan ini sebenarnya untuk mengancam Presiden Prabowo.
06:15Maka pesan itu harus diuji terhadap rekam jejak kekuasaan seseorang.
06:22Harus diuji terhadap rekam jejak seseorang.
06:26Terutama si pemberi pesan.
06:28Pemberi pesan yaitu Jokowi.
06:30Nah kemudian dari sinilah kita melihat bahwa ini seperti senjata makan Tuhan bagi Jokowi.
06:37Mengapa saya katakan itu?
06:40Karena ini relevan.
06:41Mengapa relevan?
06:43Tentu saja bukan karena Jokowi tidak boleh memberikan nasihat.
06:47Tidak boleh memberikan pesan.
06:51Justru karena ia pernah memegang jabatan ini baru lengser sekitar 10 bulan.
06:58Eh sorry, hampir 2 tahun yang lalu.
07:00Maka kekuasaan selama 10 tahun itu bahkan saya tidak menghasilkan.
07:06Jadi orang kalau baru lengser 2 tahun tidak boleh memberikan petua gitu?
07:09Boleh, tapi kan harus dilihat, diuji juga dari rekam jejaknya.
07:13Nah itu rekam jejaknya itu apa?
07:16Ya itu tadi kan harus diuji.
07:18Seperti saya bilang, banyak ujian-ujian itu.
07:22Kita lihat misalnya ya, indeks demokrasi di eranya SBY.
07:28Itu awalnya adalah meningkat dan berakhir sangat baik.
07:34Jokowi awalnya baik, di terakhir adalah jomplang, ambruk.
07:41Itu indikasi.
07:42Jadi betul-betul demokrasi menurun.
07:45Sama dengan indeks persepsi korupsi.
07:48Tinggal 34.
07:49Itu fakta gitu.
07:51Ada rekam jejak gitu.
07:53Jadi orang ini tidak pantas untuk memberikan petua seperti ini?
07:56Ya, makanya orang melihat sebaiknya memberikan pesan di depan cermin.
08:02Kira-kira karena itu juga untuk semua orang.
08:05Termasuk untuk dirinya.
08:07Kita sudah harus selesai.
08:09Kalaupun Anda ingin mendambahkan hanya sedikit saja atau sudah kita harus tutup saja?
08:14Atau Anda ingin sedikit saja? Boleh?
08:16Saya kasih.
08:16Ya, saya akan bilang bahwa Pak Jokowi sudah mengeluarkan petua yang dia percaya.
08:21Dan itu penting buat pemerintah sekarang.
08:23Jangan pernah gunakan kekuasaan untuk menghabisi lawan.
08:26Terima kasih Dr. Selamat Ginting, Dr. Ade Armando.
08:31Saya ingin menutup dialog kita malam hari dengan cepat sekali.
08:37Bahwa apa yang dikatakan oleh mantan Presiden Jokowi bahwa kekuasaan jangan digunakan untuk menjatuhkan orang adalah sejatinya petua atau masukan
08:44yang sangat baik.
08:46Terlepas bahwa yang memberikan nasihat memiliki catatan selama ia berkuasa.
08:51Tetapi mengingatkan yang berkuasa adalah tugas kita semua.
08:55Saya Rosyana Silalahi, sampai ketemu Kamis depan.
08:58Tetaplah di Kompas TV, independen, terpercaya.
09:32Terima kasih telah menonton!
Komentar